Anda di halaman 1dari 29

Karya Tulis Ilmiah Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Program Sarjana FAKIR MISKIN dan ANAK TELANTAR DIPELIHARA OLEH

NEGARA: DALAM TEORI dan PRAKTEK

IMANUEL RAHMANI NIM. 05120090027

UNINERSITAS PELITA HARAPAN SURABAYA 2012 LEMBAR PENGESAHAN Karya Tulis Ilmiah Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Program Sarjana FAKIR MISKIN dan ANAK TELANTAR DIPELIHARA OLEH NEGARA: DALAM TEORI dan PRAKTEK Disusun Oleh: IMANUEL RAHMANI NIM. 05120090027 Surabaya, . Maret 2012 Wakil Rektor I Bidang Kemahasiswaan,

Prof. L. John Batubara NIP.

Dosen Pembimbing,

Agustin Widjiastuti,S.H.,M.Hum

NIP. KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus sehingga pada akhirnya saya dapat menyelesaikan penulisan karya tulis ilmiah Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Program Sarjana 2012. Saya juga tidak lupa berterima kasih kepada Ibu Agustin Widjiastuti,S.H.,M.Hum yang telah dengan sabar membimbing dan membantu serta menyemangati saya dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini. Saya juga tidak lupa berterima kasih pada Departemen Student Servive yang telah memberi kesempatan pada saya unutk ikut serta dalam pemilihan ini dan untuk penyelesaian karya tulis ilmiah ini. Terima kasih juga pada Dekan Fakultas Hukum yang terhormat, Ibu Sari Mandiana,S.H.,M.S. dan Kepala Jurusan yang terhormat, Bapak Dr. Jusup J. Setyabudhi,S.H.,M.S. serta Wakil Rektor I Bidang Kemahasiswaan Bapak Prof. John Batubara yang sudah mendukung saya dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Program Sarjana 2012 melalui persetujuannya dalm karya tulis ilmiah ini. Serta kepada sahabat-sahabatku dan keluargaku yang tekasih, terima kasih atas segala dukungan dan semangat yang telah kalian berikan selama ini. Saya berharap, dengan penulisan karya ilmiah ini, saya dapat menjadi wakil Universitas Pelita Harapan Surabaya sebagai mahasiswa berprestasi program Sarjana. Dan dengan itu saya dapat menjadi teladan bagi sesama mahasiswa yang lain serta semua orang secara umum, dalam penanganan fakir miskin dan anak terlantar di negara ini. Mungkin cita-cita saya terkesan sangat klise. Tapi saya yakin bahwa gagasan penanganan yang saya tawarkan akan menjadi ide yang layak diterapkan, karena dasar hukum sudah mengatur dan kita hanya perlu mengimplementasikannya secara benar dan ringkas. Penguraian bab per bab saya yakini akan membawa gambaran yang lebih jelas pada pembaca agar dasar hukum yang sudah ada benar-benar menjadi dasar hukum yang memaksa (dwang recht) bagi masyarakat dan juga pemerintah untuk melaksanakannya. Sehingga visi kebersamaan yang saya tawarkan akan benar-benar

tercapai dan angka fakir miskin dan anak terlantar akan dapat ditekan, dan rakyat negara ini dapat hidup sejahtera. Seperti ungkapan tak ada gading yang tak retak, saya meminta maaf bila dalam penulisan karya tulis ilmiah ini terdapat beberapa kesalahan. Saya berharap ide dan gagasan saya dapat diterima sehingga dapat mengantar saya menjadi mahasiswa berprestasi program Sarjana. Dan kemudian saya berharap untuk bisa menjadi duta, bersama-sama memberi pemeliharaan yang tepat guna bagi para fakir miskin dan anak terlantar. Tuhan memberkati.

Surabaya, Maret 2012 Penulis

Imanuel Rahmani

DAFTAR ISI Bagian Awal Halaman Judul...................................................................................................1 Lembar Pengesahan...........................................................................................2 Kata Pengantar...................................................................................................3 Daftar Isi............................................................................................................5 Ringkasan..........................................................................................................6 Bagian Inti Pendahuluan Latar Belakang.......................................................................................9 Rumusan Masalah................................................................................10 Gagasan Kreatif...................................................................................10 Tujuan dan Manfaat.............................................................................11 Telaah Pustaka.................................................................................................12 Metode Penulisan.............................................................................................15 Analisis dan Sintesis........................................................................................16 Simpulan dan Rekomendasi............................................................................27 Bagian akhir Daftar Pustaka..................................................................................................28 Daftar Lampiran Bagan Fokus Penanggulangan Kemiskinan.............................................................13 Data Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, dan Garis Kemiskinan Menurut Provinsi di Indonesia17 Diagram Kemiskinan (Circle of Poverty)23

RINGKASAN Indonesia negeri yang sangat kaya akan sumber daya alam. Bahkan istilah pun mengatakan, jika tongkat ditanamkan dapat tumbuh menjadi tumbuhan. Betapa suburnya tanah negeri ini. Selain itu kekayaan rempah-rempah juga menarik perhatian bangsa-bangsa untuk memiliki Indonesia hingga Indonesia terjajah kolonial pada jaman dahulu. Masyarakat Indonesia pun merupakan sumber daya unggulan yang kuat dan tidak kalah juang dengan negara-negara maju. Tapi ironisnya, masih saja ada masyarakat kelas kedua di negara ini alias orang-orang yang hidup dibawah garis kemiskinan. Fakir miskin dan anak terlantar sudah sejak lama diatur penanganannya oleh negara. Bahkan telah dengan jelas diatur pada pasal 34 UUD 1945. UUD 1945 telah mengalami empat kali amandemen yaitu pada tahun 1999, 2000, 2001, dan 2002; dan tetap pasal 34 ini tidakmengalami amandemen. Saya dapat mengartikan bahwa tetaplah fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Namun kenyataannya, jumlah fakir miskin dan anak terlantar tidak semakin berkurang tapi semakin meningkat. Desakan ekonomi adalah faktor utamanya. Namun tetap saja ada faktor lain yang membuat tingkat fakir miskin dan anak terlantar semakin meningkat, seperti pendidikan dan pola pikir seseorang. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), fakir adalah (1) orang yg sangat berkekurangan; orang yg terlalu miskin; (2) orang yang dengan sengaja membuat dirinya menderita kekurangan untuk mencapai kesempurnaan batin; (3) aku (bagi pengarang dl syair dsb). Dan yang dimaksud dengan miskin adalah [a] tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Jadi pada intinya, fakir miskin berarti kaum fakir dan kaum miskin; (2) orang-orang yg sangat kekurangan. Sedangkan yang dimaksud dengan anak adalah (1) keturunan yang kedua; (2) manusia yang masih kecil. Dan telantar adalah (1) terhantar; terletak tidak terpelihara; (2) serba

tidak kecukupan (tentang kehidupan); (3) tidak terpelihara; tidak terawat; tidak terurus; (4) terbengkalai; tidak terselesaikan. Jadi saya dapat mengartikan anak telantar sebagai manusia yang masih kecil yang tidak terpelihara; tidak terawat; tidak terurus; serta tidak kecukupan. Berbagai upaya telah dilakukan semua pihak untuk mengurangi angka kemiskinan demi nama kesejahteraan rakyat. Berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bermunculan atas nama kemanusiaan, lembaga-lembaga independen dan keagamaan pun turut serta bekerja bersama pemerintah mengentas kemiskinan. Sampai-sampai industri hiburan pun ikut serta dengan menayangkan berbagai macam program reality show di beberapa stasiun televisi seperti Jika Aku Menjadi, Bedah Rumah, dan lain-lain. Namun kebanyakan dari para pihak yang membantu dengan segala macam program yang diberikan, hanya terpusat pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek tanpa memikirkan keberlanjutannya. Bantuan sembako dan uang tunai yang diberikan hanya akan beberapa waktu, dan bila telah habis maka fakir miskin dan anak terlantar yang dibantu pasti akan kembali pada fase kehidupan semula yang menggelandang karena mereka tidak dibekali cara-cara untuk memenuhi kebutuhan, mereka hanya diberi pemuas sesaat. Saya bukannya mengkambing hitamkan berbagai perbuatan amal yang telah dilakukan para dermawan, tapi alangkah baiknya bila visi pemberian bantuan diubah menjadi visi jangka panjang. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di universitas saya baru saja mencanangkan dan melaksanakan suatu program yang juga bertujuan unutk membantu fakir miskin dan anak terlantar. Program tersebut kami usung dengan nama Youth Caring Movement dimana mahasiswa dari tiga universitas swasta terkemuka di Surabaya bersatu untuk meraih masyarkat kelas kedua di Surabaya. Kami sadar bahwa sekarang bukan lagi saatnya bagi kami untuk menjadi Santa Claus yang membawa segunung hadiah bagi mereka yang membutuhkan, tapi kami memiliki visi untuk meninggalkan jejak yang dapat ditiru dan bermanfaat bagi mereka tang kami bantu. Program yang sedang kami jalankan saat ini adalah mengajar di salah satu Sekolah Dasar di daerah Demak, Surabaya. Keadaan Sekolah Dasar tersebut sangat memprihatinkan dan tidak

ada pihak yang sanggup mengubah keadaan tersebut karena orang tua/wali dari para murid pun bisa digolongkan sebagai masyarakat menengah ke bawah. Kami bermaksud, selain memberi bantuan materi, tapi juga membagikan cara pengajaran yang lebih efektif kepada para pengajar dan juga cara belajar maksimal kepada para anak didik. Kami juga merangkul beberapa lembaga bimbingan belajar untuk memandu kami dalam memberikan materi. Hal tersebut kami lakukan dengan harapan agar pembenahan dan pembaruan tetap berlanjut walaupun kami sudah tidak berada di sekolah tersebut. Upaya penanganan fakir miskin dan anak terlantar juga telah dibuat pemerintah melalui pasal 34 UUD 1945. Namun tetap pada kenyataannya, hukum dalam teori tidak sama dengan hukum dalam praktek. Dalam karya tulis ilmiah ini, saya akan memecah unsur pasal 34 UUD 1945 agar nyata benar penanganan yang dilakukan pemerintah sudah tepat guna dengan hukum yang telah berlaku positif atau belum. Selain itu saya juga akan menelusur penanganan fakir miskin dan anak terlantar di negara lain dengan tujuan sebagai studi pembanding guna menyerap cara yang terbaik. Memajukan kesejahteraan umum bukanlah jargon, tapi memang tujuan bangsa ini.

BAGIAN INTI PENDAHULUAN Latar Belakang Berbicara masalah kemiskinan merupakan salah satu persoalan pelik yang sedang dihadapi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi angka kemiskinan. Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat antara lain demikian Pemerintah memberdayakan berbagai macam upaya swadaya dengan tujuan untuk mengurangi ataupun memberantas kemiskinan. Namun masih terus berusaha untuk mengurangi angka kemiskinan. membuat berbagai aturan hukum. Tindakan ini Pelaksanaan ini diwujudkan dengan memulai membuat berbagai macam slogan-slogan anti kemiskinan sampai dengan dilakukan dalam rangka pencegahan dan penanggulangan kemiskinan. Dalam kenyataannya persoalan kemiskinan masih belum teratasi dengan baik. Oleh karena itu dibutuhkan adanya kerjasama antara Pemerintah dengan institusi institusi yang terkait serta masyarakat. Sebagian besar orang mengkaitkan kemiskinan dengan masalah ekonomi dan keuangan. Namun sebenarnya, pengertian kemiskinan saat ini jauh lebih kompleks. Istilah-istilah menyangkut kemiskinan yang sering muncul akhir-akhir ini seperti, kemiskinan moral, kemiskinan budaya, kemiskinan pendidikan, dan lain-lain. Namun saat ini saya akan lebih mengarah kepada kemiskinan yang konkrit, menyangkut keadaan ekonomi masyarakat. Kita sangat akrab dengan bunyi pasal fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Mulai dari kita duduk di bangku Sekolah Dasar sampai dengan saat ini, kita sudah diajar bahwa pasal 34 UUD 1945 tersebut seakan menjadi senjata ampuh dalam menanggulangi kemiskinan di negeri ini. Namun benar pendapat para pakar hukum bahwa law in the book is not law in the action (hukum dalam teori tidaklah seperti hukum pada kenyataannya). Upaya yang dapat kita lakukan adalah bagaimana semaksimal dan seefektif mungkin, hukum pada kenyataannya akan

10

sama baiknya dengan hukum dalam teorinya. Pada dasarnya, kebersamaan dan kesatuan arah tujuan adalah hal utama yang harus dimiliki tiap individu untuk dapat meraih tujuan bersama. Sesuatu yang kita lakukan hanya untuk diri kita sendiri akan mati bersama kita: sesuatu yang kita lakukan untuk orang lain dan dunia akan bertahan dan abadi. (Albert Pike) Rumusan Masalah Bagaimana penguraian unsur-unsur pasal 34 UUD 1945 yang menyatakan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, dapat benar-benar bermanfaat bagi perbaikan taraf kesejahteraan ekonomi masyarakat menengah ke bawah? Gagasan Kreatif Sudah banyak sekali cara dilakukan untuk menanggulangi kemiskinan. Berbagai kegiatan sosial diupayakan masyarakat untuk menolong sesama yang membutuhkan. Hal tersebut tentu saja merupakan perbuatan yang sangat arif dan budiman. Namun seringkali para dermawan tersebut datang layaknya seorang Santa Claus. Mereka datang dengan segala macam hadiah (baca: sumbangan) yang justru membentuk mental manja dan terlalu mengandalkan bantuan bagi masyarakat miskin. Kebanyakan dari para dermawan membantu dengan harapan jangka pendek, bukan jangka panjang. Dengan harapan bahwa kebutuhan mereka akan terpenuhi, namun kemudian tidak mengajari cara memenuhi kebutuhan tersebut. Sama halnya dengan para pembuat peraturan negara, alias pemerintah. Pemerintah membuat berbagai peraturan, hitam di atas putih, untuk menekan angka kemiskinan di Indonesia. Pasal 34 UUD 1945 adalah salah satu bukti nyata upaya pemerintah. Namun pada kenyataannya, apakah angka kemiskinan memang sudah turun secara signifikan, terlepas dari pengakuan beberapa pihak bahwa angka kemiskina di negeri ini sudah berkurang.

11

Saya sangat tergelitik untuk menelusur, secara khusus pasal 34 UUD 1945 ini. Karena pasal ini sungguh bagaikan hujan pengharapan bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Dan kemudian timbul pertanyaan apa memang pearaturan hukum ini sudah menjamin kesejahteraan rakyat miskin atau justru hanya sebagai harapan palsu yang menguap seiring waktu dan kemudian dilupakan. Dari penelaahan ini, saya berharap akan menemukan cara terbaik dalam penerapan pasal ini. Tidak perlu dengan terus merevisi aturan perundang-undangan, cukup dengan menggunakan apa yang telah matang digodok oleh para petinggi negara kemudian menyajikannya dalam berbagai bidang seperti jaminan kesehatan, pemberian ketrampilan, pengasuhan anak-anak terlantar, dan lain-lain. Saya juga akan membandingkan penanganan fakir miskin dan anak terlantar di Indonesia dengan negara lain di dunia seperti Amerika, khususnya Amerika Latin. Pembandingan ini dimaksudkan bukan untuk membuat aturan hukum di Indonesia sama dengan negara lain sehingga kita menjadi kehilangan jati diri, tapi lebih untuk menyerap hal-hal baik yang dapat diterapkan demi kemajuan bangsa ini. Seperti halnya lirik lagu bukan lautan, hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu (Koes Plus), seperti itulah bangsaku Indonesia yang kaya dan rakyatnya makmur sentosa. Amin. Tujuan Penulisan 1. Turut serta beraspirasi dalam upaya penanganan fakir miskin dan anak terlantar di Indonesia, dengan menjadi duta melalui program Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Program Sarjana. 2. Memberi gambaran dan penjelasan mengenai kemiskinan dan penanganannya. Manfaat Penulisan 1. Membuat pembaca sadar bahwa perubahan dimulai dari driri sendiri, bukan orang lain. 2. Menunjukkan bahwa mengentaskan kemiskinan adalah upaya bersama, bukan pribadi.

12

TELAAH PUSTAKA Banyak sekali pihak yang telah menjadi pemula dalam penanganan fakir miskin dan anak terlantar. Mulai dari pihak-pihak independen, lembaga-lembaga sosial, dan juga pemerintah. Banyak juga penelitian yang telah dilakukan dalam rangka mengukur angka kemiskinan guna memperkecil jumlah masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah di Indonesia. Berbagai teori telah diungkapkan dan berbagai upaya telah dilakukan. Dan dalam bagian ini, saya akan mencoba mengkritisi setiap upaya penanggulangan fakir miskin dan anak terlantar yang telah dilakukan pada berbagai wilayah, serta menilai teori-teori dan pendapat-pendapat yang telah diungkapkan tentang kemiskinan pada umumnya dan tentang fakir miskin dan anak terlantar pada khususnya. Masalah kemiskinan merupakan masalah yang kompleks. Bukan hanya menyangkut tentang perekonomian, namun juga menyentuh faktor lain dalam tata kehidupan masyarakat. Keberhasilan penanganan kemiskinan pun juga sangat terkait dengan kompleksitas dari kemiskinan itu sendiri, termasuk dengan sifat dan karakteristik kemiskinan. Menangani kemiskinan di Indonesia tidak bisa dilihat secara teknis praktis. Karena, kemiskinan itu sendiri sama seperti permukaan laut yang begitu luas. (YB Mangunwijaya) Penanganan kemiskinan harus memperkatikan karakteristik dari kemiskinan itu. Ada yang disebut dengan kemiskinan absolute dan kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut adalah kemiskinan yang diukur dengan membandingkan tingkat pendapatan orang atau keluarga dengan kebutuhan dasar minimum. Artinya, seseorang dikatakan miskin apabila pendapatannya kurang dari atau tidak mencapai pendapatan guna memenuhi kebutuhan dasar minimum. Sedangkan kemiskinan relatif biasanya diperkirakan dengan memperhatikan golongan berpendapatan rendah dari satu pola pendapatan. (Suprihatin Guhardja 1993, hal 53).

13

Di Indonesia sendiri sudah ada satu departemen khusus yang menangani masalah kesejahteraan rakyat, yaitu Kementerian Sosial Republik Indonesia yang dulunya disebut Departemen Sosial. Kementerian Sosial ternyata telah mencanangkan banyak program terarah demi penanggulangan kemiskinan, termasuk pengurangan angka fakir miskin dan anak terlantar. Bahkan Kementerian Sosial juga telah membuat sasaran strategis yang ingin dicapai dalam lima tahun ke depan (2010-2014), yang salah satunya adalah fakir miskin, anak yatim piatu telantar, lanjut usia telantar, penyandang cacat fisik, cacat mental, cacat fisik dan mental, eks penderita penyakit kronis. Tampak sangat menjanjijkan dan kita berharap bahwa pemerintah akan benar-benar mempertanggungjawabkan apa yang telah dijanjikannya. Selain itu, Kementerian sosial juga telah mencanangkan fokus penanggulangan kemiskinan. Fokus penanggulangan tersebut dapat dilihat pada bagan berikut ini.

Sumber: depsos.go.id Dan hal yang paling menjanjikan sebagai produk hukum dari Kementerian sosial adalah Undang-undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial. Konsiderans UU No.11 Tahun 2009 huruf a. dan b. menyatakan bahwa:

14

a. bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan negara mempunyai tanggung jawab untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; b. bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang layak dan bermartabat, serta untuk memenuhi hak atas kebutuhan dasar warga negara demi tercapainya kesejahteraan sosial, negara menyelenggarakan pelayanan dan pengembangan kesejahteraan sosial secara terencana, terarah, dan berkelanjutan; Dituliskan bahwa pelayanan dan pengemabangan kesejahteraan sosial dilakukan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan. Artinya upaya penyejahteraan rakyat harus dilakukan secara bersinergi dan terus-menerus. Saat ini juga sedang digodok Rancangan Undang-undang Republik Indonesia tentang Kemiskinan. Kita tilik pada konsiderans RUU ini: b. bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan Negara untuk memenuhi hak dasar warga negara, memelihara fakir miskin dan anak-anak yang terlantar, mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan, serta bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan sosial dasar yang layak yang diatur dengan undang-undang; c. bahwa sistem penanggulangan kemiskinan harus mampu menjamin terselenggaranya pelayanan sosial dasar yang berkualitas sehingga dapat meningkatkan harkat, martabat dan kualitas hidup manusia, mengembangkan prakarsa dan peran aktif masyarakat, mencegah dan menangani masalah kemiskinan, mengembangkan sistem perlindungan dan jaminan sosial, memperkuat ketahanan sosial bagi setiap warga negara; bahwa pemerintah diharuskan untuk membuat suatu sistem penanggulangan kemiskinan yang harus mampu menjamin peningkatan taraf kesejahteraan rakyat. Suatu gagasan yang sangat menjanjikan.

15

Selain upaya dari pemerintah, masyarakat pun berswadaya menanggulangi fakir miskin dan anak terlantar di Indonesia. Berbagai lembaga sosial yang mengatasnamakan kemanusiaan bermusnculan. Mulai dari lembaga yang dibiayai dari saku pribadi sampai pada lembaga yang menggandeng perusahaan-perusahaan besar, bahkan perusahaan-perusahaan multinasional (Multi National Corporation-MNC). Salah satu lembaga besar yang sudah dikenal adalah Lembaga Kesejahteraan Sosial Indonesia (LKSI). LKSI berdiri didasari atas rasa keprihatinan yang begitu mendalam akibat dari situasi dan kondisi bangsa yang terus terpuruk, mulai dari angka kemiskinan yang begitu tinggi, bencana alam yang semakin sering terjadi, jumlah anak putus sekolah yang masih banyak, masih kurangnya kepekaan sosial antar sesama, terutama dalam kehidupan sehari-hari, banyaknya keluarga miskin yang terjebak dalam dunia narkotika dan psikotropika, kekerasan terhadap anak maupun perempuan, kekerasan dalam rumah tangga yang diakibatkan faktor ekonomi, terus meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS, maraknya perdagangan anak dan perempuan, dan persoalan-persoalan sosial masyarakat lainnya yang muncul disekitar kita. Diperparah lagi banyaknya kebijakan-kebijakan negara yang tidak menyentuh pada sasaran masyarakat kecil dan miskin (profil lembaga, www.lksi.or.id, 2007) METODE PENULISAN

16

ANALISIS dan SINTESIS Sebuah Panggung Kehidupan Di suatu siang hari yang terik, di salah satu pusat keramaian di jantung ibu kota, saat itu saat makan siang. Orang-orang dari gedung-gedung pencakar langit turun untuk mengisi perut , membekali diri dengan energi untuk beraktivitas sepanjang sisa hari. Di salah satu lantai di pusat keramaian itu, mereka bercengkerama sambil menikmati makan siang yang dihidangkan dengan apik di hadapan mereka. Asap makanan membubung naik menambah daya tarik kelezatan makanan yang menggoda lidah untuk segera menikmatinya. Kesegaran minuman dingin yang disajikan begitu menawan dan berwarna-warni pun menambah nafsu untuk segera melahapnya. Uang mereka keluarkan dari dompet merekayang tebal, makanan lezat berpasangan dengan minuman yang menyegarkan pun disajikan untuk mereka santap. Sungguh indahnya hari ini. Bekerja seharian, menikmati keakraban dan memanjakan lidah dengan berbagai olahan masakan citra rasa tinggi, menerima upah kerja, dan menikmati kehidupan dengan uang hasil jerih payah, sungguh suatu siklus kehidupan yangcukup menjanjikan. Namun di bawah gedung itu, di bawah pusat keramaian, suasana sungguh berbeda. Anak-anak menyanyi dengan memakai alat musik ala kadarnya, mengharap sedekah dari orang yang lalu lalang. Mereka masih beruntung bisa mencari uang dengan sedikit kemampuan yang mereka miliki. Sebagian lagi hanya tidur beralaskan koran samsil menekuk badan, menahan erangan perut yang kelaparan. Sebagian dari mereka bahkan terlihat tidak peduli atau bahkan belum mengerti tentang susahnya hidup ini, mereka bermain denga riangnya di kubangan sungai yang keruh itu, berlarian mengejar kawan-kawan mereka yang bersembunyi dan melompat-lompat dengan untaian karet gelang di atas tanah kering yang berdebu. Mereka yang beruntung, masih memiliki orang tua. Orang tua yang juga berjuang untuk memberi makan anakanaknya, sampai mereka pun mungkin tidak bisa makan. Karung besar dan sebatang besi dengan kait adalah modal mereka untuk mengais rejeki guna menyambung hidup. Kemiskinan adalah kata yang sudah menjadi bagian kehidupan mereka.

17

Mungkin benar, semakin tinggi tempat seseorang mencari nafkah maka semakin makmur dirinya. Semakin rendah, hingga menuju ke kolong jembatan maka makin sudah terbayangkan betapa sulitnya kehidupan mereka. Agaknya memang fase tinggirendah tepat untuk menggambarkan keadaan antara si mapan dengan si mlarat. Tepat untuk menggambarkan adanya pemisah yang begitu lebar anatara mereka yang kaya dan yang miskin. Menengah ke atas dan menengah ke bawah, lebih cocok lagi untuk menggambarkan keadaan mereka. Angka Kemiskinan Menurun? Pada bagian ini, akan lebih mudah bila kita langsung melihat pada data statistik yang telah disediakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007 sampai 2011. Datadata berikut adalah mengenai Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, dan Garis Kemiskinan Menurut Provinsi di Indonesia. Periode Maret 2007 Jumlah penduduk miskin (000) Kota Desa Kota+Desa % Penduduk Miskin Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa 12.52 20.37 16.58 187 942 146 837 166 697 Periode Maret 2008 Jumlah Penduduk Miskin (000) 13 559.3 23 609.0 37 168.3

Garis Kemiskinan (Rp)

18

Kota Desa Kota+Desa % Penduduk Miskin Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa

12 768.5 22 194.8 34 963.3 11.65 18.93 15.42 204 896 161 831 182 636 Periode Maret 2009

Garis Kemiskinan (Rp)

Jumlah Penduduk Miskin (000) Kota Desa Kota+Desa % Penduduk Miskin Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa 10.72 17.35 14.15 222 123 179 835 200 262 Periode 2010 Jumlah Penduduk Miskin (000) Kota Desa Kota+Desa 11 097.80 19 925.60 31 023.40 11 910.5 20 619.4 32 530.0

Garis Kemiskinan (Rp)

19

% Penduduk Miskin Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa 9.87 16.56 13.33 232 988 192 354 211 726 Periode 2011 Jumlah Penduduk Miskin (000) Kota Desa Kota+Desa % Penduduk Miskin Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa 9.23 15.72 12.49 253 016 213 395 233 740 11 046.75 18 972.18 30 018.93

Garis Kemiskinan (Rp)

Garis Kemiskinan (Rp)

Dari data-data di atas, kita dapat melihat dengan jelas bahwa persentase kemiskinan di Indonesia sejak tahun 2007 sampai 2011 mengalami penurunan yaitu dari angka total 16.58% menjadi 12.49%. Namun seperti kebanyakan orang pada umumnya, saya agak meragukan keakuratan data tersebut. Karena akhir-akhir ini tampak semakin banyak saja fakir miskin dan anak terlantar. Lingkungankumuh pun tidak semkain berkurang, namun terasa semakin banyak di kawasan kota besar. Sayangnya BPS tidak menjelaskan variabel apa saja yang memengaruhi naik-turunnya

20

angka kemiskinan di Indonesia hingga pada akhirnya bisa disimpulkan bahwa persentase kemiskina di Indonesia menurun. Bukannya rakyat bersifat apatis dan tidak mau percaya pada pemerintah, namun masyarakat sekarang adalah masyarakat yang kritis yang tidak mau menerima segala sesuatu mentahnya saja. Janji-janji dan berbagai data yang diberikan pemerintah seharusnya disesuaikan dengan keadaan yang sesungguhnya. Pembohongan publik akan membuat rakyat semakin tidak percaya kepada pemerintah, apalagi pemerintahan saat ini sudah terkenal sebagai pemerintahan yang korup dan jauh dari angan-angan rakyat. Bila angka kemiskinan memang sudah benar-benar turun, maka pemerintah sudah memiliki kinerja yang luar biasa dalam rangka mencapai tujuan bangsa Indonesia untuk mensejahtrekan rakyatnya. Hidup pemerintah Indonesia! Fakir Miskin dan Anak-anak yang Terlantar Dipelihara Oleh Negara Bagian ini akan saya buka dengan menunjukkan isi pasal 34 UUD 1945, Amandemen IV. (1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. (2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. (3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. Perubahan IV dilakukan pada tanggal 10 Agustus 2002, pasal 34 sebelumnya berbunyi: Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara. Jelas sekali terlihat pada ayat (1) bahwa fakir miskin dan anak terlantar menjadi tanggung jawab pemerintah. Seperti penjelasan yang sudah saya berikan sebelumnya, bahwa yang dimaksud dengan fakir miskin adalah orang-orang yg sangat kekurangan.

21

Sedangkan anak terlantar adalah manusia yang masih kecil yang tidak terpelihara; tidak terawat; tidak terurus; serta tidak kecukupan. Jadi para pramuwisma, gepeng (gelandangan dan pengemis), dan anak jalanan sudah selayaknya menjadi tanggungan pemerintah karena mereka dianggap sebagai orang-orang yang tidak mampu secara financial. Kita sudah tahu pasti bahwa saat ini hampir tidak ada satu hal pun yang tidak memerlukan uang. Lalu bagaimana dengan fakir miskin dan anak terlantar yang tidak memiliki ketrampilan dan juga tidak mampu secara ekonomi, bagaimana mereka dapat pergi ke rumah sakit untuk mendapat perawatan akan sakit yang mereka derita atau jika mereka ingin memperbaiki masa depan dengan mencari pendidikan di bangku sekolah. Semua fakir miskin dan anak terlantar pastilah tidak ingin selamanya berada pada keadaan mereka yang sekarang. Mereka pastilah memiliki angan untuk kehidupan yang lebih baik. Angan sudah berusaha mereka wujudkan dengan berbagai daya upaya, namun tetap saja apa yang mereka lakukan tidak dapat memenuhi apa yang dunia inginkan. Mereka kalah bersaing dengan orang-orang yang berketrampilan dan berkemampuan lebih. Maka dari itu pada pasal 34 ayat (2) UUD 1945 disebutkan bahwa Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Negara bukan hanya menyediakan namun juga harus mengembangkan dan memberdayakan. Sistem jaminan sosial yang dimaksud dalam ayat ini adalah pemberian bekal dan ketrampilan, dan bukan hanya pemberian bantuan materi yang bisa habis dimakan waktu. Melalui sistem jaminan sosial ini, masyarakat yang lemah dan tidak mampu akan dapat diberdayakan sesuai dengan bekal ketrampilan yang telah mereka terima. Misalnya penyuluhan tentang perintisan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), pemberian bekal kemampuan membuat kerajinan tangan dari benda bekas, pendidikan gratis, dan program orang tua asuh. Dengan semua bekal ketrampilan yang mereka miliki, kemudian pemerintah menyediakan juga sarana untuk mempraktekkan teori-teori yang sudah diperoleh bagi para fakir miskin dan anak terlantar. Maka dengan demikian, mereka dapat membuka usaha sendiri dan dapat membiayai kehidupan mereka dengan layak tanpa menggelandang. Sedangkan dengan

22

program orang tua asuh, anak-anak terlantar dapat terjamin masa depan dan haknya layaknya seorang anak pada umumnya. Namun ada satu hal yang perlu diwaspadai dengan program orang tua asuh yaitu adanya human trafficking (perdagangan manusia). Maka pemerintah harus benar-benar menyeleksi pihak-pihak yang akan menjadi orang tua asuh si anak agar anak tidak menjadi obyek perdagangan manusia dan masa depannya menjadi semakin buruk. Ayat (3) menyatakan bahwa Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Sekali lagi, sungguh merupakan kelegaan bagi para fakir miskin dan anak terlantar akan jaminan yang diberikan pemerintah. Ayat (3) pasal 34 UUD 1945 ini telah terealisasi dengan adanya berbagai subsidi dan bantuan kesehatan seperti JAMSOSTEK (Jaminan Sosial Tenaga Kerja) dan JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat). Selain itu, ada pula RASKIN (Beras Miskin) dan BLT (Bantuan Langsung Tunai) bagi masyarakat tidak mampu. Namun seringkali masyarakat mengeluh karena bantuan yang diberikan seringkali tidak tepat sasaran. Masyarakat yang jauh lebih membutuhkan justru tidak memperoleh bantuan. Selain itu, seringkali juga kita mendengar adanya insiden saat pembagian RASKIN dan BLT dimana masyrakat berebut untuk mendapat bantuan. Sungguh sebuah ironi, saat para petinggi negara melanglang buana mengelilingi dunia dan berkorupsi, justru rakyat berebut sedikit uang demi mempertahankan kehidupan mereka. Dan ayat (4) menyebutkan bahwa pelaksanaan ketentuan pasal 34 UUD 1945 ini diatur dalam undang-undang. Menurut pasal 7 ayat (1) Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, UUD 1945 berada pada urutan pertama dalam hierarki peraturan perundang-undangan. Maka UUD 1945 memerlukan undang-undang lain sebagai pelaksananya. Beberapa undnag-undang yang merupakan pelaksana dari pasal 34 UUD 1945 antara lain adalah Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, dan beberapa aturan perundangan lain termasuk kelak RUU tentang Kemiskinan.

23

Dari penguraian unsur-unsur pasal 34 UUD 1945 di atas, seharusnya kehidupan fakir miskin dan anak terlantar sudah bisa membaik sekarang ini dan mereka tidak lagi disebut fakir miskin dan anak terlantar. Namun nyatanya, masih banyak saja anak-anak yang terlantar di pinggir jalan, masih banyak oran yang mengais sampah untuk mencari sisa-sisa makanan, dan tidur di gerobak atau pelataran toko karena tidak mempunyai tempat tinggal. Apakah mereka adalah para fakir miskin dan anak terlantar lain yang lahir dari siklus kemiskinan? Saat yang satu berhasil ditanggulangi maka akan muncul yang lain. Kita tidak tahu. Diagram Kemiskinan (Circle of Poverty)

Sumber: Buku Pengembangan Sumber Daya Keluarga (1993) Sekarang yang perlu dilakukan adalah memanfaatkan produk hukum yang sudah ada agar penerapannya dapat bersifat memaksa seperti sepatutnya daya ikat peraturan

24

hukum tersebut. Dan diperlukan adanya strategi taktis dengan mengutamakan kebersamaan, dalam upaya memecah siklus kemiskinan di Indonesia. Pergerakan Melawan Kemiskinan di Negara Lain Mari kita tilik artikel berikut ini. SUARA PEMBARUAN DAILY 5 Januari 2010 Penanganan Anak Jalanan Belajarlah dari Amerika Latin [JAKARTA] Salah satu upaya untuk menekan jumlah anak jalanan adalah dengan menampung mereka di pusat rehabilitasi atau rumah perlindungan sosial anak. Dalam hal mengatasi persoalan anak jalanan ini, Indonesia harus belajar dari negara-negara Amerika Latin seperti Brasilia, Argentina dan Meksiko. Belajar dari Amerika Latin Menurut Ketua Divisi Jaringan dan Kampanye International NGO Forum on Indonesian Development (Forum LSM Internasional untuk Pembangunan Indonesia/INFID) Wahyu Susilo di Jakarta, Senin (4/1), negara-negara ini juga memiliki persoalan anak jalanan yang cukup pelik, namun mereka bisa menguranginya, antara lain, dengan cara memperbanyak akses dan ruang bagi anak untuk berkreasi, terutama mengembangkan diri di bidang olahraga. "Kalaupun mereka di jalan tetap bermain bola, itu pengembangan diri yang alami. Di Jakarta, tempat bermain dan olah raga digusur untuk pembangunan gedung pencakar langit," katanya Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Hadi Supeno mengatakan, kualitas pelayanan pusat rehabilitasi atau panti sosial selama ini masih rendah. Pendekatan yang dilakukan seperti sipir di penjara, di mana panti hanya menampung dan membina sesuai porsi petugas tetapi tidak memberikan kenyamanan bagi anak. "Di jalan mereka bisa dapat Rp 50.000-100.000 tiap hari, bisa makan kapan saja dan beli apa saja. Ketika masuk panti, mereka harus dibatasi makannya, uang saku dan ruang geraknya. Anak merasa di jalanan lebih baik ketimbang di panti, ya balik lagi dia ke jalanan," katanya.

25

Sedangkan, anggota Komisi VIII DPR berpendapat, program penanggulangan kemiskinan harus mengandung perspektif hak anak, dan komprehensif. Programprogram yang sifatnya jangka pendek seperti bantuan langsung tunai (BLT) tidak akan menyelesaikan persoalan kemiskinan. Justru mendidik mental orang miskin menjadi pengemis di jalanan. Menanggapi hal tersebut, Dirjen Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Depsos, Makmur Sunusi mengatakan, sebanyak 10 pusat rehabilitasi atau rumah perlindungan sosial anak yang tersebar di beberapa provinsi sudah berkualitas. "Kalaupun ada yang dikatakan amburadul, itu yang di daerah. Sejak otonomi daerah, sekitar empat ratusan kita serahkan ke daerah. Itu di luar tanggung jawab Depsos. Kita hanya memfasilitasi bagaimana desain pelayanan yang baik," katanya. [D-13] Ternyata teori yang saya ungkapkan sebelumnya benar adanya. Salah satu cara terbaik untuk menangani fakir miskin dan anak terlantar adalah dengan rehabilitasi sembari pemberian pembekalan ketrampilan untuk berwirausaha dan juga pendidikan bagi anak-anak, tentunya dengan penanganan yang terarah dan berkesinambungan. Dalam hal ini, kita harus belajar dari negara-negara Amerika Latin, khususnya dalam penanganan anak terlantar (anak jalanan). Negara-negara seperti Meksiko, Brasil, dan Argentina yang notabene juga mengalami masalah anak jalanan ternayata berhasil menekan jumlah populasi anak jalanan dengan member ruang bagi anak untuk berkreasi dan mengasah diri, terutama dalam kemampuan berolahraga. Hal tersebut merupakan hal yang efektif untuk dilakukan karena memang jiwa anak adalah jiwa yang masih senang bermain dan serba ingin tahu, dan belum waktunya untuk bekerja mencari nafkah. Anak diajar untuk tumbuh dan berkembang seperti layaknya anak pada umumnya. Mereka tidak dididik seperti hidup dalam penjara yang mengekang kebebasan mereka dimana semua hal dibatasi. Pola penanganan anak terlantar di Indonesia harus mulai diperbaiki, yaitu tidak hanya mendidik anak dengan keras tapi juga menggunakan pelukan dan kasih sayang. Karena jiwa seorang anak adalah jiwa yang masih ingin dilindungi dan perlu pengayoman. Sedangkan untuk penanganan fakir miskin, sesuai dengan pemikiran saya sebelumnya bahwa pemberian bantuan seperti BLT tidak akan mendidik fakir miskin untuk hidup mandiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri, tapi justru membentuk

26

mental pengemis. Hal tersebut senada dengan pemikiran anggota Komisi VIII DPR. Bantuan seperti BLT dan RASKIN hanyalah bantuan jangka pendek yang hanya akan berguna selama kurang lebig satu bulan, setelah itu pasti para fakir miskin akan meminta-minta lagi atau menanti pemberian bantuan berikutnya. Hal tersebut akan membentuk mental manja nagi para fakir miskin. Saat ada bantuan, mereka akan beramai-ramai datang, namun bila tidak ada bantuan mereka akan kembali memintaminta mengharap kebaikan orang. Kita juga harus mengambil teladan Amerika Serikat dalam penanganan fakir miskin dan anak terlantar. Amerika Serikat sudah memiliki lembaga sosial tersendiri yang tugasnya merehabilitasi fakir miskin dan anak terlantar. Lembaga ini disebut dengan Department of Health and Human Services (HHS), yang berdiri sejak tahun 1953. The Department of Health and Human Services (HHS) is the United States governments principal agency for protecting the health of all Americans and providing essential human services, especially for those who are least able to help themselves. (hhs website) HHS adalah badan utama pemerintahan Amerika Serikat untuk melindungi kesehatan seluruh warga negara Amerika dan menyediakan pelayanan dasar kemanusiaan, khususnya bagi mereka yang kurang mampu menolong dirinya sendiri. Program-program yang dijalankan oleh HHS antara lain mencakup berbagai macam tugas dan layanan masyarakat, seperti penelitian, kesehatan mayrakat, perlindungan obat dan makanan, bantuan dan pembiayaan, jaminan kesehatan, dan lain-lain. Hal-hal tersebut di atas memang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, namun yang masih perlu diperbaiki adalah eksekusinya atau penerapannya di masyarakat. Di Amerika, sebelum pemberian bantuan akan dilaksanakan survei kelayakan penerima bantuan dengan saksama. Dan setelah mereka diberi pembekalan maka mereka akan dilepas kembali ke masyarakat untuk hidup mandiri layaknya masyarakat lain. Hal tersebut dikecualikan bagi para lansia dan veteran tidak mampu,

27

dimana mereka akan dirawat dan dipelihara di suatu rumah penampungan yang layak huni dengan fasilitas yang baik. Tidak ada dana yang dikorupsi ataupun data yang dipalsukan. Mungkin itulah yang masih perlu dibenahi dalam sistem di Indonesia. Cap fakir miskin dapat dihilangkan dengan upaya kesetaraan ekonomi sedangkan cap anak-anak terlantar dapat dihapus melalui keterbukaan akses pendidikan. (Anwar KH, sumber website, April 2011)

SIMPULAN dan REKOMENDASI Penanggulangan kemiskinan di Indonesia selama jangka waktu pembangunan jangka panjang pertama, menunjukkan hasil yang menggembirakan. Secara kuantitatif, penduduk yang berada di garis kemiskinan pada tahun 1970-an adalah sekitar 60% dari jumlah total penduduk. Sedangkan tahun 1990-an angka tersebut turun menjadi 15% dari jumlah total penduduk. Namun tetap saja, upaya penanggulangan kemiskinan dihadapkan dengan kompleksnya permasalahan. Terutama menyangkut karakteristik dan sifat-sifat kemiskinan. Menangani kemiskinan di Indonesia tidak bisa dilihat secara teknis praktis. Karena, kemiskinan itu sendiri sama seperti permukaan laut yang begitu luas. (YB Mangunwijaya) Kemiskinan merupakan momok bagi setiap negara di dunia. Kemiskinan adalah hal yang kompleks, tidak sekadar dilihat dari segi ekonomi namun juga harus menilik pada mentalitas masyarakat. Hal yang harus menjadi pertimbangan utama dalam menangani kemiskinan adalah bagaimana membentuk pola pikir masyarakat agar dapat berdikari dan tidak mengandalkan bantuan. Karena tujuan negara ini adalag membentuk masyarakat yang mandiri agar dapat bersama-sama menyatukan kemndirian tersebut untuk membangun bangsa. Kesadaran harus dipupuk dari setiap pribadi untuk benar-benar menerapkan amanat pasal 34 UUD 1945. Saya katakana setiap pribadi karena setiap pribadi inilah

28

yang akan duduk di tampuk pemerintahan. Jika mereka tidak memiliki kesadaran sejak awal, maka niscaya pemerintahan akan dapat mereka jalankan sesuai demokrasi kerakyatan. Hal awal yang harus menjadi dasar pemikiran adalah kita semua bersaudara dan harus saling membantu, dengan cara yang benar dan tepat. Hal sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan mengumpulkan orang-orang yang memiliki visi yang sama untuk memperbaiki keadaan bangsa ini, untuk membantu para fakir miskin dan anak terlantar. Seperti yang kami lakukan di lingkungan universitas sebagai mahasiswa. Kami memiliki pemikiran untuk memperbaiki sarana pendidikan sembari member pembekalan cara mengajar yang efektif melalui Youth Caring Movement (YCM). Kami memulai dari lingkup kecil, kampus hingga menjangkau wilayah Surabaya yang tidak terjamah. Kami juga merangkul beberapa perusahaan dan lembaga bimbingan belajar serta media massa untuk turut mendukung program kami. Tujuan kami bukanlah menjadi Santa Claus, tapi kami datang untuk memberikan sesuatu yang dapat dilanjutkan masyarakat dan mungkin meraka juga akan melanjutkannya pada masyrakat yang lain. Penanganan fakir miskin dan anak terlantar di Indonesia bukanlah program yang sekali jalan langsung selesai. Program ini harus terus dilakukan karena kemiskinan adalah siklus, dan kita harus terus berusaha untuk mematahkan siklus tersebut. Upaya awal yang dapt dilakukan adalah menjalin kebersamaan, membuat langkah nyata, dan meneruskannya pada orang-orang setelah kita. Sektor utama yang harus dijamah adalah pendidikan dan kesehatan. Karena bila setiap orang terdidik dengan baik pasti pola piker mereka juga akan berubah. Dan bila kesehatan kita terjamin maka setiap pekerjaan akan selesai dengan baik. BAGIAN AKHIR DAFTAR PUSTAKA Artikel Suara Pembaruan Daily. Penanganan Anak Jalanan : Belajarlah dari Amerika Latin. Jakarta, 5 Januari 2010

29

Guhardja, Suprihatin. Pengembangan Sumber Daya Keluarga, Bogor: BPK Gunung Mulia, PT. Institut Pertanian Bogor, 1993. Undang-undang Dasar 1945 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial Website Badan Pusat Statistik, bps.go.id Website HHS Website Kementerian Sosial RI, depsos.go.id