Anda di halaman 1dari 41

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Gastritis merupakan penyakit yang banyak dijumpai dimasyarakat. Studi epidemiologi menunjukkan penyebaran gastritis yang menyeluruh di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, sekitar 1,8 2,1 juta orang datang ke praktik dokter dengan gejala gastritis1. Di Indonesia sendiri, belum ada data statistik tentang prevalensi gastritis di masyarakat. Gastritis dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab. Contohnya, oleh infeksi kuman Helycobacter pylori (H. Pylori)2, penggunaan obatobatan, makanan, rokok, minuman alkohol dan stres (psikologis)1,3. Pada umumnya, gastritis sulit diatasi dengan tuntas karena pengetahuan masyarakat tentang patofisiologi gastritis masih rendah. Gastritis adalah inflamasi (peradangan) dari mukosa lambung. Inflamasi ini mengakibatkan sel darah putih menuju ke dinding lambung sebagai respon terjadinya kelainan pada bagian tersebut. Inflamasi ini diakibatkan karena hipersekresi asam lambung. Keadaan hipersekresi asam lambung ini timbul karena terpacunya reseptor H2 yang ada pada jaringan lambung1,3. Kunyit merupakan rempah yang sudah lama diketahui oleh masyarakat Indonesia. Kunyit ternyata telah diketahui memiliki aktivitas menghambat sekresi asam lambung melalui ikatan dengan reseptor H2 oleh bahan aktif kurkuminoid4. Oleh karena itu kunyit dapat dijadikan terapi alternatif untuk gastritis karena efek

anti reseptor H2-nya. Selain itu tanaman ini banyak ditemukan di Indonesia dan sudah diterima oleh masyarakat 5. Menurut penelitian menunjukkan bahwa kunyit memiliki efek menurunkan panas yang nyata pada tikus yang diinduksi agar demam6. Menurut penelitian juga menyebutkan bahwa kurkuminoid dapat menurunkan kadar serum gastrin dan juga menekan inflamasi pada lambung tikus yang gastritis7. Berdasarkan apa yang telah disebutkan di atas, maka pada penelitian ini akan dianalisa pengaruh ekstrak kunyit terhadap jumlah sel radang pada gaster tikus Wistar yang diinduksi ASA. dengan dosis yang mengacu pada penelitian yaitu 200 mg/kgBB8. 1.2 Rumusan Masalah Apakah kunyit berpengaruh terhadap jumlah sel radang lambung pada tikus Wistar yang diinduksi ASA untuk menimbulkan gastritis ? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui pengaruh kunyit terhadap terapi gastritis pada tikus Wistar yang diinduksi ASA. 1.3.2 Tujuan Khusus Menganalisis pengaruh kunyit terhadap jumlah sel radang akut limfosit, monosit, PMN, eosinofil, basofil, terhadap gaster tikus wistar yang gastritis karena ASA.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1. Hasil penelitian diharapkan dapat memberi masukan bagi pengembangan tanaman tradisional 1.4.2. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan alternatif pengobatan gastritis 1.4.3. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gastritis 2. 1. 1. Definisi Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung. Inflamasi ini

mengakibatkan sel darah putih menuju ke dinding lambung sebagai respon terjadinya kelainan pada bagian tersebut. Bedasarkan pemeriksaan endoskopi ditemukan eritema mukosa, sedangkan hasil histopatologi memperlihatkan iregularitas dan cenderung ke arah kerusakan mukosa (ulkus) 3. Berdasarkan World Congress of Gastroenterology, Sydney, Australia, 1990, gastritis diklasifikasikan dalam gastritis akut, gastritis kronik, dan gastritis tipe lain

2.1.2. Etiologi A. Gastritis akut Gastritis akut disebabkan oleh berbagai macam sebab, yaitu : Obat
o o o o

1.

NSAIDs, seperti aspirin, ibuprofen, and naproxen Kokaine Zat besi Colchicine, saat mencapai level toksik, seperti pada pasien dengan gagal ginjal atau penurunan fungsi hepar.

o o

Kayexalate Chemotherapeutic agents, seperti mitomycin C, 5-fluoro-2-

deoxyuridine, dan floxuridine1


2. 3.

Alkohol2 Infeksi bakteri


o o o o o o o o o

H. pylori (paling sering) 1,2,3 H. heilmanii (jarang) Streptococci (jarang) Staphylococci (jarang) Proteus species (jarang) Clostridium species (jarang) E. coli (jarang) Tuberculosis (jarang) Secondary syphilis (jarang)

4. 5.

Infeksi virus (misal, CMV) Infeksi jamur


o o o

Candidiasis Histoplasmosis Phycomycosis

6. 7. 8. 9.

Infeksi parasit (misal, anisakidosis) Stres akut (shock) Radiasi Alergi dan keracunan makanan

10. Empedu

: Refluks empedu dari usus halus ke lambung dapat menginduksi

gastritis.
11.

Iskemi (jarang)

12. Trauma langsung 1

B. Gastritis kronik Gastritis kronik dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor patologis seperti bakteri H. pylori 9, penyakit autoimun, dan gastritis limfositik atau eosinofilik 7.

2.1.3. Patofisiologi Terdapat gangguan keseimbangan faktor agresif dan faktor defensive yang berperan dalam menimbulkan lesi pada mukosa 3. Faktor defensif Prostaglandin mikrosirkulasi Mukus Bikarbonas mukosa Faktor agresif Bahan korosif: asam & basa Asam lambung Infeksi bakteri dan virus Pepsin AINS Empedu Dalam keaadaan normal, faktor defensif dapat mengatasi faktor agresif sehingga tidak terjadi kerusakan atau kelainan patologi. Sedangkan pada gastritis kronik belum diketahui dengan pasti.

2.1.3.1 Respon Seluler Leukosit Inflamasi adalah reaksi tubuh terhadap masuknya benda asing, invasi mikroorganisme atau kerusakan jaringan. Terjadinya reaksi inflamasi ini dimaksudkan untuk melokalisir infeksi dan memudahkan eliminasi patogen. Jadi inflamasi adalah respon protektif yang sangat diperlukan dalam tubuh sebagai upaya untuk mengembalikan ke keadaan sebelum kerusakan atau untuk memperbaiki sesudah terjadi kerusakan. Prosesnya meliputi suatu seri kompleks yang terdiri dari vasadilatasi, peningkatan permeabilitas vaskular, eksudasi cairan dan migrasi leukosit. Terdapat empat kejadian yang berkaitan dengan respon seluler leukosit, yaitu : emigrasi, kemotaksis, fagositosis, kematian mikroba intraseluler. - Emigrasi : peristiwa dimana leukosit bergerak keluar melalui celah diantara

sel endotel untuk menuju jaringan di dekatnya. a. Marginasi : Aliran yang melambat memungkinkan leukosit lepas dari bagian tengah aliran darah, sehingga kontak dengan sel endotel. b. Rolling : sepanjang proses ini terjadi pengaktifan leukosit dan sel endotel, sehingga terjadi penempelan leukosit pada sel endotel c. Adhesi : selanjutnya pengaktifan tersebut lebih progresif sehingga molekul polipeptid adesi (yang disebut integrin) akan diaktifkan d. Transmigrasi : dengan gerak amuboid, maka leukosit secara aktif bergerak ke celah antara sel endotel yang kemudian melaluinya sampai lapisan basalis. - Kemotaksis : merupakan kejadian gerak aktif leukosit ke arah jejas.

- Fagositosis

: peristiwa dicernakannya material tertentu oleh sel fagositik

a. Opsonisasi : bakteri dilingkupi opsonin untuk meningkatkan pelekatan leukosit kepada bakteri. b. perubahan bentuk : fagositosis ditandai dengan internalisasi dari partikel/bakteri oleh pseudopodi leukosit, kemudian menyelimutinya sehinga terbentuk fagosom. - Penghancuran intraseluler : setelah difagosit, bakteri dihancurkan melalui 2 mekanisme oksigen dependen dan oksigen independen a. Mekanisme oksigen dependen merupakan proses mikrobicid intraseluler yang paling penting. b. Mekanisme oksigen independen walau kurang efektif dibanding dengan oksigen dependen, tetapi tetap berperan untuk melawan bakteri

2.1.3.2 Ketahanan mukosa lambung Lambung diketahui juga mensekresi bahan-bahan yang bersifat

mukoprotektif. Permukaan lumen lambung dilapisi oleh mukosa yang terdiri dari glikoprotein, fosfolipid permukaan (surface phospholipid) yang bersifat hidrofobik, dan juga air. Ion bikarbonat disekresikan pada dasar lapisan mukosa. Ion ini berfungsi melindungi mukosa dari keadaan pH ekstrim yang asam melalui mekanisme yang sederhana, yaitu netralisasi 10. Lambung juga menghasilkan PG (prostalglandin) yang berperan penting dalam ketahanan mukosa (efek sitoprotektif). PG dapat meningkatkan sekresi bikarbonat

dan mukus, mempertahankan pompa sodium, dan meningkatkan aliran darah mukosa 3,10. Beberapa faktor pertumbuhan seperti Epidermal Growth Factor (EGF) , Fibroblas Growth Factor (FGF), Transforming Growth Factor (TGF-) memegang peranan penting dalam membantu proses regenerasi 11.

2.1.3.3 Sitokin Pertama kali didapat dari limfosit (sehigga disebut limfokin), merupakan polipeptid multifungsi yang mempengaruhi fungsi sel lain. Jenis sitokin antara lain : interleukin (IL-1, IL-2 dsb), interferon (, , ), TNF- , TNF-, kemokin.12 Fungsi sitokin antara lain :12 - Sintesis dan melepas mediator lain dari radang (misalnya prostaglandin). - Aktifitas leukosit, mesntimulasi kemotaksis, fagositosis, adesi leukosit pada sel endotel, menarik leukosit pada tempat radang. - Reaksi sel endotel seperti aktifitas antikoagulan atau proagulan. - Proliferasi fibroblas dan angioblas, dan pembentukan jaringan granulasi. - Panas. - Sintesis reaktan fase akut dalam liver. Ini akan meningkatkan pengendapan eritrosit pada peristiwa infeksi.

2.1.3.4 Morfologi

Gastritis akut erosif dapat setempat atau difus. Sering mengenai mukosa yang mensekresi asam pada daerah fundus dan korpus. Pada bentuk yang ringan gastritis akut berupa hiperemi ringan dan edema disertai serbukan sel radang limfosit, makrofag, kadang-kadang PMN, dan eosinofil pada lapisan permukaan dari lamina propia. Kadang-kadang terjadi pelepasan mukosa setempat dan jarang mengenai seluruh lapisan mukosa. Kelainan seperti itu selalu disertai perdarahan, kecuali dapat dicegah sebelum terjadi ulcus stress. Diantara satu erosi dengan erosi yang lain mungkin dijumpai regenerasi berupa epitel kuboid yang pipih berwarna basofilik tanpa sekresi mucus13. Gastritis akut erosif selalu ditandai infiltrasi sel radang yang mencolok dan berbatas tegas dengan bagian yang mengandung darah yang tercerna14.

2.1.4. Manifestasi Klinik Pada gastritis biasanya terdapat gejala dispepsia, disertai dengan rasa nyeri15.

2.1.5. Pengobatan Pengobatan yang dilakukan terhadap gastritis bergantung pada

penyebabnya. Pada banyak kasus gastritis, pengurangan asam lambung dengan bantuan obat sangat bermanfaat. Antibiotik untuk menghilangkan infeksi. Penggunaan obat-obatan yang mengiritasi lambung juga harus dihentikan. Pengobatan lain juga diperlukan bila timbul komplikasi atau akibat lain dari gastritis.

10

Kategori obat pada gastritis adalah : 1. Antasid : menetalisir asam lambung


2. H2 reseptor blocker : mengurangi jumlah asam lambung yang diproduksi 3. Proton pump inhibitor : menghentikan produksi asam lambung dan

menghambat H.pylori. 4. Anticholinergic agent : menghambat aktivitas parasimpatis nervus vagus 5. Sitoproteksi : meningkatkan ketahanan mukosa lambung Terapi yang digunakan berupa terapi eradiksi yang diberikan selama 1-2 minggu dengan memperhatikan efisiensi biaya3,15.

2.2 Kunyit (Curcuma domestica) Kunyit terdiri dari sediaan rimpang Curcuma longa dan Curcuma domestica (keluarga Zingiberacae). Kunyit berasal dari Asia Selatan, meskipun bentuk liarnya sudah tidak lagi ditemukan. Nama kunyit berasal dari kata terra merita dalam bahasa Latin, yang berarti meritorious earth atau tanah yang berharga, yang merujuk pada warna kunyit giling. Dalam berbagai bahasa, kunyit hanya disebut sebagai yellow root alias akar kuning (geelworter-Belanda) atau safron india (safron dInd-Prancis). Kunyit digambarkan sebagai akar yang menyerupai jahe, tetapi berwarna kuning dan rasanya pahit. Selama abad pertengahan, kunyit tidak dipergunakan karena dianggap libih rendah mutunya daripada jahe dan rempah-rempah lain. Sampai abad ke-19 kunyit hanya dianggap memiliki manfaat kosmetik. Meskipun kadang-kadang diresepkan dalam obat sebagai pembersih darah dan obat untuk penyakit hati serta diterapkan

11

pada kulit sebagai antiseptik, dan pigment kuning kunyit, yakni kurkumin (C21H20O6), diisolasi pada awal tahun 1815, bentuk kristal murninya baru bisa diperoleh pada tahun 1913. Setelah tahun 1913 khasiat obat kunyit berkembang dan manfaatnya diakui. Segera penelitian besar-besaran dilakukan untuk mengetahui khasiat antiradang, antioksidan, antitukak, antimutagenik dan antibakteri. Uji klinis aktivitas anti-AIDS dari kunyit kini sedang berlangsung di berbagai tempat di dunia. 2.2.1 Deskripsi Morfologis Seperti anggota suku Zingiberaceae lainnya, Curcuma longa adalah tanaman herba biasa yang ketinggiannya mencapai 1 meter, memiliki rimpang yang tebal dan berdaging serta daun dalam bentuk pelepah. 2.2.1.1 Daun Daun kunyit tumbuh berselang-seling, tegak agak miring, dan berbentuk oblong (agak persegi). Daun hijau tuanya, yang berada diatas pelepah, meruncing diujungnya, dan melebar dipangkalnya. 2.2.1.2 Sistem Pembungaan Bunga tumbuh di ujung batang tyang berdaun, dan muncul diantara pelepah.

2.2.1.3 Bunga

12

Buanganya kecil, berwana putih kekuningan, dan kadang-kadang terlihat dalam bentuk duri-duri silindris dengan sejumlah braktea (daun yang tumbuh di ketiak bunga) berwana putih keabu-abuan. 2.2.1.4 Buah Sebagian besar varietas kunit itu seteril alias tidak berbuah. Namun, pernah juga ditemukan yang tidak diketahui fungsinya dan tidak mencolok. 2.2.1.5 Rimpang Rimpang adalash bagian penting dari tanaman ini. Rimpang kunyit terdiri dari dua yang berbeda: 1. Rimpang utama atau rimpang induk yang berbentuk seperti telur, yang merupakan perpanjangan batang dan yang berbentuk umbi. 2. Rimpang bercabang banyak, berbentuk silinder, dan panjang yang tumbuh ke arah bawah dari rimpang utama.

2.2.2 Susunan Kimiawi Kunyit Di dalam kunyit terkandung bahan aktif obat diantaranya yaitu : 1. Kurkuminoid Kurkuminoid adalah zat berwarna kuning yang termasuk dalam kelompok disinamoil metana. Bahan ini terdapat dalam kadar 3%-5% dan merupakan turunan dari kurkumin yang secara kimiawi merupakan diferuloil metana. Kurkumin (C21H20O6) dengan titik leleh 184-185C, tidak larut dalam air, tetapi larut dalam etanol dan aseton. Pigment lain yang berkerabat dengan kurkumin, yang diisolasi lewat analisis kromatografi, yaitu beta-kurkumin

13

dan beta-kurkumin B, akan memberi warna kekuningan pucat bila dicampur dengan feroklorida. Bis-dimetoksi kurkumin, siklo kurkumin,

dihidrokurkumin dan dimetoksi kurkumin adalah beberapa dari unsure minornya. Akan tetapi diketahui terdapat dua cara ekstraksi kurkuminoid, yaitu ekstraksi menggunakan air dan ekstraksi menggunakan alkohol. Ekstraksi menggunakan alkohol terbukti menghasilkan kadar kurkuminoid yang lebih tinggi. Walaupun demikian, ekstraksi dengan menggunakan air juga terbukti menurunkan jumlah leukosit pada penderita osteoartritis. oleh karena itu pada penelitian ini akan dibandingkan dua cara ekstraksi, menggunakan air dan alkohol untuk mengetahui tingkat efektifitas pengaruh kunyit terhadap gambaran histopatologis tikus wistar gastritis yang diinduksi ASA. 2. Minyak Esensial Kunyit memiliki aroma khas dan rasa pedas yang tajam karena adanya minyak esensial. Minyak ini dapat diperoleh lewat distilasi uap atas rimpang kunyit. Distilasi fraksional atas minyak ini dapat memisahkan bahan-bahan penyusunnya, yang merupakan campuran seskuiterten keton dan alcohol. Unsure utama (sekitar 60%) dapat dipisahkan pada suhu 158-165C dan menghasilkan banyak seskuiterten yang merupakan seskuiter tertier di alam. Camnpuran trepan yang bertitik didih rendah (d-sabinen, a-felanren, sineol, borneol) dan seskuiterten zingiberen yang bertitik didih lebih tinggi juga dapat dipisahkan. Terpenketonik yang lain bertanggung jawab atas aroma khas kunyit, yaitu arturmeron dan

14

turmeron. Kuripon, turmirol-A, turmirol-B adalah beberapa unsure minor dari minyak esensial itu.

3. Polisakarida Ekstraksi air panas terhadap rimpang kunyit, yang diikuti oleh presipitasi dengan etanol, dapat memisahkan beberapa polisakarida yang mengandung Larabinosa, D-silosa, D-galaktosa, D-glukosa, I-ramnosa dan asam D-galakturonat. Polisakarida ini disebut ukon-A, ukon-B, ukon-C dan ukon D.

4. Peptide Turmerin, yakni peptide yang dapat larut dalam air, bersama dengan asam aspartat/aspargin, asam glutamate/glutamine, serin, glisin, arginin, plorin, alanin, tirosin, falin, metionin, leusin, isoleusin dan fenilalanin terdapat dalam kunyit dalam perbandingan sebagai berikut: 1:2:3:8:1:1:1:3:2:6:3:4:5:3. Peptida ini turut ambil dalam khasiat antioksidan kunyit.

2.2.3 Distribusi Geografis Kunyit berasal dari Asia bagian selatan dan Asia bagian tenggara. Kunyit kemungkinan berasal dari lereng-lereng perbukitan di hutan-hutan tropis di pantai barat India. Curcuma longa tersebar di India, Asia Tenggara (Indonesia), Thailand, Malaysia, China dan Australia. Dari lokasi-lokasi resebut, budidaya kunyit menyebar ke banyak negara di Afrika dan Amerika Selatan.

15

India adalah produsen kunyit terbesar di seluruh dunia. Daerah produksi dan jumlah rimpang yang India hasilkan melebihi jumlah total Negara-negara lain disatukan, kecuali China dan Indonesia. Sejumlah besar produk komersial kunyit berasal dari Andhra Pradesh dan Maharashtra, tetapi jumlah signifikan berasal dari Orrisa, Tamil Nadu dan Kerala.

2.2.4 Aksi Anti Radang Khasiat anti radang kunyit setara dengan obat anti radang steroid dan non steroid. Kemampuan anti radang kurkuminoid sebanding dengan fenil butazon yang telah teruji pada pasien arthritis rematoid, osteoarthritis dan gout. Kunyit memiliki mekanisme kerja yang serupa dengan aspirin seperti halnnya jahe. Kurkuminoid menghambat enzim yang turut serta dalam pembentukan materi radang di dalam tubuh yang merupakan turunan dari asam arakidonat. Sebagai contoh kurkuminoid dapat menghambat pembentukan prostaglandin dan prostasilin radang16.

2.2.5 Penggunaan Kunyit Kunyit sudah dikenal oleh hampir seluruh penduduk di Asia Selatan Dan Asia Tenggara. Manfaat kunyit sering digunakan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari antara lain :
1. Kunyit sebagai indicator kimia 2. Kunyit dalam penggolahan makanam 3. Kunyit sebagai bahan pengawet

16

4. Kunyit sebagai obat 5. Kunyit dalam upacara religius dan social

2.4 ASA (Acetylsalycilic Acid) ASA diperkenalkan pertama kali di Jerman sebagai penghilang rasa sakit, dikenal dengan nama lain aspirin. ASA adalah prodrug yang ditransformasikan oleh tubuh menjadi salisilat yang merupakan bentuk aktif dari obat ini. Salisilat juga merupakan obat anti inflamasi, antipiretik, obat untuk mencegah serangan jantung dan stroke.17 Aspirin sering digunakan untuk menghilangkan nyeri atau mengurangi panas tubuh (anti piretik). Karena efeknya sebagai anti inflamasi maka obat ini juga diberikan kepada penderita penyakit sendi seperti arthritis dan osteoarthritis. Aspirin juga diberikan kepada pasien dengan resiko serangan jantung dan stroke. Stroke terjadi karena aliran darah menuju ke otak terhambat. Salisilat mengurangi resiko stroke karena salisilat berperan untuk memperlambat pembekuan darah dengan cara mencegah agregasi platelet. Agregasi platelet dihambat dengan mekanisme menghambat enzim pada permukaan platelet yang bertanggung jawab pada agregasi platelet.4 ASA adalah asam lemah yang bisa diserap langsung oleh mukosa gaster, sedangkan obat lain kebanyakan diabsorbsi di bagian atas duodenum. Di dalam darah ASA dihidrolisa menjadi asam salisilat dan asam asetat. Derivate dari ASA

17

yang dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dari asam organik dengan substitusi pada gugus hidroksil.4

Gambar 1. Struktur kimia asam salisilat

Gambar 2. Hidrolisis ASA menjadi asam asetat dan asam salisilat. Mekanisme kerja dari salisilat yang telah dikenali adalah fungsinya sebagai inhibitor dalam pembentukan prostaglandin. Prostaglandin disintesis dari polyunsaturated fatty acid di dalam tubuh sebagai respon terhadap kerusakan jaringan baik oleh respon trauma atau invasi benda asing. Sekresi local prostaglandin dikarenakan adanya peningkatan aliran darah dan stimulasi dari rangsang nyeri pada akhiran syaraf sensoris. Salisilat menginhibisi pembentukan prostaglandin dengan cara berikatan dengan cyclooxygenase. Cyclooxygenase adalah enzim yang bertanggung jawab merubah asam lemak menjadi prostaglandin. Ikatan antar keduanya mengekibatkan enzim ini tidak bekerja.18,1

18

Pemberian aspirin sebagai terapi banyak dilaporkan menimbulkan efek samping. Gangguan gastrointestinal menjadi perhatian tersendiri pada pemberian aspirin. Sebanyak 10-20 % pasien menderita dyspepsia ketika mengkonsumsi NSAID (aspirin). Dalam jangka waktu 6 bulan pengobatan 5-50 % pasien arthritis rheumatoid tidak bisa melanjutkan terapi NSAID karena menderita dyspepsia. Ulkus peptikum dan perdarahan gaster dapat terjadi pada pemberian aspirin dosis tinggi.4 2.3.1 Patofisiologi Kerusakan Mukosa Lambung Yang Diinduksi ASA Kerusakan mukosa lambung akibat NSAID terjadi dengan dua mekanisme. Efek lokal dan sistemik. Efek sistemik terjadi karena penghambatan dari sintesis endogen prostaglandin. Inhibisi dari prostaglandin menurunkan sekresi epitel mukus, sekresi bikarbonat, aliran darah mukosa, proliferasi epitel dan resitansi terhadap injuri. Penurunan resitensi mukosa meningkatkan resiko injuri oleh faktor endogen (asam lambung) seperti trauma yang diakibatkan oleh faktor eksternal. Inhibisi pada sintesis prostaglandin terjadi karena kerja dari NSAID, yang menginhibisi siklooksigenase yang merupakan enzim utama yang bertanggung jawab atas terbentuknya prostaglandin. Enzim sikooksigenase terdiri dari dua isomer, COX-1 dan COX-2. COX-1 bertanggung jawab ketahanan mukosa lambung, sedangkan COX-2 berfungsi menginduksi reaksi inflamasi. Efek dari NSAID yang diharapkan adalah menghambat kerja dari COX-2, akan tetapi penghambatan dari salah satu enzim, berefek pula pada penghambatan COX-1.

19

Oleh karena itu terjadi ketidakseimbangan ketahanan mukosa lambung dan menimbulkan ulkus mukosa lambung.18,4,1 2.4 Kerangka Teori ASA -EGF -FGF -TGF Gastritis inflamasi Kunyit Jumlah sel radang

Prostalglandin Mukosa lambung -jumlah H.pylori -kadar alkohol -kadar OAINS lain -stres

2.5 Kerangka Konsep

Ektrak Kunyit

Jumlah sel radang

2.6 Hipotesis Ada pengaruh pemberian ekstrak kunyit terhadap jumlah sel radang gaster pada tikus Wistar yang diinduksi ASA untuk menimbulkan gastritis.

20

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1 3.1.1

Ruang Lingkup Penelitian Ruang Lingkup Ilmu Penelitian ini adalah penelitian di bawah bidang Obat Tradisional Fakultas

Kedokteran Universitas Diponegoro. 3.1.2 Ruang Lingkup Waktu dan Lokasi Penelitian dilaksanakan pada semester 8, tahun 2009 di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. 3.2 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik, dengan pendekatan Post Test-Only Control Group Design yang menggunakan hewan percobaan sebagai subjek penelitian. 1 2 3 4 5 OP1 OP2 OP3 OP4 OP5

21

Keterangan : R 1 : Randomisasi : Grup 1 Kelompok tikus gastritis 2 : Grup 2 Kelompok tikus gastritis diberi 40 mg ekstrak kunyit dengan pelarut air 3 : Grup 3 Kelompok tikus gastritis diberi 80 mg ekstrak kunyit dengan pelarut air 4 : Grup 4 Kelompok tikus gastritis diberi 40 mg ekstrak kunyit dengan pelarut alkohol 5 : Grup 5 Kelompok tikus gastritis diberi 80 mg ekstrak kunyit dengan pelarut alkohol OP1 OP2 OP3 OP4 : Pengamatan pada grup 1 : Pengamatan pada grup 2 : Pengamatan pada grup 3 : Pengamatan pada grup 4

22

OP5

: Pengamatan pada grup 5

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1 Populasi Populasi penelitian ini adalah tikus galur Wistar yang dikembangkan di laboratorium UPHP UGM Yogyakarta

3.3.2 Sampel 3.3.2.1 Kriteria Inklusi Kriteria Inklusi dari penelitian ini adalah : a. Tikus betina
b. Tikus sehat

c. Tikus galur Wistar d. Umur 12 minggu e. Berat badan 150 200 gram

3.3.2.2 Kriteria Eksklusi Kriteria Eksklusi dari penelitian ini adalah :

23

a. Tikus mati sebelum tiba waktu observasi. b. Secara makroskopis terdapat abnormalitas anatomis. 3.3.2.3 Besar Sampel Besar sampel dalam penelitian menggunakan hewan coba menurut WHO, minimal menggunakan 5 hewan coba.19 Penelitian ini menggunakan sampel 6 ekor tikus setiap kelompok perlakuan dan 6 tikus sebagai kontrol, sehingga jumlah keseluruhan tikus yang diperlukan adalah 6 ekor x 5 kelompok = 30 ekor

3.3.2.4 Cara Pengambilan Sampel Untuk menghindari bias karena faktor variasi umur dan berat badan, maka pengelompokkan sampel dilakukan secara acak walaupun secara genetik sama, kemudian dilakukan penimbangan sebelum dan sesudah perlakuan. Pemilihan sampel dilakukan secara simple random sampling, dimana semua objek atau elemen populasi memiliki kesempatan yang sama sebagai sampel.

3.4

Variabel Penelitian

3.4.1 Variabel Bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian ekstrak kunyit.

24

Skala : Numerik 3.4.2 Variabel Tergantung Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah jumlah sel radang lambung tikus wistar. Skala : Numerik

3.5

Bahan dan Alat

3.5.1 Bahan Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : a. Tikus galur Wistar
b. Ekstrak kunyit

c. ASA
d. Cat HE ( Hematoxylin Eosin ) e. Cat Tholuen Blue

f. Buffer Formalin 10 % g. Xylol h. Parafin cair i. Alkohol absolut

25

j. Alkohol asam 0,4 %


k. Lithium carbonat jenuh

l. Canada Balsam

3.5.2 Alat Alat Alat yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : a. Mikrotom
b. Indikator Kalium kromat

c. Larutan AgNO3 0,0141 N d. Spuit disposabel e. Tabung reaksi f. Timbangan g. Kapas h. Pinset i. Gunting j. Kandang hewan coba k. Mikroskop

26

l. Object glass m. Deck glass n. Sarung tangan

3.6

Data yang Dikumpulkan Data yang dikumpulkan adalah Jumlah sel radang lambung tikus wistar dari

masing-masing kelompok.

3.7

Cara Kerja

3.7.1 Cara Pengumpulan Data Tikus diadaptasikan selama satu minggu pada kondisi laboratorium. Pemeliharaan tikus dengan pemberian makanan pelet dan minuman ad libitum. Tikus dinyatakan sehat apabila tingkah laku sehat dan tidak menunjukan penurunan berat badan lebih dari 10 % dari berat badan awal. Perlakuan pada tikus dilakukan sesuai dengan desain penelitian yang dibuat.

27

3.7.2 Alur Kerja Tikus Wistar diadaptasikan selama 1 minggu

Randomisasi

Grup 1 6 ekor mencit

Grup 2 6 ekor mencit

Grup 3 6 ekor mencit

Grup 4 6 ekor mencit

Grup 5 6 ekor mencit

Hari 0
Diberi akuades Diberi ekstrak air C.domestica 20 mg

Induksi ASA Pada hari ke-0

Diberi ekstrak air C.domestica 40 mg

Diberi ekstrak alkohol C.domestica 80 mg

Diberi ekstrak alkohol C.domestica 80 mg

Hari 7 Hari 14

Dipuasakan Selama 12 jam

Semua tikus dikorbankan untuk pemeriksaan jumlah sel radang

28

3.8 Pemeriksaan Jumlah Sel Radang 3.8.1 Persiapan Lambung yang sudah dipisahkan kemudian diijeksi formalin untuk dibuat sediaan dengan pewarnaan hematoksilin eosin. Diamati dan dihitung sel radang.

3.8.2 Pelaksanaan 3.8.2.1 prosesing jaringan


1. Jaringan mukosa lambung masing-masing perlakuan diambil dan difiksasi

dalam buffer formalin 10% selama 24 jam. 2. Jaringan di dehidrasi menggunakan larutan aseton selama setengah jam sebanyak 3 kali. 3. Diclearing dengan xylol / benzene selama seperempat sampai setengah jam. 4. Impregnating : yaitu jaringan dimasukan kedalam media berisi paraffin cair selama 90 menit.
5. Embading yaitu dibuat blok parafin.

6. Jaringan dipotong menggunakan mikrotom setebal 4 mikron dan diletakan di kaca obyek. 7. Jaringan siap diwarnai.

29

3.8.2.2 Pengecatan hematoksilin eosin 1. Xylol 1 2. Xylol 2 3. Alcohol absolute 4. Alcohol absolute 5. Alcohol absolute 6. Air mengalir 7. Hematoksilin eosin 8. Air mengalir 9. Alcohol asam 0,4 % 10. Air mengalir
11. Lithium carbonat jenuh

5 menit 5 menit 2 menit 2 menit 2 menit 2 menit 5 menit 2 menit 2-3 celup 2 menit 2-3 celup 2 menit 1 menit 2 menit 2 menit 2 menit

12. Air mengalir 13. Eosin 14. Alcohol absolute 15. Alcohol absolute 16. Alcohol absolute

30

17. Xylol 18. Xylol 19. Xylol

5 menit 5 menit 5 menit

20. Canada balsam, tutup dengan deck glass


21. Siap untuk diperiksa di bawah mikroskop

3.8.3 Definisi Operasional


1. Ekstrak Curcuma domestica adalah serbuk ( powder ) material herbal dari

tanaman kunyit yang diekstraksi dan diperoleh dari PT Sido Muncul, Ungaran, Kabupaten Semarang. Dengan dosis yang mengacu pada penelitian Fadlina C. S. ElinYulinah S. Joseph I. Sigit 9, yaitu 200 mg/kg BB, didapatkan dosis tikus dengan berat badan 200 gram adalah 40 mg. Pada penelitian ini digunakan dosis bertingkat 40 mg dan 80 mg dengan menggunakan ekstraksi air, 40 mg dan 80 mg dengan menggunakan ekstraksi alkohol. Masing-masing dosis diencerkan dalam 5 ml akuades.
2. Induksi ASA adalah pemberian ASA pada lambung tikus, pada hari dan

jumlah sesuai dengan desain penelitian.


3. Jumlah sel radang adalah jumlah sel radang yang didapat dari pengamatan

mikroskopis preparat jaringan gaster dengan pengecatan HE pembesaran 400x sebanyak 5 lapangan pandang untuk setiap tikus. Identifikasi sel radang

31

kemudian menghitung sel radang tersebut. Sel radang tersebut meliputi : sel radang akut (eosinofil, basofil, PMN, monosit, limfosit). 3.8.4 Pengolahan dan Analisis Data 3.8.4.1 Pengolahan data 3.8.4.1.1 Cleaning Dilakukan pembersihan data pada data penelitian. Diteliti dahulu agar tidak terdapat data yang tidak diperlukan.

3.8.4.1.2 Editing Dilakukan editing untuk meneliti kelengkapan data, kesinambungan data dan keseragaman data sehingga validitas data terjamin. 3.8.4.1.3 Entry Memasukan data dalam computer untk proses analisi data.

3.8.4.2 Analisa Data Data dianalisi secara statistic dengan program SPSS 15.00 for Windows. Analisis deskriptif menampilkan nilai mean. Untuk melihat pengaruh kunyit

terhadap jumlah sel radang lambung digunakan uji Anova dan Post Hoc yang

32

sebelumnya telah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Nilai signifikan yaitu P<0,05.

33

BAB 4 HASIL PENELITIAN

Jumlah sampel tikus pada awal penelitian sampai akhir penelitian berjumlah tetap 30 ekor. Semua tikus diterminasi pada hari ke 22 untuk pemeriksaan jumlah sel radang. Dengan menggunakan uji deskriptif (tabel 4.1) didapat hasil sebagai berikut : Tabel 1. Jumlah sel radang gaster tikus
kelompok perlakuan hasil penelitian 1 Mean Statistic 47.50 48.50 7.662 34.17 35.00 8.400 34.33 28.50 12.817 28.33 26.00 10.073 23.17 24.00 13.761 5.618 4.112 5.232 3.429 Std. Error 3.128

Median Std. Deviation 2 Mean Median Std. Deviation 3 Mean Median Std. Deviation 4 Mean Median Std. Deviation 5 Mean Median Std. Deviation

Pada tabel 4.1 di atas menunjukkan nilai mean dari jumlah sel radang untuk kelompok 1 (kontrol) sebesar 47,50 dan kelompok 5 (kunyit 80 mg dengan

34

ekstraksi alkohol) sebesar 23,17 lebih rendah dari kelompok-kelompok yang mendapat ekstrak kunyit. Kelompok 2 (34,17), kelompok 3 (34,33), kelompok 4 (28,33).

Keterangan : 1. grup 1 kontrol 2. grup 2 tikus gastritis diberi ekstrak air kunyit 40mg 3. grup 2 tikus gastritis diberi ekstrak air kunyit 80mg 4. grup 2 tikus gastritis diberi ekstrak alkohol kunyit 40mg 5. grup 2 tikus gastritis diberi ekstrak alkohol kunyit 80mg

Jumlah sel radang hasil penelitian Gambar 3. Grafik Boxplot jumlah sel radang 35

Uji normalitas dengan menggunakan tes Saphiro-Wilk didapatkan nilai p > 0,05 pada semua kelompok perlakuan. Uji homogenitas dengan Lavenne statistic menunjukkan nilai p 0,346 > 0,05. Data berdistribusi normal dan homogen sehingga analisis dilanjutkan dengan uji One way ANOVA. Tabel 2. Uji One way ANOVA Sum of Squares df Mean Square Between Groups Within Groups Total *P = <0,05 Dari uji One way ANOVA menunjukkan bahwa paling tidak ada satu kelompok yang memiliki perbedaan bermakna. Untuk mengetahui, maka dilanjutkan dengan Post Hoc dan didapatkan hasil sebagai berikut. Tabel 3 Uji Post Hoc antar kelompok perlakuan 1 2 3 4 0,043* 0,045* 0,005* 0,001* 0,043 0,979 0,359 0,090 0,045 0,979 0,346 0,086 0,005 0,359 0,346 0,416 1983,667 2921,833 4905,500 4 25 29 495,917 116,873

F 4,243

Sig. ,009*

Kelompok 1 2 3 4 5 * P<0,05

5 0,001 0,090 0,086 0,416 -

Dari Tabel 4.3 didapat perbedaan bermakna pada kelompok 1 (kontrol) dengan semua kelompok perlakuan (p<0,05).

36

BAB 5 PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Pada penelitian ini jumlah sampel sesuai dengan rencana yaitu 6 ekor tikus setiap kelompok perlakuan. Berdasar pemeriksaan jumlah sel radang binatang coba, dilakukan uji statistik. Diperoleh hasil mean skor tertinggi pada kelompok perlakuan I. Kelompok perlakuan I adalah kontrol yang diberikan ASA. Mekanisme kerusakan epitel yang disebabkan ASA melalui jalur inhibisi sintesis prostaglandin. Hal ini sesuai dengan teori pemberian ASA akan menyebabkan gastritis tipe akut (erosif) yang ditandai dengan infiltrasi sel radang yang mencolok14. Sel radang mencapai jaringan karena adanya aktivitas khemotaksis. Khemotaksis adalah gerak aktif leukosit ke arah jejas. Kurkuminoid diketahui menghambat sitokin proinflamasi seperti IL 1 beta dan TNF alfa4. Akan tetapi pada penelitian ini tidak diketahui sitokin apa yang dipengaruhi oleh kurkuminoid yang terkandung dalam kunyit. Hal inilah yang menyebabkan kenapa kunyit bekerja sebagai anti radang. Kelompok perlakuan 2 dibandingkan dengan perlakuan 3 mengalami penurunan tetapi tidak bermakna. Hal ini menunjukan bahwa dengan adanya peningkatan dosis kunyit dengan pelarut air terbukti menurunkan jumlah sel radang radang walaupun tidak bermakna.

37

Gambar 4. Minroskopik gaster 400x tikus kelompok 2

Gambar 5. Mikroskopik gaster 400x tikus kelompok 3 Kelompok perlakuan 4 dibandingkan dengan perlakuan 5 mengalami penurunan tetapi tidak bermakna. Hal ini menunjukan bahwa dengan adanya peningkatan dosis kunyit dengan pelarut alkohol terbukti menurunkan jumlah sel radang radang walaupun tidak bermakna.

38

Gambar 6. Mikroskopik gaster 400x tikus kelompok 4

Gambar 7. Mikroskopik gaster 400x tikus kelompok 5 Kelompok yang diberi kunyit dengan ekstraksi air dibandingkan dengan ekstraksi menggunakan alkohol tidak bermakna. Berdasarkan teori, curcumin bersifat larut dalam alkohol.16 Dalam penelitian ini, kemungkinan kadar curcumin

39

yang terlarut hasil ekstraksi dengan alkohol lebih banyak daripada ekstraksi air. Terbukti dengan adanya penurunan jumlah sel radang yang semakin sedikit. Tetapi perbedaan kadar curcumin tidak terlalu jauh, sehingga mengalami penurunan yang berbeda tidak bermakna. Namun pada ektraksi menggunakan alkohol, tidak diketahui dengan pasti kandungan apa selain curcumin yang lebih berpengaruh terhadap penurunan sel radang. Faktor-faktor lain yang tidak dapat diprediksi dalam penelitian ini yaitu tingkat stres, strerilitas lingkungan laboratorium, kebersihan makanan dan minuman tikus dimana keseluruhan itu diminimalisir.

Keterangan : - Panah hijau menunjukkan ulkus - Panah merah menunjukkan pembuluh darah - Panah biru menunjukkan sel radang.

40

BAB 6 KESIMPULAN dan SARAN

6.1 Kesimpulan Dari pembahasan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini sesuai dengan tujuan yaitu kunyit terbukti menurunkan jumlah sel radang pada gaster tikus wistar yang gastritis.

6.2 Saran 6.2.1 Perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh kunyit terhadap sitokin. 6.2.3 Penelitian untuk mengetahui efek kunyit terhadap jumlah sel radang lambung pada hewan coba perlu dikembangkan.

41