Anda di halaman 1dari 13

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Kasus Seorang perempuan berumur 62 tahun datang ke RSGM dengan keluhan ingin memperbaiki gigi palsu karena sakit dan longgar waktu difungsikan, dari anamnesa pasien sudah pernah memakai gigi tiruan sejak 3 bulan yang lalu dan tidak mau memperbaiki gigi tiruan pada dokter yang lama. Pada pemeriksaan intra oral rahang atas dan rahang bawah edentoulous, pada rahang atas terdapat mukosa berbentuk fisurre diragio bukal kiri rahang atas ditepi dari basis, dan tubermaksilaris sedang, rahang bawah ridge alviolar bentuk tajam dan

retromylohyoid dangkal, pemeriksaan ektra oral krepitasi TMJ, profil wajah bentuk lurus, pemeriksaan gigi tiruan yang lama longgar dan pheripheral seal rapat dan pendek. 3.2 Pertanyaan Cara dokter menjelaskan masalah tersebut pada pasien diatas. 3.3 Penyelesaian kasus 3.3.1 Terminologi Anamnesa : Suatu tehnik pemeriksaan yang dilakukan lewat suatu percakapan antara seorangdokter dengan pasiennya secara langsung atau dengan orang lain yang mengetahui tentang kondisi pasien, untuk mendapatkan data pasien beserta permasalahan medisnya. Gigi Tiruan : yang dibuat untuk menggantikan semua gigi asli beserta bagian jaringan gusi yang hilang, yang dapat memperbaiki fungsi pengunyahan, fungsi fonetik, fungsi estetik dan dapat mempengaruhi keadaan psikis. Pemeriksaan Intra Oral : Pemeriksaan rongga mulut yang meliputi mukosa, lidah, palatum, gingiva, glandula tonsila palatina, dan jaringan sekitarnya.

Edentulous : Suatu kaeadaan dimana kehilangan gigi atau terlepasnya gigi dari songketnya (ridge alviolar) yang diakibatkan oleh faktor mekanis dan fisiologis. Tubermaksilaris : Merupakan bagian dari dorsal corpus maxila menonjol yang biasaya terletak di daerah molar 2 dan molar 3 rahang atas Mukosa Berbentuk Fissure : Keadaan yang abnormal dimana terdapatnya celah atau parit-parit yang berada pada permukaan mukosa Ridge Alviolar : Resobsi alveolaris setelah pencabutan gigi dapat merubah bentuk sisa alveolar,terjadinya resorbsi secara progresif pada sisa elveolar menjadi terjadi lebih sempit dan lebih pendek sedangkan sisa alveolar yang ideal mempunyai yang lebar dan lereng yang sejajar.Menyempitnya sisa alveolar puncak menjadi lebih tajam akibatnya tidak mampu menahan tekanan kunyah.jika tulang alveolar sempit sebaiknya gunakan teknik mencetak dengan sedikit tekanan . Retromylohioid : Ruangan distal dari sulcus lingualis, ruang ini dibatasi oleh otot mylohyoid di anterior, retromolar pad di lateral, otot konstriktor superior di posterolateral, otot palatoglossus diposteromedial, dan lidah di medial. Pemeriksaan Extra Oral : Salah satu pemeriksaan duluar rongga mulut yang meliputi profil wajah, keadaan muka, bibir, temporo mandibular dan jaringan disekitanya Krepitasi TMJ : Suara gesekan (kresek-kresek)/ Kliking yang terdengar saat membuka mulut, dihasilkan oleh gerakan diskus artikularis melewati permukaan yang tidak rata (Dislokasi TMJ), Pheriperal seal : Daerah kontak antara mukosa dan tepi serta permukaan gigi tiruan yang dipolish yang mencengah keluar masuknya udara yang biasanya disekeliling tepi gigi tiruan yaitu pada permukaan bukal gigi tiruan atas, pada permukaan bukal dan lingual gigi tiruan bawah 3.3.2 Indentifikasi Masalah 1. Kenapa pasien ingin membuatkan gigi tiruan yang baru ? 2. Kenapa Perlu dilakukan anamnesa untuk pasien ? 3. Kenapa perlu dilakukan pemeriksaan intra oral dan ekstra oral untuk pasien ? 4. Batas anatomis mana saja yang harus didapatkan dokter gigi untuk mendapatkan retensi dan stabilisasi pada gigi tiruan ?

5. Bagaimana tindakan yang dilakukan oleh dokter gigi untuk menghilangkan rasa sakit dan longgar untuk membuatkan gigi tiruan yang baru ?

3.3.3 Analisis Masalah 1. Kenapa pasien ingin membuatkan gigi tiruan yang baru ? Pembuatan gigi tiruan yang baru untuk mendapatkan gigi tiruan yang baik dan nyaman ketika difungsikan sehingga dapat memperbaiki fungsi fonetik, penampilan (estetis), fungsi mastikasi maupun psikologi pasien.

2. Kenapa Perlu dilakukan anamnesa untuk pasien ? Anamnesa meupakan suatu pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melakukan percakapan (tanya-jawab) antara dokter dan pasien unruk mendapatkan data-data pasien seperti biodata, keluhan pasien, riwayat penyakit, dan rencana selanjutnya.

3. Kenapa perlu dilakukan pemeriksaan intra oral dan ekstra oral untuk pasien ? Pemeriksaaan intra oral dan ekstra oral adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan langsung ke dalam rongga mulut maupun diluar rongga mulut yang meliputi jaringan unak maupun jaringan keras yang nantinaya berguna untuk melihat secara langsung keluhan pasien menengakkan diagnosa penyakit pasien dan untuk menengakkan suatu rencana perawatan.

4.

Batas anatomis mana saja yang harus didapatkan dokter gigi untuk mendapatkan retensi dan stabilisasi pada gigi tiruan ? Batas Anantomis merupakan batas-batas yang harus didapatkan pada saat mencetak untuk mendapatkan retensi dan stabilisasi pada gigi tiruan. Adapun batas batas anatomis dari rahang itu sendiri diabagi menjadi dua bagian yaitu :

Rahang Atas : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Frenulum labii superior Ruggae palatina Frenulum buccalis Tuberositas maxillae Hamular notch Vibrating line Processus alveolaris Incisivus papilae Fornix

10. Vovea palatine

Rahang bawah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Frenulum labii inferior Frenulum buccalis Vestibulum buccalis Retromolar pad Frenulum lingualis Processus alveolaris Mylohyoid line

5. Bagaimana tindakan yang dilakukan oleh dokter gigi untuk menghilangkan rasa sakit dan longgar untuk membuatkan gigi tiruan yang baru ? Rasa sakit dan longgar pada gigi tiruan yang lama diakibatkan oleh kurangnya retensi dan stabilisasi pada gigi tiruan, untuk menghilangkan rasa sakit dan longgar maka dibutuhkanlah retensi dan stabilisasi yang baik dengan cara melakukan permeriksaan yang lengkap dan pencetakkan yang akurat.

3.3.4 Kerangka Konsep

Edentolous

Gigi Tiruan Penuh

Pemeriksaan

Diagnosa

Retensi & Stabilisasi

Subjectif

Objektif

Mencetak

Pelebaran Basis

Intra Oral

Ekstra Oral

Awal

Akhir

Akhir Rencana Perawatan Awal

Prosedur Perawatan 3.4.1. Pemerikksaan Subjectif Keluhan utama : ingin memperbaiki gigi palsu karena rasa sakit dan longgar waktu difungsikan. Keluahan tambahan : Pasien sudah pernah memakai gigi tiruan sejak 3 bulan yang lalu dan tidak mau memperbaiki gigi tiruan pada dokter yang lama.

3.4.2 Pemeriksaan Objectif a. Pemeriksaan Intra Oral Rahang Atas &Rahang Bawah Pemeriksaan dilakukan secara visualisasi, Rahang Atas & Rahang Bawah pasien Edentolous Tubermaksilaris

Pemeriksaan dilakukan dengan kaca mulut. kaca mulut lebih dari 1/2 ke tubermaksilaris (dalam), Kaca mulut masuk hanya setengah (sedang), Kaca mulut masuk kurang dari setengah (dangkal), Pada pasien diatas

tubermaksilaris Sedang Mukosa Pemeriksaan dilakukan secara visualisasi, dari kasus, mukosa berbentuk fisurre diragio bukal kiri rahang atas ditepi dari basis Ridge Alviolar Pemeriksaan dilakukan secara visualisasi dari dataran oklusal. Bentuk

sepertiga bawah terdiri atas, square (persegi), oval (lonjong), dan tapering (Tajam), dari kasus, ridge alviolar Bentuk Tajam Retromylohioid Pemeriksaan dilakukan dengan kaca mulut.kaca mulut lebih dari 1/2 ke retromylohyoid (dalam), Kaca mulut masuk hanya setengah (sedang), Kaca mulut masuk kurang dari setengah (dangkal), Dari kasus, retromylohyoid pasien dangkal.

b. Pemeriksaan Ekstra Oral Profil Wajah

Pengamatan profil wajah memberikan petunjuk tentang ukuran RA dan RB serta hubungan vertikalnya. Profil cembung dengan dagu yang mundur

menunjukkan RA lbh besar dari RB. Profil cekung dengan dagu yang maju menunjukkan RA lebih kecil dari RB. Jika profil normal atau lurus

penyusunan gigi lebih gampang dan nilai estetis baik, Profil wajah pasien Bentuk Lurus Temporo Mandibular Secara visual, dari arah depan kemudian pasien di instruksikan untuk membuka dan menutup mulut, dan dilihat saat pasien membuka mulut miring ke kiri berarti ada kelainan TMJ pada sebelah kanan dan sebaliknya. adanya Krepitasi TMJ 3.4.4 Diagnosa 1. Edentolous 2. Epulis Fisuratum/ Denture Epulis Definisi Pertumbuhan jaringan ikat fibrosa yang berlebihan di daerah mukosa yang berkontak dengan tepi gigi tiruan yang biasanya terlalu cekat dan menekan mukosa yang berbentuk fisurre. Epulis fissuratum juga sering

disebut inflammatory fibrous hyperplasia, atau denture epulis.

Pertumbuhan jaringan ikat tersebut disebabkan oleh iritasi kronik karena pemakaian gigi tiruan, di mana tepi gigi tiruan menekan daerah gusi yang berbatasan dengan pipi bagian dalam (alveolar vestibular mucosa). Penekanan tersebut menyebabkan tulang daerah tersebut terus menerus berubah karena kehilangan tulang, akibatnya dukungan tulang untuk basis gigi tiruan menjadi tidak stabil. Hal ini lama kelamaan mengarah kepada terjadinya penonjolan yaitu epulis fissuratum.

Gambar 1. Epulis Fissuratum

Epulis fissuratum yang tampak sebagai penonjolan vestibulum yang berkontak dengan tepi gigi tiruanKondisi ini paling sering terjadi pada orang usia lanjut karena pasien dalam kelompok umur tersebut banyak yang menggunakan gigi tiruan. Namun masalah ini cenderung berkurang dengan makin berkembangnya teknologi kedokteran gigi dan meningkatnya kesadaran pasien untuk menjaga keutuhan dan kesehatan gigi dan mulut sehingga kebutuhan akan gigi tiruan bisa jadi berkurang.

Tampaknya kondisi ini lebih sering dijumpai pada wanita daripada pria. Gejala Lesi yang tersusun dari jaringan yang berlebihan ini umumnya berupa lipatan hiperplastik berwarna merah muda, keras dan fibrous. Bagian dalam dan luar dari lesi terpisah oleh cekungan (groove) dalam yang menandakan tempat di mana tepi gigi tiruan menekan mukosa Epulis fissuratum jarang terjadi di daerah lingual (bagian yang menghadap lidah), dan lebih sering dijumpai di bagian depan rahang (anterior).Ukuran lesi ini bervariasi. Ada lesi yang berukuran kecil namun ada juga yang luas dan melibatkan seluruh daerah mukosa (mukosa vestibulum) yang berkontak dengan tepi gigi tiruan.

Terkadang iritasi dapat cukup parah sehingga menyebabkan mukosa tampak kemerahan dan ulserasi, terutama di dasar cekungan di mana tepi gigi tiruan berkontak dengan mukosa.PerawatanLesi ini dapat dihilangkan dengan eksisi. Selain itu, gigi tiruan yang menjadi timbulnya lesi ini harus diperbaiki hingga

dapat memiliki kecekatan yang baik namun tidak memberi tekanan berat terhadap mukosa supaya mencegah iritasi yang lebih berat lagi.

3. Ankilosis TMJ Ankilosis TMJ dapat didefenisikan sebagai penyatuan jaringan fibrous atau tulang antara kepala kondilar dengan fosa glenoidalis yang dapat menyebabkan

keterbatasan dalam membuka mulut sehingga menimbulkan masalah dalam pengunyahan, berbicara, estetis, kebersihan mulut pasien dan masalah psikologis.

3.4.5 Rencana Perawatan Perawatan Awal - Eksisi Epulis Fissuratum - Perawatan Akylosis TMJ Perawatan yang meliputi Pemberian Obat-obatan, Phsioterapi, Reposisi Secara manual, Occlusal Splint, Pembedahan. Perawatan Akhir - Pembuatan Gigi Tiruan Lengkap 3.5 Mencetak 3.6.1 Cetak Anatomis Bahan mencetak : Hydrokoloid irreversible/alginate

Sendok mencetak : Stock tray yang berlubang dan tanpa sudut Teknik mencetak : Mukostatis Tujuan mencetak : untuk mendapatkan model studi dan mendapatkan sendok cetak fisiologis Prosedur mencetak Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan Instruksi pada pasien

Persiapan pasien sperti preparasi dan profilaksis, control saliva, dan control pasien hipersensitif

Posisi pasien dan operator untuk rahang atas operator berada di belakang kanan pasien, kepala pasien setinggi dada operator, mulut pasien setinggi siku operator, dan kalau rahang bawah operator berada sebelah kanan depan pasien, mulut pasien setinggi antara bahu dan siku operator

Try in sendok cetak ke mulut pasien Aduk bahan cetak dengan perbandingan 1 : 2 hingga homogen (halus dan mengkilat)

Masukkan bahan ke sendok cetak Masukkan sendok cetak ke dalam mulut pasien Mengisi daerah undercut Sentering Mengangkat bibir atas atau menurunkan bibir bawah Menekan sendok cetak, ditekan bagian tengah palatum supaya bahan mengalir secara merata kemudian baru tekan bagian posterior dan anterior

Melepas sendok cetak dari rahang Mengeluarkan sendok cetak dari dalam mulut

Evaluasi hasil cetakan anatomis: Hasil cetakan tidak boleh poreus, robek atau terlipat Hasil cetakan harus mencakup batas anatomis Tepi cetakan harus bulat Tepi sendok cetak tidak boleh terlihat Semua bagian ridge dan daerah jaringan lunak sampai batas mukosa bergerak dan tidak bergerak tercetak dengan baik Pengecoran dengan dental stone (gips tipe III) 3.6.2 Cetak fisiologis Membuat sendok cetak buatan Alat dan bahan: self curing akrilik, api spiritus, scalpel/lecron, bur, malam merah

Gambarl 2 batas pada model studi dengan pensil yiatu batas untuk muscle triming tepat difornik pada model dan batas untuk untuk sendok cetak buatan yaitu 2 mm dari fornik.

Selapis lembar malam merah diatas permukaan jaringan sebagai wax spacer untuk bahan cetak

Buat lobang pada malam di daerah molar dan caninus kiri atau kanan untuk stop vertical

Aduk resin akrilik dan letakkan adonan merata di atas malam dan lubang stop vertical serta meliputi garis tepi

Buat tangkai dari resin, untuk rahang atas cukup satu ditengah bagian anterior dengan posisi tangkai kearah bawah supaya tidak mengganggu pada saat muscle trimming

Setelah resing mengeras lepaskan sendok cetak perotangan dari model Sempurnakan tepi sendok cetak Mencoba sendok cetak perorangan dalam mulut pasien dan periksa apakah sendok cetak perlu disempurnakan sebelum dilakukan border molding/muscle trimming

Border molding/muscle trimming a. Rahang atas Letakkan green stick compound yang telah dipaskan pada tepi sendok cetak, dari ujung distal atau hamular notch ke frenulum bukalis. Panaskan lagi diatas api spiritus kemudian celupkan kedalam air hangat/tampering. Sendok cetak dengan GSC yang hangat tadi dimasukkan kedalam mulut pasien yang dibuka lebar, gerakkan rahang bawah ke kanan, kiri dan protrusive. Daerah frenulum bukalis secara unilateral, tarik pipi keluar ke bawah kemudian kedepan, ke belakang, ulangi pada posisi berlawanan. Lunakkan lagi compound pada frenulum bukalis secara unilateral. Sayap labial secara unilateral, lunakka compound, tarik bibir keluar dan kebawah atau pasien diminta melakukan gerakan menghisap. Lunakkan compound pada frenulum labialis serta tarik bibir atas ke depan.

b. Rahang bawah Sayap disto lingual dan area buccal self Daerah disto lingual dan post mylohyoid secara bilateral Lunakkan compound, masukkan ke mulut dan lidah, ditekan di distal palatum, kemudian ke vestibulum bukalis kanan dan kiri Membuat lubang pada sendok cetak Tujuan pembiatan lubang adalah untuk mengurangi tekanan waktu mencetak dan sebagai retensi bahan cetak terhadap sendok cetak serta mengalirkan sisa bahan cetak.lubang dibuat setelah sendok cetak siap untuk dicetak,karna jika dibuat kubang dulu,daerah yang nenerima tekanan berlebihan tidak dapat dikontrol (tekanan hidrolok terbebas), Teknik pembuatannya: Setelah sendok cetak dudukan tepat dan tepi sempurna, maka buatlah lubang pada: di atas puncak ridge molar atas dan bawah, daerah palatum keras sekitar garis tengah, daerah mukosa rahang yang mudah bergerak (flabby) untuk mencegah distorsi jaringan tersebut Lubang dibuat dengan bur bulat no.8 Berjarak tiap lubang 5mm

Boxing dan Beading Tujuanya adalah : untuk mempertahankan bentuk tepi hasil yang tercatat pada model kerja.bentuk tepi dari hasil cetakan akan direproduksi menjadi bentuk tepi gigitiruan. Teknik pembuatannya : siapkan gulungan lilin atau beading wax setebal lebih 3-5 mm kemudian dicetakan dibawah ditepi seluruh hasi ceakan. untuk rahang atas penempelan beading wax berakhir dibelakang prossesus alveolarbagian posterior sebelah kiri kanan.untuk rahang bawah meliputi seluruh tepi hasil cetakan bagian labial,bukal dan lingual.

untuk bagian lingual ,tempat lidah ditutupi dengan selembar

wax

yang

digabung dengan beading wax yang sudah dicetakan. dibaguan luar beading wax diletakan untuk memebntuk basis dari model. kemudian hasil cetakan yang dilakukan boxing dicor dengan gips stone untuk mendapatkan model kerja ( model). beading dan boxing juga menggunakan wax sebelum diisi dengan gips dan metode ini yang lebih sering algianat untuk

digunakan.bahan gips pada sendok cetak menggunakam menstabilkan posisi sendok cetak

1.6 Penyelesaian Soal Dari kasus diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pasien mengalami rasa sakit dan longgar ketika gigi tiruan penuh difungsikan diakibatkan oleh kurangnya retensi dan stabilisasi, rasa sakit yang dialami pasien dikarenakan adanya epulis fisurratum pada mukosa diragio bukal kiri rahang atas ditepi dari basis yang diakibatkan oleh pelebaran basis yang yang meniritasi mukosa, sedangkan kelonggaran dari gigi tiruan diakibatkan oleh adanaya pheriperal seal terlalu rapat dan pendek sehingga menyebabkan keluar masuknya udara yanga akan berpengaruh pada retensi & stabilisasi dari gigi tiruan, untuk mencengah rasa sakit dan kelonggaran maka diperlukan pemeriksaan yang lengkap yaitu pemeriksaan yang mencakup anamnesa, pemeriksaan intra oral dan ekstra oral sehingga dapat didapatkan diagnosa yang tepat dan perawatan yang akurat.

Selain itu diperlukan suatu pencetakan yang tepat dan akurat yang meliputi semua batas-batas anatomis yang ada di rahang atas maupun rahang bawah sehingga didapatkan retensi dan stabilisasi baik, pencetakan yang meliputi cetak anatomis dan cetak fisiologis dan juga diperlukannya muscle triming yang nantinya berfungsi sebagai batas mukosa bergerak dan tidak bergerak yang akan meningkatkan retensi dan stabilisasi dari gigi tiruan.