Model Komunikasi dalam Ilmu Komunikasi

0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan14 halaman
Makalah ini membahas model-model komunikasi yang menggambarkan proses komunikasi dan hubungan antar komponen komunikasi. Model komunikasi dianggap penting untuk memahami interaksi manusia dan efektivitas komunikasi dalam organisasi. Beberapa model yang dibahas termasuk model linear, model Aristoteles, dan model Shannon-Weaver, masing-masing dengan kelebihan dan kelemahan dalam menggambarkan proses komunikasi.

Diunggah oleh

Dea Julianti
Lisensi
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ILMU KOMUNIKASI

MODEL MODEL KOMUNIKASI

Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Ilmu Komunikasi
Dosen Pengampu: Atikah Dewi Utami M. Si

Disusun Oleh Keompok 3:


Dea Julianti (2521021)
PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM (B)
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK
BANGKA BELITUNG
2025
ABSTRAK

Model komunikasi adalah gambaran yang sederhana dari proses komunikasi yang
memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi dengan komponen lainnya. Menurut
Sereno dan Mortensen, suatu Model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang
dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Suatu model merepresentasikan secara abstrak ciri-ciri
penting dan menghilangkan rincian komunikasi yang tidak perlu dalam “dunia nyata”.

B. Aubrey Fisher mengatakan, Model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih
bagian dari fenomena yang dijadikan model. Werner J. Severin dan James W. Tankard, Jr.
mengatakan bahwa Model membantu merumuskan suatu teori dan menyarankan hubungan. Oleh
karena hubungan an
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi


Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat-Nyalah tulisan ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Penulisan naskah yang berjudal “Menulis
Makalah, Rangkuman, dan Buku serta Membaca Untuk Menulis Akademik” ini
dalam rangka pengembangan salah satu tri darma perguruan tinggi, yaitu bidang
penelitian.

Penulis Menyadari bahwa tulisan ini tidak luput dari kekurangan-


kekurangan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan kemampuan
yang penulis miliki. Oleh karena itu, semua kritik dan saran pembaca akan penulis
terima dengan senang hati demi perbaikan naskah penelitian lebih lanjut.

Tulisan ini dapat penuhs selesaikan berkat adanya bimbingan dan bantuan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah pada kesempatan ini
penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, terutama rekan-
rekan dosen Jurusan Sastra Indonesia yang telah memberikan masukan demi
kelancaran dan kelengkapan naskah tulisan ini. Akhimya, semoga tulisan yang
jauh dari sempuma ini ada manfaatnya.

Petaling , September 17

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………….…... i


DAFTAR ISI ……………………………………………………………….….… ii
BAB I PENDAHULUAN ………..….…………………………………….….….. 1
1.1 Latar Belakang …………………...………………………………….……….. 1
1.2 Rumusan Masalah …………….……………………………………….….… 2
1.3 Tujuan …………………………………………………………………….… 2
1.4 Manfaat ……..................………………………………….………………….. 2
1.5 Sistematika ……………………………………………………………………. 2
BAB II PEMBAHASAN ………….………………..….………….…………….… 3
2.1.1 Pengertian Model Komunikasi ……………………..…….………….…….… 3
2.1.2 Model-Model Komunikasi ………………………….…….…..……….….…. 3
2.1.3 Perbedaan Model Komunikasi …………………………….…………………. 8
BAB IIl PENUTUP ………………………………..….…….………..………….… 8
3.1 Kesimpulan …………………………………………………………..…………… 8
3.2 Saran …………………………………………………………………..………….. 9

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………….….. 10


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Komunikasi merupakan aktivitas dasar manusia. Dengan berkomunikasi, manusia dapat


saling berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah tangga, di tempat
pekerjaan, di pasar, dalam masyarakat atau dimana saja manusia berada. Tidak ada manusia yang
tidak akan terlibat dalam komunikasi. Pentingnya komunikasi bagi manusia tidaklah dapat
dipungkiri begitu juga halnya bagi suatu organisasi. Dengan adanya komunikasi yang baik suatu
organisasi dapat berjalan lancar dan berhasil dan begitu pula sebaliknya, kurangnya atau tidak
adanya komunikasi organisasi dapat macet atau berantakan. Komukasi yang efektif adalah penting
bagi semua organisasi. Oleh karena itu, para pimpinan organisasi dan para komunikator dalam
organisasi perlu memahami dan menyempurnakan kemampuan komunikasi mereka. 1 Agar
komunikasi efektif maka komunikator harus tahu khalayak mana yang dijadikan sasaran dan
tanggapan apa yang diinginkannya. Ia harus trampil dalam menyandi pesan dengan
memperhitungkan bagaimana komunikan memaknai pesan. Aktifitas untuk menentukan berhasil
tidaknya suatu pekerjaan yang dilakukan dalam organisasi adalah penilaian pelaksanaan seluruh
kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya. Aktifitas ini lazimnya disebut dengan penilaian
kinerja. Pelakanaan suatu pekerjaan tanpa diikuti oleh penilaian tidaklah dapat diukur dan diketahui
seberapa besar tingkat pencapaian tujuan yang telah dicapai. Penilaian pekerjaan pada dasarnya
adalah manifestasi dari penilaian pekerjaan pegawai. Keberhasilan penentuan pencapaian tugas
terhadap individu akan dapat mengarahkan penetapan kinerja organisasi.2
Komunikasi sangat dibutuhkan untuk interaksi sesama manusia, oleh karena itu komunikasi
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari, sehingga tanpa adanya komunikasi,
kehidupan manusia tidak akan berjalan dengan sempurna. Karena komunikasi itu memiliki peranan
sangat penting, dibuatlah suatu model [Link] memiliki beberapa model, dan
setiap modelnya memiliki definisi yang berbeda pula. Model komunikasi dibuat supaya
mempermudah dalam memahami proses komunikasi dan melihat komponen dasar yang perlu ada
dalam suatu komunikasi. Komunikasi juga merupakan suatu proses. Hal ini terlihat dari setiap
gejala atau peristiwa yang tidak luput dari adanya suatu komunikasi yang terjalin
[Link] makalah ini, kami menjelaskan beberapa model komunikasi yang
didefinisikan oleh para ahli dan juga menjelaskan tentang komunikasi sebagai proses.
1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa saja definisi Model Komunikasi ?


2. Apa saja model-modek komunikasi ?
3. Bagaimana komunikasi sebagai proses ?

1.3 TUJUAN

Makalah ini dibuat dengan tujuan agar pembaca mengetahui dan memahami maksud dari
beberapa model komunikasi yang kami sajikan dan juga mempermudah memahami proses
komunikasi dan melihat komponen dasar yang perlu ada dalam suatu komunikasi, untuk
memberikan respon dengan cara tertentu. Kita dapat juga mengatakan bahwa proses ini
merupakan perpindahan informasi ataupun gagasan. Proses ini dapat berupa timbal balik dan
mempunyai efek yang banyak. Setiap efek dapat merubah perilaku dari komunikasi berikutnya.

1.3 MANFAAT

Manfaat dari pembuatan makalah ini bagi penulis maupun pembaca ialah untuk
menambah wawasan atau pengetahuan tentang “Model-model Komunikasi”.

1.5 SISTEMATIKA

a. Bab I Pendahuluan, Isi dari Pendahuluanini terdiri dari beberapa sub Bab yaitu; latar
belakang, rumusan masalah, tujuan,manfaat dan sistematika penulisan.
b. Bab II Pembahasan, Pembahasan inimenguraikan materi tentang “ Model-model
Komunikasi”.
c. Bab III Penutup, Dalam Bab ini diisi dengan penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran,
dimana penulis setelah menguraikan materi tentang Model-model [Link]
menyimpulkan dan memberikan saran sehingga makalah ini bisa bermanfaat.

Model ini mengabaikan komunikasi sebagai sebuah proses. Dengan kata lain, komunikasi
dianggap sebagai hal yang statis. Manusia dianggap berprilaku karena kekuatan dari luar
( stimulus ), bukan berdasarkan kehendak, keinginan, atau kemauan bebasnya.
BAB ll

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN MODEL KOMUNIKASI

Ada orang yang gemar membuat model pesawat tiruan, mobil-mobilan, dan benda-
[Link] ini membantu mereka melihat model mereka dengan cara yang
[Link] industri dan ilmuan melakukan hal yang serupa. Menarik pelajaran dari sebuah
model sebelum mereka membangun sesuatu yang sebenarnya. Model Komunikasi berperan seperti
itu, dengan membuat tiruan proses. Tetapi model tidak lah sempurna. Kenyataan ini terutama
berlaku ketika subjek yang dibuatkan model nya adalah subjek yang kompleks. Sebuah arsitektur
misalnya, mungkin punya model yang bias dilihat oleh pengunjung. Namun, ada juga model
system pemanas, pola lalulintas, kelistrikan, saluran air, dan ventilasi. Tak satupun model-model ini
yang komplit atau akurat dalam setiap detail nya, namun tetap ada gunanya.

Model komunikasi adalah merupakan gambaran sederhana dari proses komunikasi yang
memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi dengan komponen lainnya. Menurut
Sereno dan Mortensen, suatu Model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang
dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Suatu model merepresentasikan secara abstrak ciri-ciri
penting dan menghilangkan rincian komunikasi yang tidak perlu dalam "dunia nyata".

2.2. MODEL - MODEL KOMUNIKASI

2.2.1 MODEL KOMUNIKASI LINIER (SATU ARAH)

Model ini merupakan model yang paling klasik dalam ilmu komunikasi. Bisa juga
disebut sebagai model retorikal. Model ini membuat rumusan tentang model komunikasi verbal
yang pertama. Komunikasi terjadi saat pembicara menyampaikan pesannya kepada khalayak
dengan tujuan mengubah perilaku mereka. Yang memiliki sifat komunikasi dalam satu arah. Yaitu,
dari sumber kearah penerima pesan.

Model linear ini didukung oleh teori model Harold Laswell, Aristoteles, dan Berlo serta
dikembangkan oleh Claude Shannon dan Waren Weaver (1949) yang menidentifikasi
elemen-elemen utama proses komunikasi: Sumber, pesan, saluran, penerima, dan efek. Oleh karena
itu, riset pada waktu itu sangat memperhatikan persuasi dan propaganda, seakan memberikan kesan.
Karena model ini bersifat satu arah.
[Link] MODEL ARISTOTELES

Model ini merupakan model yang paling klasik dalam ilmu komunikasi. Bisa juga disebut
sebagai model retorikal. Model ini membuat rumusan tentang model komunikasi verbal yang
petama. Komunikasi terjadi saat pembicara. menyampaikan pesannya kepada khalayak dengan
tujuan mengubah perilaku mereka. Aristoteles menerangkan tentang model komunikasi dalam
bukunya Rhetorica, bahwa setiap komunikasi akan berjalan jika terdapat 3 unsur utama : Pembicara
(speaker), Pesan (message),dan Pendengar (listener). Model ini lebih berorientasi pada pidato.
Terutama pidato untuk mempengaruhi orang lain.
Menurut Aristoteles, pengaruh dapat dicapai oleh seseorang yang dipecaya oleh publik,
alasan, dan juga dengan memainkan emosi publik. Tapi model ini juga memiliki banyak kelemahan.
Kelemahan yang pertama adalah, komunikasi dianggap sebagai fenomena yang statis. Kelemahan
yang kedua adalah, model ini tidak memperhitungkan komunikasi non verbal dalam mempengaruhi
orang [Link] model ini mempunyai banyak kelemahan, tapi model ini nantinya akan
menjadi inspirasi bagi para ilmuwan komunikasi untuk mengembangkan model komunikasi
modern.
Menganalisa pesan itu. In which channel adalah media. To whom adalah khalayak. Dan with
what effect adalah pengaruh yang diciptakan pesan dari media massa kepada pembaca, pendengar,
dan pemirsa. Sama seperti komunikasi lainnya, model ini juga mendapat kritik. Hal itu dikarenakan
model ini terkesan seperti menganggap bahwa komunikator dan pesan itu selalu mempunyai tujuan.
Model ini juga dianggap terlalu sederhana. Tapi, sama seperti model komunikasi yang baik lainnya,
model ini hanya fokus pada aspek-aspek penting dalam komunikasi.

[Link] MODEL SHANNON DAN WEAVER

Model ini membahas tentang masalah dalam mengirim pesan berdasarkan tingkat
kecermatannya. Model ini mengandaikan sebuah sumber daya informasi (source information) yang
menciptakan sebuah pesan (message)dan mengirimnya dengan suatu saluran (channel) kepada
penerima (receiver) yang kemudian membuat ulang (recreate) pesan tersebut. Dengan kata lain,
model ini mengasumsikan bahwa sumber daya informasi menciptakan pesan dari seperangkat
pesan yang tersedia. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi sinyal yang sesuai dengan
saluran yang dipakai. Sasaran (destination) adalah orang yang menjadi tujuan pesan [Link]
adalah media yang mengirim tanda dari pemancar kepada penerima. Di dalam percakapan, sumber
informasi adalah otak, pemancar adalah suara yang menciptakan tanda yang dipancarkan oleh
udara. Penerima adalah mekanisme pendengaran yang kemudian itulah yang dianut sama oleh
sumber dan sasaran.
Model yang ketiga Schramm menanggap komunikasi sebagai interaksi dengan kedua pihak yang
menyandi(encode), menafsirkan (interpret) , menyandi ulang (decode), mentransmisikan (transmit ),
dan menerima sinyal(signal). Schramm berpikir bahwa komunikasi selalu membutuhkan
setidaknya tiga unsur : sumber (source),pesan (message), dan tujuan (destination). Disini kita
melihat umpan balik dan lingkaran yang berkelanjutan untuk berbagi informasi.
[Link] MODEL LASSWELL

Model ini menggambarkan komunikasi dalam ungkapan who, says what, in which channel,
to whom, with what effect atau dalam bahasa Indonesia adalah, siapa, mengatakan apa, dengan
medium apa, kepada siapa,pengaruh apa? Model ini menjelaskan tentang proses komunikasi dan
fungsinya terhadap masyarakat. Lasswell berpendapat bahwa di dalam komunikasi terdapat tiga
fungsi. Yang pertama adalah pengawasan lingkungan, yang mengingatkan anggota-anggota
masyarakat akan bahaya dan peluang dalam lingkungan. Kedua adalah korelasi berbagai bagian
terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan. Ketiga adalah transmisi warisan sosial dari
suatu generasi ke generasi lainnya. Model ini sering digunakan pada komunikasi massa. Who
menjadi pihak yang mengeluarkan dan menyeleksi berita, says what adalah bahan untuk
merekonstruksi pesan dari tanda itu. Tujuannya adalah otak si penerima. Dan konsep penting dalam
model ini adalah gangguan.
Model ini menganggap bahwa komunikasi adalah fenomena statis dan satu arah. Dan juga,
model ini terkesan terlalu rumit. Meskipun model ini sangat terkenal dalam penelitian komunikasi
selama bertahun-tahun, tulisan-tulisan Shannon dan Weaver sulit dipahami.

[Link] MODEL BERLO (SMCR)

Model ini hanya memperlihatkan proses komunikasi satu arah dan hanya terdiri dari empat
komponen yaitu sumber (Source), pesan (Message), saluran (Channel), dan penerima (Receiver).
Sumber adalah pembuat [Link] adalah gagasan yang diterjemahkan atau kode yang berupa
simbol-simbol. Saluran adalah media yang membawa pesan. Dan penerima adalah target dari
komunikasi itu sendiri. Menurut model ini, sumber dan penerima dipengaruhi oleh faktor-faktor
berikut : kemampuan berkomunikasi, perilaku, pengetahuan, sistem sosial, dan budaya. Pesan
merupakan perluasan yang berdasarkan elemen, struktur, isi, pemeliharaan, dan kode. Dan saluran
adalah panca indera manusia. Hal yang positif dari model ini adalah, model ini dapat mencakup
perlakuan dari komunikasi massa, publik, interpersonal, dan komunikasi tertulis.
Model ini juga bersifat heuristic. Tapi, model ini juga memiliki kelemahan. Model ini
menganggap komunikasi sebagai fenomena yang statis. Tidak ada umpan balik. Dan komunikasi
nonverbal dianggap sebagai hal yang tidak penting.
Model komunikasi Berlo menekankan komunikasi sebagai suatu [Link] linear karena
tertarik pada teknologi radio dan telepon dan ingin mengembangkan suatu model yang dapat
menjelaskan bagaimana informasi melewati berbagai saluran (channel).Hasilnya adalah
konseptualisasi dari komunikasi linear (linear communication model). Pendekatan ini terdiri atas
beberapa elemen kunci: sumber (source), pesan (message) dan penerima (receiver).Model linear
berasumsi bahwa seseorang hanyalah pengirim atau penerima.
2.2.2 MODEL INTERAKSIONAL (DUA ARAH)

Model ini membahas tentang pendekatan yang menekankan bahwa komunikasi adalah proses
timbal balik dan dinamis antara dua atau lebih individu, di mana setiap peserta berperan sebagai
pengirim dan penerima pesan secara bersamaan. Model ini menekankan bahwa makna dibangun
bersama melalui interaksi dan negosiasi, bukan sekadar transmisi informasi searah. Dalam model
ini, timbal balik menjadi kunci, di mana setiap tindakan komunikasi memicu reaksi atau respons
dari pihak lain, menciptakan siklus interaksi yang berkelanjutan. Konteks juga memegang peranan
penting, karena interaksi dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan situasional di mana
komunikasi terjadi. Umpan balik, baik verbal maupun nonverbal, memengaruhi bagaimana pesan
selanjutnya disampaikan dan diterima. Makna tidak statis, melainkan dinegosiasikan dan dibangun
bersama melalui interaksi yang dinamis, terus berubah dan berkembang seiring waktu, dipengaruhi
oleh berbagai faktor internal dan eksternal.
Berikut contoh-contoh penerapan model interaksional dua arah dalam berbagai konteks:
Konseling atau Terapi, Negosiasi Bisnis, Pembelajaran di Kelas, Layanan Pelanggan, Komunikasi
Antarbudaya, Pengembangan Produk, Komunikasi dalam Keluarga, Kolaborasi Ilmiah, Manajemen
Konflik, dan Media Sosial. Contoh-contoh ini menunjukkan relevansi model interaksional dua arah
dalam berbagai konteks komunikasi, baik interpersonal, kelompok, organisasi, maupun lintas
budaya, menekankan pentingnya dialog, umpan balik, dan negosiasi dalam membangun makna dan
mencapai tujuan bersama.

2.2.2..1 MODEL SCHRAMM

Wilbur Scheram membuat serangkai model komunikasi, dimulai dengan model komunikasi
manusia yang sederhana (1954), lalu model yang lebih rumit yang memperhitungkan pengalaman
dua individu yang mencoba berkomunikasi, hingga ke model komunikasi yang dianggap interaksi
dua individu. Model pertama mirip dengan model Shannon dan Weaver.
Model yang kedua Schramm memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam bidang
pengalaman sumber dan sasaranlah yang sebenarnya dikomunikasikan, karena bagian sinyal
sumber dapat menyandi pesan, dan tujuan dapat menyandi balik pesan, tergantung dari pengalaman
mereka masing-masing. Jika kedua lingkaran itu mempunyai daerah yang sama, maka komunikasi
menjadi mudah. Makin besar daerahnya akan berpengaruh pada daerah pengalaman (field of
experience) yang dimiliki oleh keduanya. Menurut Schramm, setiap orang di dalam proses
komunikasi sangat jelas menjadi encoder dan decoder. Kita secara konstant menyandi ulang tanda
dari lingkungan kita, menafsirkan tanda itu,dan menyandi sesuatu sebagai hasilnya. Proses kembali
di dalam model ini disebut feedback, yang memainkan peran penting dalam komunikasi. Karena
hal ini membuat kita tahu bagaimana pesan kita ditafsirkan.
2.2.3 MODEL TRANSAKSIONAL

Model komunikasi transaksional adalah cara pandang terhadap komunikasi yang menekankan
proses interaksi yang dinamis antara individu. Dalam model ini, komunikasi bukan lagi sekadar
pengiriman pesan searah dari pengirim ke penerima, melainkan sebuah pertukaran pesan yang
terus-menerus dan simultan. Setiap peserta komunikasi berperan sebagai pengirim sekaligus
penerima, yang saling memengaruhi dan dipengaruhi oleh pesan yang disampaikan.
Dalam komunikasi transaksional, makna tidak dianggap sebagai sesuatu yang statis yang
dikirimkan bersama pesan, tetapi dibangun bersama oleh para peserta komunikasi. Makna muncul
dari interpretasi dan negosiasi yang terjadi selama interaksi. Pengalaman, latar belakang budaya,
dan konteks sosial masing-masing individu berperan penting dalam membentuk makna yang
dihasilkan.
Model ini juga menekankan pentingnya umpan balik (feedback) dalam komunikasi. Umpan
balik tidak hanya berfungsi sebagai respons terhadap pesan, tetapi juga sebagai bagian integral dari
proses komunikasi itu sendiri. Melalui umpan balik, peserta komunikasi dapat saling menyesuaikan
pesan mereka, mengklarifikasi makna, dan memastikan pemahaman yang lebih baik.
Selain itu, model komunikasi transaksional mengakui bahwa komunikasi selalu terjadi dalam
konteks tertentu. Konteks ini meliputi lingkungan fisik, hubungan antar peserta, norma sosial, dan
faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi proses komunikasi. Pemahaman terhadap konteks
sangat penting untuk menafsirkan pesan dengan tepat dan berkomunikasi secara efektif.
Model komunikasi transaksional memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang
kompleksitas komunikasi manusia. Dengan memahami bahwa komunikasi adalah proses yang
dinamis, interaktif, dan kontekstual, kita dapat menjadi komunikator yang lebih efektif dan
membangun hubungan yang lebih bermakna dengan orang lain.
2.3 PERBEDAAN DARI 3 MODEL KOMUNIKASI

Model linier komunikasi adalah representasi sederhana dari proses komunikasi sebagai
tindakan searah, di mana seorang pengirim (sender) secara aktif menyampaikan pesan melalui
saluran (channel) kepada penerima (receiver), yang secara pasif menerima pesan tersebut; dalam
model ini, perhatian utama adalah efisiensi penyampaian pesan, dengan fokus pada bagaimana
pesan tersebut dienkode oleh pengirim dan didekode oleh penerima, serta potensi gangguan (noise)
yang dapat menghambat proses ini, namun model ini mengabaikan umpan balik dari penerima dan
konteks yang lebih luas di mana komunikasi terjadi.
Model interaksional, sebagai pengembangan dari model linier, memperkenalkan konsep
umpan balik (feedback) dan konteks, mengakui bahwa komunikasi adalah proses dua arah yang
melibatkan pertukaran pesan antara pengirim dan penerima; dalam model ini, penerima
memberikan respons terhadap pesan yang diterima, yang kemudian diinterpretasikan oleh pengirim,
menciptakan siklus komunikasi yang dinamis; meskipun model ini mengakui pentingnya umpan
balik dan konteks, ia masih cenderung melihat pengirim dan penerima sebagai entitas yang terpisah
dan bergantian peran dalam proses komunikasi.
Model transaksional, yang merupakan model komunikasi yang paling komprehensif,
melampaui pandangan linier dan interaksional dengan menekankan bahwa komunikasi adalah
proses simultan, dinamis, dan transaksional, di mana para peserta secara bersamaan bertindak
sebagai pengirim dan penerima, saling mempengaruhi satu sama lain dalam konteks yang
kompleks dan terus berubah; dalam model ini, komunikasi tidak hanya tentang pertukaran
informasi, tetapi juga tentang pembentukan makna bersama, di mana lingkungan, pengalaman, latar
belakang budaya, dan faktor-faktor sosial memainkan peran penting dalam membentuk bagaimana
pesan dikirim, diterima, dan diinterpretasikan; dengan demikian, model transaksional mengakui
bahwa komunikasi adalah proses yang kompleks dan holistik, di mana setiap interaksi membentuk
dan dibentuk oleh hubungan, konteks, dan pengalaman para pesertanya.
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Model komunikasi transaksional adalah yang paling komprehensif karena melihat komunikasi
sebagai proses dinamis di mana setiap orang yang terlibat secara simultan bertindak sebagai
pengirim dan penerima, saling memengaruhi, dan bersama-sama menciptakan makna. Model ini
mengakui bahwa komunikasi tidak hanya sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga tentang
bagaimana kita membangun hubungan, memahami perspektif orang lain, dan membentuk realitas
sosial kita melalui interaksi yang berkelanjutan. Dengan mempertimbangkan konteks, pengalaman
masa lalu, dan hubungan antara individu, model transaksional memberikan pemahaman yang lebih
mendalam tentang bagaimana komunikasi benar-benar bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

3.2 SARAN

Bagi para pembaca dalam berkomunikasi harus menggunakan komunikasi dengan model yang pas
dalam komunikasi. Dimana komunikasi yang baik antara satu yang lain harus saling berhubungan.
DAFTAR PUSTAKA

Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar 2010, Rosda;
[Link],A. Komunikasi Organisasi,1989, Bumi Aksara;Jakarta. Liliweri,Alo. 2003.
Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta. LKiS Yogyakarta. Burgoon, M.,
Hunsaker, FG, dan Dawson, EJ (1994). Komunikasi manusia. Thousand Oaks, CA;Sage.
Dewi, Sutrisna. 2006. Komunikasi [Link]: Andi

Anda mungkin juga menyukai