Anda di halaman 1dari 5

PENERAPAN PENGGUNAAN DAUN LIDAH BUAYA (Aloe vera) UNTUK PENGOBATAN STOMATITIS AFTOSA (Sariawan) DI DESA CIBURIAL KECAMATAN CIMENYAN KABUPATEN BANDUNG

Oleh:

Tenny Setiani, E. Fitriana Sari, Kosterman Usri. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Abstrak Desa Ciburial merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, secara geografis terletak di dataran tinggi Bandung Utara yang merupakan daerah tujuan wisata karena pemandangan yang indah, udara yang sejuk, banyak terdapat restoran dan kafe, galeri, vila dan pesantren. Dengan kemajuan seperti ini penduduk daerah tersebut mendapat kesempatan peluang pekerjaan, tentu saja kesehatan merupakan salah satu syarat utama dalam mendapatkan pekerjaan, termasuk diantaranya kesehatan mulut dan gigi. Sariawan merupakan kelainan yang sering terjadi pada setiap orang, meskipun tidak terlalu parah tetapi keadaan ini seringkali menggangu aktifitas penderita umat dari gangguan mengunyah, menelan, maupun bicara. Pada beberapa orang sariawan ini seringkali terjadi secara berulang dengan luka yang besar dan Sangat menganggu karena terasa sakit. Saat ini banyak beredar obat-obatan yang dipromosikan sebagai pencegahan maupun menyembuhkan sariawan dengan cepat, sedangkan kita ketahui bahwa obat-obatan tersebut dijual dengan harga yang relatif'mahal, terutama bagigolongan rendah. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan bahwa ada obat tradisional yang mudah didapat dan murah, yang dapat digunakan untuk mengobati sariawan. Manfaat kegiatan ini diharapkan bisa diteruskan kepada seluruh warga desa untuk dapat memanfaatkan lidah buaya sebagai obat sariawan. Respon yang diperlihatkan oleh para peserta pendamping ini cukup baik. Hal ini diukur melalui perubahan pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut secara umum yang didapat dengan cara diskusi, dan pemanfaatan lidah bnaya untuk mengobati sariawan yang juga diterima dengan baik.

I. PENDAHULUAN Obat tradisional kembali populer dipilih sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit karena disampmg harganya terjangkau, tanpa efek samping juga khasiatnya cukup menjanjikan. Salah satu tanaman obat tersebut adalah aloe vera atau lazim disebut Udah buaya. Sejak berabad-abad yang lampau orang sudah mengenal lidah buaya sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari obat untuk kulit, penyubur rambut, dan pencahar, akan tetapi Udah buaya sebagai obat untuk penyembuhan stomatitis aphthous atau sariawan masih banyak orang yang belum mengetahuinya. Alasan mengapa Hdah buaya dipercaya memilild peran dalam mempercepat proses penyembuhan stomatitis aphthous ini karena lidah buaya banyak mengandung zat-zat yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan stomatitis aphthous diantaranya enzyme bradykinase dan karboxypeptidase sebagai anti inflamasi, kemudian mengandung

vitamin Bl, B2, B6, C, mineral, asam amino, asam folat, dan zat-zat lainnya yang penting dalam proses penyembuhan lesi stomatitis aphthous (Purbaya, 2003). Salah satu persyaratan untuk dapat bekeija adalah kesehatan tubuh secara umum, kesehatan gigi dan mulut tidak terlepas dari kesehatan tubuh secara umum. Gigi dan mulut merupakan gerbang utama pada sasaran pencernaan, disana terletak gigi untuk mengunyah makanan, dibantu oleh otot pipi, lidah, langit-langit, air ludah dan jaringan selaput lendir (mukosa) yang sehat. Sariawan merupakan salah satu keadaan yang sering terjadi secara berulang pada mukosa mulut seseorang, dapat dikatakan bahwa setiap orang pasti pernah mengalami sariawan baik yang ringan maupun yang berat sampai sariawan tersebut mengganggu fungsi fisiologis. Gangguan ini dapat menyebabkan seseorang penderita mengalami gangguan bicara, mengunyah, menelan bahkan kelainan ini dapat mengakibatkan menurunnya kondisi tubuh bila terjadi dalam waktu yang lama dengan frekuensi kejadian yang sering. Upaya untuk pencegahan dan mengobati kelainan ini (sariawan) tidak terlepas dari perubahan perilaku sebagai komponen utama, disamping motivasi dan tanggung jawab terhadap kesehatan gigi dan mulut. Untuk itu perlu pengetahuan tentang kesehatan mulut untuk menunjang keberhasilan pencegahan penyakit gigi dan mulut secara umum, dan penanggulangan sariawan secara khusus. Lidah buaya (Aloe vera) adalah salah satu tanaman obat tradisional yang termasuk ke dalam snku Liliaceae, sering ditanam didalam pot atau halaman rumah hanya saja khasiatnya belum digunakan secara optimal, padahal lidah buaya ini mengandung berbagai zat aktif yang dapat menyembukan berbagai penyakit, khasiat yang sudah dikenal dari tanaman ini yaitu hanya sebagai penyubur rambut dan memperhalus kulit akan tetapi khasiat lidah buaya untuk mengobati stomatitis aphthous belum banyak orang yang mengetahuinya (Fumawanthi, 2003). Dari hal-hal tersebut diatas dapat diidentifikasikan:

1. Sejauh mana pengetahuan ibu-ibu di Desa Ciburial tentang sariawan dan pengalaman terapinya. 2. Bagaimana menanamkan pengertian pentingnya memelihara kesehatan mulut khususnya dalam pengelolaan sariawan yang berulang.

Adapun tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mengungkapkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada ibu-ibu di Desa Ciburial Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung serta menambah pengetahuan bagi masyarakat dalam mengelola sariawan dalam mulut dengan cara mudah dan biaya yang murah. Sedangkan manfaat yang diharapkan adalah untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut bagi masyarakat di Desa Ciburial melalui ibu-ibu sebagai motor kesehatan keluarga. Mengubah perilaku dalam hal membantu mengobati sariawan. Memberdayakan tanaman obat juga sebagai apotik hidup yang mudah dilakukan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Sekilas lidah buaya atau aloe vera hanya merupakan tanaman hias yang banyak memenuhi pot di rumah-rumah, akan tetapi ternyata lidah buaya mempakan tanaman yang memiliki banyak kandungan zat bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Lidah buaya atau aloe vera termasuk suku liliaceae, konon berasal dari kepulauan disebelah barat Afrika, hal tersebut terungkap dari catatan “Papyrus Ebers” atau pada

Egyption Book of Remidies” di dalam buku itu dikisahkan bahwa pada jaman Cleopatra, lidah buaya dimanfaatkan untuk bahan baku kosmetika dan pelembab kulit. Beberapa sumber mengatakan bahwa lidah buaya masuk Indonesia dibawa petani keturunan cina pada abad ke-17 (Fumawanthi, 2004). Sudah banyak bukti yang mengarah pada khasiat lidah buaya terhadap penyembuhan berbagai penyakit, maka banyak peneliti yang berusaha mencari tahu kandungan lidah buaya yang mujarab tersebut. Saat ini sudah banyak lidah buaya digunakan untuk mengobati Diabetes Melitus, sembelit, radang tenggorokan, menurunkan kadar kolesterol yang tinggi, disentri, beri-beri, anemia, bisul, tumor, dan lainnya (Purbaya, 2003) akan tetapi belum banyak orang yang mengetahui bahwa kandungan lidah buaya memiliki peran dalam mempercepat proses penyembuhan stomatitis aphtous. Lidah buaya adalah tanaman yang semua bagian tumbuhan ini bermanfaat, pelepah lidah buaya dapat dikelompokan menjadi 3 bagian yang dapat digunakan untuk pengobatan, antara lain: Daun, keseluruhan daunnya dapat digunakan baik secara langsung atau dalam bentuk ekstrak, kemudian eksudat, adalah getah yang keluar dari dalam saat dilakukan pemotongan, eksudat ini berbentuk kental berwarna kuning, dan rasanya pahit. Kemudian gel, adalah bagian yang berlendir yang diperoleh dengan cara menyayat bagian dalam daun (Fumawanthi, 2003) Didalam gel aloe vera ini dipercaya mengandung berbagai zat aktif dan enzim yang sangat berguna imtuk menyembuhkan berbagai penyakit. Karena kandungan zat aktif dan enzim inilah maka sifat gel ini sangat sensitif terhadap suhu, udara dan cahaya, serta sangat mudah teroksidasi gel akan mudah berubah warna menjadi kuning hingga coklat (Fumawanthi, 2004) oleh karena itu sekarang banyak sediaan aloe vera dalam bentuk gel yang sudah distabilkan 100% sehingga tidak terjadi perubahan baik warna dan khasiatnya (Purbaya, 2003). Pada kegiatan ini akan diaplikasikan gel lidah buaya dari daun tumbuhan pada lesi stomatitis aphtous untuk diketahui efektifitas dalam mempercepat proses penyembuhan.

Tabel Kandungan zat aktif lidah buaya (aloe vera) yang sudah teridentifikasi

Zat Aktif

Kegunaan

Lignin

Mempunyai kemampuan penyerapan yang tinggi sehingga memudahkan peresapan gel ke dalam kulit atau mukosa

Saponin

Mempunyai kemampuan membersihkan dan bersifat antiseptik, serta bahan pencuci yang baik

Komplekss

Sebagai bahan laksatif, penghilang rasa sakit, mengurangi racun, sebagai anti bakteri. Antibiotik

Anthraguinone

Acemannan

Sebagai anti virus, anti bakteri, anti jamur, dan dapat nienghancurkan sel tumor, serta meningkatkan daya tahan tubuh

Enzim bradykinase, karbiksipeptidase

Mengurangi inflamasi, anti alergi dan dapat mengurangi rasa sakit

Glukomannan,

Memberikan efek imonomodulasi

mukopolysakarida

Tennin, aloctin A

Sebagai anti inflamasi

Salisilat

Menghilangkan rasa sakit, dan anti inflamasi

Asam amino

Bahan untuk pertumbuhan dan perbaikan serta sebagai sumber energi. Aloe vera menyediakan 20 asam amino dari 22 asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh

Mineral

Memberikan ketahanan tubuh terhadap penyakit, dan berinteraksi dengan Vitamin untuk mengandung fungsi- fungsi tubuh

Vitamin A, Bl, B2, B6. B12, C, E, asam folat

Bahan penting untuk menjalankan fungsi tubuh secara normal dan sehat

(Purbaya, 2003, Fumawanthi, 2004) Pengertian Stomatitis aphtous atau sariwan adalah lesi pada mukosa mulut yang umum terjadi pada setiap orang, hampir dapat dipastikan bahwa setiap orang pernah menderita lesi ini di mukosa mulutnya. Biasanya dapat muncul secara berulang baik sebagai ulkus tunggal ataupun ulkus yang lebih dari satu, sering terjadi pada mukosa mulut yang tidak berkeratin, pada palatum lunak, mukosa bulkal, dasar mulut dan lidah. Etiologi Stomatitis Aphthous belum dapat ditentukan secara pasti penyebab stomatitis ini terapi mungkin disebabkan oleh beberapa faktor yang melibatkan kondisi sistemik, likal, mikroba dan genetik (Field dan Longman, 2003) penyebab lain yang mungkin dapat menyebabkan stomatitis aphtous ini adalah trauma, stress, hormonal definisi faktor hematologis seperti kekurangan zat besi, asam foat, vitamin B12 dan akibat dari abnormalitas imunologi (Field dan Longman, 2003, Greenberg & Glick,

2003).

Walaupun stomatitis ini bersifat self limited atau dapat sembuh dengan sendirinya, akan tetapi kehadirannya sangat menganggu pada saat proses pengunyahan, bicara dan bahkan menganggu kegiatan membersihkan rongga mulut. Terapai Stomatitis Aphthous, obat-obat yang sering digunakan untuk terapi stomatitis aphtous ini adalah obat analgesik untuk mengurangi rasa sakit, agen antiseptik untuk mengurangi indeksi sekunder, antibody topical untuk menghilangkan berbagai gejala yang tunbul akibat infeksi sekunder, kemudian steroid topical sebagai and inflamasi (Field dan Longman, 2003).

III. PELAKSANAAN KEGIATAN Pendekatan dilakukan dengan mengunjungi Kepala Desa dalam hal ini Lurah Desa Ciburial Kabupaten Bandung, menentukan khalayak sasaran yaitu ibu-ibu yang aktif dalam kegiatan PKK. Mengadakan analisis situasi dengan mengadakan pengamatan mengenai pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut pada khalayak sasaran dengan cara memberikan pertanyaan sebelum dilakukan penyuluhan dan pendampingan, untuk kemudian menyelenggarakan penyulnhan kesehatan gigi dan muhit secara umimi, dan pengelolaan sariawan dengan melakukan demonstrasi pengaplikasian lidah buaya pada sariawan secara khusus. Meteri penyuluhan bempa diskusi dua arah dengan menggunakan gambar-gambar (flip chart) mengenai pengenalan bagian-bagian dari gigi dan rongga mulut, jenis gigi, fungsi gigi, gambaran klinis sariawan, obat-obat sariawan yang ada dan tanaman daun lidah buaya. Pengenalan tumbuhan dan lidah buaya, khasiat dari zat-zat yang terdapat dalam daun lidah buaya, cara pemakaian lidah buaya pada sariawan, pengarahan pemeliharaan tanaman Lidah buaya. Pentingnya memahami tentang kesehatan gigi dan mulut dalam rangka mencegah tumbuhnya penyakit gigi dan mulut yang lebih parah tidak hanya diperuntukan bagi ibu-

ibu saja tetapi lapisan masyarakat Dalam hal ini ibu-ibu diberdayakan karena ibu sebagai orang yang paling sering berada dirumah dan paling dekat keberadaanya di tengah keluarga, maka ibu mempakan key person yang paling tepat untuk mengadakan penyuluhan dan pendampingan ini. Metode yang dilakukan adalah penyuluhan dan pendampingan pelatihan melalui demonstrasi cara mengaplikasikan lidah buaya pada sariawan dua orang ibu sebagai responden. Tiga hari kemudian dilakukan hasil pengaplikasian lidah buaya pada sariawan untuk proses penyembuhan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Keberhasilan PKM dievaluasi dengan melihat respon yang diberikan oleh peserta

terhadap kegiatan yang diukur melalui:

1. Pembahan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut

2. Dilihat adanya proses penyembuhan pada sariawan sebelum dan sesudah

dilakukan aplikasi lidah buaya.

Alasan mengapa lidah buaya dipercaya memiliki peran dalam mempercepat proses penyembuhan stomatitis aphtous ini karena lidah buaya banyak mengandung zat-zat yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan stomatitis aphtous diantaranya enzyme bradykinase dan karboxypeptidase sebagai anti virus, Aloctin A dan tannin sebagai anti inflamasi, kemudian mengandung vitamin Bl, B2, B6, C, mineral, asam amino, asam folat dan zat-zat lainnya yang penting dalam proses penyembuhan lesi stomatitis aphtous yang bekerja melakukan re-epitelisasi (Purbaya, 2003)

V. PENUTUP Berdasarkan kegiatan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang telah

dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Respon peserta baik, dilihat dari adanya pembahan pengetahuan pada pra pasca penyuluhan.

2. Terjadi kerjasama yang baik antara responden dengan pelaksana PKM dalam hal melakukan terapi sariawan dengan lidah buaya, dan terlihat ada perbaikan berupa penyembuhan sariawan.

DAFTAR PUSTAKA Field, A dan Longman, L. 2003. Tyldesley's Oral Medicine. Ed. Ke-5. Oxford University Press. Hlm 52-58 Fitriana, S., Ema H. Tenny S. 2005. Efektifitas Pemberian Gel Lidah Buaya (Aloe Vera Gel) Secara Topikal Pada Stomatitis Aphthousa Minor (Sariawan). Lembaga Penelitian. Unpad. Fumawanthi, I. 2004. Khasiat & Manfaat Lidah Buaya Si Tanaman Ajaib. Agro Media Pustaka. Jakarta. Hlm 1-21. Greenberg M.S.,D.D.S. dan Glick M. 2003. Burket's Oral Medicine Diagnosis & Treatment. Ed. Ke-10. BC Decker Inc. New Jersey. Hlm. 63-65.

dan Robbius, S.L.,M.D. 1997. Basic Pathology.

Kumar, V.,MD.,Cotrain, R.S

ED. Ke-6. W.B. Saundeis Company. Hlm. 45-471. Purbaya J.R. 2003. Mengenal & Memanfaatkan Khasiat Aloe Vera. CV. Pionerjaya. Bandung. Hlm. 21-165.

M.D.,