Anda di halaman 1dari 10

Reaksi Transfusi

Reaksi transfusi adalah semua kejadian ikutan yang terjadi karena transfusi darah, kebanyakan masalah yang muncul hanya pada pasien yang membutuhkan transfusi berulang atau dalam jumlah besar. Risiko yang berhubungan dengan transfusi dari komponen spesifik darah cukup rendah. Meskipun demikian, risiko tersebut harus dipertimbangkan dengan keuntungan setiap transfusi dilakukan. Menurut onsetnya, reaksi transfusi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu immediate dan delayed. 1. Immediate Reaksi transfusi tipe immediate biasanya terjadi pada 1 -2 jam setelah transfusi selesai. Kebanyakan reaksi transfusi tipe ini bisa dicegah oleh karenadisebabkan oleh pemberian yang kurang tepat, kegagalan untuk mengikuti standar operasi, atau kurangnya pengetahuan tentang prosedur atau dampak terapi. Pencegahan dengan mengikuti prosedur tertulis secara menyeluruh dan menaati kebijakan yang berlaku penting untuk terapi transfusi yang aman. Dapat dibagi lagi menjadi reaksi imunologis dan non imunologis a. Imunologis: reaksi antigen-antibodi dari eritrosit, leukosit, atau protein plasma. Reaksi ini dibuat oleh respon tubuh terhadap protein asing. Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain: Acute Hemolytic Reaction: terjadi ketika ada reaksi antigen-antibodi pada resipien sebagai akibat inkompabilitas antara antibodi resipien dan eritrosit donor. Inkompabilitas golongan darah sistem ABO berperan pada kebanyakan kematian akibat Acute hemolytic reaction Penatalaksanaan: 1) Hentikan Transfusi 2) Pertahankan output urin minimal 75-100ml/jam dengan cara berikut: - Guyur cairan IV dan mungkin manitol 12,5-50g selama 5-15menit. - Jika cairan IV dan manitol tidak efektif, berikan furosemide 20-40mgIV 3) Alkalinisasi urin, oleh kerana bikarbonat disekresi di urin, hanya 40=70 mEq/70kg sodium bikarbonat diperlukan untuk menaikan pH urin -8

4) Periksa konsentrasi hemoglobin urin dan plasma.

5) Tentukan jumlah trombosit, partial thromboplastin time danserum fibrinogen level. 6) Pulangkan kembali darah yang tidak digunakan untuk recrossmatch 7) Hantar sampel darah pasien ke bank darah untuk skrining antibody dan direct anti globulin test 8) Cegah hipotensi untuk memastikan aliran darah ginjal adekuat.

Febrile Nonhemolytic Transfusion Reactions (FNHTRs): biasanya merupakan hasil transfuse komponen seluler tanpa hemolisis, dimana antibodi antileukosit resipien diarahkan melawan leukosit donor. Meskipun beberapa leukosit hancur dengan cepat selama penyimpanan, fragmen membrannya masih mampu mensensitisasi pasien dengan cara yang sama seperti leukosit yang utuh. Pasien yang telah tersensitisasi oleh banyak transfusi atau kehamilan multipel lebih mungkin mengalami hal ini, dengan gejala peningkatan suhu 1C dan biasanya terjadi selama 1-6 jam setelah inisiasi transfusi. Reaksi ini dapat diikuti gejala kemerahan pada wajah, palpitasi, batuk, sesak di dada,kecepatan nadi meningkat, atau menggigil.

Reaksi Anafilaktik: sangat jarang, diperkirakan hanya terjadi pada 1dari 170.000 transfusi. Dapat terjadi pada pasiendengan defisiensi IgA dan pasien yang memil iki antibodi anti-IgA. Dua tanda klasik yaitu gejala hanya setelah beberapa millimeter darah atau plasma dimasukkan tanpa ada demam. Adanya bronkospasme, distress pernapasan, nyeri abdominal,instabilitas vaskuler, syok, dan mungkin hilang kesadaran menandai terjadinya reaksi ini.

Urtikaria: sangat jarang, terjadi 1-3% dari transfusi, dan berdasarkan respon hipersensitivitas, mungkin terhadap protein dari plasma donor. Reaksi biasanya ringan, dan ditandai oleh eritema lokal,bengkak, dan gatal. Sesekali demam dapat muncul.

Transfusion-Related Acute Lung Injury: paling sering muncul sebagai distres pernapasan dengan onset mendadak, yang disebabkan oleh sindrom non edema paru kardiogenik yang menyerupai sindrom distres pernapasan pada orang dewasa. Menggigil, demam, nyeridada, hipotensi, dan sianosis merupakan manifestasi umum edema paru

yang dapat terlihat. Gambaran radiografi dada menunjukkan edema paru yang kemerahan.
2

Reaksi dapat terjadi dalam beberapa jam transfusi. Pada awalnya parah, tetapi biasanya membaik dalam48-96 jam dengan bantuan pernapasan tanpa sekuele. Reaksi inilebih jarang terjadi daripada FNHTRs, dengan insidensi sekitar 1 dalam 5000 transfusi, namun mungkin saja reaksi ini tak terdiagnosis(Greer et al, 2003).Etiologi yang umum adalah reaksi aantara donor dengan titer antibodiantileukosit yang tinggi dan leukosit resipien. Reaksi tersebut mengakibatkan leukoaglutinasi. Leukoaglutinin dapat terjebak di pembuluh dara paru yang kecil. b. Non imunologis: disebabkan oleh faktor eksternal dalam pemberian darah, seperti infeksi bakteri dari pasien, kontaminasi darah donor, penanganan darah yang tidak tepat, dan pemberian cairan hipertonik dengan transfusi. Tidak ada reaksi antigen-antibodi. Yang termasuk: Overload cairan: ketika darah atau komponennya diberi dengan kecepatan melebihi cardiac output pasien. Emboli udara: gejala seperti kolaps kardiovaskular meliputi sianosis, dyspnea, shock, hingga terkadang henti jantung. Keracunan sitrat: yang berisiko untuk berkembang menjadi keracunan sitrat atau deficit kalsium ialah mereka yang mendapat transfusi plasma, wholeblood, trombosit dengan kecepatan melebihi 100 mL/menit, atau lebih rendah pada pasien dengan penyakit hati. Hati tidak bias mengikuti pemberian yang cepat, tidak bisa memetabolasi sitrat, mengurangi kalsium yang terionisasi. Hipokalsemia dapat memicu aritmia jantung. Hipotermia :terjadi ketika darah dingin dengan volume yang banyak diberikan dengan cepat. Pemberian yang cepat dapat mengakibatkan pasien menggigil, hipotermi, vasokonstriksi perifer, aritmia ventrikuler, dan henti jantung.
Kontaminasi bakteri darah dapat terjadi pada saat donasi atau persiapan komponen infusi. Bakteri gram negative tahan dingin dapat berperan pada kejadian yangtidak menguntungkan ini. Organisme seperti spesies Pseudomonas, Citrobacter freundii, dan Escherichia coli merupakan penyebab yang potensial. Organisme ini mampu berproliferasi pada suhu refrigerator, melepaskan endotoksin yang menginisiasi reaksi yang jarang dan berpotensi fatal ini.

Menurut intensitasnya reaksi akut dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu ringan, sedang-berat dan reaksi yang membahayakan nyawa. Reaksi ringan ditandai dengan timbulnya pruritus, urtikaria dan rash. Reaksi ringan ini disebabkan oleh hipersensitivitas ringan. Reaksi sedang-berat ditandai dengan adanya gejala gelisah, lemah, pruritus, palpitasi, dispnea ringan dan nyeri kepala. Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan adanya warna kemerahan di

kulit, urtikaria, demam, takikardia, kaku otot. Reaksi ringan diatasi dengan pemberian antipiretik, antihistamin atau kortikosteroid, dan pemberian transfusi dengan tetesan diperlambat. Reaksi sedang-berat biasanya disebabkan oleh hipersensitivitas sedang-berat, demam akibat reaksi transfusi non-hemolitik (antibodi terhadap leukosit, protein, trombosit), kontaminasi pirogen dan/atau bakteri. 2. Delayed Komplikasi ini terjadi setelah beberapa hari, bulan, atau tahun setelah transfusi dan biasanya merupakan akibat alloimunisasi atau penyakitmenular. a. Imunologis, yang termasuk dalam kelompok ini: Delayed Hemolytic Reaction: disebabkan oleh antibodi yang terbentuksebagai respon terhadap antigen asing. Reaksi ini dikelompokkanmenjadi primer dan sekunder. Reaksi yang primer biasanya ringan dan dapat terjadi satu minggu atau lebih setelah transfusi. Reaksiyang sekunder terjadi pada pasien yang sebelumnya terimunisasimelalui transfusi atau kehamilan. Reaksi hemolitik lambat timbul 5-10 hari setelah transfusi dengan gejala dan tanda demam, anemia, ikterik dan hemoglobinuria. Reaksi hemolitik lambat yang berat dan mengancam nyawa disertai syok, gagal ginjal dan DIC jarang terjadi. Pencegahan dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium antibodi sel darah merah dalam plasma pasien dan pemilihan sel darah kompatibel dengan antibodi tersebut. Transfusion-Associated Graft-Versus-Host Disease (TAGVHD: reaksi yang kompleks, jarang, dan sering fatal. Penyebab umumnya yaitu transfer limfosit T imunokompeten pada komponen darah pada pasien dengan penurunan imun berat. Hal ini bisa juga terjadi dari transfuse yang berasal dari anggota keluarga tingkat pertama. Limfosit donor dikenali dan membelah pada resipien dengan
4

penurunan imun berat.Sel yang dikenali ini bereaksi terhadap jaringan asing asal resipien,menyebabkan komplikasi pendarahan dan infeksi. Purpura pasca transfuse: komplikasi yang jarang tetapi potensial membahayakan pada transfusi sel darah merah atau trombosit. Hal ini disebabkan adanya antibodi langsung yang melawan antigen spesifik trombosit pada resipien. Lebih banyak terjadi pada wanita. Gejala dan tanda yang timbul adalah perdarahan dan adanya trombositopenia berat akut 5-10 hari setelah transfusi yang biasanya terjadi bila hitung trombosit <100.000/uL. Penatalaksanaan penting terutama bila hitung trombosit 50.000/uL dan perdarahan yang tidak terlihat dengan hitung trombosit 20.000/uL. Pencegahan dilakukan dengan memberikan trombosit yang kompatibel dengan antibodi pasien. b. Non Imunologis, termasuk dalam kelompok ini ialah: Hepatitis: risiko hepatitis virus (non-A, non-B,C,D) kira-kira 1:3.000

sampai1:5.000 pemajanan donor. Risiko transfusi terhadap hepatitis B kira-kira 1:171.000 tiap unit transfusi. Risiko transfuse terhadap hepatitis C kira-kira 1:1.613.000 tiap unit transfusi. Human Immunodeficiency Virus (HIV): risiko transfusi terkait HIV mendekati nol, dengan perkiraan berkisar antara 1:300.000 sampai 1:1.000.000 pemajanan donor. Human T-Cell Lymphotropic Virus: frekuensi penularan melalui transfusi pada HTVL cukup rendah diAmerika Serikat, dengan perkiraan antara 1 dari 250.000 sampai 1dari 2.000.000 trasfusi unit. Sifilis: hingga saat ini tidak ada laporan terkait transmisi sifilis pada transfusiselama beberapa decade ini. Cytomegalovirus: transfusi terkait cytomegalovirus dapat dieliminasi dengan memberikan transfusi produk seluler darah, yang disaring dengan filter penghilang leukosit, atau dengan memilih darah dari donor seronegatif untuk antibodi terhadap cytomegalovirus. Malaria
5

c. Purpura pasca transfuse: komplikasi yang jarang tetapi potensial membahayakan pada transfusi sel darah merah atau trombosit. Hal ini disebabkan adanya antibodi langsung yang melawan antigen spesifik trombosit pada resipien. Lebih banyak terjadi pada wanita. Gejala dan tanda yang timbul adalah perdarahan dan adanya trombositopenia berat akut 5-10 hari setelah transfusi yang biasanya terjadi bila hitung trombosit <100.000/uL. Penatalaksanaan penting terutama bila hitung trombosit 50.000/uL dan perdarahan yang tidak terlihat dengan hitung trombosit 20.000/uL. Pencegahan dilakukan dengan memberikan trombosit yang kompatibel dengan antibodi pasien.

Resusitasi Cairan
A. MABL Kapan diberikan transfusi? MABL = (EBV X (Hct pasien Hct minium yang ditoleransi))/Hct pasien pre-op MABL: maximum allowable blood loss, EBV: estimated blood volume Contoh: anak dengan BB 10 kg, tanpa penyakit paru signifikan MABL=70cc/kg x 10 kg x (42-25)/42=285cc Sehingga, hingga volume 285 cc, kehilangan darah dapat diganti dengan kristaloid (dengan rasio 3:1) dan kehilangan darah lebih lanjut harus diganti dengan packed cell. Selama transfusi massif, factor koagulasi dan platelet akan tereduksi oleh karena dilusi, mereka tidak ada dalam packed cell. Konstitusi transfusi masif bervariasi, tetapi 0,75-0,3 volume darah adalah range yang masuk akal. Jika tidak diganti, perdarahan lebih hebat, memerlukan transfusi PRC yang lebih besar. Ada pendapat yang mengatakan bila perdarahan >2x EBV maka perlu transfusi FFP dan platelet. Pada transfusi massif (1,5-2 cc/kg/menit) atau infus cepat FFP (>1 cc/kg/menit) perlu diperhatikan hipoCa dan butuh terapi Ca (10-20 mg/kg).

B. KAPASITAS PENGANGKUTAN OKSIGEN Transfusi darah dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen dan volume intravascular. Secara teorinya, peningkatan volume intravascular bukan indikasi untuk transfusi darah karena ia boleh dilakukan dengan menggunakan cairan yang tidak mempunyai risiko

infeksi akibat transfusi (cth: kristaloid dan koloid). Oleh itu, peningkatan kapasitas pengangkutan oksigen merupakan indikasi sebenarnya kepada proses transfuse darah. Masalah utama adalah menetapkan batas hematokrit dan hemoglobin yang mana transfusi darah

perlu dilakukan. National Institutes of Health Consensus Conference menganjurkan, pada pasienyang sehat, hematokrit >30% jarang memerlukan transfusi darah. Manakala bagi pasien dengan anemia akut (cth: kehilangan darah intraoperatif) dengan hematokrit <21% biasanya memerlukan transfusi. Batas Hematokrit dan Hemoglobin yang paling baik untuk memulakan transfusi darah tergantung kepada beberapa perkara seperti status kardiovaskular pasien, usia,
7

kehilangan darah yang diantisipasi, oksigenisasi arterial, mixed venous oxygen tension, curah jantung dan volume darah. Walau bagaimanapun, pada Juli 1989 FDA Drug Bulletin pernah menganjurkan bahwa kapasitas pengangkut oksigen masih adekuat dengan Hemoglobin 7g/dL atau lebih rendah jika volume intravascular mencukupi untuk perfusi jaringan. Namun terdapat beberapa kondisi penyakit (cth:Coronary artery disease) yang memerlukan kadar Hb yang lebih tinggi.

Larutan kristaloid tidak memiliki kapasitas membawa oksigen, setiap eksaserbasi perdarahan yang diakibatkan dari pemberian kristaloid akan mengurangi kapasitas darah sirkulasi dalam membawa oksigen. Tidak ada patokan jelas kapan mengganti resusitasi kristaloid dengan darah, Tetapi umumnya diterima jika pasien menunjukkan perbaikan hemodinamik minimal atau sedang setelah infus cepat 2 sampai 3 L kristaloid, maka pasien tersebut membutuhkan transfusi darah. Namun demikian, bisa diterima untuk memberi darah segera jika jelas pasien telah mengalami kehilangan banyak darah dan mendekati kolaps sirkulasi. Sebagian pasien mungkin memberikan respon hemodinamik yang adekuat terhadap terapi awal dengan kristaloid yang bersifat sementara. Pada kasus-kasus demikian, infus kristaloid dilanjutkan dari 2 sampai 3 L pertama bisa digunakan untuk mendukung hemodinamik, selama perhatian ditujukan terhadap hemodilusi progresif dan efeknya terhadap hantaran oksigen.2 Hemodilusi ini juga merendahkan konsentrasi faktor-faktor pembekuan dan trombosit yang dibutuhkan untuk hemostasis intrinsik di titik perdarahan. Penilaian serial terhadap kadar hemoglobin berguna pada situasi demikian. An American Society of Anesthesiologists task force review mendapatkan bahwa kadar hemoglobin daeah >10 g/dL (hematokrit >30 %) jarang memerlukan transfusi darah, sedangkan kadar <6 g/dL (hematokrit <18 %) hampir selalu memerlukan transfusi darah. Ini menyisakan kisaran hemoglobin yang cukup lebarantara 6 dan 10 g/dLketika keputusan untuk memberikan darah sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, misal keberadaan proses penyakit dasar yang peka terhadap penurunan hantaran oksigen dan laju kehilangan darah yang terus berlanjut. Bisa dipahami, saat kadar hemoglobin

menurun, apalagi menjadi 8 g/dL atau kurang, kecenderungan membutuhkan darah meningkat secara mencolok. Pasien diberikan transfusi darah jika dengan pemberian cairan kristaloid atau koloid bahaya anemia dan deperesi factor koagulasi mengharuskan dimulainya transfusi darah.

Referensi
http://www.scribd.com/doc/49637289/Reaksi-Transfusi http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/20/reaksi-transfusi-darah/ http://homepage.mac.com/tegtmeyer/residents/postop.html http://www.otsuka.co.id/?content=article_detail&id=219&lang=id
http://www.slideserve.com/presentation/146678/Fluid-Management

http://www.scribd.com/doc/61144137/Pediatric-Neuroanesthesia http://perawattegal.wordpress.com/2009/08/30/terapi-cairan-elektrolit-transfusi/
http://www.scribd.com/doc/53165599/Terapi-cairan-peri-intraoperative

10