Anda di halaman 1dari 5

2.

2 ANATOMI SINUS PARANASAL

Gambar 5 Anatomi Sinus Diunduh dari http://www.larianmd.com/images/large-allergy-sinus-01.jpg pada tanggal 21 Agustus 2009 pukul 23.42 Terdapat empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sphenoid kanan dan kiri. Ada 2 golongan besar sinus paranasalis, yaitu golongan anterior sinus paranasalis, yaitu sinus frontalis, sinus ethmoidalis anterior, dan sinus maksilaris. Serta golongan posterior sinus paranasalis, yaitu sinus etmoidalis posterior dan sinus sfenoidalis. (7,8,9) Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus memiliki muara atau ostium ke dalam rongga hidung. Sinus-sinus udara paranasalis berkembang sebagai divertikula dinding lateral hidung dan meluas ke dalam tulang maksila, tulang etmoid frontalis, dan tulang sfenoid. Sinus-sinus ikut membentuk wajah yang tetap. (3,9) 2.2.1 Sinus Maksilaris (7,8)

Sinus maksilaris (Antrum of Highmore) adalah sinus yang pertaama berkembang. Struktur ini pada umumnya berisi cairan pada kelahiran. Pertumbuhan dari sinus ini adalah bifasik dengan pertumbuhan selama 0-3 tahun dan 7-12 tahun. Sepanjang pneumatisasi kemudian menyebar ke tempat yang rendah dimana gigi yang permanen mengambil tempat mereka. Pneumatisasinya dapat sangat luas sampai akar gigi hanya satu lapisan yang tipis dari jaringan halus yang mencakup mereka. Sinus maksilaris orang dewasa berbentuk piramida dan mempunyai volume kira-kira 15 ml (34 x 33 x 23 mm). dasar dari piramida adalah dinding nasal dengan puncak yang menunjuk ke arah processus zigomatikum. Dinding anterior mempunyai foramen intraorbital yang berada pada bagian midsuperior dimana nervus intraorbital berjalan di atas atap sinus dan keluar melalui foramen ini. Bagian tertipis dari dinding anterior adalah sedikit diatas fossa canina. Atap dibentuk oleh dasar orbita dan di transeksi oleh n.infraorbita. dinding posterior tidak bisa ditandai. Di belakang dari

dinding ini adalah fossa pterygomaxillaris dengan a.maksilaris interna, ganglion sfenopalatina dan saluran vidian, n.palatina mayor dan foramen rotundum. Dasar dari sinus bervariasi tingkatannya. Sejak lahir sampai umur 9 tahun dasar dari sinus adalah di atas rongga hidung. Pada umur 9 tahun dasar dari sinus secara umum sama dengan dasar nasal. Dasar sinus berlanjut menjadi pneumatisasi sinus maksilaris. Oleh karena itu berhubungan dengan penyakit gigi di sekitar gigi rahang atas, yaitu premolar dan molar. Cabang dari a.maksilaris interna mendarahi sinus ini. Termasuk infraorbita, cabang a.sfenopalatina, a.palatina mayor, v.aksilaris dan v.jugularis system dural sinus. Sedangkan persarafan sinus maksila oleh cabang dari n.V.2 yaitu n.palatina mayor dan cabang dari n.infraorbita. Ostium sinus maksilaris terletak di bagian superior dari dinding medial sinus. Intranasal biasanya terletak pada pertengahan posterior infundibulum etmoid, atau disamping 1/3 bawah processus uncinatus. Ukuran ostium ini rata-rata 2,4 mm tapi dapat bervariasi. 88% dari ostium sinus maksilaris bersembunyi di belakang processus uncinatus sehingga tidak bisa dilihat secara endoskopi. 2.2.2 Sinus Etmoidalis (8)

Sinus etmoid adalah struktur yang berisi cairan pada bayi yang baru dilahirkan. Selama masih janin perkembangan pertama sel anterior diikuti oleh sel posterior. Sel tumbuh secara berangsurangsur sampai usia 12 tahun. Sel ini tidak dapat dilihat dengan sinar x sampai usia 1 tahun. Septa yang ada secara berangsur-angsur menipis dan pneumatisasi berkembang sesuai usia. Sel etmoid bervariasi dan sering ditemukan di atas orbita, sfenoid lateral, ke atap maksila dan sebelah anterior diatas sinus frontal. Peyebaran sel etmoid ke konka disebut konka bullosa. Gabungan sel anterior dan posterior mempunyai volume 15 ml (33 x 27 x 14 mm). Bentuk ethmoid seperti piramid dan diabgi menjadi sel multipel oleh sekat yang tipis. Atap dari ethmoid dibentuk oleh berbagai struktur yang penting. Sebelah anterior posterior agak miring (15o). 2/3 anterior tebal dan kuat dibentuk oleh os frontal dan foveola etmoidalis. 1/3 posterior lebih tinggi sebelah lateral dan sebelah medial agak miring ke bawah ke arah lamina kribiformis. Perbedaan berat antara atap medial dan lateral bervariasi antara 15-17 mm. sel etmoid posterior berbatasan dengan sinus sfenoid.

Gambar 6 Struktur Terkait Sinus Ethmoidalis Diunduh dari http://dic.academic.ru/pictures/enwiki/71/Gray856.png pada tanggal 22 Agustus pukul 18.40 Sinus etmoid mendapat aliran darah dari a.karotis eksterna dan interna dimana a.sfenopalatina dan a.oftalmika mendarahi sinus dan pembuluh venanya mengikuti arterinya. Sinus etmoid dipersarafi oleh n V.1 dan V.2, n V.1 mensarafi bagian superior sedangkan sebelah inferior oleh n V.2. persarafan parasimpatis melalui n.vidianus, sedangkan persarafan simpatis melalui ganglion servikal. Sel di bagian anterior menuju lamela basal. Pengalirannya ke meatus media melalui infundibulum etmoid. Sel yang posterior bermuara ke meatus superior dan berbatasan dengan sinus sfenoid. Sel bagian posterior umumnya lebih sedikit dalam jumlah namun lebih besar dalam ukuran dibandingkan dengan sel bagian anterior. Bula etmoid terletak diatas infundibulum dan permukaan lateral inferiornya, dan tepi superior prosesus uncinatus membentuk hiatus semilunaris. Ini merupakan sel etmoid anterior yang terbesar. Infundibulum etmoid perkembanganya mendahului sinus. Dinding anterior dibentuk oleh prosesus uncinatus, dinding medial dibentuk oleh prosesus frontalis os maksila dan lamina papyracea. 2.2.3 Sinus Frontalis (7,8)

Sinus frontalis sepertinya dibentuk oleh pergerakan ke atas dari sebagian besar sel-sel etmoid anterior. Os frontal masih merupakan membran pada saat kelahiran dan mulai mengeras sekitar usia 2 tahun. Perkembangan sinus mulai usia 5 tahun dan berlanjut sampai usia belasan tahun. Volume sinus ini sekitar 6-7 ml (28 x 24 x 20 mm). anatomi sinus frontalis sangat bervariasi tetapi secara umum ada dua sinus yang terbentuk seperti corong. dinding posterior sinus yang memisahkan sinus frontalis dari fosa kranium anterior lebih tipis dan dasar sinus ini juga berfungsi sebagai bagian dari atap rongga mata. Sinus frontalis mendapatkan perdarahan dari a.oftalmika melalui a.supraorbita dan supratrochlear. Aliran pembuluh vena melalui v.oftalmica superior menuju sinus kavernosus dan melalui vena-vena kecil di dalam dinding posterior yang mengalir ke sinus dural. Sinus frontalis dipersarafi oleh cabang n V.1. secara khusus, nervus-nervus ini meliputi cabang supraorbita dan supratrochlear. 2.2.4 Sinus Sfenoidalis (8)

Sinus sfenoidalis sangat unik karena tidak terbentuk dari kantong rongga hidung. Sinus ini dibentuk dalam kapsul rongga hidung dari hidung janin. Tidak berkembang sampai usia 3 tahun. Usia 7 tahun pneumatisasi telah mencapai sela turcica. Sinus mencapai ukuran penuh pada usia 18 tahun.

Gambar 7 Struktur terkait Sinus Sfenoid Diunduh dari http://www.nyee.edu/images/ent_rss_sts_008.jpg pada tanggal 22 Agustus pukul 18.42 Usia belasan tahun, sinus ini sudah mencapai ukuran penuh dengan volume 7,5 ml (23 x 20 x 17 mm). pneumatisasi sinus ini, seperti sinus frontalis, sangat bervariasi. Secara umum merupakan struktur bilateral yang terletak posterosuperior dari rongga hidung. Dinding sinus sphenoid bervariasi ketebalannya, dinding anterosuperior dan dasar sinus paling tipis (1-1,5 mm). dinding yang lain lebih tebal. Letak dari sinus oleh karena hubungan anatominya tergantung dengan tingkat pneumatisasi. Ostium sinus sfenoidalis bermuara ke recessus sfenoetmoidalis. Ukurannya sangat kecil (0,5 -4 mm) dan letaknya 10 mm di atas dasar sinus. Atap sinus sfenoid diperdarahi oleh a.ethmoid posterior, sedangkan bagian lainnya mendapat aliran darah dari a.sfenopalatina. Aliran vena melalui v.maksilaris ke v.jugularis dan pleksus pterigoid. sinus sfenoid dipersarafi oleh cabang n V.1 dan V.2. n.nasociliaris berjalan menuju n.etmoid posterior dan mempersarafi atap sinus. Cabang-cabang n.sfenopalatina mempersarafi dasar sinus. 2.2.5 Mukosa Sinus Paranasal (4,8)

Sinus-sinus ini dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang berkesinambunagn dengan mukosa di rongga hidung. Epitel sinus ini lebih tipis dari epitel hidung. Ada 4 tipe sel dasar, yaitu epitel torak bersilia, epitel torak tidak bersilia, sel basal dan sel goblet. Sel-sel bersilia memiliki 50200 silia per sel. Data penelitian menunjukan sel ini berdetak 700-800 kali per menit, dan pergerakan mukosa pada suatu tingkat 9 mm per menit. Sel tidak bersilia ditandai oleh mikrovili yang menutupi daerah apikal sel dan berfungsi untuk meningkatkan area permukaan. Ini penting untuk meningkatkan konsentrasi dari ostium sinus. Fungsi sel basal belum diketahui. Beberapa teori menjelaskan bahwa sel basal dapat bertindak sebagai suatu sel stem. Sel goblet memproduksi glikoprotein yang berfungsi untuk viskositas dan elastisitas mukosa. Sel goblet dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis dimana rangsangan saraf parasimpatis menhasilkan mukus yang kental dan rangsangan saraf simpatis bekerja sebaliknya. Lapisan epitel disokong oleh suatu dasar membran yang tipis, lamina propia, dan periosteum.