Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH

PERHITUNGAN BPM DAN BPA SUATU INDUSTRI

Oleh: Helmas Dwi Antoro Tanjung NIM A1H009041

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOERDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2012

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kualitas air menyatakan tingkat kesesuaian air untuk dipergunakan bagi pemenuhan tertentukehidupan manusia, seperti untuk air minum, mengairi tanaman, minuman ternak dan sebagainya. Salah satu potensi sumber daya air yang strategis dan banyak dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas pembangunan adalah air sungai. Air sungai merupakan sumberdaya alam yang potensial menerima beban pencemaran limbah kegiatan manusia seperti: kegiatan industri, pertanian, peternakan dan rumah tangga. Akibat menurunnya kualitas air, kuantitas air yang memenuhi kualitas menjadi berkurang. Mengingat sungai merupakan sumberdaya air yang penting untuk menunjang pembangunan ekonomi dan kesejahteraan manusia, maka fungsi sungai sebgai sumberdaya air harus dilestarikan agar dapat menunjang pembangunan secara berkelanjut Menurut Direktorat Pengendali Masalah Air (1975) dalam Wardhani (2002), pencemaran air merupakan segala pengotoran atau penambahan organisme atau zat-zat lain ke dalam air, sehingga mencapai tingkat yang mengganggu penggunaan dan pemanfaatan serta kelestarian perairan tersebut. Masalah pencemaran air berhubungan erat dengan kualitas air. Data kualitas air dibutuhkan dalam manajemen sungai sebagai dasar untuk penentuan karakteristik fisik dan kimia sungai B. Tujuan 1. 2. 3. Menentukan BPM suatu limbah industry. Menetukan BPA suatu limbah industry. Meyimpulkan apakah industry tersebut memenuhi baku mutu limbah cair.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Limbah adalah sesuatu yang tidak berguna, tidak memiliki nilai ekonomi dan akan dibuang, apabila masih dapat digunakan maka tidak disebut limbah. Proses pembersihan mesinmesin di berbagai percetakan kebanyakan menggunakan minyak tanah, bensin dan terpentin sebagai pelarut tinta. Mesinmesin harus selalu dibersihkan karena penggunaan tinta dengan berbagai macam warna. Apabila pelarut tinta tersebut tidak memiliki nilai ekonomis sama sakali, maka pelarut tersebut disebut limbah. Tetapi apabila pelarut tersebut dapat diolah kembali dengan cara distilasi, maka pelarut bukan merupakan limbah. Jenis limbah cair pada dasarnya ada 2 yaitu limbah industri dan limbah rumah tangga. Limbah cair yang termasuk limbah rumah tangga pada dasarnya hanya mengandung zat-zat organik yang dengan pengolahan yang sederhana atau secara biologi dapat menghilangkan poluten yang terdapat di dalamnya (Ginting,1992)
Pengolahan limbah cair industri pada hakekatnya adalah suatu perlakuan tertentu yang harus diberikan pada limbah cair sebelum limbah tersebut terbuang ke lingkungan penerima limbah. Untuk dapat menentukan secara tepat perlakuan yang sebaiknya diberikan pada limbah cair, terlebih dahulu diketahui secara tepat karakteristik dari limbah melalui berbagai penetapan berbagai parameter untuk mengetahui macam dan jenis komponen pencemar serta sifat-sifatnya. Pengolahan limbah cair meliputi pengolahan fisika, pengolahan kimia dan pengolahan biologis. Pengolahan fisika dilakukan terhadap air limbah dengan kandungan bahan limbah yang dapat dipisahkan secara mekanis langsung.Pengolahan secara kimia merupakan proses dimana perubahan, penguraian ataupemisahan bahan yang tidak diinginkan berlangsung karena mekanisme reaksi kimia. Proses pengolahan limbah cair secara biologis dilakukan denganmemanfaatkan aktivitas mikroorganisme (bakteri, ganggang, protozoa, dll) untukmenguraikan atau merombak senyawa-senyawa organik dalam air menjadi zat-zat yang lebih sederhana (stabil).

IPAL adalah salah satu teknologi pengolahan limbah cair industri yang bertujuan untuk menghilangkan/memisahkan cemaran dalam air limbah sebelum

dibuang ke lingkungan sampai memenuhi baku mutu lingkungan. IPAL yang baik adalah IPAL yang memiliki kriteria : Sedikit memerlukan perawatan Aman dalam pengoperasiannya Less biaya energy Less product excess (produk sampingan) seperti lumpur atau sludge IPAL
Penerapan baku mutu limbah cair pada pembungan limbah cair melalui penetapan beban pencemaran maksimum. Perhitungan sebagai berikut: 1. Beban pencemaran maksikum BPM = (Cm)j x Dm X A x f dimana : BPM (Cm)j Dm A f 2. = beban pencemaran maksimum yang di peroleh, dalam kg parameter per hari. = kadar maksimum parameter J, dalam mg/l. = debit limbah cair maksimum dalam L limbah cair perdetik per hektar. = luas lahan yang terpakai (Ha) = factor konversi (0,086)

Beban pencemaran sebenarnya BPA = (CA)j x (DA) x f dimana : BPA (Cm)j DA f = Beban pencemaran sebenarnya (kg/hari) = kadar maksimum parameter J, dalam mg/l. = debit limbah cair sebenarnya (L/detik) = factor konversi (0,086)

III.

METODOLOGI

A. Alat dan Bahan Alat dan bahan digunakan dalam praktikum kali ini adalah alat tulis dan jurnal Pengolahan Limbah Cair Pada Industri Penyamakan Kulit Industri Pulp Kertas dan Industri Kelapa Sawit B. Prosedur Kerja 1. Menghitung besarnya beban pencemaran maksimum dari sampel sesuai ketentuan Keputusan Mentri Lingkungan Hidup No: 03/MENLH/1998 2. Menghitung besarnya beban pencemaran sebenarnya dari sampel sesuai dengan keteentuan Keputusan Mentri Lingkungan Hidup No: 03/MENLH/1998 3. Menentukan apakah sampel limbah sudah memenuhi standar baku muu limbah cair.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil (Terlampir) B. Pembahasan

Dari hasil perhitungan di dapatkan hasil BPM untuk BOD adalah 645 kg/hari, BPA untuk BOD adalah 903/hari, BPM untuk COD adalah 1.290 kg/hari dan BPA untuk COD adalah 1.806 kg/hari. Dari hasil perhitungan tersebut didaptakan hasil BPA lebih besar dari pada BPM ini menunjukan bahwa IPAL yang digunakan pada industry tersebut tidak sesuai. IPAL adalah salah satu teknologi pengolahan limbah cair industri yang bertujuan untuk menghilangkan/memisahkan cemaran dalam air limbah sebelum dibuang ke lingkungan sampai memenuhi baku mutu lingkungan. IPAL yang baik adalah IPAL yang memiliki kriteria : 1. 2. 3. 4. Sedikit memerlukan perawatan Aman dalam pengoperasiannya Less biaya energy Less product excess (produk sampingan) seperti lumpur atau sludge IPAL Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya BPM dan BPA adalah : Luas lahan yang terpakai untuk IPAL. Debit aliran. Kadar maksimum parameter limbah. Keadaan atau kondisi IPAL. Air limbah memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan sifatnya. Karaketr air limbah meliputi sifat fisika, kimia, dan biologi.Dengan mengetahui jenis polutan yang terdapat dalam air limbah, dapat ditentukan unit proses pengolahan limbah yang dibutuhkan.

A. Karakter Fisika Karaketer fisika air limbah meliputi temperature, bau, warna, dan padatan. Temperatur menunjukkan derajat atau tingkat panas air limbah yang diterakan ke dalam skala-skala. Temperatur merupakan parameter yang penting dalam pengoperasian unit pengolahan limbah karena berpengaruh terhadap proses biologi dan fisika. Bau merupakan parameter yang subjektif. Pengukuran bau tergantung pada sensivitas indra penciuman seseorang. Kehadiran bau menunjukkan adanya komponenkomponen lain dalam air. Misalnya, bau seperti telur busuk menunjukkan adnya hydrogen sulfide yang dihasilkan oleh permukaan zat-zat organic dalam kondisi anerobik. Pada air limbah, warna biasanya disebabkan oleh kehadiran materi-materi dissolved, suspended, dan senyawa-senyawa koloidal yang dapat dilihat dari spectrum warna yang terjadi. Padatan yang terdapat dalam air limbah dapat diklasifikasikan menjadi floating, settleable, suspended, atau dissolved (Sugiharto,1987) . Karakter Kimia Karakter kimia air limbah senyawa organik dan senyawa anorganik Senyawa organik adalah karbon yang dikombinasi dengan satu atau lebih elemen-elemen lain (O, N, P, H). Senyawa anorganik terdiri dari kombinasi elemen yang bukan tersusun dari karbon organik. a. Biological Oxygen Demand (BOD) Menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk menguraikan atau mengoksidasi bahanbahan buangan di dalam air b. Chemical Oxygen Demand (COD) Merupakan jumlah kebutuhan oksigen dalam air untuk proses reaksi secara kimia guna menguraikan unsur pencemar yang ada. COD dinyatakan dalam ppm (part per milion) atau ml O2/ liter.(Alaerts dan Santika, 1984). c. Dissolved Oxygen (DO) Merupakan kadar oksigen terlarut yang dibutuhkan untuk respirasi aerob mikroorganisme. DO di dalam air sangat tergantung pada temperature.

d. Derajat keasaman (pH) pH dapat mempengaruhi kehidupan biologi dalam air. Bila terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat mematikan kehidupan mikroorganisme. Ph normal untuk kehidupan air adalah 68. e. Logam Berat Logam berat bila konsentrasinyaberlebih dapat bersifat toksik sehingga diperlukan pengukuran dan pengolahan limbah yang mengandunglogam berat. f. Ammonia Amonia adalah penyebab iritasi dan korosi, meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme dan mengganggu proses desinfeksi dengan chlor (Soemirat, 1994). Ammonia terdapat dalam larutan dan dapat berupa senyawa ion ammonium atauammonia. tergantung pada pH larutan. g. Sulfida Sulfat direduksi menjadi sulfida dalam sludge digester dan dapat mengganggu proses pengolahan limbah secara biologi jika konsentrasinya melebihi 200 mg/L. Gas H2S bersifat korosif terhadap pipa dan dapat merusak mesin (Sugiharto, 1987). h. Fenol Fenol mudah masuk lewat kulit. Keracunan kronis menimbulkan gejala gastero intestinal, sulit menelan, dan hipersalivasi, kerusakan ginjal dan hati, serta dapat menimbulkan kematian (Soemirat, 1994). Dalam Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan pada pasal 22 ayat 23 mengatakan bahwa Penyehatan Air meliputi pengamanan dan penetapan kualitas air untuk berbagai kebutuhan hidup manusia. Upaya penyehatan air bertujuan untuk menjamin tersedianya air minum ataupun air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan bagi seluruh masyarakat baik perkotaan maupun pedesaan. Untuk menjamin tersedianya kualitas air yang memenuhi persyaratan tersebut, berbagai upaya telah dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat, seperti pembangunan dan perbaikan sarana air bersih/air minum, Upaya pengawasan kualitas air dan penyuluhanpenyuluhan mengenai hubungan kesehatan dengan tersedianya air yang memenuhi persyaratan

kesehatan. Salah satu aspek yang sangat esensial untuk terjaminnya kualitas air yang memenuhi persyaratan tersebut adalah tersedianya suatu perangkat yang dapat nengatur dan mengawasi pihak yang memproduksi air dan pihak konsumen, yang meliputihak, kewajiban dan tanggung jawab masing-masing demi terjaminnya kuantitas dan kualitas air. Sejauh ini, beberapa Dati II di Indonesia telah mengembangkan dan membuat peraturan Daerah tentang pengawasan kualitas air di Dati II masing-masing, sebagian telah berjalan dengan cukup baik sisanya masih berupa SK kepala Daerah, sedangkan daerah lainnya masih belum mempunyai peraturan dimaksud. Melihat kondisi yang demikian, Departemen Kesehatan RI dalam hal ini Direktorat Jenderal PPM & PLP penyusun suatu pedoman teknis yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah sebagai acuan untuk menyusun Peraturan Daerah tentang pengawasan kualitas air di Dati II masing masing. Dari data yang di dapat dari PT. INDESO kita dapat mendapatkan hasil BPM sebsesar 593,4 kg/hari dan BPA sebesar 28,483 kg/hari. hasil ini menunjukan bahwa IPAL belum dibutuhkan untuk penangan limbah pada PT. INDESO.

V.

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan Dari hasil perhitungan di dapatkan hasil BPM untuk BOD adalah 645 kg/hari, BPA untuk BOD adalah 903/hari, BPM untuk COD adalah 1.290 kg/hari dan BPA untuk COD adalah 1.806 kg/hari. Dari hasil perhitungan tersebut didaptakan hasil BPA lebih besar dari pada BPM ini menunjukan bahwa IPAL yang digunakan pada industry tersebut tidak sesuai. B. Saran Dalam praktikum kali ini sebaiknya data yang dapat adalah data real yang kita dapat dari sebuah perusahan.

DAFTAR PUSTAKA

tmaji P., Wahyu P, dan Edi P.P., 1999, Daur Ulang Limbah Hasil Pewarnaan Industri Tekstil, jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, Vol.1, No.4 William, C.J., dan Hanan, A.S., 1986, Water Quality and Treatment, edisi ke-2, Mc Graw-Hill Book Company Inc, New York, pp: 87-96 Sugiharto, 1987, Dasar Dasar Pengolahan Air Limbah, Universitas Indonesia (UI-Press ): Jakarta. Metcalf dan Eddy, 1991, Wastewater Engineering Treatment Disposal Reuse, 3th ed. McGraw-Hill Book Co: Singapore. Ginting, P., 1992, Mencegah dan Mengendalikan Pencemaran Industri, Muliasari, Jakarta Darsono, V., 1995, Pengantar Ilmu Lingkungan Edisi Revisi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta.