Anda di halaman 1dari 26

DARAH DAN CAIRAN TUBUH A.

Cairan Intraseluler dan Cairan Ekstraseluler Lebih kurang 60% berat badan orang dewasa pada umumnya terdiri dari cairan (air dan elektrolit) (Anonim a, 2008). Dimana 40% nya merupakan cairan intrasel, sedangkan 20% nya merupakan cairan ekstrasel (Wiguna, 2009). Menurut Soewolo (2000), yang termasuk cairan ekstrasluler adalah : 1. Plasma darah, merupakan cairan tubuh yang terdapat di dalam jantung dan pembuluh darah, 2. Cairan interstisial (cairan jaringan), yaitu cairan tubuh yang terdapat di ruang antar sel, 3. Cairan limfa, merupakan cairan tubuh yang terdapat di pembuluh limfa dan organ limfatikus (nodus limfatikus, tonsil, timus, dan limfa), cairan serebrospinal (terdpat di dalam ruang-ruang otak dan kanal sentral sumsum tulang belakang), 4. Cairan sinovial, merupakan cairan tubuh yang terdapat di dalam rongga persendian, 5. Aquaus humour dan vitreus humor, merupakan cairan tubuh yang terdapat di dalam bola mata, 6. Endolimfa, merpakan cairan tubuh yang terdapat di dalam labirin membran, dan 7. Perilimfa, merupakan cairan tubuh yang terdapat di dalam labirin tulang. Cairan ekstrasel pada sel hidup terutama interstisial dan plasma merupakan tempat

pengambilan O2, zat nutrisi dan pembuang sisa metabolisme serta merupakan lingkungan hidup yang harus dijaga kelestariannya dengan cara homeostasis agar sel tetap hidup (Sudharmono, tanpa tahun). Zat yang terlarut dalam cairan tubuh terdiri atas elektrolit (substansi berupa ion-ion yang mampu menghantar listrik, misal Na+ dan Cl-) dan nonelektrolit (zat terlarut yang tidak terrurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik, misal H2O). Kation utama pada cairan ekstraseluler adalah natrium sedangkan anion utama adalah klorida dan bikarbonat. Pada cairan intraseluler kalium adalah kation utamanya dan fosfat (HPO4 = asam metafosfat) adalah anion utamanya. Natrium memegang peranan penting dalam mengendalikan volume cairan tubuh total sedangkan Kalium penting dalam pengendalian volume sel (Sudharmono tanpa tahun).

Mekanisme kerja dari Natrium dan Kalium dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh telah kita pelajari pada bab Homeostasis sebelumnya B. Volume Cairan Tubuh Volume cairan interstisial dan volume darah biasanya dinyatakan sebagai persentase berat tubuh dengan asumsi gaya tarik bumi sama dengan 1,0 (Soewolo, 2000). Pada burug dan mamalia, volume darah dan cairan interstisialnya berkisar antara 7-10% berat tubuhnya. Volume darah relatif lebh rendah pada spesies hewan yang ukuran tubuhnya besar dibandingan dengan yang berukuran kecil (Soewolo, 2000). Volume darah mungkin berbeda mungkin berbeda di bawah kondisi stress (tekanan/keadaan sulit). Pada daerah tinggi, volume plasma pada mamalia menurun, sel darah merah meningkat. Pada ketinggian 149.000 kaki (sekitar 4.400 m) di atas permukaan laut, volume darah mamalia secara keseluruhan meningkat menjadi 8,3% berat tubuhnya dibandingkan dengan pada permukaan laut hanya sebesar 7% (Soewolo, 2000). Volume darah sangat membantu memelihara tekanan darah normal, misalnya setelah pendarahan berat, sel darah dan cairan dituangkan ke dalam sirkulasi dari persediaan tubuh sperti spleen (limpa). Menurut Hizam (2007), persentase dari total cairan tubuh bervariasi sesuai dengan individu tergantung beberapa hal, antara lain : 1. Umur, 2. Kondisi lemak tubuh, dan 3. Jenis kelamin Menurut Faqih (2009) persentase dari total cairan tubuh pada manusia adalah sebagai berikut : Jenis Cairan Intraseluler Cairan Plasma Bayi Baru Lahir 40% 5% 35% 80% Usia 3 bulan 40% 5% 25% 70% Dewasa 40% 5% 15% 60% Lansia 27% 7% 18% 52%

Ekstravaskuler (intervaskuler) Interstisial Total Cairan

Pada orang dewasa, kira-kira 40% berat badannya atau 2/3 dari TBW (Total Body Water)-nya berada di dalam sel (cairan intraseluler), sisanya 1/3 dari TBW atau 20% dari berat badannya berada di luar sel (cairan ekstraseluler) yang terbagi dalam 15% cairan interstisial dan 5% cairan intravaskuler da 1-2% cairan transeluler (cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal dan sekresi saluran cerna) (Hizam, 2007). Ditinjau dari efisiensi penggunaan darah, suatu volume darah (yang bersirkulasi) sedikit lebih efisien daripad yang volumenya banyak, sebab darah dengan volume sedikit dipakai berkali-kali dalam waktu yang sama dibandingkan dengan yang volumenya banyak. Namun suatu volume darah yang banyak akan menjadi tempat persediaan cairan dari zat terlarut. Pada beberapa hewan, volume darah dapat berfungsi menjaga tekanan kerangka hidrostatik (Soewolo, 2000). C. Fungsi Darah Menurut Soewolo (2000), pada dasarnya darah memiliki 3 fungsi utama, yaitu sebagai alat untuk: (1) pengangkutan (transportasi), (2) pengaturan (regulasi), dan (3) perlindungan (proteksi). Sebagai alat transportasi, darah berfungsi untuk mengedarkan berbagai zat yang diperlukan ke seluruh tubuh dan pengambilan zat-zat yang tidak diperlukan untuk dikeluarkan dari tubuh (Adhi, 2008). Menurut Adhi (2008), fungsi darah sebagai alat transportasi berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut : 1. Mengedarkan sari-sari makanan ke seluruh tubuh yang dilakukan oleh plasma darah, 2. Mengangkut sisa oksidasi dari sel tubuh untuk dikeluarkan dari tubuh yang dilakukan oleh plasma darah, karbon dioksida dikeluarkan melalui paru-paru, urea dikeluarkan melalui ginjal, 3. Mengedarkan hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar buntu (endokrin) yang dilakukan oleh plasma darah, 4. Mengangkut oksigen ke seluruh tubuh yang dilakukan oleh sel-sel darah merah, 5. Membunuh kuman yang masuk ke dalam tubuh yang dilakukan oleh sel darah putih, dan 6. Menutup luka yang dilakukan oleh keping-keping darah. Terkait fungsi darah sebagai alat transportasi, Soewolo (2000) menambahkan bahwa plasma darah juga berperan dalam mengangkut enzim ke tempat enzim-enzim itu bekerja.

Darah sebagai alat regulasi (lebih tepatnya pengaturan homeostasis) merupakan usaha hewan untuk mencapai keadaan seimbang dinamis dari lingkungan internal tubuhnya (Soewolo, 2000). Menurut Soewolo (2000), fungsi pengaturan ini meliputi : 1. Pengaturan kandungan air jaringan, air yang berada dalam cairan intraseluler maupun interstisial sebenarnya berasal dari darah. Tekanan hidostatik darah meyebabkan terjadinya filtrasi zat-zat dari dalam kapiler, sedangkan protein yang berukuran besar yang tetap tinggal dalam darah menyebabkan pengembalian secara osmotik dari cairan interstisial ke dalam kapiler. Oleh karena itu perubahan pasif dan pengaturan (regulasi), sebagian besar tergantung pada komposisi darah, 2. Pengaturan suhu tubuh, air adalah zat yang dapat menyerap banyak panas dengan sedikit saja mengalami perubahan suhu. Air plsma akan menyerap kelebihan panas metabolik, kemudian mengangkutnya ke ulit dan paru-paru untuk dibuang, dan 3. Pengaturan pH, keasaman darah (pH darah) harus di jaga dalam rentangan tertentu untuk menunjang fungsi darah secara maksimal. Tugas ini sangat tergantung pada berbagai garam anorganik, protein plasma, dan sel-sel. Fungsi darah yang terakhir adalah sebagai alat proteksi (perlindungan), terkait fungsi darah sebagai perlindungan ini dilakukan terutama oleh trombosit (pembekuan darah dan menutup luka), dan leukosit (fagositik zat-zat asing dan produksi antibodi) (Soewolo, 2000). D. Komposisi Darah Darah vertebrata merupakan jaringan cair yang kompleks, terdiri atas unsur seluler khusus yang larut dalam suatu jaringan kompleks yang dikenal sebagai plasma. Terdapat tiga macam unsur seluler: (1) sel darah merah (eritrosit), (2) sel darah putih (leukosit), (3) keeping darah (trombosit atau platelets). Lebih dari 99% unsure seluler adalah eritrosit (Soewolo, 2000). Darah tersusun atas plasma cair (55 %), yang komponen utamanya adalah air, dan sel-sel yang mengambang di dalamnya (45%). Plasma kaya akan protein-protein terlarut lipid, dan karbohidrat. Limfe sangat mirip dengan plasma, hanya saja kosentrasinya sedikit lebih rendah total tubuh darah sendiri merupakan satu per dua belas berat tubuh, dan pada manusia umumnya volume darah adalah kurang dari lima liter (George, 1999 dalam Shofwan, 2010). Bila suatu sampel darah ditempatkan dalam tabung sentrifuge atau tabung khusus untuk menentukan hematokrit (tabung Wintrobe), dan diberi perlakuan agar tidak membeku, kemudian

dipusingkan, maka unsure-unsur yang ber akan mengendap ke dasar tabung dan plasma yang lebih ringan berada di bagian atas.

Sumber :
http://1.bp.blogspot.com/_4IwHTsRufBg/S57Ol4Vxr8I/AAAAAAAACXM/IEYjFOUbIHQ/s1600/PLASMA%2B DARAH.bmp

Leukosit dan trombosit yang tidak berwarna dan sedikit lebih ringan dari eritrosit, terkumpul dalam suatu lapisan tipis di atas kolom kumpulan eritrosit. Volumenya 1% dari keseluruhan volume darah. Bagian yang mengendap tersebut tersusun sel-sel darah dan terutama adalah eritrosit ( 99%) (Soewolo, 2000). Persentase volume eritrosit dari suatu volume darah ini disebut hematokrit. Hematokrit darah manusia untuk wanita rata-rata 42% dan pada pria lebih tinggi 45%, sedangkan volume plasma rata-rata 58% pada wanita dan 55% pada pria. Hematokrit tidak merata di seluruh bagian tubuh, darah vena mempunyai hematokrit sedikit lebih besar dari darah arteri. Hematokrit pada ginjal sekitar 20% sedangkan pada limpa sekitar 70% (Soewolo, 2000). E. Plasma Darah Plasma darah yaitu cairan tidak berwarna dalam darah yang berfungsi mengangkut air, mineral, ion dan sari-sari makanan ke seluruh jaringan tubuh. Plasma darah mengandung beberapa senyawa baik anorganik maupun organik yang meliputi antara lain : Protein darah, sari makanan, garam mineral, getah sekret sel seperti enzim, hormon, dan zat zat ekskresi (Mariam, tanpa tahun). Menurut Tenzer (1993) plasma darah terdiri atas : 1. Air 91 - 92 %,

2. Zat padat yang terlarut, meliputi protein plasma (albumin, globulin, fibrinogen, protrombin, tromboplastin protrombin, tromboplastin), glukosa, asam amino, lemak, elektrolit, serta berbagai zat organik dan anorganik yang lain, 3. Gas terlarut, terutama O2, CO2, dan N2, dan 4. Substansi-substansi lain, yaitu hormon, enzim, dan antibodi. Di dalam plasma darah terkandung segala bahan dan nutrisi dan sisa metbolisme yang akan diangkut ke/ dari seluruh sel tubuh. Protein darah memiliki berbagai fungsi, ntara lain sebagai pengangkut oksigen dan karbondioksida, sebagi buffer pH, sebagai cadangan makanan, menimbulkan tekanan osmotik, dan mekanisme pertahanan kekebalan tubuh. Pada banyak invertebrata tekanan osmotik darahnya dijaga oleh adanya asam amino bebas, bukan oleh protein (Soewolo, 2000). Kebanyakan hewan memiliki bermacam-macam protein dalam plasma darahnya. Pada vertebrata, protein tersebut meliputi: globulin, fibrinogen, hemoglobin, an berbagai macam albumin dan serum. Namun ada pula vertebrata yang hanya memiliki satu atau dua protein darah (Soewolo, 2000). F. Eritrosit Pada vertebrata dan beberap avertebrata, eritrosit disebut sel darah merah karena mengandung pigmen merah (hemoglobin) yang mempunyai afinitas besar terhadap O2 dan CO2 (Tenzer, 1993). Eritrosit dibentuk dalam sumsum merah tulang dari eritoblas yang berasal dari hemisitoblas. Pada mamalia, eritrosit dewasa kehilangan inti, mitokondria, ribosom dan beberapa enzim. Oleh karena itu ada yang kurang suka menyebut sebagai sel darah merah melainkan sebagai butir darah merah, karena sifat-sifat selnya telah hilang (Soewolo, 2000). Eritrosit berbentuk lempengan bikonkaf dengan rata- rata diameternya 8,1 m, ketebalan maksimum 2.7 m dan ketebalan minimum di bagian tengah lempengan kira-kira 1.0 m. Sel darah merah tidak berinti dan tidak dapat berproduksi atau melakukan metabolisme ekstensif. Air menempati 70% dari volume sel, dan hemoglobin ( Hb ) menempati 25% volume, sementara kandungan lain seperti protein dan lipid, termasuk kolesterol menempati sisa volume ( 5% ) (Anonim b, 2010). a. Produksi Eritrosit Konsentrasi eritrosit selalu mendekati normal, setiap perubahan dari nilai normal digunakan sebagai indikator bagi beberapa gangguan . nilai normal konstan konsentrasi eritrosit menggambarkan kenyataan bahwa laju produksi dan dektruksi sel benar-benar seimbang. Pria sehat mempunyai kira-kira 5 juta eritrosit dalam setiap mm3 darah.

Wanita sehat mempunyai kira-kira 4.5 juta eritrosit dalam setiap mm3 darah. Pengaruh kumulatif pemakaian dan perusakan mencapai derajad kritis bagi setiap sel, pada titik ini eritrosit dirusak dan dibersihkan dari peredaran oleh sel fagosit sistem retikuloendotelial (hati, limpa, sumsum tulang). Lama hidup eritrosit mengikuti distribusi dengan rata-rata lama hidup kira-kira 120 hari (Anonim b, 2010). Seiring dengan berjalannya waktu, eritrosit yang sudah tua, akan dihancurkan oleh sistem retikuloendothelial (hati, limpa, sumsum tulang). Protein yang dihasilkan akan dipecah menjadi asam amino yang dapat dipergunakan lagi. Sedangkan bagian heme dari Hb dipecah menjadi Fe dan biliverdin, yang nantinya diekskresikan melalui saluran empedu sebagai bilirubin (Anonim c, 2010). Proses lengkapnya bisa dilihat pada gambar berikut ini :

Sumber : http://drdjebrut.files.wordpress.com/2010/06/met-bilirubin1.jpg?w=307&h=654

Eritrosit baru disintesis di dalam sumsum merah tulang, suatu jarigan halus di dalam rongga tulang. Proses produksi eritrosit dikenal dengan nama eritropoiesis (Soewolo, 2000), dengan kecepatan produksi sekitar 10 juta eritrosit per detik, sama dengan penghancuran eritrosit tua. Di samping memproduksi eritrosit, sumsum merah tulang juga memproduksi leukosit dan trombosit dari sel induk yang sama, yaitu proeritoblas dan hemositoblas. Proses produksi darah ini disebut hematopoiesis (Soewolo, 2000).

Gambar bagan hematopoiesis


Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/4a/Hematopoiesis_simple.png

b. Pengaturan Eritropoiesis Eritropoesis dimulai dari transformasi hemositoblas menjadi rubriblas.

Selanjutnya sel intermediat lain terbentuk sampai tahap akhir pembentukan eritrosit tercapai. Sintesis Hb dan hilangnya inti menandai urut-urutan perkembangan

eritropoesis. Rubriblas menglami beberapa tahap diferensiasi dalam urut-urutan tersebut. Pertama-tama rubriblas berubah menjadi prorubrisit. Kemudian prorubrisit berkembang menjadi rubrisit, sel pertama dalam urutan yang mulai mensintesis Hb. Kemudian rubrisit berkembang menjadi metarubrisit. Dalam metarubrisit sintesi Hb ada tingkat meksimum dan inti hilang karena di buang. Pada tahap berikutnya, metarubrisit berkembang menjadi retikulosit yang seterusnya menjadi eritrosit, atau sel darah merah dewasa. (Anonim b, 2010).

Gambar Proses Eritropoiesis


Sumber: http://drdjebrut.files.wordpress.com/2010/06/erythropoiesis.jpg?w=532&h=355

Stimulus utama untuk meningkatkan produksi eritrosit adalah kekurangan O2 dalam jaringan (hipoksia) (Soewolo, 2000). Hipoksia ini menstimulus hati untuk melepas lebih banyak globulin dan juga menstimulus ginjal untuk memproduksi eritropoietik ginjal. Di dalam darah, globulin dan faktor eritopoietik ginjal aka berinteraksi membentuk eritropoietin. Hipoksia ini akan menstimulus ginjal untuk mensekresikan hormon eritropoietin (suatu glikoprotein) ke dalam darah. Eritopoietin ini selanjutnya akan menstimulus eritropoiesis dalam sumsum merah tulang. Eritroprotein mempengaruhi sel-sel induk untuk berdiferensiasi sampai terjadi eritrosit dewasa. Kenaikan jumlah eritropoiesis akan meningkatkan jumlah eritrosit yang

bersirkulasi, dengan demikian akan meningkatkan kapasitas darah membawa O2 ke jaringan normal (hipoksia teratasi), sekresi eritroprotein berhenti sampai diperlukan lagi (Soewolo, 2000). c. Hemolisis da Krenasi Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas ke dalam medium sekelilingnya (plasma). Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan larutan NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya (Anonim d, 2008). Peristiwa sebaliknya dari hemolisis adalah krenasi, yaitu peristiwa mengkerutnya membran sel akibat keluarnya air dari dalam eritrosit. Krenasi dapat terjadi apabila eritrosit dimasukkan ke dalam larutan yang hipertonis terhadap isi eritrosit, misalnya untuk eritrosit hewan homoioterm adalah larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,9%, sedangkan untuk hewan poikiloterm adalah larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,7% (Soewolo, 2000). d. Kerapuhan Eritrosit Eritrosit dapat mengalami lisis oleh obat dan infeksi. Kerentanan eritrosit terhadap hemolisis oleh zat ini ditingkatkan oleh defisiensi enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenasi, yang mengkatalisis tahap awal dalam oksidasi glukosa melalui lintasan heksosamonofosfat. Lintasan ini membentuk NADPH, yang diperlukan untuk memelihara kerapuhan eritrosit yang normal (Anonim e, 2010). Tingkat kerapuhan eritrosit dapat ditentukan secara kuantitatif dengan cara menampung darah pada suatu cawan yang sudah dibubuhi antikoagulan (misalnya heparin). Kemudian menambahkan 0,1 ml sampel darah pada setiap tabung yang telah diisi dengan 2 ml larutan NaCl dengan kadar yang berbeda (dari 0% sampai 0,9%). Setelh kira-kira 10 menit, semua

tabung dimasukkan dalam sentrifuge kemudian membandingkan warna supernatant dengan warna larutn standar, dan juga membandingkan sisa eritrosit yang mengendap, maka dapat ditentukan tingkat kerapuhan membran eritrosit dari hewan yang dijadikan sampel tersebut (Soewolo, 2000). e. Pigmen Darah Warna darah disebabkan oleh adanya pigmen darah, yaitu suatu protein yang berfungsi mengangkut oksigen. Salah satunya adalah hemoglobin yang tersebar sangat luas dan dapat dijumpai pada hampir semua hewan. Pada vertebrata, hemoglobin berada dalam eritrosit, tetapi pada invertebrata hemoglobin dijumpai bebas di dalam plasma darah dan di dalam jaringan darah yang lain. Protein pigmen yang lain adalah hemosianin, khlorokruorin dan hemeritrin (Soewolo, 2000). Hemoglobin,adalah suatu protein yang membawa oksigen dan yang memberi warna merah pada sel darah merah (Barger, 1982 :171 dalam Saputri 2010). Jumlah hemoglobin dalam darah normal ialah 15 gram setiap 100 ml darah (Saputri, 2010). Menurut Costill (1998:48 dalam Saputri 2010), hemoglobin adalah zat yang terdapat dalam butir darah merah. Hemoglobin sebenarnya adalah merupakan protein globuler yang di bentuk dari 4 sub unit, dan setiap sub unit mengandung hame. Berat molekul setiap unit kurang lebih 17- 18 x 103 (Soewolo, 2000). Hame ini di buat dalam mitokokondria dan menambah acetid acid manjadi alpha ketoglutaricacid + glicine membentuk pyrrole compound menjadi protopophyrine II yang dengan Fe berubah menjadi hame. Selanjutnya 4 hame bersenyawa dengan globulin membentuk hemoglobin. Hemoglobin dibawa oleh sel darah merah (eritrosit) sirkulasi. Sirkulasi ini berputar selama kurang lebih 10 hari yang mengandung kira-kira 3 x 10 sel darah merah. Estimasi kasar kadar hemoglobin darah dapat diperoleh dari jumlah hematokrit atau dari jumlah darah dengan rekonsumsi tiap sel darah merah yang mempunyai haemoglobin normal (Astrand, 1986 : 131-132 dalam Saputri 2010). Globin terpisah dari hame dan terbentuk hemeatin, dalam besi hame dioksidasi menajadi besi III (feri). Kemudian cincin poriferin terbuka dan besi dilepaskan, disertai pembentukan komponen biliverdin berantai lurus. Ia dikonversi ke bilirubin dengan reduksi. Jalur minor mula-mula membuka cincin untuk membentuk koleglobin dan kemudian melapaskan besi dan globin untuk menghasilkan biliverdin globin dan kemudian

biliverdin. Besi dan asam-asam amino globin ditahan, kemudian cincin priol diekskresikan sebagai bilirubin. Laki-laki dewasa normal mengandung sekitar 800 gram haemoglobin (nilai rujukan di dalam darah: 13-18 g/dl), yang sekitas 7 g dihasilkan dan dirusak tiap hari. Pada wanita, hemoglobin tubuh total sekitar 600 g (nilai rujukan didalam darah: 11,5-16,5 g/dl) (V.O.Wiharmoko P, 2004: 15 dalam Saputri 2010). Hemosianin, adalah salah satu pigmen darah yang mengandung tembaga yang berfungsi mengangkut oksigen, contohnya terdapt pada Moluska seperti gastropoda dan cephalopoda. Hemosianin juga terdapat pada beberapa jenis arthropoda terutama yang masuk crustacea dan malacostraca, dan juga pada beberapa arachnida (Soewolo, 2000). Berat molekul hemosianin berkisar antara 1-7 x 106. Dalam keadaan teroksigenasi hemosianin berwarna biru, dan dalam keadaan terdeoksigenasi tidak berwarna atau putih (Soewolo, 2000). Hemosianin tidak pernah terdapat dalam sel, tetapi selalu dijumpai berada dalam plasma. Satu molekul hemosianin mengandung dua atom tembaga dan dapat berkombinasi dengan satu molekul oksigen (Soewolo, 2000). Hemeritrin, adalah pigmen darah yang tidak mengandung heme, dijumpai pada sipunkulida, priapulida, dan branchiopoda. Hemeritrin berwarna ungu bila teroksigenasi dan berwana kecoklatan bila terdeoksigenasi (Soewolo, 2000), terkandung di dalam selomisit-selomisit yang bersirkulasi dalam cairan selom. Berat molekul hemeritrit sekitar 1 x 105, dan setiap molekul mengandung beberapa atom besi, dan dua atau tiga atom besi berkombinasi dengan satu molekul oksigen (Soewolo, 2000). Khlorokruorin, memiliki struktur yang mirip dengan hemoglobin, kecuali pada kelompok heme-nya dimana satu gugus vinil diganti satu gugus formil. Pigmen ini berwana hijau, baik dalam keadaan teroksigenasi maupun terdeoksigenasi (Soewolo, 2000). Khlorokruorin dijumpai dalam plasma darah dua polichaeta laut, yaitu serpulidae dan sabellidae. Khlorokruorin memiliki berat molekul sekitar 3x 106, dan sepert pada hemoglobin setiap kelompok heme-nya dapat berikatan dengan satu molekul oksigen (Soewolo, 2000). f. Menghitung Sel Darah Di laboratorium, sel darah dapat dihitung dengan menggunakan hemasitometer. Hemasitometer terdiri dari pipet darah dan kaca yang memiliki petak-petak untuk

penghitungan (Soewolo, 2000). Pipet darah ada dua macam yaitu yang bertanda merah, digunakan untuk menghisap dan mengencerkan darah yang digunakan untuk penghitungan eritrosit, dan yang bertanda putih, digunakan untuk menghisap dan mengencerkan darah yang digunakan untuk penghitungan leukosit. G. Leukosit Leukosit merupakan nama lain untuk sel darah putih. Leukosit berfungsi mempertahankan tubuh dari serangan penyakit dengan cara memakan (fagositosis) penyakit tersebut. Itulah sebabnya leukosit disebut juga fagosit (Maddy, 2010). Menurut Soewolo (2000), fungsi pertahanan terhadap invasi benda asing seperti bakteri atau virus dilakukan dalam dua cara, yaitu : (1) dengan menelan dan mencerna benda asing melalui fagositosis, dan (2) melalui respon imun seperti produksi antibodi. Selain itu, menurut Soewolo (2000) leukosit memiliki beberapa sifat penting, yaitu (1) mampu bergerak seperti amoeba dengan membentuk kaki-kaki semu, (2) khemotaksis, yaitu Leukosit berukuran lebih besar dari eritrosit dan terdapat dalam sistem peredaran darah maupun sistem peredaran darah limfe. Tiap mm3 darah manusia mengandung 5.000-10.000 leukosit (Tenzer, 1993).mampu bergerak kea rah luka atau peradangan, (3) fagositosis, yaitu mampu memfagosit benda-benda asing yang masuk tubuh, dan (4) diapedesis, yaitu kemampuan untuk menembus dinding kapiler menuju cairan jaringan.

Gambar Proses Fagositosis


Sumber: http://www.fkh.unair.ac.id/materi/Materi%20kuliah%202010/BAHAN%20AJAR%20FISIOLOGI%20VE TERINER/DARAHFKH.ppt

a. Macam-Macam Leukosit Tidak seperti eritrosit yang memiliki struktur dan fungsi yang samadengan jumlah yang konstan, leukosit bervariasi dalam struktur, fungsi dan jumlah. Terdapat lima jenis leukosit yang bersirkulasi dalam darah, yaitu : neutrofil, eusinofil, basofil, monosit, dan limfosit, yang masing-masing memiliki struktur dan fungsi sendiri-sendiri (Soewolo, 2000). Berdasarkan ada tidaknya granula di dalam plasma, leukosit dibagi menjadi : 1. Leukosit bergranula (granulosit polimorfonuklear) Neutrofil, netral dan tidak menyerap warna, Eosinofil, memiliki afinitas terhadap warna merah (sifat asam), dan Basofil, memiliki afinitas terhadap warna biru (sifat basa). 2. Leukosit tidak bergranula (agranulosit mononuklear) Limfosit Monosit

Gambar Elemen-Elemen Seluler Darah


Sumber : http://www.fkh.unair.ac.id/materi/Materi%20kuliah%202010/BAHAN%20AJAR%20FISIOLOGI%20VE TERINER/DARAHFKH.ppt

b.

Produksi Leukosit Leukosit diproduksi dengan kecepatan berbeda-beda tergantung pada perubahan kebutuhan dalam tubuh. Pada dasarnya semua leukosit berasal dari sel-sel induk yang belum berdiferensiasi (sel-sel batang) yang sama dengan sel induk yang menurunkan eritrosit dan trombosit. Bakal leukosit yang merupakan

diferensiasi sel-sel batang, selanjutnya berdiferensiasi lai dengan cepat menjadi berbagai macam leukosit di bawah faktor yang tepat (Soewolo, 2000). Granulosit dan monosit hanya diproduksi di dalam sumsum merah tulang, yang kemudian dibebaskan ke dalam darah. Limfosit selain diturunkan dari sel-sel prekursor dalam sumsum merah tulang, juga diproduksi oleh limfosit-limfosit yang telah ada dalam organ-organ limfoid, seperti nodus limfa dan tonsil. Leukosit merupakan elemen seluler dalam darah yang relatif sangat sedikit dibandingkan dengan eritrosit (1/700 jumlah eritrosit), hal ini bukan karena leukosit diproduksi lebih sedikit, tetapi sebagian leukosit berada dalam jaringan. Normalnya kira-kira 2/3 leukosit yang bersirkulasi adalah granulosit yang kebanyakan adalah neutrofil, sedangkan 1/3 sisanya adalah agranulosit, yang kebanyakan adalah limfosit (Soewolo, 2000). H. Trombosit dan Hemostasis a. Trombosit, adalah sel anuklear (tidak mempunyai nukleus pada DNA-nya) dengan bentuk tak beraturan dengan ukuran diameter 2-3 m yang merupakan fragmentasi dari megakariosit pendahulunya (Andy, 2010). Keping darah tersirkulasi dalam darah dan terlibat dalam mekanisme hemostasis tingkat sel yang menimbulkan pembekuan darah (trombus). Disfungsi atau jumlah keping darah yang sedikit dapat menyebabkan pendarahan, sedangkan jumlah yang tinggi dapat meningkatkan risiko trombosis. Trombosit memiliki bentuk yang tidak teratur, tidak berwarna, tidak berinti, berukuran lebih kecil dari eritrosit dan leukosit, dan mudah pecah bila tersentuh benda kasar. Trombosit berjumlah 250.000 samapai 4000.000 per milimeter3. Bagian ini merupakan fragmen sel tanpa nukleus yang berasal dari megakariosit dalam sumsum tulang (Andy, 2010). b. Hemostasis Hemostasis, adalah mencegah pendarahan pada pembuluh darah yang rusak, atau menghentikan pendarahan (Soewolo, 2010). Bila terjadi luka pada suatu pembuluh darah tentu akan terjadi kerusakan pada dindingnya, dan tekanan darah yang lebih besar dalam pembuluh darah akan mendorong darah keluar dari pembuluh. Mekanisme hemostatik secara normal menjaga

kehilangan darah dari luka tersebut. Menurut Soewolo (2000), ada tiga tahap dalam hemostasis, yaitu : (1) kekejangan pembuluh darah, (2) pembentukan sumbat trombosit, dan (3) pembekuan darah. c. Kekejangan Pembuluh Darah Jika pembuluh darah terpotong, trombosit pada sisi yang rusak melepaskan serotonoi dan tromboksan A2 (prostagladin), yang menyebabkan otot polos dinding pembuluh darah berkontraksi. Hal ini pada awalnya akan mengurangi darah yang hilang (Andy, 2010). d. Pembentukan Sumbat Trombosit Menurut Soewolo (2000), trombosit secara normal tidak melekat pada permukaan endothelial pembuluh darah yang halus, tetapi bila permukaan endothelial hilang karena pembuluh luka, maka trombosit akan melekat pada serabut kolagen yang muncul di bawah jaringan ikat. Trombosit yang pecah pada luka akan membebaskan beberapa zat kimia penting dari granula penimbunnya.

Gambar Agregasi Trombosit


Sumber : http://www.fkh.unair.ac.id/materi/Materi%20kuliah%202010/BAHAN%20AJAR%20FISIOLOGI%20VE TERINER/DARAHFKH.ppt

Diantara zat kimia tersebut adalah ADP yang menyebabkan permukaan trombosit yang bersirkulasi di dekatnya menempel pada lapisan trombosit yang berkumpul sebelumnya. Lebih banyak ADP dibebaskan dari kumpulan trombosit yang baru menyebabkan lebih banyak trombosit yang mengumpul, dan seterusnya secara cepat membentuk suatu sumbat pada tempat luka dalam suatu keadaan umpan balik positif. Ditambahkan oleh Soewolo (2000), sumbat trombosit secara fisik tidak hanya menuup pembuluh, tetapi juga memiliki tiga peranan penting lainnya. Pertama, protein kompleks aktin miosin di dalam trombosit beragregasi, berkontraksi memadat dan menguat. Kedua, zat kimia yang dibebaskan dari sumbat trombosit (serotonin, epinefrin, dan tromboksan A2) menyebabkan vasokontriksi pembuluh. Ketiga, sumbat trombosit membebaskan zat kimia lain yang mempercepat koagulasi darah (tahap berikutnya dari hemostasis). Mekanisme penyumbatan oleh trombosit cukup baik untuk menutup kapiler-kapiler kecil, namu pada pembuluh besar untuk menghentikan pendarahan secara lengkap diperlukan pembentukan suatu bekuan darah (Soewolo, 2000). e. Pembekuan (Koagulasi) Darah Pembekuan darah adalah adalah perubahan bentuk darah dari bentuk cair menjadi gel padat. Pembentukan suatu bekuan diatas sumbat trombosit akan menguatkan dan menyangga sumbat di atas pembuluh yang rusak. Pembekuan darah merupakan mekanisme homeostatik yang sangat penting untuk menghentkan pendarahan pada luka yang besar (Soewolo, 2000). Factor-faktor yang terlibat dalam proses pembekuan darah menurut Soewolo (2000), yaitu : (1) Faktor I (fibrinogen, (2) Faktor II (protrombin), (3) Faktor III (tromboplastin), (4) Faktor IV (ion kalsium), (5) Faktor V (faktor labil), (6) Faktor VII ( faktor stabil, otoprotrombin I), (7) Faktor VIII (faktor antihemofilia, globalinantihemofilia), (8) Faktor IX (fakor Christmas, otoprotrombin II), (9) Faktor X (faktor Stuart-Power), (10) Faktor XI, diperlukan untuk pembentukan aktifator protrombin dari komponen darah, (11) Faktor XII, terdapat dalam plasma maupun serum, dan (12) Faktor XIII (faktor penstabil fibrin), menyebabkan polimerisasi fibrin yang larut menjadi fibrin

yang tidk larut. Tahap puncak proses pembekuan darah adalah perubahan fibrinogen menjadi fibrin.

Gambar Peranan Trombin


Sumber : http://www.fkh.unair.ac.id/materi/Materi%20kuliah%202010/BAHAN%20AJAR%20FISIOLOGI%20VE TERINER/DARAHFKH.ppt

Selain itu, menurut Soewolo (2000), selain mengubah fibrinogen menjadi fibrin, maka trombin juga, (1) mengaktifkan faktor XIII untuk menstabilkan jarring fibrin yang dihasilkan, (2) menambah agregasi trombosit, yang selanjutnya sangat penting dalam proses pembekuan, dan (3) bekerja dalam suatu mekanisme umpan balik positif untuk melayani pembentukannya sendiri. f. Hemofilia Hemofilia adalah suatu keadaan dimana darah gagal membeku pada saat terjadi luka, yang mengakibatkan terjadinya pendarahan yang berlrbihan (Soewolo, 2000). Hemofilia disebabkan adanya defisiensi salah satu faktor pembeku darah, namun ternyata 80% dari semua hemofilia adalah kekurangan kemampuan genetik mensintesis faktor VIII. Kekurangan vitamin K dapat menyebabkan kecenderungan pendarahan, vitamin ini

esensial ntuk sintesis protrombin hati dan beberapa faktor pembeku yang lain (Soewolo, 2000). g. Tes Koagulasi Menurut Soewolo (2000), tes koagulasi meliputi tes untuk : 1. Waktu pendarahan, yaitu waktu antara keluarnya darah pertama bila terjadi luka sampai darah tidak keluar lagi bila diisap dengan kertas isap. 2. Waktu koagulasi (pembekuan), yaitu waktu yang diperlukan darah untuk membeku (berkisar 5-15 menit). 3. Waktu protrombin, yaitu memberikn petunjuk mengenai jumlh total protrombin yang terdapat dalam darah. I. Pengangkutan Oksigen Oleh Darah Hemoglobin mempunyai kemampuan untuk berkombinasi dengan oksigen secara reversible dengan mudah, artinya hemoglobin mudah mengikat juga mudah melepaskan oksigen (Soewolo, 2000). Kemampuan hemoglobin berkobinasi dengn oksigen ini dikenal sebagai afinitas oksigen hemoglobin. Setiap kelompok heme dapat berkombinasi dengan satu molekul oksigen, dan setiap molekul hemoglobin dapat berkombinasi dengan empat molekul oksigen (Soewolo, 2000). Afinitas oksigen hemoglobin bersifat labil dan tergantung pada kondisi di dalam darah. Menurut Soewolo (2000), ada beberapa faktor yang menyebabkan afinitas oksigen turun, antara lain; peningkatan PCO2 , temperature, dan turunnya pH. Pada beberapa hewan, peran utama pigmen respiratori mungkin sebagai penyimpan oksigen, yang akan dibebaskan ke dalam jaringan apabila oksigen relative tidak mencukupi, misalnya pada anjng laut dan mamalia penyelam yang lain memiliki banyak mioglobin dalam ototnya. Mioglobin yang strukturnya mirip hemoglobin, berperan sebagai penyimpan oksigen. Oksigen akan dibebaskan pada saat komsentrasi okigen otot turun, yang terjadi pada saat hewan menyelam (Soewolo, 2000). J. Pengangkutan Karbondioksida Oleh Darah Akibat aktivitas respirsi sel, jaringan kaya akan karbondioksida. Karbondioksida dari jaringan melalui peredaran darah diangkut ke alat pernafasan untuk dibebaskan ke lingkungan. Menurut Soewolo (2000), karbondioksida diangkut oleh darah dalam empat bentuk : (1) dalam bentuk CO2 larut dalam darah, (2) HCO3-, (3) CO32-, dan (4) karbaminohemoglobin (HbNHCO2) yang sering disingkat HbCO2. Perbandingan antara

CO2, HCO3-, dan CO32- dalam larutan tergantung pada pH, temperatur, da kekuatan ionic larutan. Dalam darah, perbandingan CO2 dengan HCO3 kira-kira 1000 : 1, dan perbandingan CO2 dengan HCO3 kira-kira 1: 20. Jadi bikarbonat merupakan bentuk utama dari CO2 dalam darah (pada pH normal) (Soewolo, 2000). Jadi jumlah semua ikatan CO2 dalam darah (yaitu CO2, H2CO3, HCO3-, CO32-, dan ikatan karbamino), merupakan kandungan total CO2 dalam darah, dan bentuk ion bikarbonat merupakan bentuk CO2 dalam darah. Kandungan CO2 darah tergantung PCO2-nya, dan hubungan keduanya dapat digambarkan dalam bentuk grafik kurva disosiasi (Soewolo, 2000). K. Derivat Hemoglobin Menurut Soewolo (2000), ada beberapa variasi hemoglobin, diantaranya adalah : 1. Oksihemoglobin, merupkan ikatan antara hemoglobin dengan oksigen. Ikatan tersebut biasanya ditulis sebagai HbO2, 2. Hemoglobin tereduksi, disebut juga sebagai ferohemoglobin, merupakan molekul hemoglobin yang telah melepaskan oksigennya. Ditulis dengan symbol Hb, 3. Methemoglobin, diperoleh apabila oksihemoglobin atau hemoglobin tereduksi dioksidasi dengan menggunakan Fe(CN)3, 4. Karboksihemoglobin (karbonmonoksihemoglobin), merupakan ikatan antara Hb dengan gas karbonmonoksida (CO), biasanya diberi simbol HbCO, 5. Sianmethemoglobin, merupakan ikatan antara CN dengan methemoglobin, 6. Sulfhemoglobin, terbentuk apbila ferohemoglobin dicampur dengan H2S, sehingga hemoglobin mengalami putrefraksi, L. Keseimbangan Asam-Basa Darah Keseimbangan asam basa darah merupakan suatu mekanisme homeostasis tubuh yang sangat penting, yag mengcu kepada pengaturan konsentrasi ion hidrogen di dalam cairan tubuh (Soewolo, 2000). Untuk menjaga homeostasis pH Darah : 7,35-7,45, Alkalosis jika pH > 7,45 dan Acidosis jika pH < 7,45. pH ditentukan oleh ion hidrogen (H+). Sistem Buffers darah yaitu : Raksi kimia untuk mencegah perubahan konsentrasi ion hidrogen (H+) (mengikat H+ saat pH turun dan melepas H+ saat pH meningkat). Tiga sistem utama buffer kimia, yaitu : sistem buffer Bicarbonate, sistem buffer Phosphate, sistem buffer Protein. Sistem buffer bikarbonat merupakan senyawa asam karbonik (H2CO3) dan Sodium bikarbonat. Asam kuat bereaksi dengan ion bikarbonat (HCO3-) agar berubah

menjadi asam lemah. Kemudian basa kuat dipisahkan asam karbonik menjadi basa lemah dan air. Pada sistem pernapasan, pengaturan keseimbangan terhadap asam dan basa dilakukan dengan cara mengubah karbondioksida pada darah menjadi ion bikarbonat dan dipindahkan oleh plasma. Kemudin terjadi peningkatan konsentrasi ion hydrogen menghasilkan banyak asam karbonik, ion hidrogen yang berlebihan dapat diturunkan dengan cara melepas karbondioksida dari paru-paru, kemudian frekuensi pernapsan meningkat dan meurun tergantung perubahan pH darah (Anonim f, 2010). M. Golongan Darah Permukaan membran eritrosit mengandung antigen tertentu yang bersifat diwariskan. Antigen ini menentukan golongan darah (Soewolo, 2000). Golongan darah dikelompokkan menjadi 4, yaitu; A, B, O, dan AB. Penetapan penggolongan darah didasarkan pada ada tidaknya antigen sel darah merah A dan B. Individu-individu dengan golongan darah A mempunyai antigen A yang terdapat pada sel darah merah, individu dengan golongan darah B mempunyai antigen B, dan individu dengan golongan darah O tidak mempunyai kedua antigen tersebut (Anonim f, 2008). Aglutinogen memiliki dua jenis yaitu A dan B, begitu juga aglutinin memiliki jenis a dan b (Anonim g, 2008).

Gambar Golongan Darah

Sumber: http://2.bp.blogspot.com/_NtF7P1Aaff0/TNtZs7nJplI/AAAAAAAABjA/bu4N0_zEoBM/s1600/ABO_blood_type.j pg

1. Golongan darah A jika mengandung aglutinogen A di sel-selnya dan aglutinin b di plasma-nya, 2. Golongan darah B jika mengandung aglutinogen B di sel-selnya dan aglutinin a di plasma-nya, 3. Goongan darah AB jika mengandung aglutinogen A dan B di sel-selnya dan tidak memiliki aglutinin di plasma-nya, 4. Golongan darah O jika tidak memiliki aglutinogen di sel-selnya dan memiliki aglutinin a dan b di plasmanya. a. Faktor Rhesus Rhesus, merupakan penggolongan atas ada atau tidak adanya antigen-D. Antigen-D pertama dijumpai pada sejenis kera yang disebut Rhesus pada tahun 1937, dari kera inilah sebutan rhesus diambil. Orang yang dalam darahnya mempunyai antigen-D disebut rhesus positif, sedang orang yang dalam darahnya tidak dijumpai antigen-D, disebut rhesus negatif. Pada jaman dahulu dalam transfusi darah, asal golonganya sama, tidak dianggap ada masalah lagi. Padahal, bila terjadi ketidak cocokan rhesus, bisa terjadi pembekuan darah yang berakibat fatal, yaitu kematian penerima darah (Anonim h, 2005). Salah satu perbedaan dasar antara system ABO dengan sistem rhesus adalah bahwa antibodi rhesus bukanlah antibodi alami, artinya antibodi-Rh-nya tidak terbentuk secara alamiah namun disintesis sebagai respon terhadap adanya antigen-Rh. Jelasnya seseorang yang Rh negatif tidak akan mensintesis antibodi-Rh kecuali bila ke dalam tubuh seseorang Rh-negatif tersebut masuk antigen-Rh dari darah Rh-positif. Sedangkan dalam plasma darah Rhpositif sendiri tidak ada antibodi Rh yang dapat mengaglutinasi sel darahnya sendiri (Soewolo, 2000). b. Golongan Darah MN

Dari penelitiannya, Landsteiner menemukn antigen jenis lain dalam membrane sel darah merah, yaitu antigen M dan N (Soewolo, 2000). Berdasarkan adanya antigen M dan N, darah manusia digolongkan mejadi 3 golongan yaitu golongan darah M, N, dan MN. Berbeda dengan golongan darah ABO, golongan darah MN tidak diserti dengan adanya antibodi anti antigen di dalam plasma darah sehingga dalam transfusi darah, ketiga antigen ini tidak perlu diprhatikan. Antigen MN bermanfaat membantu menentukan orangtua bayi yang tertukar di rumah sakit, karena antigen Mn diturunkan menurut hokum Mendel (Soewolo, 2000).

Daftar Rujukan Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Tenzer, Amy, 1993. Struktur Hewan II. Malang : UM Press Wiguna, I,K,C. 2009. Aplikasi Ilmu Fisiologi Sistem Darah Dan Cairan Tubuh Dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat (online). http://www.scribd.com/doc/16404768/Darah-Dan-Cairan-Tubuh 2009 diakses tanggal 20 Februari 2011 Jonathan. 2010. Kebutuhan Cairan dan Elektrolit (online). http://www.scribd.com/doc/7244500/Kebutuhan-Cairan-Dan-Elektrolit diakses tanggal 20 Februri 2011 Anonim a, 2008. Anatomi Fisiologi Cairan Tubuh (online). http://sp4669.wordpress.com/2008/07/24/anatomi-fisiologi-cairan-tubuh/ diakses tanggal 20 Februari 2011 Sudharmono, Untung. Tanpa tahun. Fisiologi Cairan Tubuh dan Darah (online) http://www.4shared.com/document/tPtmvPBr/FISIOLOGI_CAIRAN_TUBUH_DAN_ DAR.html diakses tanggal 20 Februari 2011 Hizam, Y,M. 2007. Kebutuhan Cairan dan Tubuh (online). http://yusufhizam.multiply.com/journal/item/6 diakses tanggal 20 Februari 2011 Adhi, I,K,D. 2008. Sistem Transportasi Peredaran Darah Manusia (online). http://gurungeblog.wordpress.com/2008/10/31/sistem-transportasiperedarandarah-pada-manusia/#more-20 diakses tanggal 20 Februari 2011 Shofwan, M, 2010. Komposisi dan Bentuk Darah (online). http://zazuwa07.blogspot.com/2010/05/komposisi-darah-bentuk-darah-dan.html diakses tanggal 20 Februari 2011 Mariam. Tanpa tahun. Plasma Darah (online). http://www.scribd.com/doc/34301388/Plasma-Darah diakses tanggal 20 Februari 2011 Faqih, M,U. 2009. Cairan Elektrolit Dalam Tubuh Manusia (online). http://www.scribd.com/doc/17059905/Cairan-Dan-Elektrolit-Dalam-TubuhManusia diakses tanggal 20 Februari 2011 Anonim b. tanpa tahun. Pembahasan Eritrosit (online) http://kadriblog.blogspot.com/2010/11/pembahasan-eritrosit.html diakses tanggal 20 Februari 2011 Anonim c. 2010. Darah (online). http://drdjebrut.wordpress.com/ diakses tanggal 20 Februari 2011 Anonim d. 2008. Hemolisis dan Fragilitas Eritrosit (online)http://tasklist.blogspot.com/2008/04/hemolisis-dan-fragilitas-eritrosit.html diakses tanggal 20 Februari 2011 Anonim e. 2010. Laporan Ipu (online) http://bestmuslimah.wordpress.com/2010/12/08/laporan-ipu/ diakses tanggal 20 Februari 2011

Saputri, L, I. 2010. Apa Itu Hemoglobin Dalam Darah (online) http://id.shvoong.com/medicine-and-health/medicine-history/2067287-apaitu-hemoglobin-dalam-darah/ diakses tanggal 20 Februari 2011 Maddy, Khairul. 2010. Leukosit (online) http://id.shvoong.com/exactsciences/biology/1990228-leukosit/ diakses tanggal 20 Februari 2011 Andy. 2010. Trombosit (online) http://senyumperawat.blogspot.com/2010/04/trombosit.html diakses tanggal 20 Februari 2011 Anonim f. 2010. Cairan Tubuh dan Kseimbangan Asam-Basa (online) http://hmkuliah.wordpress.com/2010/09/18/cairan-tubuh-dan-keseimbanganasam-basa/ diakses tanggal 20 Februari 2011 Anonim g. 2008. Sistem Golongan Darah ABO dan Rhesus (online) http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php?view=article&catid=20%3Ainfo rmatika&id=179%3Asistem-golongan-darah-abo-danrhesus&option=com_content&Itemid=15 diakses tanggal 20 Februari 2011 Anonim h. 2005. Apa Itu Rhesus (online) http://orinkeren.multiply.com/journal/item/52 apa itu rhesus diakses tanggal 20 Februari 2011

DARAH dan CAIRAN TUBUH


MAKALAH Disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah Fisiologi Hewan Yang dibina oleh Bapak Soewolo dan Bapak Hendra

Oleh Kelompok V Moch. Fitri Athoillah Faizah Maulids Umi Hasanah Linda Hapsari Agit Firdaus 409342420439 409342417774 409342420435 409342417766 409342417784

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI Februari 2010