Anda di halaman 1dari 3

Boeing vs Airbus? Atau AS versus Uni Eropa? Biarkan WTO Memutuskan!

Jadi siapa yang berhak membuat keputusan pihak mana yang menang ketika dua produsen terbesar di dunia penerbangan terlibat dalam perang dagang? Nah, tampaknya, pihak yang berwenang adalah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), yang pada tahun 2005 menerima petisi perdagangan internasional terbesar sejak berdirinya di tahun 1995: kasus untuk menyelesaikan perselisihan antara Boeing yang berbasis di AS dan Airbus milik Eropa. Airbus dimiliki bersama oleh perusahaan kedirgantaraan Eropa EADS dan BAE Systems. Perselisihan ini bukanlah hal yang baru. Jika kita mengingat kembali ke era 1980-an ketika dua raksasa tersebut saling berselisih satu sama lain di pasar untuk pesawat sipil. Pada tahun 1992, dua perusahaan yang saling berselisih ini berusaha untuk mencapai penyelesaian. Airbus telah secara besar-besaran bergantung pada "bantuan peluncuran" dari pemerintah Eropa seperti Perancis, Jerman, dan Britania Raya (Inggris) sementara Boeing menerima subsidi dari lembaga pemerintah AS, terutama Departemen Pertahanan dan National Aeronautics and Space

Administration (NASA ). Bantuan peluncuran Airbus terdiri dari pinjaman untuk pengembangan produk yang dihapuskan jika produk gagal di pasar. Namun, jika produk itu sukses, pemerintah akan terus menerima royalti dari Airbus bahkan setelah pinjaman tersebut lunas. Dalam penyelesaian bilateral pada tahun 1992, perusahaan dan negara yang terlibat telah sepakat bahwa bantuan Boeing dari pihak luar tidak akan melebihi 4 persen dari pendapatan, dan pinjaman Airbus akan dipertahankan pada 33 persen dari biaya pengembangan untuk pesawat terbang. Perdamaian yang baru dilakukan pada tahun 1992 tidak berlangsung terlalu lama. Kedua belah pihak tetap saling curiga bahwa yang saingannya melanggar ketentuan-ketentuan kontrak bilateral. Hal yang memperburuk situasi adalah peluncuran lima produk baru dari Airbus setelah perjanjian 1992, pukulan terakhir untuk Model Boeing yang paling baru, yaitu Model A380. Sementara itum Boeing berhasil memperkenalkan satu produk baru dalam periode waktu yang

sama. Selanjutnya, Airbus menjadi perusahaan yang menguntungkan dan setara dengan posisi pasar Boeing dan karena itu, menurut Boeing, Airbus tidak lagi

membutuhkan bantuan dari pemerintah Eropa. Pada bulan Mei 2004, Perwakilan Dagang AS, Robert E. Zoellick, bertemu dengan Pascal Lamy, Komisioner Eropa untuk Perdagangan, untuk menunjukkan bahwa kedua pihak sepakat untuk mengesampingkan penggunaan subsidi baru untuk pesawat, tetapi orang-orang Eropa menolak untuk melakukan perjanjian. Bahkan, Airbus terus mencari dana bantuan peluncuran dari pemerintah, sehingga diskusi tersebut terus dilanjutkan. Pada bulan Oktober 2004, Amerika Serikat mengajukan sebuah komplain kepada WTO terhadap Airbus, dan Uni Eropa membalas dengan segera mengajukan countersuit dengan WTO terhadap Boeing. Alasan mereka tetap sama: bantuan pemerintah Uni Eropa dibandingkan subsidi AS.Untuk menghindari perjumpaan hukum (persidangan) yang mahal, sekali lagi kedua pihak memutuskan untuk terlibat dalam negosiasi bilateral dengan harapan bahwa mereka akan mencapai penyelesaian pada April 11 Januari 2005, tapi hal itu tidak berlangsung sebagaimana mestinya (tidak berhasil). Boeing dan pendukungnya mempertahankan sikap mereka terhadap Airbus, yang bersikeras bahwa pemasok-pemasok Boeing di Jepang telah memperoleh pinjaman lunak dari pemerintah mereka dan oleh karena itu Boeing memperoleh keuntungan dari subsidi tidak langsung juga. Akhirnya, pada bulan Juni 2005, kedua belah pihak kembali mendekati WTO. Kesepakatan perdagangan WTO tentang Subsidi dan Countervailing Measures (Ukuran-ukuran Penyeimbangan) melarang subsidi pemerintah atau subsidi dari badan-badan publik untuk sebuah perusahaan atau industri tertentu. Pihak AS yang mengajukan banding ke WTO mengajukan klaimnya bahwa Airbus melanggar aturan WTO ketika menerima pinjaman sekitar $ 15 miliar dari pemerintah Uni Eropa. Di sisi lain, Uni Eropa mengklaim bahwa Boeing melanggar aturan WTO ketika menerima subsidi sekitar $ 23 miliar. Hal ini akan menarik untuk terus diikuti dan melihat siapa yang memenangkan kasus ini, Boeing atau Airbus, dan, karena pemerintah masing-masing yang terkait kuat dengan perusahaan-perusahaan yang saling berseteru, Amerika Serikat atau Uni Eropa. Terakhir kali WTO mengadili kasus serupa adalah pada tahun 1990-an, pada kasus Embraer Brazil vs Kanada Bombardier, produsen jet berukuran sedang. Namun, dalam kasus itu, meskipun WTO memutuskan vonis "bersalah" bagi kedua belah pihak, tidak ada tindakan khusus yang diambil oleh salah satu pihak. Pemerintah

mereka terus memberikan subsidi kepada perusahaan-perusahaan mereka. Menurut para ahli, ada kemungkinan bahwa WTO juga akan memutuskan bahwa kedua belah pihak bersalah dalam kasus Boeing-Airbus, yang mungkin sekali lagi akan mendorong perusahaan-perusahaan lain untuk mengejar perjanjian bilateral. Sementara hasil dari keputusan WTO mungkin memetakan jalannya kompetisi masa depan antara Boeing dan Airbus, pentingnya kasus ini menyoroti peran WTO dalam negosiasi perdagangan dan kebijakan-kebijakan dunia. Meskipun banyak negara masih memiliki perjanjian perdagangan bilateral, lebih banyak negara yang beralih kepada WTO untuk menengahi perselisihan mereka. Dengan keanggotaan yang berkembang yang mencapai 149 pada tahun 2006, kewenangan WTO mengenai hal-hal perdagangan sedang diakui dan aturan-aturan perdagangan dunianya menggantikan pakta bilateral dan pakta perdagangan serupa lainnya. Sementara itu, Boeing dan Airbus masih menunggu hasil keputusan/vonis.

PERTANYAAN DISKUSI 1. Di satu sisi, peran WTO dalam perdagangan internasional menjadi lebih signifikan. Di sisi lain, putusan terhadap kasus Embraer Brazil vs Bombardier Kanada tampaknya tidak memecahkan masalah. Diskusikan hal ini.
2. Mengapa kasus Boeing-Airbus, perselisihan antara dua perusahaan, meluas

sampai melibatkan pemerintah mereka?


3. Isu-isu apa sajakah yang harus dipertimbangkan oleh WTO sebelum

membuat keputusan? Bagaimana seharusnya WTO membuat keputusan?