Anda di halaman 1dari 6

ADA APA DENGAN KURIKULUM SMK?

Usaha terus-menerus peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dilakukan antara


lain dengan menetapkan Standar nasional pendidikan. UU Sisdiknas Pasal 35 ayat 1 dan
2 menyatakan bahwa Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses,
kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan,
pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan
berkala. Standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan
pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan
prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan. Secara khusus, pasal 36
ayat 1 dan 2 menyatakan bahwa Pengembangan kurikulum dilakukan
dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kurikulum pada semua
jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip
diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan
peserta didik..
Standar Nasional Pendidikan diperkuat melalui Peraturan
Pemerintah No 19 tahun 2005. Di dalamnya terdapat penjelasan
tentang standar isi yang merupakan penjabaran kurikulum sekolah.
Bab III dari peraturan ini, mulai pasal 5 sampai pasal 18, berisi tentang
Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai
kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi
memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat
satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik. Pasal 6 PP ini
menyebutkan bahwa Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan
khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:
a. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
b. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
c. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
d. kelompok mata pelajaran estetika;
e. kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.
Terkait dengan kurikulum SMK, Pasal 7 PP 19/2005 menyebutkan bahwa
[ayat 1] Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia pada
SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/ Paket C,
SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan
dan/atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan
dan teknologi, estetika, jasmani, olah raga, dan kesehatan.
[Ayat 2] Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian pada
SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/ Paket C,
SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan
dan/atau kegiatan agama, akhlak mulia, kewarganegaraan, bahasa, seni dan
budaya, dan pendidikan jasmani.
[Ayat 6] Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada
SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan
dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu
pengetahuan sosial, keterampilan, kejuruan, teknologi informasi dan komunikasi,
serta muatan lokal yang relevan.
[Ayat 7] Kelompok mata pelajaran estetika pada SD/MI/SDLB/Paket A,
SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/Paket C, SMK/ MAK, atau bentuk
lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, seni
dan budaya, keterampilan, dan muatan lokal yang relevan.
[Ayat 8] Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan pada
SD/MI/SDLB/ Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/ Paket C,
SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan
dan/atau kegiatan pendidikan jasmani, olahraga, pendidikan kesehatan, ilmu
pengetahuan alam, dan muatan lokal yang relevan.
Selanjutnya, pasal 10 ayat 1 menyebutkan Beban belajar untuk
SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMLB, SMK/MAK atau bentuk lain
yang sederajat menggunakan jam pembelajaran setiap minggu setiap semester
dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak
terstruktur, sesuai kebutuhan dan ciri khas masing-masing.
Pasal 11 ayat 2 dan 3 menyatakan Beban belajar untuk SMA/MA/SMLB,
SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada jalur pendidikan formal kategori
standar dapat dinyatakan dalam satuan kredit semester. Beban belajar untuk
SMA/MA/SMLB, SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada jalur
pendidikan formal kategori mandiri dinyatakan dalam satuan kredit semester.
Pasal 13 ayat 1, 2, dan 3 menyebutkan bahwa Kurikulum untuk
SMP/MTs/SMPLB atau bentuk lain yang sederajat, SMA/MA/SMALB atau bentuk
lain yang sederajat, SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat
memasukkan pendidikan kecakapan hidup. Pendidikan kecakapan hidup
mencakup kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan
kecakapan vokasional. Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian
dari pendidikan kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, pendidikan
kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, pendidikan
kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, kelompok mata
pelajaran pendidikan estetika, atau kelompok mata pelajaran pendidikan
jasmani, olah raga, dan kesehatan.
Pasal 16 ayat 1 menyatakan bahwa Penyusunan kurikulum pada tingkat
satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada
panduan yang disusun oleh BSNP.
Pasal 17 ayat 1 dan 2 menyatakan bahwa Kurikulum tingkat satuan
pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau
bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan,
potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan
peserta didik. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite
madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya
berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di
bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang
pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani
urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK.

Sebagai lanjutan dari peraturan perundang-undangan ini,


muncullah Permen 22 tentang standar isi yang merupakan penjabaran
dari kurikulum satuan pendidikan. Pasal 1 Permen ini menyebutkan
bahwa Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang
selanjutnya disebut Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan
tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal
pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Dalam Permen 22/2006 dibahas standar isi sebagaimana dimaksud oleh Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, yang secara keseluruhan mencakup:
1. kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan
kurikulum pada tingkat satuan pendidikan,
2. beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah,
3. kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan
pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak
terpisahkan dari standar isi, dan
4. kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan
jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan
Struktur kurikulum SMK/MAK sebagaimana tersebut dalam Permen 22, meliputi
substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun
atau dapat diperpanjang hingga empat tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII atau
kelas XIII. Struktur kurikulum SMK/MAK disusun berdasarkan standar kompetensi
lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran. Struktur kurikulum ini belum
menyebutkan pembagian jam per pekan pembalajaran. Sekolah harus menyusun sendiri
pembagian jam per pekan dalam silabus untuk mencapai standar kompetensi lulusan
dengan standar minimal sebagaimana tercantum dalam tabel berikut;
Struktur kurikulum SMK/MAK disajikan pada Tabel Struktur Kurikulum
SMK/MAK
Komponen Durasi Waktu (Jam)

A. Mata Pelajaran

1. Pendidikan Agama 192

2. Pendidikan Kewarganegaraan 192

3. Bahasa Indonesia 192

4. Bahasa Inggris 440 a)


Komponen Durasi Waktu (Jam)

6. Ilmu Pengetahuan Alam


6. 1 IPA 192 a)
6. 2 Fisika
6. 2. 1 Fisika Kelompok Pertanian 192 a)
6. 2. 2 Fisika Kelompok Teknologi 276 a)
6. 3 Kimia
6. 3. 1 Kimia Kelompok Pertanian 192 a)
6. 3. 2 Kimia Kelompok Teknologi dan 192 a)
Kesehatan
6. 4 Biologi
6. 4. 1 Biologi Kelompok Pertanian 192 a)
6. 4. 2 Biologi Kelompok Kesehatan 192 a)

7. Ilmu Pengetahuan Sosial 128 a)

8. Seni Budaya 128 a)

9. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan 192

10. Kejuruan
10. 1Keterampilan Komputer dan Pengelolaan 202
Informasi
10. 2Kewirausahaan 192

10. 3Dasar Kompetensi Kejuruan b) 140

10. 4Kompetensi Kejuruan b) 1044 c)

B. Muatan Lokal 192

C. Pengembangan Diri d) (192)

Keterangan notasi
a)
Durasi waktu adalah jumlah jam minimal yang digunakan oleh setiap
program keahlian. Program keahlian yang memerlukan waktu lebih jam
tambahannya diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sama, di luar jumlah
jam yang dicantumkan.
b)
Terdiri dari berbagai mata pelajaran yang ditentukan sesuai dengan kebutuhan
setiap program keahlian.
c)
Jumlah jam Kompetensi Kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan
standard kompetensi kerja yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boleh kurang
dari 1044 jam.
d)
Ekuivalen 2 jam pembelajaran.

Implikasi dari struktur kurikulum di atas dijelaskan sebagai berikut.


1. Di dalam penyusunan kurikulum SMK/MAK mata pelajaran dibagi ke dalam tiga
kelompok, yaitu kelompok normatif, adaptif, dan produktif. Kelompok normatif
adalah mata pelajaran yang dialokasikan secara tetap yang meliputi Pendidikan
Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani
Olahraga dan Kesehatan, dan Seni Budaya. Kelompok adaptif terdiri atas mata
pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, Keterampilan Komputer dan
Pengelolaan Informasi, dan Kewirausahaan. Kelompok produktif terdiri atas
sejumlah mata pelajaran yang dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan
dan Kompetensi Kejuruan. Kelompok adaptif dan produktif adalah mata pelajaran
yang alokasi waktunya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian, dan
dapat diselenggarakan dalam blok waktu atau alternatif lain.
2. Materi pembelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan
disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian untuk memenuhi standar
kompetensi kerja di dunia kerja.
3. Evaluasi pembelajaran dilakukan setiap akhir penyelesaian satu standar
kompetensi atau beberapa penyelesaian kompetensi dasar dari setiap mata
pelajaran.
4. Pendidikan SMK/MAK diselenggarakan dalam bentuk pendidikan sistem ganda.
5. Alokasi waktu satu jam pelajaran tatap muka adalah 45 menit.
6. Beban belajar SMK/MAK meliputi kegiatan pembelajaran tatap muka, praktik di
sekolah dan kegiatan kerja praktik di dunia usaha/industri ekuivalen dengan 36
jam pelajaran per minggu.
7. Minggu efektif penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK adalah 38 minggu dalam
satu tahun pelajaran.
8. Lama penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK tiga tahun, maksimum empat
tahun sesuai dengan tuntutan program keahlian.

Lantas apa masalah yang timbul dari struktur kurikulum ini? Struktur
Kurikulum ini belum membagi jam per pekan. Sekolah harus membagi
sendiri jam ajar per pekan sekaligus pembagian jam setiap kompetensi
dan kompetensi dasar. Pemerintah memberi Contoh pembagian jam
ajar per pekan dengan pola yang masih menimbulkan permasalahan
ketika pola pembagian itu dibreakdown per pekan per mata pelajaran.
Model untuk program normatif dan adaptif sebagaimana berikut:

STUKTUR KURIKULUM SMK NEGERI 3 JAKARTA


BIDANG KEAHLIAN :BISNIS MANAJEMEN
PEOGRAM KEAHLIAN :AKUNTANSI
DURASI WAKTU ( JAM )
N
PROGRAM MATA PELAJARAN TINGKA TING TINGKA JUMLA
O
TI KAT II T III H
I PROGRAM NORMATIF
1 Pendidikan Agama 80 56 56 192
2 Pendidikan kewarganegaraan 80 56 56 192
3 Bahasa Indonesia 80 56 56 192
4 Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan 80 56 56 192
JUMLAH JAM NORMATIF 320 224 224 768

II PROGRAM ADAPTIF
1 Bahasa Inggris 200 112 140 452
2 Matematika 160 112 140 412
Keterampilan Komputer dan Pengolahan
3 Informasi 120 84 204
4 Kewirausahaan 80 56 56 192
5 Seni Budaya 80 48 128
6 Ilmu Pengetahuan Alam 80 56 56 192
7 Ilmu Pengetahuan Sosial 80 56 136

Struktur ini, bila dibreakdown tiap pekan pembelajaran dengan


hitungan setahun 38 pekan, menjadi sebagai berikut: