Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Perlindungan anak di bidang kesehatan diselenggarakan melalui berbagai upaya pelayanan kesehatan yang komprehensif bagi anak termasuk untuk bayi baru lahir. Pelayanan kesehatan untuk bayi baru lahir merupakan salah satu program kesehatan anak yang bertujuan untuk menjamin kelangsungan hidup , tumbuh kembang anak secara optimal dan perlindungan khusus dari kekerasan dan diskriminasi. Hal ini dilakukan dalam rangka mewujudkan anak Indonesia yang sehat , cerdas ceria, berahlaq mulia dan terlindungi sebagai modal dasar bagi pembangunan bangsa. fokus utama pelayanan kesehatan masih ditujukan pada upaya penurunan kematian bayi, prevalensi balita gizi kurang, dan prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) yang masih tinggi. Ibu dan anak terutama bayi baru lahir merupakan kelompok masyarakat yang rentan dan perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat, karena masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia dimana Angka Kematian Bayi Baru Lahir mencapai 2/3 dari total Angka Kematian Bayi. Hingga saat ini sudah banyak program-program pembangunan kesehatan di Indonesia yang ditujukan pada penanggulangan masalah-masalah kesehatan ibu dan anak. Pada dasarnya program-program tersebut lebih menitik beratkan pada upaya-upaya penurunan angka kematian bayi dan anak, angka kelahiran kasar dan angka kematian ibu. Hal ini terbukti dari hasil-hasil survei yang menunjukkan penurunan angka kematian bayi dan anak, angka kelahiran kasar. Namun tidak demikian halnya dengan angka kematian ibu (MMR) yang selama dua dekade ini tidak menunjukkan penurunan yang berarti. SKRT 1994 menunjukkan hahwa MMR sebesar 400 450 per 100.000 persalinan. Selain angka kematian, masalah kesehatan ibu dan anak juga menyangkut angka kesakitan atau morbiditas. Penyakit-penyakit tertentu seperti ISPA, diare dan tetanus yang sering diderita oleh bayi dan anak acap kali berakhir dengan kematian. Demikian pula dengan peryakit-penyakit yang diderita oleh ibu hamil seperti anemia, hipertensi, hepatitis dan lainlain dapat membawa resiko kematian ketika akan, sedang atau setelah persalinan.

1.2 Identifikasi Masalah 1. Apa pengertian penyakit, ibu dan anak? 2. Apa saja penyakit yang dapat menyerang anak, yaitu mulai dari bayi, balita hingga usia kanak-kanak? 3. Apa saja penyakit yang dapat menyerang ibu? 1.3 Tujuan Untuk mengetahui apa saja penyakit yang dapat menyerang ibu dan anak sehingga berpengaruh terhadap angka mrbiditas dan mortalitas ibu dan anak di Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian penyakit, Ibu dan Anak Penyakit (disease) adalah suatu bentuk reaksi biologis terhadap suatu organisme, benda asing atau luka (injury). Hal ini adalah suatu fenomena yang objektif yang di tandai oleh perubahan fungsi-fungsi tubuh sebagai organisme biologis. Sedangkan sakit adalah (illness) penilaian seseorang terhadap penyakit sehubung dengan pengalaman yang langsung dialaminya. Hal ini merupakan phenomena subjektif yang ditandai dengan perasaan tidak enak (felling unwell). Wanita dan Ibu adalah dua sosok yang tidak pernah lepas dari kehidupan kita. Tanpa sosok Ibu kita tidak akan pernah ada di dunia ini. Bahkan banyak orang-orang hebat yang tidak akan pernah bisa menjadi hebat tanpa didukung dengan sosok wanita hebat di belakangnya. Ada begitu banyak definisi dan arti dari wanita namun semua arti dan definisi itu bersumber pada satu kesimpulan, bahwa wanita adalah sosok yang sangat hebat terlepas dari segala kekurangan yang dimilikinya. Ibu adalah orang tua perempuan seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Umumnya, ibu memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan anak, dan panggilan ibu dapat diberikan untuk perempuan yang bukan orang tua kandung (biologis) dari seseorang yang mengisi peranan ini. Contohnya adalah pada orang tua angkat (karena adopsi) atau ibu tiri (istri ayah biologis anak). Menurut undang-undang RI nomor 23 tahun 2002 anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahu, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

2.2 Penyakit pada Ibu Hanya sedikit jenis penyakit pada ibu yang mengharuskan ibu berhenti menyusui. Hal tersebut sesuai untuk berbagai infeksi yang diderita ibu, dan infeksi adalah jenis penyakit yang paling umum, yang biasanya digunakan sebagai alasan dalam menyarankan seorang ibu untuk berhenti menyusui. Sebagian besar infeksi disebabkan oleh virus, dan sebagian besar infeksi virus justru tingkat penularannya paling tinggi, bahkan sebelum ibu mengetahui bahwa ia sedang sakit. Ketika ibu demam (atau hidung meler, diare, batuk, ruam, muntah, dll), ibu kemungkinan sudah menularkan infeksi tersebut kepada bayinya. Bagaimanapun juga, menyusui justru melindungi bayi melawan infeksi tersebut, dan ibu harus melanjutkan
3

menyusui, dengan tujuan untuk melindungi bayinya. Jika si bayi sampai tertular sakit, bayi akan lebih ringan sakitnya daripada jika ibu berhenti menyusui. Namun, banyak juga para ibu dikejutkan karena mendapati bayi mereka tidak tertular sama sekali. Hal tersebut dikarenakan bayi yang disusui terus akan tetap terlindungi. Infeksi-infeksi bakteri (seperti misalnya radang tenggorokan) juga tidak ada sangkut pautnya dengan alasan-alasan yang sama. 1. TORCH Torch adalah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yaitu TOxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakti infeksi ini, sama-sama berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil. kini, diagnosis untuk penyakit infeksi telah berkembang antar lain ke arah pemeriksaan secara imunologis. a. Toxoplasma Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondi. Pada umumnya, infeksi Toxoplasma terjadi tanpa disertai gejala yang spesipik. Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi Toxoplasma yang disertai gejala ringan, mirip gejala influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam, dan umumnya tidak menimbulkan masalah. Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya penderita AIDS, pasien transpalasi organ yang mendapatkan obat penekan respon imun). Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi adalah abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelinan mata dan atelinga, retardasi mental, kejang-kejang dan ensefalitis. Diagnosis Toxoplasmosis secara klinis sukar ditentukan karena gejala-gejalanya tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan gejala (sub klinik). Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah Anti-Toxoplasma IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG. Pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pada orang yang diduga terinfeksi Toxoplasma, ibu-ibu sebelum atau selama masa hamil (bila hasilnya negatif pelu diulang sebulan sekali khususnya pada trimester pertma, selanjutnya tiap trimeter), serta bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi Toxoplasma. b. Rubella Infeksi Rubella ditandai dengan demam akut, ruam pada kulit dan pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi ini disebabkan oleh virus Rubella, dapat menyerang anak-anak
4

dan dewasa muda. Infeksi Rubella berbahaya bila tejadi pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi tejadi trimester pertama maka risikonya menjadi 25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists, 1981). Tanda tanda dan gejala infeksi Rubella sangat bervariasi untuk tiap individu, bahkan pada beberapa pasien tidak dikenali, terutama apabila ruam merah tidak tampak. Oleh Karena itu, diagnosis infeksi Rubella yang tepat perlu ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan < 18 minggu dan risiko infeksi rubella bawaan. c. Cytomegalovirus (CMV) Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini temasuk golongan virus keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV dapat tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang hamil. Jika ibu hamil terinfeksi. maka janin yang dikandung mempunyai risiko tertular sehingga mengalami gangguan misalnya pembesaran hati, kuning, ekapuran otak, ketulian, retardasi mental, dan lain-lain. Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeski berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang silakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG. d. Herpes Infeksi herpes pada alat genital (kelamin) disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk laten, menjalar melalui serabut syaraf sensorik dan berdiam diganglion sistem syaraf otonom. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HSV II biasanya memperlihatkan lepuh pada kuli, tetapi hal ini tidak selalu muncul sehingga mungkin tidak diketahui. Infeksi HSV II pada bayi yang baru lahir dapat berakibat fatal (Pada lebih dari 50 kasus) Pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HSV II IgG dan Igm
5

sangat penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II dan mencaegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan. Infeksi TORCH yang terjadi pada ibu hamil dapt membahayakan janin yang dikandungnya. Pada infeksi TORCH, gejala klinis yang ada searing sulit dibedakan dari penyakit lain karena gejalanya tidak spesifik. Walaupun ada yang memberi gejala ini tidak muncul sehingga menyulitkan dokter untuk melakukan diagnosis. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk membantu mengetahui infeksi TORCH agar dokter dapat memberikan penanganan atau terapi yang tepat. 2. ANEMIA Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002). Anemia dalam kehamilan yang disebabkan karena kekurangan zat besi, jenis pengobatannya relatif mudah, bahkan murah.

Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Wiknjosastro, 2002). Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan. Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduannya saling berinteraksi (Safuddin, 2002). Menurut Mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut:

1. 2. 3. 4.

Kurang gizi (malnutrisi) Kurang zat besi dalam diit Malabsorpsi Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lainlain

5.

Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain

3. HIPERNENSI Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5-15% penyulit kehamilan dan merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbilitas ibu bersalin. Gambaran klinik preeklampsia bervariasi luas dan sangat bervariasi luas dan sangat individual. Kadang-kadang sukar untuk menentukan gejala preeklampsia mana yang timbul lebih dulu. Secara teoritik urutan gejala-gejala yang timbul pada preeklampsia ialah edema, hipertensi, dan terakhir proteinuria; sehingga bila gejala-gejala ini timbul tidak dalam urtan diatas dapat dianggap bukan preeklampsia. Dari semua gejala tersebut, timbulnya hipertensi dan proteimuria merupakan gejala yang sangat penting. Namun, sanyangnya penserita sering kali tidak merasakan perubahan ini. Bila penderita sudah mengeluh adanya gangguan nyeri kepal, gangguan penglihatan, atau nyeri epigastrium, maka penyakit ini sudah cukup lanjut. 4. KANKER a. Kanker payudara Kanker payudara adalah keganasan pada sel-sel yang terdapat pada jaringan payudara, bisa berasal dari komponen kelenjarnya (epitel saluran maupun lobulusnya) maupun komponen selain kelenjar seperti jaringan lemak, pembuluh darah, dan persarafan jaringan payudara. Saat ini. Kanker payudara merupakan penyebab kematian ke dua akibat kanker pada wanita, letelah kanker leher rahim, dan merupakan kanker yang paling banyak ditemuui pada wanita. Gejala klinis terjadinya Kanker Payudara yang umum terjadi adalah sebagai berikut : 1. Benjolan kecil pada payudara.Benjolan ini biasanya tidak nyeri dan ukuranya kecil. Tapi lama-lama membesar dan menempel pada kulit serta menimbulkan perubahan warna pada puting dan atau payudara. 2. Eksema atau erosi pada puting.Selanjutya, kulit atau puting tertarik kedalam (retraksi), warna pink atau kecoklatan sampai menjadi oedema yang menyebabkan menjadi seperti kulit jeruk, mengkerut dan menjadi borok. Borok membesar dan mendalam hingga bisa merusak payudara. Busuk dan berdarah. Ciri-ciri lainnya adalah terjadinya
7

pendarahan pada puting. Sakit/nyeri bila tumor sudah besar dan timbul borok. Kemudian timbul pembesaran pada ketiak yaitu kelenjar getah bening, terjadi pembekakan pada lengan. Kemudian terjadi penyebaran kanker ke seluruh tubuh.Kanker payudara tingkat lanjut sangat mudah diketahui. Yaitu adanya pada kulit payudara yang cukup luas, serta ada nodul satelit. Adanya edema pada lengan, metastase jauh, terjadi ulserasi kulit, edema kulit, kulit terfiksasi. Adanya kelenjar getah bening aksila. 3. Nipple discharge atau keluarnya cairan.Gejala yang ktiga adalah keluarnya cairan yang tidak wajar dan spontan dari putih atau yang disebut dengan nipple discharge. Kenapa cairan ini dikatakan tidak normal, tidak lain karena cairan normal hanya keluar pada ibu hamil, sedang menyusui atau yang memakai pil kontrasepsi.Ciri cairan ini, cairan berdarah encer, warna merah atau coklat, keluar sendiri tanpa dipijit. Keluar dengan terus menerus pada satu payudara. Bagi anda yang mengalami ciri-ciri ini harus waspada dan segera periksa ke dokter untuk mencegah kanker makin parah. b. Kanker serviks Kanker serviks adalah salah satu jenis keganasan atau neoplasma yang lokasinya terletak di daerah serviks, daerah leher rahim atau mulut rahim. Sampai saat kanker serviks masih menjadi penyebab lebih dari 250.000kematian pada tahun 2005 dimana kirang lebih 80% dari kematian tersebut terjadi di Negara berkembang. Diperkirakan kematian akibat kanker serviks ini akan terus meningkat 25% dalam kurun waktu 10 tahun mendatang jika tidak dilakukan tindakan pencegahan dan penatalaksanaan yang adekuat. Kejadiannya hampir 27% di antara penyakit kanker di Indonesia. Namun demikian lebih dari 70% penderita datang memeriksakan diri dalam stadium lanjut, sehingga banyak menyebabkan kematian karena terlambat ditemukan dan diobati. Leher rahim adalah bagian bawah rahim yang menonjol ke dalam kelamin wanita. Di tempat ini sering terjadi kanker yang disebut kanker serviks. Bagaimana Gejalanya? Kanker serviks pada stadium dini sering tidak menunjukkan gejala atau tanda-tandanya yang khas, bahkan tidak ada gejala sama sekali. Gejala yang sering timbul pada stadium lanjut antara lain adalah: Pendarahan sesudah melakukan hubungan intim.

Keluar keputihan atau cairan encer dari kelamin wanita. Pendarahan sesudah mati haid (menopause). Pada tahap lanjut dapat keluar cairan kekuning-kuningan, berbau atau bercampur darah, nyeri panggul atau tidak dapat buang air kecil. Apakah penyebabnya? Lebih dari 95 % kanker serviks berkaitan erat dengan infeksi HPV (Human Papiloma Virus) yang dapat ditularkan melalui aktivitas seksual. Saat ini sudah terdapat vaksin untuk mencegah infeksi HPV khususnya tipe 16 dan tipe 18 yang diperkirakan menjadi penyebab 70% kasus kanker serviks di Asia. Beberapa faktor risiko terkena kanker serviks antara lain: Mulai melakukan hubungan seksual pada usia muda. Sering berganti-ganti pasangan seksual. Sering menderita infeksi di daerah kelamin. Melahirkan banyak anak. Kebiasaan merokok (risiko dua kali lebih besar). Defisiensi vitamin A, C, E. c. Kanker endometrium Kanker endometrium adalah kanker yang terjadi pada organ endometrium atau pada dinding rahim. Endometrium adalah organ rahim yang berbentuk seperti buah pir sebagai tempat tertanam dan berkembangnya janin. kanker endometrium kadang-kadang disebut kanker rahim, tetapi ada sel-sel lain dalam rahim yang bisa menjadi kanker seperti otot atau sel miometrium. kanker endometrium sering terdeteksi pada tahap awal karena sering menghasilkan pendarahan vagina di antara periode menstruasi atau setelah menopause. Faktor Resiko terjadinya kanker endometrium

Menstruasi di usia dini. Jika menstruasi terjadi pada usia dini sebelum usia 12 tahun
9

Belum pernah hamil. Wanita yang belum pernah hamil lebih beresiko menderita kanker endometrium dibandingkan dengan wanita yang pernah hamil walaupun para ahli tidak mengetahui secara pasti.

Ovulasi dan haid yang tidak teratur. Ovulasi dan menstruasi yang tidak teratur akan meningkatkan paparan seumur hidup dengan estrogen.

Obesitas. Jaringan Lemak dapat menghasilkan estrogen sehingga kegemukan atau obesitas dapat meningkatkan kadar estrogen dalam tubuh sehingga beresiko tinggi menderita kanker endometrium dan kanker lainnya.

Diet tinggi lemak. Makanan berlemak secara langsung dapat mempengaruhi metabolisme estrogen yang selanjutnya meningkatkan resiko seorang wanita menderita kanker endometrium.

Diabetes. kanker endometrium sering terjadi pada wanita dengan diabetes, mungkin karena obesitas dan diabetes tipe 2 sering berjalan beriringan

Umur. Semakin tua usia semakin beresiko menderita kanker endometrium. Sebagian besar kanker endometrium terjadi pada wanita yang lebih tua dari 55 tahun.

Riwayat menderita kanker payudara atau kanker ovarium. d. Kanker ovarium kanker ovarium adalah keganasan ysng menyerang ovarium (indung telur) pada

wanita. Kanker tubavalopi (saluran yang menghubungkan rahim dan indung telur) dan kanker peritoneum (rongga perut) ekstraovarium primer termasuk dalam kanker ovarium dikarenakan secara karakteristik biologi dan klinisnya menyerupai kanker ovarium, walaupun keduanya sangat jarang ditemukan. Beberapa faktor muncul untuk mengurangi risiko kanker indung telur, termasuk: 1. Kontrasepsi oral(pil KB). Dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah menggunakan mereka, para wanita yang menggunakan kontrasepsi oral selama lima tahun atau lebih mengurangi risiko kanker ovarium sekitar 50 persen, sesuai dengan ACS. 2. Kehamilan dan menyusui. Memiliki paling tidak satu anak menurunkan risiko Anda mengalami kanker ovarium. Menyusui anak-anak juga dapat mengurangi risiko kanker ovarium.
10

3. Tubal ligasi atau histerektomi. Setelah tabung Anda diikat atau memiliki histerektomi dapat mengurangi risiko kanker ovarium. Perempuan yang berada pada risiko yang sangat tinggi mengalami kanker ovarium dapat memilih untuk memiliki indung telur mereka diangkat sebagai cara untuk mencegah penyakit. Operasi ini, dikenal sebagai profilaksis ooforektomi, dianjurkan terutama bagi perempuan yang telah dites positif untuk mutasi gen BRCA atau wanita yang mempunyai sejarah keluarga yang kuat payudara dan kanker ovarium, bahkan jika tidak ada mutasi genetik yang telah diidentifikasi. Studi menunjukkan bahwa ooforektomi profilaksis

menurunkan risiko kanker ovarium hingga 95 persen, dan mengurangi risiko kanker payudara hingga 50 persen, jika ovarium diangkat sebelum menopause. Profilaksis ooforektomi mengurangi, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan, risiko kanker ovarium. Karena kanker ovarium biasanya berkembang di lapisan tipis rongga perut yang meliputi ovarium, wanita yang pernah diangkat indung telur mereka masih bisa mendapatkan yang serupa, tetapi jarang bentuk kanker yang disebut kanker peritoneal primer. Selain itu, profilaksis ooforektomi menginduksi menopause dini, yang dengan sendirinya mungkin memiliki dampak negatif pada kesehatan Anda, termasuk peningkatan risiko osteoporosis, penyakit jantung dan kondisi lain. Jika Anda sedang mempertimbangkan setelah prosedur ini dilakukan, pastikan untuk membahas pro dan kontra dengan dokter Anda. e. Kanker vagina Kanker vagina adalah keganasan berupa kanker yang timbul di vagina, tidak meliputi serviks dan pulpa. Vagina terletak antara vulva sampai awal serviks uteri. Kasus harus diklasiwikasikan sebagai karsinoma vagina bila lokasi primer pertumbuhannya adalah vagina. Tumor di vagina sebagai proses sekunder dari genital atau pun ekstragenital harus diklasifikasikan tersendiri. Pertumbuhan yang meluas sampai porsio dan mencapai area os eksterna dikategorikan sebagai karsinoma serviks. Pertumbuhan yang tebatas di uterta di klasifikasikan karsinoma utetra. Tumor yang melibatkan vulva dikategorikan sebagai karsinoma vulva. Menurut International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO), keganasan invasif yang melibatkan serviks dan vagina diklasifikasikan sebagai keganasan serviks. Vagina merupakan lokasi tersering terjadinya metastatis dari keganasan serviks dan
11

endometrium sehingga semakin sulit untuk menentukan lokasi utama keganasannya. Di Amerika Serikat, kanker vagina dua kali lebih sering terjadi pada wanita kulit hitam dibandingkan dengan wanita kulit putih. Meskipun tidak ada data kuat selain dari AS, diperkirakan bahwa angka kejadian kanker vagina di negara berkembang jauh lebih tinggi daripada di AS. Angka 5 years survival rate (rata-rata kemampuan hidup dalam 5 tahun setelah terdeteksi adanya kanker) adalah 50%, kira-kira sama dengan kanker serviks. f. Kanker vulva Kanker vulva adalah neoplasma/keganasan genital eksternal (organ kelamin terluar) pada wanita yang jarang dijumpai. Ca vulva lebih sering terjadi pada wanita dengan kanker primer (awal) pada serviks. Faktor resiko terjadinya kanker vulva: 1. Infeksi HPV atau kutil kelamin (kutil genitalis) HPV merupakan virus penyebab kutil kelamin dan ditularkan melalui hubungan seksual. 2. Pernah menderita kanker leher rahim atau kanker vagina 3. Infeksi sifilis 4. Diabetes 5. Obesitas 6. Tekanan darah tinggi. 7. Usia Tigaperempat penderita kanker vulva berusia diatas 50 tahun dan dua pertiganya berusia diatas 70 tahun ketika kanker pertama kali terdiagnosis. penderita kanker invasif adalah 65-70 tahun. 8. Hubungan seksual pada usia dini 9. Berganti-ganti pasangan seksual 10. Merokok 11. Infeksi HIV , HIV adalah virus penyebab AIDS. Virus ini menyebabkan kerusakan pada sistem kekebalan tubuh sehingga wanita lebih mudah mengalami infeksi HPV menahun. 12. Golongan sosial-ekonimi rendah Hal ini berhubungan dengan pelayanan kesehatan yang adekuat, termasuk pemeriksaan kandungan yang rutin. 13. Neoplasia intraepitel vulva (NIV) 14. Liken sklerosus Penyakit ini menyebabkan kulit vulva menjadi tipis dan gatal. 15. Peradangan vulva menahun
12

Usia rata-rata

16. Melanoma atau tahi lalat atipik pada kulit selain vulva. g. Penyatit trofoblastik gestasional Penyakit trofoblastik gestasional adalah sekelompok penyakit yang berasal dari khorion janin.Terdiri dari mola hidatidosa, mola invasif, koriokarsinoma dan tumor trofoblastik plasental site ( PSTT) yang ditandai oleh proliferasi jaringan trofoblastik yang abnormal. Mola hidatidosa merupakan bentuk jinak dari penyakit trofoblas gestasional dan dapat mengalami transformasi menjadi bentuk ganasnya yaitu koriokarsinoma.

Koriokarsinoma tidak selalu berasal dari molahidatidosa namun tidak jarang berasal dari kehamilan normal, prematur, abortus maupun kehamilan ektopik yang jaringan trofoblasnya mengalami konversi menjadi tumor trofoblas ganas. Bila seorang wanita menderita koriokarsinoma dan mempunyai riwayat kehamilan biasa dan mola sebelumnya, maka dengan pemeriksaan DNA kita dapat menentukan apakah koriokarsinoma ini berasal dari mola atau kehamilan biasa. Plasental site trofoblastik tumor (PSTT) merupakan bentuk lain dari tumor trofoblas gestasional (TTG) yang berasal dari sel-sel trofoblas pada tempat implantasi plasenta, gambaran klinik tidak sama dengan tumor trofoblas gestasional yang lain. Kelainan ini adalah yang merupakan neoplasma, sementara yang lain merupakan plasenta yang pembentukannya abnormal. Semua lesi trofoblastik dikumpulkan pada satu rubrik penyakit trofoblas gestasional (PTG) tanpa aplikasi istilah patologis tertentu. Tetapi penelitian sitogenetik, imunohistokimia menunjukkan perbedaan yang jelas dalam etiologi morfologi dan prilaku klinis setiap lesi. Penelitian ini menunjukkan pentingnya suatu klasifikasi histologis yang seragam untuk memastikan penanganan klinis yang cocok. Tetapi istilah PTG tetap memiliki kegunaan klinis karena prinsip monitoring hCG dalam follow up dan kemoterapi dari penyakit metastatik/ persistennya mirip. dini, sebaliknya di negara-negara yang sedang berkembang karena pada umumnya diagnosis terlambat maka penyulit-penyulit seperti perdarahan dan tirotoksikosis masih menjadi salah satu penyebab kematian ibu. Referat ini mengajak kita untuk mengingat kembali tentang diagnosis dan penatalaksaan tumor trofoblas di tempat implantasi plasenta.

2.3 Penyakit Pada Anak

Bayi dan anak-anak di bawah lima tahun adalah kelompok yang rentan terhadap berbagai penyakit karena sistem kekebalan tubuh mereka belum terbangun sempurna.
13

Sebagian besar penyakit anak tidak berbahaya dan hanya menyebabkan ketidaknyamanan sementara. Beberapa jenis lainnya sangat berbahaya, bahkan mengancam jiwa. Penyakit anak yang hanya menimbulkan ketidaknyaman sementara antara lain adalah sebagian besar ISPA (infeksi saluran pernapasan atas), rhinitis alergi, infeksi telinga tengah, radang tenggorokan, cacar air dan masalah kulit. Penanganan gangguan-gangguan kesehatan itu umumnya cukup dengan mengelola gejala-gejalanya. Penyakit anak yang berbahaya antara lain adalah tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio dan campak. Penyakit-penyakit tersebut dapat dicegah dengan imunisasi. Pemerintah bahkan secara nasional memiliki program imunisasi wajib untuk penyakit-penyakit tersebut. Selain itu, ada penyakit berbahaya lain seperti Hepatitis A/B, MMR, meningitis, pneumonia, dan tifoid yang juga dapat dicegah dengan vaksinasi. 1. ISPA ISPA adalah infeksi pada saluran pernapasan atas yang biasanya ditandai dengan bersin-bersin, hidung tersumbat atau meler, demam dan mungkin juga batuk. Jenis umum ISPA adalah pilek dan flu. Cara terbaik untuk mengatasi masalah ISPA adalah dengan memperbanyak beristirahat. Pilek dan flu biasanya hanya berlangsung beberapa hari saja dan tidak perlu penanganan dokter. Jika gejala memburuk atau tidak kunjung membaik, konsultasikan dengan dokter karena mungkin ada infeksi (lain) yang lebih serius. Beberapa jenis flu sangat berbahaya sehingga perlu penanganan cepat. 2. Infeksi radang tenggorokan Radang tenggorokan dapat merupakan tanda awal pilek, tapi juga dapat merupakan gejala penyakit tersendiri yang disebut infeksi radang tenggorokan. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri streptococcus b. Pada radang tenggorokan yang merupakan awal pilek, gejala biasanya menghilang sendiri setelah beberapa hari. Jika radang tenggorokan anak Anda berlangsung lebih dari empat hari, diikuti demam tinggi, bintik-bintik merah terang dan nanah putih di bagian belakang langit-langit dan amandel dan kesulitan menelan, konsultasikan ke dokter karena kemungkinan penyebabnya adalah infeksi radang tenggorokan. Infeksi radang tenggorokan terjadi pada saluran pernapasan atas, namun dokter umumnya tidak menyebutnya sebagai ISPA karena tidak menimbulkan gejala lain seperti hidung tersumbat/meler dan batuk. Infeksi ini dapat diobati dengan antibiotik. 3. Rhinitis alergi
14

Rhinitis alergi adalah peradangan hidung yang disebabkan oleh alergi. Pemicunya adalah alergen luar ruangan seperti serbuk sari atau alergen dalam ruangan seperti bulu hewan peliharaan, jamur, dan debu. Tanda dan gejala rhinitis alergi termasuk hidung meler atau tersumbat, sakit tenggorokan, mata berair dan gatal, sakit kepala, nyeri wajah dan kelelahan. Dokter dapat meresepkan antihistamin oral, semprotan kortikosteroid nasal dan suntikan alergi untuk mengobati rhinitis alergi yang parah. 4. Infeksi telinga tengah Infeksi telinga tengah (otitis media) sangat umum pada balita, yang biasanya mengikuti flu. Tiga dari empat anak setidaknya pernah mendapatkan satu infeksi telinga pada saat mereka berusia 3 tahun. Gejala umumnya adalah demam, cairan bening mengalir dari salah satu atau kedua telinga, sakit kepala, tidak menanggapi suara dan mengeluhkan rasa sakit atau menarik-narik telinga. Kebanyakan infeksi telinga disebabkan oleh virus sehingga tidak mempan antibiotik. Infeksi biasanya sembuh sendiri dalam beberapa hari. Pengobatan mungkin diperlukan hanya untuk meredakan demam yang terlalu tinggi dan mengurangi nyeri. Infeksi telinga tengah yang berulang dapat menyebabkan congekan (otitis media dengan efusi), di mana cairan lengket terakumulasi dan dapat memengaruhi pendengaran. Jika anak Anda mendapatkan masalah ini, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi perawatannya. 5. Cacar air Cacar air disebabkan oleh salah satu jenis virus herpes. Gejala khas cacar air adalah bintik-bintik merah di tubuh yang berubah menjadi benjolan-benjolan bening berisi air yang gatal dan menyebar di seluruh tubuh dalam beberapa hari. Terdapat vaksin untuk cacar air. Namun, jika anak Anda tidak mendapatkannya, penyakit ini biasanya cukup mudah untuk dilalui dan dia hanya perlu berurusan dengannya sekali seumur hidup. Itulah mengapa jarang sekali orang dewasa yang terkena cacar air, karena mereka telah mendapatkannya sewaktu anak-anak. Jika anak Anda terkena cacar air, pemberian krim topikal mungkin membantu untuk mengurangi gatal-gatal. Pereda demam tidak dibutuhkan kecuali suhu tubuhnya mencapai 39 C atau lebih. Sementara itu, karena virus cacar air sangat menular, sebaiknya Anda
15

mengarantina anak di rumah dan tidak membiarkannya bermain-main dengan anak lain sampai dia benar-benar sembuh. 6. Diare Diare, yang mungkin juga disertai muntah, bukanlah penyakit tetapi gejala dari penyakit tertentu. Penyebab diare paling umum adalah infeksi virus. Penyebab lainnya adalah infeksi bakteri, efek samping antibiotik, dan keracunan. Diare biasanya tidak berbahaya dan hanya menyebabkan dehidrasi ringan, yang ditandai oleh mulut sedikit kering, peningkatan rasa haus dan penurunan jumlah urin. Namun, Anda perlu waspada bila anak Anda menunjukkan tanda-tanda dehidrasi sedang dan berat seperti frekuensi buang air kecil yang sangat menurun (pada bayi, kurang dari satu popok basah dalam enam jam), kurangnya air mata ketika menangis, mulut kering dan mata cekung. Hal terpenting ketika mendapatkan diare adalah memastikan kecukupan asupan cairan. Diare dan muntah banyak mengeluarkan cairan, garam dan gula dari tubuh, sehingga harus diganti. Berikan anak Anda cairan elektrolit (misalnya oralit), jus buah atau minuman manis. Bila Anda dapat menjaga kecukupan asupan cairan, kondisi anak Anda tidak akan berbahaya, bahkan jika gejalanya berlangsung lebih dari 24 jam. Jika diare parah, terus berlangsung lebih dari 24 jam atau anak Anda kesulitan mendapatkan asupan cairan melalui mulut, segera konsultasikan dengan dokter. Jangan memberikan obat anti diare kepada anak-anak tanpa petunjuk dokter. 7. Masalah kulit Masalah kulit pada anak sangat beragam penyebabnya. Reaksi obat, infeksi, gigitan serangga, parasit dan alergi dapat menyebabkan masalah kulit. Kebanyakan masalah kulit menghilang sendiri tanpa pengobatan apapun. Namun, beberapa jenis masalah kulit dapat merupakan tanda penyakit serius. Dermatitis atopik adalah penyakit kulit yang paling umum pada anak yang disebabkan oleh reaksi alergi atau hipersensitivitas kulit yang bersifat genetik. Kulit anak menjadi sangat gatal dan meradang, kemerahan, menonjol, retak, pecah dan mengelupas. Beberapa faktor dapat memicu atau memperburuk dermatitis atopik, termasuk alergi, paparan sabun yang keras, deterjen, krim kulit dan cuaca dingin. Impetigo adalah masalah kulit lain yang dapat muncul
16

dan disebabkan infeksi bakteri. Penyakit ini biasanya ditandai bintik-bintik atau parut kerak berwarna madu di sekitar mulut dan hidung. Penyakit kulit lain yang dapat muncul pada anak antara lain adalah scabies (kudisan), dermatitis seboroik dan dermatitis kontak. Banyak ruam kulit memiliki penampilan yang sama, sehingga sulit untuk mengetahui penyebabnya tanpa diagnosis yang tepat. Kapan pun anak Anda memiliki masalah kulit yang terlihat serius, konsultasikan dengan dokter Anda.
8. tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) adalah infeksi bakteri pada paru-paru yang diperkirakan memegaruhi sekitar sepertiga penduduk dunia. Kuman TB menyebar ketika penderita TB batuk atau bersin. Pada anak-anak, gejala TB adalah batuk kering, kesulitan bernapas, demam, nafsu makan menurun, keringat malam, dan kesulitan mendapatkan kenaikan berat badan. Namun, gejalanya seringkali tidak jelas atau samar sehingga untuk memastikan TB perlu diagnosis dengan tes kulit (mantoux) dan rontgen paru. Bila anak Anda terdiagnosis TB, tersedia pengobatan seperti INH atau rifampisin yang harus diberikan untuk jangka waktu tertentu (6 bulan atau lebih) tanpa putus. 9. Difteri Difteri adalah infeksi berat pada tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri. Gejala penyakit ini antara lain demam, radang tenggorokan, kelumpuhan tangan dan kaki, dan sesak napas. Difteri yang parah dapat menyebabkan gagal jantung, kerusakan saraf dan mati lemas. Penyakit ini ditularkan melalui batuk, bersin dan kontak tangan. 10. Tetanus Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang ditemukan di dalam tanah dan kotoran hewan. Bakteri tetanus dapat memasuki tubuh melalui luka atau gigitan hewan. Bakteri itu sendiri tidak berbahaya bagi manusia, tetapi mengeluarkan racun kuat yang merangsang saraf pengendali otot dan menyebabkan kejang-kejang tidak terkendali. Tetanus dapat menyebabkan otot dan tendon pecah, sendi terkunci, sesak napas dan kematian.

17

11. Pertusis (batuk rejan) Infeksi bakteri yang sangat menular ini menyebar melalui batuk dan bersin. Gejala pertusis dimulai seperti pilek tetapi disertai kejang, pernapasan berbunyi, muntah dan batuk rejan yang mengeluarkan lendir lengket. Gejala bisa berlangsung hingga 3-4 bulan dan biasanya memburuk pada malam hari. Pada bayi di bawah 6 bulan, pertusis dapat menyebabkan pneumonia, penurunan berat badan, kerusakan otak dan bahkan kematian. 12. Campak Campak pernah menjadi penyakit anak yang paling umum sebelum vaksinnya ditemukan. Campak dimulai seperti pilek yang disertai demam, lalu muncul ruam setelah dua hari. Pada kasus yang serius, campak dapat menyebabkan bronkitis, bronkiolitis, infeksi telinga dan gangguan sistem saraf. 13. Gondongan Gondongan adalah infeksi virus yang menyebabkan pembengkakan di sekitar pipi dan leher yang disertai demam, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Seperti halnya cacar air, gondongan hanya menyerang sekali seumur hidup. Penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi serius seperti meningitis, radang testis (orkitis) yang dapat menyebabkan kemandulan, radang ovarium, dan pada kasus yang sangat langka, peradangan pankreas, tiroid, jantung, hati, nyeri sendi dan gangguan ginjal. 14. Rubella (campak jerman) Rubella adalah infeksi virus yang ditandai dengan demam, ruam merah yang tidak gatal dan pembengkakan kelenjar. Penyakit yang ditularkan melalui batuk, bersin dan air liur ini biasanya tidak berbahaya. Namun, bila infeksi terjadi pada wanita hamil di trimester pertama, rubella dapat mengakibatkan keguguran atau kelainan janin di telinga (tuli), mata (buta), jantung atau otak. 15. Polio Pada tahun 2005, Indonesia dan 11 negara lain yang sebelumnya dinyatakan bebas polio mengalami wabah polio karena virus impor liar dari salah satu negara endemik yang
18

masih tersisa: Afganistan, India, Nigeria dan Pakistan. Sejak saat itu, polio kembali menjadi ancaman yang nyata bagi anak-anak kita. Virus polio menyerang otak dan sumsum tulang belakang dan dapat menyebabkan kelumpuhan. Penyakit ini menyebar melalui kontak dengan lendir, feses atau air liur orang yang terinfeksi. Infeksi polio mungkin tanpa gejala. Bila timbul gejala, anak Anda akan mengalami sakit kepala, gangguan pencernaan, badan lemas dan kekakuan leher dan punggung.

17. Meningitis Meningitis adalah radang pada selaput yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (meninges). Tergantung pada penyebabnya, meningitis dapat sembuh sendiri dalam beberapa minggu atau menjadi kedaruratan yang mengancam jiwa. Tanda-tanda dan gejalagejala meningitis termasuk demam, mual, muntah, leher kaku, papilledema, pernapasan cepat, sakit kepala parah, perubahan sikap mental dan kepekaan terhadap cahaya 18. Pneumonia Pneumonia adalah penyebab utama kematian pada anak di seluruh dunia. Sekitar 1,6 juta anak setiap tahun meninggal karena penyakit ini, lebih dari AIDS, malaria dan TBC digabungkan. Pneumonia adalah infeksi pernapasan akut yang memengaruhi paru-paru. Pada penderita pneumonia, alveoli paru dipenuhi dengan nanah dan cairan sehingga bernapas jadi menyakitkan dan asupan oksigen berkurang. Pneumonia disebabkan oleh virus, bakteri dan jamur. Penyebab paling umum pneumonia adalah streptococcus pneumoniae, hemophilus influenza tipe B (HIB), dan respiratory syncytial virus (RSV). Selain melalui batuk atau bersin, pneumonia dapat menyebar melalui darah dari ibu ke anak, terutama selama dan segera setelah proses kelahiran bayi. 19. Hepatitis A Hepatitis A adalah infeksi virus pada hati yang menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi atau melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Beberapa anak yang terkena hepatitis A mungkin tidak memiliki gejala sama sekali, sementara yang
19

lain mungkin memiliki gejala ringan mirip flu. Infeksi ini sangat umum di kalangan bayi dan balita. Meskipun gejalanya tidak menyenangkan, hepatitis A jarang yang serius. 20. Hepatitis B Hepatitis B adalah penyakit virus yang menyebabkan iritasi dan peradangan hati. Virus ini menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh dari orang yang terinfeks atau dari ibu ke bayi saat proses kelahiran. Hepatitis B tidak menular melalui udara, makanan atau air. Gejala hepatitis B mungkin tidak muncul sampai 6 bulan setelah waktu infeksi. Gejala awal termasuk kehilangan nafsu makan, kelelahan, demam, nyeri otot dan sendi, mual dan muntah, kulit kuning dan air seni gelap. Vaksin terhadap penyakit ini adalah imunisasi Hep B. 21. Leukemia Leukemia adalah jenis kanker yang memengaruhi darah dan sumsum tulang. Penyakit ini adalah penyebab utama kematian pada anak di bawah usia 20. Diagnosis dini, pengobatan agresif dan pemantauan sangat penting untuk memperpanjang hidup dan meningkatkan kemungkinan sembuh. Ada dua jenis leukemia: akut dan kronis. Leukemia akut adalah bentuk kanker dengan progresivitas cepat sedangkan leukemia kronis berkembang secara bertahap. Ada empat jenis perawatan yang umumnya digunakan untuk leukemia. Kemoterapi, radioterapi, dan transplantasi sumsum tulang dan imunoterapi. Kombinasi dari empat terapi seringkali diterapkan. Kemoterapi menggunakan bahan kimia untuk mengobati seluruh tubuh. Radioterapi menggunakan radiasi pada daerah tertentu. Transplantasi sumsum tulang adalah operasi di mana sumsum dari donor dicangkokkan ke pasien. Imunoterapi merangsang sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh dapat menyerang sel-sel kanker. 22. Penyakit kawasaki Seorang dokter bernama Tomisaku Kawasaki pertama kali menemukan penyakit ini di Jepang pada tahun 1960. Penyakit kawasaki adalah penyakit anak-anak yang sangat jarang dan belum diketahui penyebabnya. Kebanyakan penderita penyakit ini adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun. Gejala penyakit kawasaki adalah kombinasi demam tinggi, ruam, telapak tangan dan telapak kaki memerah, tangan dan kaki bengkak, mata merah, kelenjar getah bening membesar dan bibir pecah-pecah. Penyakit ini dapat menyebabkan pembuluh jantung meradang sehingga merusak jantung. Di rumah sakit, dokter mengobati penyakit kawasaki
20

dengan obat dosis tinggi yang meningkatkan respon kekebalan tubuh. Kebanyakan anak sembuh dengan pengobatan, tetapi penyakit ini kadang-kadang berakibat fatal. 23. Demam tifoid Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri salmonella typhi yang hanya dapat hidup di darah dan saluran usus manusia. Bakteri ini menyebar ketika anak mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh tinja atau urin dari orang yang terinfeksi. Gejala umumnya termasuk demam tinggi, malaise, sakit kepala, sembelit atau diare, bintikbintik merah di dada, dan pembesaran limpa dan hati. Anak Anda dapat dilindungi dari demam tifoid dengan vaksinasi. 24. marasmikkwarshiorkor kwashiorkor adalah istilah pertama dari afrika, sindrom perkembangan anak dimana anak tersebut disapih tidak mendapatkan ASI sesudah satu tahun karena menantikelahiran bayi berikutnya. Makanan pengganti ASI sebagian besar terdiri dari pati atau air gula, tetapi kurang protein baik kualitas dan kuantitasnya. Sedangkan marasmus adalah suatu keadaan kekurangan protein dan kilokaori yang kronis. Karakteristik dari marasmus adalah berat badan yang sangat rendah.

21

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Dar penjelasan diatas kita simpulakan bahwa masih tinggi angka morbiditas dan mortalitas di Indonesia khususnya. Angka Kematian Ibu bersama dengan Angka Kematian Bayi senantiasa menjadi indikator keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menyebutkan bahwa, Angka Kematian Ibu untuk periode 5 tahun sebelum survey (2003-2007) sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini turun dibandingkan Angka Kematian Ibu hasil SDKI tahun 2002-2003 mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2009). Wanita erat kaitannya dengan hal kesehatan reproduksi dan kependudukan. Kesehatan reproduksi menurut WHO, ICPD 1994, adalah suatu keadaan sejahtera fisik , mental dan sosial secara utuh tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam suatu hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya (Maryanti, 2009).

3.2 Saran Dengan adanya makalah ini penulis mengharapan adanya perubahan sikap mengenai perilaku makan dari yang kurang baik mejadi yang lebih baik. Dengan demikian tercapailah tujuan pembelajaran dan banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi morbiditas dan mortallitas. Kemudian penulis meminta kritik dan saran kepada pembaca demi kebaikan makalah ini dan perkembangan ilmu pengetahuan.

22

DAFTAR PUSTAKA
FKM UN. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Rasjidi., Imam. 2010. 100 Questions & Answers Kanker pada Wanita. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang

PERLINDUNGAN ANAK. http://pondokibu.com/6314/bahaya-penyakit-torch-pada-kehamilan/ http://sigidhs.blogspot.com/2012/05/hipertensi-pada-kehamilan.html http://id.wikipedia.org/wiki/Ibu http://pondokibu.com/6518/dampak-anemia-terhadap-ibu-hamil-dan-janin/ ssshttp://kautsarku.wordpress.com/2008/01/24/10-penyakit-pertama-pada-bayi/ http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/05/14391346/Waspadai.Penyakit.Kawasaki.pada. Balita

23