Anda di halaman 1dari 5

FAKTOR RISIKO NUTRISI PADA LANSIA

Disamping perubahan yang berkaitan dengan usia, perilaku tertentu dan kondisi patologis umumnya cenderung mengganggu nutrisi dan pencernaan lansia. Kondisi patologis gigi dan mulut memperanguhi fungsi oral, pemilihan makanan, obat-obatan, dan alcohol mempengaruhi gizi dan pencernaan dalam berbagai cara. Suatu penelitian mengidentifikasi kesehatan mulut yang buruk sebagai penyebab yang potensial dalam penurunan berat badan yang signifikan pada lansia yang lemah. Perilaku yang merugikan gizi dan pencernaan, seperti asupan cairan yang terbatas dapat didasari dari kepercayaan dan mitos yang dianut lansia. 1. Tidak adanya gigi yang dapat berisiko terhadap kesehatan mulut Beberapa tahun lalu, kehilangan gigi sangat umum diantara orang tua yang dianggap sebagai konsekuensi normal dari penuaan. Terdapat beberapa faktor yang menjadi hambatan dapam mendapatkan perawatan gigi, yaitu: Kurangnya transportasi Kurangnya asuransi gigi Tingginya biaya layanan gigi Tempat praktek yang susah diakses karena jarak atau lingkungan Sikap negative dari dokter gigi yang menganggap bahwa kehilangan gigi sebagai hal yang tak terelakan seiring dengan bertambahnya usia Para lansia lebih percaya apabila ke dokter gigi ketika pengobatan dirumah tidak ampuh.

2. Perilaku yang didasarkan pada mitos dan kepercayaan yang mengganggu pencernaan dan nutrisi Mitos dan kepercayaan dapat menyebabkan masalah sembelit dengan mempengaruhi asupdan makanan dan perilaku yang berkaitan dengan fungsi usus. Selama tahun 1950 dan 1960-an, ada kepercayaan bahwa serat, buah-buahan, dan sayuran mentah berbahaya bagi orang tua. Sebaliknya, serat dari buah-buahan dan sayuran yang dimasak dapat memperlambat waktu keluarnya tinja melalui usus besar yang dapat menghilangkan sembelit. Kepercayaan lain pada awal 1900-an adalah gerakan peristaltic usus sehari-hari merupakan aturan untuk membuat fungsi pencernaan menjadi baik. Kepercayaan ini

membuat rugi produsen obat pencahar serta diperkuat dengan tekanan pada kata keteraturan yang berarti bahwa buang air besar dapat dicapai melalui pengobatan. Kepercayaan tentang asupan cairan juga dapat mengganggu pencernaan dan nutrisi lansia. Lansia akan mengurangi jumlah cairan yang mereka konsumsi dengan harapan bahwa tindakan ini akan meminimalkan kemungkinan inkontinensia. Asupan cairan juga dapat dibatasi jika keterbatasan fungsional sepertinya turunnya mobilitas dan kemudahan memenuhi kebutuhan eliminasi urin. Jika asupan cairan dikurangi dapat membuat sembelit, mulut kering, dan kurangnya nafsu makan.

3. Obat - interaksi nutrisi Obat langsung dapat mempengaruhi penyerapan dan ekskresi nutrisi. Sintesis tertentu, misalnya, perubahan dalam flora usus yang disebabkan oleh antibiotic spectrum luas. Obat dan vitamin yang sama dalam struktur kimia dapat menyelesaikan tindakan sehingga ekskresi mreka berubah. Obat-obat lain seperti tetracycline, mengikat ion tertentu, seperti besi dan kalsium untuk membentuk senyawa yang tidak diserap. Diuretic dapat mengganggu angkutan air, natrium, glukosa, dan asam amino. Contoh tambahan efek obat terhadap nutrisi dapat dilihat pada table di bawah ini: Obat Mineral Oil Efek nutrisi Penurunan penyerapan vitamin A, D, E, dan K Anticonvulsant Penurunan simpanan vitamin K, penurunan penyerapan kalsium Antacida yang mengandung aluminnium Penurunan penyerapan fosfor dan fluoride, ekskresi kalsium meningkat Antacida yang mengandung aluminnium dan magnesium Antasida mengandung sodium bikarbonat Gentasimin Penurunan penyerapan dan eliminasi usus, peningkatan fosfat Kelebihan natrium, retensi air Peningkatan ekskresi kalium dan magnesium Penisilin Peningkatan ekskresi kalium

Tetracycline

Penurunan penyesapan seng, besi, kalsium, dan magnesium

Aspirin

Penurunan tingkat serum folat dan vitamin C, defisiensi anemia zat besi

Kortikosteroid

Penurunan penyerapan kalsium dan fosfor, peningkatan kebutuhan folat, piridoksin, vitamin C, dan vitamin D

Suplemen Kalium

Penurunan penyerapan vitamin B12 sekunder untuk mengurangi keasaman di illeum

Pencahar

Hipokalemia, hipoalbumenia, penurunan penyerapan kalsium, malabsorpsi dengan steatorrhea

Cholestyramine

Penurunan penyerapan folat, kalsium, dan vitamin yang larut dalam lemak

Cimetidine

Penurunan penyerapan vitamin B12 sebagai akibat dari hypochlorida

Neomisin

Penurunan penyerapan lemak, besi, laktosa, nitrogen, kalsium, kalium, dan vitamin B12

NSAID (nonsteroidal anti-inflammatory drug)

Defisiensi anemia

Alcohol juga dapat mengubah status gizi lansia. Alcohol memiliki kandungan kalori tinggi tetapi nilai nutrisi yang rendah, sehingga memberikan kalori kosong.

4. Efek pengobatan pada gizi dan perencanaan Obat-obatan juga mungkin memiliki efek samping yang mengganggu asupan makanan dan pencernaan. Walaupun efek obat ini tidak unik yang berkaitan dengan usia, mereka lebih mungkin terjadi pada lansia karena peningkatan penggunaan resep dan obat over-the-

counter pada populasi ini. Selain itu, efek obat cenderung lebih merugikan lansia karena mereka dapat memperburuk perubahan berkaitan dengan usia dan faktor risiko. Obat dapat langsung mengganggu gizi dengan menyebabkan gejala seperti anoreksia, xerostomia (mulut kering), dysgeusia (penurunan rasa), dan kenyang awal.Bahkan, obat telah dikutip sebagai penyebab paling umum dari penurunan produksi air liur dan keluhan mulut kering pada lansia (Atkinson and Fox, 1992). Obat-obatan juga dapat mempengaruhi jaringan oral, menyebabkan rasa tidak nyaman saat makan atau mengunyah. Sebagai contoh, hiperplasia gusi dikaitkan dengan fenitoin, nifedipin, diltiazem, dan siklosporin. Sembelit adalah efek buruk umum banyak obat, terutama obat pencahar dan agen yang bekerja pada sistem saraf pusat. ileus Paralytic, yang memiliki dampak serius pada fungsi pencernaan, mungkin timbul dari obat antikolinergik atau dari hipokalemia yang disebabkan oleh diuretik kalium. Table di bawah ini tentang reaksi obat yang merugikan yang dapat mempengaruhi gizi.

Obat Dygoxin, theophylline, antihistamines

Reksi yang mungkin merugikan Anorexia

Anticholinergics, narkotik, asam sulfat, obat Konstipasi psikotropik, aluminium dan antacid kalsium, tricyclic antidepressants Cimetidine, laksatif, antibiotic, analgesic, asam sulfat, obat jantung, antasida mengandung magnesium hydroxide Diuretic, ibuprofen, hipnotik, antipsikotik, antidepressant, antihistamin, dekongestan, anticholinergic, clonidine Ibuprofen, phenylbutazone, indomethacin, aspirin, phenobartital, kostikosteroid Anticholinergics, furosemide dan potassium lainnya Agen pembentuk sebelum makan Kenyang awal Paralisis usus Peningkatan iritasi lambung Mulut kering Diare

Postural hipotensi, gejala ekstrapiramidal, dan tardive dyskinesia adalah contoh efek obat merugikan yang mengganggu fungsional yang terlibat dalam pengadaan makanan, persiapan, konsumsi, dan penghargaan. Terakhir, obat-obatan secara tidak langsung dapat mengganggu gizi dengan menyebabkan perubahan mental, seperti demensia dan depresi, yang mengganggu selera dan kemampuan fungsional. Efek-efek obat dapat membahayakan status gizi dari beberapa orang dewasa yang lebih tua, khususnya jika mereka tinggal dalam pengaturan independen dan bertanggung jawab atas penyusunan makanan mereka sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Miller, Carol A. 1995. Nursing Care of Older Adults Theory and Practice 2nd ed. Philadelphia: J.B Lippincott Company Tyson, Shirley Rose. 1999. Gerontological Nursing Care. Philadelphia: W B Saunders Company