Anda di halaman 1dari 9

Objek dan Subjek PPN

Syarat-syarat penyerahan barang/jasa kena pajak


Penyerahan barang yang dikenai pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. barang berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak, barang berwujud adalah segala sesuatu yang dapat dilihat, diraba dan dicapai oleh panca indera b. barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, barang tidak berwujud adalah segala sesuatu yang tidak dapat dilihat, diraba dan dicapai oleh panca indera sifat yang melekat pada benda berupa hak yang memberikan nilai ekonomis kepada pemiliknya c. penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean; daerah pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara di atasnya serta tempattempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan penyerahan adalah (saat suatu barang nyata-nyata berpindah kepemilikannya)(?) d. penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya. contohnya: PT. Lawson yang bergerak dalam bisnis jual beli mobil, menyerahkan mobil kepada PT. X dalam transaksi jual beli, transaksi ini dikenakan PPN. Namun apa bila PT. Lawson menjual sparepart bekas, transaksi ini tidak dikenakan PPN karena PT. Lawson bergerak dalam bidang jual beli mobil bukan sparepart bekas Penyerahan jasa yang terutang pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. jasa yang diserahkan merupakan Jasa Kena Pajak, JKP adalah Jasa yang dikenakan pajak berdasarkan UU PPN 1984 b. penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean; dan c. penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya. (Penjelasan pasal 4 ayat 1 huruf c)

Objek-objek PPN psl. 4, 16C & 16D


Pasal 4 (1) Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas: a. penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha; Penjelasan pasal 4 ayat 1 huruf a

Pengusaha yang melakukan kegiatan penyerahan Barang Kena Pajak meliputi baik Pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3A ayat (1) maupun Pengusaha yang seharusnya dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak, tetapi belum dikukuhkan. Penyerahan barang yang dikenai pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. barang berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak*, b. barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan Kena Pajak Tidak Berwujud, c. penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean; dan d. penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya. *Barang Kena Pajak adalah barang yang dikenai pajak berdasarkan Undang-undang ini.(pasal 1 ayat 3 UU PPN 1984) Pada dasarnya semua barang adalah barag kena pajak, kecuali ditentukan lain oleh UU PPN 1984. Barang yang bukan merupakan Barang Kena Pajak diatur dalam pasal 4A ayat 2 UU PPN 1984.
b.

impor Barang Kena Pajak; Penjelasan pasal 4 ayat 1 huruf b Pajak juga dipungut pada saat impor Barang Kena Pajak. Pemungutan dilakukan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Berbeda dengan penyerahan Barang Kena Pajak pada huruf a, siapapun yang memasukkan Barang Kena Pajak ke dalam Daerah Pabean, tanpa memperhatikan apakah dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya atau tidak, tetap dikenai pajak.

c.

penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha; Penjelasan pasal 4 ayat 1 huruf c Pengusaha yang melakukan kegiatan penyerahan Jasa Kena Pajak meliputi baik Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3A ayat (1) maupun Pengusaha yang seharusnya dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, tetapi belum dikukuhkan. Penyerahan jasa yang terutang pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. yang diserahkan merupakan Jasa Kena Pajak*, b. dilakukan di dalam Daerah Pabean; c. dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya. Termasuk dalam pengertian penyerahan Jasa Kena Pajak adalah Jasa Kena Pajak yang dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri dan/atau yang diberikan secara cuma-cuma.

*Jasa Kena Pajak adalah jasa yang dikenai pajak berdasarkan Undangundang ini. (pasal 1 ayat 6 UU PPN 1984). Sedang jasa yang bukan merupakan Jasa Kena Pajak diatur dalam pasal 4A ayat 2 UU PPN 1984.
d.

pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean; Penjelasan pasal 4 ayat 1 huruf d Untuk dapat memberikan perlakuan pengenaan pajak yang sama dengan impor Barang Kena Pajak, atas Barang Kena Pajak Tidak Berwujud yang berasal dari luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan oleh siapa pun di dalam Daerah Pabean juga dikenai Pajak Pertambahan Nilai.

pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean; Penjelasan pasal 4 ayat 1 huruf e Jasa yang berasal dari luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan oleh siapapun di dalam Daerah Pabean dikenai Pajak Pertambahan Nilai. contohnya PT ABC menyewa jasa konsultasi pertambangan dari XYZ company yang berada di Thailand. Atas pemanfaatan jasa tersebut, PT ABC dikenai PPN atas pemanfaatan JKP dari luar daerah pabeandi dalam daerah pabean. f. ekspor Barang Kena Pajak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak; Penjelasan pasal 4 ayat 1 huruf f Berbeda dengan Pengusaha yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan/atau huruf c, Pengusaha yang melakukan ekspor Barang Kena Pajak Berwujud hanya Pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3A ayat (1). contoh: PT X PKP yang melakukan ekspor mobil ke Singapura, atas ekspor tersebut PT X dikenai PPN. Sementara PT Y bukan PKP yang melakukan ekspor barang elektronik ke Vietnam, atas ekspor tersebut PT Y tidak dikenai PPN. g. ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak; Penjelasan pasal 4 ayat 1 huruf g Sebagaimana halnya dengan kegiatan ekspor Barang Kena Pajak Berwujud, pengusaha yang melakukan ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud hanya pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3A ayat (1).
e.

Yang dimaksud dengan "Barang Kena Pajak Tidak Berwujud" adalah : 1. Penggunaan atau hak menggunakan hak cipta di bidang kesusastraan, kesenian atau karya ilmiah, paten, desain atau model, rencana, formula atau proses rahasia, merek dagang,

atau bentuk hak kekayaan intelektual/industrial atau hak serupa lainnya; 2. penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan industrial, komersial, atau ilmiah; 3. pemberian pengetahuan atau informasi di bidang ilmiah, teknikal, industrial, atau komersial; 4. pemberian bantuan tambahan atau pelengkap sehubungan dengan penggunaan atau hak menggunakan hakhak tersebut pada angka 1, penggunaan atau hak peralatan/perlengkapan tersebut pada angka 2, atau pemberian pengetahuan atau informasi tersebut pada angka 3, berupa : a) penerimaan atau hak menerima rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya, yang disalurkan kepada masyarakat melalui satelit, kabel, serta optik, atau teknologi yang serupa; b) penggunaan atau hak menggunakan rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya, untuk siaran televisi atau radio yang disiarkan/dipancarkan melalui satelit, kabel, serat optik, atau teknologi yang serupa; dan c) penggunaan atau hak menggunakan sebagian atau seluruh spektrum radio komunikasi; 5. penggunaan atau hak menggunakan film gambar hidup (motion picture films), film atau pita video untuk siaran televisi, atau pita suara untuk siaran radio; dan 6. pelepasan seluruhnya atau sebagian hak yang berkenaan dengan penggunaan atau pemberian hak kekayaan intelektual/industrial atau hak-hak lainnya tersebut di atas. ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak. Penjelasan pasal 4 ayat 1 huruf h Termasuk dalam pengertian ekspor Jasa Kena Pajak adalah penyerahan Jasa Kena Pajak dari dalam Daerah Pabean ke luar Daerah Pabean oleh Pengusaha Kena Pajak yang menghasilkan dan melakukan ekspor Barang Kena Pajak Berwujud atas dasar pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan di luar Daerah Pabean. contoh : PT Z PKP bergerak di bidang jasa pemasaran di wilayah Asia Timur, atas penyerahan tersebut PT Z dikenai PPN atas ekspor jasa (2) Ketentuan mengenai batasan kegiatan dan jenis Jasa Kena Pajak yang atas ekspornya dikenai Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. PMK yang mengatur adalah PMK 70/PMK.03/2010 tentang Batasan Kegiatan dan Jenis Jasa Kena Pajak Yang Atas Ekspornya Pajak Pertambahan Nilai yang diubah dengan PMK 30/PMK.03/2011 tentang Perubahan Atas
h.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 70/PMK.03/2010 Tentang Batasan Kegiatan dan Jenis Jasa Kena Pajak Yang Atas Ekspornya Dikenai Pajak Pertambahan Nilai Pasal 16C Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain yang batasan dan tata caranya diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan. Kegiatan membangun sendiri ini diatur dalam KMK No 554/KMK.04/2000 diubah terakhir PMK No 39/PMK.03/2010 Kegiatan membangun sendiri adalah kegiatan membangun bangunan yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain. Bangunan adalah satu atau lebih konstruksi teknik yang ditanam atau diletakkan secara tetap pada satu kesatuan tanah dan/atau perairan dengan kriteria: a. konstruksi utamanya terdiri dari kayu, beton, pasangan batu bata atau bahan sejenis, dan/atau baja; b. diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha; c. luas keseluruhan paling sedikit 300m2 (tiga ratus meter persegi) contoh : PT Bangun Nusa bergerak dibidang perdagangan membangun gedung kantor seluas 400m2. Atas kegiatan tersebut, PT Bangun Nusa dikenai PPN atas kegiatan membangun sendiri. Pasal 16D Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak, kecuali atas penyerahan aktiva yang Pajak Masukannya tidak dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c. yang dikecualikan dari pasal 16D karena tidak dapat dikreditkan : PM berkenaan dengan perolehan BKP atau JKP yang digunakan tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha; PM atas perolehan kendaraan bermotor berbentuk sedan atau station wagon.

Perbedaan Pasal 4 (1a) dengan 16D


Pasal 4 (1a) Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha Dalam pasal ini ada 3 hal yg perlu dipenuhi sebelum dikenakan PPN a. penyerahan dilakukan atas BKP b. penyerahan dilakukan di daerah pabean c. penyerahan dilakukan oleh pengusaha

Pasal 16D Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak, kecuali atas penyerahan aktiva yang Pajak Masukannya tidak dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c Sedangkan dalam pasal ini yg perlu dipenuhi adalah a. penyerahan dilakukan atas BKP berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan b. ga ditentukan tempat penyerahan (?) b. penyerahan dilakukan oleh pengusaha kena pajak c. penyerahan dilakukan selain atas aktiva yang pajak masukkannya tidak dapat dikreditkan sbgmn dimaksud Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c, yaitu : - perolehan bkp/jkp yg tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha - perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon , kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan Penjelasan: a. pada pasal 4 (1a), penyerahan dilakukan atas BKP (tanpa memperhatikan jenisnya), sedangkan pada pasal 16D, penyerahan dilakukan atas aktiva yang awalnya tidak dimaksudkan untuk dijual kembali b pada pasal 4 (1a), penyerahan dilakukan di daerah pabean, sedangkan pasal 16D tidak menyebutkan secara eksplisit tempat penyerahannya agar baik di dalam maupun diluar daerah pabean tetap dapat dikenakan PPN c. pada pasal 4 (1a), penyerahan dilakukan oleh pengusaha (baik terdaftar sebagai PKP maupun belum), sedangkan pada pasal 16D, hanya penyerahan yang yg dilakukan oleh PKP d. pasal 16D memberikan pengecualian utk aktiva yg tidak berhubungan langsung dg kegiatan usaha dan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon kecuali barang dagangan atau disewakan (baca huruf2 lain pasal 9 ayat 8)

Perbedaan Pasal 4 (1c) dengan 16C


Pasal 4(1c) Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha Dalam pasal ini ada 3 hal yg perlu dipenuhi sebelum dikenakan PPN a. penyerahan dilakukan atas JKP b. penyerahan dilakukan di daerah pabean c. penyerahan dilakukan oleh pengusaha Pasal 16C Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain yang batasan dan tata caranya diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan Sedangkan dalam pasal ini yg perlu dipenuhi adalah

a. Dikenakan atas kegiatan membangun sendiri b. tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan c. oleh orang pribadi atau badan d. hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain e. batasan dan tata caranya diatur dengan KMK no. 554/KMK.04/2000 sdtd. PMK no. 39/KMK.03/2010 Penjelasan: (dalam perbandingan dengan JKP berupa jasa konstruksi) a. pada pasal 4 (1c) dilakukan penyerahan jasa dalam kegiatan usaha (penjelasan pasal) , sedangkan dalam pasal 16C dilakukan kegiatan membangun sendiri untuk dimanfaatkan sendiri atau pihak lain b. pada pasal 4 (1c), hanya dikenakan untuk penyerahan jasa dalam daerah pabean, sedangkan dalam pasal 16C tidak disebutkan tempat penyerahan c. pada pasal 16C ada ketentuan batasan dan tata caranya di KMK no. 554/KMK.04/2000 sdtd. PMK no. 39/KMK.03/2010

Penerapan Destination Principle dalam Pasal 4 Ayat 1 Huruf d dan e


Destination Principle adalah suatu prinsip pengenaan pajak yang berdasarkan dimana objek PPN tersebut dikenakan dan sering juga disebut sebagai pengenaan pajak berdasarkan konsumsi dalam negri. Pada pasal 4 ayat 1 huruf d UU PPN 1984 yang berbunyi Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean dan pasal 4 huruf e UU PPN 1984 yang berbunyi Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari Luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean bisa kita ketahui bahwa penerapan prinsip Destination Principle pada pasal ini sangat jelas terbukti dengan pengenaan PPN hanya dilakukan atas pemanfaatan yang dilakukan di dalam Daerah Pabean saja. Apabila pemanfaatan tersebut dilakukan diluar Daerah Pabean maka prinsip destination principle tidak berlaku sehingga tidak ada pengenaan PPN. Contoh : Suatu perusahaan A yang berkedudukan di Bintaro memperoleh hak menggunakan merek dagang yang dimiliki pengusaha yang berkedudukan di China. Atas pemanfaatan merek dagang yang dilakukan perusahaan A di dalam daerah pabean dikenakan PPN

Subjek PPN dan Kewajibannya


Subjek PPN a. PKP adalah pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP yang dikenai pajak berdasarkan UU PPN 1984 (pasal 1 angka 15 UU PPN 1984) antara lain: a. Penyerahan BKP di dalam Daerah Pabean (Pasal 4 ayat1 huruf a UU PPN 1984) b. Penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean (Pasal 4 ayat1 huruf c UU PPN 1984)

c. Ekspor BKP berwujud (Pasal 4 ayat1 huruf f UU PPN 1984) d. Ekspor BKP tidak berwujud (Pasal 4 ayat1 huruf g UU PPN 1984) e. Ekspor JKP (Pasal 4 ayat1 huruf h UU PPN 1984)
b.

Non PKP Orang Pribadi atau Badan yang : a. Memanfaatkan BKP tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean (Pasal 4 ayat1 huruf d UU PPN 1984) b. Memanfaatkan JKP dari luar Daerah Pabean (Pasal 4 ayat1 huruf e UU PPN 1984) Pengusaha Kecil adalah pengusaha yang menyerahkan BKP dan atau JKP dalam satu tahun buku memperoleh jumlah peredaran bruto atas penerimaan bruto tidak lebih dari Rp 600.000.000. (PMK nomor 68/PMK.03/2010)

Kewajiban PKP 1. Pasal 3a UU PPN 1984 (1) Pengusaha yang melakukan penyerahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a, huruf c, huruf f, huruf g, dan huruf h, kecuali pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan wajib memungut, menyetor, dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang. Penjelasan : pasal 3a ayat 1 Pengusaha yang melakukan penyerahan BarangKena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean dan/atau melakukan ekspor Barang Kena Pajak Berwujud, ekspor Jasa Kena Pajak, dan/atau ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud diwajibkan: melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak; memungut pajak yang terutang; menyetorkan Pajak Pertambahan Nilai yang masih harus dibayar dalam hal Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan yang dapat dikreditkan serta menyetorkan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang; dan melaporkan penghitungan pajak. Kewajiban di atas tidak berlaku untuk pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Kewajiban Non PKP (Pasal 3a ayat 1a, 2 dan 3 UU PPN 1984) (1a) Pengusaha kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. (2) Pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak wajib melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Orang pribadi atau badan yang memanfaatkan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf d dan/atau yang memanfaatkan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf e wajib memungut, menyetor, dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai yang terutang yang penghitungan dan tata caranya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. penjelasan : Pasal 3a ayat 2 Pengusaha kecil diperkenankan untuk memilih dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak. Apabila pengusaha kecil memilih menjadi Pengusaha Kena Pajak, Undang-Undang ini berlaku sepenuhnya bagi pengusaha kecil tersebut penjelasan : Pasal 3a ayat 3 Pajak Pertambahan Nilai yang terutang atas pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean harus dipungut oleh orang pribadi atau badan yang memanfaatkan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak tersebut.