Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pakan alami adalah sumber pakan yang penting dalam usaha pembenihan ikan, udang, kepiting, dan kerang. Pakan alami merupakan pakan yang sudah tersedia di alam, sedangkan untuk pakan buatan adalah pakan yang dibuat dari beberapa macam bahan yang kemudian diolah menjadi bentuk khusus sesuai dengan yang dikehendaki. Pemberian pakan yang berkualitas akan memperkecil persentase kematian larva. Dalam budidaya terutama dalam usaha pembenihan, pakan merupakan salah satu faktor pembatas. Secara umum pakan terdiri dari pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami terbagi atas fitoplankton, zooplankton dan benthos. Salah satu fitoplankton yang banyak digunakan sebagai pakan utama dalam pembenihan adalah Chetoceros dan Nitzchia dan Skeletonema costatum. karena memiliki syarat yang dibutuhkan sebagai pakan larva yaitu mudah dicerna, berukuran kecil, nutrisi tinggi mudah dibudidayakan dan cepat berkembang biak (Isnansetyo, 1995). Hal yang dapat dilakukan untuk memenuhi tersedianya pakan adalah memproduksi pakan alami, karena pakan alami mudah didapatkan dan tersedia dalam jumlah yang banyak sehingga dapat menunjang kelangsungan hidup larva selama budidaya ikan, mempunyai nilai nutrisi yang tinggi, mudah dibudidayakan, memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva, memiliki pergerakan yang mampu memberikan rangsangan bagi ikan untuk mangsanya serta memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya pembudidayaan yang relatif murah. Upaya untuk memperoleh persyaratan dan memenuhi pakan alami yang baik adalah dengan melakukan usaha mengkultur.

B. Tujuan Mahasiswa diharapkan mampu mengkultur diatom dan menghitung sejauh mana tingkat populasi dari diatom tersebut.

BAB II METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat Hari/ tanggal Pukul tempat : : : Jumat, 27 April 2012 08.00 11. 00 am Hatchery air laut Politani Pangkep

B. Alat dan bahan Pembuatan pupuk Nitrat phospat : KNO3, NO2HPO4 Silikat Vitamin : B1. B12. Biotin Feel3 Edta Clewat Tracemetals : CuSO4, ZnSO4, CaCl2, MnCl2, molybdats Aquades Pipet tetes Erlemeyer Timbangan analitik Aluminium foil Inokulasi Bibit skeletonema, chetoceros, dan nitzchia sp Erlemeyer Aquades Aerasi Pupuk guillard Aluminium foil

Pipet tetes Mikriskop Hemocytometer Sefgewick rafter cel (SRC) C. Prosedur kerja a. Pembuatan pupuk guillard 1. Nitrat phospat Timbang KNO3 dan NO2HPO4 masing-masing 18.75 gr dan 1,25 gr Larutkan dalam 250 ml aquades 2. Silikat Ambil 19 ml larutan silikat Larutkan dalam 250 ml aquades 3. Vitamin Ambil larutan vitamin B1, B2, dan biotin sebanyak 1,25 ml Larutkan kedalam 250 ml aquades 4. feel3 dan EDTA Timbang feel3 dan EDTA masing-masing 0,7875 gr dan 1,0875 gr Larutkan dalam 250 ml aquades Tambahkan latutan tracemetals b. Inokulasi 1. Isi erlemeyer dengan ait steril sebanyak 450 ml dengan salinitas 2832 ppt 2. Pasang aerasi 3. Berikan pupuk guillard pada setiap erlemeyer, khusus untuk nitzchia hanya diberi silikat dan klewat 4. Ambil stock bibit sebanyak 50 ml (bibit Skeletonema costatum, Chetoceros & Nitzchia) 5. Kultur selama 5-7 hari & amati pertumbuhannya c. Menghitung padatan diatom Chetoceros dan Nitzchia

o Ambil stock Chetoceros dan Nitzchia dan Skeletonema costatum dengan menggunakan pipet tetes o Teteskan pada hemicymeter khusus Skeletonema costatum diteteskan pada sedgewick rafter cell (SRC) o Amati dibawah mikroskop dengan pembesaran 10 kali o Hitung padatan Chetoceros, Nitzchia dan Skeletonema costatum

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Jumlah Kepadatan Chaetoceros = 33 x 104 = 3,3 x 105 sel/ ml = 330000 sel/ ml Sabtu/ 28April 2012 = 49/5 = 9,8 x 25 = 2,45 x 106 sel/ml = 2450000 sel/ml Minggu/29April 2012 = 86/3 = 28 x 25 = 7 x 10 sel/ml = 7000000 sel/ml Senin/ 30April 2012 = 72/5 = 14,4 x 25 = 3,6 x 106 sel/ml = 3600000 sel/ml Selasa/ 1 Mei 2012 = 60/5 = 12 x 25 = 3 x 106 sel/ml = 3000000 sel/ml Rabu/ 2 Mei 2012 = 545/3 = 181 x 25 = 4,525 x 106 sel/ml = 4525000 sel/ml
6

Hari/ tanggal Jumat/ 27April 2012

Skeletonema Costatum = 108/5 = 2,16 x 104 sel/ ml = 21600 sel/ml = 384/5 = 76,8 x10
3

Nitzchia = 52 x 104 = 5,2 x 105 sel/ml = 520000 sel/ml = 123/5 = 10,4 x 25 = 6,15 x 106 sel/ml = 6150000 sel/ml = 394/5 = 78,8 x 25 = 1,97 x 106 sel/ml = 1970000 sel/ml = 135/5 = 27 x 25 = 6,75 x 106 sel/ml = 6750000 sel/ml = 190/5 = 38 x 25 = 9,5 x 106 sel/ml = 9500000 sel/ml = 39/5 = 7,8 x 25 = 1,95 x 106 sel/ml = 1950000 sel/ml

= 7,68 x 104 sel/ml = 76800 sel/ml = 488/5 = 98,6 x103 = 9,86 x 10 sel/ml = 98600 sel/ml = 189/5 = 37,8 x103 = 3,78 x 104 sel/ml = 37800 sel/ml = 752/3 = 250 x103 = 2,5 x 104 sel/ml =25000 sel/ml = 135/3 = 45 x103 = 4,5 x 104 sel/ml = 45000 sel/ml
4

o grafik perhitungan kepadatan Chetocer0s


grafik jumlah kepadatan Chetoceros
8000000 7000000 6000000 5000000 4000000 3000000 2000000 1000000 0 7000000 4525000 3600000 2450000 330000 1 2 3 4 5 6 3000000

sel/ml

hari pengamatan

o grafik perhitungan kepadatan Skeletonema costatum

grafik jumlah kepadatan Skeletonema costatum


120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 98600 76800 37800 21600
45000 25000
sel/ml

hari pengamatan

o grafik perhitungan kepadatan Nitzchia

grafik jumlah kepadatan Nitzchia


8000000 7000000 6000000 5000000 4000000 3000000 2000000 1000000 0 6150000 6750000

sel/ml

1970000 520000 950000

1950000

hari pengamatan

B. Pembahasan Dari hasil praktikum dapat diketahui bahwa kepadatan Chetoceros dan Skeletonema costatum pada hari pertama sampai ketiga mengalami peningkatan dan puncak kepadatan populasi terjadi pada hari ketiga dan mengalami penurunan populasi pada hari berikutnya kecuali Nitzchia yang mengalami penurunan populasi pada hari ketiga kemudian mengalami puncak populasi di hari yang keempat. Fluktuasi hasil perhitungan padatan Chetoceros, Skeletonema costatum dan Nitzchia sp ini dikarenakan oleh untuk pertumbuhan diatom sendiri, secara umum dapat dibagi menjadi lima fase meliputi fase lag, fase eksponensial, fase penurunan kecepatan pertumbuhan, fase stasioner, dan fase kematian. Pada fase lag, pertambahan densitas populasi hanya sedikit bahkan cenderung tidak ada karena sel melakukan adaptasi secara fisiologis sehingga metabolisme untuk pertumbuhan lamban. Pada fase eksponensial pertambahan kepadatan sel (N) dalam waktu (t) dengan kecepatan tumbuh () sesuai dengan rumus funsi eksponensial. Pada fase penurunan kecepatan tumbuh pembelahan sel mulai melambat karena kondisi fisik dan kimia kultur mulai membatasi pertumbuhan. Pada fase stasioner faktor pembatas dan kecepatan pertumbuhan sama karena jumlah sel yang membelah dan yang mati seimbang. Pada fase kematian kualitas fisik dan kimia kultur berada pada titik dimana sel tidak mampu lagi mengalami pembelahan. Hal tersebut dapat dilihat dari generasi (G) adalah Waktu yang diperlukan suatu mikroalga untuk membelah sel dari satu sel menjadi beberapa sel dalam pertumbuhan. Semakin tinggi kecepatan tumbuh mikroalga maka waktu generasi dari mikroalga tersebut juga semakin cepat (Sumarsih, 2007). Sedangkan untuk hari-hari terakhir disebut sebagai fase menurunnya laju pertumbuhan yaitu pembelahan sel berjalan lambat ketika nutriea, cahaya, pH, CO2 dan faktor fisik dan kimia lainnya mulai membatasi pertumbuhan, kualitas air menurun dan nutrien berkurang hingga level yang tidak dapat melanjutkan pertumbuhan.

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Dari hasil praktikum dapat disimpulkan : Kulturisasi diatome skala laboratorium meliputi persiapan kultur dimana meliputi sterilisasi peralatan, sterilisasi media kultur, penyiapan media kultur dan pembuatan pupuk. Kultur diatome dalam skala laboratorium harus dilakukan di ruangan yang tertutup hal ini bertujuan utnuk mencegah terjadinya kontaminasi diatom dengan organism kecil lainnya yang tak tampak. Untuk Chetoceros & Skletonema costatum mengalami puncak populasi pada hari ketiga pengkulturan.

B. Saran Dari kegiatan praktikum yang telah berlangsung, adapun saran yang dapat penulis sampaikan agar lebih teliti dalam menghitung jumlah padatan diatom.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim,

2011.

Diatome.

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://en.wikipedia.org/wi ki/Diatom.

Erlina, A., 1986. Kultur Plankton-BBAP. Dirjen Perikanan. Jepara.

Isnansetyo, A., 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Kanisius, Yogyakarta.

http://ismantara.blogspot.com/ 2009/03/teknik-kultur-diatom.html.

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI KULTUR PAKAN ALAMI MODUL DOSEN TEKNISI : DIATOM (Chaetoceros, Skeletonema costatum & Nitzchia) : DRA. FAUZIAH., M.PI : MARBIAH,S.Pi

OLEH :

NURFITRI RAHIM 1024018 PEMBENIHAN XXIII

BUDIDAYA PERIKANAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP 2012

LAMPIRAN

Pupuk guillard

kultur Chetoceros, Nitzchia dan Skeletonema costatum

Sedgewick rafter cell (SRC)

hemocytometer

Proses melakukan perhitungan kepadatan diatom