Anda di halaman 1dari 14

LBM 2 MODUL 8 SGD 7 ANGKATAN 2011

STEP 1 1. kontrol gula darah sewaktu : pemeriksaan gula darah yang dilakukan kapan saja tanpa persyaratan khusus dengan nilai normal : 75-110 mg/dl

STEP 2 1. apa penyakit dari skenario di atas ? JELASKAN ! 2. mengapa berat badan nya dapat turun drastis padahal makan nya banyak ? 3. apa saja macam dari DM (klasifikasi) 4. Gejala DM 5. mengapa luka tersebut sulit sembuh ? 6. Mengapa sering merasa haus dan kencing terus di malam hari ? 7. mengapa kadar gula lebih dari normal 8. hubungan kadar gula darah meningkat dan keluhan dalam skenario 9. patogenesis DM 10. faktor yang memperberat DM 11. penatalaksanaan dari DM 12. kriteria laboratoris DM 13. komplikasi dari DM 14. bagaimana kriteria diagnosi dari DM

15. pemeriksaan laborat DM 16. faktor resiko DM STEP 3 1. mengapa berat badan nya dapat turun drastis padahal makan nya banyak ? Cadangan makanan di oragan dipecah menjadi glukosa. Dan cadangan makanan pun terus berkurang dan di kompensasi dengan makan banyak. Dimulai dari defisiensi insulin sehingga keseimbangan bergeser dari anabolisme menjadi katabolisme protein dan lemak. Karena pemecahan protein dan asam amino digunakan untuk pembentukan glukosa. Maka akan timbul energi negatif. Lalu akan terjadi peningkatan nafsu makan. (polifagi) 2. mengapa luka tersebut sulit sembuh ? Jika penderita dm : kadar glukosa tinggi. Dalam luka memiliki mikroorganisme. Dan mendapatkan asupan nutrisi dari glukosa. Ada ganguan pada peredaran darah. Pada sistem leukosit. Glukosa ningkat lalu glukosa mengendap. Sel disitu membutuhkan energi. Tidaka ada nutrisi dari jaringan sehingga mengambil energi dari adiposa. Trombosit tidak terpenuhi protein nya untuk melakukan trombosis Ada pengaruh dari kalsium dalam sekresi insulin dan berkaitan dalam proses pembekuan darah
B. Gejala Lanjutan Diabetes Melitus 1. Berat badan berkurang. Ketika proses sekresi pankreas kurang mencukupi jumlah hormon insulin untuk mengubah gula menjadi tenaga, tubuh akan menggunakan simpanan lemak dan protein yang ada. Pengurasan simpanan lemak dan protein di tubuh ini menyebabkan berkurangnya berat badan. 2. Penglihatan Menjadi Kabur. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan perubahan pada lensa mata sehinggga penglihatan kabur walaupun baru saja mengganti kaca mata. 3. Cepat Lelah. Karena gula di dalam darah tidak dapat diubah menjadi tenaga sel-sel tubuh, maka badan ceoat merasa lelah, kurang bertenaga dan bahakan acapkali mengantuk. 4. Gatal Di Daerah Kemaluan. Infeksi jamur disekitar kemaluan menyebabkan rasa gatal terutama pada wanita. 5. Luka Sulit Sembuh Pada diabetesein, terjadi penurunan daya tubuh terhadap infeksi sehingga bila sulit timbul luka akan sulit sembuh. Tidak menutup kemungkinan, jika terjadi infeksi berat di daerah kaki, akan berpotensi untuk diamputasi hingga kecacatan permanen.

C.

Gejala Kronis Diabetes Melitus 1. Impoten / Disfungsi Ereksi & Kesemutan di Kaki Diabetes mampu merusak jaringan saraf dan pembuluh darah baik pada kemaluan maupun kaki, sehingga dapat menyebabkan impoten dan kesemutan di kaki.

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Kerusakan ginjal Gangren (infeksi berat pada kaki hingga membusuk) Kebutaan Serangan Stroke Serangan Jantung Koroner Kematian Mendadak

Diabetes Melitus tidak menakutkan bila diketahui lebih awal. Gejala-gejal yang timbul sangat tidak bijaksana untuk dibiarkan, karena justru akan menjerumuskan ke dalam komplikasi yang lebih fatal.

http://www.klikdokter.com/diabetes/read/2010/07/05/112/gejala-diabetes-melitus

3. Mengapa sering merasa haus dan kencing terus di malam hari ? Kencing terus : glukosa menarik air ke aliran darah karena viskositas tinggi. Lalu akan banyak air yang dikeluarkan.Glukosa dalam darah akan terus menumpuk. Dalam aliran ginjal melebihi batas ambang normal Haus terus karena banyak air yang dikeluarkan menimbukan rangsangan pusat haus. Mengapa di malam hari dipengaruhi dari suhu lingkungan. Karena suhu rendah tidak banyak berkeringan + dengan aktifitas pada malam hari.
Gejala awal Diabetes Melitus biasa disebut dengan 3 P, yakni : 1. Poliuria (banyak kencing) Hal ini terjadi ketika kadar gula melebihi ambang ginjal yang mengakibatkan glukosa dalam urin menarik air sehingga urin menjadi banyak. Maka acapkali para penderita diabetes mengalami buang air kecil dengan intensitas durasi melebihi volume normal (poliuria). 2. Polidipsi (banyak minum) Karena sering buang air kecil, acapkali para pasien diabetes (diabetesein) akan banyak minum, (polidipsi). Karena demikianlah kita sering mendapati para diabetesein mengalami keluhan lemas, banyak makan (polifagi). 3. Polifagi (banyak makan) Seorang diabetesein yang baru makan akan mengalami ketidakcukupan hormon insulin untuk memasukkan glukosa ke dalam sel, hal ini akan menyebabkan tubuh akan selalu merasa kelaparan, sehingga tubuh sering terasa lemah. Kompensasinya seseorang diabetesein akan makan lebih banyak lagi.

http://www.klikdokter.com/diabetes/read/2010/07/05/112/gejala-diabetes-melitus

4. mengapa kadar gula lebih dari normal Karena ada ganguan pada sekresi dan reseptor insulin Karena banyak makan. (karbohidrat tinggi dari makanan) Tidak ada yang melakukan kompensasi

Kadar Gula Darah yang berlebihan disebabkan oleh tidak sempurnanya proses metabolisme zat makanan dalam sel tubuh. Zat gizi dan sari makanan diserap di usus halus dan dibawa oleh darah ke dalam sel. Di dalam sel, sari-sari makanan tersebut diubah menjadi energi atau pun zat lain yang diperlukan tubuh. Jika proses pengangkutan zat gula darah (glukosa) ke dalam sel terganggu, maka glukosa tidak dapat terserap ke dalam sel dan tertinggal di dalam darah. Inilah yang menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi. Penyerapan glukosa ke dalam sel dibantu oleh sejenis hormon yang disebut insulin.

Untuk memelihara kadar gula darah yang normal dalam tubuh, sebaiknya kita mulai menjaga kadar gula di makanan yang dikonsumsi dengan membatasi konsumsi makanan yang manismanis dan asupan karbohidrat. Pada umumnya orang Indonesia tidak dapat meninggalkan kebiasaan makan nasi yang merupakan makanan pokok. Bahkan, ada yang merasa "belum makan kalau belum melahap nasi. Makanan yang mengandung atau terbuat dari tepung seperti nasi, ketan, mi, bihun, singkong, ubi, kentang, roti, serta berbagai kue juga merupakan sumber gula (glukosa). Karena itu, penderita diabetes harus waspada ketika mengonsumsi makanan tersebut. Bagi bukan penderita diabetes, untuk menjaga kadar gula darah normal adalah dengan menyeimbangkan kalori yang masuk (makan) dengan kalori yang keluar (kegiatan). Jika kita banyak melakukan kegiatan, kalori yang hilang dari dalam tubuh dapat diganti dengan mengonsumsi makanan dengan jumlah kalori yang tepat, sehingga terdapat perputaran energi yang seimbang dalam tubuh. Jumlah seimbang antara kalori yang masuk dan kalori yang keluar yang seimbang tidak akan menyebabkan penumpukan gula dalam darah. Jika kalori yang masuk ke dalam tubuh lebih sedikit, jangan melakukan kegiatan yang terlalu berat. Sebaliknya, jika tubuh mendapat banyak kalori sementara kita tidak menyeimbangkannya dengan kegiatan yang sepadan, gula darah dapat mengendap di dalam darah dan selanjutnya dikhawatirkan akan menyebabkan penumpukan lemak.

http://www.hdindonesia.com/info-medis/memelihara-kadar-gula-darah-yang-normal

5. apa penyakit dari skenario di atas ? JELASKAN ! Diabetus melitus : kelainan sekresi insulin atau karena kerja insulin. Diabet = mengalirkan / mengalihkan mellitus = manis/ madu. Kesipmulan : menglalirkan volume urin yang banyak dengan kadar glukosa yang tinggi. 6. apa saja macam dari DM (klasifikasi) digolongkan menjadi 4 tipe 1. IDDM : kerusakan sel Beta sehingga tidak memproduksi insulin. Ada kerusakan pada pancreas. Bisa disebabkan karena autoimunitas serologik dan sel mediated bisa diketahi dan tidak diketahui. biasanya pada tubuh tidak gemuk. Dan umur nya kurang dari 30 tahun. 2.non IDDM : faktor yang menggangu insensitivitas insulin. Insulin diproduksi dalam jumlah sedikit. Reseptor insulin kurang dapat bekerja dengan baik. Karena obbessitas 3. Tipe lain : karena malnutrisi dan kekurangan gizi. Karena konsumsi obatan tertentu. a. Ganguan kromosom : 12,20,7, dkk b. Genetik : resistensi insulin tipe A c. Penyakit eksokrin pancreas : pancreatitis, neoplasma d. Endokrinopati : cushing syndrom e. Dapat karena obat : glukokortikoid

f. Inveksi : rubella congienital. tidak ada hubungan dengan kencing manis. Fungsi insulin dialihkan ke sel otak.

4. Tipe kehamilan : keadaan glukosa yang tinggi pada saat kehamilan. Bersifat fisiologis dan akan kembali normal pasca melahirkan. Dapat menyebabkan berbagai penyakit bagi janin
Klasifikasi Diabetes Melitus - Diabetes Melitus yang tergantung pada insulin (IDDM atau Diabetes tipe I) Diabetes melitus tipe I atau diabetes anak-anak dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau langerhans pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita oleh anak-anak sampai orang dewasa (Maulana, Mirza:2008). Diabetes tipe I tidak dapat dicegah. Diet dan olahraga tidak bisa menyembuhkan ataupun mencegah diabetes tipe I. Penderita diabetes tipe I memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit diabetes tipe I mulai dideritanya. Penyebab kehilangan sel beta pada diabetes tipe I adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pancreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh (Maulana, Mirza:2008). Diabetes tipe I hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, yaitu dengan cara pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah - Diabetes Melitus yang tidak tergantung pada insulin (NIDDM atau diabetes tipe II) Diabetes melitus tipe II terjadi karena kombinasi dari kecacatan dalam produksi insulin dan resistansi terhadap insulin atau berkurangnya sensifitas terhadap insulin (adanya defekasi respon jaringan terhadap insulin) yang melibatkan reseptor insulin di membran sel (Maulana, Mirza:2008). DM tipe II ini disebabkan oleh kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin. Pankreas tetap mengahsilkan insulin, tetapi kadarnya lebih tinggi dari normal. Tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya sehingga terjadi kekurangan insulin relatif. Hal ini terjadi pada orang yang berusia lebih dari 40 tahun, gemuk, dan tidak aktif. Dengan pola hidup sehat, yaitu mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan olahraga secara teratur, penderita diabetes akan berangsur pulih (Maulana, Mirza, 2008). Sebagian besar pasien NIDDM adalah pasien yang mengalami obesitas sehingga menyebabkan resistensi insulin. Pada penderita NIDDM yang relatif tidak obese, mereka akan mengalami hiperinsulinemia dan pengurangan kepekaan insulin. Hal ini membuktikan bahwa obesitas bukan satu-satunya penyebab resistensi insulin (foster, 2000). Untuk

kecacatan dalam produksi insulin, obat anti diabetes dapat digunakan untuk meningkatkan sensitivitas terhadap insulin atau mengurangi produksi glukosa pada hepar (Maulana, Mirza:2008). - Diabetes Melitus Gestational page 1 / 3ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Klasifikasi Diabetes Melitus Copyright Resha Ardianto resha.ardianto@webmail.umm.ac.id http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/klasifikasi-diabetes-melitus/ DM dalam kehamilan (Gestational Diabetes Melitus GDM) adalah kehamilan normal yang disertai dengan peningkatan insulin resistance (Sacks, 2001). Diabetes Melitus gestational diartikan sebagai intoleransi glusosa yang ditemukan pada saat hamil dan diperkirakan insidens sebesar 1-3%. Pada umumnya mulai ditemukan pada kehamilan trimester kedua atau ketiga sehingga saat itu terjadi resistansi insulin. Oleh karena risiko kesakitan dan kematian perinatal tinggi, maka dianjurkan skrinning diabetes melitus gestasi dilakukan pada semua wanita hamil. Pada umumnya skrining dilakukan pada minggu gestasi ke 24-28 (John, 2000).
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/download-as-pdf/umm_blog_article_80.pdf

Berdasarkan PERKENI (2006), diabetes mellitus dapat diklasifikasikan sebagai berikut:1. Diabetes Mellitus Tipe-1Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut, yangdisebabkan oleh: Autoimun Idiopatik 2. Diabetes Mellitus Tipe-2

Penderita diabetes mellitus tipe-2 memiliki satu atau lebih keabnormalan di bawah ini, antara lain: De fi s i ens i i nsu l i n r el at i f: i n sul i n ya n g d i se kr e si ol eh s el p an k re as u nt u k memetabolisme tidak mencukupi (Kumar et al, 2005). Resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif (PERKENI, 2006). Diabetes Mellitus Tipe Lain Diabetes tipe ini dapat disebabkan karena beberapa hal, yaitu: Defek genetik fungsi sel beta Defek genetik kerja insulin Penyakit eksokrin pankreas Endokrinopati Karena obat atau zat kimia Infeksi Sebab imunologi yang jarang Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan diabetes melitus4. Diabetes Mellitus KehamilanDiabetes mellitus kehamilan atau sering disebut dengan istilah DiabetesMellitus Gestasional (DMG) adalah suatu gangguan toleransi karbohidrat yangterjadi atau diketahui pertama kali pada saat kehamilan sedang berlangsung.F a k t o r r i s i k o d i a b e t e s t i p e i n i a n t a r a l a i n o b e s i t a s , a d a n y a r i w a y a t D M G , gukosuria, adanya riwayat keluarga dengan diabetes, abortus berulang, adanyariwayat melahirkan bayi dengan berat > 4 kg, dan adanya riwayat

preeklamsia.P en i l ai a n ad an ya ri si ko di a b et es m el i t us ge st asi on al pe rl u di l a kuk an s ej ak kunjungan pertama untuk pemeriksaan kehamilannya.

7. Gejala DM Trias DM - polifagi (banyak makan) - poliuri (banyak kencing) - polidipsi (banyak minum) Penurunan berat badan susah tidur ketidak suburan pada janin keguguran pada ibu hamil janin yang lahir dari ibu DM akan berukuran besar. kabur pengelihatan tiba luka sukar sembuh cepat lelah uncontroled emotional diare pada malam
Gejala diabetes tipe I munsul secara tiba-tiba pada saat usia anak-anak sebagai page 2 / 3ilmu kedokteran adalah sumber inspirasi | Klasifikasi Diabetes Melitus Copyright Resha Ardianto resha.ardianto@webmail.umm.ac.id http://reshaardianto.student.umm.ac.id/2010/02/04/klasifikasi-diabetes-melitus/ akibat dari kelalaian genetika, sehingga tubuh tidak memproduksi insulin dengan baik. Gejala-gejalanya antara lain : 1. Sering buang air kecil 2. Terus-menerus lapar dan haus 3. Berat badan menurun 4. Kelelahan 5. Penglihatan kabur 6. Infeksi pada kulit yang berulang 7. Meningkatnya kadar gula dalam darah dan air seni (Maulana, Mirza:2008). Sedangkan gejala diabetes tipe II muncul secara perlahan-lahan sampai menjadi gangguan yang jelas. Pada tahap permulaanya terdapat gejala-gejala berikut ini : 1. Cepat lelah, kehilangan tenaga, dan merasa tidak fit 2. Sering buang air kecil 3. Terus-menerus lapar dan haus

4. Kelelahan berkepanjangan dan tidak ada penyebabnya 5. Mudah sakit berkepanjangan 6. Biasanya terjadi pada mereka yang berusia diatas 40 tahun (Maulana, Mirza:2008).
http://reshaardianto.student.umm.ac.id/download-as-pdf/umm_blog_article_80.pdf

9. patogenesis DM Tergantung dengan tipe Tipe 1 : - dapat karena autoimun - ada predisposisi genetikdisaat sel beta rusak karena inveksi virus Tipe 2 : - gaya hidup kegemukan predisposisi genetik resistensi insulin jaringan perifer banyak glukosa yang tidak dirubah menjadi energi DM
Patogenesis Diabetes Mellitus Insulin memegang peranan yang sangat penting dalam membawa glukosa kedalam sel. Insulin adalah suatu zat atau hormon yang dikeluarkan oleh sel beta di p ul au pul au l an ge rh a ns di pa nk r ea s. In su l i n ya n g di k el u ar ka n ol eh s el be t adiibarat kan sebuah anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa kedalam sel, kemudian di dalam sel glukosa itu dimetabolisme menjadi energi ataut en a ga . B i l a i ns ul i n t i d ak ad a, m ak a gl uko s a t i da k da p at m a su k s e l s ehi n gga glukosa akan tetap berada dalam pembuluh darah yang artinya kadarnya dalam darah meningkat (hiperglikemik). (Soegondo dkk;2002; WHO, 2007; Greene etal, 2003).

14. bagaimana kriteria diagnosis dari DM LABORATORIS - konsentrasi glukosa plasma vena lbih dari = 126 - glukosa sewaktu 200 mg/dl atau lebih - setelah ingesti 75 gr glukosa konsentraso pada plasma vena 2 jam 200 ml / dl atau lebih - cek prekursor insulin -cek peptida ANAMNESIS - trias DM
Kriteria diagnosis menurut American Diabetes Association (2008):1.Kadar glukosa darah puasa 126 mg/dL (7,0 mmol/L). Puasa diartikan pasien tidak mendapatkan asupan kalori tambahan sedikitnya8 jam.2. Tampak gejala klasik diabetes melitus dan kadar glukosa darah sewaktu 200mg/dL (11,1 mmol/L). Gejala klasik diabetes mellitus termasuk poliuria, polidipsia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan. Glukosa sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makanterakhir. Kadar glukosa darah 2 jam pada Tes Toleransi Glukosa Oral 200 mg/dL (11,1 mmol/L).T es T ol er an si Gl u kos a O r al di l a kuk an d e n gan st an d a r World HealthOrganization , menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75 gram glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air.Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau diabetesm el i t us , m a k a da p at di gol o n gka n k e d al a m k el om p ok To l e r an si Gl u kos aTerganggu (TGT) atau Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT) tergantungdari hasil yang diperoleh. TGT: glukosa darah plasma 2 jam setelah beban antara 140-199 mg/dL (7,8-11,0 mmol/L). GDPT: glukosa darah puasa antara 100-125 mg/dL (5,6-6,9 mmol/L).
http://www.scribd.com/doc/57916083/15/Patogenesis-Diabetes-Mellitus

11. penatalaksanaan dari DM - diberikan edukasi - diberikan perencanaan makan - pelatihan jasmani - pengobatan : inj. Insulin. Cangkok pancreas.

Perjalanan penyakit diabetes melitus Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan diabetes melitus Penyulit diabetes melitus dan risikonya Intervensi farmakologis dan non-farmakologis serta target perawatan Interaksi antara asupan makanan, aktifitas fisik dan obat hipoglikemik oral atauinsulin serta obat-obat lain Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa darah atau urinmandiri (hanya jika pemantauan glukosa darah mandiri tidak tersedia) Mengatasi sementara keadaan gawat darurat seperti rasa sakit a t a u hipoglikemia Pentingnya latihan jasmani yang teratur Masalah khusus yang dihadapi, misalnya hiperglikemia pada kehamilan Pentingnya perawatan diri Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan Terapi gizi medis Prinsip pengaturan makan pada penderita diabetes hampir sama dengan pengaturan makan untuk masyarakat umum, yaitu makanan yang seimbang dans es u ai d en ga n k e but u h an k al o ri d an z at gi z i m a si n g m as i n g i n di v i d u. P a da penderita diabetes, perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal j a d w a l m a k a n , j e n i s d a n j u m l a h m a k a n a n , t e r u t a m a p a d a m e r e k a y a n g menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin (PERKENI, 2006).Komposisi makanan yang dianjurkan kepada penderita diabetes melitus terdiridari: Karbohidrat. Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% dari total asupan energi. Lemak Asupan lemak yang dianjurkan sekitar 20-25% dati total kebutuhan kalori. ProteinTotal protein yang dianjurkan adalah sekitar 15-20% dari total asupan energi. Garam Anjuran asupan natrium untuk penderita diabetes sama dengan anjuran untuk masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mg atau sama dengan 6 -7 g (1sendok teh) garam dapur. SeratAnjuran konsumsi serat adalah 25 g/hari, diutamakan serat laut. PemanisP e m a n i s a m a n d i g u n a k a n s e p a n j a n g t i d a k m e l e b i h i b a t a s a m a n (ADI/ Ac c ep t ab l e D ai l y I n t ak e ) yang ditetapkan oleh F o o d a n d D r u g Administration (FDA).Kebutuhan kalori untuk penderita diabetes melitus bersifat individual karenaditentukan oleh berbagai macam faktor seperti jenis kelamin, umur, aktifitas fisik atau pekerjaan dan berat badan si penderita (PERKENI, 2006). Latihan jasmani Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendaliglukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang b er s i fa t a er obi k s ep e rt i j al an k aki , b er s ep ed a s ant ai , j o ggi n g d an b e r e

na n g. Latihan jasmani ini dilakukan secara teratur (3 -4 kali seminggu selama kuranglebih 30 menit) (PERKENI, 2006) . 2.1.9.2 Terapi Farmakologis Terapi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapaidengan pengaturan makan dan latihan jasmani. Terapi farmakologik tersebu tdapat berupa Obat Hipoglikemik Oral (OHO) dan insulin. A. Obat Hipoglikemik Oral (OHO) Berdasarkan cara kerjanya, OHO dapat dibagi menjadi 4 golongan:1 . Golongan pemicu sekresi insulin ( insulin secretagogue ), contoh sulfonilureadan glinid.2. Golongan penambah sensitivitas terhadap insulin, contoh tiazolidindion danmetformin.3. Golongan penghambat glukoneogenesis contohnya Metformin4. Golongan penghambat glukosidase alfa contohnya Acarbose5 . I n s u l i n Indikasi terapi insulin: Penurunan berat badan yang cepat (dekompensasi metabolik). Hiperglikemia berat yang disertai ketosis. Ketoasidosis diabetik. Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik. Hiperglikemia dengan asidosis laktat. Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke). Diabetes mellitus gestasional yang tidak terkendali dengan Terapi Gizi Medis. Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat. Gagal dengan kombinasi Obat Hipoglikemik Oral dosis hampir maksimal. Kontraindikasi dan atau alergi terhadap Obat Hipoglikemik Oral. 6. Terapi kombinasi OHO dan Insulin Unt uk ko m bi na si ob at hi p o gl i k em i k or al d an i ns ul i n (G am b a r 2.1 ) , ya n g banyak dipergunakan adalah kombinasi obat hipoglikemik oral dan insulin basal(insulin kerja sedang/panjang) yang diberikan pada malam hari menjelang tidur.De n gan p en d ek at an t er a pi t e rs e but pa da u m um n ya da p a t di pe r ol eh k en dal i gl uk os a da r ah yan g b ai k d en ga n d os i s i nsu l i n ya n g cu ku p k e ci l . Do si s aw al i ns ul i n ke rj a m en en ga h/ p anj an g ad al ah 10 u ni t ya n g d i be ri ka n se ki t a r puk ul 22.00, kemudian dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai kadar glukosadarah puasa keesokan harinya.Bi l a d en ga n t e r api ko m bi na si ob at hi p o gl i k em i k or al d an i n sul i n, k a da r glukosa darah masih tidak terkendali, maka obat hipoglikemik oral dihentikan dandiberikan insulin saja (PERKENI, 2006).

13. komplikasi dari DM


Komplikasi Diabetes Mellitus Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatanyang terkontrol. Tanpa didukung oleh pengelolaan yang tepat, diabe tes dapatmenyebabkan beberapa komplikasi (IDF, 2007). Komplikasi yang disebabkandapat berupa: 1. Komplikasi Akut a. HipoglikemiHi po gl i k e m i di t a nd ai d en ga n m en u run n ya k ad a r g l uko s a d a r ah h

i n ggam e n ca p ai <6 0 m g/ d L. G ej al a hi po gl i k em i a t er di ri d ar i gej al a ad r en e r gi k (berdebar, banyak keringat, gemetar, rasa lapar) dan gejala neuro-glikopenik (pusing, gelisah, kesadaran menurun sampai koma) (PERKENI, 2006). b. Ketoasidosis diabetik Keadaan ini berhubungan dengan defisiensi insulin, jumlah insulin yangterbatas dalam tubuh menyebabkan glukosa tidak dapat digunakan sebagais u m b e r e n e r g i , s e h i n g g a t u b u h m e l a k u k a n p e n y e i m b a n g a n d e n g a n memetabolisme lemak. Hasil dari metabolisme ini adalah asam lemak bebasdan senyawa keton. Akumulasi keton dalam tubuh inilah yang menyebabkanterjadinya asidosis atau ketoasidosis (Gale, 2004).Gejala klinisnya dapat berupa kesadaran menurun, nafas cepat dan dalam( ku ssm au l ) se rt a t a n d a t an d a d e hi d r asi . S el ai n i t u, s es o r an g di kat a ka n mengalami ketoasidosis diabetik jika hasil pemeriksaan laboratoriumnya: Hiperglikemia (glukosa darah >250 mg/dL) Na serum <140 meq/L Asidosis metabolik (pH <7,3; bikarbonat <15 meq/L) Ketosis (ketonemia dan atau ketonuria)c. Hiperosmolar non ketotik Riwayat penyakitnya sama dengan ketoasidosis diabetik, biasanya berusia>40 t ah un . T e rd ap at hi p er gl i ke m i a di s e rt ai osm ol ar i t as d a ra h ya n g t i n ggi (>320). 2. Komplikasi Kronis (Menahun) a. Makroangiopati:1. Pembuluh darah jantung2. Pembuluh darah tepi3. Pembuluh darah otak b. Mikroangiopati:1. Pembuluh darah kapiler retina mata (retinopati diabetik)2. Pembuluh darah kapiler ginjal (nefropati diabetik)c. Neuropatid. Komplikasi dengan mekanisme gabungan:1. Rentan infeksi, contohnya tuberkolusis paru, infeksi saluran kemih,infeksi kulit dan infeksi kaki.2. Disfungsi ereksi
http://www.scribd.com/doc/57916083/15/Patogenesis-Diabetes-Mellitus

16. faktor resiko DM Pola makan : banyak mengkonsumsi fastfood dan berkarbohidrat tinggi aktivitas : usia tekanan darah obbesitas riwayat DM riwayat kehamilan dengan DM kadar trigliserin tinggi jenis kelamin RAS
Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi : 1. Ras dan etnik

2. Riwayat keluarga dengan diabetes (anak penyandang diabetes) 3. Umur. Risiko untuk menderita intoleransi glukosa meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Usia > 45 tahun harus dilakukan pemeriksaan DM. 4. Riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi > 4000 gram atau riwayat pernah menderita DM gestasional (DMG). 5. Riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 kg. Bayi yang lahir dengan BB rendah mempunyai risiko yang lebih tinggi dibanding dengan bayi lahir dengan BB normal. Faktor risiko yang bisa dimodifikasi; 1. Berat badan lebih (IMT > 23 kg/m2). 2. Kurangnya aktivitas fisik. 3. Hipertensi (> 140/90 mmHg). 4. Dislipidemia (HDL < 35 mg/dL dan atau trigliserida > 250 mg/dL) v Diet tak sehat (unhealthy diet). 5. Diet dengan tinggi gula dan rendah serat akan meningkatkan risiko menderita prediabetes dan DM tipe-2. Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes : 1. Penderita Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau keadaan klinis lain yang terkait dengan resistensi insulin 2. Penderita sindrom metabolik Memiliki riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya. Memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, seperti stroke, PJK,PAD (Peripheral Arterial Diseases). http://www.hidupkusehat.com/7-faktor-risiko-diabetes-mellitus.html

STEP 5
PATOLOGI DM ETIOLOGI

TIPE 1

TIPE 2

GEJALA KLINIS