Anda di halaman 1dari 19

TUGAS TERSTRUKTUR ANGROINDUSTRI PERSUSUAN

BISNIS PLAN PENGOLAHAN DANGKE SUSU SAPI

OLEH

NOVA MARRUNG : P2DA11017

PROGRAM STUDI ILMU PETERNAKAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2012

EXECUTIVE SUMMARY

Business plan Dangke PT Dangke Makmur Indonesia memuat rencana bisnis pembuatan dangke mulai dari pembuatan, tenaga kerja yang dibutuhkan,

teknologi yang digunakan, analisis-analisis lingkungan social politik dan analisis financial yang menjadi acuan apakah usaha ini menguntungkan atau tidak. Dangke merupakan makanan khas Sulawesi Selatan khususnya di kabupaten Enrekang. Di samping nilai gizi yang tinggi, produk olahan susu ini disukai oleh masyarakat kabupaten Enrekang, karena penduduk Enrekang tidak terbiasa mengkonsumsi susu segar. Dangke diproduksi secara tradisional dengan teknologi yang sederhana. Berdasarkan perhitungan proyeksi rencana usaha pembuatan dangke oleh PT Dangke Makmur Indonesia dapat diperoleh informasi sebagai berikut :

NPV (Net Provit Value)


Interest Rest (suku Bunga)

9.222.597.071,15

rupiah % % tahun rupiah/cup rupiah/cup cup

6,32 29,16 2,58 1,54 4.430,56


6.899.085.413,93

IRR (Rentabilitas) PBP (Payback Period) R/C (efficiency ratio)


Biaya Variabel per Satuan

BEP (dalam rupiah) BEP (dalam Produk)

459.939,03

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Usaha Keberhasilan sektor industri dan perdagangan telah memberikan

konstribusi yang besar dalam menciptakan struktur ekonomi nasional. Industri kecil di Indonesia merupakan bagian penting dari sistem perekonomian nasional, karena berperan dalam mempercepat pemerataan pertumbuhan ekonomi melalui misi penyediaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan berperan dalam peningkatan perolehan devisa kecil serta memperkokoh kegiatan struktur industri ekonomi yang

nasional (Jumhur 2001). Industri mendominasi

merupakan Indonesia

struktur perekonomian

dan

seharusnya

mendapat

prioritas untuk dikembangankan. Pengembangan produk unggulan agroindustri memerlukan upaya

peningkatan nilai tambah dan daya saing. Untuk itu diperlukan manajemen pengolahan profesional pada seluruh komponen sistem mulai dari pembibitan, budidaya, pasca panen, pengolahan, transportasi/distribusi dan pemasaran.

Karena keterbatasan sumberdaya yang dimiliki, maka diperlukan adanya skala prioritas dalam pengembangan agroindustri sehingga diperoleh hasil yang optimum dari setiap penggunaan sumberdaya. Salah satu produk Agroindustri peternakan yang memiliki nilai gizi yang tinggi adalah produk olahan susu kerbau adalah dangke. Dangke telah dikenal sejak tahun 1905. Nama dangke diduga berasal dari bahasa Belanda, yaitu dangk U yang berarti terima kasih, yang diucapkan oleh orang Belanda ketika

mengkonsumsi produk olahan susu yang berasal dari susu kerbau ini. Dari kata dangk U inilah asal nama dangke untuk produk susu olahan rakyat kabupaten Enrekang ini (Marzoeki dkk, 1978). Dangke merupakan makanan khas Sulawesi Selatan khususnya di kabupaten Enrekang. Di samping nilai gizi yang tinggi, produk olahan susu ini disukai oleh masyarakat kabupaten Enrekang, karena penduduk Enrekang tidak terbiasa

mengkonsumsi susu segar. Dangke diproduksi secara tradisional dengan teknologi

yang sederhana. Berdasarkan jumlah air yang terkandung di dalamnya, dangke termasuk dalam golongan keju lunak (soft cheese) dengan kadar air sebesar 45,75% berwarna putih dan bersifat elastis. Dangke telah dikenal sejak tahun 1905. Seperti industri kecil lainnya, industri dangke kurang mendapat perhatian dalam pengembangannya sehingga produk ini kurang dikenal, padahal produk

tersebut memiliki potensi yang besar untuk menjadi salah satu sumber protein hewani dalam rangka pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

B. Tujuan 1. Menganalisis sejauh mana kinerja produk industri kecil makanan khas tradisional dangke terhadap pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen. 2. Pengembangan produk industri kecil makanan khas tradisional dangke sebagai produk unggulan lokal di kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan.

II.

ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

A. Pasar Potensial Pasar sasaran yang berpotensial dalam pemasaran dangke adalah wilayah sekitar kabupaten Enrekang, Dangke ini telah dipasarkan ke beberapa daerah seperti Makassar, Kalimantan, Papua, Jakarta, Malaysia dan daerah-daerah lainnya di mana komunitas masyarakat Enrekang berada.

B. Permintaan dan Penawaran Untuk pemasaran dangke sendiri sekarang ini mengalami peningkatan, hal ini dapat dibuktikan dengan dangke yang diproduksi tidak dapat menutupi

permintaan.

Dangke ini dipasarkan di kabupaten Enrekang sendiri dan di luar Dibuktikan dengan pengakuan

kabupaten enrekang, dan dijadikan oleh-oleh.

peternak yang menyatakan bahwa dangke yang mereka buat biasanya dibeli langsung di rumah peternak dan setiap harinya ada konsumen yang tidak mendapatkan dangke karena terlambat Hal ini sesuai dengan pendapat (2008) yang menyatakan bahwa dangke yang diproduksi di Eka

Kabupaten untuk

Enrekang

memiliki

permintaan yang tinggi. Peningkatan

populasi

mengembangkan industri dangke sebagai produk unggulan lokal harus terus dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar. Pemasaran dangke ini tidak hanya di daerah Sulawesi Selatan, tetapi bahkan sampai ke Kalimantan, Jakarta, Papua, Malaysia, dan daerah-daerah dimana komunitas masyarakat Enrekang berada (Marzoeki dkk,1978).

C. Strategi Pemasaran 1. Product Produk yang dijual oleh PT. Dangke Makmur Indonesia adalah Dangke yang merupakan produk olahan susu kerbau/sapi. 2. Price PT. Dangke Makmur Indonesia akan memasang harga rendah pada awalnya mengingat produk sejenis masih jarang beredar di pasaran. Setelah pasar dikuasai maka harga akan dinaikkan secara bertahap (penetrating price). 3. Placement PT. Dangke Makmur akan melakukan penyaluran produk ke pasar-pasar tradisional, pasar modern serta penjual makanan tradisioanal.

4.

Promotion PT. Dangke Makmur akan melakukan promosi dengan media

selebaran (pamflet),iklan pada media cetak lokal maupun secara online shop. Hal inidilakukan agar produk kami dapat lebih dikenal oleh masyarakat.

Prospektif Faktor-Faktor Pengembangan Produk Industri Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan

Kecil Dangke Di

D. Persaingan Usaha di Tingkat Produsen Sebagai suatu area di mana banyak orang menggantungkan nasibnya, usaha kecil dangke tidak boleh mati, harus tumbuh dan berkembang, atau

sekurang kurangnya bertahan (survive). Tekad untuk survive dan tumbuh tersebut menuntut kemampuan usaha kecil dan para pendukungnya untuk memahami situasi internal (kekuatan dan kelemahan) maupun situasi eksternal (peluang dan tantangan). Termasuk ke dalam situasi internal adalah: sumberdaya yang dimiliki, kebijakan yang dijalankan serta hasilnya, sedangkan situasi ekternal adalah kekuatan dan kecenderungan politik, ekonomi, sosial dan

teknologi

serta

kondisi

kelompok

pesaing

ataupun

pendukungnya

(Sjaifudian,1995). Dangke telah dikenal sejak tahun 1905, Seperti industri kecil lainnya, industri dangke kurang mendapat perhatian dalam pengembangannya sehingga produk ini kurang dikenal. Dengan begitu dapat meminimalisir pesaing.

III.

ASPEK TEKNIK DAN TEKNOLOGI

A. Lokasi dan Lahan Pengembangan industri kecil makanan khas tradisional dangke di

kabupaten Enrekang memiliki potensi yang cerah seiring dengan cerahnya prospek persapiperahan sebagai penyedia bahan baku produk dalam bentuk susu segar di kabupaten Enrekang. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor pendukung yang sangat potensial di kabupaten Enrekang, terutama faktor iklim, geografi dan topogarfi serta animo masyarakat yang cukup tinggi pada produk dangke tersebut. Sapi perah merupakan salah satu jenis ternak ruminansia. Ternak ini banyak dikembangkan sebagai ternak dengan hasil utama berupa susu. Sapi perah merupakan salah satu jenis komoditi unggulan peternakan kabupaten Enrekang selain sapi potong dan kambing boer. Sapi perah telah tersebar di beberapa kecamatan di kabupaten enrekang seperti kecamatan

Enrekang, Cendana, Alla, Baraka dan Anggeraja.

B. Skala Produksi Industri besar dangke laku di pasaran, dengan jumlah produksi yang ada saat ini masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan cukup larisnya produk ini di pasar-pasar tradisional yang ada. Saat dengan populasi yang ada dapat dihasilkan susu ini

murni sekitar 672.000

liter/tahun yang diolah menjadi dangke.

C. Denah dan Tata Letak Usaha


Makassar

Jln. Nusantara

Kab. Enrekan

D. Teknologi, Mesin dan Peralatan Pengolahan Dangke masih menggunakan teknologi yang sangat sederhana dan mudah. Dangke diolah dari susu sapi atau susu kerbau yang dipanaskan dengan api kecil sampai mendidih, kemudian ditambahkan koagulan berupa getah pepaya (papain) sehingga terjadi penggumpalan. Gumpalan tersebut dimasukkan ke dalam cetakan khusus yang terbuat dari tempurung kelapa sambil ditekan sehingga cairannya terpisah (Marzoeki dkk, 1978). Konsentrasi (papain + air) yang digunakan lebih kurang sendok makan untuk 5 liter susu, dan dari jumlah tersebut dapat dihasilkan 4 buah dangke. Dangke yang masih dalam keadaan panas dibungkus dengan daun pisang dan ada kalanya agar bisa tahan lama dilakukan pengawetan dengan ditaburi garam dapur, setelah itu siap dipasarkan.
Lokasi Industri Dangke

Dangke adalah produk susu semacam keju tanpa pemeraman, dan tidak dikoagulasi dengan renin melainkan dengan papain (getah perasan daun dan tangkai daun pepaya) atau kadang kadang dengan air nenas muda atau dengan air perasan daun siwulan. Getah pepaya terdapat pada semua bagian tanaman kecuali akar dan biji tetapi kadarnya berbeda dan paling banyak pada buah yang masih muda (Kirk dan Othmer, 1957 dalam Gunawan, 1991). Untuk

mendapatkan hasil yang maksimal pada saat penyadapan, jumlah torehan tiap buah dibatasi hanya 4-5 saja, dengan jarak antar goresan lebih kurang 2 cm dengan kedalaman kira-kira 1 mm.

IV.

ASPEK MANAJEMEN

A. Struktur Organisasi

DIREKTUR UTAMA

KEPALA BAGIAN PRODUKSI

KEPALA BAGIAN PEMASARAN

KEPALA BAGIAN PENGAWASAN

KARYAWAN PRODUKSI

KARYAWAN PEMASARAN

KARYAWAN PENGAWASAN

B. Sumber Tenaga Kerja Seleksi pegawai untuk direktur utama adalah pegawai yang

memilikikemampuan memimpin, bersosialisasi, dan pengetahuan yang cukup dalam bidang bisnis. Sedangkan untuk kepala bagian produksi adalah karyawan yang mesti ahli dan banyak tahu tentang produksi barang yang akan dibuat dan

memilikikemampuan manajemen yang baik. Kepala bagian pemasaran harus ahli dalamkegiatan pemasaran produk yang dibuat serta strategi yang digunakan dan tetapharus memiliki kemampuan manajemen. Kepala bagian pengawasan harus punya pengetahuan tentang mutu

produk/material serta pengetahuan mengenai pemasaran juga agar bisa mengawasi dua proses sebelumnya. Karyawan yang bekerja di perusahaan ini pun harus memiliki etos kerjayang tinggi dan attitude yang baik serta memilihara hubungan baik dengan

atasandan antar kartawan lainnya. Mengenai pendidikan dari pegawai disini minimal memiliki ijazah SMA dan sederajat.

C. Balas Jasa Tenaga Kerja Bentuk apresiasi dan balas kerja atas kinerja yang dilakukan oleh seluruh staff/karyawan di PT DANGKE MAKMUR INDONESIA berupa gaji pokok, asuransi dan insentif yang proporsional.

D. Job Deskripsion Berikut adalah penjelasan wewenang menurut diagram di atas: 1. Direktur Utama Pimpinan penanggung pengawasan) 2. Kepala Bagian Produksi Sub-pimpinan yang mengepalai bagian produksi. Bertugas sebagai tertinggi dalam perusahaan ini. Bertugas sebagai

jawabseluruh unit kepala bagian (produksi, pemasaran, dan

penanggung jawab unit produksi (material, proses produksi, dan produk akhir). 3. Kepala Bagian Pemasaran Sub pimpinan yang mengepalai bagian pemasaran, bertugas sebagai penanggung jawab unit pemasaran (distribusi, promosi, dan harga produk). 4. Kepala Bagian Pengawasan Pimpinan tertinggi dalam perusahaan ini, bertugas sebagai penanggung jawab seluruh unit kepala bagian (monitoring proses, mutu dan pemasaran).

V.

ASPEK EKONOMI SOSIAL DAN POLITIK

A. Pendapatan Per Kapita Masyarakat Perkembangan jumlah populasi yang ada telah merespon pengembangan industri kecil makanan khas tradisional dangke di kabupaten Enrekang. Dengan jumlah total populasi ternak yang semakin meningkat, maka dengan sendirinya

akan

meningkatkan

jumlah

produksi

dangke

sehingga akan meningkatkan

pendapatan masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan motivasi untuk mengembangkan industri ini. Sampai saat ini industri kecil dangke mengalami perkembangan baik dari segi jumlah, maupun produksi yang dihasilkan. Saat dengan populasi yang ada dapat dihasilkan susu ini

murni sekitar 672.000

liter/tahun yang diolah menjadi dangke. Dari usaha dangke ini yang harga jualnya antara Rp 6.000 8.000/unit, peternak mendapat keuntungan antara Rp 6.000.000 8.000.000,- setiap ekor sapi per tahun (Dinas Pertanian Daerah Kabupaten Enrekang, 2004).

B. Penyerapan Tenaga Kerja Dengan adanya industry PT. Dangke Makmur Indonesia di harapkan dapat mengurangi pengangguran didaerah sekitar karena dapat berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat sekitar dengan terbukanya lapangan kerja

VI.

ANALISIS RESIKO

Seperti diketahui bahwa masalah utama penyebab tidak populernya makanan tradisional dangke adalah karena kurangnya sentuhan teknologi

produksi dan pengemasan serta tata saji. Produk dangke akan memiliki nilai jual dan selera yang tinggi jika disajikan dengan cara yang lebih modern dengan

sentuhan teknologi. Salah satu kendala yang dialami dalam pengembangan makanan khas tradisional ini adalah ketidak-seragaman kualitas produk yang dihasilkan oleh masyarakat dan masa simpan produk yang masih cukup singkat sehingga relatif sulit dalam menjangkau wilayah pemasaran yang lebih luas.

VII. A. Modal Perusahaan

ASPEK FINANCIAL

Modal perusahaan untuk investasi diperoleh dari hutang bank. Perusahaan hutang ke bank sebesar Rp. 2.939.000.000,00 dengan bunga 10%. Pinjaman beserta bunganya dibayar dalam waktu 10 tahun. Jumlah yang harus dicicil perusahaan setiap tahunnya adalah Rp. 293.900.000,00 B. Estimasi InvestasiEstimasi investasi yang dikeluarkan PT. Dangke Makmur Indonesia dalam tabel estimasi proyeksi investasi sebagai berikut:
No A 1 Item INVESTASI Pendirian Bangunan a Pabrik b Kantor (2 lantai) c Quality Control Peralatan a b c d Kendaraan a b b c d Jumlah Nilai Ket Jumlah TOTAL

500,00 300,00 200,00

m2 m2 m2

2.000.000,00 2.000.000,00 2.000.000,00

1.000.000.000,00 600.000.000,00 400.000.000,00 2.000.000.000,00

Mesin cetak dangke Mesin Packaging Mesin Cooling Peralatan Kantor

2,00 1,00 2,00

unit unit unit

10.000.000,00 10.000.000,00 50.000.000,00

20.000.000,00 10.000.000,00 100.000.000,00 50.000.000,00 180.000.000,00

Tangki Susu Truk Pick UP Mobil Sepeda Motor

1,00 1,00 2,00 2,00 2,00

unit unit unit unit unit TOTAL

125.000.000,00 150.000.000,00 110.000.000,00 120.000.000,00 12.000.000,00

125.000.000,00 150.000.000,00 220.000.000,00 240.000.000,00 24.000.000,00 759.000.000,00 2.939.000.000,00

C. Estimasi Penjualan /Penerimaan

INCOME (PENDAPATAN)
Penjualan dangke Total Produksi dalam satuan ml Total Penjualan dangke (1250 ml) 360.000,00 cup/th 15.000,00 /cup 5.400.000.000,00 TOTAL 5.400.000.000,00 360.000,00 450.000.000,00 bh/th ml/th
(asumsi kerusakan dangke 1%)

D. Estimasi Biaya
BIAYA VARIABEL (OPERASIONAL) 519.000.000,00 Susu Segar 700,00 lt/hr 4.000 126.000,00
119.700,00

(asumsi produksi dangke 600 buah/hari )

1 Bahan Baku a 504.000.000,00


liter/th

(asumsi kerusakan susu sebelum diproses 5%)

b c

papain

5,00
20,00

kg/hr
Kg/hr

10.000
5.000,00

1.500,00

15.000.000,00
100.000,00

garam dapur

2 Kemasan 1,25 liter 3 Listrik 4 Bahan Bakar 7 Promosi 360.000,00 15.000.000,00 100.000,00 5.000.000,00 cup /bln lt/th /bln 100 12 8.000 12 /cup bln /liter bln 36.000.000,00 180.000.000,00 800.000.000,00 60.000.000,00 TOTAL

36.000.000,00

180.000.000,00 800.000.000,00 60.000.000,00 1.595.000.000,00

E. Proyeksi Untung Rugi


COST RESUME A B EQUITY (ASSET) FIX COST Nilai Investasi Biaya tetap 2.939.000.000,00 1.922.300.000,00 TOTAL C TOTAL COST Biaya Tetap Biaya Variabel (Operasional) 1.922.300.000,00 1.595.000.000,00 TOTAL 3.517.300.000,00 1.882.700.000,00 4.861.300.000,00 6.456.300.000,00

NET INCOME

Berdasarkan perhitungan di atas, maka perusahaan memperoleh keuntungan/laba. Laba tersebut diperoleh dari total penerimaan dikurangi dengan total biaya. Sesuai dengan perhitungan di atas, perusahaan memperoleh laba sebesar Rp. 1.882.700.000,00 /tahun.

F. Kriteria Investasi A. Kriteria Investasi Beberapa criteria investasi yang dihitung adalah : Efisiensi usaha dengan R/C rasio Rumus R/C ratio Rentabilitas Rentabilitas =
Laba x 100 % Modal

= Penerimaan
TotalBiaya

Pay Back Period (PBP) PBP =


Modal x 1 tahun Laba

BEP baik berdasarkan Rupiah maupun jumlah mentega yang diproduksi BEP Rupiah BEP =
BiayaTetap 1 (biaya var iabel / penerimaan )

BEP produk dihitung dari hasil BEP Rupiah dibagi harga produk. Dari Hasil Perhitungan diperoleh data sebagai berikut :

FINANCIAL ANALYSIS NPV (Net Provit Value) Interest Rest (suku Bunga) IRR (Rentabilitas) PBP (Payback Period) R/C (efficiency ratio) Biaya Variabel per Satuan BEP (dalam rupiah) BEP (dalam Produk) 9.222.597.071,15 6,32 29,16 2,58 1,54 4.430,56 6.899.085.413,93 459.939,03 rupiah/cup rupiah/cup cup rupiah % % tahun

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Berdasarkan hasil analisis finansial usaha pembuatan dangke yang terbuat dari susu sapi dapat disimpulkan : Mampu menghasilkan keuntungan bersih per tahun sebesar Rp. 1.882.700.000,00 R/C ratio menunjukkan angka sebesar 1,54 hal ini berarti bahwa dengan asumsi biaya 1 rupiah yang digunakan, mampu menghasilkan keuntungan sebesar 1,54 kali dari biaya yang digunakan. Analisis rentabilitas usaha dan pay bac periode menunjukkan hasil berturutturut 29,16 dan 2,58 tahun. Hasil analisis Break Even Point dalam rupiah menunjukkan bahwa BEP dicapai pada tingkat penerimaan sebesar Rp. 6.899.085.413,93 BEP berdasarkan banyaknya produk yang dihasilkan akan dicapai pada produksi 459.939,03 cup Apabila diinginkan keuntungan yang lebih besar lagi maka hendaknya skala usaha ini dibuat dalam skala industri dengan menggunakan mesin canggih, sehingga penggunaan tenaga kerja dapat dikurangi dan akan menghemat biaya tenaga kerja.