Anda di halaman 1dari 21

Pemeriksaan Pajak . Labels: kebijakan pemeriksaan, Pemeriksaan, pemeriksaan pajak, PER-19/PJ/2008, PER-20/PJ/2008, SE-10/PJ.04/2008 Dasar Hukum SE-10/PJ.

04/2008 Tentang Kebijakan pemeriksaan PER-19/PJ/2008 Tentang Petunjuk Pelakanaan Pemeriksaan Lapangan - klik disini PER-20/PJ/2008 Tentang Petunjuk Pelakanaan Pemeriksaan Kantor - klik disini Tujuan Pemeriksaan - Tujuan pemeriksaan adalah Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan - Dilakukan dengan menguji kebenaran SPT, pembukuan dan pemenuhan kewajiban pajak lain kemudian dibandingkan dengan kegiatan usaha, pekerjaan bebas dan keadaan sebenarnya dari Wajib Pajak - Hasil pengujian kepatuhan tersebut akan dituangkan dalam bentuk Laporan Hasil Pemeriksaan, dan diikuti penerbitan Surat Ketetapan. Ruang Lingkup Pemeriksaan - Merupakan cakupan dari jenis pajak dan periode dari pembukuan yang menjadi objek untuk dilakukan pemeriksaan. - Pemeriksaan meliputi atas satu, beberapa atau seluruh jenis pajak baik untuk satu masa, beberapa masa, satu tahun atau bebrapa tahun terkait. Jenis Pemeriksaan - Terdapat dua jenis pemeriksaan, yaitu : a. Pemeriksaan Lapangan, yaitu pemeriksaan yang dilakukan di tempat kedudukan, tempat usaha, tempat tinggal Wajib Pajak atau tempat lain. b. Pemeriksaan Kantor, yaitu pemeriksaan yang dilakukan di kantor Direktorat Jenderal Pajak Semakain tinggi resiko ketidakpatuhan Wajib Pajak, pemeriksaannya dilakukan melalui Pemeriksaan Lapangan. Kriteria Pemeriksaan - Kriteria pemeriksaan merupakan alas an atau dasar dilakukannya pemeriksaan terhadap Wajib Pajak. - Ada 2 kriteria pemeriksaan : a. Pemeriksaan Rutin, merupakan pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak sehubungan dengan pemenuhan hak dan/atau pelaksanaan kewajiban perpajakannya atau karena diwajibkan oleh UU. b. Pemeriksaan Khusus, merupakan pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan sebabsebab khusus. Berdasarkan analisa resiko internal, yaitu dari hasil analisa internal KPP Berdasarkan analisa resiko eksternal, yaitu dari adanya pengaduan masyarakat, adanya data dari pihak ketiga, atau sebab lain Jangka Waktu Pemeriksaan : a. Pemeriksaan Lapangan Adalah 4 bulan dan dpat diperpanjang menjadi paling lama 8 bulan.

Kecuali untuk pemeriksaan SPT lebih bayar Apabila terkait dengan transfer pricing, pemeriksaan dapat diperpanjang hingga 2 tahun b. Pemeriksaan Kantor adalah 3 bulan dan dapat diperpanjang sampai dengan 6 bulan apabila ditemukan indikasi transaksi yang terkait dengan transfer pricing maka status pemeriksaan dapat ditingkatkan menjadi pemeriksaan lapangan Perluasan Pemeriksaan Pemeriksaan dapat diperluas untuk tahun-tahun pajak sebelumnya yang menyatakan rugi (sepanjang tahun pajak ybs belum dilakukan pemeriksaan) Pemeriksaan Pajak adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, mengolah data atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

PMK-82/PMK.03/2011 tentang Tatacara Pemeriksaan Pajak . Labels: 82/PMK.03/2011, Pemeriksaan, pemeriksaan pajak Beberapa hal yang perlu diketahui pada saat dilakukan pemeriksaan pajak. PENGERTIAN Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang undangan perpajakan. Pemeriksaan Lapangan adalah Pemeriksaan yang dilakukan di tempat kedudukan, tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, tempat tinggal Wajib Pajak, atau tempat lain yang ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak.

Pemeriksaan Kantor adalah Pemeriksaan yang dilakukan di kantor Direktorat Jenderal Pajak. Pemeriksa Pajak adalah Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak atau tenaga ahli yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak, yang diberi tugas, wewenang, dan tanggung jawab untuk melaksanakan Pemeriksaan. Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak adalah tanda pengenal yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak yang merupakan bukti bahwa orang yang namanya tercantum pada kartu tanda pengenal tersebut sebagai Pemeriksa Pajak.

Surat Perintah Pemeriksaan adalah surat perintah untuk melakukan Pemeriksaan dalam rangka menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. KEWAJIBAN PEMERIKSA PAJAK Dalam hal Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dilaksanakan dengan jenis Pemeriksaan Lapangan, Pemeriksa Pajak wajib: a. b. c. menyampaikan surat pemberitahuan pemeriksaan tentang akan dilakukan Pemeriksaan kepada Wajib Pajak; memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan Surat Perintah Pemeriksaan kepada Wajib Pajak pada waktu melakukan Pemeriksaan; melakukan pertemuan dengan Wajib Pajak dalam rangka memberikan penjelasan mengenai: 1) 2) alasan dan tujuan Pemeriksaan kepada Wajib Pajak; hak dan kewajiban Wajib Pajak selama dan setelah pelaksanaan Pemeriksaan; hak Wajib Pajak mengajukan permohonan untuk dilakukan pembahasan dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan dalam hal terdapat hasil Pemeriksaan yang belum disepakati antara Pemeriksa Pajak dengan Wajib Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;

3)

d. e. f. g. h.

menuangkan hasil pertemuan dengan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada huruf c dalam bentuk berita acara hasil pertemuan; menyampaikan Kuesioner Pemeriksaan kepada Wajib Pajak; memperlihatkan surat tugas kepada Wajib Pajak apabila susunan tim Pemeriksa Pajak mengalami perubahan; menyampaikan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan kepada Wajib Pajak; memberikan hak hadir kepada Wajib Pajak dalam rangka Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dalam batas waktu yang telah ditentukan; memberi petunjuk kepada Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya agar pemenuhan kewajiban perpajakan dalam tahun-tahun selanjutnya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan; mengembalikan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan, dan dokumen lainnya yang

i.

Hak-Hak WP apabila dilakukan Pemeriksaan . Labels: Pemeriksaan 1.Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa ; 2.Meminta tindasan Surat Perintah Pemeriksaan Pajak; 3.Menolak untuk diperiksa apabila Pemeriksa tidak dapat menunjukan Tanda Pengenal Pemeriksa dan Surat Perintah Pemeriksaan; 4.Meminta penjelasan tentang maksud dan tujuan pemeriksaan; 5.Meminta tanda bukti peminjaman buku-buku, catatan-catatan, serta dokumendokumen yang dipinjam oleh Pemeriksa Pajak; 6.Meminta rincian berkenaan dengan hal-hal yang berbeda antara hasil pemeriksaan dengan Surat Pemberitahuan (SPT) mengenai koreksi-koreksi yang dilakukan oleh Pemeriksa Pajak terhadap SPT yang telah anda sampaikan; 7.Mengajukan pengaduan apabila kerahasiaan usaha anda dibocorkan kepada pihak lain yang tidak berhak; 8.Memperoleh lembar Asli Berita Acara Penyegelan apabila Pemeriksa Pajak melakukan penyegelan atas tempat atau ruangan tertentu.

(Aris Aviantara & Associates) Registered Tax Consultant & Tax Attorney

PEMERIKSAAN PAJAK Pada prinsipnya Wajib Pajak mempunyai kesempatan yang sama untuk dilakukan pemeriksaan pajak.

Siapapun Anda, peluang pemeriksaan tetap terbuka. Pemeriksaan pajak adalah satu hal yang paling dihindari oleh setiap Wajib Pajak. Dalam kenyataannya, Wajib Pajak seringkali harus membayar lagi sejumlah pajak yang dianggap kurang dibayar. Tidak tanggung-tanggung, sangat mungkin jumlah yang harus dibayar itu besarnya puluhan atau bahkan ratusan kali lipat dari jumlah pajak yang telah dibayar. Ini fakta dan nyata. Fenomena apakah itu sebenarnya? Di satu sisi sistem perpajakan kita memanglah belum sempurna. Di sisi lain, hal ini ditambah lagi dengan kualitas Wajib Pajak sendiri yang selalu mencoba mencari cara baik atau buruk untuk menghindar dari membayar pajak. Hal ini bisa mendorong Wajib Pajak untuk mencoba mengakali pembukuannya dan dapat memancing aparat untuk terus-menerus curiga. Lack ini jelas ditimpali lagi dengan kurangnya pemahaman di sisi Wajib Pajak dan kondisi mudahnya aparat pajak melakukan koreksi. Adalah terlalu sulit jika Wajib Pajak berharap agar sistem pajak segera menjadi lebih baik dan ideal. Ini sama dengan berharap setiap orang berubah menjadi sukarela membayar pajak. Sulit untuk berharap bahwa aturan perpajakan menjadi lebih bisa dipahami dan dimengerti, mudah dan murah sesegera mungkin. Sebab kita tahu, kepentingan otoritas adalah meningkatkan penerimaan pajak dan meregulasi berbagai hal dari sisi perpajakan. Dan kita tahu pula, bahwa kepentingan Wajib Pajak adalah mengurangi beban semaksimal mungkin termasuk beban pajak. Ini jelas bertentangan. Kondisi pertentangan itu bisa dipersepsi sebagai sebuah arena permainan dan persaingan, atau sebagai sebuah bentuk arena kerjasama untuk berbagi kesejahteraan, antara Wajib Pajak, rakyat dan negara. Manapun orientasi dan sudut pandang yang Anda pilih, satu hal sudah pasti yaitu bahwa Anda sebagai Wajib Pajak harus punya bekal yang cukup. Seberapa cukup? Kecukupan bekal itu harus diukur dari karakteristik arena itu sendiri. Apa sajakah itu? Pertama, bekal yang Anda perlukan adalah koleksi aturan. Semua interaksi dengan otoritas pajak harus dilandasi oleh aturan. Anda perlu software database perpajakan. Selanjutnya, Anda harus mau meluangkan waktu untuk terus memahami dan mengupdate aturan pajak dan aturan pemeriksaan pajak, karena setiap langkah dan transaksi bisnis Anda pasti diintai oleh pajak. Berikutnya, Anda harus tahu bagaimana mempersiapkan diri dan pembukuan untuk menghadapi pemeriksaan pajak. Kemudian, Anda harus paham pula bagaimana menghadapi dan berinteraksi dengan pemeriksa pajak secara real time. Selanjutnya, Anda harus paham dan mengerti bagaimana berargumentasi dan berkomunikasi dengan aparat pajak dalam rangka mempertahankan besarnya pajak yang sudah Anda bayar, agar tidak harus membayar pajak lagi.

Kemudian, Anda harus tahu bagaimana merespon sikap dan perilaku aparat secara benar dan bijak, agar tidak salah langkah atau salah omong dan salah tingkah. Kemudian, Anda harus tahu bagaimana melakukan manuver agar bisa terhindar dari situasi yang tidak menguntungkan saat berhadapan dengan pemeriksa. Setelah semuanya selesai, Anda juga harus tahu bagaimana menindaklanjuti hasil pemeriksaan pajak. Itupun harus dilanjutkan dengan pemahaman tentang bagaimana melakukan adaptasi terhadap berbagai hal dalam pembukuan dan transaksi. Dan terakhir, Anda juga harus memahami bagaimana membentuk pola learning system yang benar untuk masa depan, agar kemalangan Anda tidak terulang lagi dan lagi.

Serba serbi Pemeriksaan Sistem perpajakan indonesia adalah self asessment, dimana wajib pajak di beri kepercayaan sendiri oleh DJP untuk menghitung,memperhitungkan,menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang. Wajib pajak melaporkan penghasilan serta pajak yang terutangnya melalui SPT. Karena memakai sistem self-asssment maka SPT yang dilaporkan dianggap benar kecuali DJP menetapkan lain. Loh, bagaimana cara DJP menetapkan SPT tersebut benar atau tidak?? Itu dilakukan melalui mekanisme pemeriksaan. Apa sih yang dimaksud dengan pemeriksaan dalam bidang perpajakan?? Nah.. Jawabannya ada di PMK 199/2007 jo PMK 82/2011 yang bunyinya : Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/ataubukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untukmenguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangkamelaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Pertanyaan selanjutnya adalah siapa sih yang berwenang melakukan pemeriksaan pajak? Apas ih tujuan dilakukan pemeriksaan? Apa - apa sajakah jenis pemeriksaan?? Hmm.. jawabannya ada Pada pasal 29(1) UU KUP beserta penjelasannya yang berbunyi Direktur Jenderal Pajak dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan berwenang melakukan pemeriksaan untuk: a menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak; dan/atau . b tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang. undangan perpajakan, di antaranya: a pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan; . b penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak; . c pengukuhan atau pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak; .

pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak; penentuan saat mulai berproduksi sehubungan dengan fasilitas perpajakan; dan/atau k pemenuhan permintaan informasi dari negara mitra Perjanjian . Penghindaran Pajak Berganda. Pemeriksaan dapat dilakukan di kantor (Pemeriksaan Kantor) atau di tempat Wajib Pajak (Pemeriksaan Lapangan) yang ruang lingkup pemeriksaannya dapat meliputi satu jenis pajak, beberapa jenis pajak, atau seluruh jenis pajak, baik untuk tahuntahun yang lalu maupun untuk tahun berjalan. Pemeriksaan dapat dilakukan terhadap Wajib Pajak, termasuk terhadap instansi pemerintah dan badan lain sebagai pemungut pajak atau pemotong pajak. Pelaksanaan pemeriksaan dalam rangka menguji pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dilakukan dengan menelusuri kebenaran Surat Pemberitahuan, pembukuan atau pencatatan, dan pemenuhan kewajiban perpajakan lainnya dibandingkan dengan keadaan atau kegiatan usaha sebenarnya dari Wajib Pajak. Pada pasal tersebut disebutkan bahwa yang berhak melakukan pemeriksaan dalam bidang perpajakan adalah Direktur Jenderal Pajak (DJP) bukan menteri keuangan apalagi polisi, hehe.. Pada artikel kali ini saya akan fokus pada pemeriksaan yang bertujuan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan. Apa - apa saja sih yang dilakukan?? Bagaimana alur/tahapan nya?? Coba kita simak Peraturan Pemerintah No.34 tahun 2011, secara ringkas dapat kita gambarkan sebagai berikut: simak baik2 ya..

d . e . f. g . h . i. j.

Wajib Pajak mengajukan keberatan; pengumpulan bahan guna penyusunan Norma Penghitungan Penghasilan Neto; pencocokan data dan/atau alat keterangan; penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil; penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai;

Oke.. kita udah tahu gambaran singkat tentang alur pemeriksaan, sekarang berapa lama sih jangka waktunya? Apa 1 bulan? 3 bulan? Atau 1 abad?? Ga mungkin ya sampe 1 abad, he.. jawabannya ada di PER 34 tahun 2011 juga loh.. ini dia: 1. Pemeriksaan Lapangan jangka waktu paling lama 4 (empat) bulan yang dihitung sejak tanggal Sural Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan disampaikan kepada Wajib Pajak sampai dengan tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan. Dengan alasan tertentu, jangka waktu Pemeriksaan Lapangan dapat diperpanjang 1 kali untuk jangka waktu paling lama 4 (empat) bulan. Alasan tertentu yang dimaksud adalah: a. Pemeriksaan Lapangan diperluas ke Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak lainnya; b. c. d. e. ruang lingkup Pemeriksaan Lapangan meliputi seluruh jenis pajak; terdapat konfirmasi atau permintaan data dan/atau keterangan kepada pihak ketiga; terdapat indikasi transaksi transfer pricing dan/atau transaksi khusus lain yang berindikasi adanya rekayasa transaksi keuangan; terdapat permintaan Pemeriksaan oleh Unit Pelaksana Pemeriksaan Domisili kepada Unit Pelaksana Pemeriksaan Lokasi; atau

f.

berdasarkan pertimbangan tertentu dari Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan. Namun apabila dalam Pemeriksaan Lapangan ditemukan indikasi transaksi yang terkait dengan transfer pricing dan/atau transaksi khusus lain yang berindikasi adanya rekayasa transaksi keuangan perpanjangan jangka waktu Pemeriksaan Lapangan dilakukan paling banyak 5 (lima) kali sesuai dengan kebutuhan waktu untuk melakukan pengujian, dan jangka waktu Pemeriksaan Lapangan menjadi paling lama 24 (dua puluh empat) bulan

2.

Pemeriksaan kantor Pemeriksaan Kantor dilakukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan yang dihitung sejak tanggal Wajib Pajak, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yang telah dewasa dari Wajib Pajak, datang memenuhi Surat Panggilan Dalam Rangka Pemeriksaan sampai dengan tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan. Dengan alasan tertentu, jangka waktu Pemeriksaan Kantor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan. Alasan tertentu yang dimaksud adalah: a. Pemeriksaan Kantor diperluas ke Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak lainnya; b. ruang lingkup Pemeriksaan Kantor meliputi seluruh jenis pajak; c. terdapat konfirmasi atau permintaan data dan/atau keterangan kepada pihak ketiga; atau d. berdasarkan pertimbangan tertentu dari Kepala Unit Pelaksana PemeriksaanApabila dalam Apabila dalm Pemeriksaan Kantor ditemukan indikasi transaksi yang terkait dengan transfer pricing dan/atau transaksi khusus lain yang berindikasi adanya rekayasa transaksi keuangan, pelaksanaan Pemeriksaan Kantor diubah menjadi Pemeriksaan Lapangan

Pemeriksaan Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi Wajib Pajak Pribadi adalah orang yang memperoleh penghasilan baik sebagai seorang direktur dari satu, beberapa, atau bahkan ratusan perusahaan atau seorang pemegang saham atau komisaris atau pegawai menengah atau pegawai rendah atau pekerja mandiri seperti dokter, notaries , pengacara . Wajib Pajak Orang Pribadi memiliki resiko mengalami pemeriksaan pajak . Jika Anda menghadapi suatu pemeriksaan pajak, apa sajakah yang dilakukan pemeriksa? Berikut ini adalah uraian mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi. Penghasilan Yang Dilaporkan Dalam SPT

Wajib Pajak Orang Pribadi melaporkan penghasilannya dengan mengisi dan memasukkan SPT Wajib Pajak Orang Pribadi. Penghasilan yang dilaporkan biasanya terdiri dari penghasilan dari usaha adalah penghasilan yang diperoleh dari kegiatan usaha seperti berdagang atau memproduksi barang atau produk tertentu. Penghasilan dari pekerjaan bebas adalah penghasilan yang diperoleh dari kegiatan dalam profesi tertentu seperti dokter, pengacara, notaris/PPAT, konsultan, dan sebagainya. Pemeriksa akan mengecek dan menguji angka-angka dalam SPT (dan laporan keuangan serta pembukuan jika ada penghasilan dari usaha), dan melaksanakan prosedur audit standar sebagaimana yang diatur oleh pedoman pemeriksaan pajak. Wajib Pajak Orang Pribadi biasanya juga merangkap sebagai pegawai pada pemberi kerja tertentu. Berkaitan dengan hal ini maka pemeriksa akan melakukan juga pengecekan dan pengujian terhadap berbagai dokumen yang berkiatan dengan penghasilan yang diperoleh dan formulir 1721-A serta bukti pemotongan PPh Pasal 21 dari masing-masing pemberi penghasilan. Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi tertentu, penghasilan diinvestasikan dalam bentuk saham, tabungan, deposito, sewa, intellectual property, atau real property. Penghasilan yang diperoleh dari berbagai jenis investasi itu adalah dividen, bunga, royalti, atau capital gain. Kewajiban Pajak yang melekat pada berbagai penghasilan ini adalah PPh Pasal 23 atau PPh Final yang biasanya dipotong oleh pihak yang memberi penghasilan. Berkaitan dengan kewajiban ini, maka pemeriksa akan meminta berbagai dokumen dan informasi yang berkaitan seperti bukti-bukti kepemilikan deposito, tabungan, sewa-menyewa, jual-beli aktiva, dan sebagainya. Selain itu Pemeriksa juga akan menelusuri berbagai perubahan atau mutasi yang terjadi terhadap investasi itu. Hal ini dilakukan untuk mengetahui naik-turunnya potensi penghasilan sehingga jumlah penghasilan yang sebenarnya pada akhir tahun dapat diketahui dengan pasti. Jumlah penghasilan pada akhir tahun inilah yang akan menentukan besarnya jumlah pajak yang harus Anda bayar untuk tahun bersangkutan. Daftar Biaya Hidup Daftar biaya hidup adalah sebuah daftar yang berisi rincian dari biaya hidup Anda selama periode tertentu yang biasanya adalah bulanan. Di dalamnya Anda harus mengisikan jumlah rata-rata dari pengeluaran untuk makan dan minum, telpon/komunikasi, listrik, air, transport/BBM, langganan koran/majalah, dan semua biaya lain yang Anda keluarkan secara rutin. Daftar ini diperlukan Pemeriksa dalam rangka melakukan penilaian terhadap gaya hidup Anda. Lebih detilnya, yang akan dinilai oleh pemeriksa adalah keseimbangan antara pengeluaran yang Anda lakukan dengan penerimaan yang Anda terima. logikanya, jika Anda melakukan berbagai pengeluaran yang besar jumlahnya. Daftar ini adalah wajib Anda isi walaupun pada dasarnya pendekatan biaya hidup seperti ini adalah pendekatan tidak langsung. Bagaimanapun, pajak yang harus Anda bayar adalah tergantung besarnya penghasilan yang sesungguhnya Anda terima sepanjang tahun yang bersangkutan. Anda boleh-boleh saja melakukan pengeluaran besar sementara penghasilan Anda kecil. Ini bisa Anda lakukan jika Anda memperoleh hibah atau warisan misalnya. Jika

Anda adalah termasuk orang yang berkategori jetset atau super kaya, maka pemeriksa tidak akan memerlukan daftar ini lagi. Daftar Keluarga Pemeriksa akan meminta Daftar Keluarga untuk menentukan pihak-pihak yang Anda tanggung biaya hidupnya. Peraturan pajak membatasi jumlah tanggungan yang boleh Anda akui. Batasan ini lebih banyak dilatarbelakangi oleh masalah keadilan dan pemerataan. Jika batasan ini ditiadakan, maka demi kepentingan pajak setiap Wajib Pajak Orang Pribadi akan berlomba-lomba memasukkan nama orang sekampung ke dalam daftar ini. Secara administratif, batasan ini berkaitan dengan masalah PTKP. Dalam pemajakan terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi, biaya hidup minimum dari Wajib Pajak Sendiri dan sejumlah orang tertentu yang menjadi tanggungannya tidak boleh dipajaki. Biaya inilah yang direpresentasikan dalam bentuk PTKP. Berkaitan dengan sifatnya sebagai pengurang penghasilan (yang berarti juga pengurang jumlah pajak yang harus Anda bayar) atau klaim yang boleh Anda ajukan, pemeriksa harus memastikan bahwa klaim ini sudah Anda lakukan sesuai dengan aturan pajak yang berlaku. Daftar Harta Pemeriksa akan meneliti dan menguji kebenaran dan keabsahan dari harta yang Anda klaim sebagai milik Anda. Informasi ini akan diperoleh dari Daftar Harta yang diajukan kepada Anda dan kemudian harus Anda isi. Daftar itu harus bisa menginformasikan jenis, tahun perolehan, nilai perolehan, proses perolehan (jual-beli, hibah, warisan, dan lain-lain), dan berbagai mutasi serta perubahan yang terjadi. Hal ini juga termasuk perubahan-perubahan yang bersifat penambahan atau pengurangan unit harta seperti perluasan rumah atau tanah. Sebagai pendukung, pemeriksa juga akan meminta semacam pernyataan dari Anda mengenai kebenaran daftar tersebut. Daftar Rekening Tabungan atau Deposito Satu lagi daftar yang akan diajukan Pemeriksa dan anda diharuskan mengisinya adalah daftar dari semua rekening tabungan atau deposito yang Anda miliki. Semua berarti seluruh rekening dan deposito yang Anda miliki ditambah dengan semua rekening dan deposito dari orang-orang yang statusnya masih dalam tanggungan Anda. Selain daftar itu, Pemeriksa juga akan meminta dokumen yang melengkapinya seperti bank statement, deposito, atau buku tabungannya sendiri. Pemeriksa juga akan meminta sebuah pernyataan tertulis dari Anda bahwa selain yang tercantum dalam daftar itu, tidak ada lagi rekening atau deposito yang Anda dan tanggungan yang Anda miliki. Daftar Kartu Kredit Daftar terakhir yang akan diminta oleh Pemeriksa adalah Daftar Kartu Kredit. Pada masa sekarang adalah lumrah jika seseorang memiliki lebih dari satu kartu kredit. Seperti juga daftar sebelumnya, daftar ini juga mencakup kartu kredit yang dimiliki oleh orang yang masih dalam tanggungan Anda dan sebuah pernyataan tentang

tidak adanya kartu kredit lain yang belum Anda laporkan. Pemeriksa juga akan meminta statement penagihan dari pengelola kartu kredit. Jenis Jenis Pemeriksaan Pajak Walaupun anda telah membayar pajak secara jujur dan juga melaporkan pajak anda secara tepat waktu, resiko pemeriksaan tetap dapat terjadi pada diri anda. Pemeriksaan Pajak menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 545/KMK/04/2000 mempunyai 2 tujuan pokok, yaitu: Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dalam rangka memberikan kepastian hukum, keadilan, dan pembinaan kepada Wajib Pajak; dan Tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Pemeriksaan uji kepatuhan dilakukan dengan cara menelusuri kebenaran SPT yang disampaikan Wajib Pajak, pembukuan atau pencatatan dan pemenuhan kewajiban lainnya dibandingkan dengan keadaan atau kegiatan Wajib Pajak sebenarnya. Sedangkan pemeriksaan untuk tujuan lain biasanya dilakukan dalam rangka pemberian atau penghapusan NPWP, penentuan daerah terpencil, sentralisasi pembayaran pajak dan lain sebagainya. Adapun menurut jenisnya, pemeriksaan dapat digolongkan menjadi Pemeriksaan Rutin, Pemeriksaan Kriteria Seleksi, Pemeriksaan Khusus, Pemeriksaan Wajib Pajak Lokasi, Pemeriksaan Tahun Berjalan, dan Pemeriksaan Bukti Permulaan. PEMERIKSAAN RUTIN Sebagaimana namanya, jenis pemeriksaan ini adalah tugas utama pasukan pemeriksa di Ditjen Pajak. Adapun kriteria dilakukan Pemeriksaan Rutin adalah sebagai berikut: 1. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi/Badan yang menyatakan Lebih Bayar; 2. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan yang menyatakan Rugi Tidak Lebih Bayar: 3. Data Prioritas dan atau Alat Keterangan: 4. Terdapat kerjasama Operasi (KSO) atau Konsorsium; 5. Wajib Pajak Orang Pribadi atau Badan menyampaikan; a. SPT tahunan PPh Pasal 21 yang menyatakan lebih bayar; b. SPT Masa PPN yang masa pajak terakhir dari suatu tahun pajak yang menyatakan lebih bayar (baik meminta restitusi maupun kompesasi);

6. Wajib Pajak Orang Pribadi atau Badan menyampaikan: a. SPT Tahunan PPh untuk bagian tahun pajak sebagai akibat adanya perubahan tahun buku yang telah disetujui oleh Direktur Jenderal Pajak; b. SPT Tahunan PPh untuk tahun pajak saat Wajib Pajak melakukan penilaian kembali aktiva tetap yang telah disetujui oleh Direktur Jenderal Pajak; c. SPT Tahunan untuk tahun pajak saat Wajib Pajak melakukan penggabungan, pemekaran, pengambilalihan usaha, atau likuidasi; 7. SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi menyalahi ketentuan penggunaan Norma Penghitungan Penghasilan Neto; 8. Wajib Pajak Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas atau Wajib Pajak Badan, yang Mengajukan permohonan pencabutan NPWP; atau perubahan tempat terdaftarnya Wajib Pajak dari suatu KPP ke lain KPP; 9. Wajib Pajak tidak menyampaikan SPT Tahunan PPh walaupun telah dikirimkan Surat Teguran dan tidak mengajukan permohonan perpanjangan penyampaian SPT, termasuk SPT kembali pos (kempos) dan Wajib Pajak Kelompok Non Efektif (NE); 10. Wajib Pajak melakukan kegitan membangun sendiri yang pemenuhan kewajiban PPN atas kegiatan tersebut patut diduga tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya; 11. Wajib Pajak tidak menyampaikan: a. SPT Tahunan PPh Pasal 21 selama 2 (dua) tahun berturut-turut; b. SPT Masa PPN dalam tahun berjalan selama 3 (tiga) bulan berturut-turut dari suatu tahun pajak; 12. Wajib Pajak menyampaikan SPT Masa PPN (dalam tahun berjalan) yang menyatakan meminta pengembalian kelebihan pembayaran pajak (restitusi) terutama sehubungan dengan penyerahan ekspor dan atau penyarahan kepada badan pemungut PPN; 13. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak yang menyatakan rugi yang pelaksanaan pemeriksaannya dikaitkan dengan pelaksanaan Pemeriksaan Rutin untuk tahun pajak lainnya; 14. Wajib Pajak yang atas permintaan sendiri mengajukan untuk dilakukan pemeriksaan atas kewajiban perpajakannya, misalnya untuk kepentingan Rapat Umum Pemegang Saham atau tax clearence; 15. Terdapat data, termasuk data PBB dan atau BPHTB yang dapat dimanfaatkan untuk ekstensifikasi Wajib Pajak dan atau Pengusaha Kena Pajak (PKP); 16. Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil;

17. Pemusatan tempat terutang PPN. PEMERIKSAAN KRITERIA SELEKSI Pemeriksaan Kriteria Seleksi, yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak tertentu berdasarkan skor otomatis secara komputerisasi. Yang di maksud dengan skor adalah penjumlahan bobot seluruh variabel SPT dan Rasio Laporan Keuangan Wajib Pajak atau variabel lainnya yang mengindikasikan kemungkinan adanya potensi pajak yang belum atau tidak dilaporkan atau menunjukkan rendahnya tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Semakin tinggi skor Anda, maka perusahaan semakin menjadi prioritas utama untuk diperiksa. PEMERIKSAAN KHUSUS Pemeriksaan Khusus menurut SE-03/PJ.7/2001 dapat dilaksanakan terhadap: 1. Wajib Pajak yang diduga melakukan tindak pidana di bidang perpajakan; 2. Wajib Pajak tertentu berdasarkan pengaduan masyarakat 3. Wajib Pajak tertentu berdasarkan pertimbangan Direktur Jenderal Pajak. Ada klausul menarik tentang Pemeriksaan Khusus sesuai SE-03/PJ.7/1996 yaitu apabila Wajib Pajak pada tahun sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan Sederhana Lapangan, maka persetujuan/instruksi melakukan pemeriksaan khusus tidak dapat diberikan kecuali ada indikasi tindak pidana. . PEMERIKSAAN WAJIB PAJAK LOKASI Sesuai dengan namanya, jenis pemeriksaan ini dilakukan atas Wajib Pajak yang mempunyai cabang atau lebih dari satu tempat usaha. Pemeriksaan terhadap Wajib Pajak Lokasi dapat dilaksanakan sehubungan dengan: 1. SPT Tahunan PPh Pasal 21 dan atau SPT Masa PPN menyatakan Lebih Bayar; 2. SPT Tahunan PPh Pasal 21 dan atau SPT Masa PPN tidak disampaikan masingmasing selama 2 (dua) tahun berturut-turut atau 3 (tiga) bulan berturut-turut dari suatu tahun pajak; 3. Permintaan dari Unit Pelaksanan Pemeriksaan Pajak (UP3) Wajib Pajak Domisili dan atau usulan dari UP3 Wajib Pajak Lokasi. PEMERIKSAAN TAHUN BERJALAN Pemeriksaan Tahun Berjalan, yaitu pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang dilakukan dalam tahun berjalan untuk jenis-jenis pajak tertentu atau seluruh jenis Pajak (all

taxes) dan untuk mengumpulkan data atau keterangan atas kewajiban pajak lainnya. Pemeriksaan Tahun Berjalan dilakukan meliputi seluruh jenis pajak (all taxes) dan tidak perlu dikaitkan dengan pemeriksaan tahun sebelumnya. Pemeriksaan Tahun Berjalan dapat dilaksanakan terhadap Wajib Pajak Lokasi berdasarkan pertimbangan Ka Kanwil DPJ khususnya para pemotong atau pemungut pajak (Withholding) termasuk PPh Pasal 23, PPh Pasal 26, dan PPN serta PPnBM. Pemeriksaan Tahun Berjalan Wajib Pajak dalam rangka ekstensifikasi diperlukan seperti pemeriksaan Wajib Pajak Lokasi. Pelaksaan Pemeriksaan Tahun Berjalan hanya dapat dilakukan atas masa pajak sampai dengan bulan Oktober tahun yang bersangkutan. PEMERIKSAAN BUKTI PERMULAAN Pemeriksaan Bukti Permulaan, yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan. Yang dimaksud dengan bukti permulaan adanya perbutan pidana di bidang perpajakan adalah bukti-bukti, baik berupa tulisan, perbuatan, keterangan ataupun benda-benda yang dapat memberikan petunjuk bahwa suatu tindak pidana di bidang perpajakan telah terjadi atau dilakukan, yang dapat menimbulkan kerugian bagi Negara. Termasuk dalam kriteria bukti permulaan adalah: 1. Wajib Pajak dengan sengaja tidak mendaftarkan diri. 2. Wajib Pajak dengan sengaja menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak. 3. Wajib Pajak tidak menyampaikan SPT. 4. Wajib Pajak dengan sengaja menyampaikan SPT yang isinya tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar. 5. Wajib Pajak dengan sengaja memperlihatkan pembukuan, catatan atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar. 6. Wajib Pajak dengan sengaja tidak bersedia memperlihatkan atau meminjamkan pembukuan, catatan atau dokumen lainnya. 7. Wajib Pajak dengan sengaja tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut. Jadi dengan begitu banyak jenis pemeriksaan di atas, apakah Anda tetap mungkin tidak diperiksa? Walaupun demikian rinci kriteria pemeriksaan pajak, namun bagaimanapun juga Ditjen Pajak tidak sembarangan melakukan pemeriksaan pajak kalau memang tidak dianggap perlu. Apalagi jumlah pelaksana pemeriksaan di lingkungan Ditjen Pajak sangat terbatas di bandingkan dengan jumlah Wajib Pajak yang terdaftar di Indonesia. Untuk itu Ditjen Pajak juga memfokuskan diri pada subjek

pajak tertentu (baca: Daftar Rawan Diperiksa Pajak) yang dianggap menghasilkan pemasukan negara cukup besar alias sepadan antara hasil dengan biaya yang dikeluarkan. Tips Menghadapi Pemeriksaan Pajak 1. Jangan Menyepelekan Masalah Pajak. Perasaan menyepelekan sesuatu akan membuat Anda menjadi lengah dan ceroboh. Hal itu akan mempersulit dan merugikan Anda. 2. Jangan berbuat atau berniat curang. Perbuatan curang akan menurunkan kredibilitas Anda di mata fiskus (aparat pajak). Turunnya kredibilitas membuat fiskus akan selalu curiga dengan seluruh aspek pajak yang akan Anda kerjakan. Tentu saja hal ini akan merepotkan Anda di masa mendatang. Jika Anda tidak mampu membayar pajak, lebih baik Anda datang kepada fiskus dan meminta jalan keluar. Mungkin Anda akan memperoleh pengurangan pembayaran cicilan, bahkan pengampunan pajak sekalipun. Kejujuran Anda akan di hargai sekali oleh fiskus. 3. Kerjakan PR Anda setiap hari. Seringkali kita menunda pekerjaan seperti pencatatan atau pembukuan transaksi. Pekerjaan yang sebenarnya bisa Anda selesaikan 1 jam sehari bisa jadi memakan waktu satu minggu jika di kerjakan di akhir bulan. Belum lagi di butuhkan keakuratan ingatan Anda untuk memutar ulang transaksi selama 1 bulan. 4. Simpan dan dokumentasikan bukti-bukti dengan baik. 5. Bukti transaksi berupa kuitansi, bon pembelian, SSP, Faktur Pajak, Bukti Pemotongan, dan lain sebagainya harus Anda simpan di tempat yang mudah Anda cari. Jangan biarkan bukti tersebut melekat pada Jurnal Voucher Anda. Jadi buatlah copy dan simpan dokumen asli di tempat yang aman. Perlu Anda ingat, pada saat pemeriksaan, ucapan dan argumentasi Anda bisa jadi tidak akan di dengarkan oleh fiskus jika tidak disertai dengan bukti-bukti. 6. Usahakan sesedikit mungkin transaksi tunai. Transaksi melalui perbankan akan membantu meringankan pekerjaan pembukuan Anda. Kita tinggal meminta bank statement kapan saja . Fiskus cenderung mempercayai bukti yang dikeluarkan oleh perbankan pda saat memeriksa Anda. 7. Update-lah pengetahuan perpajakan Anda. Jangan malas memperdalam pengetahuan perpajakan Anda. Saat ini Anda dengan mudah mengkoleksi buku peraturan pajak, mengikuti peraturan pajak, mengikuti pelatihan pajak atau seminar perpajakan. Pengetahuan Anda tentang pajak akan membantu Anda saat diperiksa. Sama seperti Anda. Fiskus kadang lupa tentang perlakuan pajak suatu transaksi. Dengan demikian Anda akan terhindar dari koreksi-koreksi yang tidak perlu. Selama ini banyak perusahaan beranggapan bahwa urusan pajak adalah

urusan bagian keuangan. Anggapan ini salah. Keawaman bagian lain seperti bagian hukum, HRD, pengadaan tentang pajak akan membuat bengkak biaya pajak Anda. Justru bagian keuangan adalah filter paling akhir dari suatu transaksi. 8. Tanyakan pada ahlinya. Jangan sok tau. Lebih aman Anda mempunyai konsultan atau teman yang dapat di ajak berdiskusi dan berkonsultasi mengenai masalah yang Anda hadapi. Anda juga bisa meminta bantuan bagian Penyuluhan Kantor Pelayanan Pajak di kota Anda. Mereka dengan senang hati akan membantu memberikan jalan keluar. Jika belum puas, Anda masih dapat menulis surat pertanyaan kepada Pusat Penyuluhan Ditjen Pajak di Jakarta 9. Buatlah tax calendar. Tax calendar berfungsi untuk mengingatkan Anda tanggaltanggal penting dalam siklus Administrasi perpajakan. Hal ini akan mencegah Anda lupa membayar pajak atau lupa melaporkan pajak. Sekali lagi bukan masalah denda yang memang tidak seberapa, tetapi semakin banyak kesalahan yang Anda perbuat, kredibilitas Anda akan semakin turun di mata fiskus. 10. Cek sekali lagi. Ketelitian Anda dalam mengerjakan administrasi Anda bisa memperkecil kemungkinan Anda di periksa oleh fiskus. Oleh karena itu, sempatkan mengecek ulang apa-apa yang telah Anda kerjakan. 11. Konsultan terbaik Anda adalah Anda sendiri. Sejago-jagonya seorang konsultan, dia tidak sedang mengerjakan pajaknya sendiri, tetapi pajak Anda kecuali tentu saja bila konsultan tersebut merangkap suami atau isteri Anda. Bisa jadi Anda memang memerlukan konsultan, namun Anda tidak boleh tergantung habis kepada mereka. Bayangkan jika pada saat yang sama seluruh tim konsultan Anda sakit dan terpaksa harus diganti oleh tim lain yang tidak Anda kenal. Hal-hal yang harus Anda perhatikan pada saat mengerjakan administrasi pajak Anda adalah : 1. Jaga konsistensi perlakuan pajak Anda dari tahun ke tahun. Ketidakkonsistenan pemakaian metode penyusutan misalnya akan memberi kesempatan fiskus melakukan koreksi fiskal pada SPT Anda. 2. Bukukan pendapatan dan biaya pos yang seharusnya. Jangan jadikan pos Pendapatan/Biaya Lain menjadi tempat sampah pembukuan Anda. Hal ini cenderung merangsang fiskus untuk mengkoreksi pos tersebut. 3. Bagi WP Badan, pisahkan biaya-biaya yang bersifat untuk kepentingan pribadi. Pemisahan akan mencegah fiskus untuk melakukan koreksi yang tidak perlu. 4. Buatlah navigasi atau referensi sehingga Anda mudah menemukan dokumen pendukung atau mengingat sejarah transaksi yang bersangkutan. Keragu-raguan Anda saat menghadapi pemeriksaan akan mengundang kecurigaan fiskus.

5. Laporkan seluruh penghasilan dan biaya Anda, baik yang diperoleh dari pekerjaan / usaha, dari sewa, hadiah, hobi dan lain sebagainya. 6. Saat mengisi SPT jangan langsung di ketik dulu, sehingga jika ada kesalahan dapat segera di perbaiki. Sebaiknya Anda menyiapkan cadangan formulir pajak yang di perlukan untuk berjaga-jaga. Formulir ini dapat Anda minta di KPP setempat atau Anda buat sendiri. 7. Cek ulang penjumlahan, pengurangan dan perkalian dalam SPT Anda. Ingatlah bahwa SPT Anda adalah pintu gerbang pertama pemeriksaan pajak. Jika fiskus sudah menemukan cacat di pintu Anda, kemungkinan besar mereka akan datang dan mengetuknya. 8. Sebelum Anda kirim ke kantor pajak, cek kelengkapan SPT Anda sekali lagi. Apakah Anda sudah melampirkan Surat Setoran Pajak ? Rekonsiliasi Komersial Fiskal ? Perhitungan Penyusutan ? Surat Pernyataan ? Apakah lembar SPT Anda sudah di tanda tangani ? 9. Jika semua sudah Anda kerjakan, Anda bisa mengantar SPT Anda langsung ke KPP setempat. Jika Anda tidak mempunyai waktu luang, kirimkan melalui pos tercatat. Jangan lupa menyimpan resi pengiriman SPT Anda di tempat yang aman. Saat menghadapi pemeriksaan pajak 1. Pemeriksaan harus dihadapi dengan sopan seperti layaknya kita menyambut seorang tamu . Jangan menugaskan bawahan Anda untuk menemui mereka pada saat pertama kali. Perkenalkanlah mereka dengan staf dan konsultan Anda. Tunjukkan bahwa kedatangan mereka memang sudah Anda tunggu. Inilah kesempatan emas untuk membuat mereka terkesan dengan niat baik Anda. Kesan awal yang baik cenderung makin membaik di kemudian hari. Ini akan membantu Anda saat nanti harus bertukar pendapat mengenai perlakuan perpajakan. 2. Jika mereka meminta dokumen asli, mintalah waktu untuk mengkopi dokumen tersebut. Buatkan tanda terima secara rinci perdokumen yang akan Anda serahkan. Jika Anda masih memerlukan dokumen tersebut saat ini, berikanlah kopi dokumen dengan sepengetahuan mereka . 3. Jangan keburu pusing jika koreksi awal yang disodorkan jauh lebih besar dari perkiraan Anda. Mintalah waktu untuk meneliti koreksi tersebut. Jika ada koreksi yang tidak jelas, jangan menunda untuk meminta penjelasan. Ingatlah bahwa perbedaan persepsi terhadap peraturan pajak di Indonesia adalah hal yang biasa. Ajak pemeriksa untuk memandang masalah dari sudut pandang dan persepsi Anda. Sekali lagi, yang penting Anda tidak berniat atau berbuat curang. 4. Berikanlah sanggahan secara tertulis dengan disertai bukti yang kuat . Jika tetap tidak terdapat kesepakatan persepsi mengenai koreksi tersebut, mintalah waktu untuk bertemu dengan atasan tim pemeriksa atau kepala kantor. Sampaikan sanggahan Anda atas koreksi tim pemeriksa dengan baik. Jika Anda belum puas,

Anda dapat datang ke Kantor Pusat Ditjen Pajak ( atau lewat surat) untuk memperoleh penegasan atas masalah yang Anda hadapi . DAFTAR RAWAN PEMERIKSAAN PAJAK 1. Pelanggan listrik untuk rumah tinggal dengan daya 6.600 watt atau lebih; 2. Pelanggan telkom dengan pembayaran pulsa rata-rata perbulan Rp.300.000,- atau lebih; 3. Pemilik mobil dengan nilai Rp.200.000.000,- atau lebih, atau pemilik motor dengan nilai Rp.100.000.000,- atau lebih; 4. Pemegang Paspor Indonesia, kecuali pemegang Paspor Haji dan Pemegang Paspor Tenaga Kerja Indonesia (tidak termasuk awak pesawat terbang atau kapal laut); 5. Tenaga Kerja Asing (expatriate) yang bertempat tinggal atau berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan; 6. Karyawan lokal kedutaan besar asing atau organisasi internsional; 7. Pemilik tanah dan atau bangunan dengan nilai jual Objek pajak (NJOP) Rp.1.000.000.000,- atau lebih berdasarkan data kartu jalan atau peta blok atau DHR atau data SPOP; 8. Data orang pribadi atau badan selaku penjual atau pembeli tanah dan atau bangunan dari laporan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) atau informasi dari Notaris dengan nilai Rp.60.000.000,- atau lebih; 9. Pemilik telepon selular pasca bayar; 10. Pemegang kartu kredit; 11. Pemegang polis atau premi asuransi; 12. Pemegang keanggotaan Golf; 13. Artis; 14. Pemilik atau Penyewa ruang apartemen atau kondominium; 15. Pemilik kapal pesiar atau yacht, speed boat, dan pesawat terbang; 16. Pemilik saham yang diperdagangkan di pasar bursa; 17. Pemilik rumah sewa dan kost; 18. Pemegang saham, komisaris, direktur dan penerima dividen;

19. Pemilik atau penyewa atau pengguna dan pengelola ruangan pada sentra perdagangan atau perbelanjaan atau pertokoan atau perkantoran atau mal atau plaza atau kawasan industri atau sentra ekonomi lainnya; 20. Subjek pajak yang berdasarkan data pada lampiran Surat Pemberitahuan (SPT), telah memenuhi syarat sebagai Wajib Pajak, tetapi belum mempunyai NPWP; 5 MITOS UTAMA PEMERIKSAAN PAJAK 1. Lebih baik kelebihan pajak tidak saya klaim daripada SPT saya menjadi lebih bayar dan saya akan repot diperiksa. Mitos ini salah. Pemeriksaan pajak tidak hanya didasarkan pada SPT lebih bayar. Walaupun laporan audit Anda wajar tanpa pengecualian, memasukan SPT Anda dapat di lakukan Pemeriksaan Sederhana Kantor (PSK) selama 2 bulan. Anda akan rugi 2 kali jika mempercayai mitos ini, karena Anda kehilangan kesempatan untuk mengklaim kredit pajak Anda dan tetap diperiksa. Wah.. 2. Percuma membuat rekonsiliasi komersial fiskal sesuai aturan, toh nanti tetap saja fiskus mencari-cari koreksi semau dia. Mitos ini salah. Justru Anda akan rugi jika tidak membuat rekonsiliasi sesuai peraturan, karena akan muncul koreksi yang menyebabkan Anda harus membayar denda cukup besar. Jika Anda tidak berbuat curang. Anda tidak usah takut. 3. Jangan memakai konsultan saat diperiksa, karena fiskus tidak senang kita di dampingi oleh konsultan. Mitos ini salah , karena justru konsultan pajak yang terdaftar dan bersertifikat dapat memberikan masukan kepada anda setiap saat dalam menghadapi pemeriksaan pajak. 4. Santai sajalah saat diperiksa, bisa cincay lah . Mitos ini salah. Pemerintah dalam hal ini Dirjen pajak sejak dulu tidak mentolerir prilaku ini. Lagi pula kenapa mesti cincay kalau anda tidak berbuat curang. Kalau pun Anda harus membayar pajak karena ketidaktahuan Anda dalam menerapkan peraturan , ajukan saja permohonan penghapusan / keringanan denda. Sepanjang Anda memang tidak berniat curang, Dirjen pajak sesuai dengan kewenangan yang di berikan oleh undang- undang pasti akan mengabulkan permohonan Anda berdasarkan rasa keadilan . 5. Menghadapi pemeriksaan pajak sama seramnya dengan menghadapi kematian. Mitos ini salah. Jika selama ini Anda alergi terhadap pajak bisa jadi karena Anda kurang mendapatkan informasi yang seharusnya tentang pajak.