Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

KEPERAWATAN MATERNITAS CA MAMMAE

DISUSUN OLEH

ERNA SURYANI 10.9.1.58

FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS NAHDLATUL WATHAN MATARAM 2011 / 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan limpahan rahmat dan hidayatnya sehingga penulis bisa menyelesaikan penyusunan Makalah Keperawatan Maternitas tentang Ca Mammae. Dalam penyusunan Maklah ini kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, guna untuk kesempurnaan penulisan makalah-makalah selanjutnya. Penulis juga menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi setiap yang membacanya.

Mataram,

Mei 2012

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Carsinoma mammae (Ca Mammae) adalah neolasma ganas dengan pertumbuhan jaringan mammae abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltrasi dan destruktif dapat bermetastase ( Soeharto Resko Prodjo, 1995). Carsinoma mammae merupakan gangguan dalam pertumbuhan sel normal mammae dimana sel abnormal timbul dari sel sel normal, berkembang biak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah (Lynda Juall Carpenito, 1995). Ca mammae pada wanita menduduki tempat nomor dua setelah carcinoma serviks uteri. Kurva insiden usia bergerak tinggi sejak usia 30 tahun. Kanker jarang ditemukan pada usia di bawah 20 tahun. Angka tertinggi pada usia 45-66 tahun. Penyakit ini disebabkan karena terjadinya pembelahan sel-sel tubuh secara tidak teratur sehingga pertambahan sel tidak dapat dikendalikan dan akan tumbuh menjadi benjolan tumor (cancer). Apabila tumor ini tidak diambil dan dibuang, dikhawatirkan akan masuk dan menyebar ke dalam jaringan yang sehat. Ada kemungkinannya juga sel kanker tersebut melepaskan diri dan menyebar ke seluruh tubuh.

B. TUJUAN PENULISAN 1) Tujuan Umum Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien Ca Mammae (kanker payudara) 2) Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui bagaimana pengkajian pada pasien Ca Mammae b. Untuk mengetahui diagnosa pada pasien Ca Mammae c. Untuk mengetahui intervensi pada pasien Ca Mammae d. Untuk mengetahui implementasi pada pasien Ca Mammae e. Untuk mengetahui evaluasi pada pasien Ca mammae.

BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN Carsinoma mammae adalah neolasma ganas dengan pertumbuhan jaringan mammae abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltrasi dan destruktif dapat bermetastase ( Soeharto Resko Prodjo, 1995) Carsinoma mammae merupakan gangguan dalam pertumbuhan sel normal mammae dimana sel abnormal timbul dari sel sel normal, berkembang biak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah (Lynda Juall Carpenito, 1995).

B. FAKTOR PREDISPOSISI Beberapa factor risiko pada karsinoma mammae dalam kalangan oncologist (Muchlis Ramli, dkk, 2000) di antaranya : 1. Umur > 30 tahun, bertambah besar sampai usia 50 tahun dan setelah menopause 2. Tidak kawin/nulipara setelah 35 tahun risikonya 2 kali lebih besar 3. Anak pertama lahir serelah usia 35 tahun 4. Menarche kurang aari 12 tahun risikonya 1,7-3,4 kali lebih tinggi dari pada wanita dengan menarche yang dating pada suia normal atau lebih dari 12 tahun. 5. Menopause dating terlambat lebih dari 55 tahun, risikonya 2,5-5 kali lebih tinggi 6. Pernah mengalami infeksi, trauma atau operasi tumor jinak payudara risikonya 3-9 kali lebih besar 7. Adanya kanker payudara kontralateral, risikonya 3-9 kali lebih besar 8. Pernah mengalami operasi ginekologis-tumor ovarium, riskonya 3-4 kali lebih intggi 9. Radiasi dinding dada risikonya 2-3 kali lebih besar 10. Riwaya tkeluarga ada yang menderita kanker payudara pada ibu, saudara perempuan ibu, saudara perempuan, adik/kakak, risikonya 2-3 kali lebih tinggi.

11. Kontrasepsi oral pada penderita tumor payudara jinak seperti kelainan fibrokistik yang ganas akan meningkatkan risiko untuk mendapat kanker payudara 11 kali lebih tinggi.

C. GEJALA KLINIS Keluhan penderita kanker payudara (Lab. UPF Bedah RSDS, 1984): 1. Mungkin tidak ada 2. tumor mammae umumny atidak nyeri 3. ulkus/perdarahan dari ulkus 4. erosi putting susu 5. perdarahan.keluar cairan dari putting susu 6. nyeri pada payudara 7. kelainan bentuk payu dara 8. keluhan karena metastase Gambaran klinis kanker mammae yang khas pada usia 35 tahun/lebih (Lab. UPF Bedah RSDS, 1984) : 1. Tumbuh progresif 2. invasi atau nekrose Batas tak jelas Bentuk tidak teratur Mobilitas terbatas Retraksi kulit/papil Eritem kulit Peaue dorange g. Nodul satelit Ulkus Tumor melekat dengan - kulit- m. pektoralis- dinding thoraks 3. Mengadakan metastase 4. Regional Pembesaran kel;enjar linfe aksila

D. PATOFISIOLOGI Proses terjadinya kanker mamae dan masing- masing etiologi antra lain obesitas, radiasi, hyperplasia, optik, riwayat keluarga dengan konsumsi zat-zat karsinogen sehingga merangsang pertumbuhan epitel mamae dan dapat menyebabkan kabnker mamae. Kanker mamae berasal dari jaringan epitelial, dan paling sering terjadi pada sistem duktal. Mula - mula terjadi hiperplasia sel-sel dengan perkembangan sel-sel atipik. Sel-sel ini akan berlanjut menjadi carsinoma insitu dan menginvasi stroma. Kanker membutuhkan waktu 7 tahun untuk bertumbuh dari sebuah sel tunggal sampai menjadi massa yang cukup besar untuk dapat diraba (kira - kira berdiameter 1 cm). Pada ukuran itu, kira - kira seperempat dari kanker mamae telah bermetastasis. Kebanyakan dari kanker ditemukan jika sudah teraba, biasanya oleh wanita itu sendiri. Gejala kedua yang tersering adalah cairan yang keluar dari muara duktus satu mamae, dan mungkin berdarah. Jika penyakit telah berkembang lanjut, dapat terjadi pecahnya benjolan benjolan pada kulit ulserasi. Penyakit paget adalah keganasan sepanjang duktus pada puting, yang berasal dari kanker intraduktal bagian dalam yang bergerak menuju ke atas. Sel-sel ganas (sel paget) menginvasi epidermis puting, menimbulkan krusta, dan tampak seperti eksim. Karsinoma Inflamasi, adalah tumor yang tumbuh dengan cepat terjadi pada kira - kira 1 - 2 % wanita dengan kanker mamae. Gejala gejalanya mirip dengan infeksi payudara akut yaitu Kulit menjadi merah, panas, edematoda, dan nyeri. Karsinoma ini menginvasi kulit danjaringan limfe. Karsinoma mamae bermetastase dengan penyebaran langsung ke jaringan sekitarnya, dan juga melalui saluran limfe dan aliran darah. Tempat yang paling sering untuk metastasejauh adalah paru, pleura dan tulang (Price, 1997) Salah satu tindakan untuk mengobati kanker mamae adalah dengan mastektomi. Mastektomi adalah tindakan pembedahan untuk mengangkat payudara. Bedah merupakan salah satu bentuk -terapi medis. Bedah dapat mendatangkan stress karena terdapat ancaman terhadap tubuh, integritas dan terhadap jiwa seseorang. Rasa nyeri sering menyertai upaya tersebut. Pengalaman operatif dibagi dalam tiga tahap yaitu preoperatif, intra operatif dan post operatif. Operasi merupakan stressor kepada tubuh dan memicu respon neuron docrine. Respon terdiri dari sistem saraf simpati dan respon honfional yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cidera. Bila stress terhadap system cukup gawat atau kehilangan banyak darah, maka

mekanisme kompensasi dari tubuh terlalu banyak beban dan syock akan terjadi. Anestesi tertentu yang dipakai dapat menimbulkan terjadinya shock. Respon metabolisme juga

terjadi. Karbohidrat dan lemak dimetabolisme untuk memproduksi energi. Protein tubuh dipecah untuk menyajikan suplai asam amino yang dipakai untuk membangunjaringan baru. Intake protein yang diperlukan guna mengisi kebutuhan protein untuk keperluan penyembuhan dan mengisi kebutuhan untuk fungsi yang optimal. Dari kanker payudara tersebut menimbulkan metastase berbagai organ, metastase dapat ke organ yang dekat maupun yang jauh antara lain limfogen yang menjalar ke kelenjar limfe aksilasis dan terjadi benjolan, dari sel epidermis penting menjadi invasi timbul krusta pada organ pulmo mengakibatkan ekspansi paru tidak optimal (Brunner and Suddart, 2002).

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Dasar diagnosis karsinoma mammae : 1. Dasar diagnosis klinis, tumor pada mamae yang tumbuh progtresif dengan tanda-tanda infiltrasi dan atau metastase 2. Dasar diagnostic patologi, tumor dengan tanda-tanda keganasan Pemeriksaan : a) Pemeriksaan klinis b) Pemeriksaan penunjang klinis c) Pemeriksaan sitologis/patologis d) Penatalaksanaan

1) Terapi kuratif : a. Untuk kanker mamma stadium 0,I,II dan III - Terapi utama adalah mastektomi radikal modifikasi, alternative tomoorektomi + diseksi aksila - Terapi ajuvan, :

Radioterapi paska bedah 4000-6000 rads Kemoterapi untuk pra menopause dengan CMF (Cyclophosphamide 100 mg/m2 dd po hari ke 114, methotrexate 40 mg/m2 IV hari ke -1 siklus diulangi tiap 4 minggu dan flouroracil 600 mg/m2 IV hari ke-1 atau CAP (Cyclophosphamide 500 mg/m2 hari ke 1, adriamycin 50 mg/m2 hari ke-1 dan flouroracil 500 mg/m2 IV hari ke-1 dan 8 untuk 6 siklus. Hormon terapi untuk pasca menopause dengan tamoksifen untuk 1-2 tahun - Terapi bantuan, roboransia, - Terapi sekunder bila perlu - Terapi komplikasi pasca bedah misalnya gangguan gerak lengan (fisioterapi) 2. Terapi paliatif Untuk kanker mamma stadium III B dan Iv : a. Terapi utama - pramenopause, bilateral ovariedektomi - pasca menopause ; 1) hormone resptor positif (takmosifen) dan 2) hormone resptor negative (kemoterapu dengan CMF atau CAF) b. Terapi ajuvan - operable (mastektomi simple) - inoperable (radioterapi) kanker mamae inoperative : tumor melekat pada dinding thoraks odema lengan nodul satelit yang luas

mastitis karsionamtosa c. Terapi bantuan ; roboransia d. Terapi komplikasi , bila ada : - patah, reposisi-fiksasi-imobilisasi dan radioterapi pada tempat patah - odema lengan : 1) deuretik, 2) pneumatic sleeve, 3) operasi tranposisi omentum atau kondoleon, - Efusion pleura, 1) aspirasi cairan atau drainase bullae, 2) bleomisin 30 mg dan teramisin 1000 mg, intra pleura - Hiperkalsemia : 1) deuretika dan rehidrasi, 2) kortikosteroid, 3) mitramisin -1/2 mg/kg BB IV - NYeri, terapi nyeri sesuai WHO - Borok,perawatan borok e. Terapi sekunder, bila ada

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN 1. Identitas, (lihat factor-faktor predisposisi) 2. Keluhan utama ada benjolan pada payu dara dan lain-lain keluahan serta sejak kapan , riwayat penyakit ( perjalanan penyakit, pengobatan yang telah diberikan), faktro etiologi/resiko. 3. Konsep diri mengalmi perubahan pada sebagian besar klien dengan kanker mamma. 4. Pemeriksaan klinis ; Mencari benjolan Karena organ payudara dipengaruhi oelh faktoe hormone antara lain estrogen dan progesterone, makas ebaiknya pemeriksaan ini dilakukan saat pengaruh hormonal ini seminimal mungkin/setelah menstruasi + 1 minggi dari hari akhir menstruasi. Klien duduk dengan tangan jatuh ke samping dan pemeriksa berdiri didepan dalam posisi yag lebih kurang sama tinggi. a. Inspeksi Simetri mamma kiriputting susu, kelainan kulit, tanda radang, peaue d orange, dimpling, ulserasi dan lain-lain. Inspeksi ini juga dilakukan dalam keadaan kedua lengan diangkat ke atas untuk melihat apakah ada bayangan tumor doio bawah kulit yang ikut bergerak atau adakah bagian yang tertinggal, dimpling dan lain-lain. b. Palpasi Kien berbaring dan diusahakan agar payudara tersebar rata atas lapangan dada, jika perlu punggung diganjal bantal kecil. Konsistensi, banyak, lokasi, infiltasi, besar, batas dan operabilitas. Pemebesaran kelenjar gerah bening (kelenjar aksila)

Dakah metastase Nudus (regional) atau organ jauh) Stadium kanker (system TNM UICC, 1987) 5. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan penunjang klinis Pemeriksaan radiologist - Mammografi/USG Mamma - X-foto thoraks - Kalau perlu Galktografi Tulang-tulang USG abdomen Bone scan CT scan Pemeriksaan laboratorium - rutin, darah lengkap, urine - duyla darah puasa dan 2 jpp - enxym alkali sposphate, LDH - CEA, MCA, AFP - HOrmon reseptor ER, PR - Aktivitas estrogen/vaginal smear Pemeriksaan sitologis

- FNA dari tumor - Cairan kista dan pleura effusion - Secret putting susu b. Pemeriksaan sitologis/patologis Durante oprasi Vries coupe Pasca operasi dari specimen operasi

B. DIGNOSA KEPERAWATAN 1) Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik. 2) Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan. 3) Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan sekunder terhadap pemberian sitostatika. 4) Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan, konstipasi, abdominal cramping. 5) Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi.

6) Resiko tinggi kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek samping kemotherapi dan radiasi/radiotherapi. 7) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasive 8) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.

C. PERENCANAAN 1) Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik. Tujuan : - Klien dapat mengurangi rasa cemasnya - Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif. - Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan. INTERVENSI : a. Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya. b. Berikan informasi tentang prognosis secara akurat. c. Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai. d. Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam pengobatan. e. Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan dll. f. Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system. g. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.

h. Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar. RASIONAL : a. Data-data mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar untuk penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi. b. Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses penyakitnya. c. Dapat menurunkan kecemasan klien. d. Membantu klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan dan efek sampingnya. e. Mengetahui dan menggali pola koping klien serta mengatasinya/memberikan solusi dalam upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi kecemasan. f. Agar klien memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga. g. Memberikan kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat. h. Klien mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia benar-benar ditolong.

2) Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan. Tujuan : - Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas - Melaporkan nyeri yang dialaminya - Mengikuti program pengobatan - Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin

INTERVENSI : a. Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas b. Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien dan keluarga tentang cara menghadapinya c. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau nonton TV d. Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan therapeutik. e. Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu. f. Diskusikan penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan klien g. Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narkotik dll RASIONAL : a. Memberikan informasi yang diperlukan untuk merencanakan asuhan. b. Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau malah menyebabkan komplikasi. c. Untuk meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien dari rasa nyeri. d. Meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan stress dan ansietas. e. Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, tingkat nyeri dan sampai sejauhmana klien mampu menahannya serta untuk mengetahui kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri. f. Agar terapi yang diberikan tepat sasaran. g. Untuk mengatasi nyeri.

3) Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau

lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan, konstipasi, abdominal cramping. Tujuan : - Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi - Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat - Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya INTERVENSI : a. Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya. b. Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat badan. c. Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis. d. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien. e. Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas. f. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga. g. Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan. h. Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien. Kolaboratif i. Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin dan albumin j. Berikan pengobatan sesuai indikasi k. Phenotiazine, antidopaminergic, corticosteroids, vitamins khususnya A,D,E dan B6, antacida l. Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan infus.

RASIONAL a. Memberikan informasi tentang status gizi klien. b. Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien. c. Menunjukkan keadaan gizi klien sangat buruk. d. Kalori merupakan sumber energi. e. Mencegah mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang menyebabkan penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas. f. Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri. g. Untuk menimbulkan perasaan ingin makan/membangkitkan selera makan. h. Agar dapat diatasi secara bersama-sama (dengan ahli gizi, perawat dan klien). i. Untuk mengetahui/menegakkan terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan terhadap klien. j. Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping dan meningkatkan status kesehatan klien. k. Mempermudah intake makanan dan minuman dengan hasil yang maksimal dan tepat sesuai kebutuhan.

4) Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi. Tujuan : - Klien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan pada ting-katan siap. - Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur tersebut. - Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam pengo- batan.

- Bekerjasama dengan pemberi informasi. INTERVENS : a. Review pengertian klien dan keluarga tentang diagnosa, pengobatan dan akibatnya. b. Tentukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatannya, ceritakan pada klien tentang pengalaman klien lain yang menderita kanker. c. Beri informasi yang akurat dan faktual. Jawab pertanyaan secara spesifik, hindarkan informasi yang tidak diperlukan. d. Berikan bimbingan kepada klien/keluarga sebelum mengikuti prosedur pengobatan, therapy yang lama, komplikasi. Jujurlah pada klien. e. Anjurkan klien untuk memberikan umpan balik verbal dan mengkoreksi miskonsepsi tentang penyakitnya. f. Review klien /keluarga tentang pentingnya status nutrisi yang optimal. g. Anjurkan klien untuk mengkaji membran mukosa mulutnya secara rutin, perhatikan adanya eritema, ulcerasi. h. Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit dan rambut. RASIONAL a. Menghindari adanya duplikasi dan pengulangan terhadap pengetahuan klien. b. Memungkinkan dilakukan pembenaran terhadap kesalahan persepsi dan konsepsi serta kesalahan pengertian. c. Membantu klien dalam memahami proses penyakit. d. Membantu klien dan keluarga dalam membuat keputusan pengobatan. e. Mengetahui sampai sejauhmana pemahaman klien dan keluarga mengenai penyakit klien. f. Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga mengenai nutrisi yang adekuat. g. Mengkaji perkembangan proses-proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi serta masalah dengan kesehatan mulut yang dapat mempengaruhi intake makanan dan minuman. h. Meningkatkan integritas kulit dan kepala.

5) Resiko tinggi kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek samping kemotherapi dan radiasi/radiotherapi. Tujuan : - Membrana mukosa tidak menunjukkan kerusakan, terbebas dari inflamasi dan ulcerasi - Klien mengungkapkan faktor penyebab secara verbal. - Klien mampu mendemontrasikan tehnik mempertahankan/menjaga kebersihan rongga mulut. INTERVENSI : a. Kaji kesehatan gigi dan mulut pada saat pertemuan dengan klien dan secara periodik. b. Kaji rongga mulut setiap hari, amati perubahan mukosa membran. Amati tanda terbakar di mulut, perubahan suara, rasa kecap, kekentalan ludah. c. Diskusikan dengan klien tentang metode pemeliharan oral hygine. d. Intruksikan perubahan pola diet misalnya hindari makanan panas, pedas, asam, hindarkan makanan yang keras. e. Amati dan jelaskan pada klien tentang tanda superinfeksi oral. Kolaboratif f. Konsultasi dengan dokter gigi sebelum kemotherapi g. Berikan obat sesuai indikasi, analgetik, topikal lidocaine, antimikrobial mouthwash h. preparation. i. Kultur lesi oral. RASIONAL: a. Mengkaji perkembangan proses penyembuhan dan tanda-tanda infeksi memberikan informasi penting untuk mengembangkan rencana keperawatan. b. Masalah dengan kesehatan mulut dapat mempengaruhi pemasukan makanan dan minuman. c. Mencari alternatif lain mengenai pemeliharaan mulut dan gigi.

d. Mencegah rasa tidak nyaman dan iritasi lanjut pada membran mukosa. e. Agar klien mengetahui dan segera memberitahu bila ada tanda-tanda tersebut. f. Meningkatkan kebersihan dan kesehatan gigi dan gusi. g. Tindakan/terapi yang dapat menghilangkan nyeri, menangani infeksi dalam rongga mulut/infeksi sistemik. h. Untuk mengetahui jenis kuman sehingga dapat diberikan terapi antibiotik yang tepat.

BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN 1) 1. Kanker payudara adalah gangguan dalam pertumbuhan sel normal dimana sel abnormal timbul dari sel-sel normal, berkembang cepat dan menginfiltrasikan jaringan limfe dan pembuluh darah di dalam payudara. (Carpenito,1999) 2) Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang terbanyak ditemukan di Indonesia biasanya kanker ini ditemukan pada umur 40-49 tahun dan letak terbanyak di kuadran lateral atas (Mansjoer, 2000). 3) Etiologi / faktor predisposisi dari ca mammae yaitu : Geografi, Usia, Kelamin, Genetik, Diet, Endokrin / Hormonal, Trauma dan Bahan Karsinogen dan Radiasi Penggunaan silikon untuk memperbesar ukuran payudara. 4) Tanda / gejala Ca mammae : Terdapat massa utuh (kenyal), Nyeri pada daerah massa, Adanya lekukan ke dalam/dimping, tarikan dan retraksi pada area mammae. B. SARAN Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam memberikan pelayanan Keperawatan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan untuk para tim medis agar dapat meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang keperawatan sehingga dapat memaksimalkan kita untuk memberikan health education dalam perawatan pasien Ca Mammae.

DAFTAR PUSTAKA

Black, Joyce M & Esther Matassarin-Jacobs. 1997. Medical Surgical Nursing : Clinical Management for Continuity of Care, Edisi 5, W.B. Saunders Company, Philadelphia Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC. Jakarta. Doenges, Marilyn E, et all. 1993. Nursing Care Plans : Guidelines for Planning and Documenting Patient Care, Edition 3, F.A. Davis Company, Philadelphia. Gale, Danielle & Charette, Jane. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. EGC. Jakarta. Lab. UPF Bedah, 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi , RSDS-FKUA, Surabaya Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Alih Bahasa: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung, Edisi 1, Yayasan IAPK Pajajaran, Bandung. Muchlis Ramli dkk, 2000. Deteksi Dini Kanker, FKUI, Jakarta.