Anda di halaman 1dari 11

PRINSIP, KARAKTERISTIK DAN ASUMSI PTK

A. Pendahuluan Sistem pendidikan dan kurikulum yang digunakan dalam pendidikan kejuruan semenjak berdirinya model pendidikan kejuruan sampai sekarang ini, meskipun terdapat perbedaan mendasar, namun terdapat benang merah yang secara konsisten dipelihara yakni peningkatan mutu SMK, dengan menjadikan SMK sebagai satuan pendidikan yang diandalkan menghasilkan tenaga terampil sesuai dengan keperluan pembangunan. Pada kurikulum 1964, dimana program memperlihatkan tujuan pendidikan kejuruan tidak jelas dan ambivalen, sarat teori, dan metode pengajaran lebih bersifat satu arah, tidak didukung oleh kualitas dan kuantitas guru serta fasilitas praktek yang tidak memadai. Penekanan sistem pembelajaran dengan sistem modul atau paket kompetensi dan penilaian dengan sistem uji kompetensi, serta prinsip kurikulum dengan pendekatan berbasis produksi (production based training) merupakan suatu hal yang harus dipahami. Untuk itu sejalan dengan KBK, yang membawa SMK pada upaya pencapaian standar-standar kompetensi yang perlu dikuasai oleh para peserta didiknya atau lulusannya sehingga mampu menghasilkan suatu kinerja yang sangat diperlukan oleh dunia usaha dan dunia industri. Dilihat pada tataran konseptual maupun praktik pendidikan yang dikembangkan dalam sistem pendidikan kejuruan di Indonesia, seharusnya sistem ini mampu untuk menjawab dan mengantisipasi tuntutan yang berkembang dalam dunia usaha dan dunia industri. Fenomena yang berkembang adalah kenyataan bahwa terjadi lonjakan yang tajam dari tamatan pendidikan kejuruan yang tidak terserap dalam lapangan pekerjaan. Hal ini sejalan dengan beberapa isu-isu yang dikemukakan oleh Abdulhak (2001), yakni berkenaan dengan kualitas lulusan, rendahnya unjuk kerja dalam pekerjaan, besarnya angka pengangguran termasuk pengangguran terdidik (educated employment). Penyusunan kegiatan instruksional yang pada hakikatnya adalah bagian dari proses perencanaan kurikulum di tingkat lembaga atau sekolah sudah lama mendapat perhatian dan penggarapan dari para ahli, sehingga muncul teori-teori dan metode desain instruksional yang banyak bervariasi. Untuk dapat mengembangkan suatu model pengembangan sistem instruksional yang sesuai dengan karakteristik pendidikan teknologi dan kejuruan, maka harus diingat karakteristik pokok yaitu bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah kejuruan mempunyai orientasi yang tinggi terhadap dunia kerja, mengutamakan relevansi antara pengalaman belajar dengan prospek dunia kerja, menekankan pada pengalaman belajar yang riil, serta mempunyai ciri dinamis dalam memadukan gaya belajar anak didik, gaya mengajar guru, dan subjek yang dipelajari.

B. Prinsip, Karakteristik dan Asumsi PTK

1. Prinsip PTK Kepmen 232 Tahun 2002 dan kepmen 045 Tahun 2003 jelas menegaskan bahwa kurikulum perguruan tinggi dikembangkan dengan basis kompetensi. Dimana kompetensi diartikan adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Dengan pendekatan KBK ini diharapkan perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan kerja sesuai dengan tuntutan dan harapan dunia industri (dunia kerja), sehingga para lulusan dapat mudah diserap di lapangan kerja. Namun demikian kurikulum yang telah disusun dengan baik dan sempurna berdasarkan kompetensi itu masih menuntut implementasi yang tepat dan sesuai dengan konsep dasarnya sehingga harapan dari kurikulum itu dapat sepenuhnya tercapai. Dengan kata lain bahwa implementasi kurikulum atau proses pembelajaran sangat menentukan hasil akhir dari satu program pendidikan. Pengembangan kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan pertama kali dirintis oleh Victor Della Vos (1876), dengan mengemukakan beberapa prinsip pendidikan teknologi dan kejuruan diantaranya : (a) pendidikan ditempuh dalam waktu yang sesingkat mungkin (in short education); (b) selalu diupayakan suatu cara untuk memberikan pengajaran yang cukup untuk jumlah siswa yang banyak dalam satu waktu; (c) metode yang digunakan diharapkan memberikan pelajaran praktek di bengkel dengan tidak mengabaikan pemenuhan pengetahuan yang mencukupi, dan (d) guru diharapkan selalu mengevaluasi perkembangan siswa setiap waktu. Konsep-konsep dalam pendekatan competency-based didasarkan dua filosofi dasar. Pertama adalah gagasan bahwa human competence merupakan kemampuan yang benar-benar terlihat. Pengetahuan, sikap, dan keterampilan merupakan hal yang tidak berharga jika ditunjukan dengan adanya hasil. Filosofi kedua mastery learning menyebutkan bahwa hampir semua orang dapat mempelajari semua hal dengan baik, apabila mendapatkan pengajaran yang berkualitas serta waktu yang mencukupi. Di bawah ini dikemukakan beberapa prinsip dasar yang menjadi pendekatan pembelajaran pendidikan teknologi kejuruan. a) Setiap peserta didik dalam program pendidikan dapat menguasai sebagian besar pelajaran pada tingkat penguasaan yang tinggi kemampuannya 95 % sampai dengan 100 % apabila disediakan pengajaran yang berkualitas tinggi dan waktu yang mencukupi. Prinsip ini tidak hanya berlaku untuk program pelatihan saja, akan tetapi untuk semua spektrum pendidikan, juga untuk semua mata kuliah tidak terkecuali seberapa rumitnya. Prinsip bagi semua mahasiswa untuk menguasai materi pelajaran dengan baik dan pada tingkat tinggi, bahkan untuk pelajaran yang paling sulit sekalipun. Untuk itu harus diupayakan agar kita dapat menyediakan untuk mereka materi pengajaran

yang berkualitas tinggi dan waktu yang cukup untuk mempelajari suatu pelajaran sesuai dengan kebutuhan mereka. b) Kemampuan seorang peserta didik dalam mempelajari suatu pelajaran, bukan merupakan perkiraan seberapa baik dia dalam mempelajari pelajaran itu. Mahasiswa dengan kemampuan tinggi, dapat mengerjakan dengan lebih baik di sekolah, mahasiswa dengan kemampuan yang lebih rendah melakukannya dengan lebih buruk.Kemampuan mahasiswa hanya untuk memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk belajar, bukan seberapa banyak yang dapat dipelajari. Perbedaan setiap peserta didik dalam tingkat penguasaan suatu pelajaran, terutama disebabkan oleh kesalahan dalam lingkungan pelatihan, bukan oleh karakteristik peserta didik. Banyaknya perbedaan dalam beberapa hal yang dipelajari peserta didik adalah tidak disebabkan oleh kualitas bawaan yang dimilikinya, akan tetapi disebabkan oleh kesalahan dalam sistem pendidikan. Semakin ideal suatu sistem pendidikan, semakin sedikit perbedaan yang timbul dalam pengajaran. Semakin jauh dari ideal suatu sistem pendidikan, semakin besar perbedaan dalam belajar diantara peserta didik. Daripada menjadi peserta didik yang cepat atau lambat, atau yang baik atau buruk, sebagian besar peserta didik menjadi hampir sama satu sama lain dalam kemampuan belajar, kecepatan belajar dan motivasi untuk pelajaran berikutnya pada saat disediakan kondisi belajar yang mendukung. Di dalam pendekatan competency-based pendidikan kejuruan, memperkirakan dan mengharapkan agar setiap peserta didik tidak hanya dapat melakukannya tetapi juga dapat menjadi unggul. Lebih memusatkan pada perbedaan dalam belajar dan mengurangi dalam membedakan peserta didik. Pada saat seorang peserta didik berhasil dan yang lainnya gagal, maka perbedaan itu dilihat dari perbedaan umurnya, perbedaan motivasinya, perbedaan kelompoknya. Sangatlah jarang kita mengamati secara kritis bahwa proses instruksional sebagai sebab dari perbedaan hasil belajar itu dan mencoba untuk mengoreksinya secara sistematis. Pendekatan dengan competency-based tidak terlalu memusatkan pada karakteristik peserta didik dan lebih pada menyesuaikan proses belajar untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari setiap peserta didik. Apa yang berharga untuk diajarkan adalah berharga untuk dipelajari. Pendekatan pendidikan ini didasarkan atas idea bahwa apabila suatu hal dianggap penting untuk dimasukkan ke dalam program pendidikan, berarti hal itu penting bagi setiap peserta didik untuk mempelajarinya dengan baik. Pada saat seorang peserta didik gagal dalam belajar, semua yang terlibat dalam proses pembelajaran merasa prihatin, dan segera melakukan upaya sekuat tenaga untuk memperbaiki keadaan itu. Dosen/guru bersikap bahwa kegagalan peserta didik bukan masalah guru, tetapi masalah peserta didik

c)

d)

e)

f)

sendiri dan anggapannya bahwa mereka (dosen/guru) hanya bertugas melakukan pekerjaan mengajar saja.. g) Elemen yang paling penting dalam proses belajar mengajar adalah jenis dan kualitas pengajaran yang diperoleh oleh peserta didik. Pada bagian masalah ini, dimana pendekatan cara competency-based jauh berbeda dengan cara konvensional. Di dalam program tradisional, pengajaran dipandang sebagai salah satu elemen yang mempengaruhi apa yang peserta didik pelajari, seperti halnya fasilitas, perlengkapan, dan materi.. Sebaliknya dalam pendekatan competency-based dipandang sebagai sesuatu yang luar biasa penting dalam pengajaran. Pengajaran dilakukan dengan sangat hati-hati dirancang, dikembangkan, dicoba dan secara berkala direvisi berdasarkan atas hasilnya. Pengajaran tersebut dirancang secara sistematis dengan memperhatikan elemen-elemen yang sangat penting.

Dalam kaitannya dengan prinsip pengajaran pendidikan kejuruan, Miller (1986) juga mengemukakan 8 prinsip kejuruan sebagai berikut: a) Kesadaran akan karir adalah bagian penting dalam pendidikan kejuruan khususnya pada proses awal pendidikan itu sendiri. b) Pendidikan kejuruan merupakan pendikan yang menyeluruh dan merupakan bagian dari masyarakat (public system). c) Kurikulum dalam pendidikan kejuruan berdasarkan atas kebutuhan dunia kerja/ dunia industri. d) Jabatan atu pekerjaaan dalam kelompok/ keluarga sebagai salah satu pengembangan kurikulum pendidikan kejuruan khususnya pada tingkat menengah. e) Inovasi merupakan bagian yang sangat ditekankan dalam pendidikan kejuruan. f) Seseorang dipersiapkan untuk dapat memasuki dunia kerja melalui pendidikan kejuruan. g) Keselamatan kerja merupakan unsur penting dalam pendidikan kejuruan. h) Pengawasan dalam peningkatan pengalaman okupasi/ pekerjaan dapat dilakukan melalui pendidikan kejuruan. Selanjutnya dalam kaitannya dengan proses program pendidikan kejuruan, Miller (1986) juga mengemukakan 7 prinsip sebagai berikut: a) Pendidikan kejuruan selalu terbuka untuk diberikan saran, nasehat, kritik dan sebagainya mengenai program-programnya. b) Artikulasi dan koordinasi adalah salah satu titik sentral dlam pendidikan kejuruan. c) Evaluasi merupakan proses terus menerus yang harus ada dalam pendidikan kejuruan. d) Prinsip follow-up (tindak lanjut) merupakan pengembangan dalam pendidikan kejuruan.

e) f) g)

Adanya lembaga legislatif dalam pendidikan kejuruan yang sangat dibutuhkan. Perencanaan menyeluruh sangat ditekankan dalam pendidikan kejuruan. Pendidikan yang dilakukan secara kontinyu (terus-menerus) memberikan pondasi yang kuat dalam pendidikan kejuruan. Karakteristik PTK

2.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 1990, pendidikan menengah kejuruan mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional. Sedangkan Djojonegoro (1998) merumuskan bahwa pendidikan kejuruan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan tenaga kerja, meningkatkan pilihan pendidikan bagi setiap individu, dan mendorong motivasi untuk belajar terus. Kedua rumusan di atas mengandung kesamaan yakni mempersiapkan peserta didik sebagai calon tenaga kerja dan mengembangkan eksistensi peserta didik, untuk kepentingan peserta didik, masyarakat bangsa dan negara. Selain itu beberapa karakteristik khusus yang membedakan antara pendidikan umum dengan pendidikan kejuruan, adalah sebagai berikut: Pendidikan kejuruan diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki lapangan kerja Pendidikan kejuruan didasarkan atas kebutuhan dunia kerja (demand driven) Fokus isi pendidikan kejuruan ditekankan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang dibutuhkan dunia kerja Penilaian sesungguhnya terhadap keberhasilan peserta didik adalah pada performa dalam dunia kerja Hubungan yang erat dengan dunia kerja merupakan kunci sukses pendidikan kejuruan Pendidikan kejuruan yang baik adalah responsif dan antisipatif terhadap kemajuan teknologi Pendidikan kejuruan memerlukan fasilitas yang mutakhir untuk praktik pendidikannya Pendidikan kejuruan memerlukan biaya investasi daan operasional yang lebih besar daripada pendidikan umum. Pendidikan Teknologi dan Kejuruan merupakan sistem yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan secara menyeluruh. Meskipun demikian, kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan memiliki karakteristik dan kekhususan tersendiri yang membedakannya dengan sub sistem pendidikan yang lain. Perbedaan ini tidak hanya dalam definisi, struktur organisasi, dan tujuan pendidikannya saja, tetapi terlihat dari aspek lainnya yang berkaitan dengan aspek perencanaan kurikulum . Karakteristik-karakteristik dasar dari kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan yaitu:

a)

b)

c)

d)

e)

f)

Orientasi Keberhasilan utama dari kurikulum pendidikan teknologi kejuruan, bukan saja diukur dari pencapaian hasil belajar berupa kelulusan, tetapi pada kemampuan para lulusan kelak di dunia kerja. Asumsi tersebut dilandasi oleh pemikiran bahwa sifat pendidikan kejuruan yang merupakan pendidikan untuk penyiapan tenaga kerja, maka dengan sendirinya orientasi pendidikan kejuruan tertuju pada output atau lulusan. Justifikasi Kurikulum pendidikan teknologi kejuruan didasarkan pada identifikasi kebutuhan berbagai jenis pekerjaan yang ada di lapangan. Inilah yang menjadi alasan mengapa pendidikan teknologi dan kejuruan perlu diselenggarakan. Justifikasi/alasan keberadaan pendidikan teknologi dan kejuruan didasari oleh asumsi adanya kebutuhan tenaga kerja di lapangan. Oleh karena itu, yang dimaksud justifikasi di sini adalah justifikasi untuk eksistensi. Pendidikan teknologi kejuruan tidak layak ada jika di lapangan tidak dibutuhkan tenaga kerja yang akan dididik di sekolah tersebut. Fokus Fokus kurikulum pendidikan teknologi kejuruan tidak hanya pada aspek skill/psikomotorik seperti yang dipahami sebagian masyarakat, akan tetapi kurikulum membantu siswa untuk mengembangkan diri dalam seluruh aspek yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang tujuan akhirnya untuk memberikan kontribusi untuk keberhasilan sebagai pekerja atau dengan kata lain siswa dididik untuk memiliki kemampuan yang komprehensif dan simultan sehingga mampu menjadi pekerja yang produktif. Kriteria Keberhasilan di Sekolah dan Luar Sekolah Kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan kejuruan pada dasarnya menerapkan ukuran ganda, yaitu keberhasilan siswa di sekolah (in-school success) dan keberhasilan di luar sekolah (out-of-school success). Kriteria yang pertama meliputi aspek keberhasilan siswa dalam menempuh proses pembelajaran di kelas, sedang kriteria keberhasilan yang kedua diindikasikan oleh keberhasilan performance lulusan setelah berada di dunia kerja. Hubungan antara Sekolah-Masyarakat dan Keterlibatan Pemerintah Hubungan antara sekolah dan masyarakat lebih khususnya dengan dunia industri merupakan karakteristik yang sangat penting dalam konteks pendidikan teknologi dan kejuruan. Peran masyarakat dan pemerintah dalam hal ini sama pentingnya. Masyarakat dan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan pendidikan teknologi dan kejuruan. Perwujudan hubungan timbal balik yang menunjang ini mencakup adanya dewan penasehat kurikulum kejuruan (curriculum advisory committee). Kesediaan dunia usaha menampung siswa pendidikan teknologi dan kejuruan dalam program kerjasama yang memungkinkan kesempatan pengalaman lapangan, informasi kecenderungan ketenagakerjaan yang selalu dijabarkan ke dalam perencanaan dan implementasi program pendidikan. Kepekaan Kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan memiliki karakteristik lain yaitu kepekaan yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat pada umumnya

g)

dan dunia kerja pada khususnya, hal ini dimungkinkan karena komitmen pendidikan teknologi dan kejuruan yang tinggi untuk selalu berorientasi kepada dunia kerja. Perkembangan ilmu dan teknologi, pasang surutnya suatu bidang pekerjaan, inovasi dan penemuan-penemuan terbaru dalam bidang produksi dan jasa, semuanya itu sangat besar pengaruhnya terhadap kecenderungan pendidikan teknologi dan kejuruan. Tidak terkecuali adalah mobilitas kerja baik vertikal maupun horisontal sebagai akibat perkembangan sosial kemasyarakatan yang semuanya harus diantisipasi secara cermat guna menjamin relevansi yang tinggi antara isi pendidikan teknologi dan kejuruan serta kebutuhan dunia kerja. Logistik/ Sarana Prasarana dan Pembiayaan Dalam implementasi kurikulum pendidikan teknologi kejuruan, ketersediaan sarana prasarana merupakan sesuatu yang sangat penting. Kelengkapan sarana prasarana akan dapat membantu mewujudkan situasi atau pengalaman belajar yang dapat mencerminkan situasi dunia kerja secara lebih realistis dan edukatif. Bengkel dan laboratorium adalah kelengkapan yang umum menyertai keberadaan/eksistensi pendidikan teknologi dan kejuruan, selain pengalaman lapangan yang biasanya tercantum dalam kerangka kurikulumnya. Dalam konteks ini, sering dipertanyakan apakah investasi yang besar di pendidikan teknologi dan kejuruan cukup efisien dibandingkan dengan hasilnya.

3. Asumsi PTK Asumsi adalah anggapan yang diterima sebagai kebenaran. Asumsi diuji dari keseringannya terjadi dimasyarakat (reliablility) dan keajegannya terjadi di masyarakat (konsistensi), dan kebenarannya diterima oleh umum (valid). Asumsi-asumsi pendidikan teknologi kejuruan menurut Thompson (1973) adalah sebagai berikut: Pendidikan kejuruan digerakkan oleh kebutuhan pasar kerja dan berkontribusi pada penguatan ekonomi nasional. Pendidikan kejuruan dapat membantu pengentasan pengangguran melalui training anak-anak muda dan orang dewasa dan mentraining kembali untuk layanan ketrampilan dan kompetensi teknis. Pendidikan kejuruan dapat mengembangkan kemampuannya untuk membentuk keterampilan yang dapat melebihi sebagai alat produksi. Asumsi ini merupakan dasar dari justifikasi dari pendidikan kejuruan, yang dihubungkan dengan teori ekonomi. (Prosser and Allen). Pendidikan kejuruan adalah pendidikan untuk produksi, melayani akhir dari sistem ekonomi dan dikatakan memiliki kelengkapan sosial. Pendidikan kejuruan pada tingkat menengah difokuskan pada penyiapan individu awal memasuki dunia kerja.

Pendidikan kejuruan harus berorientasi pada kebutuhan komunitas (lokal, regional, nasional, internasional). Pendidikan kejuruan mensyaratkan setiap orang harus belajar bekerja sebab setiap orang harus bekerja. Pendidikan kejuruan harus dievaluasi berdasarkan efisiensi ekonomis. Pendidikan kejuruan secara ekonomis efisien jika menyiapkan siswa untuk pekerjaan spesifik dalam masyarakat berdasarkan kebutuhan tenaga kerja. Pekerjaan yang nyata adalah apa yang kita cari. Pendidikan kejuruan adalah baik jika menyiapkan siswa untuk pekerjaan nyata yang eksis dimasyarakat dan mereka inginkan. Pendidikan kejuruan efisien jika menjamin penyediaan tenaga kerja untuk satu bidang pekerjaan.Pendidikan kejuruan efektif harus terkait dengan pasar kerja. Harus direncanakan berdasarkan prediksi pasar kerja. Pendidikan kejuruan efisien jika siswa mendapatkan pekerjaan pada bidang yang mereka ikuti. C. Model Penyelenggaraan PTK Berbasis Kebutuhan Penyelenggaraan pendidikan kejuruan harus berorientasi pada dunia kerja, yakni dapat mengembangkan tenaga kerja yang marketable (orientasi pada pasar kerja) dengan mengembangkan kemampuan untuk melakukan keterampilan-keterampilan yang memberikan kemanfaatannya sebagai alat produksi. Pendidikan kejuruan menekankan penyiapan siswa memasuki dunia kerja. Pendidikan kejuruan harus menyiapkan pembentukan ketrampilan/ skil, perilaku, sikap, kebiasaan kerja, dan apresiasi terhadap pekerjaan yang dibutuhkan di masyarakat. Dalam perspektif sosial ekonomi pendidikan kejuruan adalah pendidikan ekonomi sebab diturunkan dari kebutuhan pasar kerja, memberi turunan terhadap kekuatan ekonomi. Apapun bedanya berbagai definisi pendidikan kejuruan, semuanya ada kesamaan bahwa pendidikan kejuruan adalah pendidikan untuk mempersiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja. Pendidikan vokasi harus selalu dekat dengan dunia kerja (Wardiman, 1998). Menurut Wardiman (1998) pendidikan kejuruan dikembangkan melihat adanya kebutuhan masyarakat akan pekerjaan. Pendidikan kejuruan melayani tujuan sistem ekonomi, peka terhadap dinamika kontemporer masyarakat. Pendidikan kejuruan juga harus adaptif terhadap perubahan-perubahan dan difusi teknologi, mempunyai kemanfaatan sosial yang luas. Sebagai pendidikan yang diturunkan dari kebutuhan ekonomi, pendidikan kejuruan jelas lebih mengarah pada education for earning a living. Selanjutnya, Finlay (1998) mengemukakan bahwa pendidikan kejuruan mengembangkan tenaga kerja marketable dengan kemanfaatan melebihi sebagai alat produksi. Pendidikan kejuruan tidak sekedar mencetak tenaga kerja sebagai robot, tukang, atau budak. Pendidikan kejuruan juga harus memanusiakan manusia untuk tumbuh secara alami dan demokratis. Gay dalam Finch (1984) mengemukakan ada empat model penyelenggaraan dalam proses perencanaan kurikulum pendidikan kejuruan yaitu sebagai berikut:

1) Academic Model / Theoretical Model Model akademik memanfaatkan logika ilmiah sebagai basis kebutuhan dalam penetapan kurikulum. Kurikulum dikembangkan berdasarkan pendekatan struktur yang sesuai dengan disiplin ilmu untuk membentuk isi kurikulum. Model ini cocok untuk para calon-calon profesional dalam suatu bidang tertentu. 2) Experiential Model Model penyelenggaraan ini berorientasi pada learned centered and activityoriented. Model ini cocok untuk pengembangan individu/guru. 3) Pragmatic Model Model ini memandang perencanaan kurikulum dan selalu dikaitkan dengan konteks lokal/. Kondisi sosial politik mendominasi kegiatan perencanaan kurikulum, dimana proses perencanaan kurikulum harus disesuaikan dengan kondisi lokal tidak boleh keluar dari school setting. Model ini cocok relevan untuk diterapkan dalam konteks pelatihan bisnis atau industri. 4) Technical Model Dalam model ini pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem. Sistem dapat dipahami terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Sebuah sistem akan efektif dan efisien apabila dikontrol dengan manajemen yang baik. Dalam model ini, komponen-komponen seperti analisis kebutuhan, perumusan tujuan yang spesifik, pemilihan materi, metode, dan penetapan evaluasi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Model ini cocok diterapkan untuk proses belajar mengajar dalam pendidikan teknologi dan kejuruan . Selanjutnya, ada empat model desain kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan yang ditawarkan oleh Finch dan Crunkilton yaitu model akademik, pragmatik, ekperensial, dan teknik. Secara tegas Finch dan Crunkilton mengemukakan bahwa technical model adalah model desain kurikulum yang paling cocok diterapkan di pendidikan teknologi dan kejuruan. Model ini dipandang cocok karena menggunakan pendekatan sistem, dimana setiap komponen baik yang berkaitan dengan school setting dan community setting yang akan sangat berpengaruh terhadap pendidikan teknologi dan kejuruan. Dari sudut pandang yang lain, model desain kurikulum ini apabila dibandingkan dengan model yang dikemukakan oleh Nana Syaodih (2006) hampir sama dengan model teknologis yang pada dasarnya mempergunakan pendekatan sistem berbasis kebutuhan.

D. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan diatas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1) Model-model pengembangan kurikulum, karakteristik pendidikan teknologi dan kejuruan, serta landasan dan kerangka konseptual dan operasional akan memberi gambaran bagaimana kurikulum merupakan suatu instrumen yang sangat fungsional dalam pendidikan, khususnya untuk mendidik para peserta didik. Para peserta didik akan dapat diarahkan mencapai tujuan yang diharapkan dengan rambu-rambu yang telah ada pada kurikulum tersebut. Jadi, kurikulum merupakan acuan untuk mengarahkan pembelajaran. 2) Pengembangan kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan pertama kali dirintis oleh Victor Della Vos (1876), dengan mengemukakan beberapa prinsip pendidikan teknologi dan kejuruan diantaranya : (a) pendidikan ditempuh dalam waktu yang sesingkat mungkin (in short education); (b) selalu diupayakan suatu cara untuk memberikan pengajaran yang cukup untuk jumlah siswa yang banyak dalam satu waktu; (c) metode yang digunakan diharapkan memberikan pelajaran praktek di bengkel dengan tidak mengabaikan pemenuhan pengetahuan yang mencukupi, dan (d) guru diharapkan selalu mengevaluasi perkembangan siswa setiap waktu. 3) Pendidikan teknologi dan kejuruan tidak terpisahkan dari sistem pendidikan pada umumnya, tetapi tentu mempunyai kekhasan tersendiri, sehingga membedakan dengan sistem pendidikan yang lain yaitu bahwa kurikulum yang dirancang dengan maksud menghasilkan lulusan yang dapat bekerja, berkiprah tidak dalam waktu lulusan bekerja saat ini, tetapi mereka dapat selalu beradaptasi dengan situasi dan kondisi di mana mereka bekerja. Pendidikan teknologi dan kejuruan mempunyai orientasi pendidikan, justifikasi eksistensinya, fokusnya, standar keberhasilannya, kepekaannya terhadap perkembangan masyarakat, perbekalan logistik, serta hubungan dengan masyarakat dunia usaha yang berbeda dengan pendidikan pada umumnya.

10

E. Daftar Pustaka Abdulhak, I. (2001). Komunikasi Pembelajaran : Pendekatan Konvergensi Dalam Peningkatan Kualitas dan Efektivitas Pembelajaran. Pidato Guru Besar di UPI tanggal 18 Oktober 2001. Djojonegoro, W. (1998). Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: PT. Jayakarta Agung Offset. Finch, C.R. & Crunkilton, J.R. (1993). Curriculum Development in Vocational and Technical Education. Massachusetts: Allyn and Bacon Finlay, Niven,& Young. (1998). Changing Vocational Education and Training an International Comparative Perspective . London : Routledge Nana Syaodih Sukmadinata. (2006). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Thompson, JF. (1973). Foundations of Vocational Education. New Jersey: Prentice Hall Wibawa, B., (2005), Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Kertajaya Duta Media, Surabaya. Http://www..tkplb.org/documents/etraining%20-%20KTI/PTK.pdf. Http://file.upi.edu/direktori/fptk/jur._pend._teknik_mesin/194904271976031dad ang_hidayat/file_32._laporan_buku_curriculum_development_in_vocational_a nd_technical_education/file31~2.lap/lapora~2.pdf Http://file.upi.edu/direktori/fptk/jur._pend.teknik_sipil/19670726199703190876 dedysuryadi/artikel/mklhkonaspi04.pdf Http://file.upi.edu/direktori/fptk/jur._pend._kesejahteraan_keluarga/194608291 975012-arifah/2009__kurikulum_pttk_dan_pengembangannya.pdf Http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/131655274/PAPER-PUTU-2-final.pdf

11