Anda di halaman 1dari 27

MANAJEMEN KEPERAWATAN

Menurut Gillies (1986) manajemen didefinisikan sebagai suatu proses dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Sedangkan manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional. MPKP sebagai Pelayanan Prima Keperawatan Pelayanan prima keperawatan dikembangkan dalam bentuk model praktek keperawatan professional (MPKP), yang pada awalnya dikembangkan oleh Sudarsono (2000) di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dan beberapa rumah sakit lain. Menurut Sudarsono (2000), MPKP dikembangkan beberapa jenis sesuai dengan kondisi sumber daya manusia yang ada yaitu: 1. Model Praktek Keperawatan Profesional III Tenaga perawat yang akan bekerja di ruangan ini semua professional dan ada yang sudah doktor. Di ruangan tersebut juga dilakukan penelitian keperawatan khususnya penelitian khusus.

2. Model Praktek Keperawatan Profesional II Tenaga perawat yang akan bekerja di ruangan ini mempunyai kemampuan spesialis yang dapat memberikan konsultasi kepada perawat primer. Di ruangan ini digunakan hasil-hasil penelitian keperawatan dan melakukan penelitian keperawatan.

3. Model Praktek Keperawatan Profesional I Model ini menggunakan 3 komponen utama yaitu ketenagaan, metode pemberian asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan. Metode yang digunakan pada model ini adalah kombinasi metode keperawatan primer dan metode tim yang disebut tim primer.

4. Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula Model ini menyerupai MPKP I, tetapi baru tahap awal pengembangan yang akan menuju professional I. MPKP di Rumah Sakit Jiwa Di rumah sakit jiwa telah dikembangkan MPKP dengan memodifikasi MPKP yang telah dikembangkan di rumah sakit umum. Beberapa modifikasi yang dilakukan meliputi 3 jenis yaitu: 1. MPKP Transisi

MPKP dasar yang tenaga perawatnya masih ada yang berlatar belakang pendidikan SPK, namun Kepala Ruangan dan Ketua Timnya minimal D3 keperawatan.

2. MPKP Pemula MPKP dasar yang semua tenaganya minimal D3 Keperawatan

3. MPKP Profesional dibagi 3 tingkatan yaitu MPKP I MPKP dasar yang semua tenaganya minimal D3 Keperawatan. Karu dan Katim mempunyai pendidikan minimal S1 Keperawatan MPKP II MPKP intermediate yang semua tenaganya minimal D3 Keperawatan dan mayoritas Sarjana Ners Keperawatan, sudah memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa. MPKP III MPKP Advance yang semua tenaganya minimal Sarjana Ners Keperawatan, sudah memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa dan doktor keperawatan yang bekerja di area keperawatan jiwa. MPKP jiwa telah diterapkan di berbagai rumah sakit jiwa di Indonesia (Bogor, Lawang, Pakem, Semarang, Magelang, Solo, RSUD Duren Sawit, dan BPKJ Banda Aceh). Bentuk MPKP yang dikembangkan adalah MPKP Transisi dan MPKP Pemula. Penatalaksanaan kegiatan keperawatan dilakukan berdasarkan 4 pilar nilai profesional, yaitu: Manajemen Keperawatan Compensatory Reward Professional Relationship Patient Care Delivery. Pelayanan keperawatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh banyak orang sehingga perlu menerapkan manajemen yaitu dalam bentuk manajemen keperawatan. Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan, pengobatan dan bantuan terhadap para pasien (Gillies, 1989). Model praktek keperawatan mensyaratkan pendekatan manajemen (manajemen approach) sebagai pilar praktek professional yang pertama. Oleh karena itu proses manajemen harus dilaksanakan dengan disiplin untuk menjamin pelayanan yang diberikan kepada pasien atau keluarga merupakan praktek yang professional. Pendekatan Manajemen di MPKP Di ruang MPKP pendekatan manajemen diterapkan dalam bentuk proses manajemen yang terdiri dari tahapan proses: 1. Perencanaan (planning) 2. Pengorganisasian (organizing)

3. Pengarahan (directing) 4. Pengendalian (controlling)

PERENCANAAN
Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang hal-hal yang akan dikerjakan dimasa mendatang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan (Siagian, 1990). Perencanaan dapat juga diartikan sebagai suatu rencana kegiatan tentang apa yang harus dilakukan, bagaimana kegiatan itu dilaksanakan, dimana kegiatan itu dilakukan. Jenis-jenis perencanaan terdiri dari: Rencana jangka panjang, yang disebut juga perencanaan strategis yang disusun untuk 3 sampai 10 tahun. 2. Rencana jangka menengah dibuat dan berlaku 1 sampai 5 tahun. 3. Rencana jangka pendek dibuat 1 jam sampai dengan 1 tahun. Hirarki dalam perencanaan terdiri dari perumusan visi, misi, filosofi, peraturan, kebijakan, dan prosedur (Marquis & Houston, 1998). 1. Kegiatan perencanaan yang dipakai di ruang MPKP meliputi perumusan visi, misi, filosofi dan kebijakan. Sedangkan untuk jenis perencanaan yang diterapkan adalah perencanaan jangka pendek yang meliputi rencana kegiatan harian, bulanan, dan tahunan. A. Visi Di Ruang MPKP Visi adalah pernyataan singkat yang menyatakan mengapa organisasi itu dibentuk serta tujuan organisasi tersebut. Visi perlu dirumuskan sebagai landasan perencanaan organisasi. B. Misi Di Ruang MPKP Misi adalah pernyataan yang menjelaskan tujuan organisasi dalam mencapai visi yang telah ditetapkan. C. Filosofi Di Ruang MPKP Filosofi adalah seperangkat nilai-nilai kegiatan yang menjadi rujukan semua kegiatan dalam organisasi dan menjadi landasan dan arahan seluruh perencanaan jangka panjang. Nilai-nilai dalam filosofi dapat lebih dari satu. D. Kebijakan Di Ruang MPKP Kebijakan adalah pernyataan yang menjadi acuan organisasi dalam pengambilan keputusan. E. Rencana Jangka Pendek Di Ruang MPKP Rencana jangka pendek yang diterapkan di ruang MPKP terdiri dari rencana harian, bulanan dan tahunan. 1. Rencana harian Rencana harian adalah kegiatan yang akan dilaksanakan oleh perawat sesuai dengan perannya masing-masing, yang dibuat pada setiap shift. Isi kegiatan disesuaikan dengan peran dan fungsi perawat. Rencana harian dibuat sebelum operan dilakukan dan dilengkapi pada saat operan dan pre conference.

a. Rencana Harian Kepala Ruangan Isi rencana harian Kepala Ruangan meliputi: Asuhan keperawatan Supervisi Katim dan Perawat pelaksana Supervisi tenaga selain perawat dan kerja sama dengan unit lain yang terkait Kegiatan tersebut meliputi antara lain: Operan Pre conference dan Post conference Mengecek SDM dan sarana prasarana Melakukan interaksi dengan pasien baru atau pasien yang memerlukan perhatian khusus Melakukan supervisi pada ketua tim/perawat pelaksana Hubungan dengan bagian lain terkait rapat-rapat terstruktur/insidentil Mengecek ulang keadaan pasien, perawat, lingkungan yang belum teratasi. Mempersiapkan dan merencanakan kegiatan asuhan keperawatan untuk sore, malam, dan besok sesuai tingkat ketergantungan pasien.

b. Rencana Harian Ketua Tim Isi rencana harian Ketua Tim adalah: Penyelenggaraan asuhan keperawatan pasien pada tim yang menjadi tanggung jawabnya. Melakukan supervisi perawat pelaksana. Kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lain. Alokasi pasien sesuai perawat yang dinas. Kegiatan tersebut meliputi antara lain: Operan Pre conference dan Post conference Merencanakan asuhan keperawatan Melakukan supervisi perawat pelaksana. Menulis dokumentasi Memeriksa kelengkapan dokumentasi askep Alokasi pasien sesuai dengan perawat yang dinas

c. Rencana Harian Perawat Pelaksana Isi rencana harian perawat pelaksana adalah tindakan keperawatan untuk sejumlah pasien yang dirawat pada shift dinasnya. Rencana harian perawat pelaksana shift sore dan malam agak berbeda jika hanya satu orang dalam satu tim maka perawat tersebut berperan sebagai ketua tim dan perawat pelaksana sehingga tidak ada kegiatan pre dan post conference. Kegiatan tersebut meliputi antara lain: Operan Pre conference dan Post conference Mendokumentasikan askep

2. Rencana bulanan a. Rencana bulanan karu Setiap akhir bulan Kepala Ruangan melakukan evaluasi hasil keempat pilar atau nilai MPKP dan berdasarkan hasil evaluasi tersebut kepala ruangan akan membuat rencana tindak lanjut dalam rangka peningkatan kualitas hasil. Kegiatan yang mencakup rencana bulanan karu adalah: Membuat jadual dan memimpin case conference Membuat jadual dan memimpin pendidikan kesehatan kelompok keluarga Membuat jadual dinas Membuat jadual dan memimpin rapat bulanan perawat Membuat jadual dan memimpin rapat tim kesehatan Membuat jadual supervisi dan penilaian kinerja ketua tim dan perawat pelaksana Melakukan audit dokumentasi Membuat laporan bulanan b. Rencana bulanan ketua Tim Setiap akhir bulan ketua tim melakukan evaluasi tentang keberhasilan kegiatan yang dilakukan ditimnya. Kegiatan-kegiatan yang mencakup rencana bulanan katim adalah: Mempresentasikan kasus dalam case conference Meminpin pendidikan kesehatan kelompok keluarga Melakukan supervisi perawat pelaksana. 3. Rencana tahunan Setiap akhir tahun Kepala Ruangan melakukan evaluasi hasil kegiatan dalam satu tahun yang dijadikan sebagai acuan rencana tindak lanjut serta penyusunan rencana tahunan berikutnya. Rencana kegiatan tahunan mencakup: Menyusun laporan tahunan yang berisi tentang kinerja MPKP baik proses kegiatan (aktifitas yang sudah dilaksanakan dari 4 pilar praktek professional) serta evaluasi mutu pelayanan. Melaksanakan rotasi tim untuk penyegaran anggota masing-masing tim. Penyegaran terkait materi MPKP khusus kegiatan yang masih rendah pencapaiannya. Ini bertujuan mempertahankan kinerja yang telah dicapai MPKP bahkan meningkatkannya dimasa mendatang. Pengembangan SDM dalam bentuk rekomendasi peningkatan jenjang karier perawat (pelaksana menjadi katim, katim menjadi karu), rekomendasi untuk melanjutkan pendidikan formal, membuat jadual untuk mengikuti pelatihan-pelatihan.

PENGORGANISASIAN
Pengorganisasian adalah pengelompokan aktivitas untuk mencapai tujuan, penugasan suatu kelompok tenaga keperawatan, menentukan cara dari pengkoordinasian aktivitas yang tepat, baik vertikal maupun horizontal, yang bertanggung jawab untuk mencapai tujuan organisasi. Pengorganisasian kegiatan dan tenaga perawat di ruang MPKP menggunakan pendekatan sistem penugasan modifikasi Keperawatan Tim-Primer. Secara vertikal ada kepala ruangan, ketua tim, dan perawat pelaksana. Setiap tim bertanggung jawab terhadap sejumlah pasien. Pengorganisasian di ruang MPKP terdiri dari:

A. Pengorganisasian Tenaga

Struktur organisasi

Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen dalam suatu organisasi (Sutopo, 2000). Pada pengertian struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan yang berbeda-beda diintegrasikan atau dikoordinasikan. Struktur organiosasi juga menunjukkan spesialisasi pekerjaan.

Daftar Dinas Ruangan

Daftar yang berisi jadual dinas, perawat yang bertugas, penanggung jawab dinas/shift

Daftar Pasien

Daftar pasien adalah daftar yang berisi nama pasien, nama dokter, nama perawat dalam tim, penanggung jawab pasien, dan alokasi perawat saat menjalankan dinas di tiap shift. I. Struktur Organisasi Ruang MPKP Struktur organisasi Ruang MPKP menggunakan system penugasan Tim Primer keperawatan. Ruang MPKP dipimpin Kepala Ruangan yang membawahi dua atau lebih Ketua Tim. Ketua Tim berperan sebagai perawat primer membawahi beberapa perawat Pelaksana yang memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh kepada sekelompok pasien. Struktur Organisasi tersebut dapat digambarkan dalam bagan: 1. Mekanisme Pelaksanaan Pengorganisasian di Ruang MPKP Kepala ruangan membagi perawat yang ada menjadi 2 Tim dan tiap Tim diketuai masingmasing oleh seorang ketua Tim yang terpilih. Kepala ruangan bekerja sama dengan ketua Tim mengatur jadual dinas (pagi, sore, malam) Kepala Ruangan membagi pasien untuk masing-masing Tim. Apabila suatu ketika satu Tim kekurangan Perawat Pelaksana karena kondisi tertentu. Kepala Ruangan dapat memindahkan Perawat Pelaksana dari Tim ke Tim yang mengalami kekurangan anggota. Kepala ruangan menunjuk penanggung jawab shift sore, malam, dan shift pagi apabila karena sesuatu hal kepala ruangan sedang tidak bertugas. Untuk itu yang dipilih adalah perawat yang paling kompeten dari perawat yang ada. Sebagai pengganti Kepala Ruangan adalah Ketua Tim, sedangkan jika Ketua Tim berhalangan, tugasnya digantikan oleh anggota Tim (perawat pelaksana) yang paling kompeten di antara anggota tim. Ketua Tim menetapkan perawat pelaksana untuk masing-masing pasien. Ketua mengendalikan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien baik yang diterapkan oleh dirinya maupun oleh Perawat Pelaksana anggota Timnya. Kolaborasi dengan Tim Kesehatan lain dilakukan oleh Ketua Tim. Bila Ketua Tim karena suatu hal tidak sedang bertugas maka tanggung jawabnya didelegasikan kepada perawat paling kompeten yang ada di dalam Tim. Masing-masing Tim memiliki buku Komunikasi.

a. b. c. d.

e.

f. g. h.

i.

j.

Perawat pelaksana melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawabnya. Uraian Tugas (Job Deskripsi) Personil di MPKP Kepala Ruangan Management Approach: Perencanaan Menyusun visi Menyusun misi Menyusun filosofi Menyusun Rencana Jangka Pendek: Harian, Bulanan, Tahunan Pengorgansasian Menyusun struktur organisasi Menyusun jadual dinas Membuat daftar alokasi pasien Pengarahan Mamimpin operan Menciptakan iklim motivasi Mengatur pendelegasian Melakukan supervisi Pengendalian Mengevaluasi indikator mutu Melakukan audit dokumentasi Melakukan survey kepuasan pasien, keluarga, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Melakukan survey masalah kesehatan/keperawatan Compensatory reward Melakukan penilaian kinerja ketua Tim dan Perawat Pelaksana Merencanakan dan melaksanakan pengembangan staf Professional Relationship Memimpin rapat keperawatan Memimpin konfrensi kasus Melakukan rapat tim kesehatan Melakukan kolaborasi dengan dokter Pasien care delivery Mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien sesuai masalah keperawatan Ketua Tim Management Approach: Perencanaan Menyusun rencana jangka pendek (Rencana Harian, Rencana Bulanan) Pengorgansasian Menyusun jadual dinas bersama Kepala Ruangan Membagi alokasi pasien kepada Perawat Pelaksana Pengarahan Memimpin Pre Conference Memimpin Post Conference Menciptakan iklim motivasi di Timnya Mengatur pendelegasian dalam Timnya

2. a. a. a. a) b) c) d) b. c. d. b. c. d. b. a. a. b. c.

Melaksanakan supervisi kepada anggota Timnya d. Pengendalian Mengobservasi pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien yang dilakukan oleh Perawat Pelaksana Memberikan umpan balik pada Perawat Pelaksana b. c. d. c. a. b. Compensatory reward Menilai kinerja Perawat Pelaksana Professional Relationship Melaksanakan konfrensi kasus Melakukan kolaborasi dengan dokter Pasien care delivery Mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien sesuai masalah keperawatan Perawat Pelaksana Perencanaan Menyusun rencana jangka pendek (Rencana Harian) Pasien Care Delivery Melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien sesuai masalah keperawatan

II. Daftar Dinas Ruangan Daftar dinas disusun berdasarkan Tim, dibuat dalam 1 minggu sehingga perawat sudah mengetahui dan mempersiapkan dirinya untuk melakukan dinas. Pembuatan jadual dinas perawat dilakukan oleh kepala ruangan pada hari terakhir minggu tersebut untuk jadual dinas pada minggu yang selanjutnya bekerjasama dengan Ketua Tim. Setiap Tim mempunyai anggota yang berdinas pada pagi, sore, dan malam, dan yang lepas dari dinas (libur) terutama yang telah berdinas pada malam hari. III. Daftar Pasien Daftar pasien adalah daftar sejumlah pasien yang menjadi tanggung jawab tiap Tim selama 24 jam. Setiap pasien mempunyai perawat yang bertanggung jawab secara total selama dirawat dan juga setiap shift dinas. Dalam daftar pasien tidak perlu mencantumkan diagnosa dan alamat agar kerahasiaan pasien terjaga. Daftar pasien dapat juga menggambarkan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat atas asuhan keperawatan pasien sehingga terwujudlah keperawatan pasien yang holistik. Daftar pasien juga memberi informasi bagi kolega kesehatan lain keluarga untuk berkolaborasi tentang perkembangan dan keperawatan pasien. Daftar pasien di Ruangan diisi oleh ketua Tim sebelum operan dengan dinas berikutnya dan dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan. Contoh Daftar Pasien: No Nama Pasien Tim I 1 Ferri 2 Zulkifli Nama Dokter Dr. Anton Dr. Anton Nama Katim Perawat PJ Beti Ujang Pagi 7/11-07 Beti Beti Sore 6/11-07 Ulfa Ulfa Malam 6/11-07 Ujang Ujang

Anita Anita

3 4 5 6 7

Arman Bary Dullah Ahmad Dirman Tim II

Dr. Anton Dr. Meti Dr. Meti Dr. Meti Dr. Anton

Anita Anita Anita Anita Anita

Henny Ulfa Tito Pusti Anita

Henny Henny Tito Tito Anita

Pusti Ulfa Pusti Pusti Pusti

Ujang Ujang Ujang Ujang Ujang

Alokasi pasien terhadap perawat yang dinas pagi, sore atau malam dilakukan oleh ketua Tim berdasarkan jadual dinas. Kegiatan ini dilakukan sebelum operan dari dinas pagi ke dinas sore. Contoh diatas menunjukkan: Dinas pagi tanggal 7 November 2007 adalah Beti, Henny, Tito dan Anita. Beti merawat Ferri sebagai penanggung jawab dan merawat Zulkifli sebagai perawat asosiet karena Ujang yang bertanggung jawab sedang dinas malam. Dinas sore tanggal 6 November 2007 adalah Ulfa dan Pusti. Dinas malam tanggal 6 November 2007 adalah Ujang.

B. Klasifikasi Pasien Pasien diklasifikasikan berdasarkan system klasifikasi yang dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan tingkat ketergantungan klien: 1) Perawatan total : klien memerlukan 7 jam perawatan langsung per 24 jam 2) Perawatan parsial : klien memerlukan 4 jam perawatan langsung per 24 jam 3) Perawatan mandiri: klien memerlukan 2 jam perawatan langsung per 24 jam Penerapan sistem klasifikasi pasien dengan tiga kategori di atas adalah sebagai berikut: a. Kategori I : Perawatan mandiri / self care Kegiatan sehari-hari dapat dilakukan sendiri, penampilan secara umum baik, tidak ada reaksi emosional, pasien memerlukan orientasi waktu, tempat dan pergantian shift, tindakan pengobatan biasanya ringan dan sederhana. b. Kategori II : Perawatan sedang / partial / intermediate care Kegiatan sehari-hari untuk makan dibantu, mengatur posisi waktu makan, memberi dorongan agar mau makan, eliminasi dan kebutuhan diri juga dibantu atau menyiapkan alat untuk ke kamar mandi. Penampilan pasien sakit sedang. Tindakan perawatan pada pasien ini monitor tanda-tanda vital, periksa urin reduksi, fungsi fisiologis, status emosional, kelancaran drainase atau infus. Pasien memerlukan bantuan pendidikan kesehatan untuk mendukung emosi 5 10 menit/shift. Tindakan dan pengobatan 20 30 menit/shift atau 30 60 menit/shift dengan mengobservasi efek samping obat atau reaksi alergi. c. Kategori III : Perawatan total/intensive care Kebutuhan sehari-hari tidak bisa dilakukan sendiri, semua dibantu oleh perawat, penampilan sakit berat. Pasien memerlukan observasi terus-menerus. Petujuk penetapan jumlah berdasarkan derajat ketergantungan:

1. Dilakukan satu kali sehari pada waktu yang sama dan sebaiknya dilakukan oleh perawat yang sama selama 22 hari. 2. Setiap pasien dinilai berdasarkan kriteria klasifikasi pasien (minimal memenuhi tiga kriteria). 3. Kelompok pasien sesuai dengan klasifikasi tersebut dengan memberi tanda tally (I) pada kolom yang tersedia sehingga dalam waktu satu hari dapat diketahui berapa jumlah pasien yang ada dalam klasifikasi minimal, parsial dan total. 4. Bila hanya mempunyai satu kriteria dari hasil klasifikasi tersebut maka pasien dikelompokkan pada klasifikasi diatasnya.

Klasifikasi Pasien berdasarkan Derajat Ketergantungan: Jumlah pasien perhari sesuai kriteria Kriteria ketergantungan 1 Perawatan minimal : Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri Makan dan minum dilakukan sendiri Ambulasi dengan pengawasan Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap shift Pengobatan minimal, status psikologis stabil Pengobatan prosedur memerlukan persiapan 2 3 4 5 6 7 8 9 10 dst

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Perawatan parsial : 1. Kebersihan diri dibantu, makan dan minum dibantu 2. Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam 3. Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali 4. Folley kateter, intake output dicatat 5. Pasien dengan pasang infus, persiapan pengobatan memerlukan prosedur

Perawatan total : 1. Segalanya diberi bantuan 2. Posisi diatur, observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam 3. Makan memerlukan NGT, intravena terapi 4. Pemakaian suction 5. Gelisah/disorientasi

Jumlah total pasien per hari

Kebutuhan Tenaga Perawat Jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan pada suatu ruang rawat: JUMLAH PASIEN 1 2 3 dst Pagi 0,17 0,34 0,51 KLASIFIKASI PASIEN Parsial Pagi Siang Malam 0,27 0,15 0,07 0,54 0,30 0,14 0,81 0,45 0,21

Minimal Siang Malam 0,14 0,10 0,28 0,20 0,48 0,30

Pagi 0,36 0,72 1,08

Total Siang Malam 0,30 0,20 0,60 0,40 0,90 0,60

Sebagai contoh, suatu ruang rawat dengan 22 pasien ( 3 pasien dengan perawatan minimal, 14 pasien dengan perawatan parsial dan 5 pasien dengan perawatan total ) maka jumlah perawat yang dibutuhkan untuk jaga pagi adalah: 3 x 0,17 = 0,51 14 x 0,27 = 3,78 5 x 0,36 = 1,90 Jumlah 6,90

6 7 orang perawat

an perawat

Libur/cuti = 5 orang = jumlah kebutuhan perawat setiap hari + 5 orang + kepala ruangan + ketua tim. Kepala ruangan mengalokasikan setiap pasien baru pada tim tertentu dengan mempertimbangkan beban kerja tim tersebut. Beban kerja dapat terkait dengan jumlah pasien dan tingkat ketergantungan pasien.

PENGARAHAN
Pengarahan yaitu penerapan perencanaan dalam bentuk tindakan dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Istilah lain yang digunakan sebagai padanan pengarahan adalah pengkoordinasian, pengaktifan. Apapun istilah yang digunakan pada akhirnya yang bermuara pada melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya (Marquis & Houston, 1998). Dalam pengarahan, pekerjaan diuraikan dalam tugas-tugas yang mampu kelola, jika perlu dilakukan pendelegasian. Untuk memaksimalkan pelaksanaan pekerjaan oleh staf, seorang manajer harus melakukan upaya-upaya (Marquis & Houston, 1998)sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Menciptakan iklim motivasi Mengelola waktu secara efisien Mendemonstarikan keterampilan komunikasi yang terbaik Mengelola konflik dan memfasilitasi kolaborasi Melaksanakan sistem pendelegasian dan supervisi Negosiasi

Di ruangan MPKP pengarahan diterapkan dalam bentuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1. Menciptakan budaya motivasi 2. Manajemen waktu: Rencana Harian 3. Komunikasi efektif melalui kegiatan: a. Operan antar shift b. Pre conference tim c. Post conference tim 4. Manajemen konflik 5. Pendelegasian dan supervisi A. MENCIPTAKAN BUDAYA MOTIVASI 1. Pengertian Motivasi adalah prilaku yang ditunjukkan oleh seseorang individu untuk memuaskan kebutuhannya. Karena kebutuhan manusia bervariasi, maka motivasi memiliki rentang yang sangat luas. Pemenuhan kebutuhan individu merupakan salah satu cara memotivasi (Marquis & Houston, 1998). Iklim motivasi dapat ditumbuhkan melalui: a. Memberikan harapan yang jelas kepada staf dan mengkomunikasikan harapan tersebut secara efektif b. Bersikap fair dan konsisten terhadap semua staf c. Membuat keputusan yang bijaksana d. Mengembangkan konsep kerja kelompok e. Mengintegrasikan kebutuhan dan keinginan staf dengan kebutuhan dan tujuan organisasi f. Mengenali staf secara pribadi dan membiarkan staf mengetahui bahwa pimpinan mengetahui keunikan dirinya g. Menghilangkan blok tradisionil antara staf dengan pekerjaan yang telah dikerjakan h. Memberikan tantangan kerja sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri i. Melibatkan staf dalam pengambilan semua keputusan j. Memastikan bahwa staf mengetahui alasan di belakang semua keputusan dan tindakan k. Memberikan kesempatan kepada staf untuk membuat penilaian sesering mungkin l. Menciptakan hubungan saling percaya dan saling tolong dengan staf m. Memberi kesempatan staf untuk mengontrol lingkungan kerjanya n. Menjadi role model bagi staf o. Memberikan reinforcement sesering mungkin

2. Penerapan Penciptaan Iklim Motivasi di MPKP Di ruang MPKP penciptaan iklim motivasi diterapkan dengan cara sebagai berikut: Budaya pemberian reinforcement positif Reinforcement positif adalah upaya menguatkan perilaku positif dengan memberikan reward. Reward yang diberikan di MPKP adalah pemberian pujian yang tulus. Masing-masing staf

a.

b. c. d. e.

dibudayakan untuk memberikan pujian yang tulus diantara mereka terhadap kinerja dan penampilan. Doa bersama sebelum memulai kegiatan Memanggil staf secara periodik untuk mengenal masalah setiap personil secara mendalam dan membantu penyelesaiannya. Manajemen Sumber Daya Manusia melalui penerapan pengembangan jenjang karir dan kompetensi Sistem reward yang fair sesuai dengan kinerja

3. Evaluasi Aktivitas Menciptakan Iklim Motivasi Aktivitas menciptakan iklim motivasi dievaluasi oleh kepala ruangan dan ketua tim setiap 6 bulan sekali (per semester) dengan menggunakan suatu instrumen/kuisioner. B. MANAJEMEN WAKTU 1. Pengertian Manajemen waktu adalah penggunaan secara optimal waktu yang dipunyai. Tahapan majanemen waktu meliputi 3 tahapan yaitu: a. Membuat perencanaan waktu dan membuat prioritas b. Melengkapi prioritas tertinggi kapan saja memungkinkan, menyelesaikan tugas sebelum memulai tugas yang lain. c. Membuat prioritas ulang berdasarkan informasi yang diterima 2. Penerapan Manajemen Waktu di MPKP Dalam MPKP manajemen waktu diterapkan dalam bentuk penerapan rencana kerja harian yaitu suatu bentuk perencanaan kerja melalui jadual kerja yang disusun secara berurutan yang disusun sebelum pekerjaan tersebut dilaksanakan. 3. Evaluasi Aktivitas Manajemen Waktu Aktivitas manajemen waktu dievaluasi melalui instrumen/kuisioner C. PENDELEGASIAN 1. Pengertian Pendelegasian adalah melakukan pekerjaan melalui orang lain. Dalam organisasi pendelegasian dilakukan agar aktivitas organisasi tetap berjalan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendelegasian dilaksanakan melalui proses: a. Buat rencana tugas yang perlu dituntaskan b. Identifikasi ketrampilan dan tingkat pendidikan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas c. Pilih orang yang mampu melaksanakan tugas yang didelegasikan d. Komunikasikan dengan jelas apa yang akan dikerjakan dan apa tujuannya e. Buat batasan waktu dan monitor penyelesaian tugas f. Jika bawahan tidak mampu melaksanakan tugas karena menghadapi masalah tertentu, manajer harus bisa menjadi model peran dan menjadi nara sumber untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi

g. Evaluasi kinerja setelah tugas selesai h. Pendelegasian terdiri dari tugas dan kewenangan

2. Penerapan Pendelegasian di MPKP Delegasi dilaksanakan di MPKP dalam bentuk pendelegasian tugas oleh Kepala Ruangan kepada Ketua Tim, Ketua Tim kepada Perawat Pelaksana. Pendelegasian dilakukan melalui mekanisme pelimpahan tugas dan wewenang. Pendelegasian tugas ini dilakukan secara berjenjang. Penerapannya dibagi menjadi 2 jenis yaitu pendelegasian terencana dan pendelegasian insidentil. Pendelegasian terencana adalah pendelegasian yang secara otomatis terjadi sebagai konsekuensi sistem penugasan yang diterapkan di ruang MPKP. Bentuknya dapat berupa: a. Pendelegasian tugas Kepala Ruangan kepada Ketua Tim untuk menggantikan tugas sementara karena alasan tertentu b. Pendelegasian tugas Kepala Ruangan kepada Penanggung Jawab Shift c. Pendelegasian Ketua Tim kepada Perawat Pelaksana dalam pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah direncanakan Pendelegasian insidentil terjadi apabila salah satu personil ruang MPKP berhalangan hadir maka pendelegasian tugas harus dilakukan. Dalam hal ini yang mengatur pendelegasian adalah Kepala Seksi Perawatan, Kepala Ruangan, Ketua Tim atau Penanggung Jawab Shift, tergantung pada personil yang berhalangan. 3. Prinsip-prinsip Pendelegasian tugas di MPKP a. Pendelegasian tugas yang terencana harus menggunakan format pendelegasian tugas b. Personil yang menerima pendelegasian tugas adalah personil yang berkompeten dan setara dengan kemampuan yang digantikan tugasnya c. Uraian tugas yang didelegasikan harus dijelaskan secara verbal secara terinci, baik lisan maupun tertulis d. Pejabat yang mengatur pendelegasian tugas wajib memonitor pelaksanaan tugas dan menjadi rujukan bila ada kesulitan yang dihadapi e. Setelah selesai pendelegasian dilakukan serah terima tugas yang sudah dilaksanakan dan hasilnya. 4. Evaluasi Penerapan Pendelegasian Tugas Pendelegasian tugas di MPKP dievaluasi dengan menggunakan instrumen/kuisioner yang diisi oleh seluruh staf perawat dengan cara self evaluasi

D. SUPERVISI 1. Pengertian Supervisi atau pengawasan adalah proses memastikan kegiatan dilaksanakan sesuai dengan tujuan organisasi dengan cara melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Supervisi dilakukan untuk memastikan kegiatan dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Supervisi dilaksanakan oleh orang yang memiliki kemempuan yang mumpuni dalam bidang yang disupervisi. Dalam struktur organisisi, supervisi biasanya dilakukan oleh atasan

terhadap bawahan atau konsultan terhadap pelaksana. Dengan supervisi diharapkan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan tujuan organisasi, tidak menyimpang dan menghasilkan keluaran (produk) seperti yang diinginkan. Supervisi tidak diartikan sebagai pemeriksaan atau mencari kesalahan, tetapi lebih kepada pengawasan partisipatif yaitu dalam proses pengawasan dihargai dahulu pencapaian atau hal positif yang dilakukan dan memberikan jalan keluar untuk hal yang masih kurang agar meningkat. Dengan demikian bawahan tidak merasakan bahwa ia sekedar dinilai akan tetapi dibimbing untuk melakukan pekerjaannya secara benar. 2. Penerapan Supervisi di MPKP Di MPKP kegiatan supervisi dilaksanakan secara optimal untuk menjamin kegiatan pelayanan di MPKP sesuai dengan standar mutu professional yang telah ditetapkan. Supervisi dilakukan oleh perawat yang memiliki kompetensi baik dalam manajemen maupun asuhan keperawatan serta menguasai pilar-pilar professional yang diterapkan di MPKP. Untuk itu pengawasan berjenjang dilakukan sebagai berikut: a. Kepala Seksi Keperawatan atau Konsultan melakukan pengawasan terhadap Kepala Ruangan. b. Kepala Ruangan Keperawatan melakukan pengawasan terhadap Ketua Tim dan Perawat Pelaksana. c. Ketua Tim melakukan pengawasan terhadap Perawat Pelaksana. Materi supervisi atau pengawasan disesuaikan dengan uraian tugas dari masing-masing staf perawat yang disupervisi. Untuk Kepala Ruangan materi supervisi adalah kemampuan manajerial dan kemampuan dalam asuhan keperawatan. Ketua Tim disupervisi terkait dengan kemampuan pengelolaan di timnya dan kemampuan asuhan keperawatan. Sedangkan perawat pelaksana disupervisi terkait dengan kemampuan asuahan keperawatan yang dilaksanakan. Agar supervisi dapat menjadi alat pembinaan dan tidak menjadi momok bagi staf maka disusun standar penampilan yang diharapkan dari masing-masing staf yang sudah dipahami oleh staf dan jadwal supervisi. 3. Evaluasi Aktivitas Supervisi Aktivitas supervisi dievaluasi oleh Kepala Ruangan dan Ketua Tim yang melakukan supervisi dengan menggunakan instrumen/kuisioner dengan cara self evaluasi E. KOMUNIKASI EFEKTIF 1. Pengertian Berkomunikasi merupakan salah satu fungsi pokok manajemen khususnya pengarahan. Setiap orang berkomunikasi dalam suatu organisasi. Komunikasi yang kurang baik dapat mengganggu kelancaran organisasi dalam mencapai tujuan organisasi. Komunikasi adalah proses tukar menukar pikiran, perasaan, pendapat dan saran yang terjadi antara 2 orang atau lebih yang bekerjasama. 2. Penerapan Komunikasi di MPKP Beberapa bentuk komunikasi di ruang MPKP

a.

Operan yaitu komunikasi dan serah terima antara shift pagi, sore dan malam. Operan dari dinas malam ke dinas pagi dan dari dinas pagi ke dinas sore dipimpin oleh kepala ruangan, sedangkan operan dari dinas sore ke dinas malam dipimpin oleh penanggung jawab shift sore.

b. Pre Conference yaitu komunikasi katim dan perawat pelaksana setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada hari tersebut yang dipimpin oleh katim atau PJ tim. Jika yang dinas pada tim tersebut hanya satu orang, maka pre conference ditiadakan. Isi pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian), dan tambahan rencana dari katim atau PJ. c. Post Conference yaitu komunikasi katim dan perawat pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada shift berikut. Isi post conference adalah hasil askep tiap perawat dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post conference dipimpin oleh katim atau PJ tim. 3. Evaluasi Pelaksanaan Aktivitas Komunikasi di MPKP Aktivitas komunikasi di MPKP dievaluasi oleh seluruh staf perawat MPKP. Evaluasi dilakukan sekali tiap bulan dengan menggunakan instrumen/kuisioner.

F. MANAJEMEN KONFLIK 1. Pengertian Konflik adalah perbedaan pandangan atau ide antara satu orang dengan orang yang lain. Dalam organisasi yang dibentuk dari sekumpulan orang yang memiliki latar belakang yang berbeda konflik mudah terjadi. Demikian juga di ruang MPKP konflik pun bisa terjadi. Untuk mengantisipasi terjadinya konflik maka perlu dibudayakan upaya-upaya mengantisipasi konflik dan mengatasi konflik sedini mungkin di ruang MPKP. Cara-cara penanganan konflik ada beberapa macam, meliputi: Bersaing Berkolaborasi Menghindar Mengakomidasi Berkompromi Mengatasi konflik dengan bersaing adalah penanganan konflik dimana seseorang atau satu kelompok berupaya memuaskan kepentingannya sendiri tanpa mempedulikan dampaknya pada orang lain atau kelompok lain. Cara inbi kurang sehat bila diterapkan karena bisa menimbulkan potensi konflik yang lebih besar terutama pada pihak yang merasa dikalahkan. Untuk itu organisasi sebaiknya menghindari metode penyelesaian konflik jenis ini. Berkolaborasi adalah upaya yang ditempuh untuk memuaskan kedua belah pihak yang sedang berkonflik. Cara ini adalah salah satu bentuk kerjasama. Berbagai pihak yang terlibat konflik didorong menyelesaikan masalah yang mereka hadapi dengan jalan mencari dan menemukan persamaan kepentingan dan bukan perbedaan. Situasi yang diinginkan adalah tidak ada satu pihakpun yang dirugikan. Istilah lain cara penyelesaian konflik ini disebut juga win-win solution. Menghindar adalah cara menyelesaikan konflik dimana pihak yang sedang berkonflik mengakui adanya konflik dalam interaksinya dengan orang lain tetapi menarik diri atau menekan konflik tersebut (seakan-akan tidak ada konflik atau masalah). Cara ini tidak

a. b. c. d. e.

dianjurkan dalam upaya penyelesaian konflik karena masalah mendasar tidak diselesaikan, penyelasaian yang terjadi adalah penyelesaian semu. Untuk itu tidak dianjurkan organisasi untuk menggunakan metode ini. Akomodasi adalah upaya menyelesaikan konflik dengan cara salah satu pihak yang berkonflik menempatkan kepentingan pihak lain yang berkonflik dengan dirinya lebih tinggi. Salah satu pihak yang berkonflik mengalah kepada pihak yang lain. Ini suatu upaya lose win solution. Upaya penyelesaian konflik dengan akomodasi sebaiknya juga tidak digunakan terlalu sering karena kepuasan tidak terjadi secara penuh dan bisa menimbulkan potensi konflik di masa mendatang. Kompromi adalah cara penyelesaian konflik di mana semua pihak yang berkonflik mengorbankan kepentingannya demi terjalinnya keharmonisan hubungan dua belah pihak tersebut. Dalam upaya ini tidak ada salah satu pihak yang menang atau kalah. Ini adalah loselose solution di mana masing-masing pihak akan mengorbankan kepentingannya agar hubungan yang dijalin tetap harmonis. 2. Penerapan Manajemen Konflik di MPKP Upaya mengatasi konflik yang diterapkan di MPKP adalah upaya yang win-win solution. Suatu upaya berkolaborasi. Untuk itu pembudayaan kolaborasi antar staf menjadi prioritas utama dalam menyelenggarakan pengelolaan ruangan MPKP. Pendekatan penyelesaian konflik yang ditempuh adalah dengan pendekatan penyelesaian masalah (problem solving) yang meliputi: Mengidentifikasi akar permasalahan yang terjadi dengan melakukan klarifikasi pada pihak yang berkonflik. Mengidentifikasi penyebab timbulnya konflik. Mengidentifikasi alternatif-alternatif penyelesaian yang mungkin diterapkan. Memilih alternatif penyelesaian terbaik untuk diterapkan. Menerapkan solusi pilihan Mengevaluasi peredaan konflik. Bila pendekatan internal yang telah dilakukan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi belum berhasil maka kepala ruangan dapat berkonsultasi dengan kepala Seksi Perawatan atau Konsultan. 3. Evaluasi Penerapan Aktivitas Penyelesaian Konflik Aktivitas penyelesaian konflik dievaluasi oleh seluruh staf keperawatan MPKP. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan instrumen/kuisioner.

a. b. c. d. e. f.

PENGENDALIAN
Proses terakhir dari manajemen adalah pengendalian atau pengontrolan. Fayol mendefinisikan kontrol sebagai Pemeriksaan apakah segala sesuatunya terjadi sesuai dengan rencana yang telah disepakati, instruksi yang dikeluarkan, serta prinsip-prinsip yang ditentukan, yang bertujuan untuk menunjukkan kekurangan dan kesalahan agar dapat

diperbaiki dan tidak terjadi lagi. Pengontrolan penting dilakukan untuk mengetahui fakta yang ada, sehingga jika muncul isue dapat segera direspon dengan cara duduk bersama. Pengendalian adalah upaya mempertahankan kualitas, mutu atau standar. Output (hasil) dari suatu pekerjaan dikendalikan agar memenuhi keinginan (standar) yang telah ditetapkan. Pengendalian difokuskan pada proses yaitu pelaksanaan asuhan keperawatan dan pada output (hasil) yaitu kepuasan pelanggan (pasien), keluarga, perawat dan dokter. Indikator mutu yang merupakan output adalah BOR, ALOS, TOI, audit dokumen keperawatan. Survei masalah keperawatan diperlukan untuk rencana yang akan datang. Kepala Ruangan akan membuat laporan hasil kerja bulanan tentang semua kegiatan yang dilakukan terkait dengan MPKP. Data tentang indikator mutu dapat bekerja sama dengan tim rumah sakit atau ruangan membuat sendiri. Jadi pengendalian manajemen adalah proses untuk memastikan bahwa aktifitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan dan berfungsi untuk menjamin kualitas serta pengevaluasian penampilan, langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pengendalian/pengontrolan meliputi: Menetapkan standar dan menetapkan metode mengukur prestasi kerja Melakukan pengukuran prestasi kerja Menetapkan apakah prestasi kerja sesuai dengan standar Mengambil tindakan korektif Peralatan atau instrumen dipilih untuk mengumpulkan bukti dan untuk menunjukkan standar yang telah ditetapkan atau tersedia. Audit merupakan penilaian pekerjaan yang telah dilakukan. Terdapat tiga kategori audit keperawatan yaitu: 1. Audit struktur 2. Audit proses 3. Audit hasil

a. b. c. d.

Audit Struktur berfokus pada sumber daya manusia; lingkungan perawatan, termasuk fasilitas fisik, peralatan, organisasi, kebijakan, prosedur, standar, SOP dan rekam medik; pelanggan. Audit Proses merupakan pengukuran pelaksanaan pelayanan keperawatan untuk menentukan apakah standar keperawatan tercapai. Pemeriksaan dapat bersifat retropektif, concurrent, atau peer review. Retropektif adalah audit dengan menelaah dokumen pelaksanaan asuhan keperawatan melalui pemeriksaan dokumentasi asuhan keperawatan. Concurrent adalah mengobservasi saat kegiatan keperawatan sedang berlangsung. Peer review adalah umpan balik sesama anggota tim terhadap pelaksanaan kegiatan. Audit hasil adalah audit produk kerja yang dapat berupa kondisi pasien, kondisi SDM, dan indikator mutu. 1. Kondisi pasien dapat berupa keberhasilan pasien dan kepuasan, yaitu: a. Audit dokumentasi asuhan keperawatan b. Survey masalah baru c. Kepuasan pasien dan keluarga 2. Kondisi SDM dapat berupa efektifitas dan efisiensi serta kepuasan, yaitu

a. Kepuasan tenaga kesehatan: perawat, dokter b. Penilaian kinerja perawat 3. Indikator mutu umum yaitu: a. b. c. d. e. Prosentasi pemakaian tempat tidur (BOR) Rata-rata lama rawat seorang pasien (ALOS) Tempat tidur tidak terisi (TOI) Angka infeksi nasokomial (NI) Angka dekubitus dan sebagainya.

A. Indikator mutu umum: 1. Penghitungan Tempat Tidur Terpakai (BOR) Bed occupancy rate adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Standar internasional BOR dianggap baik adalah 80 90 % sedangkan standar nasional BOR adalah 70 80 %. Rumus penghitungan BOR sbb: Jumlah hari perawatan BOR = x 100% Jumlah TT x Jumlah hari persatuan waktu

Catatan: Jumlah hari perawatan adalah hasil penjumlahan lama hari rawat pasien yang keluar hidup atau mati dalam satu periode waktu Jumlah hari per satuan waktu adalah jumlah hari dalam satu periode waktu 2. Penghitungan Rata-rata Lama Rawat (ALOS) Average Length of Stay (ALOS) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosa tertentu yang dijadikan tracer (yang perlu pengamatan lebih lanjut). Secara umum ALOS yang ideal adalah 6 9 hari. Di MPKP pengukuran ALOS dilakukan oleh kepala ruangan yang dibuat setiap bulan dengan rumus sbb: Jumlah hari perawatan pasien keluar ALOS Jumlah pasien keluar (hidup + mati)

Catatan: Jumlah hari perawatan pasien keluar adalah jumlah hari perawatan pasien keluar hidup atau mati dalam satu periode waktu. Jumlah pasien keluar (hidup atau mati): jumlah pasien yang pulang atau meninggal dalam satu periode waktu.

3. Penghitungan Tempat Tidur Tidak Terisi (TOI) Turn Over Interval (TOI) adalah rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati dari saat diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini dapat memberikan gambaran tentang efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong hanya dalam waktu 1 3 hari. Di MPKP pengukuran TOI dilakukan oleh kepala ruangan yang dibuat setiap bulan dengan rumus sbb: (Jumlah TT x hari) hari perawatan RS TOI Jumlah pasien keluar (hidup + mati) 4. Penghitungan Angka Infeksi Nasokomial Angka infeksi nasokomial adalah jumlah pasien infeksi yang didapat atau muncul selama dalam perawatan di rumah sakit. 5. Penghitungan Angka Dekubitus Angka dekubitus adalah jumlah pasien yang mengalami dekubitus selama dalam perawatan di rumah sakit

B. Audit Dokumentasi Asuhan Keperawatan Audit dokumentasi adalah kegiatan mengevaluasi dokumen asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan oleh perawat pelaksana. Di MPKP kegiatan audit dilakukan oleh kepala ruangan, pada status setiap pasien yang telah pulang atau meninggal dan hasil audit dibuat rekapan dalam satu bulan. C. Survey Kepuasan Menurut Philip Kotler, Survey kepuasan pelanggan adalah tingkat keadaan yang dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari membandingkan penampilan atau outcome produk yang dirasakan dalam hubungannya dengan harapan seseorang Survey kepuasan yang akan dilakukan di ruang MPKP adalah kepuasan pasien, keluarga, perawat dan tenaga kesehatan lain. Di MPKP survey kepuasan pasien dilakukan setiap pasien pulang, diberikan saat selesai menyelesaikan administrasi atau saat mempersiapkan pulang dengan cara pasien dan keluarga mengisi angket yang disediakan. Survey kepuasan dilakukan 6 bulan sekali. D. Evaluasi Aktivitas Pengendalian Di MPKP aktivitas pengendalian dievaluasi melalui self evaluasi terhadap Kepala ruangan tiap satu semester dengan menggunakan instrumen/kuisioner sbb: Evaluasi Aktivitas Pengendalian di MPKP No 1 Kriteria BOR dihitung setiap satu bulan Sll Sr Kd Tp

2 3 4 5 6 7 8 9

ALOS diukur setiap bulan TOI diukur setiap bulan Angka Infeksi Nasokomial dicatat setiap bulan Survey kepuasan pasien dilakukan setiap ada pasien pulang atau meninggal Survey kepuasan keluarga dilakukan setiap ada pasien pulang atau meninggal Survey kepuasan tenaga kesehatan dilakukan setiap ada pasien pulang atau meninggal Survey masalah keperawatan dilakukan tiap bulan Audit dokumen dilakukan tiap bulan

Petunjuk:

Sll : selalu nilai 4 Sr : sering nilai 3 Kd : kadang-kadang nilai 2 Tp : tidak pernah nilai 1 Nilai :

Total nilai x 100% 36

COMPENSATORY REWARD
Compensatory reward (kompensasi penghargaan) menjelaskan manajemen keperawatan khususnya manajemen sumber daya manusia (SDM) keperawatan. Fokus utama manajemen keperawatan adalah pengelolaan tenaga keperawatan agar dapat produktif sehingga misi dan tujuan organisasi dapat tercapai. Perawat merupakan SDM kesehatan yang mempunyai kesempatan paling banyak melakukan praktek profesionalnya pada pasien yang dirawat di Rumah Sakit. Seorang perawat akan mampu memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan yang profesional apabila perawat tersebut sejak awal bekerja diberikan program pengembangan staf yang terstruktur. Metode dalam menyusun tenaga keperawatan seharusnya teratur, sistematis, rasional, yang digunakan untuk menentukan jumlah dan jenis tenaga keperawatan yang dibutuhkan agar dapat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien sesuai yang diharapkan. Manajemen SDM di ruang MPKP berfokus pada proses rekruitmen, seleksi, kontrak kerja, orientasi, penilaian kinerja, dan pengembangan staf perawat. Proses ini selalu dilakukan sebelum membuka ruang MPKP dan setiap ada penambahan perawat baru. A. Proses Rekruitmen Tenaga Perawat di Ruang MPKP Rekruitmen di ruang MPKP berfokus pada rekruitmen perawat yang ada di rumah sakit. Dalam menentukan perawat yang diperlukan di ruang MPKP, perlu diketahui kategori Ruang MPKP yang akan dikembangkan. Misalnya Untuk level MPKP Profesional I diharapkan

Karu dan Katim mempunyai latar belakang pendidikan Ners, Sarjana Keperawatan dengan jenjang karir minimal Perawat Klinik 3 (PK 3), serta seluruh perawat pelaksana minimal mempunyai latar belakang pendidikan D III Keperawatan dengan jenjang karir minimal Perawat Klinik 2 (PK 2). Proses rekuitmen perawat di ruang MPKP: Seluruh perawat di Rumah Sakit harus menyepakati level MPKP yang akan dipilih, disesuaikan dengan sumber daya keperawatan yang ada di rumah sakit tersebut, diharapkan minimal memilih MPKP level pemula. 2. Setelah level disepakati maka kepala bidang perawatan melakukan sosialisasi pembentukan ruang MPKP kepada pimpinan dan para pejabat struktural yang ada di rumah sakit untuk mendapatkan komitmen dan dukungan. 3. Kepala ruangan melakukan sosialisasi kepada semua perawat yang ada di ruangan tentang pembentukan ruang MPKP disertai kriteria perawat yang dibutuhkan dengan tujuan merekrut perawat yang memenuhi kriteria. Kepala ruangan memotivasi perawat di ruangannya yang memenuhi kriteria untuk mendaftarkan diri dengan mengisi formulir pendaftaran dan biodata. 1. Sebelum menetapkan proses rekruitmen perlu ditetapkan jumlah perawat yang dibutuhkan. Jenis tenaga perawat terdiri dari kepala ruangan (Karu), perawat primer (PP) sebagai ketua tim, dan perawat pelaksana. Selain itu juga perlu ditetapkan kriteria perawat yang dibutuhkan. B. Proses seleksi tenaga perawat di ruang MPKP Proses seleksi perawat di ruang MPKP: 1. Proses seleksi dimulai dari telaah dokumen untuk menetapkan perawat yang memenuhi syarat menjadi kepala ruangan, perawat primer/ketua tim, dan perawat pelaksana/asosiet. 2. Semua perawat yang memenuhi kriteria dipanggil untuk tes tulis. Hasil tes tulis menetapkan perawat pelaksana yang memenuhi kriteria dan bakal calon ketua tim dan kepala ruangan. 3. Perawat yang lulus tes tulis mengikuti tes wawancara. 4. Tahap seleksi selanjutnya adalah presentasi yang diikuti oleh perawat yang memenuhi kriteria karu dan katim untuk memilih kepala ruangan.

Jika nama dan jumlah perawat telah ditetapkan sesuai dengan hasil tes maka pimpinan rumah sakit membuat surat keputusan (SK) penempatan perawat yang bekerja di ruang MPKP. Sebelum perawat bekerja di ruang MPKP, mereka diminta untuk membuat pernyataan akan kesediaannya bekerja dan mengembangkan ruang MPKP dan menandatanganinya. Perawat diberikan penjelasan tentang lingkup kerja dan pengembangan karir. C. Proses orientasi tenaga perawat di ruang MPKP Setiap perawat yang akan bekerja di ruang MPKP harus melalui masa orientasi yang sering disebut pelatihan awal sebelum seseorang bekerja pada unit kerja tertentu. Orientasi berupa pelatihan tentang informasi budaya kerja MPKP dan informasi umum tentang rumah sakit (visi, misi, program jangka pendek dan jangka panjang, program mutu, kebijakan dan peraturan). Kegitatan orientasi menggunakan metode klasikal, praktik lapangan dan praktik kerja.

Kegiatan prientasi dilakukan pada perawat baru yang akan bekerja di ruang MPKP. Karu dan Katim membuat rencana orientasi. Kegiatan MPKP yang akan diorientasikan pada program orientasi adalah: 1. Kepala Ruangan 1) d. a) b) c) e. a) b) c) f. a) b) c) d) e) f) g) h) g. a) b) c) d) 2) a. b. c. d. e. 3) a. b. c. d. 4) a. Pendekatan Management: Perencanaan Mengembangkan visi dan misi Mempunyai filosofi Menetapkan Rencana Jangka Pendek Pengorgansasian Membuat struktur organisasi Membuat jadual dinas bersama ketua tim Membuat daftar pasien bersama ketua tim Pengarahan Mamimpin operan Mengawasi dan mengarahkan kegiatan pre dan post conference Memberi motivasi pada tim perawat di ruangan Mendelegasikan tugas pada bawahan dengan jelas Memfasilitasi kolaborasi dengan anggota tim kesehatan yang lain dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan. Mengawasi perawat primer dan perawat pelaksana dalam mengelola pasien melalui komunikasi langsung. Memperoleh informasi tentang pelaksanaan asuhan keperawatan melalui supervisi dan mendengarkan laporan langsung dari perawat primer. Melakukan pengawasan tidak langsung: Mengecek daftar hadir perawat primer, perawat pelaksana, pekarya dan petugas TU. Mengecek kedisiplinan. Pengendalian Menetapkan indikator mutu Melakukan audit dokumentasi Melakukan survey kepuasan pasien, keluarga, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Melakukan survey masalah kesehatan/keperawatan Compensatory reward Melakukan rekruitmen tenaga perawat Melakukan seleksi tenaga perawat Melakukan orientasi Melakukan penilaian kinerja Melakukan pengembangan tenaga perawat Hubungan Professional Memimpin rapat keperawatan Mengawasi pelaksanaan konfrensi kasus Mengikuti rapat tim kesehatan Mengawasi pelaksanaan visit dokter Asuhan keperawatan Menguasai asuhan keperawatan pada pasien sesuai masalah keperawatan yang ada

2. Perawat Primer/Ketua Tim 1) a. a) b) b. a) b) c) d) c. a) b) c) d) d. a) b) 2) 1. 2. 3) A. B. 4) 1. Pendekatan Managemen: Perencanaan Membuat pengkajian lengkap, perencanaan, dan menentukan kriteria evaluasi untuk pasien Membuat rencana jangka pendek Pengorgansasian Menyusun jadual dinas bersama Kepala Ruangan Membuat daftar pasien bersama Kepala Ruangan Membagi tugas kepada perawat pelaksana sesuai dengan kemampuan perawat pelaksana Bekerjasama dengan tim kesehatan yang lain untuk mengintegrasikan pelayanan keperawatan dengan pelayanan kesehatan lain Pengarahan Memimpin kegiatan ronde keperawatan, konferensi kasus, Pre dan Post Conference Memberikan pengarahan pada perawat pelaksana masing-masing secara individual Memberikan motivasi kepada perawat pelaksana Mendelegasikan tugas kepeda perawat pelaksana secara jelas Pengendalian Mengobservasi pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien yang dilakukan oleh Perawat Pelaksana Memberikan umpan balik pada Perawat Pelaksana Compensatory reward Melakukan orientasi kepada perawat baru Menilai kinerja Perawat Pelaksana Hubungan Professional Memimpin konfrensi kasus Mengikuti visit dokter Asuhan keperawatan Menguasai asuhan keperawatan pada pasien sesuai masalah keperawatan yang ada

3. Perawat Pelaksana 1) 2) 3) 4) 5) Membuat rencana jangka pendek (rencana harian) tindakan keperawatan yang ditugaskan oleh perawat primer Melaksanakan tindakan keperawatan Melakukan evaluasi serta dokumentasi keperawatan Mengikuti ronde keperawatan, konferensi kasus, dan pre dan post conference. Melakukan kerja sama dengan perawat pelaksana lain dibawah timnya. Selama masa orientasi, dilakukan evaluasi atau penilaian terhadap kinerja perawat dalam melaksanakan budaya MPKP. Selanjutnya bagi perawat yang telah menjalani masa orientasi dilakukan penentuan apakah perawat tersebut diterima atau tidak di ruang MPKP. Penentuan dilakukan oleh pimpinan keperawatan dan fasilitator (konsultan). D. Penilaian kinerja Penilaian kinerja di ruang MPKP ditujukan pada kepala ruangan, perawat primer dan perawat asosiet. Kemampuan tiap SDM dievaluasi dengan menggunakan supervisi baik secara langsung (observasi) maupun tidak langsung (melalui dokumentasi). Kinerja kepala ruangan

disupervisi/ dievaluasi oleh kepala bidang perawatan dan fasilitator/konsultan; kinerja perawat primer disupervisi/ dievaluasi oleh kepala bidang perawatan, fasilitator/konsultan dan kepala ruangan; kinerja perawat pelaksana disupervisi/ dievaluasi oleh kepala ruangan dan perawat primer. Kepala Bidang Perawatan bertanggung jawab mengobservasi dan menilai keberlllangsungan seluruh aktivitas di ruang MPKP. Dalam supervisinya didampingi oleh fasilitator atau konsultan. E. Pengembangan tenaga perawat Pengembangan tenaga perawat merupakan salah satu proses yang berhubungan dengan manajemen SDM. Tujuannya adalah membantu masing-masing perawat mencapai kinerja sesuai dengan posisinya dan untuk pengakuan/penghargaan terhadap kemampuan profesional tenaga perawat yang akan memaksimalkan pencapaian jenjang karir. Bentuk pengembangan tenaga perawat di ruang MPKP adalah Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan dan Program pengembangan jenjang karier. Pada tahap awal bekerja di ruang MPKP, perawat mendapat penjelasan tentang proses pengembangan yang dapat diikuti.

HUBUNGAN PROFESIONAL
Hubungan Profesional dalam pemberian pelayanan keperawatan merupakan standar dari hubungan antara pemberi pelayanan keperawatan (tim kesehatan) dan penerima pelayanan keperawatan (klien dan keluarga) (Cameron, 1997). Pada pelaksanaannya hubungan profesional bisa terjadi secara internal artinya hubungan yang terjadi antara pemberi pelayanan kesehatan misalnya antara perawat dengan perawat, antara perawat dengan tim kesehatan dan lain-lain. Sedangkan hubungan profesional secara eksternal adalah hubungan yang terjadi antara pemberi dan penerima pelayanan kesehatan. Kedua hubungan tersebut merupakan suatu siklus yang tidak terpisahkan dalam pemberian pelayanan kesehatan. Hubungan profesional secara internal yang terjadi di ruang MPKP yaitu: Rapat perawat ruangan Case conference Rapat tim kesehatan Visit dokter

A. Rapat perawat ruangan Yang dimaksud dengan rapat tim keperawatan suatu media komunikasi untuk menyampaikan informasi permasalahan yang ditemukan pada klien, evaluasi hasil kerja secara keseluruhan, informasi/ peraturan/ perkembangan IPTEK, dan lain-lain. Fokus pembicaraan adalah membahas hsil-hasil kerja keperawatan selama sebulan semua aktivitas ruang MPKP (laporan bulanan). B. Case conference

Yang dimaksud dengan case conference (konferensi kasus) adalah diskusi kelompok tentang kasus asuhan keperawatan klien/keluarga. Dilakukan dua kali perbulan dan kasusnya bergantian antar tim. Topik atau isi dari kasus yang disampaikan adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Kasus pasien baru Kasus pasien yang tidak ada perkembangan Kasus pasien pulang Kasus pasien yang meninggal Kasus pasien dengan masalah yang jarang ditemukan

C. Rapat tim kesehatan Rapat tim kesehatan adalah media komunikasi antara tim kesehatan untuk membahas manajerial ruang MPKP. Fokus pembicaraan rapat ini adalah membahas hal-hal yang terkait dengan manajerial. D. Kolaborasi dengan Dokter 1. Visit dokter Visit dokter adalah kunjungan dokter ke ruangan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada pasien, dan ketua tim bertanggung jawab melakukan kolaborasi serta mendampingi dokter saat melakukan pemeriksaan dan menyampaikan informasi tentang pasien

2. Konsultasi dengan Dokter Konsultasi dengan Dokter adalah melaporkan kondisi pasien kepada dokter. Konsultasi via telepon dilakukan jika menurut perawat pasien membutuhkan tindakan kedokteran. Pada saat berkonsultasi mungkin saja dokter memberikan instruksi berupa tindakan yang dilaksanakan oleh perawat. Untuk ini dokter perlu menandatanganinya di status pasien.

3. Konsultasi dengan Dokter via telepon Konsultasi dengan Dokter via telepon adalah melaporkan kondisi pasien kepada dokter melalui telepon. Konsultasi via telepon dilakukan jika menurut perawat pasien membutuhkan tindakan kedokteran. Pada saat berkonsultasi mungkin saja dokter memberikan instruksi berupa tindakan yang dilaksanakan oleh perawat. Untuk ini diperlukan seorang saksi yang ikut mendengarkan instuksi tersebut.

MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN


Tujuan profesi keperawatan adalah memberikan pelayanan kepada klien dan juga mempertahankan hidupnya profesi itu sendiri. Untuk mencapai tujuan tersebut perawat perlu memiliki ketrampilan intelektual, teknikal, interpersonal, dan etik. Semua ketrampilan ini harus tampak dalam pemberian asuhan keperawatan kepada klien.

Praktek keperawatan profesional dengan ciri praktek yang didasari dengan ketrampilan intelektual, teknikal, interpersonal dapat dilaksanakan dengan menerapkan suatu metode asuhan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode asuhan untuk praktek profesional tersebut adalah proses keperawatan, suatu rangkaian asuhan yang terdiri dari pengkajian, menyusun diagnosa keperawatan, perencanaan tindakan, implementasi dan evaluasi. Salah satu pilar praktek profesional keperawatan adalah pelayanan keperawatan dengan menggunakan patient care delivery system tertentu. Patient care delivery system yang diterapkan di MPKP adalah asuhan keperawatan dengan menerapkan proses keperawatan. Di MPKP dibuat standar asuhan keperawatan secara ilmiah berdasarkan masalah-masalah keperawatan yang ditemukan di MPKP. Dalam pemberian asuhan keperawatan dilakukan berdasarkan tahap-tahap komunikasi therapeutik.