Anda di halaman 1dari 22

TUGAS

TEKNIK PEMBAKARAN









Disusun oleh :
Abdul Gopur 080736 ( Reg )
Happy Pramana 080188 (Reg)
Hardi Arto 081442 ( Reg)



JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON BANTEN
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1. Dasar Hukum Hukum Thermodinamika
Thermodinamika adalah cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari perpindahan panas dan
interkonversi panas & kerja dalam berbagai proses fisika dan kimia. Siklus termodinamika terdiri dari
urutan operasi/proses termodinamika, yang berlangsung dengan urutan tertentu, dan kondisi awal
diulangi pada akhir proses. Jika operasi atau proses dilukiskan pada diagram p-v, akan membentuk
lintasan tertutup.
Pengetahuan mengenai siklus termodinamika adalah penting di dalam sistem pembangkit tenaga
(seperti mesin bensin, diesel, turbin gas, dll). Mesin-mesin ini menggunakan campuran bahan bakar
dan udara untuk operasinya. Karena massa bahan bakar yang digunakan sangat kecil bila
dibandingkan dengan massa udara, sehingga campuran diasumsikan mengikuti sifat-sifat gas
sempurna. Jika udara diasumsikan sebagai zat kerja di dalam silinder mesin, siklus disebut siklus
udara.
Asumsi-asumsi pada siklus termodinamika
Analisis pada semua siklus termodinamika (atau siklus udara) didasarkan atas asumsi-asumsi:
Gas di dalam silinder mesin adalah gas sempurna, yaitu mengikuti hukum gas dan kalor
spesifik konstan.
Konstanta fisika gas di dalam silinder mesin adalah sama dengan udara pada temperatur
biasa.
Semua proses kompresi dan ekspansi adalah adiabatik, dan terjadi tanpa adanya gesekan
internal.
Panas diberikan dengan adanya kontak antara gas panas dengan silinder pada tempat tertentu
selama proses. Dengan cara yang sama panas dibuang dengan adanya kontak antara gas
dingin dengan silinder pada tempat tertentu.
Siklus dianggap tertutup, dan udara yang sama digunakan kembali untuk mengulangi siklus.
Tidak ada reaksi kimia terjadi di dalam silinder mesin.





Cabang-cabang Termodinamika

Termodinamika Klassik:
Pandangan transfer energi dan kerja dalam sistem makroskopis, tanpa memperhatikan interaksi dan
gaya antar individual partikel (mikroskopik).

Termodinamika Statistik
Melihat prilaku secara mikroskopik, menjelaskan hubungan energi berdasarkan sifat-sifat statistik dari
sejumlah besar atom/molekul dan bergantung pada implikasi Mekanika Kuantum.

Termodinamika Kimia
Fokus pada transfer energi dalam reaksi Kimia dan kerja pada sistem Kimia.

Termodinamika Teknik
Pemanfaatan Termodinamika pada beberapa mesin panas dan proses-proses yang menyangkut
transfer energi. (Mesin bakar, refrigerator, AC, stasiun tenaga nuklir, sistem pemercepat roket)

Sistem Termodinamika:
Bagian dari semesta (alam) di dalam suatu batasan/lingkup tertentu.






Batasan ini dapat berupa: Padat, cair, gas, koleksi dipol magnet etc. Bisa real atau konsep.

Ditentukan oleh besaran yang secara eksperimen dapat diukur Variabel keadaan atau sifat sistem
Contoh: Tekanan (p), suhu (T), volume (V), magnetisasi, polarisasi

Variabel keadaan yang berbanding lurus dengan massa atau volume besaran ekstensif
Variabel keadaan yang independen dengan massa atau volume besaran intensif
Perbandingan antara besaran ekstensif dengan massa disebut besaran spesifik. (Biasanya
disimbolkan dengan huruf kecil)



Tekanan/P




Sebagaimana di Mekanika, tekanan merupakan gaya persatuan luas.
Satuan tekanan di MKS: 1 N m-2

Satuan lain:
1 bar = 105 N/m2 atau 106 dyne/cm2
1 bar (mikro bar) = 1 dyne/cm2
1 atm= tekanan yang dihasilkan oleh kolom air raksa setinggi 76 cm
= 1,01325105 N/m2
1 Torr = 1 mmHg = 133,3 N m-2

Keseimbangan Termodinamika
Terpenuhi apabila terjadi tiga keseimbangan sekaligus:
Keseimbangan Termal : setelah semua suhu sama pada setiap titik.
Keseimbangan Mekanik : setelah tidak ada lagi gerakan, ekspansi atau kontraksi
Keseimbangan Kimia : setelah semua reaksi kimia berlangsung

Hukum Gerak
Newton telah merumuskan tiga hukum tentang gerak, dimana merupakan dasar asumsi untuk sebuah
sistem dinamis. Ketiga hukum tentang gerak ini dikenal sebagai:
1. Hukum pertama Newton tentang gerak.
2. Hukum kedua Newton tentang gerak.
3. Hukum ketiga Newton tentang gerak.

1. Hukum Pertama Newton
Menyatakan : Setiap benda akan tetap diam atau bergerak secara teratur dalam sebuah garis lurus,
kecuali ada gaya yang bekerja padanya.

2. Hukum Kedua Newton
Menyatakan: Laju perubahan momentum secara langsung berbanding lurus dengan gaya yang bekerja
dan terjadi pada arah yang sama dengan arah gaya yang bekerja.


3. Hukum Newton Ketiga
Menyatakan bahwa setiap aksi, selalu ada reaksi yang sama besarnya dan berlawanan arah.

Massa dan Berat

a. Massa
Adalah jumlah materi yang terkandung pada suatu benda, dan tidak berubah karena perubahan
posisinya di permukaan bumi. Massa benda diukur dengan perbandingan langsung dengan massa
standar dengan menggunakan timbangan.

b. Berat
Adalah jumlah tarikan, dari bumi terhadap suatu benda. Karena besar tarikan berubah karena
perbedaan jarak benda terhadap pusat bumi, maka berat benda juga akan berubah karena perubahan
posisinya di permukaan bumi. Jadi jelas bahwa berat adalah sebuah gaya.

Besar tarikan bumi dalam satuan Metriks, pada level permukaan laut dan lintang 450, telah diambil
sebagai satu satuan gaya dan disebut satu kilogram gaya.Berat benda diukur dengan menggunakan
timbangan pegas, yang akan menunjukkan variasi tarikan pegas jika benda dipindahkan dari satu
tempat ke tempat lain.

Pada satuan CGS, satuan gaya adalah dyne. Satu dyne didefinisikan sebagai gaya, ketika bekerja pada
massa satu gram, akan menghasilkan percepatan sebesar 1 cm/sec2 pada arah gaya yang bekerja
tersebut. Demikian pula dalam satuan MKS atau SI, satuan gaya disebut Newton (disingkat N). Satu
Newton didefinisikan sebagai gaya, ketika bekerja pada massa satu kilogram, akan menghasilkan
percepatan 1 m/sec2 pada arah gaya yang bekerja tersebut.

Satuan Absolut dan Gravitasi dari Gaya
Dari penjelasan diatas, jika sebuah benda bergerak dengan percepatan 9,81 m/sec
2
, gaya yang bekerja
pada benda tersebut adalah 9,81 N. Tetapi kita tahu bahwa massa 1 kg yang mengalami tarikan bumi
dengan percepatan 9,81 m/sec
2
adalah 1 kg-berat.
Sehingga:
1 kg-berat = 9,81 N
dengan cara yang sama:
1 gm-berat = 981 dyne

Satuan gaya diatas yaitu kg-berat dan gm-berat (untuk kemudahan biasanya ditulis hanya kg dan gm)
disebut gravitasi atau satuan ahli teknik tentang gaya, sedangkan Newton dan dyne disebut satuan
absolut atau satuan saintific gaya.

Untuk membedakan satuan massa dengan berat, diperkenalkan massa benda dalam satuan yang baru
yaitu Khurmi, dimana 1 Khurmi adalah massa benda dalam kg dibagi dengan percepatan gravitasi
(g=9,81).

Kerja
Jika sebuah gaya bekerja pada sebuah benda dan benda mengalami perpindahan, dikatakan bahwa
telah dilakukan kerja. Contohnya, jika sebuah gaya F bekerja pada sebuah benda sehingga
menghasilkan perpindahan x pada arah gaya, kemudian kerja yang dilakukan oleh gaya:
W = F . x
Satuan kerja bergantung pada satuan gaya dan perpindahan. Pada sistem MKS, satuan kerja adalah
kilogram-meter (kg-m). Dalam sistem SI, satuan kerja adalah Newtonmeter (N-m).

Daya
Adalah laju kerja atau kerja per satuan waktu. Daya adalah pengukuran kinerja suatu mesin, misalnya:
sebuah mesin melakukan sejumlah kerja dalam satu detik akan dua kali lebih bertenaga dari pada
mesin yang mengerjakan kerja yang sama dalam dua detik. Secara matematik Daya:
Daya = Kerja yang dilakukan Waktu yang digunakan

Dalam sistem Metrik, satuan daya adalah daya kuda yang sama dengan 4500 kg-m per menit atau 75
kg-m per detik. Dalam sistem SI, satuan daya adalah Watt, yaitu sama dengan 1 N-m/s atau 1 J/s.
Umumnya satuan daya yang lebih besar digunakan kilowatt (kW) yaitu sama dengan 1000 W.

2. Kekekalan masa dalam dalam suatu reaksi, kekekalan energi dalam reaksi eksothermis

Energi
Energi didefinisikan sebagai kapasitas untuk melakukan kerja. Energi dijumpai dalam berbagai
bentuk, yaitu: mekanik, listrik, kimia, panas, cahaya dsb. Energi mekanik terdiri dari:
1. Energi potensial.
2. Energi kinetik.
Energi potensial dipunyai oleh benda untuk melakukan kerja karena letaknya,
sedangkan energi kinetik ada karena massa dan kecepatan.


Hukum Kekekalan Massa
Dalam suatu sistem tetutup , total massa yang terdapat dalam sistem tidak pernah berubah.

Jumlah massa sebelum dan sesudah tetap.

Kekekalan Spesies Atom
Jumlah atom dalam sistem tertutup adalah konstan.
Contoh : Reaksi hidrogen dan oksigen menghasilkan air

Jumlah Atom H sebelum reaksi : 2 x 2 = 4
Jumlah Atom H setelah reaksi : 4
Jumlah atom O sebelum da sesudah reaksi = 2

Hukum Kekekalan Energi
Menyatakan bahwa energi tidak bisa dibuat atau dimusnahkan, namun bisa dirubah dari satu bentuk
ke bentuk lainnya.



















2 2
2
1
CO O CO +
O H O H
2 2 2
2 2 +
BAB II
SPESIFIKASI FRAKSI REAKTAN

Fraksi Massa, Y
i
Fraksi Massa zat i didefinisikan sebagai : massa zat i dibagi massa total zat.



Total fraksi massa zat = 1


Contoh :
1. Tentukan fraksi massa metana untuk campuran berikut :
1 kg metana dalam 2 kg udara


2. Tentukan fraksi massa CH
4
dalam campuran berikut :


Fraksi Mol, X
i
Definisi : Fraksi mol zat I merupakan perbandingan jumlah mol zat I terhadap total mol zat.



Dimana total fraksi mol zat =1


Contoh :
1. Tentukan fraksi mol O
2
dalam campuran berikut



2. Udara seringkali diasumsikan terdiri dari 21 % O
2
dan 79 % N
2
(dalam fraksi volume/mol)
maka rumus kimia udara :

Nyatakan fraksi massa O
2
dan N
2
dalam udara :

=
=
N
i
i
i
i
m
m
Y
1
1
1
=

=
N
i
i
Y
33 . 0
3
1
2 1
1
4
= =
+
=
CH
Y
2 2 4
52 . 7 2 N O CH + +

=
=
N
i
i
i
i
n
n
X
1
1
1
=

=
N
i
i
X
2 2 4
52 . 7 2 N O CH + +
19 . 0
52 . 10
2
52 . 7 2 1
2
2
= =
+ +
=
O
X
2 2 2 2
76 . 3 79 . 0 21 . 0 N O N O + = +

=
=
N
i
i i
i i
i
BM n
BM n
Y
1
.
.







Fuel-Oxigen Ratio, F/O
Didefinisikan sebagai perbandingan antara massa bahan bakar dan massa oksida


Contoh :
2H
2
+ O
2

F/O =4/32 = 0.125 =
F/O =4/32 = 0.125 = 12.5 %

F/O Stoichiometric
Didefinisikan sebagai F/O untuk reaksi dengan perbandingan bahan bakar dan oksidator yang ideal
yaitu jumlah oksidator dan bahan bakar dapat bereaksi sempurna tanpa kelebihan zat.
Contoh reaksi stoichiometric:


F/O stoichiometric untuk persamaan diatas adalah :


F/O aktual merupakan perbandingan antara bahan bakar dan oksidator aktualnya.

Rasio ekuivalen, equivalence ratio,
Merupakan perbandingan antara F/O aktual terhadap F/O stoichiometric.


Campuran miskin bahan bakar , 0<<1
Campuran stoichiometric, = 1
Campuran kaya bahan bakar, >1

Suatu campuran bahan bakar-udara memiliki komposisi fraksi massa :
CH
4
= 50 % dan O
2
=50 %
233 . 0
28 76 . 3 32 1
32 1
2
=
+
=
x x
x
Y
O
767 . 0
28 76 . 3 32 1
28 76 . 3
2
=
+
=
x x
x
Y
N
oksida massa
bahanbakar massa
O F

= /
O H CO O CH
2 2 2 4
2 2 + +
333 . 0
2 12 2
1 4 12
/
.
=
+
=
x x
x
O F
st
st
O F
O F
/
/
= |
Tentukan besarnya rasio ekuivalen campuran, nyatakan kodisi campuran tersebut apakah miskin, kaya
bahan bakar atau campuran stoichiometric.


F/O = 50/50 = 1
F/O
st
= 0.333


=1/0.333 > 1 , campuran kaya bahan bakar

AFR, Air-Fuel Ratio
Definisi : merupakan perbandingan antara massa udara terhadap massa bahan bakar


Komposisi udara biasanya 21 % volume O
2
dan 79% volume N
2
dinyatakan sebagai :
O
2
+ 3.76N
2


AFR- Stoichiometric
Rumus umum reaksi stoichiometric bahan-bakar dengan udara :

a = x+y/4
Contoh :



Rasio ekuivalen,
Disamping dapat dinyatakan dalam F/O rasio ekuivalen dapat dinyatakan dalam AFR sebagai
perbandingan AFR stoichiometric dengan AFR aktualnya :
= AFR
st
/AFR
Kondisi campuran :
- miskin bahan bakar , 0<<1
- stoichiometric, = 1
- kaya bahan bakar, >1






O H CO O CH
2 2 2 4
2 2 + +
bakar bahan
udara
m
m
AFR

=
2 2 2 2 2
. 76 . 3 ) 2 / ( ) 76 . 3 ( N a O H y xCO N O a H C
y x
+ + + +
2 2 2 2 2 4
76 . 3 2 ) 76 . 3 ( 2 N O H CO N O CH + + + +
16 . 17
1 4 12
) 28 76 . 3 32 ( 2
=
+
+
=
x
x
AFR
st
BAB III
PANAS HASIL REAKSI PEMBAKARAN

Panas Pembentukan Standart,H
f
0
Definisi :
Panas yang diperlukan ketika satu mol substansi terbentuk dari elemen-elemennya pada
kondisi standart :
T = 298.15 K
P = 1 atm.
Satuan (kcal/mol) atau (kcal).
Kondisi standart elemen2 pembentuknya :
H
2 (g)
; O
2 (g)
; N
2 (g)
(Normal dalam bentuk gas)
Hg
(l)
; (Normal dlm bentuk cair)
C
(s,graphit)
(Normal dlm bentuk padat)

Substansi Hf
0
(kcal/mol)
C(g) 170,89
C(diamond, graphit) 0
CO(g) -26,42
CO2 (g) -94,054
CH4 (g) -17,895
C2H6 (g) -20,236
C2H8 (g) -24,82
H(g) 52100
H2 (g) 0
H2O (g) -57,798
H2O (l) -68,32
NO (g) 21,58

Contoh:
Panas pembentukan CO
2 (g)



Artinya adalah :
Pembentukan CO
2
menghasilkan panas sebesar 94.054 kcal/mol pada kondisi standart.

Reaksi pembentukan H,

mol kcal CO O C
g g s
/ . 054 . 94 . ..........
) ( 2 ) ( 2 ) (
+
kcal H H
g g
. 2 . 104 ..... .......... 2
) ( ) ( 2

Dari tabel panas pembentukan gas H adalah 52.100 cal/mol. Maka untuk 2 mol H yang terbentuk
diperlukan 2 x 52100 cal.

Hukum Thermokimia
Oleh A.L.Lavoisier dan P.S. Laplace (1780) :
Jumlah panas yang dibutuhkan untuk memecah suatu senyawa adalah sama dengan panas
yang dihasilkan dari reaksi pembentukannya.



Contoh soal:
Tentukan panas pembentukan dari reaksi berikut pada kondisi standart :

Diketahui : panas pembentukan CO
2 (g)
adalah -94.05 kcal/g-mol

Dari panas pembentukan standart :



+
- 67.63. kcal/mol










Iterasi 1 dengan tebakan
T
f
awal = t , Maka : T
Cp
= (T
f
+ T
0
)/2 diperoleh harga C
pk

Sehingga didapat nilai T
2
yang menjadi nilai T
f
akhir
T
f
baru = T
f
awal + (T
f
akhir T
f
awal)/2
Iterasi berakhir bila (T
f
akhir T
f
awal) < 0,0001

kcal O H CO O CH
l g g g
. 8 . 212 ..... .......... 2 2
) ( 2 ) ( 2 ) ( 2 ) ( 4
+ +
kcal O CH O H CO
g g l g
. 8 . 212 ... .......... .......... 2 2
) ( 2 ) ( 4 ) ( 2 ) ( 2
+ + +
) ( 2 ) ( 2 ) (
2
1
g g g
CO O CO +
mol kcal O C CO
mol kcal CO O C
/ . 42 . 26 ......... ..........
2
1
/ . 05 . 94 ......... ..........
2
2 2
+ +
+
) ( 2 ) ( 2 ) (
2
1
g g g
CO O CO +
Studi Two Shaft Gas Turbine GT85-2;
Pemodelan ruang bakar Two Shaft Gas Turbine GT85-2 ;
Rancang bangun ruang bakar prototipe Two Shaft Gas Turbine GT85-2 ;
Pengujian dengan variasi udara dan bahan bakar
Simulasi hasil pengujian dengan perangkat lunak;
Analisa hasil simulasi dan melakukan verifikasi terhadap hasil pengujian;































BAB IV
TEMPERATUR NYALA ADIABATIK

Sebuah proses dimana zat kerja tidak menerima atau memberikan kalor kelingkungannya selama
ekspansi atau kompresi disebut proses adiabatik. Ini bisa terjadi apabila zat kerja terisolasi secara
termal. Jadi jelas bahwa proses adiabatik:
1. Tidak ada kalor yang masuk atau keluar dari gas.
2. temperatur gas berubah ketika kerja dilakukan dengan perubahan energi
dalam.
3. perubahan energi dalam sama dengan kerja mekanik yang dilakukan.

Temperatur Adiabatik Nyala.
Diperoleh dari proses pembakaran tanpa adanya penambahan maupun rugi-rugi energi.
Merupakan temperatur maksimum yang mungkin dicapai dalam pembakaran.
Panas yang dihasilkan dari reaksi pembakaran digunakan untuk memanaskan produk
pembakaran
Contoh :
1. Tentukan temperatur nyala adiabatik untuk uap air hasil reaksi gas H
2
dan O
2

Jawab :
2H
2
(g) + O
2
(g) 2H
2
O (g) H
f
o
= 2 x (-57,798) kcal
Artinya reaksi tersebut menghasilkan 115,6 kcal untuk 2 mol H
2
O (g)
Panas reaksi 115.6 kcal digunakan untuk memanaskan produk 2 mol H2O sehingga berlaku
Persamaan 1 :


Cp = Kapasitansi Panas Molar (cal/mole K)
Atau Persamaan 2 :
Dimana H = nilai enthalpi uap air.
Kapasitansi Panas Molar Produk , Cp (kcal/mol. K)
Lihat Tabel 1.4 a-d Kenneth K. Kuo
dT C H
f
T
O H p
o
f
}
= A
298
,
2
2
) ( 2
298 , ,
2 2
K O H T O H
o
f
H H H
f
= A
Contoh : Tabel 1.4 b untuk nilai Cp dari H
2
O (g)
T (K), Cp (kcal/mol T(K) Cp (kcal/mol) T(K) Cp (kcal/mol)
298 8,025 1000 9,861 1800 11,71
400 8,185 1200 10,413 2000 12,01
600 8,677 1400 10,909 2200 12,26
800 9,254 1600 11,34 2400 12,47

Dari tabel tersebut, nilai Cp mengikuti suatu persamaan polinomial yang harus dicari terlebih dahulu
untuk dapat menyelesaikan persamaan 1.
Persamaan 2 memberi alternatif penyelesaian penentuan temperatur adiabatik flame.
Nilai Beda Enthalpi H = H
T
H
o
(cal/mol) untuk berbagai unsur diperlihatkan pada Tabel 1.5 a-f
Kenneth K Kuo
Contoh Tabel 1.5 d untuk H dari H
2
O (g)

T(K) H (cal/mol) T(K) H (cal/mol) T(K) H (cal/mol)
298 2.367,7 700 5.771,5 1200 10.630
300 2.382,0 800 6.689,6 1300 11.679
400 3.194,0 900 7.634,7 1400 12.753
500 4.025,5 1000 8.608,0
600 4.882,2 1100 9.606,3



Dengan menggunakan Persamaan 2, Temperatur adiabatik flame dapat ditentukan sbb:


115,6 kcal = 2 (H
Tf
- H
298 K
)
57.800 cal /mol= H
Tf
- 2.367,7
H
Tf
= 60.167,7 cal / mol
Tabel pada buku Kenneth Kuo tidak mencapai nilai tersebut. Gunakan referensi lain

Stephen R. Turns Tabel A.6 Digunakan untuk menyelesaikan masalah tsb.
115,6 kcal = 2 (H
Tf
- H
298 K
)
Gunakan konversi satuan
1 cal = 4,186 J

241,95 kJ = H
T,f
- H
298 K

T
f
5000 K
Jadi temperatur nyala adiabatik gas H
2
mencapai 5000 K

T (K) H
Tf
-
H298
kJ/kmol
298 0
4800 230.484
4900 236.407
5000 242.343


Dari Hukum Thermodinamika I diperoleh :
2H
P2
- H
R1
= (H
P2
- H
P0
) + (H
P0
- H
R0
) + (H
R0
- H
R1
)
Dimana :
(H
P0
- H
R0
) = h (entalpi pembakaran)




) ( 2
298 , ,
2 2
K O H T O H
o
f
H H H
f
= A
Pada proses nyala adiabatik :
Tekanan konstan (perubahan energy kinetik),
H
P2
- H
R1
= 0
Tidak ada kenaikan suhu pada reaktan sebelum pembakaran,
H
R0
- H
R1
= 0
Maka : H
P2
- H
R1
= (H
P2
- H
P0
) + (H
P0
- H
R0
) + (H
R0
- H
R1
)
Sehingga : H
P2
- H
R0
= - h






























BAB V
SIFAT ISIK BAHAN BAKAR FOSIL

Bahan Bakar Organik /Fosil :
Terbentuk melalui proses fosilisasi dari bahan-bahan organic, dibawah tanah.
Kandungan unsur utama adalah Karbon dan hydrogen terkadang mengandung sedikit oksigen,
sulfur, merkuri dan mineral lainnya
Bentuk Fisik
Padat : - Batubara, Kokas (Coke)
Cair : - Minyak bumi
Gas : - Gas alam
- Gas Elpiji (LPG, Liquiefied Petrolleum Gas)
Hasil samping pengolahan minyak bumi

Batubara, Coal ( fossilized vegetations)
Terdiri dari :
Karbon + Hidrogen (CH
m
, m <1)
Sulfur ( hingga 10 % massa)
Nitrogen
Ash /abu

Sulfur tidak diharapkan dalam pembakaran, dapat dihilangkan dengan pencucian atau digosok
menggunakan batu gamping.
Dalam fluidized bed combustor, serbuk batubara dicampur batu gamping dan dibakar pada
temperature rendah dengan semburan udara.
Dalam Gasifikasi, pembakaran kaya oksigen dan uap air membentuk synas ( CO + H2).
Desulfurisasi dilakukan sebelum pembakaran atau saat pemisahan gas.

Kokas (Coke)
Dipergunakan dalam proses pengolahan logam pada blast furnaces. Mis peleburan besi. Nama
lain batubara.
Kandungan :
Kadar air 2 3 %
Abu 9 10 %
Panas pembakaran 29.300 kJ/kg

Minyak bumi, OIL
Terdiri dari bermacam macam senyawa organic + hydrogen + Nitrogen + Sulfur.
Kandungan karbon + hydrogen ( CH
m
, 1<m<2)
Minyak ringan (light oil) pada umumnya terdiri dari tiga kelompok hidrokarbon :
Hidrokarbon jenuh, Hidrokarbon tak jenuh dan Resin
1. Hidrokarbon jenuh : Paraffins (normal alkana), C
n
H
2n+2

Bentuk gas : n = 1 4
Bentuk cair n = 5 15
Bentuk padat n > 15
2. Hidrokarbon tak jenuh atau aromatic seperti :
Benzene C
6
H
6

Toluene C
7
H
8

Nephthalene C
10
H
8
.
3. Hidrokarbon berat yang kaya nitrogen, oksigen, sulfur dan vanadium.
Resin
Asphaltenes,

Gas alam
Kandungan terbesar adalah : Metana CH
4
, Ethana C
2
H
6
, kadang-kadang mengandung Propana C
3
H
8

dan Butana C
4
H
8
, dengan sedikit kandungan hidrokarbon yang lebih tinggi , sulfur, oksigen dan CO
2
.
Memerlukan sedikit proses untuk memanfaatkan
nya. Merupakan biogenic gas yang berada di dekat permukaan bumi dan sulit untuk di
eksploitasi.

Elpiji (gas cair)
Terdapat 3 jenis gas elpiji :
1. Comersial Propana : kandungan utama gas Propana C
3
H
8
atau dengan propylene C
3
H
6
( > 93
%)
2. Comersial Butana : Kandungan utama gas Butana C
4
H
10
atau Butilenes C
4
H
8
( > 93 %)
3. Campuran Propana dan butana

Persyaratan umum bahan bakar gas :
Kandungan Hidrogen Sulfida < 0.05 g/m
3

Bau gas harus terdeteksi pada kandungan 0.5 % dalam udara.
Tekanan jenuh gas pada T = 45
0
hendaknya sama dengan 0.4 0.5 MPa gage.

Nilai Kalor bawah. LHV
( MJ/kg-fuel)



















Avgas ( Aviation Gasoline)
Bahan Bakar Minyak ini merupakan BBM jenis khusus yang dihasilkan dari fraksi minyak bumi.
Avgas didisain untuk bahan bakar pesawat udara dengan tipe mesin sistem pembakaran dalam
(internal combution), mesin piston dengan sistem pengapian. Performa BBM ini ditentukan dengan
nilai octane number antara nilai dibawah 100 dan juga diatas nilai 100 . Nilai octane jenis Avgas
yang beredar di Indonesia memiliki nilai 100/130.

Avtur (Aviation Turbine)
Bahan Bakar Minyak ini merupakan BBM jenis khusus yang dihasilkan dari fraksi minyak bumi.
Avtur didisain untuk bahan bakar pesawat udara dengan tipe mesin turbin (external combution).
performa atau nilai mutu jenis bahan bakar avtur ditentukan oleh karakteristik kemurnian bahan
bakar, model pembakaran turbin dan daya tahan struktur pada suhu yang rendah.




Bahan bakar komersial LHV (MJ/kg-fuel)
Gas Alam 36 - 42
Gasoline 47.4
Kerosene 46.4
Minyak no. 2 45.5
Minyak no.6 42.5
Anthracite coal 32 - 34
Bituminous coal 28 - 36
Sub bituminous coal 20 - 25
Lignite 14 - 18

Bensin
Jenis Bahan Bakar Minyak Bensin merupakan nama umum untuk beberapa jenis BBM yang
diperuntukkan untuk mesin dengan pembakaran dengan pengapian. Di Indonesia terdapat beberapa
jenis bahan bakar jenis bensin yang memiliki nilai mutu pembakaran berbeda. Nilai mutu jenis BBM
bensin ini dihitung berdasarkan nilai RON (Randon Otcane Number). Berdasarkan RON tersebut
maka BBM bensin dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:

Jenis Bensin
- Premium (RON 88) : Premium adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna
kekuningan yang jernih. Warna kuning tersebut akibat adanya zat pewarna tambahan (dye).
Penggunaan premium pada umumnya adalah untuk bahan bakar kendaraan bermotor
bermesin bensin, seperti : mobil, sepeda motor, motor tempel dan lain-lain. Bahan bakar ini
sering juga disebut motor gasoline atau petrol.
- Pertamax (RON 92) : ditujukan untuk kendaraan yang mempersyaratkan penggunaan bahan
bakar beroktan tinggi dan tanpa timbal (unleaded). Pertamax juga direkomendasikan untuk
kendaraan yang diproduksi diatas tahun 1990 terutama yang telah menggunakan teknologi
setara dengan electronic fuel injection dan catalytic converters.
- Pertamax Plus (RON 95) : Jenis BBM ini telah memenuhi standar performance
International World Wide Fuel Charter (WWFC). Ditujukan untuk kendaraan yang
berteknologi mutakhir yang mempersyaratkan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dan
ramah lingkungan. Pertamax Plus sangat direkomendasikan untuk kendaraan yang memiliki
kompresi ratio > 10,5 dan juga yang menggunakan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI),
Variable Valve Timing Intelligent (VVTI), (VTI), Turbochargers dan catalytic converters.
Minyak Bakar (MFO)
Minyak Bakar bukan merupakan produk hasil destilasi tetapi hasil dari jenis residu yang
berwarna hitam. Minyak jenis ini memiliki tingkat kekentalan yang tinggi dibandingkan
minyak diesel. Pemakaian BBM jenis ini umumnya untuk pembakaran langsung pada industri
besar dan digunakan sebagai bahan bakar untuk steam power station dan beberapa
penggunaan yang dari segi ekonomi lebih murah dengan penggunaan minyak bakar. Minyak
Bakar tidak jauh berbeda dengan Marine Fuel Oil (MFO)

Biodiesel
Jenis Bahan Bakar ini merupakan alternatif bagi bahan bakar diesel berdasar-petroleum dan
terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak nebati atau hewan. Secara kimia, ia merupakan
bahan bakar yang terdiri dari campuran mono-alkyl ester dari rantai panjang asam lemak.
Jenis Produk yang dipasarkan saat ini merupakan produk biodiesel dengan campuran 95
persen diesel petrolium dan mengandung 5 persenCPO yang telah dibentuk menjadi Fatty
Acid Methyl Ester (FAME)
Pertamina Dex
Adalah bahan bakar mesin diesel modern yang telah memenuhi dan mencapai standar emisi
gas buang EURO 2, memiliki angka performa tinggi dengan cetane number 53 keatas,
memiliki kualitas tinggi dengan kandungan sulfur di bawah 300 ppm, jenis BBM ini
direkomendasikan untuk mesin diesel teknologi injeksi terbaru (Diesel Common Rail
System), sehingga pemakaian bahan bakarnya lebih irit dan ekonomis serta menghasilkan
tenaga yang lebih besar.


Definisi Nilai Kalor
HHV (Higher heating value) = GHV (gross heating value) :
Semua air (yang terbentuk + yang sudah ada) berwujud cair
LHV (Lower heating Value) = NHV (net heating value) : semua air berwujud uap
HHV LHV = kalor untuk mencairkan (mengembunkan) uap air yang terbentuk dari
pembakaran.