Anda di halaman 1dari 49

27

BAB IV
PERENCANAAN STRUKTUR ATAP

4.1 Umum
Struktur atap merupakan bagian konstruksi yang
berfungsi sebagai pelindung elemen bangunan yang berada
dibawahnya, baik dari hujan, angin, dan pancaran sinar
matahari secara langsung. Pada bangunan ini atap rangka
baja dimodifikasi menjadi gable frame baja dengan penutup
atap dari metal zinc alumium.
Berdasarkan SNI 1726 pasal 5.2.1, yaitu untuk
semua unsur struktur gedung, baik bagian dari subsistem
maupun sistem struktur gedung harus diperhitungkan
terhadap gempa. Hal ini dapat diabaikan apabila partisipasi
pemikulan pengaruh gempanya kurang dari 10% tetapi tetap
harus direncanakan terhadap simpangan sebesar R/1,6 kali
simpangan akibat pengaruh gempa rencana (SNI 1726 pasal
5.2.2).
Pengaruh gempa akan diperhitngkan pada bab 7,
karena perencanaan dalam bab ini lebih difokuskan
perencanaan atap sebagai beban (struktur sekunder) pada
struktur portal utama.

4.2 Data Perencanaan
Bahan kuda-kuda : Baja Wide Flange ( WF )
Bahan gording atap : Baja Wide Flange ( WF )
Mutu baja BJ 37 : f
y
= 2400 kg/cm ; f
u
= 3700 kg/cm
Jarak miring gording : 1200 mm 1.2 m
Jarak datar gording : 919.25 mm 0.92 m
Jarak penggantung gording : 2400 mm = 2.4 m
Jarak kuda-kuda : 7200 mm = 7.2 m
Kemiringan atap : 40
0

Jenis atap yang digunakan adalah METAL ZINC-
ALUMINIUM dengan data berikut :
- berat ( G ) = 3.16 kg/m
2

28




Gambar 4.1 Rencana Kuda-Kuda Melintang

4.3 Perencanaan Gording



















USUK 5/7
RENG 2/3 -
USUK 5/7
G
O
R
D
IN
G
U
S
U
K
R
E
N
G
G
E
N
T
E
N
G
Ditetapkan : Jenis atap,jarak antar
kuda2&gording, sudut kemiringan,
penutup atap
Perhitungan beban :
- Beban mati
- Beban hidup
- Beban angin
START
Direncanakan : dimensiprofil
A B





























30














Gambar 4.2 Flowchart perencanaan gording

Daftar Notasi :
b
f
: lebar pelat sayap (tabel profil baja)
t
f
: tebal pelat sayap (tabel profil baja)

p
: batas perbandingan lebar terhadap tebal untuk
penampang kompak
(SNI 03-1729-1000, tabel 7.5.1)

r
: batas perbandingan lebar terhadap tebal untuk
penampang tak kompak (SNI 03-1729-1000, tabel 7.5.1)
M
n
: momen nominal profil
M
p
: momen plastis, Mp = Z.fy
M
r
: momen batas, Mr = S (fy-fr)
f
y
: tegangan leleh baja
f
r
: tegangan residu baja
S : modulus penampang elastis (tabel profil baja)
Z : modulus penampang plastis (tabel profil baja)
Lb : panjang bentang antara dua pengekang lateral
L
p
: panjang bentang maksimum untuk balok yang mampu
menerima momen plastis (tabel profil baja)
Kontrol Interaksi :
1 s +
Y
Y
X
X
Mn
Mu
Mn
Mu
| |



FINISH
Y
N

Syarat terpenuhi
B C


L
r
: panjang bentang minimum untuk balok yang
kekuatannya mulai ditentukan oleh momen kritis tekuk torsi
lateral (tabel profil baja)
C
b
: faktor pengali momen, Cb =
3 , 2
3 4 3 5 , 2
max 5 , 12
max
s
+ + +
C B A
M M M M
M

( SNI 03-1729-2000 ps 8.3.1)
M
cr
: momen kritis, nilainya sesuai tabel 8.3.1 SNI 03-1729-
2000
| : faktor reduksi kekuatan balok terhadap momen lentur, |
= 0,9
x : arah x terhadap sumbu lokal penampang profil
y : arah x terhadap sumbu lokal penampang profil

Data perencanaan gording :
Jarak antar kuda-kuda : 6 m
Direncanakan dimensi gording dari profil WF 100 x 50 x 5 x
7 dengan data sbb :
W = 9.3 kg/m i
x
= 3.98 cm
I
x
= 187 cm
4
i
y
= 1.12 cm

I
y
= 14.8 cm
4
Z
x
= 42 cm
3
A = 11.85 cm
2
Zy = 9 cm
3

S
x
= 37.5 cm
3
t
f
= 7 mm
S
y
= 5.91 cm
3
r = 8 mm
t
w
= 5 mm d = 100 mm
b
f
= 50 mm
h = d 2(tf + r) = 100 2(7 + 8) = 70 mm

32

x
Gambar 4.3 Denah Rencana Gording

x

Gambar 4.4 Detail Posisi Gording





2 3 4 5 6 7 8 9
C
B
A
PENGGANTUNG GORDING 12
IKATAN ANGIN 16
GORDING
KUDA-KUDA
kuda-kuda WF 300.150.6,5.9
kuda-kuda WF 150.75.5.7
penggantung gording12



4.3.1 Perhitungan Beban pada Gording
a. Beban mati (q
D
)
1. Berat penutup atap = 1,2 m x 3,16 kg/m
2

= 3,792 kg/m
1

2. Berat gording = 9,300 kg/m
1

= 15 kg/m
= 13,09 kg/m
3. Lain - lain = 10% x 13,09
= 1,31 kg/m +
q
(D)
= 14,4 kg/m

b. Beban hidup pada gording (q
L
) :
- Beban hidup terbagi rata (hujan)
Berdasarkan PPIUG83 Ps.3.2.2a hal 13 :
q
L
= (40 0,8)
= (40 0,8 x 40)
= 8 kg/m
2

q
LH
= 8 kg/m
2
x 1,2 m x cos 40
0

= 7,35 kg/m
- Beban hidup terpusat (P
L
)
Berdasarkan PPIUG83 Ps.3.2.2b hal.13 P
L
= 100 kg
c. Beban angin pada gording
Berdasarkan PPIUG 1983 pasal 4.1, besarnya tekanan
angin ditentukan dengan mengalikan tekanan tiup (w)
dengan koefisien angin (c). Besarnya tekanan tiup angin
menurut PPIUG 1983 pasal 4.2 adalah w = 25 kg/m
2

sedangkan nilai koefisien angin (c) menurut PPIUG 1983
pasal 4.3 adalah sebagai berikut :
34



Gambar 4.5 koef. angin ( PPIUG83 tabel 4.1)

- Koefisien angin tekan
= 40
c = 0,02 0,4 = 0,02 x 40 0,4 = 0,4
q = c x w x b = 0,4 x 25 x 1,2 = 12 kg/m
- Koefisien angin hisap
c = -0.4
q = c x w x b = -0,4 x 25 x 1,2 = -12 kg/m
jika dibandingkan dengan beban tetap (beban mati +
beban hidup), angin hisap ini jauh lebih kecil, sehingga
tidak bisa melawan beban tetap dan tidak perlu
diperhitungkan. Maka tekanan angin tiap m adalah
q
w
= 12 kg/m ( angin hisap menentukan )







0
,
4
0
,
0
2

4
0



S
u
m
b
u

X
S
u
m
b
u

Y
M
x
M
y
P
x
q
x
q
P
y
q
y
4.3.2 Perhitungan Momen Gording












Gambar 4.6 Momen pada Gording

a. Akibat Beban Mati
q
D
= 14,4 kg/m
x
Gambar 4.7 Beban mati merata pada gording
(satuan dalam m)

Momen yang terjadi akibat beban mati :
M
Dx
= 1/8 x q
d
coso x L
2

= 1/8 x 14,4 cos 40
0
x 7,2
2

= 71,49 kg.m
M
Dy
= 1/8 x q
d
sino x ( L/3 )
2

= 1/8 x 14,4 sin 40
0
x ( 7,2/3 )
2

= 6,66 kg.m


29,77 kg/m'
36

b. Akibat Beban Hidup
- Akibat Beban Hujan (M
H
)
q
H
= 7,35 kg/m

Gambar 4.8 Beban hidup akibat hujan pada gording
(satuan dalam m)

Momen yang terjadi akibat beban hidup :
M
Hx
= 1/8 x q
LH
coso x L
2

= 1/8 x 7,35 cos 40
0
x 7,2
2

= 39,71 kg.m
M
Hy
= 1/8 x q
LH
sino x ( L/3 )
2

= 1/8 x 7,35 sin 40
0
x ( 7,2/3 )
2

= 3,4 kg.m

- Akibat beban Hidup Terpusat (M
La
)
P
L
= L
a
= 100 kg

Gambar 4.9 Beban hidup terpusat pada gording
(satuan dalam m)
Maka momen yang terjadi :
M
Lax
= 1/4 x La coso x L
= 1/4 x 100 cos 40
0
x 7,2
= 137,9 kg.m
M
Lay
= 1/4 x La sino x ( L/3 )
= 1/4 x 100 sin 40
0
x (7,2/3 )
= 38,57 kg.m
20,66 kg/m'
100 kg


M
Lax
>M
Hx
Beban La > beban H
M
Lay
>M
Hy
Maka dipakai beban La

c. Akibat Beban Angin Terbagi Rata (M
W
)
q
W
= 12 kg/m

Gambar 4.10 Beban angin tekan pada gording
(satuan dalam m)

M
w1
= 1/8 x q x L
2
= 1/8 x 12 x 7,2
2
= 51,84 kg.m (hisap)

4.3.3 Perhitungan Momen Berfaktor Gording
a. Kombinasi beban mati
M
U
= 1,4 M
D
Tidak menentukan
b. Kombinasi beban mati + beban hidup + beban hidup
pengguna gedung
M
U
= 1,2 M
D
+ 0,5 (M
La
atau M
Ha
) + 1,6 M
L

M
Ux
= (1,2 x 71,49) + (0,5 x 137,9) + 0
= 154,74 kgm Tidak menentukan
M
Uy
= (1,2 x 6,67 ) + (0,5 x 38,57) + 0
= 27,38 kgm Tidak menentukan
c. Kombinasi beban mati + beban hidup + beban angin dan
beban hidup terbagi rata.
M
U
= 1,2 M
D
+ 1,6 (M
La
atau M
Ha
) + (
L
M
La
atau 0,8 M
W
)
M
Ux
= (1,2 x 71,49) + (1,6 x 137,9) + (0,8 x 77,76)
= 368,6 kgm Menentukan
M
Uy
= (1,2 x 6,67) + (1,6 x 38,57) + (0,8 x 0)
= 69,71 kgm Menentukan



11,4 kg/m'
38

4.3.4 Kontrol Profil Gording
a. Kontrol Lokal Buckling :
(Berdasarkan LRFD, Tata Cara Perencanaan Struktur Baja
untuk Bangunan Gedung table 7.5-1 hal 31)
- Kontrol plat sayap :

97 . 10
240
170
571 . 3
7 * 2
50
2
= =
= =
p
t
b
f
f


- Kontrol plat badan :

44 . 108
240
1680
14
5
70
= =
= =
p
t
h
w


Profil yang direncanakan termasuk penampang kompak,
Mn = Mp
Kontrol Lateral Buckling
Jarak antar reng = jarak penahan lateral, Lb = 38.5 cm

cm
f
E
i Lp
y
y
9 . 56
240
10 . 2
. 12 , 1 . 76 , 1
. . 76 , 1
5
=
=
=

Lp > Lb, maka termasuk bentang pendek





P
tf
bf
(
2
P
tw
h
(


Mn
x
= Zx . fy
= 42 . 2400
= 100800 kg.cm = 1008 kg.m
Mn
y
= 0,5 . Zy . fy
= 0,5 . 9 . 2400
= 10800 kg.cm = 108 kg.m

b. Kontrol interaksi

(SNI 1729-03-2002 pasal 7.4.3.3)



Memenuhi

c. Kontrol Lendutan
lendutan ijin
cm
L
f 4
180
720
180
= = =

lendutan yang terjadi

( ) ( )
( )
( )
cm
y
I E
L
P
Ix E
L
q
y f
33 , 0
8 , 14 .
6
10 . 2
3
3
600
. 25 sin 100
.
48
1
8 , 14 .
6
10 . 2
4
3
600
. 25 sin 29777 , 0
.
384
5
.
3
3
. sin
.
48
1
.
4
3
. sin .
384
5
=
+ =
+ =
o o


Ok cm cm
f y f x f
........ .......... 33 . 3 33 . 2
33 , 0 31 . 2
2 2
2 2
< =
+ =
+ =





40

d. Kontrol Geser
Rd = 1/2 x q
d
x L
= 1/2 x 29.777 kg/m x 6 m = 89.33 kg
Rl = 100 kg
Ru = 1,2 . Rd + 1,6 . Rl
= 1,2 . 89.33 + 1,6 . 100
= 267.196 kg
14
5 , 0
7
= =
tw
h
cm
005 . 71
240
1100 1100
= =
fy

plastis
fy
tw
h
... ..........
1100
<

Vn = 0,6 . fy . Aw
= 0,6 . 2400 . 0,5 . 10
= 7200 kg
Vn = 0,9 . 7200 = 6480 kg
Vu < VnOK

Berdasarkan perencanaan gording diatas, maka
profil WF 100x50x5x7 dapat digunakan sebagai gording
karena telah memenuhi semua kriteria perencanaan.













4.4 Perencanaan Penggantung Gording
Seperti kita ketahui bersama, sumbu lemah pada gording
adalah sumbu Y, oleh karena itu pada arah sumbu Y gording
dipasang trekstang ( penggantung gording ). Dalam
perhitungan ini, dipakai 2 penggantung gording dengan jarak
antar penggantung gording 2,12 m seperti pada gambar
dibawah ini.











Pembebanan pada penggantung gording
Beban Mati (DL)
Berat profil gording 100.50.5.7 = 9,3 kg/m
Berat penutup atap = 3,79 kg/m +
q
D
= 13,09 kg/m
Berat lain-lain (10%xq
D
) = 1,309 kg/m
q
D
total = 14,4 kg/m
Gambar 4.16 Penggantung Gording
42

P
D
=

q
D total
x Luas arsiran x sin
= 14,4 x 2,4 x sin 40
o

= 22,22 kg

Beban Hidup (LL) :
Beban pekerja : 100 kg......PPIUG 1983 psl.3.2.2.b
P
L
=

P x sin
= 100 x sin 40
o
= 64,279 kg

P total = P
D
+ P
L
= 22,22 + 64,28 = 86,5 kg
n = 8 buah (banyaknya gording yang dipikul)
N = P total x n
= 86,5 x 8
= 692 kg
o =
o
tg arc 57 , 26
4 , 2
2 , 1
=
Keseimbangan gaya T1
T1 =
o sin
N
=
57 , 26 sin
692
= 1547,09 kg ------leren
Direncanakan Penggantung Gording berbentuk lingkaran
o
o =
A
T1
<
ijin
o
=
A
27 , 991
< 1600 kg/cm
2
A >
ijin
T
o
1

>
1600
27 , 991

> 0,62 cm
2

A = d
2

0,62 cm
2
= d
2



d =
t
A
x 2
=
t
62 , 0
2 x
= 0,88 cm , digunakan = 10 mm
A = d
2
= (1)
2
= 0,78 cm
2
Syarat d
min
=
500
L
(PPBBI 1983 Bab III 3.3.4)
=
500
212 144
2 2
+

= 0.513 cm
Kontrol tegangan
o
o =
A
T
<
ijin
o
=
78 , 0
27 , 991
< 1600 kg/cm
2

= 1262,8 kg/cm
2
< 1600 kg/cm
2

Jadi dipakai penggantung gording 10 mm



Penggantung gording direncanakan dengan satu
penggantung gording tegak yang terletak diantara kuda-kuda.
44


Gambar 4.11 Letak penggantung gording
- Jarak horisontal atap = 8.25 m
- Luas atap = 8.25 x 2 = 16,5 m
2

Beban-beban yang terjadi pada penggantung gording
adalah sebagai berikut :
- Beban mati yang dipikul oleh penggantung gording
Beban mati gording (q
D
= 29,777 kg/m)
R
DL
= q
D
sin x (L/3) x jumlah gording
= 29,777 kg sin 25
0
x (6/3) x 18 = 453,035 kg
- Beban hidup yang dipikul oleh penggantung gording
Berdasarkan PPIUG 1983 pasal 3.2 beban hidup yang
diambil adalah beban hidup yang paling menentukan
diantara dua macam beban dibawah ini :
a. Beban hidup akibat air hujan (H)
Beban hidup gording akibat air hujan, q
H
= 20,666
kg/m
R
LL
= q
H
sin x (L/3) x jumlah gording
= 20,666 sin 25
o
x (6/3) x 18 = 314,42 kg
menentukan



b. Beban hidup akibat beban pekerja
Beban hidup gording akibat beban pekerja, P
L
= 100
kg


Px = PL sin = 100 sin 25
o
= 42,262 kg tidak
menentukan
Jadi beban hidup yang dipakai adalah beban hidup
akibat air hujan sebesar = 314,42Kg.

- Perencanaan gaya dalam :
R
tot
= 1,2 R
DL
+ 1,6 R
LL

= 1,2 x 453,035 + 1,6 x 314,42 = 1046,714 kg
P
u
= R
tot
= 1046,714 kg
Gaya dalam yang diterima penggantung gording terakhir
Tan | = jarak miring gording/(L/3)
= 1,14/(6/3)
| = arc tan (1,14/(L/3)) = 29,68
P
u total
= P
u
/ sin | = 2113,91 kg

- Kontrol leleh berdasarkan SNI 1729-03-2002 pasal 10.1
P
u
= f
y
.A
g

A
g
= P
u
/ f
y
= 2113,91/(0,9x2400) = 0,98 cm
2

menentukan

- Kontrol putus :
Pu = . fu . 0,75 Ag ; dengan = 0.75
A
g
=



= 1,016 cm
2

d =


= 1,137 dipakai 12 mm

- Kontrol kelangsingan :
Jarak penggantung gording = 200 cm
46

Keterangan :
jarak antar
gording adalah
jarak miring
R
b
=


R
b
=

= 230,209 cm
Cek : d > (R
b
/ 500)
1,2 > (230,209 / 500)
1,2 > 0,46 cm memenuhi
Dari data perencanaan diatas, maka besi yang
digunakan sebagai penggantung gording besi polos
berdiameter 12 mm (12).

4.5 Perencanaan Ikatan Angin





Gambar 4.12 Ikatan angin(satuan dalam m)

Perhitungan Beban Ikatan Angin
Data perhitungan
- Tekanan angin (w) = 40 kg/m
2

- Koefisien angin (c) = 0.9
Gaya yang bekerja akibat tiupan angin
R = 0,5 x w x c x A
- Perhitungan tinggi bidang
- h
1
= 0 m
- h
2
= 0 m + ( 1,47 m x tg 25
0
) = 0,69 m
- h
3
= 0 m + ( 2,94 m x tg 25
0
) = 1,37 m
- h
4
= 0 m + ( 4,08 m x tg 25
0
) = 1,9 m
- h
5
= 0 m + ( 5,22 m x tg 25
0
) = 2,43 m
- h
6
= 0 m + ( 6,36 m x tg 25
0
) = 2,97 m

H1
H2
H3
H4
H5
H6
H7
A1
A2
A3
A4


- h
7
=0 m + ( 7,5 m x tg 25
0
) = 3,5 m
- Perhitungan luas bidang
- A
1
= 0,5 x (h
1
+ h
2
) x 1,47 m = 0,51 m
2

- A
2
= 0,5 x (h
2
+ h
4
) x 2,61 m = 3,38 m
2

- A
3
= 0,5 x (h
4
+ h
6
) x 2,28 m = 5,55 m
2

- A
4
= 0,5 x (h
6
+ h
7
) x 1,14 m = 3,69 m
2

- Perhitungan gaya yang bekerja
- R
1
= 0,5 x 40 x 0,9 x 0,51 m
2
= 9,18 kg
- R
2
= 0,5 x 40 x 0,9 x 3,38 m
2
= 60,84 kg
- R
3
= 0,5 x 40 x 0,9 x 5,55 m
2
= 99,9 kg
- R
4
= 0,5 x 40 x 0,9 x 3,69 m
2
= 66,42 kg +
R
A
= 236,34 kg


Gambar 4.13 : gaya-gaya yang bekerja( dalam satuan m)

- Perhitungan beban ikatan angin

0
1 , 26
00 , 6
94 , 2
. = = tg arc o



V = 0 === R
A
= R
1
+ S
1
x cos
S1

48

S1 =

1 , 26 cos
18 , 9 34 , 236

= 252,95 kg tarik



- Dimensi ikatan angin
P
U
= S
1
= 252,95 kg
- Kuat leleh
P
U
= x f
y
x A
g

2
117 , 0
2400 . 9 , 0
95 , 252
.
cm
fy
Pu
Ag = = =


- Kuat putus
Pu = 0,75 x x f
u
x A
g

2
122 , 0
3700 75 , 0 75 , 0
95 , 252
. . 75 , 0
cm
X X fu
Pu
Ag = = =


Dipilih A
g
yang terbesar = 0,122 cm
2

cm
x xAg
d 394 , 0
122 , 0 4 4
= = =
t t

Kontrol Kelangsingan :
500 s
d
l

cm
l
16 , 668
600 294
2 2
=
+ =


d
min
=
500
16 , 668
500
=
l

= 1,33 cm dipakai d 16 mm



oke
d
l
s = = s 500 6 , 417
6 , 1
16 , 668
500
Dari data perencanaan diatas, maka besi yang digunakan
sebagai ikatan angin besi polos berdiameter 16 mm
(16).






























50

4.6 Perencanaan Kuda-Kuda
Diagram alur dari perencanaan kuda-kuda pada
Modifikasi Struktur Gedung Perpustakaan Universitas
Negeri Jember adalah sebagai berikut :


Gambar 4.14 Flowchart perhitungan kuda-kuda




Gambar 4.14 Flowchart perhitungan kuda-kuda (lanjutan)

52




Gambar 4.14 Flowchart perhitungan kuda-kuda (lanjutan)

Daftar Notasi :
b
f
: lebar pelat sayap (tabel profil baja)
t
f
: tebal pelat sayap (tabel profil baja)

p
: batas perbandingan lebar terhadap tebal untuk
penampang kompak
(SNI 03-1729-1000, tabel 7.5.1)

r
: batas perbandingan lebar terhadap tebal untuk
penampang tak kompak (SNI 03-1729-1000, tabel
7.5.1)

c
: parameter kelangsingan batang tekan (SNI 03-1729-
1000 ps 7.6.1)
L
k
: panjang tekuk komponen struktur (SNI 03-1729-1000 ps
7.6)


e : koefisien faktor tekuk (SNI 03-1729-1000 ps 7.6.2)
E : modulus elastisitas baja, E = 200000 Mpa
i : momen inersia profil (tabel profil baja)
A
g
: luas penampang profil (tabel profil baja)
P
n
: Kekuatan tekan nominal profil
M
n
: momen nominal profil
M
p
: momen plastis, Mp = Z.fy
M
r
: momen batas, Mr = S (fy-fr)
f
y
: tegangan leleh baja
f
r
: tegangan residu baja
S : modulus penampang elastis (tabel profil baja)
Z : modulus penampang plastis (tabel profil baja)
L
b
: panjang bentang antara dua pengekang lateral
L
p
: panjang bentang maksimum untuk balok yang mampu
menerima momen plastis (tabel profil baja)
L
r
: panjang bentang minimum untuk balok yang
kekuatannya mulai ditentukan oleh momen kritis tekuk
torsi lateral (tabel profil baja)
C
b
: faktor pengali momen,Cb =

( SNI 03-1729-2000 ps 8.3.1)
M
cr
: momen kritis, nilainya sesuai tabel 8.3.1 SNI
03-1729-2000
| : faktor reduksi kekuatan balok (lentur, | = 0,9 ; tekan | =
0,85)
x : arah x terhadap sumbu lokal penampang profil
y : arah x terhadap sumbu lokal penampang profil
Kontrol interaksi : SNI 03-1729-2000 ps 7.4.3.3

3 , 2
3 4 3 5 , 2
max 5 , 12
max
s
+ + +
C B A
M M M M
M
54


Gambar 4.15 Rencana Atap Baja

Keterangan :
Kuda-kuda penuh menggunakan profil 300.150.6,5.9
Kolom Pendek menggunakan profil 400.400.20.35



4.6.1 Perhitungan Kuda-Kuda

Gambar 4.16 Permodelan Struktur Kuda-kuda penuh
300.150.6,5.9
(satuan dalam m)

2 3 4 5 6 7 8 9
C
B
A
PENGGANTUNG GORDING 12
IKATAN ANGIN 16
GORDING
KUDA-KUDA


Perencanaan kuda-kuda baja menggunakan profil WF
300x150x6,5x9 dengan spesifikasi sebagai berikut:

A = 46,78 cm
2
i
x
= 12,41 cm I
y
= 508 cm
4

g = 36,72 kg/m i
y
= 3,30 cm Z
x
= 522 cm
3

d = 300 mm t
w
= 6,5 mm Z
y
= 104 cm
3

b = 150 mm t
f
= 9 mm S
x
= 481 cm
3

r = 13 mm I
x
= 7210 cm
4
S
y
= 68 cm
3

h = d 2 ( t
f
+ r )
= 300 2 ( 9+ 13 ) = 256 mm


- Pembebanan Kuda-Kuda

Gambar 4.17 Luasan beban yang dipikul satu kuda-kuda
(satuan dalam cm)
Beban Mati yang dipikul oleh kuda-kuda
Beban mati gording,29,777kg/m
Reaksi perletakan
R
A
= R
B
=
=

x 29,777 x 6
= 89,331 kg
Beban pada kuda-kuda akibat beban mati
P
D
= R
A
= 89,331 Kg 90 Kg
2 3 4 5 6 7 8 9
C
B
A
)
2
1
( L x q x
D
~
56

Beban Hidup yang dipikul oleh kuda-kuda
Berdasarkan PPIUG83 ps 3.2, harus diambil yang paling
menentukan diantara dua macam beban berikut :
- Akibat air hujan ( H )
Beban hidup gording akibat hujan, q
H
= 20,66 kg/m
Reaksi perletakan :
R
A
= R
B
=
=

x 20,66 x 6
= 61,98 kg
Beban pada kuda-kuda akibat beban hujan :
P
L
= R
A
= 61,98 62 kg

Beban angin yang dipikul oleh kuda-kuda
- Akibat angin tekan
Beban angin gording akibat angin tekan, q
W1
= 25 kg/m
Reaksi perletakan
R
A
= R
B
=
=

x 25 x 6
= 75 kg
Beban pada kuda-kuda akibat angin tekan :
P
W1
= R
A
= 75 kg 75 kg
- Akibat angin hisap
Beban angin gording akibat angin hisap, q
W2
= -25 kg/m
Reaksi perletakan
R
A
= R
B
=
=

x 25 x 6
= 75 kg
Beban pada kuda-kuda akibat angin hisap :
P
W2
= R
A
= 75 kg 75 kg
)
2
1
( L x q x
H
~
)
2
1
(
1
L x q x
W
~
)
2
1
(
1
L x q x
W
~





Gambar 4.18 Model Pembebanan Kuda-kuda akibat Beban Mati



Gambar 4.19 Model Pembebanan Kuda-kuda akibat Beban
Hidup

8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
8
9
,
3
3
1
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
6
1
,
9
8
58

Gambar 4.20 Model Pembebanan Kuda-kuda akibat Beban Angin
Berdasarkan beban-beban tersebut, maka struktur baja
harus mampu memikul kombinasi pembebanan terfaktor
sesuai dengan syarat SNI 03-1729-2002 Ps.6.2.2, sebagai
berikut :
U = 1,4D tidak menentukan
U = 1,2D + 0,5(La atau Ha)
U = 1,2D + 1,6(La atau Ha) + 0,8W
U = 1,2D + 1,3W + 0,5(La atau Ha)
U = 0,9D (1,3W atau 1,0E)
Maka dipakai kombinasi yang menentukan :
Kombinasi 2 (1,2D + 1,3W + 0,5(La atau Ha))

4.6.2 Kontol Kekuatan Kuda-Kuda
Dari analisa struktur dengan menggunakan program
SAP2000, didapatkan gaya-gaya dalam akibat dari
kombinasi beban (1,2D + 0,5L + 1,3W) yang menentukan
antara lain sebagai berikut :






7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0 7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0
7
5
,
0
0













Gambar 4.21 Diagrammoment akibat beban kombinasi
(1,2D+0,5L+1,3W)



Gambar 4.22 Gaya-gaya dalam akibat beban kombinasi
(1,2D+0,5L+1,3W)
- Kelangsingan Komponen Struktur Kuda-kuda
Berdasarkan SNI 1729 tabel 5.3, didapatkan :
BJ 37 f
u
= 4700 kg/cm
2
; f
y
= 2400 kg/cm
2
; f
r
= 800 kg/cm
2
Dari data perencanaan :
L
x
(panjang sisi miring kuda-kuda)= 827,53cm
L
y
(Jarak ikatan angin) = 251,57 cm
k
c
= 1,0 (jepit jepit bergoyang) SNI 1729, Gambar 7.6.1
didapatkan :


-443,12 kg.m
- 846,7 kg.m
9238,92
60

Kontrol kelangsingan komponen struktur
(SNI 1729 ps 7.6.4)

= 66,683

= 76,233Menentukan
Maka, parameter kelangsingan komponen struktur :

(SNI 1729 ps 7.6.4)


=


= 0,841(SNI 1729 ps 7.6.4)

Sehingga didapatkan koefisien faktor tekuk struktur :

= 0,841 0,25 <

< 1,2 =



= 1,38(SNI 1729 ps 7.6.2)

- Kontrol Kuat Tekan Kuda-kuda
y
n g
f
P A
e
= (SNI 1729 ps 10.1)
P
n
= 46,78 x

= 81356,522 kg
P
u
<| P
n
9238,92kg<0,85 x 81356,522kg= 69153,04 kg ..OK

= 0,13< 2 pakai rumus interaksi ii

+(

) 1,0(SNI 1729 ps 7.4.3.3)







ix
Lk
=


- Kontrol Local Buckling Kuda-kuda
Kontrol plat sayap :
97 . 10
240
170
3 , 8
9 * 2
150
2
= =
= =
p
t
b
f
f



Kontrol plat badan :
44 . 108
240
1680
385 , 39
5 , 6
256
= =
= =
p
t
h
w


Profil yang direncanakan termasuk penampang kompak, Mn =
Mp
Maka, momen nominal kuda-kuda akibat tekuk lokal :
Terhadap sumbu x
M
n
= M
px
= Z
x
.f
y
= 522 x 2400 = 1252800 kgcm =12528 kgm
Terhadap sumbu y
M
n
= M
py
= Z
y
.f
y
= 104 x 2400 =249600 kgcm = 2496 kgm
- Kontrol Lateral Buckling Kuda-kuda
Dari data perencanaan :
L
b
= 251,57 cm (bentang terkekang kuda-kuda)
L
p
= 167,154 cm : L
r
= 496,400 cm (tabel profil baja)
L
p
< L
b
< L
r
bentang menengah, maka :
M
n
= (SNI 1729 ps 8.3.4)
Dari hasil perhitungan SAP akibat (1,2D+0,5L+1,3W) :
Mmax = - 1764,39 kgm
M
A
= -443,12kgm
M
B
= - 141,02 kgm
M
C
= - 846,7 kgm
( )
p
P R
b R
R P R b
M
L L
L L
M M M C s
(

+
P
tf
bf
(
2
P
tw
h
(
62


C
b =

2,3 (SNI 1729 ps 8.3.1)


=


2,3
= 2,494
Maka dipakai C
b
= 2,494
Maka, momen nominal kuda-kuda akibat tekuk lateral :
M
p
=Z
x
* f
y
= 522 x 2400 = 1252800 kgcm =12528 kgm
M
R
= S
x
* (f
y
f
r
)
= 481 * (2400-800)
= 769600 Kgcm = 7696 Kgm
M
n
= C
b
*


=2,494*

+12528Kgm
= 28155,051 12528Kgm
Mn > Mp maka dipakai Mn = Mpx = 12528 kgm

- Kontrol Interaksi Kuda-kuda
Kontrol Interaksi Tekan dan Momen Lentur untuk Beban
Gravitasi :

+(

) 1,0(SNI 1729 ps 7.4.3.3)

+(

)
0,29 1,0 OK!

- Kontrol Geser
Kuat geser balok kuda-kuda pada perbandingan antara tinggi
bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw)


39,38 71,00
V
n
= 0,6 . f
y
. A
w
= 0,6 . 2400 . (25,6 . 0,65) = 23961,6 kg



Syarat :
.V
n
V
u

0,9 . 23961,6 = 21565,44 kg V
u
= 1249,33 kg ..... memenuhi

- Kontrol Lendutan Kuda-Kuda
Lendutan ijin
ijin
= L/240 = 827,53 / 240 = 3,45 cm
Lendutan maksimum yang terjadi :


* [

]
Dimana :
M
s
= Momen tengah bentang
M
a
= Momen ujung terkecil
M
b
= Momen ujung terbesar

Berdasarkan analisa struktur dengan SAP2000 akibat
kombinasi beban (1D+1L) didapatkan :
M
s
= 75905 kg cm
M
a
= 141492 kg cm
M
b
= 160263 kg cm
Sehingga lendutan maksimum yang terjadi :

* [
]
=0,0023 cm <

= 3,45 cm

Berdasarkan dari analisa struktur kuda-kuda maka profil
WF 300x150x6,5x9 bisa dipakai sebagai kuda-kuda karena
telah memenuhi persyaratan.








64

4
0
A
B
4.7 Kontrol Sambungan Kuda-kuda
4.7.1 Sambungan A










Gambar 4.22TipeSambungan Kuda-kuda

Gambar 4.23 Detail rencana sambungan A kuda-kuda

Dari SAP2000 diperoleh :
P
u
= 2880,91 kg
V
u
= 1181,74 kg
M
u
= 134531,96 kgcm

- Gaya-gaya yang diterima sambungan :

= 2880,91.sin 25 + 1181,74.cos 25 = 2287,64 kg

o o cos . sin .
u u uv
V P P + =
25
0



= 2880,91.cos25 + 1181,74.sin25 = 3110,42 kg
M
u
= 134531,96 kgcm

- Kontrol kekuatan las sambungan A
Direncanakan :
Profil baja BJ 37
t
pelat
= 12 mm
Ditentukan :
Bahan las = F
E70XX
= 70 ksi = (70 x 70,3) = 4921 kg/cm
2


Batasan tebal las :

a
min
= 3 mm (SNI 1729 Tabel 13.5-1)

a
eff maks
(las badan) = 0,707 *


= 0,707 *


= 2,66 mm 3mm
a
eff maks
(las sayap) = 1,410 *


= 1,410 *


= 8,48 mm 9 mm

Menentukan Section Modulus Las :









Gambar 4.24 Garis berat sambungan tipe A
o o sin . cos .
u u uh
V P P + =
a
te
66

Misal t
e
= 1 cm
A
las
= 8 (7 x 1) + 2 (17,4 x 1) + 2 (25,6 x 1) = 142 cm
2

Y
B
=
= 24 cm
Y
A
= 43,2 24 = 24,2 cm > Y
B
Y
A
= ( Y
max
)
I
X
=



Ix = 22818,72 cm
4
.

Didapatkan section modulus las :
3
max
22818, 72
942, 92 cm
24, 2
x
x
I
s
y
= = =

Tegangan yang dipikul las :
f
v
=


=16,11 kg/cm
2

f
h
=


= 164,58 kg/cm
2

f
total
=


= 165,58 kg/cm
2



((2 7) 0, 9) ((2 17, 4) 9, 5) ((2 6) 18, 2)
142
+ +
((2 7) 19) ((2 25, 6) 30, 7) ((2 7) 42, 4)
142
+ + +
3 3 3
1 1 1
8( 7 1 ) 2( 1 17, 4 ) 2( 1 25, 6 )
12 12 12
+ +
2 2
2(( 7 1) (21 0,8) ) 2((1 17, 4) (21 9, 5) ) + +
) ) 19 21 ( ) 1 6 (( 2 ) ) 4 , 17 21 ( ) 1 6 (( 2
2 2
+ +
) ) 21 4 , 42 ( ) 1 6 (( 2 ) ) 21 7 , 30 ( ) 4 , 23 1 (( 2
2 2
+ +


Tegangan nominal las :
f
n
= 0,75 * 0,6 F
E70xx
( SNI 1729 ps. 13.5.3.10 )
= 0,75 * 0,6 * 70 * 70,3= 2214,45 > 165,58 kg/cm
2
Ok

Sehingga :
t
e perlu
=


= 0,075 cm
a
perlu
=


= 0,106 cm = 1,06 mm
min
max
max
< 3 mm
< 5 mm (badan)
< 10 mm (sayap)
perlu
perlu eff
perlu eff
a a
a a
a a
=
=
=


Maka dipakai tebal kaki las = 8 mm

- Kontrol kekuatan baut sambungan A

Gambar 4.25 Jarak titik putar sambungan A


68

Direncanakan menggunakan baut A325 dengan mutu 120 ksi
(f
u
= 120 x 70,3 = 8436 kg/cm
2
) dan diameter baut 16 mm
(A
b
= d
2
= 2,01 cm
2
). Baut tidak pada bidang geser r
1
=
0,5
Jumlah bidang geser ( m ) = 1 buah, Jumlahbaut ( n ) = 10 buah

Kuat Rencana Baut :
Kuat geser baut (V
d
), | R
n
= | . 0,5 . f
u
. m .A
b
(SNI 1729 ps.13.2.2.1) = 0,75 . 0,5 . 8436. 1 . 2,01
= 6358,635 kg
Kuat tumpu baut (R
d
), | R
n
= | . 2,4 . d
b
. t
p
(terkecil) . f
u

(SNI 1729 ps.13.2.2.4) = 0,75 . 2,4 . 1,6 . 1 . 4100
= 11 808 kg
Kuat tarik baut (T
d
), | R
n
= | . 0,75 . f
u
. A
b

(SNI 1729 ps.13.2.2.2) = 0,75 . 0,75 . 8436. 2,01
= 9537,952 kg

Cara Pendekatan Titik Putar
- Kontrol Geser Baut
Akibat Geser Sentris, P
uv
= 2287,64 kg
Jumlah baut, n = 10 buah
Sehingga 1 baut menerima beban (V
u
):
V
u
=

= 228,764 kg < V
d
= 6358,635 kg OK
- Kontrol Tumpu Baut
Akibat Gaya horisontal, P
uh
= 3110,42 kg
Jumlah baut, n = 10 buah
Sehingga 1 baut menerima beban (R
u
):
R
u
=

= 311,042 kg <R
d
= 11 808 kg OK
- Kontrol Kuat Tarik Baut
Akibat Momen, M
u
=134531,96 kg cm
T
u max
=


= 5541,138 kg < T
d
9537,952 kg OK


- Kontrol Interaksi Geser dan Puntir
Tegangan geser baut :
F
uv
=

< x 0,5 x f
u
x m ( SNI 1729 ps 13.2.2.3 )
F
uv
=

=113,813

< 0,5*8436*2=6327

OK
Sehingga pakai f
uv
= 113,813


Tegangan tarik baut akibat interaksi geser :

f
t
= ( 1,3 * 8436 1,5 * 113,813 )
= 10796,0805 kg/cm
2
>f
u
b
Sehingga pakai f
t
= 10796,0805kg/cm
2

Kuat tarik baut akibat interaksi geser dan puntir :
(SNI 1729 ps 13.2.2.3)
= 0,75 x 10796,0805 x 2,01
=16275,09135 kg>5541,138 kg
Berdasarkan hasil perencanaan maka baut A325 mutu 120 ksi
dapat dipakai sebagai sambungan.

4.7.2 Sambungan B :

Gambar 4.26 Detail rencana sambungan B kuda-kuda
( )
b
u uv
b
u t
f f f f s = 5 , 1 3 , 1
max u t d
T Ab ft T > = |
70

Berdasarkan SNI 1729-2002 psl 15.5.2, kuat perlu
sambungan dan komponen struktur yang terkait ditentukan
berdasarkan tegangan leleh yang dapat terjadi yaitu f
ye
= R
y
x
f
y
dimana R
y
adalah 1,5 bila digunakan BJ 41 atau yang lebih
lunak. Sehingga diperoleh perhitungan sebagai berikut :
Balok Rafter : WF 300 150 6,5 9
Kolom : WF 400.400.20.35
BJ-37 : fy = 2400 kg/cm
2

fu = 3700 kg/cm
2

Sambungan antara balok dengan kolom direncanakan
dengan menggunakan baut (rigid connection). Berdasarkan
SNI 1729-2002 psl 15.7.2.3, gaya geser terfaktor (V
u
) harus
menggunakan kombinasi beban 1,2 D + 0,5 L ditambah
dengan gaya geser yang di hasilkan dari bekerjanya momen
lentur sebesar 1,1 R
y
f
y
Z pada arah berlawanan pada masing-
masing ujung balok.
R
y
untuk BJ 37 = 1,5
M
u
= 1,1 x 1,5 x 2400 x 522 = 2 067 120 kg.cm


Gambar 4.27 Gaya Yang Bekerja Pada Balok


= 4995,879 kg





Mu Mu
L
A
B



V
u
= 1008,475 kg m (diperoleh dari SAP kombinasi
1,2D+1,6L)
V
u
= 1008,475 + 4995,879 = 6004,345 kg

- Kontrol kekuatan las sambungan B
Direncanakan : (trial)
Profil baja BJ 37
t
pelat
= 12 mm
Ditentukan :
Bahan las = F
E70XX
= 70 ksi = (70 x 70,3) = 4921 kg/cm
2

Batasan tebal las :
a
min
= 3 mm (SNI 1729 Tabel 13.5-1)



a
eff maks
(las badan) = 0,707 *

* t
w

= 0,707 *

* 5
= 2,658 mm 3 mm
a
eff maks
(las sayap) = 1,410 *

* t
f

= 1,410 *

* 8
= 8,48 mm 9 mm
Menentukan Section Modulus Las :








Gambar 4.28 Garis berat sambungan tipe A
a
te
72

Misal t
e
= 1 cm
A
las
= 8 (7 x 1) + 2 (17,4 x 1) + 2 (25,6 x 1) = 142 cm
2

Y
B
=
= 24 cm
Y
A
= 43,2 24 = 24,2 cm > Y
B
Y
A
= ( Y
max
)
I
X
=



= 22818,72 cm
4
.

Didapatkan section modulus las :
S
X
= 1054,95 cm
3

Tegangan yang dipikul las :
f
v
=


= 42,284 kg/cm
2

f
h
=


= 2001,75 kg/cm
2

f
total
=


= 2002,196 kg/cm
2




((2 7) 0, 9) ((2 17, 4) 9, 5) ((2 6) 18, 2)
142
+ +
((2 7) 19) ((2 25, 6) 30, 7) ((2 7) 42, 4)
142
+ + +
3 3 3
1 1 1
8( 7 1 ) 2( 1 17, 4 ) 2( 1 25, 6 )
12 12 12
+ +
2 2
2(( 7 1) (21 0,8) ) 2((1 17, 4) (21 9, 5) ) + +
) ) 19 21 ( ) 1 6 (( 2 ) ) 4 , 17 21 ( ) 1 6 (( 2
2 2
+ +
) ) 21 4 , 42 ( ) 1 6 (( 2 ) ) 21 7 , 30 ( ) 4 , 23 1 (( 2
2 2
+ +
=
maks
X
Y
I
25318,72
24
=


Tegangan nominal las :
f
n
= 0,75 * 0,6 * F
E70xx
( SNI 1729 ps. 13.5.3.10 )
= 0,75 * 0,6 * 70 * 70,3 = 2214,45 > 2002,196 kg/cm
2
Ok

Sehingga :
t
e perlu
=


= 0,9039 cm

Maka dipakai tebal kaki las =8 mm

- Kontrol Sambungan Baut

Gambar 4.29 Jarak titik putar sambungan B


a
eff maks
= 3 mm ( badan )
a
eff maks
= 9 mm ( sayap )


74

Direncanakan menggunakan baut A325 dengan mutu 120 ksi
(f
u
= 120 x 70,3 = 8436 kg/cm
2
) dan diameter baut 16 mm
(A
b
= d
2
= 2,01 cm
2
). Baut tidak pada bidang geser r
1
=
0,5
Jumlah bidang geser ( m ) = 1 buah
Jumlah baut ( n ) = 10 buah

Kuat Rencana Baut :
Kuat geser baut (V
d
), | R
n
= | . 0,5 . f
u
. m .A
b

(SNI 1729 ps.13.2.2.1) = 0,75 . 0,5 . 8436. 1 . 2,01
= 6358,635 kg
Kuat tumpu baut (R
d
), | R
n
= | . 2,4 . d
b
. t
p
(terkecil) . f
u

(SNI 1729 ps.13.2.2.4) = 0,75 . 2,4 . 1,6 . 1 . 3700
= 10656 kg


Kuat tarik baut (T
d
), | R
n
= | . 0,75 . f
u
. A
b

(SNI 1729 ps.13.2.2.2) = 0,75 . 0,75 . 8436. 2,01
= 9537,952 kg
Cara Pendekatan Titik Putar
- Kontrol Geser Baut
Akibat Geser Sentris, P
uv
= 6004,345 kg
Jumlah baut, n = 10 buah
Sehingga 1 baut menerima beban (V
u
):
V
u
=


= 600,4345 kg V
d
= 6358,635 kg OK

- Kontrol Kuat Tarik Baut
Akibat Momen, M
u
= 2 067 120 kg.cm
T
u max
=


= 8519,096 kg < T
d
ulir = 9537,952 kg OK


- Kontrol Interaksi Geser dan Puntir
Tegangan geser baut :
Tegangan geser baut :
F
uv
=

< x 0,5 x f
u
x m ( SNI 1729 ps 13.2.2.3 )
F
uv
=

= 298,72 kg/cm
2
< 0,5 * 8436 * 2 = 6327
kg/cm
2
OK
Sehingga pakai f
uv
= 298,72 kg/cm
2

Tegangan tarik baut akibat interaksi geser :

f
t
= ( 1,3 * 8436 1,5 * 298,72)
= 10518,72 kg/cm
2
> f
u
b
= 8436 kg/cm
2

Sehingga pakai f
t
= 10518,72 kg/cm
2

Kuat tarik baut akibat interaksi geser dan puntir :
(SNI 1729 ps 13.2.2.3)
= 0,75 x 10518,72 x 2,01
=15856,97 kg > 8519,096kg
Berdasarkan hasil perencanaan maka baut A325 mutu 120
ksi dapat dipakai sebagai sambungan.


( )
b
u uv
b
u t
f f f f s = 5 , 1 3 , 1
max u t d
T Ab ft T > = |