Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang. Geologi Minyak dan Gas Bumi (GMB) adalah salah satu cabang ilmu geologi untuk

mengetahui keberadaan minyak dan gas bumi di bawah permukaan bumi, kemudian mengeksplorasi dan memproduksinya. Terdapat dua teori mengenai keberadaan minyak bumi, yaitu teori organik dan anorganik. Teori organik menyatakan bahwa minyak dan gas bumi terbentuk oleh sisa-sisa organisme yang sudah mati berjuta-juta tahun yang lalu. Sedangkan teori anorganik menyatakan minyak dan gas bumi dihasilkan bukan dari bahan organik. Korelasi merupakan tahapan analisis setelah analisa log, dengan mengetahui data beberapa sumur secara kualitatif saja, dapat dilakukan korelasi untuk mengetahui sebaran litologi dan atau stratigrafi serta struktur yang terdapat pada penampang (data log) tersebut. Korelasi sendiri adalah menghubungkan titik dengan titik lain pada penampang (data log), dimana titik tersebut terletak pada bidang perlapisan yang sama.

I.2.

Maksud dan Tujuan Praktikum mengenai korelasi ini merupakan salah satu kegiatan praktikum dari

beberapa praktikum geologi minyak bumi. Praktikum yang dilakukan di lab sedimentografi teknik geologi ini, dimaksudkan untuk memperkenalkan kepada praktikan mengenai dasar, pemahaman, dan langkah dalam korelasi data penampang. Tujuan dari praktikum geologi minyak bumi, dalam hal ini adalah korelasi adalah agar praktikan dapat mengetahui keadaan geologi dari penampang well log yang ada. Selain itu agar praktikan dapat lebih memahami bagaimana langkah-langkah dalam korelasi pada data log yang telah ada, dengan tujuan akhir untuk mendapatkan gambaran keadaan geologi berdasarkan litologi dan struktur.

BAB II DASAR TEORI

II.1.

Tinjauan Pustaka Korelasi merupakan suatu pekerjaan menghubungkan titik dengan titik lain pada

penampang, dengan menganggap bahwa titik-titik tersebut terletak pada bidang perlapisan yang sama, dimana bidang perlapisan merupakan bidang kesamaan umur/waktu dan bidang tersebut merupakan dasar penarikan garis korelasi. Tujuan dari korelasi adalah untuk mengetahui/merekonstruksi keadaan suatu daerah dan untuk mengetahui paleografi suatu daerah dengan membuat penampang stratigrafi dan strukturnya. Reservoir adalah suatu tempat terakumulasinya minyak dan gas bumi. Pada umumnya reservoir minyak memiliki karakteristik yang berbeda-beda tergantung dari komposisi, temperature dan tekanan pada tempat dimana terjadi akumulasi hidrokarbon didalamnya. Suatu reservoir minyak biasanya mempunyai tiga unsur utama yaitu adanya batuan reservoir, lapisan penutup dan perangkap. Log kuantitatif lebih menekankan perhitungan dan analisa secara kuantitatif pada lingkungan batuan reservoir, lebih tepatnya sifat-sifat fisik (petrofisik) batuan reservoir. Batuan reservoir umumnya terdiri dari batuan sedimen, yang berupa batupasir dan karbonat (sedimen klastik) serta batuan shale (sedimen non-klastik) atau kadang-kadang vulkanik. Masing-masing batuan tersebut mempunyai

komposisi kimia yang berbeda, demikian juga dengan sifat fisiknya. Pada hakekatnya setiap batuan dapat bertindak sebagai batuan reservoir asal mempunyai kemampuan menyimpan dan menyalurkan minyak bumi. Komponen penyusun batuan serta macam batuannya dapat dilihat pada Gambar 1.

II.2.

Porositas Efektif dan Kejenuhan Air Analisa log secara kuantitatif dilakukan untuk menghitung harga porositas, tingkat

kejenuhan air, tingkat kejenuhan hidrokarbon, dan permeabilitas. Analisa log secara kuantitatif dibedakan pada clean formation dan shaly formation. Pada shaly formation diperlukan perhitungan koreksi porositas dikarenakan kehadiran serpih yang cukup tinggi dalam batuan reservoir. Tujuan utama dari log kuantitatif sebenarnya adalah untuk menghitung porositas efektif dan kejenuhan air.

Porositas Efektif (e) Porositas efektif merupakan fraksi ruang pori yang terdapat pada batuan yang saling berhubungan. Dalam perhitungan porositas beberapa asumsi digunakan yaitu matriks dan fluida. Selain itu pengukuran dilakukan pada zona terinvasi. Perhitungannya adalah sbb; ; t = ; n : dibaca dari log neutron

Pada clean formation; e = t Pada shaly formation; e = e =


( ) ( )

jika fluida gas jika fluida air atau oil

Koreksi porositas pada shaly sand dsh = = dibaca dari log densitas

nsh = n = dibaca dari log neutron dc nc Keterangan ma b f : : densitas matriks batuan (gr/cc) : densitas matriks batuan yang terbaca dari log header (gr/cc) : densitas fluida pada batuan (gr/cc) = d (Vsh x dsh) = n (Vsh x nsh)

Kejenuhan Air ( Sw ) Saturasi adalah jumlah kejenuhan fluida dalam batuan reservoir per satuan volume pori. Kejenuhan air didefinisikan sebagai fraksi dari pori batuan yang mengandung atau diisi oleh air. Perhitungannya adalah sbb; Swn = Keterangan Sw e Rw Rt
( )

: : nilai kejenuhan air : porositas efektif : nilai resistivitas air : nilai resistivitas formasi (dibaca dari harga LLD)

BAB III LANGKAH KERJA DAN ALAT DAN BAHAN

Alat dan Bahan Alat dan bahan yang diperlukan dalam analisa log kuantitatif antara lain adalah: Bolpoint / Pensil Kertas HVS Kalkulator

Langkah Kerja Langkah-langkah dalam melakukan analisa log kuantitatif pada data log yang telah ada adalah sebagai berikut: 1. Data log, pensil, bolpoint, dan kalkulator disiapkan. 2. Kedalaman pada suatu data log yang akan dianalisa secara kuantitatif ditentukan. 3. Pertama, volume shale (VSh) dihitung, untuk mengetahui jenis formasi apakah shaly sand (> 20%) atau clean sand (< 20%) 4. Porositas dihitung, dimulai dari d, porositas total (t), dan porositas efektif (e). 5. Apabila pada formasi shaly sand, ditentukan porositas koreksi terlebih dahulu yang mencakup dsh, nsh, dc, dan nc. 6. Tahanan jenis ditentukan, dimulai dari resistivity mud filtrat (Rmf), resistivity mud filtrat effective (Rmfe), resistivity water formation effective (Rwe), dan resistivity water formation (Rw) baik dari chart maupun ratio. 7. Tingkat kejenuhan air atau water saturation (Sw) pada formasi tersebut dihitung. 8. Terakhir, permeabilitas (K) dan hidrokarbon saturation (Shc) ditentukan.

BAB IV ANALISA DATA DAN INTERPRETASI

Well SED-2, kedalaman 5164 ft GR GR Min GR Max SP LLD MSFL NPHI RHOB BHT Ts Rmf (R1) a = 0,81, DT : 28 API : 10 API : 185 API : -20 mV : 85 : 9 : 0,05 : 2,1 gr/cc : 103 F : 90 F : 0,225 @ 90 F m = 2, n=2 : 5200

dari log header

1. Volume shale

Vsh = 10,28 % (<20%, clean formation/clean sand)

2. Porositas = 0,25 n = 0,05 (dibaca dari log neutron di kedalaman 5164 ft) t =

= 0,15

e = t = 0,15 karena clean sand

3. Resistivity of water (Rw) Cara 1, Rw dari log SP SP = -K x log konstanta (K), Rmfe, dan Rwe dicari Tf = Ts + [( = 90 + [( = 102,91 F ) x Df] ) x 5164]

K = 60 + (0,133 x Tf) = 60 + (0,133 x 102,91) = 73,687

Rmf (R2) @ 102,91 R2 = R1 x ( = 0,225 x ( = 0,1985 Rmf 0,19 @ 102,92 F ( > 0,1m ) Rmfe = 0,85 x Rmf @ formasi (R1) = 0,85 x 0,1985 = 0,1687 ) )

SP = -K x log -20 = -73,687 x log log = 0,271 = shift log 0,271 = 2,11 Rwe = 0,09

Rwe = 0,09 @ 102,92 F , (Rw dicari dari chart standart Rw dari Rwe) Rw = 0.091 @ 102,92 F

Cara 2, Rw dari rasio (pada water zone yang masih satu litologi dengan gas/oil zone) Rw =
( ( ) )

x Rmf @ formasi

Kedalaman 5184 ft LLD : 0,5 m : 103 0 F : 5184 MSFL : 1,8 m BHT Df

konstanta (K) dan Rmf@formasi (R2) dicari Tf = Ts + [( = 90 + [( = 102,960 F ) x Df] ) x 5184]

K = 60 + (0,133 x Tf) = 60 + (0,133 x 102,96) = 73,693 Rmf (R2) @ 102,960 F R2 = R1 x ( = 0,225 x ( = 0,1984 m
( ( ) )

) )

Rw = Rw =

x Rmf @ formasi

x 0.1984 m

Rw = 0.055 m @ 102,96 0 F

4. Saturation of water (Sw) Nilai Sw diambil menggunakan Rw dari log SP Swn = Sw2 =
(

x
)

x = 0,196

Sw =

Shc = 1- Sw = 1 - 0,196 = 0,803

5. Permeabilitas (K) K = [ 250 x = [ 250 x


( )

]2 ]2

= 18,47 mD

Well SED-4, kedalaman 5164 ft GR GR Min GR Max SP LLD MSFL NPHI RHOB BHT Ts Rmf (R1) a = 0,81, DT : 80 API : 10 API : 183 API : -6 mV : 85 : 12 : 0,07 : 2,24 gr/cc : 103 F : 90 F : 0,225 @ 90 F m = 2, n=2 : 5196

dari log header

1. Volume shale

Vsh = 40,4 % (>20%, shaly formation/shaly sand)

2. Porositas = 0,25 n = 0,07 (dibaca dari log neutron di kedalaman 5164 ft) t = Koreksi porositas dsh = = 0,205 = dibaca dari log densitas pada 5164 ft nsh = n = 0,07 (dibaca dari log neutron di kedalaman 5164 ft) dc nc = d (Vsh x dsh) = 0,25 (0,404 x 0,205) = 0,167 = n (Vsh x nsh) = 0,07 (0,404 x 0,07) = 0,041

= 0,16

= 0,12

3. Resistivity of water (Rw) Cara 1, Rw dari log SP SP = -K x log

konstanta (K), Rmfe, dan Rwe dicari Tf = Ts + [( = 90 + [( = 102,91 F ) x Df] ) x 5164]

K = 60 + (0,133 x Tf) = 60 + (0,133 x 102,91) = 73,688

Rmf (R2) @ 102,91 R2 = R1 x ( = 0,225 x ( = 0,1985 Rmf 0,19 @ 102,92 F ( > 0,1m ) Rmfe = 0,85 x Rmf @ formasi (R1) = 0,85 x 0,1985 = 0,1687 ) )

SP = -K x log -6 = -73,688 x log log = 0,0814 = shift log 0,0814 = 1,206 Rwe = 0,13

Rwe = 0,13 @ 102,92 F , (Rw dicari dari chart standart Rw dari Rwe) Rw = 0.155 @ 102,92 F

Cara 2, Rw dari rasio (pada water zone yang masih satu litologi dengan gas/oil zone) Rw =
( ( ) )

x Rmf @ formasi

Kedalaman 5186 ft LLD : 0,5 m : 103 0 F : 5186 MSFL : 1 m BHT Df

konstanta (K) dan Rmf@formasi (R2) dicari Tf = Ts + [( = 90 + [( = 102,9750 F ) x Df] ) x 5186]

K = 60 + (0,133 x Tf) = 60 + (0,133 x 102,975) = 73,695 Rmf (R2) @ 102,9750 F R2 = R1 x ( = 0,225 x ( = 0,1983 m
( ( ) )

) )

Rw = Rw =

x Rmf @ formasi

x 0.1983 m

Rw = 0.099 m @ 102,975 0 F

4. Saturation of water (Sw) Nilai Sw diambil menggunakan Rw dari log SP Swn = Sw2 =
(

x
)

x = 0,34

Sw =

Shc = 1- Sw = 1- 0,34 = 0,66 5. Permeabilitas (K) K = [ 250 x = [ 250 x


( )

]2 ]2

= 1,68 mD

Dari perbandingan perhitungan manual kedua sumur di atas, pada kedalaman yang sama 5164 ft (gas); SED-2 dengan clean formation, memiliki nilai porositas efektif (e) =15%, kejenuhan air (Sw) = 0,196, dan permeabilitas (K) = 18,47 mD, sedangkan pada SED4 dengan shaly formation, memiliki nilai porositas efektif (e) =12%, kejenuhan air (Sw) = 0,34, dan permeabilitas (K) = 1,68 mD. Dilihat dari porositas efektif, keduanya memiliki nilai yang hampir sama, 12%-15% dimana dalam skala porositas dapat dikatakan cukup baik. Sedangkan dari kejenuhan air keduanya memiliki nilai yang relatif rendah atau baik untuk hidrokarbon yaitu dibawah 0,4. Dan untuk permeabilitas, pada sumur SED-2 memiliki nilai yang dikategorikan baik dengan rentang 10-100 mD sedangkan pada sumur SED-4 memiliki nilai yang dikategorikan jelek / ketat (tight) dengan harga dibawah 5 mD. Dari perbandingan keseluruhan (porositas efektif dan kejenuhan air) antara SED-2 dan SED-4; pada sumur SED-2 memiliki porositas efektif pada zona gas 14,5-17%, zona oil 2324%, dan zona water 15-26%. Dan memiliki kejenuhan air pada zona hidrokarbon 0,19-0,36 dan zona water 1. Sedangkan pada sumur SED-4 memiliki porositas efektif pada zona gas 1217,5%, zona oil 21-22%, dan zona water 27%. Dan memiliki kejenuhan air pada zona hidrokarbon 0,17-0,34 dan zona water 1. Dilihat dari keseluruhan, baik nilai porositas efektif dan kejenuhan air kedua sumur hampir sama. Dengan kata lain, kedua sumur masih berada pada suatu lingkungan dengan litologi dan kandungan yang relatif sama. Pada SED-2, zona jenuh hidrokarbon terdapat pada kedalaman 5162 ft 5172 ft (gas) dengan nilai permeabilitas rata-rata 15,75 mD dan pada kedalaman 5172 ft 5180 ft (oil) dengan nilai permeabilitas rata-rata 159,58 mD. Sedangkan pada SED-4, zona jenuh hidrokarbon terdapat pada kedalaman 5164 ft 5172 ft (gas) dengan nilai permeabilitas ratarata 28,21 mD dan pada kedalaman 5172 ft 5184 ft (oil) dengan nilai permeabilitas rata-rata 90,35 mD. Suatu formasi dengan nilai porositas yang tinggi juga harus atau diharapkan memiliki nilai permeabilitas yang bagus pula (>10mD) agar berfungsi sebagai reservoir yang baik,

karena permeabilitas merupakan suatu pintu yang saling menghubungkan antar lubang pori pada batuan, yang berfungsi sebagai tempat perpindahan fluida maupun akumulasi fluida. BAB V KESIMPULAN

Dari hasil analisa pada kedua sumur dapat diperoleh kesimpulan: Pada SED-2 porositas efektif rata-rata formasi gas oil = 14,5% - 17%, = 23% - 24%

water = 15% - 26% kejenuhan air rata-rata formasi HC water = 0,19 - 0,36 = 1 = 15,75 mD = 159,58 mD = 5162 ft 5172 ft = 5172 ft 5180 ft = 12% - 17,5%,

permeabilitas rata-rata formasi gas oi kedalaman zona jenuh HC gas oil Pada SED-4 porositas efektif rata-rata formasi gas oil

= 21% - 22%

water = 27% kejenuhan air rata-rata formasi HC water = 0,17-0,34 = 1 = 28,21 mD = 90,35 mD = 5164 ft 5172 ft = 5172 ft 5184 ft

permeabilitas rata-rata formasi gas oil kedalaman zona jenuh HC gas oil

DAFTAR PUSTAKA

Staf Asisten Praktikum Geologi Minyak dan Gas Bumi, 2012, Panduan Praktikum Geologi Minyak dan Gas Bumi, Lab Sedimentografi, Teknik Geologi, FT UGM Campbell, M., 1973, Petroleum Reservoir Property Evaluation, John M. Campbell and Co. International Institute Ltd., Oklahoma, USA

Heysse D., 1991, Openhole Log Analysis and Formation Evaluation, Haliburton Logging Service, Houston, Texas, USA http://nanangsugiarto.wordpress.com/2008/03/25/dasar-dasar-teknik-reservoir-2/ LAMPIRAN

SED-2

SED-4