Anda di halaman 1dari 2

Kegagalan pasar merupakan argumen utama munculnya intervensi pemerintah.

Kegagalan pasar adalah situasi ketika pasar (private market) tidak berhasil menyediakan produk dan jasa pada tingkat yang optimal (socially-optimal level). Tiga sumber utama kegagalan pasar adalah market power, externallities dan public goods. Perusahaan dan gabungan perusahaan (produsen), memiliki kekuatan pasar untuk mendikte harga; jika hal ini terjadi maka perusahaan / gabungan perusahaan dapat meningkatkan keuntungan-nya secara ekonomis dengan mengurangi keuntungan produsen. Tidak semua kerugian customer bisa diambil oleh produsen, hal ini disebut sebagai consumer deadweight loss. Selain itu, karena produsen pada situasi memiliki kekuatan pasar seperti ini, berproduksi tidak pada minimum unit cost maka menyebabkan terjadinya producer deadweight loss. Kedua kerugian ini (total deadweight loss) akan ditanggung oleh masyarakat dan ini adalah salah satu bentuk kegagalan pasar. Pemerintah dapat mengurangi atau menghilangkan total deadweight loss, dengan menciptakan aturan yang melarang bentuk-bentuk kolaborasi perusahaan untuk memaksakan producer power terhadap harga barang dan jasa. Undang-Undang sejenis Anti Monopoli, lembaga pengawas persaingan usaha adalah upaya untuk membuat perusahaan-perusahaan menjual pada harga dan output yang perfectly-competitif untuk keuntungan bersama. Kegagalan atau ketidak efisienan pasar juga terjadi akibat ekternalitas yaitu kerugian atau keuntungan-keuntungan yang diderita atau dinikmati pelaku ekonomi karena tindakan pelaku ekonomi lain. Pada kasus ekternalitas negatif, maka yang terjadi adalah produk dan jasa tersedia berlebih contohnya adalah polusi lingkungan akibat limbah pabrik. Polusi ini bagaimanapun adalah hasil produksi dan menjadi bagian dari output aktivitas perekonomian, misalnya di daerah perkotaan seperti seputar Dayeuh Kolot Bandung, air diselokan perumahan berwarna polusi tekstil, dan merembes perlahan pada air tanah yang dikonsumsi masyarakat; masih lekang dalam kepala kita kasus konflik rakyat Teluk Buyat Minamata terkait tercemarnya laut akibat tambang emas, dan sebagainya kasus serupa di Indonesia yang cukup banyak. Pada kasus negatif externalitas seperti ini pemerintah dapat mengupayakan dua hal sebagai solusi bersama; yang pertama adalah mengikuti Teorema Coase dimana pihak-pihak swasta melakukan tawar-menawar untuk mengatasi ekternalitas ini dengan alokasi sumber-sumber daya, mereka sendiri yang menyelesaikan masalah eksternalitas ini. Hal ini tidak sepenuhnya ideal bisa terjadi, Pemerintah bisa menfasilitasi terjadinya hal ini. Pendekatan kedua adalah Pemerintah melakukan intervensi langsung masalah eksternalitas ini dengan memanfaatkan regulasi, izin dan pajak. Pajak yang dipakai untuk mengatasi ekternalitas negatif disebut juga sebagai pajak pigovian, sedangkan untuk menyeimbangkan ekternalitas positif, Pemerintah dapat memberikan subsidi.

Pemerintah juga dapat melakukan intervensi pada pasar (private markets) dengan menyediakan barang-barang publik (yang menjadi kebutuhan masyarakat tetapi swasta/masyarakat tidak dapat menyediakanny). Barang publik dibedakan dengan private goods karena dua ciri, ciri pertama adalah barang publik dapat digunakan oleh siapapun, tidak ada batasan bagi siapapun untuk menggunakannya (non-excludability) dan ciri kedua adalah barang publik jika dikonsumsi oleh satu orang maka tidak akan mengurangi ketersediaan barang tersebut untuk digunakan oleh orang yang lain (non-depletability). Karena siapapun dapat menggunakan barang publik maka tidak ada insentif bagi individu untuk membeli barang publik, individu mengandalkan pihak lain untuk menyediakannya. Hal ini disebut sebagai free-rider problem. Untuk mengatasi masalah free-rider ini, Pemerintah menyediakan barang publik untuk masyarakat. Pembiayaan penyediaan ini oleh pemerintah menggunakan dana pajak (levying taxes). Secara umum, penyediaan barang publik ini tidak pada jumlah ekonomis, karena kesulitan untuk betul-betul mendapatkan preferensi yang akurat dari masyarakat atas kebutuhan public goods ini. Dalam prakteknya, penyediaan public goods ini disertai dengan fenomena rentseeking dimana individu atau sekelompok orang, mengupayakan kebijakan Pemerintah untuk mengalihkan producer or consumer surplus kepada kelompok tertentu untuk keuntungan mereka.