Anda di halaman 1dari 10

TEORI RASIONALITAS PILIHANDALAM EKONOMI ISLAM

Latar Belakang Munculnya Istilah Rasionalitas


Istilah rasionalitas muncul berkaitan dengan konsep kelangkaan / scarcity yang dianggap sebagai masalah dasar ekonomi. Masalah dasar ekonomi tersebut (kelangkaan/scarcity) muncul manakala keinginan / wants dan atau kebutuhan / needs tidak dapat terpenuhi oleh sumber daya yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal pelaku ekonomi tersebut. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan kelangkaan /scarcity terjadi karena terbatasnya sumber daya/ barang yang diinginkan dan atau dibutuhkan oleh pelaku ekonomi tersebut. Karena terbatasnya sumber daya / barang yang diinginkan dan atau dibutuhkan oleh pelaku ekonomi, menyebabkan munculnya istilah barang ekonomi / economic goods yaitu : barang yang untuk mendapatkannya, pelaku ekonomi harus mengeluarkan sejumlah pengorbanan, biaya, atau harga untuk mendapatkannya. Lawan dari barang ekonomi adalah barang bebas / free goods. Dari pengertian mengenai barang ekonomi tersebut, maka pelaku ekonomi harus

berhadapan dengan kemungkinan pilihan-pilihan yang harus diambil/ di putuskan utnuk memenuhi keinginannya atau kebutuhannya tersebut. Karena pelaku ekonomi tersebut harus memutuskan / menentukan mana pilihan yang akan diambil dari sekian banyak kemungkinan pilihan yang tersedia, maka pelaku ekonomi harus berpikir / berperilaku secara rasional (masuk akal) di dalam menentukan pilihannya, yang mana pilihan tersebut merupakan pilihan yang terbaik bagi dirinya dari sekian banyak kemungkinan pilihan yang ada. Dasar pemikiran / perilaku tersebut yang dipakai dalam menentukan pilihan terbaik bagi pelaku ekonomi tersebut dinamakan / dikenal dengan istilah : konsep / asumsi rasionalitas.

Dasar Pemikiran Pentingnya Rasionalitas dalam Islam


Mengapa rasionalitas penting dalam Islam? Karena: Setiap pelaku ekonomi Islam bertujuan untuk mendapatkan maslahah. Untuk menghasilkan maslahah, maka kegiatan ekonomi Islam harus diarahkan untuk mencukupi lima jenis kebutuhan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini, untuk mewujudkan kesejahteraan falah. 5 Jenis kebutuhan dasar yang harus tercukupi untuk mencapai maslahah: 1. Kehidupan atau jiwa (al-nafs) Memenuhi kebutuhan jiwa raga (an nafs) sangat penting karena didalam Islam memandang kehidupan yang lebih penting adalah kehidupan setelah dunia (akhirat), dan kebutuhan di akhirat pada hekekatnya tergantung pada perilaku kita di dunia. Karena itu kehidupan di dunia sangat dijunjung tinggi dalam Islam, kita tidak boleh menyerah menghadapi kehidupan di dunia, apalagi sampai melakukan segala sesuatu yang mengancam kehidupan manusia (menimbulkan kematian). Kebutuhan ini contohnya adalah kebutuhan akan kesehatan yang baik, fisik yang prima, pikiran/jiwa yang sehat untuk beraktifitas di dunia ini; semua yang mendukung hal tersebut harus dipenuhi, tidak boleh diabaikan.

2.

Properti atau harta benda (al-mal)

Memenuhi kebutuhan harta material (maal) di dunia sangat penting, karena manusia membutuhkan harta untuk pemenuhan kebutuhan makan, minum, pakaian, rumah, kendaraan, perhiasan, dan benda kebutuhan pelengkap lainnya yang ditakarkan hanya sekadarnya (pas, tidak kurang dan tidak lebih, berada di tengah-tengah wilayah tersebut), serta hampir semua ibadah memerlukan harta, misal : zakat-infak-sedekah, haji, menuntut ilmu, membangun sarana ibadah dan perlengkapannya. Tanpa harta menjalankan kehidupan di dunia sangat susah, termasuk ibadah. 3. Keyakinan (al-din)

Memenuhi kebutuhan keyakinan (al-din) sangat penting, karena al-din atau pedoman tentang kebenaran dalam hidup diwujudkan dalam bentuk agama; maka agama merupakan kebutuhan manusia yang paling penting. Karena kita adalah seorang Muslim, kita meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan diridhai Allah, dan Islam telah mencakup seluruh kehidupan manusia secara komprehensif. Di dalam Islam, semua hal telah diatur, hubungan manusia : dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan alam lingkungan; semua telah diatur. Jadi memenuhi kebutuhan untuk dapat belajar agama Islam secara baik dan benar merupakan kewajiban/hal yang penting; jadi agama bukan hanya dipelajari untuk kepentingan ritual saja, tetapi sebagai kebutuhan untuk menuntun hidup kita menjadi lebih baik di dunia ini. 4. Intelektual (al-aql) Untuk dapat memahami kehidupan sosial masyarakat, alam semesta, dan ayat-ayat didalam AlQuran dan hadits sebagai panduan hidup seorang Muslim, dibutuhkan ilmu pengetahuan (ilm). Untuk memahami ilmu pengetahuan dengan baik, dibutuhkan kemampuan intelektual yang memadai, oleh karena itu kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan intelektual kita sangat disarankan di Islam, seperti di sebuah hadits disebutkan bahwa menuntut ilmu hingga ke liang lahat, menuntut ilmu hingga ke Cina. 5. Keluarga atau keturunan (al-nasl) Untuk menjaga kontinuitas kehidupan terutama eksistensi Islam di dunia ini, maka masalah keturunan dan keluarga (nasl) sangat penting. Islam mengajarkan bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri saja, kita diwajibkan untuk menikah, untuk memiliki keturunan; yang nantinya akan meneruskan apa yang telah kita bangun, apa yang telah kita ajarkan, dll. Jadi dunia Islam mengajarkan untuk membentuk sebuah keluarga, dan pikiran kearah itu harus kita bina sejak kita belum menikah; setelah menikah, pikiran kita arahkan untuk memiliki anak; setelah memiliki anak, pikiran kita arahkan untuk membina keturunan kita agar menjadi generasi sholeh yang lebih baik dari kita sebagai orang tuanya. Jadi Islam mengutamakan kuantitas umat yang makin lama makin banyak dan kualitas umat yang makin lama makin baik. Memenuhi kebutuhan akan semua hal itu sangat penting untuk menjamin eksistensi ajaran Islam di dunia ini dan eksistensi manusia itu sendiri sebagai sebuah generasi yang berlanjut. Kebutuhan dasar tersebut harus terpenuhi bersamaan secara seimbang, jika ada yang tidak terpenuhi atau terpenuhi tidak seimbang dengan yang lain, maka tidak akan tercapai kondisi yang falah (kebahagiaan dunia dan akhirat). Sangat kontras sekali dengan konsep dasar rasionalitas dalam ekonomi konvensional yang bertujuan untuk memaksimumkan kepuasan / utility, atau maksimisasi kepuasan / maximum utility, yang relative tergantung dari individu masing-masing dan selalu berorientasi kepuasan maksimum secara fisik / ragawi yang terikat dengan nafsu duniawi tanpa mempertimbangkan kebutuhan jiwa / batin / rohani dan kebutuhan orang lain, hanya melihat kepentingan / kepuasaan sesaat. Jenis kebutuhan yang harus dipenuhi juga berbeda dengan ekonomi konvensional, dimana ekonomi konvesional memandang untuk mencapai kepuasan diri manusia, manusia harus memenuhi 3

kebutuhan hidupnya, yang baru bisa merasakan puas/bahagia jika kebutuhan akan barang tersebut dipenuhi secara berurutan, yaitu : kebutuhan primer, kemundian kebutuhan sekunder, terakhir kebutuhan tersier (barang-barang mewah).Disini terlihat manusia diarahkan untuk mengikuti hawa nafsunya. Terlihat juga manusia diarahkan untuk berprilaku konsumtif, yang ujungnya diarahkan membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan secara mutlak.

Konsep Dasar Rasionalitas Islami


Terlihat dari pembahasan sebelumnya, bahwa rasionalitas dalam Islam, mengedepankan aspek kebutuhan duniawi dan akhirat secara seimbang, kebutuhan saat ini dan akan datang (akhirat) secara seimbang. Berbeda dengan ekonomi konvensional yang hanya mengedepankan kebutuhan duniawi dan sekarang / sesaat saja. Dalam menentukan pilihan barang mana yang akan kita beli, yang nantinya akan memunculkan permintaan terhadap barang tersebut, harus didasarkan pada kebutuhan (needs) yang sesuai dengan lima jenis kebutuhan dasar yang dibahas sebelumnya. Berbeda dengan ekonomi konvensional yang didasarkan pada keinginan (wants) yang tidak akan ada habisnya karena berkaitan erat dengan nafsu. Karena mengedepankan lima kebutuhan dasar tersebut, maka konsep rasionalitas dalam Islam berkaitan erat dengan nilai-nilai Islami yang berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, yang menyimpang dari dasar tersebut tidak masuk dalam konsep rasionalitas Islami. Konsep ini dipakai (yang didalamnya terdapat standar moral pelaku ekonomi Islam) bukan sebagai bagian dari ilmu ekonomi Islam saja, tapi justru sebagai pilar atau patokan dalam menyusun ekonomi Islam. Konsep Rasionalitas Islam dibangun atas dasar aksioma yang diderivasikan dari ajaran agama Islam yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah. Secara garis besar sebagai berikut: 1. Setiap pelaku ekonomi bertujuan untuk mendapatkan maslahah. 2. Setiap pelaku ekonomi selalu berusaha untuk tidak melakukan kemubaziran (non-wasting) 3. Setiap pelaku ekonomi selalu berusaha untuk meminimumkan risiko (risk of aversion). 4. Setiap pelaku ekonomi selalu dihadapkan pada situasi ketidakpastian. 5. Setiap pelaku ekonomi berusaha untuk melengkapi informasi dalam upaya meminimumkan risiko. Sedangkan di ekonomi konvensional, rasionalitas dibagi berdasarkan jenisnya: 1. Rasionalitas kepentingan pribadi (self interest rationality) yang relative. 2. Present aim rationality, manusia menyesuaikan preferensinya dengan sejumlah aksioma,

preferensi ini harus sesuai dengan aksioma-aksioma tanpa menjadi self interested. Aksiomaaksioma tersebut adalah : A. Kelengkapan (completeness) B. Transivitas (transivity) C. Kontinuitas Ditambah lagi dengan asumsi-asumsi lain tentang preferensi: Kemonotonan yang kuat (strong monotonicity) Local non satiation Konveksitas ketat (strict convexity)

Konsep rasionalitas dalam ekonomi konvensional ini banyak pertentangan dengan kenyataan di lapangan jika didasarkan pada fakta dan rasionalitas Islam. Perbedaan / pertentangan tersebut: Konsep self interest Manusia bebas memilih sesuai dengan kesukaannya, yang dikejar bukan hanya kekayaan, bisa juga persahabatan, cinta, menolong orang lain, tapi bisa juga untuk kepentingan pribadi yang bersifat merugikan orang lain, mengonsumsi barang yang sebenarnya merugikan bagi dirinya, tapi disukai / disenangi oleh dirinya. Dalam rasionalitas Islam, ada standar perilaku / moral dalam menentukan pilihan.

Present-aim rationality Preferensi harus konsisten dengan aksioma-aksioma. Faktanya: ada aksioma yang tidak konsisten, yaitu: kelengkapan. Kelengkapan A lebih disukai daripada B B lebih disukai daripada A A dan B sama-sama disukai Jadi kita bisa memilih A dari B, B dari A, atau sama saja A dan B. Hal ini tidak dipersyaratkan

oleh konsistensi. Transivitas A lebih disukai dari B, B lebih disukai dari C, tentu A lebih disukai dari C, kita wajib memilih A, sesuai dengan konsistensi. Misal: Seorang pria ingin memilih satu gadis dari tiga gadis untuk dijadikan istrinya. Bila memakai standar rasionalitas ekonomi konvensional hanya didasarkan pada aspek duniawi saja, maka kecantikan sebagai dasar pilihan. Skor kecantikan sebagai berikut:

Nama

Nilai Kecantikan

Gadis A

Gadis B

Gadis C

Maka yang dipilih harus A. Pria tersebut menambahkan faktor akhlak sebagai dasar pilihan, dengan rumusan preferensi sebagai berikut: Jika perbedaan nilai akhlak < 2, kecantikan sebagai faktor menentukan. Jika perbedaan nilai aklak 2, akhlak sebagai faktor menentukan. Skor akhlak sebagai berikut:

Nama

Nilai Akhlak 5

Gadis A

Gadis B

Gadis C

Terlihat,

Jika A dan B, memilih A

Jika B dan C, memilih B Jika A dan C, memilih A Pilihan jatuh di C. Melonggarkan persyaratan kontinuitas (untuk kontinuitas) Ada barang-barang yang bukan merupakan permintaan yang kontinu, melainkan diskrit (hanya sesaat saja, Q yang terbentuk hanya Q untuk memenuhi kelangsungan hidup di saat itu saja) misal: daging babi, jika tidak ada makanan lain yang tersedia. Maka Q yang terbentuk, hanya Q untuk mencukupi survival / bertahan hidup saja, tidak ada permintaan yang bersifat kontinu. Kemonotonan yang kuat (strong monotonocity) Lebih banyak lebih baik. Dalam perspektif Islam, lebih banyak tidak selalu berarti lebih baik. Asumsi Strong monotonocity hanya benar jika harus memilih antara X haram dan Y halal. Untuk pilihan barang haram (X atau Y) harus pada titik 0. Lihat tabel di bawah ini: Tipe X Tipe Y Solusi Optimal

X Halal

Y Halal

Pada slope budget line =MRS

X Halal

Y Haram

Y=0

X Haram

Y Halal

X=0

X Haram

Y Haram

Titik Origin (0,0)

Asumsi Strong Monotonocity ini justru di counter oleh Asumsi Local Non Satiation yang mereka buat sendiri; bahwa seseorang dapat selalu berbuat lebih baik sekecil apapun, bahkan bila ia hanya menikmati sedikit perubahan saja dalam keranjang konsumsinya. Disini terlihat, bahwa perbuatan sekecil apapun harus tampak pembalasannya di dunia secara nyata / terlihat jelas, walau hanya sedikit. Disini terlihat, perbuatan / tindakan yang kita lakukan harus terlihat pembalasan secara material / duniawi walau hanya sedikit. Sedangkan dalam perspektif Islam, misal dalam bersedekah / infaq, tidak harus seperti itu, karena kita yakin bahwa pembalasan yang paling utama adalah di akhirat bukan di dunia. Konveksitas Ketat (Strict Convexity) Generalisasi dari asumsi neoklasik tentang diminishing marginal rate of substitution. Konsep ini tercermin dari asumsi mengenai kepuasan mangkuk bakso yang pertama lebih tinggi dari mangkuk kedua, ketiga, dst. Misal juga, seseorang yang memiliki 10 potong roti dan segelas teh manis, mungkin, mau menukarkan 3 potong roti dengan segelas teh manis, berbeda dengan jika kondisi dibalik (1 potong roti dan 10 teh manis), maka ia hanya mau menukarkan secuil roti saja untuk 1 gelas teh manis. Dalam perspektif Islam, pada saat kondisi kedua (satu roti, sepuluh gelas teh manis), kita harus menukarkan bahkan sampai, satu potong roti tersebut, dengan satu gelas teh manis, jika roti tersebut memang lebih dibutuhkan oleh orang lain daripada diri kita sendiri. Mengenai kepuasan pemakaian barang pertama untuk strong monocity lebih tinggi dari barang kedua dst, tidak bertentangan dengan perspektif Islam. Konsep indifference curve dalam ekonomi konvensional, hanya berlaku untuk X dan Y halal. Makin ke kanan makin puas karena alokasi anggaran (budget line) yang lebih besar, konsep

lebih banyak lebih baik dipakai

Jika dirubah

Makin ke kiri, makin puas karena semakin banyak barang halal yang dikonsumsi, semakin sedikit barang haram yang dikonsumsi. Makin banyak barang halal, menambah utility; makin sedikit barang haram, mengurangi dis-utility.