Anda di halaman 1dari 9

1.

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Kemampuan benih untuk menunda perkecambahan sampai waktu dan tempat yang tepat adalah mekanisme pertahanan hidup yang penting dalam tanaman. Dormansi benih diturunkan secara genetik, dan merupakan cara tanaman agar dapat bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya (Coppelad, 1980). Intensitas dormansi dipengaruhi oleh lingkungan selama perkembangan benih. Lamanya (persistensi) dormansi dan mekanisme dormansi berbeda antar spesies, dan antar varietas. Dormansi pada spesies tertentu mengakibatkan benih tidak berkecambah di dalam tanah selama beberapa tahun. Hal ini menjelaskan keberadaan tanaman yang tidak diinginkan (gulma) di lahan pertanian yang ditanami secara rutin (Bradbeer, 1989). 1.2 Tujuan 1. Mengtahui apa yang dimaksud dengan dormansi. 2. Mengtahui macam dormansi. 3. Mengetahui faktor yang mempengaruhi dormansi. 4. Mengtahui jenis dormansi pada benih bayam duri.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bayam duri Menurut Anonymous1 (2012) klasifikasi ilmiah untuk bayam duri ialah : Kingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus : Plantae (Tumbuhan) : Spermatophyta (Menghasilkan benih) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Hamamelidae : Caryophyllales : Amaranthaceae (suku bayam-bayaman) : Amaranthus

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Spesies: Amaranthus spinosus L. Menurut Sastroutomo (1990) klasifikasi ilmiah untuk bayam duri ialah :

2.2 Krokot Menurut Anonymous2 (2012) klasifikasi ilmiah untuk bayam duri ialah : Kingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas : Plantae (Tumbuhan) : Spermatophyta (Menghasilkan benih) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Hamamelidae

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Ordo Famili Genus

: Caryophyllales : Portulacaceae : Portulaca

Spesies: Portulaca oleracea L. Menurut Sastroutomo (1990) klasifikasi ilmiah untuk bayam duri ialah :

2.3 Dormansi dan macam dormansi benih gulma

Dormansi adalah tahap istirahat bagi benih dan merupakan mekanisme benih untuk bertahan hidup guna mencegah agar benih tidak berkecambah saat kondisi tidak memungkinkan untuk bertahan hidup. Dormansinya bersifat innate, induced atau enforced (Bradbeer, 1989; Coppelad, 1980; Widaryanto, 2009). a. Innate Dormansi Dormansi innate menghambat perkecambahan pada saat benih terlepas dari tanaman. Setelah benih terpisah dari tanaman induknya, maka dibutuhkan waktu agar embrio yang belum matang bisa berkembang, sehingga peng-hambat alami agar benih bisa terlepas, atau perbedaan suhu yang ekstrim da-pat memecah lapisan kulit benih yang keras sehingga memungkinkan benih ber-kecambah.

b. Induced Dormansi Induced Dormansi adalah dormansi sementara yang terjadi saat benih mendapatkan suhu panas atau dingin atau dalam kondisi lingkungan lainnya. Hal ini terus berlanjut setelah lingkungan mengalami perubahan dan mence-gah perkecambahan pada waktu yang salah. Seringkali dibutuhkan masa bagi benih untuk berkecambah setelah masak. Embrionya mungkin sudah berkembang sempurna tapi benih tidak akan berkecambah meskipun lapisan kulitnya sudah mengelupas sehingga bisa menyerap air dan oksigen dengan mudah. Ada tidaknya cahaya tidak berpengaruh sama sekali. Terkadang suhu yang sejuk selama beberapa bulan akan mengakhiri masa dormansi ini. Suhu panas mungkin bisa merangsang terjadinya dormansi pada tanaman musim panas seperti Setaria pumila dan Amaranthus spp. Hal ini dapat mencegah benih agar tidak berkecambah di musim gugur. Suhu dingin selama musim gugur dan musim dingin akan menghentikan masa dormansi ini sehingga benih bisa berkecambah di musim semi saat kondisinya benar-benar tepat. Proses ini terjadi secara terbalik pada tanaman tahunan musim dingin. c. Enforced Dormansi Enforced Dormansi disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kurang baik seperti suhu, kelembaban, oksigen, cahaya, dan adanya penghambat 2.4 Faktor yang mempengaruhi dormansi Menurut Coppelad (1980), Sastroutomo (1990) dan Schmidt (2002) faktor yang mempengaruhi dormansi benih ialah : a. Berdasarkan faktor penyebab dormansi 1. Imposed dormancy (quiscence): terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan
2. Imnate dormancy (rest): dormancy yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi

di dalam organ-organ benih itu sendiri b. Berdasarkan mekanisme dormansi di dalam benih

A. Mekanisme fisik Merupakan dormansi yang mekanisme penghambatannya disebabkan oleh organ benih itu sendiri; terbagi menjadi: 1. mekanis : embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik
2. fisik: penyerapan air terganggu karena kulit benih yang impermeabel 3. kimia: bagian benih/buah mengandung zat kimia penghambat

B. Mekanisme fisiologis Merupakan dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan dalam proses fisiologis; terbagi menjadi:

1. photodormancy: proses fisiologis dalam benih terhambat oleh keberadaan

cahaya.
2. immature embryo: proses fisiologis dalam benih terhambat oleh kondisi embrio

yang tidak/belum matang.


3. thermodormancy: proses fisiologis dalam benih terhambat oleh suhu.

c. Berdasarkan bentuk dormansi A. Kulit benih impermeabel terhadap air/O2 Bagian benih yang impermeabel: membran benih, kulit benih, nucellus, pericarp, endocarp Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran. Kulit benih yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit benih ini dapat dilakukan dengan skarifikasi mekanik. Bagian benih yang mengatur masuknya air ke dalam benih: mikrofil, kulit benih, raphe/hilum, strophiole; adapun mekanisme higroskopiknya diatur oleh hilum. Keluar masuknya O2 pada benih disebabkan oleh mekanisme dalam kulit benih. Dormansi karena hambatan keluar masuknya O2 melalui kulit benih ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pemberian larutan kuat.

B. Embrio belum masak (immature embryo) Ketika terjadi abscission (gugurnya buah dari tangkainya), embrio masih belum menyelesaikan tahap perkembangannya. Misal: Gnetum gnemon (melinjo) Embrio belum terdiferensiasi. Embrio secara morfologis sudah berkembang, namun masih butuh waktu untuk mencapai bentuk dan ukuran yang sempurna.

3. METODOLOGI
3.1 Alat

Amplas Cawan petri

: untuk melukai kulit benih bayam duri. : untuk meletakkan benih.

3.2 Bahan

Benih bayam duri Air Kertas merang

: sebagai objek pengamatan. : untuk mengairi objek pengamatan. : untuk media pertumbuhan benih.

3.3 Cara kerja