Anda di halaman 1dari 5

PENGUKURAN LEVEL DI INDUSTRI

Beberapa metode yang telah dikembangkan untuk pengukuran level yang kontinu secara otomatis antara lain adalah : 1. Float dan Cable Instrumen Float dan Cable adalahh mengukur ketinggian level dengan alat yang

menggunakan metode naik dan jatuh dari pelampung pada permukaan level. Mekanisme ini digunakan untuk menghitung variasi level dengan range antara beberapa inci sampai ukuran feet. Float dan cable biasanya digunakan pada tangki terbuka, karena perubahan ketinggian pelampung ini didesain untuk tangki yang bertekanan. Pelampung ini mempunyai keuntungan sebagai simple dan sensitive terhadap perubahan densitas. Turbulance juga dapat menimbulkan masalah pada pengukuran. Teknik float dan cable tidak memberi kemungkinan pada konsep transmitter yang dapat dilakukan oleh teknik lainnya. Float diklasifikasikan dengan tipe dari posisi sensor (reed switch, cable, pot, magnetostrictive dan radar). Keuntungan menggunakan float tidak ada batasan ketinggian tangki, akurasi yang bagus dan harganya relatif murah. Prinsip float dari pengukuran level ini adalah displacer. Teknologi displacer didasarkan pada hukum archimedes. Displacer secara berkala ditempatkan di external cages yang dapt mempengaruhi akurasi jika level pada vessel tidak lurus. 2. Perpindahan Pokok dari teknik perpindahan adalah transmitter gaya yang seimbang. Biasanya digunakan untuk mengukur ketinggian material antara permukaan adatu densitas denagn menggunakan gaya buoyancy pada sebuah displacer di bawah permukaan level. Gaya buoyancy terkonversi dengan adanya gaya seimbang pneumatic atau mekanisme mekanik yang profesional 3-15 Psi, 20-100 kPa, 4-20 mA/dc atau 10-50 mA/dc signal. 3. Head atau Pressure Pengukuran dari kepala atau tekanan untulk menghitung ketinggian merupakan salah satu cara yang banyak digunakan, dimana ketinggian dihitung dengan mengukur tekanan yang banyak dan bervariasi yang merupakan satu dari berbagai teknik yang dipakai saat ini. 4. Capasitance atau Kapasitansi Jika sebuah alat penguji dimasukkan ke dalam sebuah tangki dan pengukur kapasitansi diletakkan diantara alat dan tangki perubahan ukuran dalam tangki akan terjadi kapasitansi dengan level material. Kejadian ini terlihat perbedaan yang jelas antara konstanta dielektrik udara dan material di dalam tangki.

5. Konduktansi Sensor level konduktivitas terdiri dari dua elektroda yang dimasukkan kedalam vessel atau tangki untuk diukur. Ketika level meningkat cukup tinggi untuk memberikan sebuah garis konduksi dari satu elektroda ke elektroda yang lain secara berantai (padatan atau coil) yang berisi energi. Sevcara berantai dapat digunakan untuk alarm atau kontrol, kemudian konduktivitas ada diantara poin kontrol atau alarm control. Material tersebut dapat menjadi konduktor dan tidak akan berbahaya jika terjadi percikan. Level dengan konduktivitas sekalikali dapat ditemukan pada aplikasi proses di pabrik.

PENGUKURAN LEVEL DI INDUSTRI

Konsep Dasar Sistem Satuan Dan Penskalaan Temperatur Pengukuran temperatur dapat dilakukan menggunakan termometer modern dengan penskalaan satuan mengikuti salah satu dari tiga sistem yang paling populer yaitu sistem Fahrenheit, Celsius, dan Kelvin. Kelvin merupakan satuan dasar temperatur yang disepakati sebagai satuan Sistem Internasional dan lazim digunakan dalam pemodelan dan kalkulasi proses industri, sementara Fahrenheit dan Celsius merupakan satuan yang banyak digunakan dalam masalah kesehatan dan lingkungan. Dalam aplikasi sehari-hari, penggunaan sistem skala Celsius sering digunakan. Dalam skala Celsius, 0C menunjuk pada temperatur dimana air membeku dan 100C menunjuk pada temperatur dimana air mulai mendidih pada tekanan permukaan laut. Perbedaan 1 (satu) derajat pada skala Celsius adalah sama dengan perbedaan derajat 1 (satu) skala Kelvin. Yang membedakan keduanya adalah start awal (offset) dari temperatur air membeku, yaitu 0C pada skala Celsius dan 273,15 K pada skala Kelvin. Formula konversi Kelvin dari Celsius adalah sebagai berikut:

Sistem Fahrenheit banyak digunakan di Amerika Serikat. Pada skala Fahrenheit, titik beku air menunjuk pada 32F dan titik didih air pada 212F. Berikut adalah formula untuk konversi dari Fahrenheit ke Celsius :

Selain menggunakan termometer standard, pengukuran temperatur dapat menggunakan sistem yang berbasis sensor untuk mendeteksi panas.

dilakukan

Peneraan Temperatur Dan Kesalahan Pengukuran Dalam dunia industri, pengendalian temperatur proses merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dan kualitas proses. Pengendalian temperatur di industri berkaitan dengan range temperatur dalam proses industri yang bisa sangat tinggi atau ekstrim rendah yang seringkali tidak bisa terukur menggunakan termometer yang biasa digunakan untuk pengukuran sehari-hari atau pada skala laboratorium. Masalah lain yang muncul adalah masalah penempatan termometer yang biasanya tidak begitu diperhatikan serta masalah waktu pengukuran yang relatif singkat dengan frekuensi pengukuran yang cukup tinggi. Dengan demikian, maka diperlukan teknik dan model-model pengukuran khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan industri. Ada beberapa jenis alat pengukur suhu yang bisa dipergunakan dalam industri, yaitu thermocouple, pyrometer, bimetal, platinum resistance, dan thermistor. Masing-masing alat ukur suhu tersebut memiliki prinsip kerja, ketelitian, dan interval suhu yang berbeda. Pengetahuan tentang sifat-sifat serta kinerja suatu alat sangat diperlukan agar hasil pengukuran akurat dan memiliki ketelitian sesuai kebutuhan. Berkaitan dengan ketelitian pengukuran ini, pengurangan kesalahan dalam kalibrasi alat pengukur temperatur memiliki peran yang sangat penting untuk mendapatkan ketelitian yang tinggi. Peneraan temperatur memungkinkan dilakukannya pengukuran ketidakpastian dalam pengukuran temperatur dalam rangka mengoptimalkan sensor dan ketelitian sistem. Ketidakpastian ini bersumber dari berbagai faktor diantaranya toleransi sensor yang biasanya memiliki nilai tertentu tergantung pada spesifikasi pembuat, ketidakakuratan dari pengukuran itu sendiri, dan pengaruh panas yang dihasilkan dari instalasi peralatan. Prosedur peneraan dapat diterapkan pada sensor atau peralatan pengukur secara terpisah atau dengan kombinasi. Dengan peneraan ini, maka standar pengukuran baik nasional maupun internasional dapat diperoleh. Prinsip peneraan adalah dengan cara

menaikkan atau menurunkan skala dari sensor temperatur peralatan ke suatu temperatur referensi yang telah diketahui dengan pasti. Beberapa karakteristik yang penting untuk diperhitungkan dalam peneraan pengukuran adalah kesalahan pengukuran yang mengambarkan perbedaan antara nilai sebenarnya dengan nilai terukur, ketidakpastian yang menggambarkan interval penerimaan dari sistem akibat dari kesalahan komponen, histeresis yang menggambarkan perbedaan resistansi pada

temperatur yang sama tergantung dari arah pencapaian temperatur tersebut, yaitu pengukuran naik dan pengukuran turun yang dapat menyebabkan respon temperatur 5 terukur bisa berbeda untuk temperatur aktual yang sama; dan waktu tanggap (respon) yang menggambarkan waktu yang diperlukan oleh detektor untuk mengirimkan sinyal dalam setiap level perubahan temperatur. Karakteristik yang terakhir ini sangat penting dalam pengukuran dimana proses perubahan temperatur berlangsung sangat singkat namun memerlukan pencatatan historis perubahan yang cukup panjang.

Gambar 1 Kesalahan histeresis pada pengukuran temperatur menggunakan prinsip resistansi bahan.

Sementara itu pengaruh dari waktu respon dalam pengukuran temperatur terhadap hasil pengukuran ditunjukkan dalam Gambar 2. Semakin lambat respon sistem pengukur maka akan berakibat pada semakin besar perbedaan antara temperatur terukur dengan temperatur aktual.

Gambar 2 Pengaruh waktu tanggap yang berbeda terhadap hasil pengukuran temperatur.

Dari gambaran tentang peranan temperatur dan pentingnya pengukuran temperatur dalam proses industri seperti disebutkan di atas, maka studi tentang teknik dan model

pengukuran temperatur merupakan hal yang sangat penting dalam rangka mendapatkan hasil pengukuran yang akurat serta untuk menjamin kualitas produk industri melalui proses yang terkendali. Studi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengeksplorasi teknik dan model pengukuran temperatur menggunakan termometer zat alir, bimetal, thermocouple, 6 platinum resistance thermometer (PRT), thermistor, dan pyrometer. Tak kalah pentingnya adalah peningkatan pemahaman mengenai beberapa sifat statis pengukuran temperatur seperti keseksamaan, linieritas, dan histeresis; serta sifat dinamis pengukuran temperatur.