Anda di halaman 1dari 7

Participatory Rural Appraisal (PRA) merupakan suatu pendekatan dan metode untuk mempelajari kondisi dan kehidupan pedesaan

dari, dengan dan oleh masyarakat desa. Sebelum PRA dikenal, metode yang lebih dulu jamak digunakan adalah Rapid Rural Appraisal (RRA), yang mendominasi kajian-kajian tentang pedesaan. Kata participatory pada pertengahan 1980-an masuk ke dalam kosa kata RRA. Namun ketidakpuasan terhadap metode tersebut membawa pada kemunculan PRA (Participatory Rural Appraisal) pada awal tahun 1990. Kebuntuan RRA dijawab oleh pengembangan metode PRA yang dikawal oleh organisasi non pemerintah, sementara pembaharu RRA adalah universitas. Perkembangan metode PRA pesat terjadi di India sebagai konsekuensi dari adanya ledakan inovasi di berbagai sektor. Secara garis besar PRA memiliki karakteristik yang berbeda dengan RRA di antaranya : PRA adalah sebuah metode analisis perubahan individu dan kelembagaan PRA lebih banyak dilakukan secara partisipatoris PRA sebagai bentuk yang lebih partisipatif artinya warga lokal lebih berperan RRA dimaksudkan sebagai pemahaman orang luar , sedangkan PRA dimaksudkan untuk memungkinkan masyarakat (setempat) menganalisis dirinya sendiri

Perbedaan yang mendasar antara PRA dan RRA adalah PRA menempatkan masyarakat dalam posisi yang setara dengan peneliti yang berfungsi sebagai fasilitator; masyarakat setempat adalah peneliti dalam kegiatan tersebut. Sedangkan RRA menempatkan peneliti sebagai seseorang yang melakukan penyelidikan dan penggalian tentang suatu masalah, di sini masyarakat masih ditempatkan sebagai objek penelitian. Jika merunut pada perjalanan pemikiran yang mendahuluinya, pendekatan PRA dikembangkan dari beberapa kajian seperti : 1. Rapid Rural Appraisal (RRA) 2. Penelitian Partisipatif Radikal Mengarah pada yang serba kekurangan dan pada tindakan politis untuk menghadapi ancaman dari kepentingan kelompok yang telah mapan secara politik maupun profesional 3. Analisis agroekosistem Mengkombinasikan analisis sistem dan sistem kepemilikan (produktivitas, stabilitas, keberlanjutan dan keadilan) dengan analisis pola keruangan (peta dan transect) 4. Antropologi terapan Gagasan bahwa belajar di lapangan merupakan suatu seni yang luwes dan bukan ilmu pengetahuan yang kaku. 5. Penelitian lapang tentang sistem usaha tani Penelitian menunjukkan kompleksitas, kemajemukan dan rasionalitas praktik pertanian yang tampaknya tidak sistematis dan tidak teratur

Kegunaan dan Aplikasi Praktis Pendekatan RRA serta metodenya, digunakan untuk melakukan penilaian, analisis dan penelitian dalam berbagai macam lapangan. Aplikasi PRA dapat dipisahkan kedalam 4 jenis proses serta masuk kedalam 4 sektor utama, sebagai berikut: Empat jenis proses aplikasi PRA : 1. 2. 3. 4. Perencanaan dan penilaian (persetujuan) secara partisipatif Pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi program secara partisipatif Pemeriksaan topik Pelatihan dan orientasi bagi orang luar dan warga desa

Empat sektor utama aplikasi PRA : 1. Pengelolaan Sumber Daya Alam 2. Pertanian 3. Program untuk persamaan 4. Kesehatan dan gizi (sektor di atas merupakan sektor utama berdasar kajian-kajian yang pernah dilakukan, sektor lain juga dapat dikaji melalui PRA) Meski menjadi pembaharu, perkembangan PRA mengalami banyak hambatan baik secara institusional maupun pada praksis implementasinya. Beberapa di antaranya menyebut bahwa peneliti akademik lambat dan jarang mempelajari PRA, sementara organisasi-organisasi gagal memperkenalkan dan hanya sebatas mengadopsi PRA. Namun para praktisi PRA memiliki keyakinan bahwa metode ini akan cepat terdiseminasi mengingat pertumbuhan organisasi pemerintah maupun non pemerintah yang mulai menggunakan metode PRA ini. PRA kemudian dikenali sebagai metode yang dapat diandalkan dalam memberikan analisa mendalam tentang suatu masyarakat. Kekayaan analisa yang diberikan memuat peta, model, matrik sekaligus mampu memberikan penjelasan tentang pengetahuan masyarakat setempat. Keunggulan ini memang dimiliki PRA sebagai hasil dari kolaborasinya dengan RRA dalam menghasilkan data-data angka untuk penilaian. Data-data tersebut antara lain diperoleh melalui : 1. 2. 3. 4. Survei pertanian dan rumah tangga Ranking kesehatan dan kesejahteraan Sensus desa secara partisipatif Data curah hujan

Terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan dalam pendekatan PRA ini, antara lain : 1. Melakukan kajian data sekunder 2. Menetap di desa dan berperilaku selayak warga setempat 3. Membuat model dan peta partisipatif (ruang-ruang ekonomi, sosial dan budaya) 4. Ethno biographies 5. Perencanaan partisipatif Dalam PRA dikenal prinsip Kami mendorong dan membiarkan mereka menjadi dominan, untuk menentukan lebih banyak agenda, untuk mengumpulkan, mengungkapkan, dan menganalisis informasi serta membuat rencana. Kami adalah fasilitator. Implementasi PRA ke dalam berbagai kegiatan yang telah berlangsung bertahun-tahun menunjukkan enam temuan yang dominan, di antaranya : 1. Kecakapan dan pengetahuan warga desa Native yang bekerja merupakan kunci dalam keberhasilan PRA 2. Membangun kedekatan yang berjalan sejak awal proses 3. Pembuatan diagram dan saling berbagi secara visual 4. Rangkaian dan Urutan 5. Pelatihan dan Orientas Ulang bagi Orang Luar 6. Saling berbagi, menyebarkan pengalaman dan pengetahuan Pembalikan dalam Participatory Rural Appraisal Robert Chambers berupaya menyajikan perbedaan karakteristik Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan metode penelitian kuantitatif (survey). Setidaknya, terdapat beberapa dimensi yang digunakan Chambers dalam upayanya membedakan karakteristik PRA dengan survey, antara lain sedari dimensi model penelitian, dominasi/penguasaan informasi, hingga sikap yang ditampilkan peneliti terhadap obyek/subyek1 yang ditelitinya. Salah satu dimensi pembalikan sebagaimana diutarakan Chambers dalam PRA adalah muatan dominasi atau penguasaan informasi dalam metode penelitian terkait. Hal tersebut ditunjukkan dengan terbukanya definisiterutama definisi operasional dalam proses penelitian. Berbeda halnya dengan metode survey yang telah menyusun atau menentukan definisi penelitiannya sendiri atau secara sepihak, PRA berupaya melakukannya bersama-sama dengan masyarakat.

1 Penggunaan istilah obyek/subyek di sini dilakukan guna mengambil jarak antara kedua jenis penelitian yang tengah dikomparasikan. Sebagaimana kita ketahui, istilah obyek mengacu pada format penelitian survey, sedang subyek pada PRA . Pengunaan kedua istilah tersebut secara berdampingan dimaksudkan agar pengkajian terkait tak memiliki tendensi pada salah satu bentuk (model) penelitian di atas.

Dimensi Pembalikan dalam Model Penelitian ITEM METODE Sifat kuesioner Interaksi Tertutup Bersifat kaku Terjadi pembatasan informasi Berlangsung satu arah Entitas individu diutamakan SURVEY Terbuka Fleksibel, memungkinkan diskusi, lebih banyak data yang dapat digali Quid pro quo Individu dan kelompok Penyertaan lewat FGD, penggalian data secara kolektif Penggunaan media visual yg dibuat secara partisipatif sebagai penyeimbang Perbandingan PRA

Aktor

Media

Kuesioner

Cara penghitungan

Penghitungan

Dimensi terakhir, yakni sikap yang ditampilkan peneliti terhadap obyek/subyek yang ditelitinya mengandung pengertian bahwa peneliti PRA syarat menjadi sosok yang menyenangkan bagi obyek/subyek penelitiannya. Penelitian PRA, berbeda halnya dengan survey di mana surveyor lebih kerap memilih diam (pasif) di luar kepentingan penelitiannya, maka sebaliknya dengan peneliti PRA yang dituntut aktif pada obyek/subyek penelitiannya. Realitas Masyarakat sebagai Sumber Pembalikan Terkait serangkaian pembahasan di atas, Robert Chambers menegaskan bahwa sumber dari berbagai bentuk pembalikan dalam PRA ialah realitas masyarakat. Hal tersebut berarti, penelitian PRA mengajak kita untuk memahami realitas sebagaimana masyarakat memahaminya: realitas mereka, bukan realitas kita. Bisa jadi, istilah fenomenologi kolektif merupakan terminus yang tepat guna menggambarkannya. Lebih jauh, pemahaman terkait nantinya menghantarkan pada bentuk-bentuk pilihan permasalahan penelitian, desain, proses, serta hasil penelitian yang dilakukan secara partisipatif antara peneliti dengan masyarakat. Dengan demikian, tak heran jika PRA menempatkan peneliti sebagai fasilitator, sedang masyarakat sebagai aktor di dalamnya.

Berikut adalah bagan karakteristik umum penelitian PRA menurut Fernandes dan kawan-kawan (1993: 10). No. Dimensi 1. Pilihan masalah yang dihadapi Kepemimpinan Partisipatoris Apa: Pilihan ditentukan atas dasar permasalahan yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Siapa: Bersama. Dilakukan oleh para aktor (masyarakat) dengan penggiat LSM. Apa: Berdasarkan konsensus, memanfaatkan instrumen empati serta analisis kompleks. Siapa: Bersama. Dilakukan oleh para aktor (masyarakat) dengan penggiat LSM. Apa: Perubahan situasi, peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat untuk melihat dan merubah situasi mereka. Siapa: Bersama. Dilakukan oleh para aktor (masyarakat) dengan penggiat LSM.

2. Pilihan metode guna menghadapi permasalahan

3.

Pilihan hasil

Kepeloporan, Tantangan dan Potensi Dalam perjalanannya PRA tidak hanya memberikan kontribusi penting terhadap perkembangan metode penelitian partisipatoris, tetapi juga menghadapi tantangan dalam implementasi metodisnya. Selain itu PRA menyimpan potensi yang masih mungkin untuk dikembangkan. Beberapa yang muncul dalam perkembangan PRA antara lain : 1. 2. 3. 4. Penelitian Sistem Usaha Tani Penelitian Kebijakan Peerubahan Tingkah Laku, Sikap dan Pembelajaran Diri Penyebaran dengan jaminan kualitas Dalam strategi RRA dan PRA kualitas merupakan permasalahan yang dimunculkan kembali. 5. Pemberdayaan dan persamaan Pelaksanaan PRA yang baik akan memberikan kekuatan, banyaknya pengalaman , ungkapan dan juga masukan akan memberikan pemahaman dan ilmu baru bagi peneliti dan penganalisis. 6. Mengganti metode survey Metode survey kuesioner standart merupakan metode yang tdak efisien yang memerlukan waktu yang lama dan biaya yang besar. Dengan menggunakan

PRA dapat diperoleh metode yang lebih berdaya guna sehingga PRA ketika dilakukan dengan baik akan mengefektifkan biaya, akan tetapi dibandingkan dengan survey kuesioner akan lebih populer. 7. Penyebaran oleh warga desa PRA dengan pengalamannya menemukan bahwa warga desa memiliki kemampuan lebih dari yang dipahami oleh orang luar. 8. PRA dalam kelembagaan PRA memiliki tantangan yang besar adalah dalam cara beroperasi. Kelembagaan yang terbentuk dalam PRA memiliki jenis diantaranya adalah LSM, organisasi lapangan pemerintah dan universitas serta lembaga pelatihan Signifikansi Paradigmatik PRA Jika dihubungkan dengan teori sistem lunak dan ilmu kontekstual, PRA memiliki kemiripan dengan pendekatan cybernetic yang mencakup konsep umpan balik. Pada tingkat empiris perubahan dalam kondisi lokal dan global-ekologis, sosial dan politik tampak semakin cepat, pemahaman yang tepat serta respon adaptif yang cepat pula. Dalam konteks bisnis misalnya, Peter Tom menyarankan para manajer bisnis Amerika untuk menerapkan pola PRA yaitu mencintai perubahan, terobsesi dengan mendengarkan, membedakan pada garis depan, membangun system bagi dunia. Hal ini erat kaitannya dengan disiplin ilmu pasar yang membawa pengelolaan usaha pada desentralisasi fleksibilitas, diversifikasi, dan untuk menemukan serta mengeksploitasi celah pasar. Maka inilah yang menjadi pendekatan filosofi PRA yang dapat dilihat sebagai suat ekspresi paradigma yang lebih luas bagi tindakan yang efektif dalam dunia kontemporer ini. RRA dan PRA adalah bagian dari suatu pergeseran paradigma yang lebih umum. Bergema dan mendukung pluralisme, metodologi, perubahan adaptif secara cepat, analisis dan ekspresi prioritas masyarakat setempat dan diversitas demokrasi setempat. Terbuka atau tertutup, konservatif atau radikal, reduksionis atau pluralis, sebagai penjaga bagi yang lama dan penemu bagi yang baru, mereka akan menentukan ini melalui pilihan-pilihan pribadi. Kritik terhadap PRA dan RRA Fadisme, dikarenakan dalam suatu penelitian terlalu cepat mengambil dengan memasukkan tabel yang subtansi. Tergesa-gesa, ketergesaan dalam pengambilan keputusan bisa dikarenakan kurangnya komitmen dan menyebabkan berbagai kekeliruan. Penolakan, dalam penelitian kontribusi yang dilakukan peneliti terdahulu seringkali mengalami penolakan dan tidak pemperoleh pengakuan hak.

Antara Mitos dan Kenyaataan: Riset Partisipatoris sebagai Riset Termutakhir Keilmuan Sosial dan Humaniora Kiranya, tak dapat dipungkiri bahwa riset partisipatoris dapat ditempatkan sebagai bentuk riset termutakhir dalam ranah keilmuan sosial-humaniora. Hal tersebut mengingat, bentuk-bentuk riset sosial sebelumnya yang sekedar merambah aspek teknis dan praktis sebagaimana diutarakan Jurgen Habermas (dalam Hardiman, 2009: 212). Menurut Habermas, riset teknis sekedar berkepentingan untuk menjelaskan fenomena sosial yang terjadi, sedang riset praktis selangkah lebih maju dengan upayanya guna melakukan pemahaman atas fenomena sosial. Riset partisipatoris, yang dalam hal ini menemui bentuknya sebagai riset emansipatoris, tak sekedar berupaya menjelaskan atau memahami masyarakat (fenomena sosial), tetapi juga melangkah lebih jauh dengan upayanya membebaskanmelakukan emansipasi masyarakat dari ketertindasan/ketidakberdayaannya. Namun demikian, satu pertanyaan yang tak patut luput dilayangkan adalah, Apakah peneliti (ilmuwan)-partisipatoris dan masyarakat benar-benar mengetahui perihal yang betul-betul baik bagi diri ilmuwan berikut masyarakat itu sendiri?. Diakui atau tidak, persoalan tersebut memuat tanggung jawab moral dan intelektual yang besar. Perihal yang menjadi permasalahan mendasar adalah, bagaimana jika transformasi sosial yang terjadi akibat emansipasi pada akhirnya justru membawa masyarakat pada penghancuran dirinya sendiri, Atau keterbelakangan yang lebih jauh ketimbang sebelumnya. Ditilik melalui segi pertanggungjawaban moral dan intelektual, tak menutup kemungkinan pula jika pada akhirnya riset partisipatoris justru kembali menemui bentuknya sebagai penelitian yang bias kepentingan. Dalam hal ini, di samping sang peneliti memperoleh pengetahuan baru dan popularitas melalui publikasinya, dampak buruk pada masyarakat yang ditimbulkannya kemudian pun tak lagi menjadi pertanggungjawabannya seorang, melainkan tanggung jawab bersama mengingat dimensi partisipasi yang terdapat di dalamnya: Ini salahmu juga karena kau turut terlibat di dalamnya. Apabila demikian, maka riset partisipatoris tak lebih dari sekedar mitos.***

Referensi :

Chambers, Robert, 1996, Participatory Rural Appraisal: Memahami Desa secara Partisipatif, Kanisius. Fernandes, Walter & Rajesh Tandon, 1993, Riset Partisipatoris Riset Pembebasan, Gramedia. Hardiman, F. Budi, 2009, Kritik Ideologi, Kanisius.