Anda di halaman 1dari 3

EFEK LEAVING GROUP TERHADAP ENERGI REAKSI SUBSTITUSI KOMPLEKS SQUARE PLANAR

Berikut akan dibahas mengenai keadaan transisi Pt (II) dalam reaksi substitusi kompleks square planar. Pada reaksi substitusi kompleks square planar Pt (II), zat antara (intermediate) mempunyai bilangan koordinasi 5 . Sedangkan untuk gambaran energi dalam reaksi substiutsi ini dapat dijelaskan pada gambar berikut:

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa pada setiap grafik mempunyai dua keadaan transisi yang memiliki perbedaan energi aktivasi ( tidak simetris ) yaitu A dan B. Energi aktivasi merupakan energi keadaan transisi relatif terhadap pereaksi. Oleh karena itu terdapat hubungan antara laju relatif reaksi dan energi keadaan transisi. Diantara reaksi-reaksi yang bersaing, dengan bahan awal yang sama, reaksi dengan energi keadaan transisi yang rendah adalah reaksi yang berjalan lebih cepat. Zat antara (intermediate) yang terbentuk pada setiap grafik adalah [Y-Pt-X]. Suatu zat antara bukanlah keadaan transisi. Zat antara mempunyai usia terhingga (finite), sedangkan keadaan ransisi tidak. Pada keadaan transisi, molekul mengalami pematahan ikatan dan pembentukan ikatan. Energi pada suatu keadaan

transisi merupakan titik puncak dalam suatu kurva energi. Sebaliknya, zat antara adalah suatu produk sementara yang reaktif. Pemutusan ikatan atau pembentukan ikatan tidak sedang berlangsung didalam suatu zat-antara. Energi suatu zat antara lebih rendah daripada energi kedaan-keadaan transisi yang mengapitnya, tetapi energi ini lebih tinggi daripada energi produk-produk akhir. Pada grafik (a) menjelaskan mekanisme reaksi yang terjadi adalah termasuk kategori SN2, dimana terjadi substitusi ligan entering group Y disertai dengan penataan ulang, namun ikatan antara logam pusat dengan ligan leaving group X masih utuh (belum putus). Sedangkan grafik (b) juga menjelaskan mekanisme reaksi SN2, namun substitusi entering group Y bersifat reversibel dan pemutusan ligan leaving group X akan disertai penataan ulang pada kompleks. Pada grafik (a) terbentuk dua kedaan transisi. Energi aktivasi pada keadaan transisi A lebih tinggi dari energi pada keadaan dasar dan pada energi aktivasi keadaan transisi B. Keadaan transisi A yang terbentuk adalah [Y...Pt-X], keadaan transisi B yang terbentuk adalah [Y-Pt...X], dan zat antara yang terbentuk adalah [Y-Pt-X]. Rendahnya energi aktivasi pada keadaan transisi B karena pemutusan ikatan antara logam pusat dengan ligan leaving group (Pt...X) terjadi begitu mudah, sehingga membutuhkan energi yang lebih kecil untuk terjadinya pemutusan ikatan dengan ligan leaving group. Contoh ligan leaving group yang mudah putus adalah Cl-, Br -, dan I- , karena ketiganya merupakan ligan lemah. Dengan energi aktivasi yang rendah pada keadaan transisi B akan membuat laju reaksi berjalan cepat, sehingga produk yang dihasilkan lebih banyak. Sedangkan pada grafik (b) juga terbentuk dua keadaan transisi, namun energi aktivasi pada keadaan transisi B lebih tinggi dibanding energipada keadaan dasar dan pada energi aktivasi keadaan transisi A. Keadaan transisi A yang terbentuk adalah [Y...Pt-X], keadaan transisi B yang terbentuk adalah [Y-Pt...X], dan zat antara yang terbentuk adalah [Y-Pt-X]. Tingginya energi aktivasi pada keadaan transisi B karena pemutusan ikatan antara logam pusat dengan leaving group (Pt...X) sulit terjadi, akibatnya membutuhkan energi yang lebih tinggi untuk terjadinya pemutusan ikatan dengan ligan leaving group. Contoh ligan leaving group yang sulit terputus adalah N3- , SCN- , NO2- , dan CN- , karena ketiganya merupakan ligan kuat. Dengan energi aktivasi yang tinggi pada keadaan

transisi B akan membuat laju reaksi berjalan lambat, sehingga produk yang dihasilkan lebih sedikit. Jadi laju reaksi substitusi bergantung pada sifat dari leaving group X. Disamping itu, besarnya laju reaksi juga bergantung pada konsentrasi spesies yang masuk ( entering group) dan konstatanta laju pada setiap langkah.