Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan nikmat-Nya baik itu nikmat akal, nikmat sehat, serta kasih sayang yang Allah berikan kepada kita untuk menghirup udara dan bernafas bebas tanpa membayar. Sehingga dengan nikmat itu penulis mampu menyelesaikan makalah ini dengan judul Struktur dan Fungsi Panca Indra serta Proses Pengindraan. Pembaca sekalian, alat indra merupakan lima macam alat yang terdapat pada tubuh manusia yang berperan untuk menerima rangsangan dari luar. Alat indra merupakan organ yang penting, karena tanpa alat indra manusia tidak akan dapat menikmati apapun yang ada di dunia ini. Di dalam makalah ini akan disajikan secara ringkas tentang bagaimana struktur alat indra, fungsinya dan proses pengindraan, sehingga menghasilkan fungsi tertentu sesuai dengan masing-masing alat indra. Dalam penulisan makalah ini, Penulis menyadari bahwa mungkin masih banyak terdapat kekurangan ataupun kesalahan yang tentunya menuntut kita untuk terus dan tanpa henti belajar, menggali dan memperbaikinya. Dalam hal ini kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca untuk menambah ilmu dan wawasannya tentang bagaimana alat indra manusia bekerja sehingga menghasilkan suatu respons yang mungkin kita hanya menganggapnya hal yang biasa. Padahal semua prosesnya itu bekerja dengan sangat rumit.

Pekanbaru, Mei 2010 Wassalam,

Penulis

BAB I PENDAHULAN

Alat indra adalah organ yang berfungsi untuk menerima jenis rangsangan tertentu. Anda mungkin telah mempelajari bahwa manusia memiliki lima indra yang berhubungan dengan penglihatan, pendengaran, pengecapan, perabaan, dan pembauan. Semua indra kita berkembang untuk membantu kita bertahan hidup. Bahkan rasa sakit yang menyebabkan banyak penderitaan manusia adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari warisan evolusi kita, karena rasa sakit dapat memperingatkan kita akan penyakit dan cidera. Orang yang lahir dengan kondisi cacat indra yang membuat merekan tidak mampu merasakan sakit dan luka akan sangat rentan terhadap luka bakar, memar, dan patah tulang, dan sering kali mereka meninggal dalam usia muda karena mereka tidak dapat mengambil keuntungan dari sinyal peringatan rasa sakit. Semua organisme telah dilengkapi dengan beberapa reseptor sebagai alat penerima informasi. Informasi tersebut dapat berasal dari dalam atau dari luar. Reseptor diberi nama berdasarkan jenis rangsangan yang diterimanya, seperti kemoreseptor (penerima rangsang zat kimia), fotoreseptor (penerima rangsang cahaya), audioreseptor (penerima rangsang suara), dan mekanoreseptor (penerima rangsang fisik seperti tekanan sentuhan dan getaran). Selain itu dikenal pula beberapa reseptor yang berfungsi mengenali perubahan lingkungan luar yang dikelompokkan sebagai eksoreseptor. Sedangkan kelompok reseptor yang berfungsi untuk mengenali lingkungan dalam tubuh disebut interoreseptor, yang terdapat diseluruh tubuh manusia. Eksoreseptor yang kita kenal ada lima macam yaitu indra penglihatan, indra pendengaran, indra peraba, indra pengecap, dan indra pembau. Pada pembahasan berikutnya akan dijelaskan tentang struktur dan fungsi panca indra serta proses pengindraan.

BAB II STRUKTUR DAN FUNGSI PANCA INDRA SERTA PROSES PENGINDRAAN

A. Indra Penglihatan ( Mata ) Struktur dan Fungsi Mata memiliki bentuk yang agak lonjong. Mata memiliki sejumlah reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Selain itu terdapat otot-otot yang berfungsi sebagai penggerak bola mata, kotak mata, kelopak mata, dan bulu mata. 1. Lapisan Bola Mata Bola mata memiliki garis tengah kira-kira 2,5 sentimeter, dan bagian depannya bening. Bola mata terdiri dari tiga lapisan yaitu sklera, koroid, dan retina. a. Sklera merupakan lapisan yang dibangun oleh jaringan ikat fibrosa dan berwarna putih. Fungsi lapisan ini ialah sebagai pelindung. Lapisan sklera di bagian depan yang trasparan disebut kornea. Di permukaan luar sklera dilapisi oleh lapisan tipis trasparan dan banyak mengandung pembuluh darah, yang disebut dengan lapisan konjungtiva. b. Koroid merupakan lapisan yang dibangun oleh jaringan ikat yang memiliki banyak pembuluh darah dan sejumlah sel pigmen. Letaknya disebelah dalam sklera. Di bagian depan mata, lapisan koroid memisahkan diri dari sklera membentuk iris yang tengahnya berlubang yang disebut pupil. Di belakang iris terdapt selaput berpigmen yang memancarkan warna biru, hijau, coklat, atau hitam, tergantung pada pigmen yang dikandungnya. Melebar atau menympitnya pupil diakibatkan oleh kontraksi otot yang mengelilingi iris/otot sirkuler.

Di belakang iris terdapat badan silaris yang tersusun atas serabut otot. Kontraksi dan relaksasi otot sirkuler pada badan silaris menentukan tebal tipisnya lensa yang dikenal dengan daya akomodasi lensa mata, dan bertujuan agar bayangan jatuh tepat pada bintik kuning. Lensa mata berbentuk bikonveks. Lensa mata membagi mata menjadi dua rongga yaitu ruangan antara kornea dengan lensa ( rongga muka ) dan ruangan di belakang lensa ( ronggga belakang ). Kedua rongga tersebut diisi cairan kental dan transparan seperti jeli. Rongga muka berisi aqueous humour ( humor berair ) dan rongga belakang berisi vitreous humour ( humor bening ). c. Retina merupakan lapisan bagian dalam yang sangat halus dan sangat sensitif terhadap cahaya. Pada retina terdapat reseptor yang serabutnya membentuk urat saraf optik yang memanjang sampai ke otak. Pada bagian lapisan retina yang dilewati berkas urat saraf yang menuju ke otak tidak memiliki reseptor dan tidak peka terhadap sinar. Apabila sinar mencapai bagian ini kita tidak dapat mengenali cahaya. Karena itu daerah ini disebut dengan bintik buta. 2. Reseptor Mata Pada retina terdapat dua macam sel reseptor yaitu sel batang dan sel kerucut. Pada retina terdapat suatu daerah yang disebut fovea atau bintik kuning yang berisi hanya selsel kerucut. Penyebaran sel batang dan sel kerucut pada retina tidak merata. Di bagian tepi yang paling jauh dari bintik kuning hanya berisi sel batang. Sel batang berjumlah sekitar 100 juta buah dalam setiap mata. Sel batang sangat peka terhadap intensitas cahaya rendah, tetapi tidak mampu membedakan warna. Selain itu bayangan yang dihasilkan dari sel ini tidak tajam. Sel kerucut jumlahnya sekitar 5 juta pada setiap mata. Sel kerucut sangat peka terhadap intensitas cahaya tinggi sehingga berperan untuk penglihatan siang hari dan dapat membedakan warna. Sel kerucut memiliki kepekaan yang berbeda terhadap panjang gelombang cahaya yaitu biru, hijau, dan merah. Perbedaan kemampuan absorbsi ini sangat tergantung pada jenis protein opsin dari rodopsinnya. Secara teori otak dapat

mencampurkan tiga sensasi warna utama tersebut untuk membentuk satu dari 17.000 lebih warna yang dapat dibedakan oleh mata. Oleh karena itu, kekurangan jenis protein opsin dapat mengakibatkan ketidakmampuan membedakan warna tertentu yang sering disebut dengan buta warna. 3. Kelainan Pada Mata Berbagai macam kelainan penglihatan terjadi apabila unsur-unsur sistem optik tidak menunjang. Berikut akan disajikan beberapa kelainan pada mata. Jenis kelainan Hipermetrop (rabun dekat) Penyebab Lensa mata tidak dapat menyembung atau bola mata terlalu pendek sehingga bayang benda jatuh dibelakang retina Lensa mata terlalu cembung atau bola mata terlalu panjang sehingga bayang benda jatuh di depan retina Elastisitas lensa mata berkurang karena usia tua Permukaan lensa mata tidak sama sehingga fokusnya tidak sama dan bayang benda yang terbentuk tidak sama Ditolong dengan Lensa cembung (konvergen/positif)

Miop (rabun jauh)

Lensa cekung (divergen/negatif)

Presbiop Astigmatisma

Lensa rangkap Lensa silindris

Katarak

Lensa mata buram, tidak Operasi elastis akibt pengapuran sehinggadaya akomodasi berkurang

Proses Pengindraan Penglihatan mulai dengan radiasi elektromagnetik dari obyek yang memancar atau refleks. Gelombang elektromagnetik dapat diukur dan diklasifikasikan dalam bentuk jarak dari puncak dari satu gelombang ke puncak dari gelombang berikutnya yang disebut dengan panjang gelombang. Beberapa radiasi elektromagnetik mempunyai panjang gelombang sepanjang 10 trilyun meter, beberapa mempunyai panjang gelombang ratusan

meter, dan semua panjang gelombang terjadi diantara panjang gelombang-gelombang tadi. Rentang panjang gelombangj disebut dengan spektrum elektromagnetik. Meski semua panjang gelombang dari spektrum elektromagneti ini adalah secara fisik sama, hanya sejumlah vorsi kecil yang dapat dilihat. Disuatu tempat di tengahtengah rentang energi radiant adalah panjang gelombang dimana kita dapat melihatnya, yang disebut spektrum yang dapat dilihat yaitu sekitar 380 sampai 780 bilyun meter. Cahaya masuk ke mata melalui pupil ( biji mata ), melewati kornea, lensa, dan bagian dalam dari bola mata langsung ke sel batang dan sel kerucut dari retina di bagian belakang bola mata. Transduksi energi fisik kedalam reseptor potensial terjadi dalam basilus dank onus. Infuls-infuls saraf kemudian menggerakkan sel lain dari retina yaitu ganglion, ganglion membawa infuls-infuls tentang kejadian visual dalam lingkungan bergerak ke otak sepanjang saraf optik.

B. Indra Pendengaran ( Telinga ) Struktur dan Fungsi Telinga merupakan alat pendengar dan alat keseimbangan. Telinga terdiri dari tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan rongga telinga dalam. 1. Telinga Luar Telinga luar terdiri atas daun telinga lubang telinga luar. Daun telinga terdiri atas tulang rawan dan jaringan fibrosa, kecuali pada ujung paling bawah yaitu cuping telinga yang terdiri dari lemak. Daun telinga berfungsi untuk menerima dan mengumpulkan suara yang masuk. Saluran luar yang dekat dengan lubang telinga dilengkapi dengan rambut-rambut halus yang menjaga agar benda asing tidak masuk, dan terdapat kelenjar lilin yang berperan menjaga agar permukaan saluran luar dan gendang telinga tidak kering. 2. Telinga Tengah Merupakan rongga yang berhubungan dengan faring melalui saluran Eustachius. Fingsi saluran ini ialah untuk menjaga keseimbangan tekanan udara antara udara luar daenga udara didalam telinga tengah. Pada telinga tengah terdapat membran timpani dan

tulang-tulang telinga tengah. Membran timpani merupakan selaput yang menerima gelombang bunyi. Tulang telinga tengah terdiri dari tiga macam yaitu tulang martil yang menempel pada gendang telinga, tulang landasan, dan tulang sanggurdi.rangkaian ketiga tulang ini berfungsi untuk mengalirkan getaran suara dari gendang telinga menuju ke rongga telinga dalam. 3. Rongga Telinga Dalam Rongga telinga dalam terdiri dari berbagai rongga yang menyerupai saluransaruran. Rongga-rongga ini disebut labirin tulang dan dilapisi dengan membran sehingga disebut labirin membran. Labirin membran dibedakan atas tiga saluran setengah lingkaran, yaitu ampula, utrikulus, sakulus, dan koklea atau rumah siput. Rumah siput merupakan suatu tabung yang panjangnya sekitar 3cm dan bergelung seperti cangkang keong serta berisi cairan limfa. Koklea tesebut berbentuk saluran melingkar yang terdiri atas tiga ruangan yaitu skala vestibuli, skala media, dan skala timpani. Skala vestibuli berhubungan dengan skala timpani melalui lubang kecil yang disebut helikotema. Skala vestibuli berakhir pada jendela oval, sedangkan skala timpani berakhir pada jendela bundar. Antara skala vestibuli dengan skala media terdapat membran Reissner, sedangkan antara skala media dengan skala timpani terdapat membran Basiler. Di dalam skala media terdapat suatu tonjolan yang disebut membran tektorial yang sejajar dengan membran basiler. Di dalam ruangan koklea bagian dalam terdapat organ korti. Organ korti berisi ribuan sel rambut sensori yang merupakan reseptor getaran. Sel-sel rambut tersebut terletak diantara membran basiler dan membran tektorial. Dasar dari sel reseptor pendengar tersebut berhubungan dengan serabut saraf yang bergabung membentuk saraf pendengar. Proses Pengindraan Mekanisme mendengar dimulai dengan adanya gelombang bunyi yang masuk melalui liang telinga, yang akan menggetarkan membran timpani. Getaran ini akan diteruskan ke dalam telinga tengah melalui melaui tulang-tulang pendengaran.

Selanjutnya getaran diteruskan ke telinga dalam melaui selaput jendela oval dan menggetarkan cairan limfa yang terdapat didalam skala vestibuli. Getaran cairan tersebut akan menggetarkan membran Reissner dan menggetarkan cairan limfa dalam skala media. Getaran cairan ini akan menggerakkan membran basiler yang selanjutnya menggetarkan cairan dalam skala timpani. Pada saat membran basiler bergetar akan menggerakkan sel-sel rambut, dan ketika sel-sel rambut tersebut menyentuh membran tektorial terjadilah rangsangan yang akan dikirim ke pusat pendengar di dalam otak melalui saraf pendengaran.

C. Indra Peraba ( Kulit ) Struktur dan Fungsi Kulit merupakan indra peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan, panas, dingin, sakit, dan tekanan. Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam atau lapisan dermis. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah dan sel saraf. Epidermis tersusun atas empat lapis sel. Dari bagian dalam ke bagian luar, pertama adalah stratum germinativum berfungsi membentuk lapisan di sebelah atasnya. Kedua, yaitu di sebelah luar lapisan germinativum terdapat stratum granulosum yang berisi sedikit keratin yang menyebabkan kulit menjadi keras dan kering. Selain itu sel-sel dari lapisan granulosum umumnya menghasilkan pigmen hitam (melanin). Kandungan melanin menentukan derajat warna kulit, kehitaman, atau kecoklatan. Lapisan ketiga merupakan lapisan yang transparan disebut stratum lusidum dan lapisan keempat (lapisan terluar) adalah lapisan tanduk disebut stratum korneum. Penyusun utama dari bagian dermis adalah jaringan penyokong yang terdiri dari serat yang berwarna putih dan serat yang berwarna kuning. Serat kuning bersifat elastis/lentur, sehingga kulit dapat mengembang. Stratum germinativum mengadakan pertumbuhan ke daerah dermis membentuk kelenjar keringat dan akar rambut. Akar rambut berhubungan dengan pembuluh darah yang membawakan makanan dan oksigen, selain itu juga berhubungan dengan serabut

saraf. Pada setiap pangkal akar rambut melekat otot penggerak rambut. Pada waktu dingin atau merasa takut, otot rambut mengerut dan rambut menjadi tegak. Di sebelah dalam dermis terdapat timbunan lemak yang berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi bagian dalam tubuh dari kerusakan mekanik. Kulit berfungsi sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai alat peraba dengan dilengkapi bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai rangsangan; sebagai alat ekskresi; serta pengatur suhu tubuh. Proses Pengindraan Indra peraba bukanlah indra tunggal tetapi biasanya terdiri dari empat hal, yaitu: peraba, rasa sakit, panas, dan dingin. Disamping itu indra peraba tidak terbatas pada permukaan kulit dengan reseptor-reseptornya, tetapi juga menyangkut alat-alat yang peka terhadap orientasi dan keseimbanga. Kulit berfungsi memberi informasi tentang kualitas lingkungan. Oleh karena itu, kulit mempunyai berbagai reseptor yang terdapat pada titik-titik permukaan kulit, yaitu titik tekanan, nyeri, panas, dan dingin. Titik-titik nyeri merupakan yang terbesar jumlahnya kemudian setelah itu titik-titik tekanan, dingin, dan panas. Pada seluruh tubuh ada bagian-bagian yang peka terhadap rangsangan. Kepekaan terhadap orientasi dan keseimbangan terdapat pada indra kinestesis yang berarti kepekaan terhadap gerakan. Ada dua sistem kinestesis, yaitu sistem vestibuler dan sistem rabaan. Sistem vestibuler peka terhadap gravitasi, akselerasi, dan deselerasi serta gerakan berputar. Sistem rabaan peka terhadap kualitas permukaan disekitar kita, letak anggota badan, dan tegangan otot.

D. Indra Pengecap ( Lidah ) Struktur dan fungsi Lidah merupakan organ yang berfungsi untuk pengecapan. Lidah merupakan organ yang tersusun atas otot. Pada permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir. Selain itu terdapat reseptor pengecap berupa kuncup pengecap. Kuncup pengecap tersebut terdiri atas sekelompok sel sensori yang

meiliki tonjolan seperti rambut. Kuncup pengecap dapat membedakan empat macam rasa yaitu manis, pahit, asam, dan asin. Letak pengecap tertentu lebih banyak berkumpul pada daerah tertentu pada lidah. Kuncup rasa manis lebih banyak terdapat di ujung lidah, kuncup rasa asam lebih banyak berkumpul di tepi depan kiri kanan lidah, kuncup rasa asin lebih banyak berkumpul di tepi belakang kiri kanan lidah, dan kuncup rasa pahit lebih banyak berkumpul di pangkal lidah. Proses Pengindraan Reseptor untuk pengecap dikhususkan sel-sel yang mengelompok dalam kelompok kecil yang dikenal dengan taste bath/tunas perasa. Kebanyakan dari tunastunas ini berlokasi di pinggir-pinggir dan arah belakang lidah, beberapa tersebar pada langit-langit lunak, tenggorokan dan jakun. Jika anda melihat pada lidah anda dikaca secara dekat, maka anda akan melihat sejumlah tonjolan-tonjolan, beberapa yang besar dan beberapa yang kecil. Tonjolan-tonjolan ini disebut dengan papila yaitu daerah pengecapan yang paling peka. Jumlah tunas pengecap akan berkurang drngan meningkatnya usia, sehingga orang-orang yang lanjut usia akan kurang peka dalam pengecapan dibandingkan dengan orang yang masih muda. Beberapa tunas pengecap pada ujung lidah hanya bereaksi terhadap rasa manis, asin atau asam, sedangkan tunas pengecap yang lain bereaksi terhadap beberapa atau semua kombinasi rasa tersebut. Pengukuran infuls serabut saraf pengecap dan bukti tingkah laku menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penerimaan tunas pengecap manusia dan hewan.

E. Indra Pembau ( Hidung ) Struktur dan Fungsi Sel-sel sensori penerima rangsang gas kimia ( kemoreseptor ) terdpat pada lapisan epitel dalam rongga hidung, dan terlindung oleh lendir (mukus). Di akhir setiap sel sensori terdapat beberapa silia atau rambut pembau. Molekul-molekul yang larut dalam air dan lemak yang ada di udara akan larut dalam lapisan lendir tersebut dan

menimbulkan sensasi pembau. Kita semua pasti pernah merasakan berbagai bau, baik bau yang tidak menyenangkan maupun bau yang menyenangkan. Antara indra pengecap dan pembau terdapat hubungan yang erat. Masakan atau bahan yang lain dapat dirasakan kenikmatannya karena adanya kerjasama antara alat pengecap dan pembau. Apabila salah satu alat itu terganggu, maka kenikmatannya berkurang. Sebagai contoh: orang yang terkena flu kurang dapat merasakan kenikmatan masakan karena ujung-ujung saraf pembau terganggu. Proses Pengindraan Nervus olfaktori atau saraf kranial pertama melayani ujung organ pencium. Serabut-serabut saraf ini timbul pada bagian atas selaput lendir hidung, yang dikenal sebagai bagian olfaktori hidung. Nervus olfaktori dilapisi dengan sel-sel yang sangat khusus, yang mengeluarkan fibrll-fibril halus untuk berjalin dengan serabut-serabut dari bulbus olfaktori. Rasa penciuman dirangsang oleh gas yang terhirup ataupun oleh unsur-unsur halus. Rasa penciuman ini sangat peka, dan kepekaannya mudah hilang, bila dihadapkan pada suatu bau yang sama untuk suatu waktu yang cukup lama. Contoh: orang-orang yang sering berada dalam suatu ruangan yang sesak dan pengap, tidak akan merasakan bau yang tidak enak, sementara dilain pihak bau itu akan segera menyerang hidung orang yang baru datang dari lingkungan udara segar yang masuk keruangan itu. Rasa penciuman juga diperlenah, bila selaput lendir hidung sangat kering, sangat basah atau membengkak, seperti halnya orang yang diserang pilek.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Pada manusia terdapat lima indra yang berperan untuk mengenali dunia luar yang dikenal dengan panca indra. Indra manusia terdiri dari mata, telinga, hidung, kulit, dan lidah. Setiap alat indra mempunyai fungsinya masing-masiang, seperti mata untuk penglihatan, telinga untuk pendengaran, hidung untuk penciuman, kulit untuk peraba, dan lidah untuk pengecapan. Mata memiliki bentuk yang agak lonjong. Mata memiliki sejumlah reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Selain itu terdapat otot-otot yang berfungsi sebagai penggerak bola mata, kotak mata, kelopak mata, dan bulu mata. Bola mata memiliki garis tengah kira-kira 2,5 sentimeter, dan bagian depannya bening. Bola mata terdiri dari tiga lapisan yaitu sklera, koroid, dan retina. Manusia juga mempunyai indra pendengaran yaitu talinga. Selain berperan sebagai pendengaran, Telinga juga berperan sebagai alat keseimbangan. Telinga terdiri dari tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan rongga telinga dalam. Katika seekor nyamuk menggigit seseorang, maka dia dapat merasakan gigitan tersebut, karena manusia mempunyai alat indra yang dikenal dengan kulit. Kulit merupakan indra peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan, panas, dingin, sakit, dan tekanan. Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam atau lapisan dermis. Lidah merupakan organ yang berfungsi untuk pengecapan. Pada permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir. Selain itu terdapat reseptor pengecap berupa kuncup pengecap. Hidung merupakan alat indara yang berfungsi sebagai penciuman. Di dalam rongga hidung terdapat lapisan epitel yang berperan untuk menerima rangsangan yang berupa gas kimia atau kemoreseptor.

Rasa penciuman dirangsang oleh gas yang terhirup ataupun oleh unsur-unsur halus. Rasa penciuman ini sangat peka, dan kepekaannya mudah hilang, bila dihadapkan pada suatu bau yang sama untuk suatu waktu yang cukup lama. Antara indra pengecap dan pembau terdapat hubungan yang erat. Masakan atau bahan yang lain dapat dirasakan kenikmatannya karena adanya kerjasama antara alat pengecap dan pembau. Kritik dan Saran Dalam menyusun makalah ini penulis sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan penjelasan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tetapi jika terdapat kekurangan dalam makalah ini, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca, demi kesempurnaan makalah ini, dan besar harapan kami agar makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.postgradmed.com/issues/1996/08_96/graft1 http://keperawatan0609.blogspot.com/2009/anatomi-fisiologi-hidung http://www.regionalallergy.com/education/understanding/sinusitis/rhinitis http://www.medschool.lsuhsc.edu/otor/Vasorhi http://www.icondata.com/health/pedbase/files/rhinitis http://www.id.wikipedia.org/wiki/kulit http://tolololpedia.wikia.com/wiki/mata Syamsuri, Istamar, dkk. 2000. Biologi SMU Kelas 2 Semester 2. Jakarta: Erlangga Pearce, Evelyn C. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Wade,Carole dan Tavris,Carol. 2008. Psikologi Edisi Kesembilan Jilid 2. Jakarta: Erlangga Oman,Karmana. 2007. Cerdas Belajar Biologi. Bandung: Grafindo