Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM PENGINDERAAN JAUH UNTUK TERAPAN PEMBANGUNAN WILAYAH ( GKP 0210 )

ACARA IV PERENCANAAN TATA RUANG

Disusun oleh : Nama NIM Hari Jam Asisten : Rinda Ayun Anggraini : 09/284543/GE/6613 : Selasa : 09.00 11.00 : 1. Favian Mafazi G. K 2. Syaiful M. Purnama

LABORATORIUM PENGINDERAAN JAUH TERAPAN FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

Laporan Praktikum Penginderaan Jauh untuk Terapan Pembangunan Wilayah

ACARA IV PERENCANAAN TATA RUANG

I.

TUJUAN Melatih praktikan untuk dapat melakukan survei dan ekstraksi informasi medan sebagai dasar evaluasi kesesuaian lahan serta perencanaan tata ruang.

II.

ALAT DAN BAHAN 1. Citra soft copy ASTER Thematic Mapper Kabupaten Bantul 2. Seperangkat komputer 3. Software ArcGis 9.3 4. HVS A4 dan A3

III.

DASAR TEORI Perencanaan tata ruang merupakan metode-metode yang digunakan oleh sektor publik untuk mengatur penyebaran penduduk dan aktivitas dalam ruang yang skalanya bervariasi. Perencanaan tata ruang terdiri dari semua tingkat penatagunaan tanah, termasuk perencanaan kota, perencanaan regional, perencanaan lingkungan, rencana tata ruang nasional, sampai tingkat internasional seperti Uni Eropa. Salah satu definisi awal perencanaan tata ruang diambil dari European Regional/Spatial Planning Charter (disebut juga Torremolinos Charter), yang diadopsi pada tahun 1983 oleh Konferensi Menteri Eropa yang bertanggung jawab atas Regional Planning (CEMAT), yang berbunyi: "Perencanaan tata ruang memberikan ekspresi geografis terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi, sosial, budaya, dan ekologis. Perencanaan tata ruang juga merupakan sebuah ilmu ilmiah, teknik administrasi, dan kebijakan, yang dikembangkan sebagai pendekatan lengkap dan antar-ilmu, yang diarahkan kepada pengembangan regional dan organisasi fisik terhadap sebuah strategi utama." Di Indonesia konsep perencanaan tata ruang mempunyai kaitan erat dengan konsep pengembangan wilayah. Konsep pengembangan wilayah telah

Rinda Ayun Anggraini (09/284543/GE/6613)

Laporan Praktikum Penginderaan Jauh untuk Terapan Pembangunan Wilayah

dikembangkan antara lain oleh Sutami pada era 1970-an, dengan gagasan bahwa pembangunan infrastruktur yang intensif akan mampu mempercepat terjadinya pengembangan wilayah, juga Poernomosidhi (era transisi) memberikan kontribusi lahirnya konsep hirarki kota-kota yang hirarki prasarana jalan melalui Orde Kota. Selanjutnya Ruslan Diwiryo (era 1980-an) yang memperkenalkan konsep Pola dan Struktur ruang yang bahkan menjadi inspirasi utama bagi lahirnya UU No.24/1992 tentang Penataan Ruang. Pada era 90-an, konsep pengembangan wilayah mulai diarahkan untuk mengatasi kesenjangan wilayah, misal antara KTI dan KBI, antar kawasan dalam wilayah pulau, maupun antara kawasan perkotaan dan perdesaan. Perkembangan terakhir pada awal abad millennium, bahkan, mengarahkan konsep pengembangan wilayah sebagai alat untuk mewujudkan integrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rencana tata ruang merupakan dasar bagi pemanfaatan ruang/lahan. Rencana tata ruang adalah produk rencana yang berisi rencana pengembangan struktur ruang dan rencana pola pemanfaatan ruang yang hendak dicapai pada akhir tahun perencanaan. Struktur ruang dibentuk oleh sistem pusat kegiatan dan sistem jaringan prasarana yang mencakup sistem jaringan transportasi (darat, laut, udara), sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringan telekomunikasi, dan sistem jaringan sumber daya air. Sedangkan pola pemanfaatan ruang adalah gambaran alokasi ruang untuk berbagai jenis pemanfaatan lahan yang direncanakan. Secara lebih rinci, muatan rencana tata ruang dapat disampaikan sebagai berikut: 1. Identifikasi pusat-pusat koleksi dan distribusi yang diarahkan sebagai pusat pelayanan dan pusat pertumbuhan wilayah. Pusat-pusat tersebut merupakan orientasi bagi berbagai kegiatan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, mendapatkan input produksi, maupun memasarkan produk-produk yang dihasilkan.

Rinda Ayun Anggraini (09/284543/GE/6613)

Laporan Praktikum Penginderaan Jauh untuk Terapan Pembangunan Wilayah

2. Arahan pengembangan sistem jaringan prasarana, mencakup sistem jaringan transportasi, sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringan telekomunikasi, dan sistem jaringan sumber daya air. Sistem jaringan tersebut direncanakan secara berhirarki menurut tingkatan perencanaan. Sebagai contoh, dalam RTRWN direncanakan sistem jaringan jalan nasional, dalam RTRWP direncanakan sistem jaringan jalan provinsi, dalam RTRW Kabupaten direncanakan sistem jaringan jalan kabupaten, sedangkan dalam RTRW Kota direncanakan sistem jaringan jalan kota (sistem sekunder). Sistem jaringan yang direncanakan pada tingkat perencanaan yang berbeda-beda tersebut memiliki sifat komplementer dalam membentuk sistem jaringan wilayah yang utuh. 3. Penetapan kawasan lindung dan kawasan budidaya yang dimaksudkan untuk mengakomodasi berbagai kegiatan masyarakat, baik saat ini maupun di masa yang akan datang, dengan memperhatikan upaya pelestarian (konservasi dan preservasi) lingkungan. 4. Kriteria penetapan dan pola pengelolaan kawasan budidaya. Kriteria penetapan kawasan budidaya dimaksudkan untuk menetapkan lokasi dari berbagai peruntukan pemanfaatan lahan dengan memperhatikan keselarasan antar kagiatan dan kepentingan pelestarian lingkungan. Sedangkan pola pengelolaan berisi garis besar tentang hal-hal yang harus dilakukan dalam mengelola kawasan budidaya. 5. Identifikasi kawasan-kawasan strategis dipandang dari sudut pandang ekonomi, lingkungan, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan. Kawasan strategis merupakan kawasan yang dinilai perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya mencapai tujuan-tujuan pembangunan yang telah ditetapkan. 6. Identifikasi sektor unggulan yang diprediksi mampu menjadi pendorong utama (prime mover) pengembangan wilayah. Dalam implementasi rencana, perhatian terhadap pengembangan sektor unggulan dapat mendorong tumbuhnya kompetensi wilayah perencanaan yang bersifat unik.

Rinda Ayun Anggraini (09/284543/GE/6613)

Laporan Praktikum Penginderaan Jauh untuk Terapan Pembangunan Wilayah

Rencana tata ruang disusun dengan memperhatikan kepentingan seluruh pemangku kepentingan. Dengan demikian penerapan rencana tata ruang secara konsisten akan meminimalkan konflik kepentingan antar pemangku kepentingan. Di samping itu pelaksanaan pembangunan berdasarkan rencana tata ruang akan menciptakan keterpaduan lintas sektor dan lintas wilayah. Rencana tata ruang yang berkualitas merupakan prasyarat dalam penyelenggaraan penataan ruang. Namun demikian rencana tata ruang tersebut harus dibarengi dengan pengendalian pemanfaatan ruang yang tegas dan konsisten untuk menjamin agar pemanfaatan ruang/lahan dapat tetap sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Rencana Tata Ruang secara sederhana membutuhkan masukan dari 6 aspek berikut: a. Kesesuaian lahan pada wilayah yang ditata b. Penggunaan lahan pada saat ini c. Peraturan perundang-undangan d. Aspek sosial ekonomi masyarakat e. Status lahan f. Rencana Tata Ruang yang telah ada g. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bantul, arahan pengembangan dan pembangunan daerah terbagi menjadi 6 Satuan Wilayah Pengembangan, yaitu: SWP I : Kecamatan Sedayu Pembangunan diarahkan untuk pengembangan kawasan pertanian lahan basah, industri dan permukiman. SWP II : Kecamatan Kasihan, Sewon, Banguntapan Pembangunan diarahkan untuk pengembangan kawasan permukiman dan pelayanan yang berorientasi perkotaan. SWP III: Kecamatan Piyungan

Rinda Ayun Anggraini (09/284543/GE/6613)

Laporan Praktikum Penginderaan Jauh untuk Terapan Pembangunan Wilayah

Pembangunan diarahkan untuk pengembangan kawasan lindung bawahan dan pertanian lahan basah. SWP IV: Kecamatan Srandakan, Sanden Pembangunan diarahkan untuk pengembangan kawasan pertanian lahan basah, permukiman dan wisata. SWP V: Kecamatan Bantul, Pajangan, Pandak, Bambanglipuro, Kretek, Pundong, Pleret

Satuan Wilayah Pengembangan ini dipusatkan di Kota Bantul. Pembangunan diarahkan untuk pengembangan kawasan industri,

permukiman, pertanian lahan basah dan wisata alam. SWP VI : Kecamatan Imogiri, Dlingo Pembangunan diarahkan untuk pengembangan budi daya pertanian, lindung bawahan. (Sumber : http://www.oocities.org/h_artono/bantul/tataruang.htm) Kecamatan Kretek merupakan kecamatan yang termasuk dalam Satuan Wilayah Pengembangan VI dengan pembangunan yang diarahkan untuk pengembangan kawasan industri, permukiman, pertanian lahan basah dan wisata alam. Kecamatan Kretek lebih difokuskan untuk pengembangan permukiman, pertanian lahan basah dan wisata alam. Hal ini dikarenakan Kecamatan Kretek terletak di bagian selatan Kabupaten Bantul yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesiadi sebelah selatannya. Kecamatan Kretek berada di dataran rendah. Ibukota Kecamatannya berada pada ketinggian 15 meter diatas permukaan laut. Jarak Ibukota Kecamatan ke Pusat Pemerintahan (Ibukota) Kabupaten Bantul adalah 15 Km. Kecamatan Kretek beriklim seperti layaknya daerah dataran rendah di daerah tropis dengan dengan cuaca panas sebagai ciri khasnya. Suhu tertinggi yang tercatat di Kecamatan Kretek adalah 32C dengan suhu terendah 28C. Bentangan wilayah di Kecamatan Kretek 95% berupa daerah yang datar sampai berombak dan 5% berupa daerah yang berombak sampai berbukit.

Rinda Ayun Anggraini (09/284543/GE/6613)

Laporan Praktikum Penginderaan Jauh untuk Terapan Pembangunan Wilayah

(Sumber : http://www.bantulkab.go.id/kecamatan/Kretek.html)

IV.

CARA KERJA 1. Evaluasi kesesuaian lahan Evaluasi kesesuaian lahan berdasarkan citra pengindraan jauh dan menurunkan informasi mengenai karakteristik lahan per satuan bentuk lahan serta melakukan matching antar tabel karakteristik lahan. 2. Pemetaan penggunaan lahan dengan melakukan interpretasi penggunaan lahan dengan mengacu ke klasifikasi sebagai berikut: h. Pertanian lahan basah i. Pertanian lahan kering j. Permukiman desa dan pekarangan k. Permukiman kota l. Tambak m. Lahan kosong n. Lahan vegetasi 3. Pembuatan model tata ruang permukiman

V.

HASIL PRAKTIKUM 1. Checklist Identifikasi karakteristik medan 20 sampel di Kabupaten Bantul 2. Peta Kesesuaian Lahan Permukiman Kecamatan Kretek, Bantul (Terlampir)

VI.

PEMBAHASAN Praktikum Penginderaaan Jauh Terapan untuk Pembangunan Wilayah acara terakhir ini merupakan kegiatan lapangan. Kegiatan kali ini dilakukan dengan melakukan observasi langsung di lapangan dengan meninjau 20 titik sampel di Kecamatan Kretek. Peninjauan ini bertujuan untuk mencari informasi mengenai evaluasi kesesuaian lahan sebagai dasar dalam penyusunan tata ruang. Observasi langsung yang dilakukan di lapangan yaitu dengan mengamati langsung bentanglahan yang ada disana. Mengamati fenomenafenomena yang ada di lapangan ini dilakukan pula dengan cara

Rinda Ayun Anggraini (09/284543/GE/6613)

Laporan Praktikum Penginderaan Jauh untuk Terapan Pembangunan Wilayah

membandingkan antara kenampakan yang dalam citra maupun peta-peta yang telah di olah dengan keadaan yang ada di lapangan. Hal ini merupakan salah satu cara untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan secara fisik yang ada di Kecamatan Kretek. Kecamatan Kretek berada di dataran rendah. Ibukota kecamatannya berada pada ketinggian 15 meter di atas permukaan air laut. Bentang wilayah yang ada di wilayah ini yaitu 95% berupa daerah yang datar dan 5% tergolong daerah yang berombak sampai berbukit. Sebagian besar penggunaan lahan di wilayah ini diperuntukkan untuk sawah irigasi. Namun, di dalam

perkembangannya telah banyak pula adanya daerah terbangun. Bagian selatan merupakan wilayah pantai dengan kemiringan lereng 815%. Apabila musim penghujan sering merupakan kawasan rawan banjir akibat luapan air Sungai Opak. Keberadaan sungai dengan air permukaan yang mengalir sepanjang tahun di wilayah ini membantu dalam menjaga kondisi permukaan air tanah. Pinggiran-pinggiran sungai Opak tersebut banyak di manfaatkan oleh penduduk setempat untuk menambang pasir sehingga kedalaman muka sungai semakin dalam. Wilayah yang relatif datar cenderung menjadi penyebab terjadinya banjir. Intensitas curah hujan yang semakin tinggi dapat menyebabkan banjir yang menggenangi wilayah ini. Oleh karena itu, diperlukan adanya strategi untuk mengatasi masalah tersebut seperti pembuatan saluran drainase yang baik agar dapat mengalirkan limpasan air hujan yang tidak dapat terserap oleh tanah. Jumlah penduduk di Kecamatan Kretek sekitar 30.384 jiwa. Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan, sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Pengamatan yang dilakukan di Kecamatan Kretek dilakukan untuk mengetahui adanya penggunaan lahan eksisting permukiman apakah sesuai dengan arahan pemanfaatan lahannya atau tidak. Titik sampel yang di uji tersebar di bagian timur dan selatan yang terdiri dari 20 titik sampel. Berdasarkan hasil pengamatan yang ada di lapangan, sebagian besar penggunaan lahan sawah tetap menjadi sawah walaupun ada sebagian yang

Rinda Ayun Anggraini (09/284543/GE/6613)

Laporan Praktikum Penginderaan Jauh untuk Terapan Pembangunan Wilayah

berubah fungsi menjadi permukiman maupun untuk perdagangan. Sedangkan di daerah-daerah yang berada di sekitar pasir darat di manfaatkan sebagai tempat untuk penghijauan dan perdagangan. Dilihat dari segi sosial kependudukan, wilayah ini masih tergolong dalam perdesaan. Penduduknya memiliki hubungan personal yang cukup erat antara yang masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan dari segi mata pencahariannya, sebagian besar penduduk berkegiatan di bidang pertanian. Perkembangan wilayah di Kecamatan Kretek tergolong memberikan nilai yang signifikan. Dimana kegiatan penduduk yang ada di wilayah ini tidak hanya di bidang pertanian saja. Namun, sudah mulai berkembang ke bidang perdagangan dan jasa pelayanan. Salah satu faktor yang mendukung adanya perkembangan ini adalah ketersediaan jaringan jalan sebagai aksesibilitas menuju ke tempat wisata seperti pantai Depok dan Parangtritis. Adanya jaringan jalan yang seperti itu menyebabkan perkembangan wilayah yang cenderung linier sejajar dengan jaringan jalan yang ada. Jika dilihat berdasarkan revisi pada peta setelah mengetahui kondisi di lapangan, yaitu pada peta arahan pemanfaatan lahan. Arahan pemanfaatan lahan merupakan bentuk rekomendasi dari hasil evaluasi kemampuan lahan. Arahan pemanfaatan lahan di Kecamatan Kretek sebagian besar untuk kawasan tanaman semusim dan permukiman. Sedangkan untuk bagian selatan merupakan kawasan penyangga, karena pada kawasan ini berbatasan langsung dengan pantai. Setelah dilakukan overlay antara peta arahan dengan peta penggunaan lahan, peta bentuklahan, peta jaringan jalan dan sungai, makan akan terbentuk suatu peta kesesuaian lahan. Karaktersitik wilayah yang berbeda-beda akan mempengaruhi kesesuaian lahan permukiman di Kecamatan Kretek.

Berdasarkan peta kesesuaian lahan yang telah dihasilkan, dapat disimpulkan bahwa di bagian barat merupakan daerah yang sesuai untuk lahan permukiman. Sedangkan warna orange (pada peta) merupakan lahan permukiman eksisting yang tidak sesuai antara kondisi di lapangan dengan yang ada di peta. Untuk daerah bagian selatan ada sebagian yang tidak sesuai antara peta arahan dengan

Rinda Ayun Anggraini (09/284543/GE/6613)

Laporan Praktikum Penginderaan Jauh untuk Terapan Pembangunan Wilayah

peta kesesuaian lahan permukiman. Dimana, pada peta kesesuaian lahan permukiman, ada sebagian kecil daerah yang ternyata tidak sesuai apabila di manfaatkan sebagai lahan permukiman. Permasalahan yang penting untuk diperhatikan adalah adanya

ketidaksesuaian pemanfaatan lahan yang ada di Kecamatan Kretek. Jika dilihat dari peta arahan pemanfaatan lahan, bagian selatan merupakan kawasan fungsi penyangga. Namun, setelah dibuat peta kesesuaian lahan permukiman, di indikasikan bahwa pada kawasan tersebut mulai berkembang kawasan permukiman. Hal tersebut tidak seharusnya terjadi, karena dengan adanya ketidaksesuaian pemanfaatan tersebut dikhawatirkan dapat merusak kondisi lingkungan karena tidak sesuai dengan daya dukung lingkungannya. Di dalam perencanaan suatu wilayah tidak hanya melihat aspek fisik, kondisi sosial yang ada di suatu wilayah perlu menjadi pertimbangan. Misalnya saja dengan melihat kondisi kepemilikan lahan pertanian yang ada, apakah lahan tersebut milik pribadi atau petani hanya sebagai pekerja. Adanya penyuluhan bagi para petani mengenai pertanian dan hal-hal yang berkaitan di dalamnya. Bagaimana suatu cara yang dapat dikembangkan dalam

memanfaatkan lahan pertanian tanpa menyebabkan kerusakan pada lingkungan tersebut, misalnya saja dalam ketersediaan air untuk irigasi sawah. Peta arahan pemanfaatan lahan dan peta kesesuaian lahan permukiman dapat dijadikan sebagai acuan dalam penentuan perencanaan tata ruang di Kecamatan Kretek. Dalam perencanaan pembangunan wilayah perlu memperhatikan segala aspek yang ada di dalam wilayah, agar dalam perencanaan yang dilakukan dapat secara komprehensif dan terpadu. Sehingga dalam pembangunan yang dilakukan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Aspek fisik dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mewujudkan pembangunan yang sesuai dengan daya dukung lingkungan. Perencanaan suatu wilayah khususnya dalam hal perencanaan tata ruang tidak hanya melihat dari salah satu aspek saja sebagai acuan dalam pengembangannya. Dengan memadukan berbagai macam aspek yang berkaitan erat dengan perencanaan tersebut dapat menciptakan suatu perencanaan yang

Rinda Ayun Anggraini (09/284543/GE/6613)

Laporan Praktikum Penginderaan Jauh untuk Terapan Pembangunan Wilayah

sesuai dengan arah kebijakan yang ada dan dapat menciptakan suatu pembangunan yang berkelanjutan.

VII.

KESIMPULAN 1. Kecamatan Kretek berada di dataran rendah dan wilayah ini cenderung menjadi penyebab terjadinya banjir. 2. Pemanfaatan lahan Kecamatan Kretek merupakan kawasan tanaman semusim dan permukiman. 3. Kecamatan Kretek memiliki fungsi tidak hanya di bidang pertanian tetapi juga di bidang perdagangan dan jasa pelayanan. 4. Karakteristik wilayah yang berbeda-beda akan mempengaruhi kesesuaian lahan yang berbeda pula. 5. Ketidaksesuaian pemanfaatan lahan yang ada di Kecamatan Kretek yang merupakan kawasan penyangga berubah menjadi kawasan permukiman. 6. Perencanaan suatu wilayah tidak hanya melihat aspek fisik saja, namun perlu memperhatikan kondisi sosial dan budaya serta melihat aspek satuan bentuklahan di wilayah sekitarnya. 7. Bentuklahan yang berbeda secara tidak langsung akan memiliki hubungan keterikatan dan saling mempengaruhi antara fenomena fisik, sosial budaya dan ekonomi masyarakat. 8. Perencanaan suatu wilayah tidak hanya melihat dari 1 komponen saja, namun melibatkan beberapa komponen sebagai acuan dalam penentuan perencanaan pembangunan berkelanjutan.

Rinda Ayun Anggraini (09/284543/GE/6613)

Laporan Praktikum Penginderaan Jauh untuk Terapan Pembangunan Wilayah

VIII.

DAFTAR PUSTAKA Dardak, Hermanto. Makalah : Pemanfaatan Lahan Berbasis Rencana Tata Ruang Sebagai Upaya Perwujudan Ruang Hidup yang Nyaman, Produktif, dan Berkelanjutan. Tanpa Tahun. Dibyosaputro, Suprapto. 1998. Geomorfologi Dasar. Yogyakarta : Fakultas Geografi UGM. Murti, Heru Sigit. 2012. Petunjuk Praktikum Penginderaan Jauh untuk Terapan Pembangunan Wilayah. Yogyakarta : Fakultas Geografi UGM. Nugraha, Andika Kusuma dan Sumini. 2011. Praktikum Perencanaan Tata Ruang dan Tata Wilayah. Yogyakarta : Fakultas Geografi, UGM. Sadyohutomo, Mulyono. 2008. Manajemen Kota Dan Wilayah : Realita Dan Tantangan. Jakarta : Bumi Aksara.

Rinda Ayun Anggraini (09/284543/GE/6613)