Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Vitamin adalah sekelompok senyawa organik amina berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme setiap organisme (Bono, 2010) yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh. Vitamin merupakan suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita yang berfungsi untuk membantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh. Tanpa vitamin, manusia, hewan, dan makhluk hidup lainnya tidak akan dapat melakukan aktivitas hidup. Selain itu, kekurangan vitamin dapat menyebabkan bertambah besarnya peluang terkena penyakit pada tubuh kita (Organisasi.org, 2006). Salah satu vitamin yang penting bagi tubuh kita adalah vitamin C. Vitamin C disebut juga dengan nama asam askorbat (Davies, M.B., 1991). Secara garis besar, vitamin dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar, yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak. Dalam hal ini, vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air. Jenis vitamin larut dalam air hanya dapat disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang bersama aliran makanan. Saat suatu bahan pangan dicerna oleh tubuh, vitamin yang terlepas akan masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh. Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan segera dibuang tubuh bersama urin (Higdon, J., 2002). Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan asupan vitamin larut air secara terus-menerus. Selama ini vitamin C atau asam askorbat dikenal peranannya dalam menjaga dan memperkuat imunitas terhadap infeksi (Kim D.O., 2002). Pada beberapa penelitian lanjutan ternyata vitamin C juga telah terbukti berperan penting dalam meningkatkan kerja otak (Davies M.B., 1991) .Dua peneliti di Texas Woman's University menemukan bahwa murid SMTP yang tingkat vitamin C-nya dalam darah lebih tinggi ternyata menghasilkan tes IQ lebih baik daripada yang jumlah vitamin C-nya lebih rendah (Bednar C, 1994). Oleh karena itu, peranan vitamin C dalam tubuh sangatlah penting. Dosis rata-rata vitamin C yang dibutuhkan bagi orang dewasa adalah 60-90 mg/hari. Sedangkan batas maksimum yang diizinkan untuk mengkonsumsi vitamin C adalah 1000

mg/hari. Vitamin C banyak terkandung dalam makanan, seperti buah-buahan. Salah satunya adalah buah pisang. Kandungan vitamin C pada buah pisang pada umumnya yang kita ketahui adalah 9 mg/ 100g. Bila dibandingkan dengan buah-buahan lain, seperti: jambu biji (183 g/ 100mg); kiwi (100 g/ 100mg); kelengkeng (84 g/ 100mg); papaya (62 g/ 100 mg); jeruk mandarin (31 g/ 100mg); dan lain-lain (kumpulan info, 2008), maka kandungan vitamin C dalam pisang relative sedikit (Priambodo, 2009). Penelitian tentang metode analisa pada suatu sampel penelitian banyak mengalami perkembangan. Untuk itu, dibutuhkan metode yang tepat untuk analisa suatu sampel sehingga diperoleh hasil yang seakurat mungkin (Priambodo, 2009). Metode yang digunakan untuk analisis vitamin C antara lain titrasi dengan iodine, reaksi dengan 2,4-DNP, titrasi redoks, reaksi dengan indikator 2,6-dichloroindophenol (DCIP) dalam larutan yang bersifat asam (AOAC, 1996). Titrasi redoks merupakan suatu proses titrasi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan valensi atau perpindahan elektron antara zat zat yang saling bereaksi. Titrasi redoks digolongkan dalam titrasi oksidimetri dan reduktometri. Pada titrasi oksidimetri proses yang terjadi merupakan reaksi oksidasi reduksi misalnya pada titrasi permanganometri. Sedangkan reduktometri merupakan golongan titrasi redoks dengan penitran zat iod (Harjadi, 1990). Permanganometri merupakan metode titrasi dengan menggunakan kalium permanganat, yang merupakan oksidator kuat sebagai titran. Titrasi ini didasarkan atas titrasi reduksi dan oksidasi atau redoks. Kalium permanganat telah digunakan sebagai pengoksida secara meluas lebih dari 100 tahun. Reagensia ini mudah diperoleh, murah dan tidak memerlukan indikator kecuali bila digunakan larutan yang sangat encer. Permanganat bereaksi secara beraneka, karena mangan dapat memiliki keadaan oksidasi +2, +3, +4, +6, dan +7 (Day, 1999). Zat yang bersifat oksidator seperti KMnO4, K2CrO4, I2, dan zat yang bersifat reduktor seperti H2C2O4, Fe2+, Sn2+ dapat ditentukan dengan metode titrasi redoks ini. Reaksi redoks terlibat saat titran dan analit bereaksi. Beberapa metode titrasi redoks tidak membutuhkan

indikator untuk melihat titik akhir titrasi seperti titrasi antara KMnO4 dan H2C2O4 disebabkan KMnO4 itu sendiri sudah berwarna. (Khairun, 2009). Indikator titrasi redoks merupakan senyawa berwarna yang akan berubah warna jika teroksidasi atau tereduksi. Indikator akan bereaksi secara redoks dengan penitrasi setelah semua larutan yang dititrasi habis bereaksi dengan penitrasi, karena indikator ditambahkan dalam jumlah kecil. Pemilihan indikator titrasi redoks yaitu indikator yang mempunyai harga kisaran potensial yang berada disekitar harga potensial titik ekivalen titrasi. Indikator harus bereaksi secara cepat dengan penitrasi. Bila indikator bereaksi lambat maka titik akhir titrasi akan datang terlambat, sehingga akan lebih banyak volume penitrasi yang diperlukan dari yang seharusnya (Wiryawan et al., 2008).

1.2 Perumusan Masalah Berapakah kadar vitamin C yang terkandung dalam buah jambu biji? 1.3 Tujuan Penelitian Mengetahui kadar vitamin C yang terkandung dalam buah jambu biji 1.4 Manfaat Penelitian Diperoleh metode analisis vitamin C (asam askorbat) dengan preparasi sampel yang mudah, waktu analisis cepat, jumlah sampel yang dibutuhkan relatif sedikit, dan lebih selektif terhadap vitamin C sehingga dapat menjadi alternatif pada pengukuran vitamin C.

BAB II METODOLOGI PENELITIAN

2.1 Alat dan Bahan Praktikum 2.1.1 Alat 1. Buret 2. Corong 3. Gelas Piala 4. Kertas Saring 5. Labu Erlenmeyer 6. Labu Takar 50 ml 7. Labu Takar 200 ml 8. Pipet Volume 9. Timbangan Analitik 2.1.2 Bahan 1. Asam Askorbat PK 2. Asam Metafosfat asetat 4% 3. Dikloroindofenol Natrium P 4. Indikator Biru Thymol 5. Natrium Bikarbonat 6. Sampel Vitamin C (buah jambu biji)

2.2 Cara Kerja a. pembuatan larutan Dikloroindofenol Ditimbang seksama 5 mg dikloroindofenol natrium P. Dimasukkan kedalam labu takar, dilarutkan dengan 50 ml air yang berisi 105 mg natrium bikarbonat. Dikocok kuat-kuat hingga larut, ditambahkan air secukupnya hingga volume 500 ml. Disaring kedalam botol gelap bersumbat kaca. b. pembakuan larutan Dikloroindofenol Ditimbang seksama 5 mg asam askorbat p.a, kemudian dipindahkan ke labu takar sebanyak 100 ml dan dilarutkan dengan asam metafosfat asetat 4% sampai tanda. Dipipet segera 2 ml kedalam labu Erlenmeyer 100 ml, ditambahkan 5 ml asam metafosfat asetat 4%. Dititrasi cepat dengan larutan DCIP hingga terbentuk warna merah jambu mantap selama 5-10 detik. Dilakukan titrasi blangko dengan menunjukkan 7 ml larutan asam metafosfat asetat 4% yang ditambah aquadest dengan volume yang sama dengan volume DCIP yang dibutuhkan untuk mentitrasi asam askorbat. Dihitung bobot asam askorbat dalam mg yang setara dengan 1,0 ml larutan titer dikloroindofenol. Dilakukan 3 kali replikasi untuk masing-masing titrasi uji dan blangko. c. penetapan kadar sampel Digerus sampel biji jambu biji, ditimbang serbuk sampel yang setara dengan 2 mg vitamin