Anda di halaman 1dari 3

Prinsip Huygens (1629-1695)

Setiap titik pada muka gelombang dapat dianggap sebagai sumber gelombang-
gelombang kecil yang menyebar maju dengan laju yang sama dengan
gelobang itu sendiri. Muka gelombang yang baru merupakan sampul dari
semua gelombang-gelombang kecil tersebut yaitu bersinggungan dengan
tangen (garis singgung) dari semua permukaan gelombang tersebut.

Seorang Ilmuwan Inggris, pada tahun 1801, Thomas Young (1773-1829)


menemukan bukti yang meyakinkan dari sifat gelombang untuk cahaya tampak.
Dalam percobaan ini Young menggunakan sumber utama cahaya berasal dari
sinar matahari yang dilewatkan pada dua celah sempit yang berdekatan yang
berfungsi seolah-seolah sebagai dua sumber cahaya.
Asumsi Young :
Jika cahaya terdiri dari partikel-partikel kecil, mungkin pengamat dapat melihat
dua garis terang pada layar yang diletakkan di belakang celah.
Hasil Percobaan Young :
Terdapat serangkaian garis yang terang seperti deret-deret cahaya terang.

Hasil percobaan tersebut adalah fenomena interferensi gelombang cahaya. Hal


ini dengan membayangkan cahaya sebagai gelombang datar dengan panjang
gelombang tunggal (disebut monokromatik = eka warna = satu warna)
dijatuhkan pada kedua celah sempit yang berdekatan. Akibat difraksi
(pelenturan cahaya saat gelombang melewati suatu celah permukaan yang
sempit), gelombang yang meninggalkan kedua celah tersebut menyebar sama
seperti permukaan air yang tenang lalu dilemparkan batu memunculkan riak-
riak gelombang yang menyebar dari titik asal jatuh batu. Demikian pula halnya
difraksi gelombang setelah melewati celah sempit, kedua celah seolah-olah
menyebarkan riak-riak gelombang cahaya – hal ini berfungsi sebagai sumber
getaran – yang lalu menimbulkan pola sebaran gelombang menyebar
(divergen).

Gelombang yang melewati ke-2 celah sempit ini menyebar dan menempuh
jarak yang sama hingga mencapai satu fase : saat di mana dari suatu
gelombang tiba pada saat yang sama dengan puncak gelombang yang lain.
Amplitudo kedua gelombang bergabung untuk membentuk amplitudo yang lebih
besar = interferensi ini dinamakan interferensi konstruktif (terbentuk saat
terdapat bintik terang pada layar dan pada saat dua berkas gelombang berbeda
jarak sebesar satu panjang gelombang/ atau kelipatan bilangan bulat lainnya
dari panjang gelombang bertemu). Saat amplitudo gelombang cahaya bertemu
setelah menempuh jarak lebih setengah kali panjang gelombang yang lain, saat
amplitudo kedua gelombang tiba dengan keadaan fase gelombang yang
berlawanan saat mencapai layar – maka terbentuklah gabungan gelombang
yang menghasilkan amplitudo gelombang sama dengan nol. Hal ini dikatakan
interferensi destruktif.

Untuk menentukan dengan tepat garis-garis terang jatuh pada layar, pada
situasi nyata jarak d (jarak antar celah) sangat sempit dibandingkan dengan
jarak celah terhadap layar (disimbolkan dengan huruf L). Berkas-berkas sinar
dari setiap celah akan paralel (sejajar) dan sudut deviasi θ merupakan sudut
yang dibentuk sinar paralel terhadap arah horizontal. Jarak antara dua celah
sempit terhadap arah pergeseran sinar paralel bernilai λ saat dibentuk pola
garis terang (interferensi kontruktif) dan bernilai ½ λ saat terbentuk pola garis-
garis gelap (interferensi destruktif). Jarak tersebut besarnya adalah d sin θ.

Maka saat muncul garis terang nilai jarak ekstra tersebut adalah

d sin θ = m. λ dengan nilai m = 0, 1, 2, 3 , … (interferensi konstruktif)

nilai m dinamakan pinggiran interferensi. Misal orde 1 (m=1) saat pinggiran


pertama di setiap sisi pinggiran pusat (saat θ = 00). Interferensi destruktif terjadi
saat d sin θ = , , dan seterusnya dikali terhadap panjang gelombang.

Untuk interferensi desktruktif dinyatakan rumusan sebagai berikut

d sin θ = (m + ½) λ dengan m = 0, 1, 2, 3, …

Batas pinggiran terang paling besar untuk pinggiran pusat (m = 0) dan


berkurang untuk orde-orde yang lebih besar.

Difraksi Oleh Celah Tunggal

Augustin Fresnel (1788-1827) pada 1819 mengemukakan sebuah teori


gelombang untuk cahaya yang meramalkan efek-efek interferensi dan difraksi.
Simeon Poisson (1781-1840) menunjukkan bahwa berdasarkan teori
gelombang Fresnel, jika cahaya dari satu titik sumber jatuh pada piringan yang
padat, maka cahaya yang dilenturkan (di-difraksi-kan) di sekitar pinggir piringan
akan berinterferensi konstruktif di pusat bayangan. Eksperimen ini benar-benar
terjadi oleh Francois Arago. Bintik terang terjadi tepat di tengah bayangan.

Berkas-berkas paralel dari cahaya monokromatik yang melewati celah sempit


berusaha mencapai layar yang berada sangat jauh. Berkas-berkas paralel ini
memiliki fase yang sama sehingga akan ada berkas-berkas paralel yang
bersudut θ dari bagian atas celah tunggal menempuh jarak tepat satu panjang
gelombang lebih jauh dibandingkan berkas paralel yang datang dari bagian
bawah celah sempit. Berkas yang melewati bagian tengah celah akan
mencapai layar dengan jarak setengah panjang gelombang lebih besar dari
berkas yang berasal dari bawah celah. Kedua berkas yang 1λ dan ½ λ akan
berlawanan fase dan menghasilkan interferensi destruktif. Dan akhirnya setiap
berkas yang melewati bagian celah atas yang berjarak setengah panjang
gelombang berkas pada celah bagian bawah akan meniadakan berkas sinar
yang melewati bagian bawah celah sempit. Interferensi desktrutif akan terjadi
dalam pasangan-pasangan.

Sin θ = ….. tercapai garis minimum pertama saat θ = 00 berkurang hingga


intensitasnya nol pada sudut θ yang dinyatakan dengan persamaan di atas.
λ = panjang gelombang berkas
D = lebar celah sempit (celah tunggal)

Pada sudut θ yang lebih besar, yang mana berkas paling atas menempuh jarak
λ lebih jauh dari berkas yang melewati celah bagian bawah. Akan saling
meniadakan berkas yang ada di bawahnya, terutama untuk berkas-berkas yang
berbeda fase ½ λ. Sementara cahaya teratas dari ketiga bagian di tengah akian
mencapai layar dan menghasilkan pola garis terang, namun tidak seterang pola
yang memiliki sudut fase = 00.
Untuk berkas yang memiliki sudut θ lebih besar akan menempuh jarak 2 λ agar
sampai ke layar dan menghasilkan pola garis terang. Berkas-berkas yang
berada ¼ bagian atas akan saling meniadakan dengan berkas yang berada ¼
bagian di bagian bawah.
Pola intensitas nol terjadi pada

d sin θ = m λ m = 1, 2, 3, …. (karena saat m = 0 terdapat terang maksimum


terkuat). Di antara minimum-minimum ini terdapat garis terang lain yang tidak
seterang bintik saat m = 0).

Untuk menghitung garis terang pada difraksi celah tunggal digunakan


persamaan

d sin θ = (m – ½) λ (karena saat m = 0, garis terang tidak perlu diperhitungkan


lagi, pola ini untuk menghitung garis terang lain selain saat m = 0).

rumus ini untuk menghitung intensitas minimum pada difraksi celah tunggal