Anda di halaman 1dari 4

MANAJEMEN DASAR

LANGKAH-LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

NAMA : MEDYARINA KURNIASIH NPM : P2.31.31.0.11.024

KELAS : 1-A

JURUSAN D3 GIZI POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA II Jl. Hang Jebat III Blok F3 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan JAKARTA 2011/2012

Masalah Gizi : KURANG VITAMIN A (KVA)

A. Sekilas tentang KVA KVA merupakan salah satu masalah gizi kurang di Indonesia. Vitamin A itu sendiri berfungsi antara lain menjaga kelembaban dan kejernihan selaput lendir, memungkinkan mata dapat melihat dengan baik dalam keadaan kurang cahaya (sore atau senja hari), serta pada ibu nifas akan meningkatkan mutu vitamin A dalam ASI, sehingga bayi akan mendapatkan vitamin A yang cukup dari ASI. Akibat dari kekurangan vitamin A ini bermacam-macam antara lain terhambatnya pertumbuhan, gangguan pada kemampuan mata dalam menerima cahaya, kelainan-kelainan pada mata seperti xerosis dan xerophthalmia, serta meningkatnya kemungkinan menderita penyakit infeksi. Bahkan pada anak yang mengalami kekurangan vitamin A berat angka kematian meningkat sampai 50%.

B. KVA sebagai Masalah Gizi Saat ini, masih ada 0,8 milyar orang di dunia defisiensi vitamin A. 4000 balita di dunia meninggal karena kekurangan vitamin A. Di Indonesia, 1 dari 2 anak balita kemungkinan besar mengalami Kurang Vitamin A (KVA). Lebih dari 100 juta orang Indonesia mengalami defisiensi zat gizi dan 10 juta balita mengalami KVA. KVA adalah ancaman daya saing bangsa (Martianto, 2010). Selain itu, berdasarkan data organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 25 30 % kematian bayi dan balita disebabkan kekurangan vitamin A. Sedangkan di Indonesia sekitar 14,6% anak di atas usia 1 tahun mengalami kekurangan vitamin A dan berdampak pada penglihatan.

C. Data dan Informasi mengenai KVA Kekurangan vitamin A terjadi terutama karena kurangnya asupan vitamin A yang diperoleh dari makanan sehari-hari. Pada anak yang mengalami kekurangan energi dan protein, kekurangan vitamin A terjadi selain karena kurangnya asupan vitamin A itu sendiri juga karena penyimpanan dan transpor vitamin A pada tubuh yang terganggu. Sebanyak 50% anak balita masih menunjukkan kadar serum vitamin A yang rendah, yaitu <20 mcg/dl. Pada

kekurangan vitamin A, kadar vitamin A menurun higga <15 mcg/100 ml, sedangkan kadar normalnya dalam tubuh yaitu sekitar 20-50 mcg/100 ml.

D. Penyebab KVA Penyebab KVA yaitu karena kekurangan vitamin A, dimana selain kurangnya kandungan vitamin A dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari, juga ditimbulkan karena kekurangan asupan kalori dan protein yang menghambat pengangkutan vitamin A. Kelompok umur yang terutama mudah mengalami kekurangan vitamin A adalah kelompok bayi usia 6-11 bulan dan kelompok anak balita usia 12-59 bulan (1-5 tahun). Sedangkan yang lebih beresiko menderita kekurangan vitamin A adalah bayi berat lahir rendah kurang dari 2,5 kg, anak yang tidak mendapat ASI eksklusif dan tidak diberi ASI sampai usia 2 tahun, anak yang tidak mendapat makanan pendamping ASI yang cukup, baik mutu maupun jumlahnya, anak kurang gizi atau di bawah garis merah pada KMS, anak yang menderita penyakit infeksi (campak, diare, TBC, pneumonia) dan kecacingan, anak dari keluarga miskin, anak yang tinggal di dareah dengan sumber vitamin A yang kurang, anak yang tidak pernah mendapat kapsul vitamin A dan imunisasi di Posyandu maupun Puskesmas, serta anak yang kurang/jarang makan makanan sumber vitamin A.

E. Alternatif untuk Mengatasi Masalah KVA 1. Fortifikasi vitamin A pada minyak goreng. 2. Meningkatkan konsumsi sumber vitamin A alami melalui penyuluhan. 3. Distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi secara berkala.

F. Kekuatan dan Kelemahan beberapa Alternatif 1. Fortifikasi vitamin A pada minyak goreng. Kekuatan: hampir seluruh masyarakat Indonesia mengonsumsi minyak goreng setiap harinya, sehingga dengan adanya fortifikasi vitamin A pada minyak goreng, otomatis kebutuhan masyarakat akan vitamin A dapat terpenuhi. Kelemahan: hal ini termasuk pemborosan karena produsen harus menambahkan vitamin A sintetik ke dalam minyak goreng setelah penghilangan provitamin A dalam dalam CPO (Crude Palm Oil), selain itu, alternative ini masih berupa rintisan dari pemerintah sejak tahun 2011 dan belum ada upaya untuk merealisasikannya.

2. Meningkatkan konsumsi sumber vitamin A alami melalui penyuluhan. Kekuatan: sederhana dan dapat dilakukan berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Dengan memberikan penyuluhan mengenai pentingnya vitamin A dan bahan makanan apa saja yang merupakan sumber vitamin A, maka masyarakat akan memperbanyak konsumsi bahan makanan sumber vitamin A tersebut. Kelemahan: diperlukan waktu yang cukup lama, karena sulit mengubah pola hidup atau menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya vitamin A jika hanya dengan penyuluhan. 3. Distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi secara berkala. Kekuatan: waktu yang dibutuhkan relative singkat. Karena pemberian kapsul vitamin A ini hanya dilakukan minimal enam bulan sekali, sehingga tidak terlalu banyak membuang waktu. Kelemahan: tidak meratanya pendistribusian.

G. Alternatif Terbaik Dari ketiga aleternatif yang telah dikemukakan diatas, menurut saya alternatif yang terbaik adalah distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi secara berkala. Mungkin alternatif ini sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu, dan menurut saya memang alternative ini merupakan yang terbaik, dimana tidak memerlukan terlalu banyak waktu, yaitu pendistribusian tersebut hanya dilakukan selama enam bulan sekali. Selain itu, alternative ini juga termasuk praktis di mana warga hanya berkunjung ke posyandu atau puskesmas terdekat untuk mendapatkan vitamin A tersebut. Memang alternative ini juga memiliki kekurangan, yaitu tidak meratanya pendistribusian karena warga yang masih minim tingkat kesadarannya mengenai pentingnya vitamin A ini. Namun hal tersebut dapat diatasi dengan kunjungan ke rumah-rumah warga yang belum tercatat datang ke posyandu untuk mendapatkan kapsul vitamin A tersebut. Dengan adanya kerjasama antara warga dengan petugas kesehatan, maka masalah KVA di Indonesia akan dapat ditanggulangi.

H. Cara Memantau dan Mengevaluasi Pemecahan Masalah Cara memantau pemecahan masalah tersebut yaitu dengan melakukan

pencatatan dan pelaporan yang dilakukan secara berjanjang mulai dari tingkat posyandu / pos vitamin A sampai dengan tingkat pusat. Dan cara mengevaluasinya yaitu dengan melakukan pemeriksaan secara berkala kadar vitamin A dalam darah masing-masing warga.
3