Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pada praktikum acara nikol sejajar dan nikol silang telah diuraikan tentang cara mentukan siat-sifat optik suatu mineral. Identifikasi mineral merupakan suatu kegiatan yang titik fokusnya mengarah pada deskripsi sifat-sifat optik mineral. Mineral adalah bahan anorganik yang terbentuk secara alamiah, memiliki komposisi kimia yang tetap dan struktur kristal yang beraturan. Mineral optik merupakan salah satu cabang ilmu geologi yang pada batuan. Mineral optik

mempelajari tentang mineral yang terkandung

membahas tentang mineral-mineral pada batuan dalam bentuk monomineral. Salah satu tujuan mempelajari mineral optik ialah untuk untuk mengetahui cara menentukan sifat-sifat optik mineral, serta mengenal mineral secara mikroskopik Hampir 90 % mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok mineral silikat, yang merupakan persenyawaan antara silikon dan oksigen dengan beberapa unsur metal. Karena jumlahnya yang besar, maka hampir 90 % dari berat kerak Bumi terdiri dari mineral silikat, dan hampir 100 % dari mantel Bumi (sampai kedalaman 2900 Km dari kerak Bumi). Silikat merupakan bagian utama yang membentuk batuan baik itu sedimen, batuan beku maupun batuan malihan (metamorf). Silikat pembentuk batuan yang umum adalah dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok ferromagnesium dan non-ferromagnesium.

Setiap mineral mempunyai sifat-sifat optik yang khusus yang dapat dibedakan dengan mineral yang lainnya, tanpa harus mengidentifikasi seluruh sifat-sifat optiknya. Oleh karena itu, maka dikelompokkanlah mineral-mineral yang memiliki sifat-sifat khusus. I.2. Maksud dan Tujuan Adapun maksud dari praktikum mineral optik acara mineral tektosilikat dan sorosilikat adalah untuk mengetahui sifat-sifat optik mineral-mineral tektosilikat dan sorosilikat. Adapun tujuan dari praktikum ini adalah : 1. Mengidentifikasi sifat-sifat optik mineral pada pengamatan nikol sejajar dan nikol silang serta identifikasi sumbu optik, tanda optik dan gambar interferensi pada pengamatan konoskopik. 2. Menentukan perbedaan mineral Kuarsa dan Feldspatoid Group berdasarkan sifat-sifat optik masing-masing mineral I.3. Alat dan Bahan Alat dan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. Mikroskop Polarisasi 2. Alat tulis menulis 3. Lap halus dan lap kasar 4. Sampel mineral 5. Pensil warna

I.4. Prosedur Kerja

Prosedur kerja untuk menentukan sifat-sifat optik mineral adalah sebagai berikut: 1. Meletakkan Mikroskop polarisasi diatas meja dengan cara memegang lengan Mikroskop Polarisasi sedemikian rupa sehingga mikroskop berada persis dihadapan Pemakai. 2. Menyentringkan mikroskop. 3. Menentukan nomor urut sampel. 4. Menentukan nomor peraga dengan cara melihat nomor yang ada pada sampel mineral yang diamati. 5. Menentukan perbesaran lensa objektif, lensa okuler dan pembesaran total dengan cara melihat perbesaran lensa objektif dan lensa okuler yang digunakan kemudian mengkalikannya. 6. Menentukan bilangan skala. 7. Menentukan kedudukan mineral (x,y) dengan cara melihat kedudukan mineral pada skala sumbu absis dan sumbu ordinat. 8. Menentukan ukuran mineral dengan cara melakukan perhitungan DMP pada panjang mineral dengan menggunakan benang silang berskala (mm) kemudian hasilnya dikalikan dengan bilangan skala. 9. Menentukan warna mineral dengan cara diamati langsung warna yang nampak pada mikroskop. 10. Menentukan pleokroisme dengan cara mengamati perubahan warna mineral pada ortoskop tanpa nikol atau nikol sejajar bila meja objek diputar 900.

pleokroisme lemah jika perbedaan warna absorpsi tidak begitu menyolok dan pleokroisme kuat jika perbedaan warna yang terjadi sangat kontras. 11. Menentukan intensitas. 12. Menentukan indeks bias mineral dengan cara: Menutup sebagian jalannya masuk cahaya kedalam mineral dengan menggunakan benda yang tidak tembus cahaya. Apabila bayangan gelap nampak pada posisi yang berlawanan dengan arah posisi penutupnya, maka nmin < ncb. Sebaliknya jika terlihat bayangan gelap Nampak pada posisi yang searah dengan arah penutup datangnya sinar, maka nmin > ncb. 13. Menentukan belahan pada mineral 14. Menentukan pecahan pada mineral 15. Menentukan bentuk mineral dengan cara: Melihat bentuk mineral dalam kondisi dua dimensi. Jika Kristal dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri maka bentuk mineralnya Euhedral. Jika Kristal dibatasi oleh sebagian bidang kristalnya sendiri maka bentuk mineralnya Subhedral. Jika Kristal sama sekali tidak dibatasi oleh bidang-bidang kristalnya sendiri maka bentuk mineralnya Anhedral. 16. Menentukan relief mineral 17. Menentukan inklusi mineral. 18. Menentukan W.I. Maksimum mineral

19. Menentukan bias rangkap mineral dengan cara: Memutar meja objek sampai diperoleh warna terang maksimum. Membandingkan warna tersebut dengan warna standar komparator dari tabel Michel-Levy. Menarik garis horizontal melalui ketebalan sayatan (0.03 mm) kemudian membaca harga 20. Menentukan kembaran mineral jika ada 21. Menentukan sudut gelapan dengan cara: Memastikan posisi awal meja objek dalam keadaan terang maksimum dan mencatat nilai yang ditunjukkan skala meja objek Memutar meja objek ke kiri hingga gelap maksimum dan mencatat nilai yang ditunjukkan skala meja objek. Dan mengembalikan meja objek pada posisi awal (terang maksimum) kemudian memutar ke kanan hingga gelap maksimum. Menghitung selisih nilai yang ditunjukkan pada saat mineral

menunujukkan kondisi terang maksimum (posisi awal) dan pada saat kondisi gelap maksimum (ketika meja objek diputar kea rah kiri dan kanan dari posisi awal) 22. Menentukan jenis gelapan berdasarkan nilai yang ditunjukkan sudut gelapan 23. Menentukan TRO dengan cara: Memasukkan komparator keping gips. Melihat perubahan warnanya. Jika terjadi penambahan warna berarti mengalami addisi dan jika terjadi pengurangan warna berarti substraksi.

Melihat perubahan warna tersebut pada Tabel Michel-Levy. Jika berbeda orde Length slow dan jika dalam satu orde berarti Length- fast

24. Menentukan nama mineral 25. Melakukan pengamatan konoskopik dengan cara: Mengulangi langkah (5) dan (6) Menentukan tanda optik mineral. Jika mineral tersebut termasuk dalam Uniaxial maka tanda optik (+) berlaku jika kuadran 1 dan 3 mengalami gejala addisi sementara 2 dan 4 mengalami substraksi , tanda (-) jika kuadran 1 dan 3 substraksi sementara 2 dan 4 addisi. Untuk mineral biaxial, tanda (+) berlaku jika kuadran 1 dan 3 mengalami gejala substraksi sementara 2 dan 4 mengalami addisi , tanda (-) jika kuadran 1 dan 3 addisi sementara 2 dan 4 substraksi. Menentukan isogir dan gelang warna. Khusus unntuk gelang warna, jika warna yang terlihat maksimal 2 maka termasuk bias ganda lemah. Jika warna yang terlihat lebih dari 2 maka termasuk bias ganda kuat Menetukan sudut 2V melalui identifikasi pada isogir.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mineral Silikat Mineral Silikat adalah mineral yang paling umum di mika bumi ini, termasuk kuarsa, feldspar, mika, amphibole, piroksen, dan olivin. Mineral kuarsa (SiO2) ditemukan di semua jenis batuan dan di semua bagian dunia. Silikat adalah persenyawaan kimia antara unsur-unsur logam dengan salah satu dari Si O tetrahedra (SiO4)-4 tunggal atau berantai Silicates yaitu golongan mineral yang paling besar dan sangat berlimpah keberadaannya, dalam hal ini silicate adalah unsur pokok penyusun batuan beku dan batuan metamorf. Mineral-mineral silikat cenderung bersifat : keras, berwarna transparant (jernih dan tembus cahaya) hingga translucent (tembus cahaya) dan mempunyai Berat Jenis rata-rata sama. Pada umumnya dalam semua struktur silicat, silicon berada diantara 4 atom oksigen (kecuali yang terbentuk pada tekanan yang ekstrim). Kuarsa termasuk kelompok mineral silikat, yang semuanya mengandung unsur silikon dan oksigen dalam proporsi tertentu. Mineral Silikat juga memiliki berbagai sifat fisik, meskipun faktanya bahwa mineral silikat sering memiliki rumus kimia yang sangat mirip. misalnya, rumus untuk kuarsa (SiO 2) dan olivin ((Fe Mg) 2 SiO 4) hampir sama perbedaan tampak kecil, namun sangat berbeda. Yang mendasar adalah mencerminkan struktur kristal dan sangat berbeda sifatsifat fisik. Di antara perbedaan-perbedaan lain, kuarsa meleleh pada suhu sekitar600 C sementara olivin tetap solid untuk suhu hampir dua kali lipat,

kuarsa umumnya jelas dan tidak berwarna, sedangkan olivin berwarna hijau zaitun. Keragaman dan kelimpahan mineral silikat merupakan hasil dari sifat atom silikon , fleksibilitas dan stabilitas dari silikon ketika berikatan dengan oksigen. Silika tetrahedral berikatan satu sama lain dan dengan

berbagai kation dalam berbagai cara untuk membentuk mineral silikat. Terlepas dari kenyataan bahwa ada ratusan mineral silikat, hanya sekitar 25 yang benarbenar umum. Oleh karena itu, dengan memahami bagaimana mineral silika tetrahedral, anda akan dapat menentukan nama dan mengidentifikasi 95% dari batuan yang anda temui di permukaan bumi adalah persenyawaan kimia antara unsur-unsur logam dengan salah satu dari Si O tetrahedra (SiO4)-4 tunggal atau berantai. Dari strukturnya (sudut bangunnya) silikat dibagi menjadi 6 kelas, yaitu : a. Nesosilicate Mempunyai (SiO4)-4 tetrahedra yang benar-benar terpisah (tetra hedra silikon-oksigen benar-benar terpisah), komposisi berupa SiO4. Mineral khasnya Forsterit (Mg2SiO4), mineral lainnya seperti :Olivine [(Mg,Fe)2SiO4], Zircon (ZrSiO4), Sillimanite (Al2SiO5). Nesosilicate mempunyai 2 tetrahedra yang dihubungkan oleh 1 atom oksigen yang merupakan milik bersama (dipakai bersama-sama), komposisi berupa Si2O7. Mineral khasnya Akermonite

(Ca2MgSi2O7), mineral lainnya seperti : Heminorphite [Zn4Si2O7(OH)2.H2O], Zoisite [Ca2Al3(Si3O12)OH].

Struktur Nesosilikat b. Cyclocilicate Mempunyai tetrahedra yang saling berhubungkan membentuk struktur lingkaran tertutup dengan komposisi berupa SinO3n. Bila mempunyai lingkaran 3 tetrahedra, misalnya mineral Benitoite (BaTiSi3O9), Bila mempunyai 6 mineral 3 tetrahedra, mineral Beryl (Be3Al2Si6O18) Mineral lainnya seperti Cordierite [Mg2Al4Si5O18], Ferroxinite [Ca2FeA2Bsi4O15(OH)].

Struktur Siklosilikat c. Inosilicate Mempunyai tetrahedra yang saling berhubungkan membentuk struktur rantai tunggal/ganda dan saling terikat oleh unsur logam.Rantai Tunggal mempunyai

komposisi Si : O = 1 : 3, misalnya terlihat pada mineral-mineral Piroksin Group seperti Diopside (CaMgSi2O6), Hornblende [CaFeSi2O6], Jadeite

[Na(Al,Fe+3)Si2O6]. Rantai Ganda, dimana 2 rantai tunggal paralel yang posisi tetrahedranya berselang-seling/terikat menyilang dengan perbandigan komposisi Si : O = 4 : 11 dicirikan oleh mineral-mineral Amphibole group [(Ca,Na)(Mg,Fe)]Silicat-OH, seperti Tremolite [Ca2Mg5Si8O22(OH)2, Actinolite [Ca2(Mg,Fe)5Si8O22(OH)2], Hornblende [(Na,K,Ca)3(Mg,Mn)5Si8O22(OH)2].

Mineral lainnya seperti Wollastonite [CaSiO3], Rhodonite [(Mn, Fe, Mg)SiO3], Neptunite [Na2Kli(Fe,Mn)2Ti2Si8O24].

Struktur Inosilikat d. Phylosilicate Mempunyai lapisan yang terbentuk oleh pemakaian secara bersama-sama oleh 3 ion oksigen dari tiap-tiap tetrahedra yang berbatasan disekitarnya sehingga membentuk lapisan datar yang luas dengan perbandingan komposisi Si : O = 2 : 5. Dicirika dengan kelompok mineral Mica [K(Mg,Fe)Al Silicat OH, seperti Muscovite [KAl2(AlSi3)O10(OH)2], Biotite [K(Mg,Fe)3(Al,Fe)Si3O10(OH,F)2], Mineral lainnya seperti Vermicullite [(Mg,Fe,Al)3(Al,Si)4O10(OH)2.4H2O],

Kaolinite [Al2Si2O5(OH)4], Serpentinite [(Mg,Fe)3Si2O5(OH).

Mempunyai kerangka silicate yang mana setiap atom tetrahedra silicon/SiO4memakai bersama-sama semua (ke-empat) pojok-pojoknya dengan atom tetrahedra silicon lainnya yang berdekatan sehingga membentuk jaringan 3 dimensi dengan perbandingan komposisi Si : O = 1 : 2. Dicirikan dengan beberapa bentuk silica seperti Kwarsa (SiO2), Tridimite (SiO2), Kristobalite

(SiO2) mempunyai susunan 3 dimensi tersebut. Mineral khas lainnya seperti Feldspar group : Orthoclase (KAlSi3O8), Sanidine (KAlSi3O8), Microcline (KAl2Si3O8), Albite (NaAlSi3O8), Oligoclase [(Na,Ca)AlSi3O8].

Struktur Phylosilicate e. Tectosilicate Mempunyai kerangka silicate yang mana setiap atom tetrahedra silicon/SiO4memakai bersama-sama semua (ke-empat) pojok-pojoknya dengan atom tetrahedra silicon lainnya yang berdekatan sehingga membentuk jaringan 3 dimensi dengan perbandingan komposisi Si : O = 1 : 2. Dicirikan dengan beberapa

bentuk

silica

seperti

Kwarsa

(SiO2),

Tridimite

(SiO2),

Kristobalite

(SiO2) mempunyai susunan 3 dimensi tersebut. Mineral khas lainnya seperti Feldspar group : Orthoclase (KAlSi3O8), Sanidine (KAlSi3O8), Microcline (KAl2Si3O8), Albite (NaAlSi3O8), Oligoclase [(Na,Ca)AlSi3O8].

Struktur Tektosilikat 2.2 Contoh Mineral Tektosilikat pada nikol silang dan sejajar a. Kuarsa

Kuarsa merupakan mineral silikat yang hanya disusun oleh silikon dan oksigen. Mineral kuarsa juga sering disebut silika karena komposisinya SiO2. Karena struktur kuarsa mengandung dua atom oksigen untuk tiap atom silikon, maka tidak dibutuhkan lagi ion positif untuk menjadikan mineral kuarsa ini netral. Struktur kristal kuarsa membentuk jaringan tiga dimenasi yang lengkap antara ion oksigen disekitar ion silikon, sehingga membentuk suatu ikatan yang kuat antara keduanya. Akibatnya kuarsa tidak mempunyai bidang belahan, sangat keras dan resisten terhadap proses pelapukan. Kuarsa mempunyai belahan konkoidal. Pada

bentuknya yang sempurna kuarsa sangat jernih, membentuk kristal heksagonal dengan bentuknya piramidal. Warna mineral kuarsa sangat bervariasi tergantung pada proses pengotoran pada waktu pembentukannya. Variasi warna ini menyebabkan adanya bermacam mineral kuarsa. Mineral kuarsa yang umum adalah kuarsa susu (putih), kuarsa asap (abu-abu), kuarsa ros (pink), ametis (purple) dan kristal batuan (clear). Beberapa (kristal besar) macrocrystalline varietas dikenal dan populer sebagai batu hias dan batu permata. Beberapa macrocrystalline (varietas kristal dan dikenal populer sebagai batu permata dan batu hias. Amethyst adalah berbagai batu permata berwarna ungu. Citrine adalah batu permata berwarna kuning orange yang jarang terjadi di alam tetapi sering dibuat oleh pemanasan Amethyst. Milky Quartz adalah minerl kuarsa yang warnanya putih awan. Prasiolite adalah jenis batu permata berwarna hijau-daun bawang yang terbentuk oleh pemanasan Amethyst dari lokasi tertentu. Kristal Rock adalah varietas yang juga digunakan sebagai batu permata.

Kuarsa pada nikol sejajar (kiri) dan nikol silang (kanan)

b. Leusit

Leusit pada nikol sejajar (kiri) dan nikol silang (kanan) c. Nepheline

Nephelin pada nikol sejajar (kiri) dan nikol silang (kanan)

BAB III HASIL DAN EMBAHASAN

Dalam praktikum, pengamatan yang dilakukan mineral melalui

berupa

pengamatan

nikol sejajar, nikol silang, T.R.O, dan pengamatan konoskop.

Pengamatan ini merupakan identifikasi alkali feldspar dan plagioklas . 3.1 Mineral Quartz Pengamatan pertama yaitu pengamatan pada nikol sejajar. Pada pengamatan nikol sejajar, perbesaran objektif yang digunakan yaitu perbesaran 5x dan perbesaran lensa okuler 10x dengan bukaan diafragma 0,1 sehingga bilangan skala bernilai 0,02 yang diperoleh dari hasil pembagian peresaran total (Mtot = Mob x Mok). Identifikasi selanjutnya yaitu menentukan kedudukan mineral pada sumbu x dan y. Kedudukan mineral dapat dilihat pada skala absis (sumbu x) dan skala ordinat (sumbu y). Pada pengamatan ini, Bytownite yang menjadi objek pengamatan utnuk analisis sifat-sifat optik yaitu dimulai dari warna mineral hingga pada ukuran mineral. Warna mineral merupakan warna absorbsi yang terlihat berdasarkan perspektif pengamat dan merupakan warna yang nampak dari daya serap cahaya yang terpolarisasi. Pada pengamatn ini, warna dari mineral kuarsa adalah orange kecoklatan.. Identiikasi selanjutnya yaitu menentukan ada tidaknya pleokroisme dan jenis dari pleokroisme dengan cara memutar meja objek 900 sambil mengamati perubahan warna yang terlihat namun pada pengamatan tidak ditemukan adanya pleokroisme. Intensitas merupakan daya serap mineral terhdap cahaya yang berbanding lurus dengan relief. Intensitas dari Quartz yaitu

rendah dengan bentuk subhedral - anhedral. Indeks bias ditentukan melalui metode iluminasi miring, dimana yang digunakan sebagai pemancing bayangan adalah pulpen. Jika serah dengan arah datangnya bayangan maka nmin > ncb demikian pula sebaliknya jika berlawanan arah maka nmin < ncb . Pada

pengamatan ini, indeks bias Quartz yaitu nmin > ncb. Quartz tidak memiliki belahan dan pecahannya tidak rata. Ukuran dari mineral ini yaitu 1,8 mm yang diperoleh dari perkalian bilangan skala dengan panjang/lebar dari suatu mineral yang terlihat pada benang silang.

Quartz pada nikol sejajar Pada pengamatan nikol silang warna interferensi maksimum pada saat keeping gips dimasukkan yaitu abu-abu kecoklatan pada orde I atas dengan bias rangkap (0,006). Mineral ini tidak memiliki kembaran. Sudut gelapan yang dihasilkan yaitu 32,50 yang diperoleh dari selisih antara terang maksimum dan gelap maksimum sehingga didapatkan jenis gelapan mineral gelapan miring.

Quartz pada nikol silang

Tanda rentang optik (T.R.O.) mineral yang diamati adalah substraksi length slow, hal ini dapat dilihat saat meja objek diputar, maka warna dari mineral berubah dengan lambat dari warna abu-abu kecoklatan menjadi warna hijau.

Quartz pada T.R.O. Pada pengamatan konoskop, Sumbu optik mineral ini adalah uniaxial. Tanda optik mineral yang diamati yaitu positif (+), dimana kuadran 1 dan 3 addisi sedangkan kuadran 2 dan 4 substraksi. Tidak memiliki isogir dengan gelang warna mineral yang diamati yaitu bias rangkap kuat karena warna yang dijumpi lebih dari 2. Quartz tidak memiliki sudut 2V. 3.2 Mineral Leucite . Pada pengamatan nikol sejajar, perbesaran objektif yang digunakan yaitu perbesaran 5x dan perbesaran lensa okuler 10x dengan bukaan diafragma 0,1 sehingga bilangan skala bernilai 0,02 yang diperoleh dari hasil pembagian peresaran total (Mtot = Mob x Mok). Identifikasi selanjutnya yaitu menentukan kedudukan mineral pada sumbu x dan y. Kedudukan mineral dapat dilihat pada skala absis (sumbu x) dan skala ordinat (sumbu y). Pada pengamatan ini, Leucite yang menjadi objek pengamatan utnuk analisis sifat-sifat optik yaitu dimulai dari warna mineral hingga pada ukuran mineral. Warna mineral merupakan warna

absorbsi yang terlihat berdasarkan perspektif pengamat dan merupakan warna yang nampak dari daya serap cahaya yang terpolarisasi. Pada pengamatn ini, warna dari mineral kuarsa adalah orange kehitaman.. Identfiikasi selanjutnya yaitu menentukan ada tidaknya pleokroisme dan jenis dari pleokroisme dengan cara memutar meja objek 900 sambil mengamati perubahan warna yang terlihat namun pada pengamatan tidak ditemukan adanya pleokroisme. Intensitas merupakan daya serap mineral terhadap cahaya dan berbanding lurus dengan relief. Intensitas dari Leucite yaitu sedang dengan bentuk euhedral. Indeks bias ditentukan melalui metode iluminasi miring, dimana pulpen digunakan sebagai pemancing bayangan. Jika serah dengan arah datangnya bayangan maka nmin > ncb demikian pula sebaliknya jika berlawanan arah maka nmin < ncb . Pada

pengamatan ini, indeks bias Leucite yaitu nmin > ncb. Leucite tidak memiliki belahan namun pecahannya rata. Ukuran dari mineral ini yaitu 0,8 mm yang diperoleh dari perkalian bilangan skala dan panjang/lebar dari suatu mineral yang terlihat pada benang silang.

Leucite pada nikol sejajar Pada pengamatan nikol silang warna interferensi maksimum pada saat dimasukkan keeping gips yaitu kuning kehijauan pada orde II dengan bias

rangkap 0,012. Mineral ini tidak memiliki kembaran. Sudut gelapan yang dihasilkan yaitu 42,50 yang diperoleh dari selisih antara terang maksimum dan gelap maksimum sehingga didapatkan jenis gelapan mineral gelapan miring.

Leucite pada nikol silang Tanda rentang optik (T.R.O.) mineral yang diamati adalah addisi length fast, hal ini dapat dilihat saat meja objek diputar, maka warna dari mineral berubah dengan cepat.

Quartz pada T.R.O Pada pengamatan konoskop, Sumbu optik mineral ini adalah uniaxial. Tanda optik mineral yang diamati yaitu negatif (-), dimana kuadran 1 dan 3 substraksi sedangkan kuadran 2 dan 4 addisi. Quartz tidak memiliki isogir, secara otomatis sudut 2V tidak bisa ditentukan dan gelang warna mineral yang diamati yaitu bias rangkap lemah.

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Pada pengamatan nikol sejajar, sifat optik mineral Quartz adalah ukuran

mineral yaitu 1,8 mm, warna mineral orange kecoklatan, pleokroisme tidak ada, intensitas rendah, indeks bias nmin > ncb, belahan tidak ada, pecahan

tidak rata, bentuk mineral subhedral-anhedral, relief rendah. Sifat optik mineral Leucite yaitu ukuran mineral yaitu 7mm, warna mineral orange kehitaman, intensitas sedang, indeks bias nmin > ncb, belahan tidak ada, pecahan rata, bentuk mineral euhedral, relief sedang. 2. Pada pengamatan nikol silang, sifat optik mineral Quartz yaitu warna interferensi maksimum adalah abu-abu kecoklatan pada Orde I dengan bias rangka 0,006, sudut gelapan 32,50 , jenis gelapan miring, tanda rentang optik yaitu substraksi length slow. Sifat optik mineral sampel 2 yaitu warna interferensi maksimum adalah kuning kehijauan pada Orde II dengan bias rangka 0,012, sudut gelapan 42,50 , jenis gelapan miring, tanda rentang optik yaitu addisi length fast. 3. Pada pengamatan konoskop, sifat optik sampel 1 adalah sumbu optik uniaxial, tanda optik (+), dan gelang warna bias ganda kuat. Pada sampel 2, sumbu optik dari Leucite adalah uniaxial, tanda optik negatif (-), bias ganda lemah.

4.2 Saran Perlu adanya pengadaan alat laboratorium utamanya mikroskop agar praktikum dapat berjalan dengan lancer. Jadi, satu mikroskop untuk konsumsi satu orang.

DAFTAR PUSTAKA

Haryadi, Heru. 2009. Mineral. www.heruharyadi27.blogspot.com (diakses pada tanggal 25 Maret 2012 pukul 20.15 WITA) Mineral-Silikat. http://www.scribd.com (diakses pada tanggal 25 Maret 2012 pukul 20:55 WITa) Ria Irfan, Ulva. 2011. Mineral Optik. Makassar.

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK GEOLOGI PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI PRAKTIKUM MINERAL OPTIK ACARA V: MINERAL KUARSA DAN FELDSPATOID GROUP

LAPORAN

OLEH : FADLIAH D611 10 262

MAKASSAR 2012