Anda di halaman 1dari 17

Tujuan Penjatuhan Hukuman oleh Negara: Sebuah Tinjauan dari segi Filsafat Hukum

Abstract The duties and obligations of the State is to preserve the order of law. Preserving the order of law is transformed by punishment. So from here we concluded that the state authorities have the right to punish criminal. If only small part of society is being influenced by crime, then it is enough just to put the criminal away for temporary. But if large part of the society is influenced by crime, then the criminal needs to be put away for good in order to restore peace. Keyword: law, punishment, philosophy of law

A. Pendahuluan Hukum Indonesia kembali diperdebatkan dengan adanya pengajuan keberatan atas ancaman hukuman mati dalam perkara narkoba yang diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Permohonan ini diajukan oleh Edith Yunita Sianturi, Rani Andriani, Myuran Sukumaran, Andrew Chan dalam perkara nomor 2/PUU-V/2007 dan Pemohon Scott Anthony Rush dalam nomor perkara 3/PUU-V/2007. Para Pemohon yang sebagian merupakan warga negara asing yang telah dipidana mati tersebut merasa hak konstitusionalnya terlanggar dengan adanya ancaman pidana mati dalam UU Narkotika. Para pemohon adalah terpidana Mati yang telah menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri Tangerang dan Pengadilan Negeri Denpasar dalam perkara tindak pidana yang diatur dengan UU Narkotika di wilayah hukum Negara Republik Indonesia. Berdasarkan putusan-putusan di tingkat Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung, para pemohon dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman pidana mati. Meskipun putusan hukuman mati tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde), namun vonis hukuman tersebut jelas sangat merugikan kepentingan dan hak konstitusional para pemohon yaitu hak para pemohon untuk hidup yang dijamin dan dilindungi oleh konstitusi, yaitu UUD 1945. Dengan dijatuhi hukuman pidana mati maka hak untuk hidup para pemohon yang

secara tegas dijamin keberadaannya oleh Pasal 28A dan Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 telah dilanggar. Kami tertarik dengan materi ini karena selain Indonesia dikenal dengan pasar yang aktif dalam hal peredaran obat-obat terlarang, juga penegakkan hukum terhadap para pengedar yang relatif kurang tegas, selain itu sistem hukum juga memberikan kesempatan kepada setiap terpidana yang dijatuhi pidana mati untuk mengajukan keberatan atas putusan hakim tersebut, sebagai hak dari setiap terpidana yang diatur dalam undang-undang, baik berupa peninjauan kembali, grasi dan amnesti. Meskipun hak-hak tersebut telah ditolak oleh pengadilan yang mempunyai wewenang untuk memeriksannya, namun sistem hukum di Indonesia dapat memberikan kesempatan lagi dengan mengajukan ke Mahkamah Konstitusi, atas dasar peraturan yang menjadi dasar putusan tersebut bertentangan dengan ketentuan Undang-Undang Dasar 1945 beserta perubahannya. Selain para terpidana mati tersebut di atas, khususnya di PN Tangerang sendiri, telah terdapat 20 perkara peredaran narkotika dan obat-obat terlarang yang divonis hukuman mati. Ke dua puluh kasus tersebut, sebagian besar dilakukan oleh warga negara asing (WNA). Berdasarkan data, ke-20 orang yang telah dijatuhi vonis mati itu berasal dari berbagai kewarganegaraan. Kelompok warga negara Nepal adalah Nar Bahadur Tamang, Bala Tamang, Til Bahadur Bhandari, Bir Bahadur Gurung, dan Indra Bahadur Tamang. Sedangkan mereka yang berkewarganegaraan Nigeria adalah Samuel Iwuchekwu Okoye, Hansen Anthony Nwaolisa, Okwudili Ayotanze, dan Obinna Nwajagu. Di luar itu, Thomas Daniel (warga negara/WN Angola), Ozias Sibanda (WN Zimbabwe), Muhamad Abdul Hafez (WN Pakistan), Bunyong Khaosa Ard dan Nonthanam M Saichon (WN Thailand), serta Ang Kim Soei (WN Belanda). Lima orang

lainnya adalah warga negara Indonesia (WNI), masing-masing Meirika Franola, Rani Andriani, Deni Setia Maharwan, Edith Yunita Sianturi, dan Merri Utami1. Ironisnya, semakin banyak pengedar yang dijatuhi hukuman mati, semakin banyak pula pengedar-pengedar baru yang seolah-olah tidak mendengar atau bahkan tidak merasa takut dengan ancaman hukuman mati yang telah dijatuhkan Pengadilan kepada pengedar-pengedar sebelumnya. Hal ini terlihat dalam kasus yang dilakukan oleh Akuang. Kasus ini berawal dari pada hari pada hari Minggu tanggal 27 Agustus 2006 sekitar jam 18.00 WIB, Frangky, Chien dan Lou datang menemui Udin bin Kasman dan saksi Romli bin Hasan di tempat Dok milik Budi di Muara Angke dan setelah mereka naik diatas KM. Cahaya Laut, Frangky menyuruh Udin bin Kasman mengemudikan KM. Cahaya Laut untuk berangkat menuju Dermaga Kohod di areal tanah milik Dani untuk menjemput Ahwa alias Awang Setiawan dan terdakwa Samin Iwan alias Akuang bin Kasmat. Sekitar satu setengah jam kemudian KM. Cahaya Laut yang mereka tumpangi tiba di Dermaga Kohod dimana di tempat tersebut, Ahwa alias Awang Setiawan dan terdakwa Samin Iwan alias Akuang sedang menunggu dan selanjutnya Ahwa alias Awang Setiawan dan terdakwa Akuang bergabung diatas KM. Cahaya Laut bersama saksi Udin bin Kasman, saksi Romli bin Hasan, Frangky, Chen, dan Lou. Atas perintah Frangky, Udin bin Kasman mengemudikan KM. Cahaya Laut berangkat dari Dermaga Kohod menuju laut bebas dan dengan dibantu Frangky untuk mengendalikan arah tujuan perjalanan dengan menggunakan alat GPS Tracer 5565 serta sebuah kompas merek Ritchie dan setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam mereka sampai di laut bebas di ujung karawang lalu mendekati sebuah kapal besar warna putih (kapal cargo). Pada saat itu Akuang, Ahwa, Frangky, Chen, dan Lou kemudian menaiki kapal cargo tersebut sedangkan Udin bin Kasman dan saksi Romli bin Hasan tetap
1

Hasil wawancara dengan Narasumber di PN Tangerang.

berada di KM. Cahaya Laut dan sekitar 15 menit kemudian beberapa awak kapal cargo dengan dibantu oleh Frangky dan Ahwa terlihat oleh Udin bin Kasman dan Romli bin Hasan menurunkan dos-dos yang jumlahnya cukup banyak ke KM. Cahaya Laut dengan menggunakan sebuah alat dan pada saat itu Udin bin Kasman dan Romli bin Hasan menyadari kalau dos-dos itu berisi barang terlarang dan setelah selesai dos-dos tersebut diturunkan kemudian semua penumpang KM. Cahaya Laut yang berada diatas kapal cargo turun bergabung bersama saksi Udin bin Kasman dan saksi Romli bin Hasan di KM. Cahaya Laut kemudian bergerak pulang meninggalkan kapal cargo menuju Dermaga Kohod yang dikemudikan oleh Udin bin Kasman yang dibantu oleh Frangky. Pada sekitar pukul 00.30 WIB, mereka bersama KM. Cahaya Laut tiba di Dermaga Kohod dan setibanya di Dermaga itu, dos-dos yang berada di KM. Cahaya Laut yang berasal dari kapal cargo tadi diturunkan oleh terdakwa Akuang bersama-sama Ahwa, Frangky, Chen, dan Lou dibantu Udin bin Kasman dan Romli bin Hasan dengan maskud untuk mengedarkan barang tersebut lalu meletakkannya di sebuah bangunan yang ada di areal kebun di dekat Dermaga Kohod. Sesampainya di dermaga Kohod (sekitar pukul 01.30 Wib), terdakwa Akuang, Ahwa, Franky, Chen dan Lou menurunkan dos-dos tersebut di dekat kandang bebek yang ada di areal kebun di dekat dermaga Kohod. Atas perbuatan terdakwa tersebut, majelis hakim PN telah menjatuhi hukuman selama 20 (dua puluh tahun) penjara dari tuntutan JPU dengan pidana mati. Berangkat dari permasalahan tersebut di atas, maka kami tertarik untuk mendalami apa yang menjadi permasalahan dalam paper ini, yaitu apakah negara mempunyai hak untuk menjatuhkan hukuman bahkan hingga hukuman mati ? HASIL DAN PEMBAHASAN Tujuan Hukuman

Immanuel Kant, 150 tahun yang lalu mengatakan, Noch suchen die Juristen eine Definition zu ihrem Begriffe von Recht, yang diterjemahkan sebagai tidak seorang ahli hukum pun yang mampu membuat definisi tentang hukum. Hal ini didasarkan atas pemikiran bahwa hukum itu banyak seginya, sangat luas ruang lingkupnya, jadi tidak mungkin untuk dirumuskan dalam suatu definisi yang hanya terdiri dari beberapa kalimat saja (Lili Rasjidi dan Ira Thanis Rasjidi, 2002: 38). Dari definisi yang berbedabeda ini, memberikan intepretasi yang berbeda-beda pula dari setiap orang, dengan demikian membawa pengaruh pada tujuan hukum itu sendiri. Aristoteles mencetuskan teorinya bahwa tujuan hukum adalah menghendaki keadilan semata-mata memperoleh keadilan dan isi pada hukum ditentukan adil dan apa yang tidak adil (R.Soeroso, 2002: 58). Tugas hukum adalah keadilan dengan memberikan kepada tiap-tiap orang apa yang berhak ia terima yang memerlukan peraturan tersendiri bagi tiap-tiap kasus. Pengikut teori ini, Geny dalam bukunya Science et tecnique en droit prive positif mengajarkan bahwa tujuan hukum adalah semata-mata mencapai keadilan yang berangsur kepentingan daya guna dan kemanfaatan (Roscoe Pound, 1996: 27-40). Bagi Roscoe Pound, bila ingin mempelajari untuk apa hukum itu ada maka harus mengetahui tentang apa hukum itu. Menurutnya hukum ada 12 arti yang dijabarkan sebagai berikut (Roscoe Pound, 1996: 27-40): 1. Satu kaidah atau sehimpunan kaidah yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengatur tindakan hidup manusia; 2. Satu tradisi dari kebiasaaan lama yang ternyata dapat diterima oleh dewadewa dan karena itu menunjukkan jalan yang boleh ditempuh manusia dengan amannya. Pengertian ini menunjuk kepada keselamatan umum yang ingin dicapai, supaya orang melakukan hanya apa yang dibolehkan dengan

melakukan menurut cara yang digariskan oleh kebiasaan yang lama dituruti,

setidak-tidaknya jangan melakukan apa yang tidak disenangi dewa-dewa. Hukum dipandang sebagai tradisi yang diwahyukan Tuhan, merupakan himpunan perintah yang tradisional dan dicatat serta diperlihara; 3. Kebijaksanaan yang dicatat dari para budiman di masa lalu, yang telah dipelajari yakni jalan yang sekanat atau jalan kelakuan manusia yang disetujui Tuhan; 4. Satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filsafat dengan menyatakan sifat benda-benda, dan karena itu manusia harus menyesuaikan kelakuannya dengan sifat benda-benda itu; 5. Satu himpunan penegasan dan pernyataan dari satu undang-undang kesusilaan yang abadi dan tidak berubah-ubah; 6. Satu himpunan persetujuan yang dibuat manusia di dalam masyarakat (diatur secara politik), dengan yang lainnya; 7. Satu pencerminan dari akal ilahi yang menguasai alam semesta ini yang menentukan berkesusilaan; 8. Satu himpunan perintah dari penguasa yang berdaulat di dalam satu masyarakat yang disusun menurut satu sistem kenegaraan, tentang bagaimana harus bertindak di dalam masyarakat dan perintah itu pada tingkat terakhir berdasarkan apa saja yang dianggap terdapat di belakang wewenang yang berdaulat; 9. Satu sistem pemerintah ditemukan oleh pengalaman manusia yang menunjukkan, bahwa kemauan tiap manusia perseorangan akan mencapai kebebasan sesempurna mungkin yang sejalan dengan kebebasan itu pula, yang apa yang seharusnya dilakukan sebagai kesatuan yang yang mengatur mengenai hubungan antara seorang

diberikan kepada kemauan orang-orang lain. (artinya pengalaman yang satu dapat dianggap dapat menyelesaikan masalah hukum yang sama bagi orang lain); 10. Satu sistem asas-asas yang ditemukan secara filsafat dan dikembangkan sampai pada perinciannya oleh tulisan-tulisan sarjana hukum dan putusan peradilan, sehingga kemauan tiap orang bertindak diselaraskan dengan kehendak orang lain; 11. Sehimpunan atau sistem kaidah yang dipikulkan atas manusia di dalam masyarakat oleh satu kelas yang berkuasa untuk sementara untuk memajukan kepentingan kelas itu sendiri; 12. Perintah undang-undang ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan tindak tanduk manusia di dalam masyarakat, yang ditemukan oleh pengamatan, dinyatakan dalam perintah yang disempurnakan oleh pengalaman manusia mengenai apa yang akan terpakai dan apa yang tidak terpakai di dalam penyelenggaraan peradilan. Jeremy Bentham, salah seorang penganut teori utilitas mengatakan bahwa hukum bertujuan semata-mata apa yang berfaedah bagi orang. Pandangan ini banyak dikritik karena menitikberatkan hal-hal yang berfaedah bagi banyak orang dan bersifat umum tanpa memperhatikan keadilan. Pandangan ini beranggapan bahwa tujuan hukum dicapai melalui kepastian hukum bagi perorangan. Bentham juga mengatakan bahwa salah satu tujuan hukum yang utama ialah mengenai persoalan rasa aman. Tanpa hukum, tidak mungkin ada rasa aman, konsekuensinya yakni tidak ada kekayaan dan bahkan tidak ada sumber nafkah. Satu-satunya kesetaraan yang mungkin ada dalam kondisi semacam ini adalah kesetaraan penderitaan.

Untuk menciptakan gagasan yang tepat tentang manfaat hukum, maka perlu mempertimbangkan kondisi orang-orang yang masih liar, mereka terus-menerus berjuang melawan kelaparan yang kadang menewaskan semua suku primitif. Persaingan untuk mencari makanan menimbulkan perang yang sangat kejam di antara mereka. Seperti binatang buruan, manusia memburu manusia sebagai cara untuk bertahan hidup. Hukum sendiri bisa melakukan hal-hal yang tidak sanggup dilakukan semua perasaan alamiah. Hukum sendiri mampu menciptakan kepemilikan yang tetap dan tahan lama dengan istilah hak milik. Hukum sendiri dapat membiasakan manusia untuk tunduk pada belenggu harapan di masa depan yang mula-mula sulit untuk terwujud, tetapi kemudian menjadi mudah dan menyenangkan. Tidak ada satupun selain hukum yang dapat mendorong manusia untuk bekerja berlebihan di masa kini dengan hasil yang baru dapat dinikmati di masa depan (Jeremy Bentham, 2006: 138-140). Dilihat dari pernyataan tersebut maka hukum itu sendiri berarti menciptakan rasa aman, selain ini maka menurut Bentham sebagai penganut the greatest happiness of the greatest number (ini dilatarbelakangi oleh keadaan masyarat di masa Bentham yang terpuruk. Kemiskinan merajarela di mana-mana. Kebutuhan di masa itu adalah kedamaian dan ketentraman, sehingga menurut Bentham hukum yang adil adalah hukum yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya) menganggap tujuan hukum itu bergantung pada manfaatnya. Hukum harus memberikan manfaat bagi jumlah terbesar, inilah hukum yang seharusnya. Hukum menurut Gustav Radbruch dituntut untuk memenuhi berbagai karya yang olehnya dimaksudkan sebagai nilai-nilai dasar dari hukum, ketiga nilai dasar tersebut adalah keadilan, kegunaan dan kepastian hukum. Sekalipun ketiganya itu merupakan

nilai dasar dari hukum namun ketiganya terdapat suatu Spannungsverhltnis, suatu ketegangan satu sama lain. Hubungan atau keadaan demikian dapat dimengerti karena ketiganya berisi tuntutan yang berlainan dan satu dengan yang lainnya berpotensi untuk bertentangan. Tujuan hukum bagi Mr. J.H.P. Bellefroid adalah keadilan dan faedah. Pandangan ini menggabungkan antara kemanfaatan dan kebahagiaan dengan keadilan. Prof. Mr.. J. Van Kan. berpendapat bahwa hukum bertujuan untuk menjaga kepentingan tiap-tiap manusia supaya kepentingan-kepentingan itu tidak dapat diganggu. Di sini jelas, tugas hukum adalah menjamin kepastian hukum di dalam masyarakat dan juga menjaga serta mencegah agar setiap orang tidak menjadi hakim sendiri. Apeldoorn menyatakan bahwa tujuan hukum adalah mengatur tata tertib dalam masyarakat secara damai dan adil (L.J. van Apeldoorn, 2001: 10). Kedamaian hukum harus diciptakan masyarakat yang adil dengan mengadakan perimbangan antara kepentingan yang bertentangan satu sama lain, dan tiap orang harus memperoleh (sedapat mungkin) apa yang menjadi haknya.

Dasar Perlindungan Negara Terhadap Warga Setelah melihat tujuan hukum yang telah kami uraikan tersebut di atas, dapat kami simpulkan, bahwa untuk tercapainya tujuan hukum, maka pemerintah harus memberikan hukuman bagi mereka yang melakukan kejahatan untuk menciptakan keseimbangan dalam masyarakat. Inilah hakekat dari terciptanya keamanan dan ketertiban dalam masyarakat, yaitu memberikan hukuman. Berbicara mengenai penghukuman, maka pertanyaan yang kerapkali muncul adalah apakah tujuan hukuman itu dan siapakah yang berhak menjatuhkan hukuman. Pada umumnya telah disepakati bahwa yang berhak menghukum (hak puniendi) adalah di dalam tangan negara (pemerintah). Pemerintah dalam menjatuhkan hukuman selalu

dihadapkan pada suatu paradoksalitas, yang oleh Hazewinkel-Suringa dilukiskan sebagai berikut: Pemerintah negara harus menjamin kemerdekaan individu, menjaga supaya pribadi manusia tidak disinggung dan tetap dihormati. Tapi kadang-kadang sebaliknya, pemerintah negara menjatuhkan hukuman, dan karena menjatuhkan hukuman itu maka pribadi manusia tersebut oleh pemerintah negara sendiri diserang, misalnya yang bersangkutan dipenjarakan. Jadi pada satu pihak pemerintah negara membela dan melindungi pribadi manusia terhadap serangan siapapun juga, sedangkan dipihak lain pemerintah negara menyerang pribadi manusia yang hendak dilindungi dan dibela itu. (Syahruddin Husein: 5)

Orang berusaha untuk menunjukkan alasan apakah yang dapat dipakai untuk membenarkan penghukuman oleh karena menghukum itu dilakukan terhadap manusiamanusia yang juga mempunyai hak hidup, hak kemerdekaan bahkan mempunyai hak pembelaan dari negara itu juga yang menghukumnya. Beranjak dari pemikiran tersebut munculah berbagai teori hukuman, yang pada garis besarnya dapat dibagi atas tiga golongan : 1. Teori absolut atau teori pembalasan Tokoh-tokoh yang terkenal yang mengemukakan teori pembalasan ini antara lain adalah Kant dan Hegel. Mereka beranggapan bahwa hukuman itu adalah suatu konsekwensi daripada dilakukannya suatu kejahatan. Berbuat suatu kejahatan, maka akibatnya harus dihukum. Hukuman itu bersifat mutlak bagi yang melakukan kejahatan. Semua perbuatan yang temyata berlawanan dengan keadilan, harus menerima pembalasan. Apakah hukuman itu bermanfaat bagi masyarakat, bukanlah hal yang menjadi pertimbangan, tapi hukuman harus

10

dijatuhkan. Untuk menghindari hukuman ganas, maka Leo Polak menentukan tiga syarat yang harus dipenuhi dalam menjatuhkan hukuman, yaitu : a. Perbuatan yang dilakukan dapat dicela sebagai suatu perbuatan yang bertentangan dengan etika, yaitu bertentangan dengan kesusilaan dan tata hukum obyektif b. Hukuman hanya boleh memperhatikan apa yang sudah terjadi. Hukuman tidak boleh dijatuhkan dengan suatu maksud prevensi c. Beratnya hukuman harus seimbang dengan beratnya delik. Hal ini perlu supaya penjahat tidak dihukum secara tidak adil. Gerson W. Bawengan menyatakan bahwa ia menolak teori absolut atau teori

pembalasan itu yang dikemukakan dalam bentuk apapun, berdasarkan tiga unsur, yaitu : a. Tak ada yang absolut didunia ini, kecuali Tuhan Yang Maha Esa.

Pembalasan adalah realisasi daripada emosi, memberikan pemuasan emosionil kepada pemegang kekuasaan dan merangsang ke arah sifat-sifat 'sadistis' dan sentimentil. Oleh karena itu kepada para penonjol teori pembalasan itu, dapatlah diterka bahwa mereka memiliki sifat-sifat sadistis, dan kerena itu pula ajaran mereka lebih condong untuk dinamai teori sadisme. b. Tujuan hukuman dalam teori itu adalah hukuman itu sendiri. Teori

ini mengalami suatu jalan buntu sehubungan dengan sempitnya tujuan yang ada, oleh karena tujuannya hanya sampai pada hukuman itu sendiri. adalah suatu tujuan yang tak bertujuan, sebab dipengaruhi dan disertai nafsu membalas. 2. Teori relatif atau teori tujuan

11

Para penganjur teori relatif tidak melihat hukuman itu sebagai pembalasan, dan karena itu tidak mengakui bahwa hukuman itu sendirilah yang menjadi tujuan penghukuman, melainkan hukuman itu adalah suatu cara untuk mencapai tujuan yang lain daripada penghukuman itu sendiri. Hukuman, dengan demikian mempunyai tujuan, yaitu untuk melindungi ketertiban. Para pengajar teori relatif itu menunjukkan tujuan hukuman sebagai usaha untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum yakni, menghindarkan, agar umumnya orang tidak melakukan pelanggaran bahkan ditujukan pula bagi terhukum agar tidak mengulangi pelanggaran. Hukuman, menurut teori ini mempunyai dua sifat, yaitu sifat prevensi umum dan sifat prevensi khusus. Prevensi umum, orang akan menahan diri untuk tidak melakukan kejahatan. Prevensi khusus ini oleh para penganjurnya menitikberatkan bahwa hukuman itu bertujuan untuk mencegah orang yang telah dijatuhi hukuman, tidak mengulangi lagi perbuatannya. Selanjutnya bagi mereka yang hendak melakukan pelanggaran akan mengurungkan maksudnya sehingga pelanggaran tidak dilaksanakan. 3. Teori Gabungan Menurut teori gabungan hukuman hendaknya didasarkan atas tujuan pembalasan dan mempertahankan ketertiban masyarakat, yang diterapkan secara kombinasi dengan menitikberatkan pada salah satu unsurnya tanpa

menghilangkan unsur yang lain maupun pada semua unsur yang telah ada. Menurut G. Peter Hoefnagels upaya penanggulangan kejahatan dapat ditempuh dengan (G. Peter Hoefhagels, 1973: 47): a. Penal: penerapan hukum pidana (criminal law application) b. Non-penal:

12

1) punishment) 2)

Pencegahan

tanpa

pidana

(prevention

without

Mempengaruhi

pandangan

masyarakat

mengenai

kejahatan dan pemidanaan lewat mass media (influencing views of society on crime and punishment/mass media) Secara kasar dapatlah dibedakan, bahwa upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur penal lebih menitikberatkan pada sifat represif sesudah kejahatan terjadi, sedangkan jalur non-penal lebih menitikberatkan pada sifat preventif sebelum kejahatan terjadi. Dikatakan sebagai perbedaan secara kasar, karena tindakan represif pada hakikatnya juga dapat dilihat sebagai tindakan preventif dalam arti luas. Mengingat upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur non-penal lebih bersifat akan pencegahan untuk terjadinya kejahatan, maka sasaran utamanya adalah menangani faktor-faktor yang mendukung penyebab terjadinya kejahatan. Faktor-faktor pendukung itu antara lain berpusat pada masalah masalah atau kondisi-kondisi sosial yang secara langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan atau menyuburkan kejahatan. Beberapa aspek sosial yang oleh Kongres ke-8 PBB tahun 1990 di Havana, Cuba, diidentifikasikan sebagai faktor kondusif penyebab terjadinya kejahatan (khususnya dalam masalah "urban crime"), antara lain (Vienna, Sixteenth Session, 2007: 10): Kemiskinan, pengangguran, kebutahurufan (kebodohan), ketiadaan/kekurangan

perumahan yang layak dan sistem pendidikan serta latihan yanag tidak cocok/serasi; Mengendurnya ikatan sosial dan keluarga; Menurun atau mundurnya (kualitas) lingkungan perkotaan yang mendorong peningkatan kejahatan dan berkurangnya pelayanan bagi tempat-tempat fasilitas lingkungan/bertetangga; Kesulitan-kesulitan bagi orang-orang dalam masyarakat modern untuk berintegrasi sebagaimana mestinya didalam lingkungan masyarakatnya, keluarganya, tempat kerjanya atau lingkungan

13

sekolahnya; Penyalahgunaan alkohol, obat bius dan lain-lain yang pemakaiannya juga diperlukan karena faktor-faktor yang disebut diatas; Meluasnya aktivitas kejahatan terorganisasi, khususnya perdagangan obat bius dan penadahan barang-barang curian. Hukuman itu memperlengkapi hukum, artinya hukum tanpa hukuman hanyalah berupa kaidah sosial biasa dan bukanlah hukum. Dulu hukuman diberikan untuk sebagai alat balas dendam. Hukum yang berpandangan bahwa mata dibayar mata dan nyawa dibayar nyawa adalah rumusan hukum yang menyerupai dalam banyak hukum primitif. Seiring dengan perkembangan masyarakat yang lebih beradab, keinginan memberikan pembalasan atau membinasakan nyawa si pelaku kejahatan guna mengembalikan keseimbangan yang terganggu akibat terjadinya kejahatan sudah mulai ditinggalkan. Tujuan hukuman dan sanksi hukum lebih ditujukkan sebagai sarana untuk memperbaiki orang yang terlibat dalam tindak pidana. Asumsi ini mengharapkan bahwa si pelaku kejahatan mampu mencoba untuk mempengaruhi dan memperbaiki dirinya. Pada asumsi hukuman ini, tujuan hukuman itu adalah agar adanya jaminan supaya orang berprilaku baik. Hukuman, yang merupakan bagian dari hukum, telah berkembang mengikuti perubahan pemikiran hukum yakni dari dunia pembalasan seperti di jaman perjanjian lama dalam alkitab dengan moto lex retalia telah

berkembang menjadi suatu fungsi sosial baik dalam memperbaiki prilaku masyarakat dan juga membawa masyarakat ke arah perkembangan yang lebih beradab, dengan mengenai sisi kemanusiaan sehubungan dengan adanya sikap simpati. Segi pembalasan yang dianut Indonesia, yakni adanya pelaksanaan hukuman mati yang merupakan kegiatan pembalasan sebagai dasar dari perlakuan yang sepantasnya bagi aksi pemboman terorisme dan juga drug-dealler.

14

KESIMPULAN Tugas dan kewajiban dari negara adalah untuk mempertahankan ketertiban hukum. Mempertahankan ketertiban hukum tersebut itu diwujudkan oleh pidana. Jadi dari sini kita berkesimpulan, bahwa penguasa negara mempunyai hak untuk memidana, artinya membalas kejahatan. Oleh karena itu, kalau karena kejahatan itu terganggulah ketertiban tersebut dalam satu bagian yang tertentu saja, maka hubungan yang baik akan dapat dipulihkan kembali dengan mengeluarkan atau tidak menurut sertakan penjahat itu dalam masyarakat. Ini secara umumnya dapat dilakukan dengan merampas kemerdekaannya. Tetapi jika kejahatan itu tidak hanya mengganggu ketertiban dalam satu bagian, melainkan merusak seluruh ketertiban, maka ketertiban yang terancam itu dapat dipulihkan kembali dengan melenyapkan seluruhnya perusak ketertiban tersebut dengan membunuh penjahat tersebut dengan hukuman mati.

DAFTAR PUSTAKA Buku Bentham, Jeremy, Teori Perundang-undangan, Prinsip-prinsip Legislasi, Hukum Perdata dan Hukum Pidana, 2006, Bandung, Nuansa, diterjemahkan oleh Nurhadi.

15

Hoefnagels , G. Peter, The Other Side of Criminology An Inversion of the Concept of Crime, 1973, Holland, Kluwer Deventer

Husein, Syahruddin, Kejahatan dalam Masyarakat dan Upaya Penanggulanngannya, Fakultas Hukum Jurusan Hukum Pidana, Universitas Sumatera Utara.

Pound, Roscoe, Pengantar Filsafat Hukum, 1996, Jakarta, Bhratara, terjemahan oleh Mohamad Radjab.

Rasjidi, Lili dan Ira Thania Rasjidi, 2002, Pengantar Filsafat Hukum, Bandung, Mandar Maju

Soeroso, R, 2002, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta, Sinar Grafika

van Apeldoorn, L.J, Pengantar Ilmu Hukum, 2001, Jakarta, Pradnya Paramita

Artikel/Makalah Commission on Crime Prevention and Criminal Justice, Crime Prevention and Criminal Justice Responses to Urban Crime, including Gang-related Activities, and Effective Crime Prevention and Criminal Justice Responses to Combat Sexual Exploitation of Children (Vienna, Sixteenth session, 23-27 April 2007).

16

17