Anda di halaman 1dari 27

TUTORIAL I

POKOK BAHASAN : KONSEP DASAR KEPERAWATAN ANAK Peran perawat anak sebagai penyuluh kesehatan di masyarakat 1. Pemberi perawatan ( Care Giver ) Dalam peran ini, perawat diharapkan mamapu untuk memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi, mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai masalah yang kompleks. 2. Advocat keluarga Perawat dituntut sebagai pembela bagi keluarga dalam beberapa hal seperti dalam menetukan haknya sebagai klien. 3. Pencegahan penyakit Perawat dalam melakukan Asuhan keperawatan harus mengutamakan tindakan pencegahan. 4. Pendidikan Selain sebagai tenaga kesehatan, perawat juga berperan sebagi pendidik. Melalui pesan yang disampaikan, perawat dapat merubah perilaku anak atu keluarga. Informadi yang disampaikan dapat membantu klien menambah pengetahuan dalam upaya meningkatkan kesehatan. 5. Konseling Perawat juga berperan sebagai tempat untuk berkonsultasi, sehingga dapat bertukar pikiran. Perawat diharapkan mampu untuk memecahkan masalah dengan difokuskan pada masalah keperawatan. 6. Kolaborasi Peran perawat sebagai kolaborator dapat dilaksanakan dengan cara bekerja sama dengan tim kesehatan lainnya dalam kaitannya mempercepat proses penyembuhan klien. 7. Pengambil keputusan etik Perawat disamping anak 24 jam. Peran perawat sebagai pengambil keputusan etik dapat dilakukan seperti akan melakukan tindakan pelayanan keperawatan. 8. Peneliti Menemukan masalah-masalah keperawatan yang harus diteliti, melaksanakan penelitian langsung menggunakan hasil penelitian untuk meningkatkan peneliti kualitas asuhan pada anak.

TUTORIAL II
POKOK BAHASAN : PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP KESEHATAN ANAK 1. Bentuk disiplin yang diterapkan oleh ibu yaitu Jawab : Ibu kurang disiplin dalam memperhatikan/merawat anaknya, terlihat dari perilaku ibu yang sangat ceroboh dalam meletakkan/menyimpan benda-benda yang berbahaya bagi anak. 2. Yang sebaiknya dilakukan oleh ibu adalah Jawab : Tidak mendekatkan benda-benda atau sesuatu yang dapat membahayakan bagi anak. Mengawasi setiap aktivitas yang dilakukan oleh anak. Ibu sebaiknya mengantisipasi bahaya-bahaya yang mungkin terjadi.

3. Dalam mementukan ukuran luas luka bakar dapat menggunakan beberapa metode yaitu : Rule Of Nine Kepala dan leher Dada depan dan belakang Abdomen depan dan belakang Tangan kanan dan kiri Paha kanan dan kiri Kaki kanan dan kiri Genitalia : : : : : : : 9% 18 % 18 % 18 % 18 % 18 % 1%

Penentuan luas luka bakar secara lebih lengkap dijelaskan dengan diagram lund dan browder sebagai berikut : LOKASI 0-1 Kepala Leher Dada dan perut Punggung Pantat Kelamin Lengan atas kanan dan kiri 19 2 13 13 5 1 8 1-4 17 2 13 13 5 1 8 USIA (TAHUN) 5-9 13 2 13 13 5 1 8 10-15 10 2 13 13 5 1 8 DEWASA 7 2 13 13 5 1 8

Lengan bawah kanan dan kiri Tangan kanan Tangan kiri Paha kanan Paha kiri Tungkai bawah kanan dan kiri Kaki kanan dan kiri

6 2,5 2,5 5,5 5,5 10 7

6 2,5 2,5 6,5 6,5 10 7

6 2,5 2,5 8,5 8,5 11 7

6 2,5 2,5 8,5 8,5 12 7

6 2,5 2,5 9,5 9,5 14 7

4. Tindakan keperawatan untuk anak tersebut adalah a. Clothing b. Cooling : : singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar dinginkan daerah yang terluka luka bakar dengan menggunakan air mengalir selama 20 menit, hindari hipotermi. c. Cleaning : pembersihan dilakukan dengan zat anastesi untuk mengurangi rasa sakit. pemberian anti tetanus, pemberian krim silver sulvodiasin untuk penanganan infeksi tidak boleh diberikan pada wajah, riwayat alergi, perempuan hamil, BBL, ibu menyusui dengan bayi kurang 2 bulan. e. Covering f. Comforting : : penutupan luka bakar dengan kasa. dapat diberikan pengurang rasa nyeri berupa : Paracetamol (PO 20-30 mg/kg ) Morphine (IV 0,1 mg/kg) Morphine (IM 0,2 mg/kg)

d. Chemaprphylayis :

TUTORIAL III
POKOK BAHASAN : PROMISI KESEHATAN ANAK KEBUTUHAN NUTRISI DAN CAIRAN PADA ANAK BERDASARKAN USIANYA Nutrisi adalah sumber atau zat-zat makanan yang diperlukan oleh tubuh yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak dan vitamin. Sedangkan cairan adalah kebutuhan air yang diperlukan oleh tubuh. 1. INFANT (0-1 tahun) a. Air Susu Ibu (ASI) adalah sumber makanan lengkap yang paling disenangi oleh bayi selama 6 bulan pertama. ASI adalah gizi yang paling unggul, aman, dan bakteri. ASI ibu juga mengandung factor anti infeksi dan sel-sel imun. Zat kekebalan yang terkandung dalam ASI yaitu Immunoglobulin, lisozim, Laktoperin dan leukosit. b. Penyapihan dari payudara ibu atau botol ke gelas harus bertahap. Kecenderungan bayi untuk meniru (8-9 bulan) meningkat keberhasilan penyapihan kebutuhan air rata-rata 100-120 ml/kg/hari dari usia 0-6 bulan dan 120-35 ml/kg/hari dari usia 6-12 bulan. c. Bubur susu atau nasi Tim saring biasanya merupakan makananpadat awal begi bayi. Jenis makanan ini mudah dicerna, mengandung zat besi . 2. TODDLER (1-3 Tahun) Kecepatan pertumbuhan berkurang secara drastiis sehingga kebutuhan anak usia ini menurun terhadap kalori, protein, dan cairan. Pada usia 12 bulan, kebanyakan toddler makan makanan keluarga. Pada usia 18 bulan, sebagian besar toddler mengalami anoreksia fisiologis. Toddler memilih makanan sendiri dan lebih menyukai makanan dalam porsi kecil. Untuk mengataasi hal-hal tersebut orang tua harus mencari akal agar anaknya mempunyai ketertarikan terhadap makanan, seperti menata makanan di atas piring. Misalnya, wortel diiris seperti bentuk bintang, gambar wajah yang tersenyum dengan kecap, dll. Berbagai jenis makanan perlu ditawarkan utnuk mengundang selera makan pada toddler. Cara lain yaitu temani anak makan, ketika anak tidak bias diam, dan lebih sering berlarian. Ikuti Si Anak, jangan sekali-kali memaksa anak atau memberikan ancaman kepada anak karena hal itu dapat membuat anak trauma terhadap makanan. Kebutuhan Kalori pada toddler 102 kkal/hari, sedangkan protein 1,2 kg/hari.

3. PRESCHOOL Kebutuhan nutrisi prasekolah hampir sama dengan toddler. Meskipun menurun sampai 90 kkal/kg/hari. Anak prasekolah menolak sayuran, makanan kombinasi dan anak prasekolah lebih

suka sereal daging, buah-buahan dan permen. Oleh karena itu, orang tua diharapkan sabar ketika memberikan makan pada anak usia ini. Untuk mengatasi ketidaksukaan pada sayuran akali dengan membuat bentuk-bentuk menarik sehingga anak tertarik untuk mencobanya. Banyak anak usia 3-4 tahun yang tidak bias diam/cerewet selama makan dengan keluarga dan lebih suka mempermainkan sendok dan garpu. Orang tua diharapkan mendampingi anak makan, dan mengajari pemakaian sendok dan garpu yang benar. 4. SCHOOL Kebiasaan makan anak sekolah umumnya mempunyai nafsu makan yang baik dan menyukai berbagai makanan. Makanan sederhana masih lebih disukai. Televisi dan teman sebaya biasanya mempengaruhi anak dalam memilih makanan. Kebutuhan gizi anak laki-laki lebih banyak membutuhkan energy karena lebih banyak melakukan aktivitas. Sedangkan anak perempuan membutuhkan banyak protein dan zat besi. Karena pada saat itu, anak telah mulai haid. Kebutuhan kalori harian anak sekolah menurun berhubungan dengan ukuran tubuh. Anak usia sekolah membutuhkan rata-rata 2400 kalori per hari. Orang tua harus tetap menekankan kebutuhan diet seimbang karena tubuh menyimpan cadangan makanan sebagai sumber kebutuhan pertumbuhan yang meningkat saat remaja. 5. ADOLESCENCE a. Rata-rata kebutuhan asupan kalori bervariasi sesuai gender dan usia Perempuan Usia 11-14 tahun membutuhkan 48 kal/kg/hari Perempuan Usia 15-18 tahun membutuhkan 38 kal/kg/hari Laki-laki Usia 11-14 tahun membutuhkan 60 kal/kg/hari Laki-laki Usia 15-18 tahun membutuhkan 42 kal/kg/hari

b. Remaja biasanya makan ketika memiliki waktu luang antara aktivitas mereka, makanan siap saji yang bergizi membantu mempertahankan diet yang seimbang. c. Adanya kesulitan untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas asupan harian karena jadwal yang sibuk, pengaruh teman sebaya dan makan makanan yang berlemak tanpa kalori. d. Remaja mengkonsumsi alcohol pada usia yang lebih muda. Remaja perempuan sangat rentan terhadap makanan yan dampaknya negative sehingga dapat mengakibatkan terjadinya anoreksia nervosa, obesitas, dll.

TUTORIAL IV
POKOK BAHASAN : KONSEP DASAR ANAK SAKIT DAN HOSPITALISASI PROSEDUR DIAGNOSTIK YANG DILAKUKAN PADA ANAK

Dalam proses pemulihan anak, diperlukan beberapa prosedur diagnostic untuk menunjang diagnose medis dan pengobatannya. Untuk melakukan proses diagnosis diperlukan pendekatan pada anak. Beberapa prosedur yang lazim dilakukan :

1. PENGAMBILAN DARAH VENA Alat dan Bahan :

Spuit ukuran 5-10 cc Kapas alcohol dan tempatnya Antikoagulan (untuk mencegah hemolisis) Botol/tabung penampung darah Karet pembendung Sarung tangan

Prosedur 1. Cuci tangan

2. Gunakan sarung tangan 3. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan 4. Ambil spuit sesuai dengan ukuran (5-10 ml) 5. Tentukan vena yang akan diambil darahnya 6. Desinfeksi dengan kapas alcohol 7. Lakukan pengikatan dengan karet pembendung di bagian atas vena yang akan diambil darahnya 8. Lakukan pengambilan darah dengan cara menusukkan vena dengan jarum spuit menghadap ke atas dengan sudut 30-45derajat terhadap kulit, kemudian lepas karet pembendung dan lakukan pengambilan darah

9. Setelah darah diambil, masukkan ke dalam botol penampung yang telah diberi antikoagulan sesuai dengan jenis pemeriksaan dan tekan daerah penusukan selama 2-5 menit. 10. Catat tanggal pengambilan 11. Buka sarung tangan 12. Cuci tangan 2. PENGAMBILAN DARAH ARTERI Pengambilan darah arteri digunakan untuk mendeteksi gangguan keseimbangan asa basa yang disebabkan gangguan respiratorik atau gangguan metabolic. Alat dan bahan :

Spuit berisi heparin 0,1 cc Kapas alcohol dalam tempatnya Penutup jarum (dari karet) Sarung tangan :

Prosedur 1. Cuci tangan

2. Gunakan sarung tangan 3. Jelaskan prosedur kerja yang akan dilakukan 4. Ambil spuit dengan ukuran yang sesuai (5 ml), kemudian isi dengan heparin 0,1 c, basahi bagian dalam spuit dengan heparin, dengan cara mengguncang-guncangkan botol 5. Tentukan arteri yang akan diambil darahnya 6. Pasang bantalan atau sejenisnya jika mengambil darah di area pergelangan tangan 7. Desinfeksi dengan kapas alcohol 8. Raba arteri dengan jari tangan, lakukan penusukan dengan posisi tegak lurus, ambil darah sebanyak 2,5-5 cc atau sesuai dengan program 9. Setelah dara diambil, tutup spuit dengan karet atau penutup kedap udara 10. Berikan tekanan di area yang ditusuk 11. Catat tanggal pengambilan 12. Buka sarung tangan 13. Cuci tangaN

3. PENGAMBILAN URINE Beberapa jenis pemeriksaan urine memerlukan specimen urine. Pemeriksaan ini meliputi : 1. Bilirubin. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi penyakit obstruksi saluran empedu, penyakit hepar, kanker hepar , dll. Cara :

a. Gunakan ictotet b. Teteskan urine kurang lebih 5 tetes c. Masukkan tablet dan tambahkan 2 tetes air d. Hasil positif jika warna biru atau ungu e. Bila merah berarti hasilnya negative 2. Asam urat. Pemeriksaan asam urat bertujuan untuk mendeteksi berbagai kelainan penyakit ginjal, eklampsia, keracunan timah hitam, leukemia dengan diet tinggi purin, colitis, ulserativa dan lain-lain. 3. Pemeriksaan lain, seperti urobilinogen untuk menentukan kadar kerusakan hepar, penyakit hemolitik dan infeksi berat. Pemeriksaan urinalisis seperti berat jenis urine, kadar glukosa, keton, dll. Pemeriksaan kadar protein dalam urine untuk menetukan kadar kerusakan glomerulus. Alat dan bahan sarung tangan botol penampung urine : :

Prosedur 1. Cuci tangan

2. Gunakan sarung tangan 3. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan 4. Tampung urine 24 jam 5. Ambil sebagian urine dan masukkan ke dalam botol secukupnya 6. Catat tanggal pengambilan dan beri label 7. Buka sarung tangan 8. Cuci tangan

4. PENGAMBILAN FESES Pengambilan dengan menggunakan specimen feses bertujuan untuk mendeteksi adanya kuman, seperti kelompok salmonella, sigela, shericia coli, staphylococcus, dll. Alat dan bahan Sarung tangan Spatel steril Penampung fese : :

Prosedur 1. Cuci tangan

2. Gunakan sarung tangan 3. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan 4. Tampung bahan dengan menggunakan spatel steril 5. Tempatkan ke dalam wadah sterildan di tutup rapat 6. Feses jangan tercampur dengan urine 7. Jangan diberikan brium atau minyak mineral yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri 8. Buka sarung tangan 9. Catat tanggal pengambilan dan beri label 10. Cuci tangan

5. PENGAMBILAN SPUTUM Pemeriksaan dengan menggunakan specimen secret atau sputum bertujuan untuk mendeteksi adanya kuman, seperti tuberculosis pulmonal, bakteri pneumonia, bronchitis, dan bronkietasis. Alat dan bahan sarung tangan penampung sputum : :

prosedur 1. cuci tangan

2. gunakan sarung tangan 3. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan 4. Anjurkan klien untuk batuk agar mengeluarkan sputum dan tamping 5. Pertahankan agar wadah dalam keadaan tertutup

6. Jika kultur untuk pemeriksaan BTA, ikuti instruksi yang ada pada botol penampung biasanya diperlukan 5-10 cc sputum yang dilakukan secara 3 hari berturut-turut 7. Buka sarung tangan 8. Catat tanggal pengambilan dan beri label 9. Cuci tangan

TUTORIAL V
POKOK BAHASAN : ASKEP PADA BAYI SEHAT

PENCEGAHAN INFEKSI PADA BAYI Infeksi merupakan salah satu penyebab utama kematian pada bayi baru lahir yang sesungguhnya dapat dicegah dan diatasi. Infeksi yang terjadi pada bayi baru lahir ada dua yaitu: early infection (infeksi dini) dan late infection (infeksi lambat). Disebut infeksi dini karena infeksi diperoleh dari si ibu saat masih dalam kandungan sementara infeksi lambat adalah infeksi yang diperoleh dari lingkungan luar, bisa lewat udara atau tertular dari orang lain. Beragam infeksi bisa terjadi pada bayi baru lahir seperti herpes, toksoplasma, rubella, CMV, hepatitis, eksim, infeksi saluran kemih, infeksi telinga, infeksi kulit, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan HIV/AIDS. Adapun cara pencegahan infeksi yang dilakukan yaitu : 1. Cuci tangan atau gunakan cairan cuci tangan dengan basis alcohol sebelum dan sesudah merawat bayi. 2. Gunakan sarung tangan (handscoon) bila melakukan tindakan 3. Pakai pakaian pelindung (misalnya celemek atau gaun, dll) bila diperkirakan akan terjadi kontak dengan darah dan cairan tubuh lain. 4. Bersihkan dan bila perlu lakukan desinfeksi peralatan dan barang yang digunakan sebelum daur ulang. 5. Bersihkan ruang perawatan pasien secara rutin. 6. Letakkan bayi yang mungkin dapat mengkontaminasi lingkungan (misalnya, bayi dengan diare yang infeksius) di dalam ruangan khusus.

CARA LAIN UNTUK MENCEGAH INFEKSI 1. Ruang perawatan bayi risiko dilokasikan di area yang tidak terlalu banyak dilewati orang dan jalur masuknya terbatas. 2. Bila mungkin, sediakan ruangan khusus untuk bayi baru lahir. 3. Yakinkan bahwa tenaga yang berhubungan langsung dengan bayi baru lahir telah diimunisasi rubella, campak hepatitis B dan parotitis serta mendapat vaksin influenza setiap tahun.

4. Tenaga yang mempunyai lesi atau infeksi kulit tidak boleh datang dan berhubungan langsung dengan bayi baru lahir. 5. Pengunjung atau staf yang sedang menderita infeksi akut (misalnya virus pernapasan) tidak diperbolehkan masuk ke Ruang perawatan bayi risiko tinggi. 6. Hindari staf yang berlebihan atau staf yang kurang. Jangan meletakkan dua bayi dalam boks atau incubator yang sama. 7. Batasi jumlah tenaga yang menangani bayi.

TUTORIAL VI
POKOK BAHASAN : ASKEP PADA ANAK SEHAT DAN BAYI RESTI

A. PELAKSANAAN TOILET TRAINING PADA ANAK 1. Kesiapan Anak a. Kesiapan fisik Kemampuan anak secara fisik sudah kuat dan mampu. Hal ini ditunjukkan anak mampu duduk atau berdiri sehingga memudahkan anak untuk dilatih buan air besar dan kecil. b. Kesiapan psikologis Anak membutuhkan suasana yang nyaman agar mampu mengontrol dan konsentrasi dalam merangsang untuk buang air besar dan kecil. c. Persiapan intelektual Persiapan intelektual juga membantu anak dalam proses buang air besar dan kecil. Hal ini dapat ditunjukkan apabila anak memahami arti buang air besar atau kecil sangat memudahkan proses dalam pengontrolan, anak dapat mengetahui kapan saatnya harus buang air kecil dan kapan saatnya harus buang air besar, kesiapan tersebut akan menjadikan diri anak selalu mempunyai kemandirian dalam mengontrol khususnya buang air besar dan air kecil. 2. Persiapan orang tua Menyadari tingkat kesiapan anak Memiliki keinginan untuk meluangkan waktunya untuk toilet training Tidak ada stress atau perubahan dalam keluarga seperti perceraian, pindah, saudara baru, atau liburan yang dilaksanakan sesaat lagi. 3. Persiapan Alat a. WC yang di fasilitasi dengan tempat jamban b. Keran air c. Sabun cuci tangan d. Gayung

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA KELAINAN PADA BAYI a. Kelainan genetik dan kromosom Kelainan genetik pada ayah dan ibu kemungkinan besar akan berpengaruh atas kelainan pada anaknya. Diantara kelainan ini ada yang mengikuti Hukum Mendel biasa, tetapi dapat pula diwarisi oleh bayi yang bersangkutan sebagi unsure dominan atau kadang-kadang sebagi unsur resesif. Penyelidikan dalam hal ini sering sukar, tetapi adanya kelainan congenital yang sama dalam satu keturunan dapat membantu langkah-langkah selanjutnya. b. Faktor mekanik Tekanan mekanik pada janin selama kehidupan intra uterin dapat menyebabkan kelainan bentuk organ tubuh hingga menimbulkan deformitas organ tersebut. c. Faktor infeksi Infeksi yang dapat menimbulkan kelainan ialah infeksi yang terjadi pada periode organogenesis yakni dalam trimester pertama kehamilan. Ifeksi tersebut dapat pula mengakibatkan terjadinya Abortus. d. Faktor radiasi Adanya riwayat adiasi yang cukup besar pada orang tua dikhawatirkan akan dapat mengakibatkan mutasi pada gen yang mungkin sekali dapat menyebabkan kelainanpada bayi yang dilahirkannya. Radiasi untuk keperluan diagnostik adalah terapeutis sebaiknya dihindarkan dalam masakehamilan, khususnya pada hamil muda. e. Faktor gizi Pada hasil penelitian, menunjukkan bahwa frekuensi kelainan pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang kekurangan makanan lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir dari ibu yang baik gizinya.

TUTORIAL VIII
POKOK BAHASAN : ASKEP PADA ANAK DENGAN GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER

Prinsip penanganan dan perawatan pada anak dengan kelainan jantung bawaan Penanganan pada anak dengan kelainan jantung bawaan dapat dengan obat-obatan, koreksi kelainan jantung dengan bantuan kateterisasi atu pembedahan. Umunya obat-obat ini untuk memperbaiki fungsi jantung, mengurangi kelebihan cairan di tubuh, mempertahankan keterbukaan saluran penghubung antara aorta dan pembuluh darah paru, menurunkan kontriksi pembuluh darah sehingga mempermudah aliran darah ke tubuh, serta memperkuat kontriksi jantung untuk memompa lebih banyak darah. Jika penanganan dengan obat-obatan tidak efektif, maka pada jenis kelainan jantung tertentu koreksi jantung dengan bantuan kateterisasi bisa dicoba. Pemebedahan jantung umumnya diperlukan jika kelainan jantung lebih berat dan upaya terapi lainnya tidak efektif. Upaya pembedahan dapat bersifat valiatif dengan tujuan mengurangi gejala dan mengoreksi kelainan yang ada.

Prinsip perawatan yang dilakukan pada anak dengan kelainan jantung bawaan , yaitu : 1. Pemantauan dan pengobatan seumur hidup karena dapat mempengaruhi kehidupan dewasa. 2. Latihan pembatasan cacat. 3. Pencegahan infeksi, terutama untuk anak dengan pembedahan.

TUTORIAL IX
POKOK BAHASAN : ASKEP PADA ANAK DENGAN GANGGUAN PERNAPASAN A. MANAJEMEN PICU a. PICU adalah unit perawatan yang merawat klien anak (29 hari-14 thn) dengan keadaan gawat/berat yang sewaktu-waktu dapat meninggal dan mempunyai harapan untuk sembuh apabila dirawat secara intensif.

Tujuan adalah memberikan pelayanan perawatan optimal untuk bayi dimana keadaannya sewaktu-waktu dapat meninggal.

b. Fasilitas dan peralatan 1. Tempat tidur 2. Letak ruang PICU dekat dengan ruang resusitasi, emergency dan OK. 3. Suhu kamar diatur oleh AC 22oC 4. Ruang PICU harus bersih 5. Sebaiknya dilengkapi fasilitas khusus, seperti Laboraturium 6. Peralatan ;

Ventilasi Servo 90oC-30oC Monitor EKG, nadi, RR, tekanan darah,, suhu Infusion pump, syring pump Foto fortable Cup set dan ala vene sekdi Emergency trolly, ambubag

c. Peran dan tanggung jawab 1. Merencanakan perawatan fisik secara komprehensif 2. Memberikan dukungan emosional pada anak dengan penyakit akut 3. Memberikan dukungan emosional pada anak dengan bersifat empati pada orang tua dan keluarganya 4. Bertindak sebagai pembela anak dalam mempertahankan hak asasinya

5. Memberikan pelayanan bersifat konsultasi bila anak akan dilakukan tindakan keperawatan khusus ketika ia dirawat di PICU 6. Memberikan pelayanan sebagai bagian dari rumah sakit secara keseluruhan 7. Memberikan pengajaran tentang prinsip-prinsip PICU sesuai dengan usia klien d. Indikasi masuk PICU 1. Order tertulis dari dokter subbagian ke dokter PICU 2. Dipertimbangkan oleh dokter PICU, PICU dapat menolakm menerima klien yang dilakukan secara tertulis 3. Menerima klien yang dikirim oleh perawat sub bagian yang mengirim dan tempat sudah disiapkan 4. Setiap yang dirawat di ruang PICU tempat yang lama harus tersedia agar pemulangan lancar

B. MANAJEMEN NICU a. NICU adalah suatu unit organisasi/tempat memeberikan pelayanan Askep pada klien neonatus dengan keadaan resiko tinggi yang memerlukan pengawasan ketat melalui usia manusia dalam rangka pemanfaatan fasilitas dan sarana secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang diharapkan ( masih memiliki harapan hidup ). Tujuan : Untuk memberikan pelayanan/perawatan yang optimum untuk bayi-bayi baru lahir diaman keadaannya sewaktu-waktu dapat meninggal. b. Jenis / Tenaga di Ruang NICU Dokter spesialis Dokter PPDS Pengawasan perawatan Pelaksanaan perawatan Pekerja dan cleaning service

c. Fungsi ruang NICU Menyelamatkan jiwa bayi Mencegah terjadinya kerusakan/kelainan atau cacat pada bayi meskipun waktu lahir dalam keadaan normal. Menghindarkan kerusakan dan cacat lebih lanjut pada bayi yang telah mengalami kelainan.

d. Peran dan tanggung jawab di Ruang NICU 1. Mampu melaksanakan peranan fisik yang komprehensif yang diperlukan dan mampu melakukan tindakan, support yang diperlukan untuk memelihara / mempertahankan kehidupan dan mampu mengembalikan kondisi bayi dengan penyakit akut. 2. Mampu memberikan dukungan yang bersifat empati pada orang tua dan anggota keluarga lain dari bayi yang dirawat di NICU. 3. Mampu bertindak sebagai anggota tim kesehatan secara integral dan eddential dengan mengkaji kebutuhan klien, melaksanakan rencana keperawatan dan evaluasi. 4. Mampu bertindak memberikan pelayanan keperawatan yang bersifat konsultasi bilamana bayi memerlukan tindakan keperawatan khusus. 5. Memberi pengajaran prinsip perawatan di Ruang NICU.

TUTORIAL X
POKOK BAHASAN : ASKEP DENGAN ANAK GANGGUAN PENCERNAAN

Keracunan yang sering terjadi pada anak 1. Keracunan Hidrokarbon Kelompok hidrokarbon yang sering menyebabkan keracunan berupa iritasi pada paru-paru adalah minyak tanah, bensin, minyak cat, thinner maupun "minyak" isi untuk korek api.

GEJALA KLINIS Batuk, napas pendek dan sesak karena terjadi pengerutan di saluran napas, kulit membiru, bahkan batuk darah. Bisa juga terjadi depresi susunan saraf pusat yang mengakibatkan terjadi penurunan kesadaran. Kondisi ini kadang disertai gejala lain semisal kejang, mual-muntah, nyeri perut dan diare. 2. Keracunan Insektisida Keracunan organofosfat, salah satu unsur insektisida (racun serangga), lebih sering dijumpai karena memang banyak dipakai. Organofosfat sering dicampur dengan bahan pelarut minyak tanah. Dengan demikian, pada keracunan ini harus diperhatikan tanda-tanda dan penatalaksanaan keracunan minyak tanah selain akibat organofosfat itu sendiri.

GEJALA KLINIS Terjadi proses sekresi atau keluarnya air mata secara berlebih, urinasi, diare, gejala kerusakan lambung, miosis (pengecilan ukuran manik mata), dan bronkokonstriksi (penyempitan bronkus) dengan sekresi berlebihan. Disamping itu, anak tampak sesak dan banyak mengeluarkan lendir serta mulutnya berbusa. 3. Keracunan makanan Factor penyebabnya yaitu karena makanan tersebut mengandung zat-zat kimia berbahaya yang bila di tekan dapat membuat anak keracunan seperti jengkol, jamur. Proses pengolahan dan penyimpanan yang salah. Serta, makanan yang di konsumsi tercemar oleh xat beracun. Gejalanya, mual, muntah, pusing, sesak, mata menonjol.

4. Keracunan Salisilat Paling sering dijumpai pada anak. Karena salisilat biasanya dikemas dalam bentuk menarik dengan rasa yang disukai anak-anak sebagai obat batuk, obat pusing, demam, flu dan lainnya. Kalau letak obat-obatan itu mudah dijangkau anak atau disimpan sembarangan, sangat mungkin mereka meminumnya dengan dosis berlebih. 5. Keracunan Gigitan Binatang Gigitan binatang berbisa kadang tak bisa dihindari. Akibat yang ditimbulkan bisa berbeda-beda, tergantung dari jenis racun binatang yang masuk ke tubuh korban.

GEJALA KLINIS Bentol-bentol, kulit melepuh, bengkak, jantung berdebar keras, kehilangan pandangan, pusing dan tubuh membiru.

TUTORIAL XI
POKOK BAHASAN : ASKEP PADA ANAK DENGAN GANGGUAN PERSARAFAN 1. Penatalaksanaan Pre dan Post operasi pada anak Sebelum melakukan tindakan sebaiknya hal yang perlu diperhatikan adalah membuat persetujuan (inform concent) kepada klien maupun keluarganya. Selain itu, kita harus menjelaskan apa tujuan kita melakukan tindakan tersebut, hal apa yang mungkin terjadi jika tindakan tersebut dilakukan. Setelah membuat persetujuan, kita harus melakukan pendekatan terhadap anak yang akan dilakukan tinadakan. Persiapan klien pre operasi a. Status kesehatan fisik secara umum Sebelum dilakukan pembedahan, penting dilakukan pemeriksaan status kesehatan secara umum, meliputi identitas klien, riwayat penyakit seperti kesehatan masa lalu, riwayat penyakit keluarga, pemeriksaan fisik lengkap. b. Status nutrisi Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan, lingkar lengan atas, kadar protein, darah dan keseimbangan nitrogen. c. Keseimbangan cairan dan elektrolit Cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output. d. Kebersihan lambung dan kolon Lambung dan kolon harus dibersihkan terlebih dahulu. Intervemsi keperawatan yang bisa dilakukan adalah pasien dipuasakan 24 jam sebelum operasi dan melakukan hukna. e. Personal hygiene Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi karena tubuh yang kotor dapat merupakan sumber kuman dan dapat mengakibatkan infeksi pada daerah yang di operasi. Proses keperawatan Pengkajian : Pengukuran TTV Pemerikasaan kulit, mata Fungsi motorik Postur tubuh refleks

Keperawatan post operasi Dimulai dengan masuknya klien ke ruang pemuliahan (Recovary Room) dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut tatanan klinik atau di rumah.

Yang harus diperhatikan pada post operasi a. Pernapasan b. Sirkulasi c. Pengontrolan suhu d. Fungsi neurologis e. Fungsi genitourinaria f. Fungsi gastrointestinal

g. Keseimbangan cairan dan elektrolit h. Kenyamanan Proses keperawatan a. Pengkajian - Pemeriksaan TTV - Tingkat kesadaran - Kondisi balutan dan drainase - Asupan cairan b. Diagnosa - Nyeri - Mual dan muntah - Resiko kekurangan volume cairan - Resiko kerusakan integritas kulit 1. Manajemen keperawatan untuk mencegah dan perawatan diaperash Ruam popok adalah iritasi pada kulit bayi di daerah pantat (bokong). Ini bisa terjadi jika popok basahnya tidak diganti, popok yang terlalu kasar dan tidak menyerap keringat, infeksi jamur atau bakteri bahkan eksema. Ruam popok (diaperash) adalah penyakit yang lazim ditemukan pada bayi. Gangguan ini banyak terjadi pada bayi yang berusia 8-10 bulan. a. Mencegah diaperash Sering-seringlah mengganti popok, jangan biarkan popok yang sudah basah karena menampung banyak urine berlama-lama dipakai lagi. Kontak antara urine dan tinja dengan kulit bayi dapat meimbulkan ruam popok.

Saat membersihkan bayi, tepuk daerah yang biasa ditutupi popok (bokong. Paha, selangkangan dan daerah genital bayi) secara perlahan dengan handuk bersih. Usahakan menghindari menggosok-gosok dengan keras di daerah tersebut.

Sesekali biarkan bayi terbuka (tidak memasang popok) selama beberapa saat. Tidakan ini mungkin berguna menjaga daerah popok tetap kering dan bersih.

Hati-hati dalam memilih popok, karena beberapa jenis bahan popok dapat merangsang ruam popok. Jika hal itu terjadi, gantilah popok merk lain yang lebih cocok.

Jika bayi anda memakai popok kain yang digunakan berulang kali, cucilah popok kain tersebut dengan detergen yang formulanya tidak terlalu keras. Hindari memakai pelembut, karena pewangi dalam pelembut tersebut dapat mengiritasi kulit bayi. Pastikan untuk membilas popok dengan baik agar detergen tidak tertinggal di dalam popok.

Hindari memasang popok terlalu kuat. Usahakan ada ruang antara popok dan kulit.

b. Perawatan diaperash Ganti popok bayi setiap kali basah. Bersihkan kulit bayi dari sisa urine atau feses dengan seksama dengan menggunakan kapas atau tisu basah kemudian keringkan. Gunakan baby oil untuk melembutkan dan membuang kotoran yang menggumpal dan mengeringkan, juga untuk menghilangkan kerak kulit kepala. Keringkan tubuh bayi secara seksama setelah mandi terutama lipatan kulit. Gunakan baby lotion untuk menjaga kelembapan dan kelembutan kulit (tergantung jenis kulit bayi), ada bayi yang tidak cocok dengan penggunaan baby lotion, jika tidak cocok jangan dilanjutkan. Gunakan bedak untuk mencegah biang keringat. Gunakan sehabis mandi dan pemberian bedak seadanya jangan terlalu berlebihan Gunakan baby cream untuk mencegah diaperash Daerah yang terkena diaperash tidak boleh terkena air dan harus dibiarkan terbuka dan tetap kering Bersihkan kulit yang iritasi dengan kapas halus yang mengandung minyak Segera bersihkan dan keringkan bila anak kencing dan BAB Posisi tidur anak diatur supaya tidak menekan kulit atau daerah yang iritasi Beri makanan dengan porsi yang cukup Perhatikan kebesihan kulit dan kebersihan tubuh secara keseluruhan

Memelihara kebersihan pakaian dan alat-alatnya Pakaian/celana yang basah oleh air kencing harus direndam dalam air yang dicampur acidium boricom, bersihkan, bilas sampai bersih dan keringkan.

TUTORIAL XII
POKOK BAHASAN : ASKEP PADA ANAK DENGAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 1. Yang dilakukan oleh perawat a. Melakukan pengkajian terhadap anak tersebut, meliputi : Mengkaji riwayat fraktur Musculoskeletal : deformitas skeletal, spasme otot, nyeri, krepitasi Neurologi : hilangnya fungsi, perubahan sensasi, paraestethetis, paralisis Integumen : bengkak, memar, laserasi Kaji nadi bagian distal Neuromuscular : ekstremitas dingin, pucat, hilangnya fungsi bengkak, mati rasa Perawat harus mengidentifikasi : nyeri, nadi, pucat, paraesthesis dan paralisis Perubahan neurovaskuler dan sirkulasi

b. Menetapkan diagnose c. Menetapkan intervensi d. Melakukan implementasi dan evaluasi 2. Masalah keperawatannya : Nyeri berhubungan dengan bengkak, kerusakan jaringan Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri Resiko injury berhubungan dengan gangguan neuromuscular Resiko gangguan integritas kulit behubungan dengan immobilitas Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penekanan/bengkak

3. Intervensi a. Nyeri berhubungan dengan bengkak : Kaji tingkat nyeri dengan skala nyeri Berikan support/massase dengan fraktur Atur posisi dengan posisi kesegarisan Merubah posisi anak secara hati-hati Gunakan terapi distraksi dan sentuhan terapeutik Pemberian obat analgetik sesuai program

b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri c. Kaji kemampuan sendi dan kekakuan otot Pertahankan ketepatan kesegarisan pada area yang fraktur/tubuh Lakukan ROM Berikan makanan tinggi protein dan kalsium

Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi Kaji integritas kulit Reposisi tiap 2 jam Lakukan pemijatan untuk meningkatkan sirkulasi Lindungi kelembaban kulit Berikan terapi bermain sesuai usia

d. Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi Jelaskan tentang kondisi yang dialami anak Anjurkan anak dan orang tua/keluarga untuk mengekspresikan perasaan secara verbal Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan Ajarkan keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan Berikan terapi bermain yang disukai dan dan sesuai dengan usia

TUTORIAL XIII
POKOK BAHASAN : ASKEP PADA ANAK DENGAN GANGGUAN PERKEMBANGAN Peningkatan kemampuan pada anak dengan down syndrome a. Intervensi Dini Program ini dapat dipakai sebagai pedoman bagi orang tua anak untuk memberi lingkungan yang memadai bagi anak dengan syndrome down, bertujuan untuk latihan motorik kasar dan halus serta petunjuk agar anak mampu berbahasa. Selain itu agar anak mampu mandiri seperti berpakaian, makan, belajar, BAB/BAK, mandi yang akan memberi anak kesempatan. b. Taman bermain Misal dengan peningkatan keterampilan motorik kasar dan halus melalui bermain dengan temannya, karena anak dapat melakukan interaksi sosial dengan temannya. c. Pendidikan Khusus (SLB-C) Anak akan mendapat perasaan tentang identitas personal, harga diri dan kesenangan. Selain itu mengasah perkembangan fisik, akademis dan kemampuan sosial, bekerja dengan baik dan menjalin hubungan baik.