Anda di halaman 1dari 13

Kimia Medisinal I Praktikum V

Disusun Oleh: Dyah Putri Ayu Dinastyar 10.04.008

Sekolah Tinggi Farmasi Muhammdiyah Tangerang 2010-2011


1|Page

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Illahi Robbi, karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan laporan makalah yang berjudul Titrasi Asam-Basa ini. Dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak terlepas dari bantuan pihak lain. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan rasa terima kasih pada semua pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan bantuan kepada penulis khususnya Dosen Pembimbing mata kuliah Kimia Medisinal I. Saya menyadari bahwa hasil penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis menerima saran dan kritik dari para pembaca. Akhirnya, penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis, dan umumnya untuk para pembaca. Amiin.

Tangerng, Mei 2012

Penyusun

i|Page

Daftar Isi Kata Pengantar Daftar Isi BAB I Pendahuluan BAB II Alat dan Bahan BAB III Prosedur Kerja .........................................................................................i .........................................................................................ii .........................................................................................1 .........................................................................................3 .........................................................................................4

BAB IV Hasil Pengamatan .........................................................................................5 BAB V Pembahasan BAB VI Kesimpulan Daftar Pustaka .........................................................................................6 .........................................................................................9 .........................................................................................10

ii | P a g e

BAB I Pendahuluan

Titrasi merupakan salah satu cara untuk menentukan konsentrasi larutan suatu zat dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan zat lain yang diketahui konsentrasinya. Prinsip dasar titrasi asam basadidasarkan pada reaksi nertalisasi asam basa. Titik equivalen pada titrasi asam basa adalah pada saatdimana sejumlah asam tepat di netralkan oleh sejumlah basa. Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH. pH pada titik equivalen ditentukan oleh sejumlah garam yang dihasilkan dari netralisaasi asam basa.Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah yang memiliki rentang pH dimana titik equivalen berada. Pada umumnya titik equivalen tersebut sulit untuk diamati, yang mudah dimatai adalah titik akhir yaang dapat terjadi sebelum atau sesudah titik equivalen tercapai. Titrasi harus dihentikan pada saat titik akhir titrasi tercapai, yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik equivalen. Dengan pemilihan indikator yang tepat, kita dapat memperkecil kesalahan titrasi.Pada titrasi asam kuat dan basa kuat, asam lemah dan basa lemah dalam air akan terurau dengansempurna. Oleh karena itu ion hidrogen dan ion hidroksida selama titrasi dapat langsung dihitung dari jumlah asam atau basa yang ditambahkan. Pada titik equivalen dari titrasi asam air, yaitu sama dengan 7. Titik ekivalen merupakan keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlahmol basa. Untuk menentukan titik ekivalen pada reaksi asam-basa dapat digunakan indikator asam-basa. Ketepatan pemilihan indikator merupakan syarat keberhasilan dalam menentukan titik ekivalen. Pemilihan indikator didasarkan atas pH larutan hasil reaksi atau garam yang terjadi pada saat titik ekivalen. Salah satu kegunaan reaksi netralisasi adalah untuk menentukan konsesntrasi asam atau basa yang tidak diketahui. Penentuan konsentrasi ini dilakukan dengan titrasi asam-basa. Titrasi Merupakan cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu denganmenggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan mengukur volumenya secara pasti. Bilatitrasi menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi adisialkalimetri. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran. Titran Ditambahkan sedikit demi sedikit (dari dalam buret) pada titrat (larutan yang dititrasi)sampai terjadi perubahan warna indikator. Saat terjadi perubahan warna indikator, maka titrasi dihentikan.Saat terjadi perubahan warna indikator dan titrasi diakhiri disebut dengan titik akhir titrasi dan diharapkan titik akhir titrasi sama dengan titik ekivalen. Semakin jauh titik akhir titrasi dengan titik ekivalen maka semakin besar kesalahan titrasi dan oleh karena itu, pemilihan indikator menjadi sangat penting agar warna indikator berubah saat titik ekivalen tercapai. Pada saat tercapai titik ekivalen maka pH-nya 7 (netral). Indikator :Pigmen semacam fenolftalein dan
1|Page

metil merah yang digunakan sebagai indikator titrasi adalahasam lemah (disimbolkan dengan HIn) dan warnanya ditentukan oleh [H+] larutan. Jadi,HIn H+ + In-.... Rasio konsentrasi indikator dan konjgatnya menentukan warna larutan diberikan sebagai:K In= [H+][In-]/[HIn], [In-]/[HIn] = K In/[H+] ... K In adalah konstanta disosiasi indikator.Rentang pH yang menimbulkan perubahan besar warna indikator disebut dengan interval transisi.Alasan mengapa ada sedemikian banyak indikator adalah fakta bahwa nilai pH titik ekivalen bergantung pada kombinasi asam dan basa. Kunci pemilihan indikator bergantung pada apakah perubahan warna yang besar akan terjadi di dekat titik ekivalen. Di Tabel 9.3 didaftarkan beberapa indikator penting.Tabel 9.3 Indikator penting dan interval transisinya.

2|Page

BAB II Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini. A. Alat a. b. c. d. e. f. g.

Buret Mikro Statif dan Klem Buret Labu Enlemeyer 100 ml dan 50 ml Beaker Gelas Gelas Ukur 10 ml dan 25 ml Botol Semprot Kaca Arloji

B. Bahan-bahan a. NaOH padat b. KHP c. Aquadest bebas CO2 d. Indikator PP e. Etanol 96%

3|Page

BAB III Prosedur Kerja a. Pada saat pembakuan KHP 1. Mencuci buret dengan menggunakan aquadest bebas CO2 dan membilasnya dengan NaOH. 2. Menambahkan sedikit vaselin ke pemutar /klem buret agar proses pemutaran/ pengeluaran NAOH sedikit lancar. 3. Mengisi buret dengan larutan NaOH 0.1N hingga penuh dan keluarkan sebagian hingga batas 0.00 ml. 4. Menimbang berat KHP sebesar 50-60 mg. 5. Melarutkan KHP kedalam erlenmeyer 100 ml dengan menggunakan 20 ml aquadest bebas CO2 hingga larut sempurna. 6. Menambahkan 2-3 tetes indikator PP kedalam larutan KHP dan kocok hingga homogen. 7. Melakukan titrasi dengan cara meneteskan larutan NaOH secara perlahan-lahan tetes demi tetes hingga larutan memberikan efek perubahan warna siluet pink. 8. Mencatat hasil akhir dari titrasi. 9. Melakukannya sebanyak tiga kali. 10. Melakukan perhitungan normalitas larutan NaOH tersebut. b. Pada saat penetapan kadar sampel 1. Mencuci buret dengan menggunakan aquadest bebas CO2 dan membilasnya dengan NaOH. 2. Menambahkan sedikit vaselin ke pemutar /klem buret agar proses pemutaran/ pengeluaran NAOH sedikit lancar. 3. Mengisi buret dengan larutan NaOH 0.1N hingga penuh dan keluarkan sebagian hingga batas 0.00 ml. 4. Mengencerkan sampel awal dengan penambahan aquadest hingga batas dari labu erlenmeyer tersebut. 5. Mempipet sampel sebanyak 10 ml kedalam erlenmeyer 100 ml dan melarutkannya dengan aquadest bebas CO2 sebanyak 20 ml, kocok hingga homogen. 6. Menambahkan 2-3 tetes indikator PP kedalam larutan tersebut, kocok hingga homogen. 7. Melakukan titrasi dengan cara meneteskan larutan NaOH secara perlahan-lahan tetes demi tetes hingga larutan memberikan efek perubahan warna siluet pink. 8. Mencatat hasil akhir dari titrasi. 9. Melakukannya sebanyak tiga kali. 10. Menghitung normalitas sampel tersebut dan persen kesalahan dari proses titrasi.

4|Page

BAB IV Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pembakuan larutan NaOH 0,1 N dengan KHP yang dilakukan sebanyak 3 kali diperoleh perhitungan sebagai berikut : No 1. 2. 3. Berat KHP (g) 0,056 0,054 0,053 Volume NaOH (mL) 0,00 - 3,42 0,00 3,23 0,00 2,82

Hasil pengamatan penetapan kadar zat dalam sampel yang dilakukan sebanyak 3 kali diperoleh data sebagai berikut :

No 1. 2. 3.

Volume sampel (mL) 10 10 10

Volume NaOH (mL) 0,00 1,96 0,00 2,04 0,00 1,94

5|Page

BAB V Pembahasan Dalam percobaan titrasi asam basa yang telah saya lakukan, didapat data sebagai berikut : Dalam titrasi berikut ini yang dipertanyakan adalah Normalitas dari KHP dan sampel tersebut sehinga didapat rumus sebagai berikut : Mek asam = Mek basa Dimana asam disini ialah KHP dan Sampel, sedangkan basanya ialaha NaOH. Perhitungan KHP Dalam perhitungan KHP ini, data yang terdapat adalah berat dari KHP, BE dari KHP dan volume dari NaOH sehingga didapat rumus sebagai berikut : Mek Asam = Mek Basa Mek KHP = Mek NaOH W (mg)/BE =VxN

Dalam percobaan ke-1 Setelah dilakukannya titrasi, didapat normalitas dari KHP tersebut 0.0802 N dengan berat KHP 56 mg pada saat volume mencapai 3.42 ml dari volume awal 0.00 ml. Dalam percobaan ke-2 Setelah dilakukannya titrasi, didapat normalitas dari KHP tersebut 0.0818 N dengan berat KHP 54 mg pada saat volume mencapai 3.23 ml dari volume awal 0.00 ml. Dalam percobaan ke-3 Setelah dilakukannya titrasi, didapat normalitas dari KHP tersebut 0.0920 N dengan berat KHP 53 mg pada saat volume mencapai 2.82 ml dari volume awal 0.00 ml. Dari ketiga data tersebut maka didapat N rata-rata sebagai berikut :

6|Page

Perhitungan Sampel Dalam perhitungan Sampel ini, data yang terdapat adalah volume dari Sampel, Normalitas dan volume dari NaOH sehingga didapat rumus sebagai berikut : Mek Asam = Mek Basa Mek KHP = Mek NaOH V xN = VxN

Dalam percobaan ke-1 Setelah dilakukannya titrasi, didapat normalitas dari KHP tersebut 0.0166 N dengan volume sampel 10 ml pada saat volume NaOH mencapai 1.96 ml dari volume awal 0.00 ml. Dalam percobaan ke-2 Setelah dilakukannya titrasi, didapat normalitas dari KHP tersebut 0.0173 N dengan volume sampel 10 ml pada saat volume NaOH mencapai 2.04 ml dari volume awal 0.00 ml. Dalam percobaan ke-3 Setelah dilakukannya titrasi, didapat normalitas dari KHP tersebut 0.0164 N dengan volume sampel 10 ml pada saat volume NaOH mencapai 1.94 ml dari volume awal 0.00 ml. Dari ketiga data tersebut maka didapat N rata-rata sebagai berikut :

Untuk kadar kesalahannya sendiri didapat sebagai berikut : X = N aslinya N rata-rata X = 0.06 N 0.0168 N X = 0.0432 N

7|Page

Namun, dalam praktikum ini terdapat beberapa kendala dan hasil yang berbeda dengan apa yang diharapkan. Pada hal ini mungkin disebabkan karena penambahan etanol yang berlebih pada sampel tersebut. 1. 2. 3. 4. Keterbatasan alat dan bahan. Kurangnya ketelitian. Kontaminasi antara alat, bahan dan udara sekitar. Pada saat pengenceran terjadi kelebihan pengencer/ aquadest bebas CO 2 sehingga hasil yang didapatpun memberikan nilai yang jauh dari yang diharapkan.

8|Page

BAB VI Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum kali ini didaat sebagai berikut : 1. Pada saat baik pengenceran ataupun penglarutan zat, aquadest yang dipake adalah aquadest bebas CO2. Ini dikarenakan CO2 yang terkandung dalam aquadest memiliki atau bersifat asam sehingga perlu dihilangkan pada saat aquadest bebas CO2 dicampurkan dengan asam oksalat sebanyak10,00 ml pada erlenmeyer kadar keasaman zat atau campuran tidak terlampau tinggi dan nantinyabisa didapat TAT yng tepat. Karena Dalam suatu titrasi asam basa perlu adanya pelarut, dimana pelarut tersebut harus memiliki kadarkeasaman yang rendah sehingga tidak mempengaruhi jalannya titrasi.maka pelarut yang harus digunakan adalah pelarut yang mengandung kadar keasaman yang rendah. 2. % kesalahan yang didapat selama proses titrasi ini sekitar 72%, kesalahan ini terletak pada saat pengenceran sampel dengan menggunakan aquadest bebas CO2 yang berlebih sehingga menimbulkan kesalahan yang besar.

3. N yang didapat pada saat proses titrasi KHP sebesar 0.0847 N

9|Page

Daftar Pustaka

Fessenden, Ralph J, dan Fessenden, Joan S. 1997. Dasar-dasar Kimia Organik. Bina Aksara. Jakarta. http://esdikimia.wordpress.com/2011/06/17/titrasi-asam-basa/

10 | P a g e