Anda di halaman 1dari 12

PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA SMP/SMA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (SPBM) Oleh: Ade Rakhma Novita Sari

Abstrak Pendidikan memiliki peran dalam pembentukan karakter siswa. Dalam keadaan bahwasanya siswa sekolah mulai sering diberitakan dengan segala tindakan negatifnya, maka melalui pendidikan karakter, moral siswa bisa diperbaiki. Beberapa karakter dapat dikembangkan melalui beberapa strategi dalam pembelajaran, salah satunya adalah Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM). SPBM memiliki tujuan agar siswa dapat berpikir kritis, analitis, sistematis, dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah. Langkah menentukan alternatif masalah dapat dipertimbangan sebagai bentuk usulan strategi dalam pembelajaran di SMP maupun SMA. Kata kunci: karakter, pendidikan karakter, strategi pembelajaran, Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah, SMP, SMA A. PENDAHULUAN Seringkali, media massa baik elektronik maupun cetak mengabarkan tentang perilaku negatif yang dilakukan oleh remaja, anak sekolah (siswa SMP/SMA), seperti penyalahgunaan obat-obatan terlarang, tawuran antarsekolah, pencurian, pelaku video porno, dan lain sebagainya. Fenomena tersebut memberi penilaian negatif terhadap pendidikan di Indonesia. Hal tersebut turut pula mempertanyakan tentang peran pendidikan dalam membentuk moral pemuda, anak sekolah, generasi bangsa. Seperti yang disebutkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, yaitu Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan 1

bangsa. Maka, sudah semestinya pendidikan harus difungsikan dengan baik. Tujuan pendidikan nasional pun jelas. UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menyebutkan, Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian, tujuan tersebut dapat didapatkan melalui pendidikan karakter. Sudrajat (2010) menyebutkan bahwa pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan, hasil pendidikan di sekolah mengarah pada pencapaian pembentukan karakter, akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Menurutnya, dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen harus dilibatkan, salah satunya adalah proses pembelajaran. Sikap atau moral seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor lingkungan. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) merupakan pembelajaran yang melibatkan pengalaman siswa dan memperhatikan proses interaksi siswa terhadap lingkungan. Melalui proses interaksi tersebut, maka sikap atau moral siswa akan dipengaruhi untuk dibimbing pada sikap atau moral yang positif. Dengan membiasakan pembelajaran melalui proses interaksi sekaligus memperbaiki nilai moral, maka pengembangan karakter dapat diaplikasikan melalui SPBM. B. Pendidikan Karakter Karakter mengacu pada serangkaian sikap, perilaku, motivasi dan keterampilan. Menurut Alwisol (dalam Musfiroh, 2008: 27), karakter diartikan sebagai gambaran tingkah laku yang menonjolkan nilai benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun implisit. Pendidikan karakter merupakan pendidikan berbasis karakter. Di Indonesia, pendidikan karakter didasarkan pada sembilan pilar karakter dasar,

antara lain: 1. cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya; 2. tanggung jawab, disiplin, dan mandiri; 3. jujur; 4. hormat dan santun; 5. kasih sayang, peduli, dan kerja sama; 6. percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah; 7. keadilan dan kepemimpinan; 8. baik dan rendah hati, serta 9. toleransi cinta damai dan persatuan. Sedikit berbeda dengan karakter dasar yang dikembangkan Ginanjar (2010) melalui ESQ-nya, antara lain: 1. jujur; 2. tanggung jawab; 3. disiplin; 4. visioner; 5. adil; 6. peduli; dan 7. kerja sama. Pada buku panduan Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama disebutkan sejumlah indikator keberhasilan program pendidikan karakter oleh peserta didik, di antaranya mencakup: 1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja;

2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri; 3. Menunjukkan sikap percaya diri; 4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas; 5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional; 6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif; 7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif; 8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya; 9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari; 10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial; 11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab; 12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia; 13. Menghargai karya seni dan budaya nasional; 14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya; 15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik; 16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;

17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; 18. Menghargai adanya perbedaan pendapat; 19. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana; 20. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana; 21. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti

pendidikan menengah; dan 22. Memiliki jiwa kewirausahaan. Menurut Musfiroh (2008: 31), karakter dikembangkan melalui tiga tahap, yakni mengembangkan moral knowing, kemudian moral feeling, dan moral action. 1. Moral Knowing Meliputi: kesadaran moral, pengetahuan tentang nilai-nilai moral, penentuan sudut pandang, logika moral, keberanian mengambil menentukan sikap, dan pengenalan diri. 2. Moral feeling Meliputi: kesadaran akan jati diri, percaya diri, kepekaan terhadap derita orang lain, cinta kebenaran, pengendalian diri, dan kerendahan hati. 3. Moral action Merupakan hasil dari kedua komponen di atas. Sedangkan dalam prinsip pengembangannya, Lickona, Schaps, dan Lewis (dalam Musfiroh, 2008) menyebutkan beberapa prinsip pengembangan 5

karakter sebagai berikut. 1. Mempromosikan nikai-nilai dasar etika sebagai basis karakter. 2. Mengidentifikas karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku. 3. Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif, dan efektif untuk membangun karakter. 4. Menciptakan komunitas sekolah yang memilki kepedulian. 5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan perilaku yang baik. 6. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang, menghargai siswa, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses. 7. Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri pada para siswa. 8. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama, 9. Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter. 10. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter. 11. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guruguru karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan siswa.

C. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) merupakan strategi pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada permasalahan-permasalahan praktis sebagai pijakan dalam belajar atau dengan kata lain siswa belajar melalui permasalahan-permasalahan, (Wena, 2009: 91). Dilihat dari aspek psikologi, Sanjaya (2006: 211) menyebutkan belajar dengan menggunakan SPBM tersebut berawal dari pemikiran bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku karena adanya pengalaman. Jadi, belajar bukan semata-mata proses menghafal sejumlah fakta, tetapi suatu proses interaksi secara sadar antara individu dengan lingkungannya. Savoie dan Huges (dalam Wena, 2009: 91) menyatakan SPBM memiliki karakteristik, antara lain. 1. Belajar dimulai dengan suatu permasalahan (harus berhubungan dengan dunia nyata siswa). 2. Mengorganisasikan pembelajaran di seputar permasalahan, bukan di seputar disiplin ilmu. 3. Memberikan tanggung jawab yang besar dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka. 4. Menggunakan kelompok kecil. 5. Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah dipelajarinya dalam bentuk produk dan kinerja. Adapun tujuan yang ingin dicapai SPBM adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis, dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah. Berdasarkan tujuan tersebut, maka siswa dapat diajak berdiskusi tentang permasalahan remaja saat ini. Sehingga, siswa

berpikir kritis, analitis, sistematis, dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah. Dengan demikian, siswa dapat merefleksikan diri, apakah mereka termasuk pelaku dalam permasalahan yang dibahas. Jika ya, maka mereka akan mencoba mencari solusi bersama. Maka, pengembangan karakter yang diinginkan tersirat dalam pembelajaran berbasis masalah tersebut. Menurut Fogarty (dalam Wena, 2009: 98), langkah-langkah SPBM adalah sebagai berikut. 1. Menemukan masalah. 2. Mendiskusikan masalah. 3. Mengumpulkan fakta. 4. Menyusun hipotesis (dugaan sementara). 5. Melakukan penyelidikan. 6. Menyempurnakan didefinisikan. 7. Menyimpulkan alternatif pemecahan masalah secara kolaboratif. 8. Melakukan pengujian hasil (solusi) pemecahan masalah. Sedangkan menurut Sanjaya (2006: 216-218), langkah penerapan SPBM adalah sebagai berikut. 1. Menyadari masalah. 2. Merumuskan masalah. 3. Merumuskan hipotesis. 4. Mengumpulkan data. 5. Menguji hipotesis. permasalahan yang telah

6. Menentukan pilihan penyelesaian. D. Langkah-langkah Pengembangan Karakter melalui SPBM Setelah mengenali langkah dan prinsip pengembangan karakter, serta pengertian, karakteristik, tujuan, dan langkah SPBM, maka pengembangan karakter melalui SPBM dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. 1. Tahap menemukan dan menyadari masalah. Pada tahap ini, pembelajaran dimulai dengan menemukan

permasalahan yang harus berhubungan dengan dunia nyata siswa. Siswa diminta untuk mengamati keadaan sekitar untuk menyadari dan menemukan permasalahan. Permasalahan tersebut difokuskan pada topik tertentu, yaitu permasalahan tindakan negatif yang dilakukan anak sekolah. Untuk menstimulus siswa menemukan permasalahan tersebut, sebelumnya siswa dapat diminta untuk menyimak berita di televisi, membaca surat kabar, atau membaca beberapa artikel di internet. Harapan pada tahap ini, siswa dapat berpikir analitis dan termotivasi untuk lebih peka terhadap keadaan sekitarnya serta tumbuh sikap peduli. 2. Tahap mengumpulkan data. Pada tahap ini, siswa diminta untuk mempertanggungjawabkan tindakannya saat menemukan permasalahan. Tanggung jawab tersebut berupa mencari dan menyusun serangkaian fakta atau data sebagai bukti bahwa memang benar ada permasalahan yang harus dibahas. Pada tahap ini, siswa dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. Harapan pada tahap ini, siswa dapat berpikir kritis dan tumbuh sikap tanggung jawab. 3. Tahap diskusi dan merumuskan masalah. Setelah siswa berkelompok untuk mengumpulkan serangkaian fakta pendukung, siswa dapat mendiskusikan data-data yang telah 9

terkumpul dengan teman sekelompok, kemudian merumuskan masalah. Perumusan masalah tersebut berupa pemetaan masalah. Saat memetakan masalah, siswa memegang erat prinsip 5W+1H, yaitu WHAT (Apa), WHO (Siapa), WHERE (Di mana), WHEN (Kapan), WHY (Mengapa), HOW (Bagaimana). Melalui prinsip 5W+1H tersebut, siswa akan lebih mudah memetakan masalah. Harapan pada tahap ini, siswa dapat berpikir sistematis. 4. Tahap menyusun hipotesis. Setelah memetakan masalah, siswa diminta untuk memberi kesimpulan sementara (hipotesis) terhadap permasalahan yang sudah dipetakan tersebut. Siswa dapat melakukan sebuah perkiraan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi dan bahkan solusi. Harapan pada tahap ini, siswa dapat berpikir logis. 5. Tahap menentukan solusi. Pada tahap ini, siswa berdiskusi untuk mendapatkan solusi. Setelah itu tiap-tiap kelompok menyampaikan solusi mereka di depan kelas. Kelompok lain menanggapi, begitu seterusnya dilakukan secara bergantian. Harapan pada tahap ini, siswa dapat berpikir untuk memecahkan masalah. 6. Tahap kesimpulan. Setelah berdiskusi antarkelompok, maka siswa diminta untuk menarik kesimpulan secara keseluruhan dan menemukan nilai-nilai yang kemudian dapat direfleksikan oleh siswa. Harapan pada tahap ini, siswa dapat merenung, mengoreksi, dan merefleksi diri untuk mencapai perubahan yang lebih baik. Dari langkah-langkah tersebut, siswa mendapat pengembangan karakter yang diuraikan oleh Ginanjar (2010) dan sembilan pilar karakter dasar di Indonesia, antara lain: 1. cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya;

2. tanggung jawab, disiplin, dan mandiri; 3. jujur; 4. hormat dan santun; 5. kasih sayang, peduli, dan kerja sama; 6. percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah; 7. keadilan dan kepemimpinan; 8. baik dan rendah hati, serta toleransi cinta damai dan persatuan; 9. visioner; dan 10. adil. E. Kesimpulan Berdasarkan UU tentang Sistem Pendidikan Nasional, terkait fungsi dan tujuan, maka pedidikan berbasis karakter adalah langkah yang tepat sebagai tindak penyelesaian problematika atau perilaku negatif yang dilakukan anak sekolah (remaja). Pengembangan karakter bagi siswa SMP/SMA dapat melalui kombinasi Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) dengan tiga langkah dan sebelas prinsip pengembangan karakter. Pengembangan tersebut meliputi tahap menemukan dan menyadari masalah, mengumpulkan data; diskusi dan merumuskan masalah; menyusun hipotesis; menentukan solusi; dan menarik kesimpulan. Dari langkah-langkah tersebut, siswa mendapat pengembangan karakter cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya; tanggung jawab, disiplin, dan mandiri; jujur; hormat dan santun; kasih sayang, peduli, dan kerja sama; percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah; keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, serta toleransi cinta damai dan persatuan; jujur; visioner; dan adil. F. DAFTAR PUSTAKA

11

Arismantoro (Ed.). 2008. Tinjauan Berbagai Aspek Character Building. Yogyakarta: TIARA WACANA. Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana. Sudrajat, Akhmad. 2010. Tentang Pendidikan Karakter. Diakses dari akhmadsudrajat.wordpress.com pada 11 April 2012. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2005. Jakarta: Depdiknas. Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.