Anda di halaman 1dari 100

HU.

TAUHĪD-UL-MUFADHDHAL.

PERTAMA.

Perbincangan Ibnu Abil- 'Awja'iy dengan sahabatnya.

Muhammad bin Sannan meriwayatkan: Menyampaikan kepadaku Al-


Mufadhdhal bin Umar. Dia berkata, "Suatu hari setelah ashar, aku duduk di
rawdhah antara kubur dan mimbar. Aku memikirkan tentang apa yang Allah
s.w.t. khususkan kepada Sayyidina Muhammad s.a.w. berupa kemuliaan dan
keutamaan, serta apa-apa yang Dia karuniakan berupa anugerah kepadanya,
yang kesemuanya tidak diketahui oleh kebanyakan umat. Mereka tidak
mengetahui keutamaan dan kedudukannya yang agung serta martabatnya
yang tinggi. Aku pun demikian, hingga suatu saat aku menemui Ibn
Abil-'Awja'. Ia duduk, sementara aku mendengarkan perkataannya. Ketika
majelis itu sedang berlangsung, tiba-tiba datang seorang sahabatnya. Orang
itu datang dan duduk di sampingnya. Ibnu Abil-'Awja' berkata, "Penghuni
kubur ini telah sampai pada keagungan kesempurnaannya dan memperoleh
kemuliaan dengan seluruh perangainya, serta mendapat kehormatan
(honor)dalam seluruh ihwalnya." Maka sahabatnya itu berkata kepadanya,"Ia
seorang ilmuwan yang menginginkan martabat teragung dan kedudukan
tertinggi. Ia memperolehnya dengan mukjizat-mukjizat yang melampaui
akal, tiada padanya impian (dream, vision,wish), dan hati tidak mampu menyelami
ilmunya dalam lautan pikirannya. Maka kembali orang-orang yang terhalau,
dan mereka bersedih hati. Ketika orang-orang berakal, orang-orang fasih dan
para khatib memenuhi seruannya, manusia masuk ke dalam agamanya
dengan nama syariatnya. Dengannya ia memanggil para pemimpin yang
berani di seluruh negeri dan tempat yang menerima seruannya. Sebabnya
adalah kalimatnya. Tampaklah padanya hujjahnya di daratan dan lautan, di
lembah dan di gunung-gunung. Pada setiap siang dan malam, lima kali
disebut berulang-ulang di dalam azan dan iqamat, agar setiap saat diperbarui
sebutannya dan supaya dikenal ihwalnya."
Maka Ibnu Abil-'Awja' berkata, "Biarkan sebutan Muhammad s.a.w., akalku
menjadi bimbang (worried, anxious) dan hilang pikiranku tentang ihwalnya. Ia
menyampaikan kepada kami tentang sebutan asal yang kami tuju. Kemudian
ia menyebutkan permulaan segala sesuatu. Ia mengira bahwa itu terjadi
dengan ketidaksengajaan (accidentally). Tiada penciptaan dan tiada pengaturan
(arrangement, control).
Melainkan segala sesuatu terjadi dengna sendirinya tanpa
ada yang mengatur. Atas dasar ini dunia selalu ada dan akan tetap ada."

KEDUA.

Perbincangan Al-Mufadhdhal dengan Ibnu Abil-'Awja'.

(Al-Mufadhdhal berkata): Maka aku tidak dapat menguasai (have control over
one's feelings) diriku karena kemarahan dan kemurkaan (fury, rage, anger). Lalu aku
berkata, "Wahai musuh Allah, engkau mengingkari agama Allah. Engkau
mengingkari Pencipta Yang Mahsuci, yang menciptakanmu dalam bentuk
yang sebaik-baiknya, yang memberikan kepadamu rupa yang sempurna, dan
yang mengubah ihwalnya hingga sampai pada batas tertentu."
"Kalau engkau merenungkan dirimu, dan sanubarimu (one's inner self)
mengatakan yang benar padamu, niscaya engkau dapati dalil-dalil
Rububiyyah dan bukti-bukti penciptaaan tegak (uphold) pada dirimu.
KesaksianNya dalam ciptaanmu adalah jelas. Dan bukti-bukti kebenaranNya
bagimu adalah benar-benar tampak." Ia berkata, "Wahai Fulan, jika engkau
termasuk ahli kalam, maka kami akan berbicara padamu. Jika kuat
hujjahmu, maka kami akan mengikutimu. Jika engkau bukan dari kelompok
mereka, maka aku tidak akan berbicara padamu. Jika engkau termasuk
sahabat Ja'far bin Muhammad Ash-Shadiq, tidaklah demikian engkau
berbicara pada kami. Tidaklah dengan dalil seperti dalilmu, beliau mengadu
argumen dengan kami. Beliau mendengar pembicaraan kami lebih dari yang
engkau dengar. Tiada perkataan kotor dalam pembicaraan kami. Tidaklah
melampaui batas dalam jawaban kami, karena beliau sangat lembut dan
tenang. Beliau adalah orang yang berakal dan cerdas. Ketidaktahuan tidak
pernah menyentuhnya. Tidak pula kecerobohan (indecency,impropriety) dan
ketergesa-gesaan (hastiness) menghampirinya. Beliau mendengarkan perkataan
kami, memperhatikan dan membahas hujjah kami. Hingga apabila kami
mencurahkan alasan kami dan kami kira telah dapat meyakinkannya, beliau
membantah hujjah kami dengan perkataan yang sederhana dan penjelasan
yang ringkas, yang mematahkan hujjah dan memutuskan alasan. Kami tidak
mampu menjawabnya. Jika engkau termasuk di antara sahabatnya, maka
berkatalah seperti perkataannya."

KETIGA.
Sebab Pendiktean kepada Al-Mufadhdhal.

(Al-Mufadhdhal berkata:) Maka aku keluar dari masjid dalam kesedihan dan
memikirkan bencana yang menimpa Islam dan pemeluknya dari kelompok
ateis ini. Aku menemui tuanku a.s. Ketika melihatku sedang berduka, beliau
bertanya, "Apa gerangan yang terjadi padamu?" Maka aku ceritakan apa
yang aku dengar dari dua orang pengikut ajaran Dahriyyin (yaitu ateis yang
berpendapat bahwa alam ini ada secara azali dan abadi) dan jawaban yang aku berikan
pada keduanya. Beliau berkata, "Wahai Mufadhdhal, pastiaku sampaikan
kepadamu tentang kebijakan Pencipta Yang Mahaagung dan Mahasuci
namaNya dalam penciptaan alam, binatang buas, binatang melata, burung,
singa dan seluruh yang bernyawa dari kelompok binatang, tumbuh-
tumbuhan, pohon-pohon yang berbuah, pohon-pohon yang tidak berbuah
dan berbiji, sayur-sayuran, serta dedaunan yang dapat dimakan dan yang
tidak dapat dimakan. Semua itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang
mau mengambil pelajaran. MengenaliNya menenangkan hati orang-orang
yang beriman dan membingungkan orang-orang yang ingkar. Datanglah
kembali kepadaku besok pagi."

KEEMPAT.

Pertemuan Pertama.

(Al-Mufadhdhal berkata:) Maka aku keluar darinya dengan perasaan senang


dan bahagia. Malam itu terasa amat panjang bagiku karena menanti apa yang
beliau janjikan kepadaku. Ketika hari esok tiba dan memasuki waktu pagi,
maka aku minta izin untuk masuk menemuinya. Aku berdiri di hadapannya.
Maka beliau memerintahkanku duduk. Aku pun duduk. Kemudian beliau
bangun menuju satu kamar yang kosong. Aku pun ikut bangun. Beliau
berkata, :"Ikutilah aku." Maka aku mengikutinya. Beliau masuk ke kamar
itu. Aku pun ikut masuk di belakangnya. Beliau duduk dan aku pun duduk di
sampingnya. Beliau berkata, "Wahai Mufadhdhal, jika aku adalah kamu,
maka aku akan merasakan malam ini begitu panjang, karena menunggu apa
yang aku janjikan kepadamu."
Aku menjawab, "Tentu, wahai Tuanku."
Beliau berkata lagi, "Wahai Mufadhdhal, Allah s.w.t. itu ada tanpa ada
sesuatu sebelumNya. Dia kekal tanpa ada akhir bagiNya. BagiNya segala
pujian atas apa yang dikaruniakan kepada kami, dan syukur atas apa yang
dianugerahkan kepada kami. Dia telah mengkhususkan kami dengan ilmu
beserta seluruh ketinggiannya dan kedudukan tinggi dengan seluruh
kemuliaannya. Dia memilih kami dari seluruh ciptaan dengan ilmuNya. Dia
menjadikan kami sebagai para muhaymin atas segenap makhluk dengan
hikmahNya."
Aku bertanya, "Wahai tuanku, bolehkah aku menuliskan apa yang engkau
jelaskan. "Aku telah menyiapkan alat-alat tulis itu.
Beliau menjawab, "Lakukanlah, wahai Mufadhdhal!"

KELIMA.

Ketidaktahuan Orang-orang yang Ragu terhadap Sebab Penciptaan


dan Maknanya.

Orang-orang yang ragu tidak mengetahui sebab dan makna penciptaan.


Pemahaman mereka sempit untuk mengkaji manfaat dan hikmah pada apa
yang diciptakan Pencipta Yang Mahasuci dan yang Dia ciptakan berupa
berbagai ciptaanNya yang ada di daratan, lautan, lembah dan ngarai
(chasm,gorge). Dengan kesempitan ilmu, mereka munuju kekufuran. Dan
dengan kelemahan nalar (logical reasoning), mereka keluar menuju pendustaan
(lying) dan kedurhakaan (rebelliousness). Hingga mereka mengingkari penciptaan
segala sesuatu. Mereka mengganggap hal itu tercipta tanpa kesengajaan
(delibererateness,doing something on purpose), tiada penciptaan, pengaturan dan
kebijakan (wisdom, policy) dari Pengatur dan Pencipta. Mahasuci Allah dari apa
yang mereka sifatkan. Allah memerangi mereka di mana saja mereka
mengingkari kebenaran. Di dalam kesesatan dan pengingkaran, mereka
seperti orang buta yang memasuki sebuah rumah yang telah dibangun
dengan sebaik-baiknya dan sebagus-bagusnya. Dihampari rumah itu dengan
kasur (mattress) yang sangat baik dan mempersonakan. Di dalamnya tersedia
perlengkapan (supply) makan dan minum, pakaian serta segala hal yang
diperlukannya. Segala sesuatu ditempatkan pada tempatnya dengan tersusun
rapi. Mereka mulai menoleh ke kanan dan ke kiri. Mereka mengelilingi
rumah itu ke depan dan ke belakang. Tetapi penglihatan mereka tertutup.
Mereka tidak dapat melihat bangunan rumah itu dan apa yang tersedia di
dalamnya. Kadang-kadang salah seorang di antara mereka merusakkan
sesuatu yang telah tersimpan pada tempatnya dan tersedia bagi
kebutuhannya. Tetapi ia tidak mengetahui arti semua itu, untuk apa
disediakan dan mengapa dijadikan seperti itu? Maka ia mencaci (scorn,jeer at,
ridicule, swear at) dan mencerca (deride, censure, reprimand, revile) rumah itu dan
pembuatnya.Demikianlah ihwal pengingkaran mereka. Mereka mengingkari
penciptaan dan buktinya. Maka ketika otak mereka kosong dari pengetahuan
sebab dan 'illat sesuatu, mereka mulai mengelilingi alam ini dalam
kebingungan. Mereka tidak memahami apa yang sempurna penciptaannya,
bagus buatannya dan baik keadaannya. Kadang-kadang salah seorang di
antara mereka bergantung pada sesuatu yang tidak diketahui sebabnya dan
tidak dipahami kebutuhan terhadapnya. Tetapi ia segera mencaci dan
menyifatinya dengan kemustahilan dan kesalahan, seperti orang yang
dihadapkan kepadanya Al-Mananiyyah yang kufur dan ditampakkan secara
terang-terangan kepadanya yang ingkar, yang murtad dan durhaka, serta
yang lainnya dari ahli kesesatan yang menyibukkan diri mereka dengan
ketaatan pada tuhan mereka dengan hal-hal yang mustahil. Maka layaklah
bagi orang yang Allah karuniai dengan makrifat, petunjuk agama dan
taufikNya untuk mengkaji keteraturan dalam penciptaan makhluk, dan
bergantung pada apa yang diciptakan baginya berupa keteraturan yang serasi
dan perhitungan yang pasti dengan dalil-dalil yang menunjukkan pada
Pencipta semua itu. Hal itu adalah agar ia memperbanyak pujian kepada
Allah, Maulanya atas hal itu. Dan hendaklah ia menjaga dan
memperbanyaknya, karena Dia Yang Mahaagung namaNya berfirman:
"Sesungguhnya jika kalian bersyukur (atas nikmatKu), niscaya Aku
tambahkan kepadamu (kenikmatanKu). Tetapi jika kalian kufur (atas
nikmatKu), maka azabKu sangatlah pedih." (14:7).

KEENAM.

Munculnya Alam dan Ketersusunan Bagian-bagiannya.

Wahai Mufadhdhal, awal pelajaran dan bukti adanya Pencipta Yang


Mahasuci adalah munculnya alam ini dan ketersusunan bagian-bagiannya
atas apa yang semestinya. Jika engkau perhatikan alam ini dengan pikiranmu
dan mengkajinya dengan akalmu, maka engkau mendapatinya seperti rumah
yang dibangun dan tersedia di dalamnya semua yang dibutuhkan hamba-
hambaNya. Langit terbentang sebagai atap, bumi terhampar sebagai alas,
bintang-bintang bercahaya sebagai lampu dan mutiara-mutiara terpendam
sebagai simpanan. Semua itu tersedia di dalamnya. Dan manusia adalah
sebagai pemilik rumah itu yang memiliki semua yang ada di dalamnya.
Aneka tumbuhan tersedia bagi kebutuhannya dan berbagai binatang
digunakan bagi keperluan dan kegunaannya. Di dalam hal ini terdapat bukti
yang jelas bahwa alam ini diciptakan dengan perhitungan, keteraturan dan
keserasian. Dan bahwa penciptanya adalah satu. Dialah yang mengatur dan
menyusun sebagian terhadap bagian lainnya. Mahaagung kesucianNya,
Mahatinggi kemurahanNya, Mahamulia wajahNya dan tiada tuhan
selainNya. Mahatinggi Dia dari apa yang dikatakan orang-orang murtad, dan
Mahaagung dari apa yang diyakini orang yang ingkar.

KETUJUH.

Penciptaan Manusia dan Pengaturan Janin di dalam Rahim.

Wahai Mufadhdhal, kita memulai dengan menyebutkan penciptaan manusia.


Maka perhatikanlah. Awalnya adalah pengaturan janin di dalam rahim. Ia
terselubung di dalam tiga kegelapan: kegelapan perut, kegelapan rahim dan
kegelapan plasenta. Di mana ia tidak dapat memperoleh manfaat dan
menolak bahaya. Melalui tali pusar disalurkan sari makanan dan air.
Demikianlah seterusnya makanannya.

KEDELAPAN.

Cara Kelahiran Janin, Makanannya, Tumbuhnya Gigi dan Mencapai


Dewasa.

Hingga ketika telah sempurna penciptaannya, kokoh badannya dan kuat


kulitnya untuk bersentuhan langsung dengan udara luar dan penglihatannya
untuk menerima cahaya, maka tibalah bagi ibunya masa untuk
melahirkannya. Ibunya mencemaskan dan menekannya hingga anak itu
terlahir. Ketika telah lahir, maka makanan yang tadinya disalurkan dari darah
kini beralih pada kedua susu ibunya. Berubahlah rasa dan warnanya menjadi
rasa dan warna makanan yang lain. Hal itu lebih sesuai bagi bayi yang
dilahirkan daripada yang disalurkan melalui darah. Maka hal itu didatangkan
pada saat diperlukan. Setelah dilahirkan, ia menjulurkan lidahnya dan
menggerakkan kedua bibirnya mencari susuan. Maka ia mendapatkan tetek
ibunya sebagai dua kantung yang menggantung untuk memenuhi
kebutuhannya. Senantiasa ia makan dari air susu itu selama badannya rapuh,
alat-alat pencernaannya masih lembut dan anggota-anggota tubuhnya lemah.
Hingga ketika ia bergerak dan memerlukan makanan yang keras untuk
menguatkan dan mengeraskan badannya, tumbuhlah gigi susu dan gigi
depan untuk mengunyah makanan sehingga menjadi lembut dan mudah
ditelan. Ia senantiasa demikian hingga mencapai usia baligh. Jika telah
mencapai baligh dan ia berkelamin laki-laki, maka tumbuhlah bulu (kumis)
pada wajahnya. Hal ini merupakan tanda kelaki-lakian dan keperkasaan.
Tumbuhnya kumis membedakannya dari anak-anak dan perempuan. Jika ia
seorang perempuan, wajahnya tidak ditumbuhi kumis agar tetap indah dan
cantik sehingga dapat memikat laki-laki untuk melanjutkan keturunan.
Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah keteraturan pada diri manusia dalam
berbagai keadaan. Apakah hal seperti itu dapat terjadi dengan
ketidaksengajaan? Tidakkah engkau perhatikan bahwa kalau ia berada di
dalam rahim, sementara darah tidak mengalir kepadanya, bukankah ia
mnejadi layu dan kering seperti tumbuhan yang tidak mendapat siraman air.
Kalau proses kelahiran tidak mengeluarkannya ketika sempurna tubuhnya,
tidakkah ia akan tetap berada di dalam rahim seperti orang yang dikubur
hidup-hidup di dalam tanah? Kalaulah air susu tidak keluar ketika
kelahirannya, tidakkah ia akan mati kelaparan, atau memakan makanan yang
tidak cocok baginya dan tidak baik bagi tubuhnya? Kalaulah tidak tumbuh
gigi pada waktunya, tidakkah ia akan mendapat kesulitan dalam mengunyah
makanan dan menelannya? Atau, ia terus- menerus menyusu sehingga
badannya tetap lemah dan tidak mampu uantuk bekerja? Kemudian ibunya
disibukkan dengan mengasuh anak-anak lain.

KESEMBILAN.

Tidak Tumbuhnya Bulu pada Wajah dan Sebabnya.

Kalaulah tidak tumbuh bulu pada wajahnya di saat tiba waktunya, tidakkah
ia akan tetap seperti dalam keadaan kanak-kanak dan seperti perempuan,
sehingga engkau melihat ia tidak memiliki kebesaran dan kehebatan?
(Mufadhdhal berkata:) Aku bertanya, "Wahai Tuanku, aku telah melihat
orang yang tetap dalam keadaan seperti masa kanak-kanaknya dan tidak
tumbuh bulu pada wajahnya hingga mencapai usia dewasa.
Maka beliau a.s. menjawab, "Yang demikian itu adalah disebabkan
perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak
menganiaya hamba-hambaNya." (3:182). Maka siapakah yang
mengawasinya dengan menyediakan segala sesuatu yang diperlukannya
selain yang telah menjadikannya sebagai ciptaan dari ketiadaannya, dan
menjamin keperluannya setelah ia ada. Jika ketidaksengajaan menjadikan
keteraturan seperti ini, maka kadang-kadang di dalam kesengajaan dan
perhitungan pun terjadi kesalahan, karena keduanya lawan dari
ketidaksengajaan. Ini merupakan perkataan keji dan ketidaktahuan orang
yang mengucapkannya. Ketidaksengajaan tidak mendatangkan keteraturan.
Mahatinggi Allah dari apa yang dikatakan orang-orang yang ingkar.
KESEPULUH.

Jika Bayi Dilahirkan Berpengetahuan.

Kalau bayi yang dilahirkan sudah dapat mengetahui dan berakal, niscaya ia
akan mengingkari alam di saat kelahirannya. Ia akan selalu kebingungan
karena sesat akal ketika melihat apa yang belum pernah diketahuinya.
Datang kepadanya apa yang belum pernah ia lihat seperti rupa-rupa benda
alam, binatang dan burung, dan sebagainya yang dilihatnya setiap saat.
Perhatikanlah hal itu, bahwa orang yang terpenjara di suatu negeri semnetara
ia berakal, maka ia seperti orang yang kebingungan. Ia tidak segera belajar
bicara dan menerima etika seperrti anak kecil yang belum berakal.
Kemudian, kalau ia lahir dalam keadaan berakal, maka ia akan mendapati
kehinaan apabila melihat dirinya dikandung, disusui dan dibalut dengan
kain di dalam buaian. Ia memerlukan hal itu semua karena tubuhnya yang
masih halus dan lunak ketika dilahirkan. Kemudian ia tidak mendapati
baginya manis dan sakit yang biasa dirasakan anak. Karena itu, ia keluar ke
dunia dalam keadaan tidak memahami apa pun dan tidak tahu apa yang ada
di sekitarnya. Ia mengenali sesuatu dengan otak yang lemah dan
pengetahuan yang kurang. Kemudian sedikit demi sedikit pengetahuannya
terus bertambah hingga menyenangi sesuatu, membiasakannya dan
melakukannya terus-menerus. Maka dari sebatas memperhatikan,
kebingungan berubah menjadi menggunakan dan mendorongnya untuk
hidup dengan akal dan pikirannya, dan untuk mengambil pelajaran, ketaatan,
kelalaian dan kemaksiatan.
Di dalam hal ini pun terdapat aspek lain. Kalulah anak dilahirkan dengna
akal yang sempurna, maka hilanglah manisnya mengasuh anak. Tidak ada
artinya kedua orang-tua sibuk dengan kepentingan anak. Orang-tua tidak
wajib mengajarkan kepada anak-anaknya untuk membalas kebaikan dan
kasih sayang anak kepada mereka ketika mereka membutuhkannya.
Kemudian, anak-anak tidak mengasihi orang-tua, dan orang-tua pun tidak
menyayangi anak-anaknya, karena anak-anak tidak memerlukan asuhan dan
perlindungan orang-tuanya. Maka ketika dilahirkan, anak berpisah dari
orang-tuanya. Sehingga seseorang tidak lagi mengenali ibu dan bapaknya.
Tidak ada lagi yang dapat mencegah pernikahannya kepada ibu, saudara
perempuan dan mahramnya jika mereka tidak saling mengenali. Sedikitnya
saja dari hal itu adalah keburukan. Bahkan lebih buruk dan lebih keji
(akibatnya) jika anak dilahirkan dari perut ibunya dalam keadaan berakal. Ia
akan melihat apa yang tidak halal baginya dan tidak baik untuk dilihat.
Tidakkah engkau lihat bagaimana setiap ciptaan senantiasa diciptakan untuk
tujuan kebaikan, dan lepas dari kesalahan yang kecil maupun yang besar.

KESEBELAS.

Hikmah Tangisan Anak.

Ketahuilah, Wahai Mufadhdhal, hikmah tangisan anak. Ketahuilah bahwa di


dalam otak anak terdapat cairan. Jika cairan itu tidak dikeluarkan, maka akan
menyebabkan akibat yang fatal dan penyakit yang parah, berupa kehilangan
penglihatan dan sebagainya. Tangisan mengalirkan cairan itu dari kepala
sehingga akibatnya adalah badannya menjadi sehat dan penglihatannya
normal. Bukankah sering terjadi anak memperoleh manfaat dari tangisannya,
sementara kedua orang tuanya tidak mengetahui hal itu. Mereka berusaha
untuk mendiamkan dan menenangkan anaknya ketika sakit agar tidak
menangis. Mereka tidak mengetahui bahwa tangisan adalah lebih baik bagi
anaknya dan lebih baik kesudahannya.

Demikianlah, bahwa di dalam segala hal terdapat manfaat yang tidak


diketahui oleh orang-orang yang menyakini bahwa segala sesuatu terjadi
dengan ketidaksengajaan (accidentally). Kalaulah mereka mengetahui hal itu,
mereka tidak akan mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang bermanfaat
disebabkan mereka tidak mengenalinya dan tidak mengetahui sebabnya.
Setiap hal yang tidak diketahui oleh orang-orang yang ingkar, diketahui
oleh orang-orang yang arif. Banyak hal yang terbatas bagi makhluk,
diketahui ilmu Pencipta Yang Mahasuci dan Mahatinggi kalimatNya.

Adapun air liur yang keluar dari mulut anak, maka itu adalah keluarnya
cairan yang jika dibiarkan di dalam tubuhnya, niscaya menyebabkan hal
yang sangat berbahaya. Seperti orang yang engkau lihat dipenuhi cairan,
maka akibatnya adalah kebodohan, kegilaan dan sebagainya berupa
penyakit-penyakit yang mematikan seperti kelumpuhan (paralysis), perot
(pencong,mencong,--wry, distorted) mulut , dan lain-lain. Maka Allah menjadikan
cairan itu keluar melalui mulut anak ketika masih kecil agar ia tetap sehat
ketika mencapai usia dewasa. Allah memuliakan ciptaannya dengan sesustu
yang tidak mereka kenali dan menaruh kasihan pada mereka dengan sesuatu
yang tidak mereka ketahui. Kalaupun mereka mengetahui nikmatNya kepada
mereka, niscaya hal itu akan melalaikan mereka dari kemaksiatan
kepadaNya yang tiada henti. Mahsuci Dia, betapa agung kenimatanNya dan
memberikannya kepada yang berhak dan yang lainnya dari ciptaanNya.
Mahatinggi Dia dari apa yang dikatakan orang-orang yang batil.

KEDUA BELAS.

Kini lihatlah, wahai Mufadhdhal, bagaimana dijadikannya alat-alat kelamin


bagi laki-laki dan perempuan atas bentuknya maisng-masing. Bagi laki-laki
dijadikan alat yang dapat mengembang dan memanjang hingga dapat
mengirimkan nutfah ke dalam rahim ketika perlu untuk menumpahkan
spermanya pada ovum. Dan bagi perempuan diciptakan kantung yang dapat
menampung ovum dan sperma, mengandung anak, memberikan keleluasaan
(freedom of action) baginya dan melindunginya hingga ia sempurna. Bukankah
hal itu merupakan pengaturan yang bijak dan indah? Mahasuci dan
Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan.

KETIGA BELAS.

Anggota-anggota Badan dan Manfaatnya Masing-masing.

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai seluruh anggota badan dan


pengaturannya masing -masing bagi keperluan. Dua tangan untuk bekerja,
dua kaki untuk berjalan, dua mata untuk melihat, mulut untuk makan, perut
untuk mencerna makanan, hati untuk menyaring sari makanan, saluran
kencing dan anus untuk mengeluarkan kotoran, kantung-kantung untuk
menampungnya dan kelamin untuk melanjutkan keturunan. Demikian pula
anggota-anggota tubuh lainnya. Jika engkau amati dan engkau gunakan
pikiran dan nalarmu(logical reasoning), niscaya engkau dapati setiap anggota
tubuh ditentukan bagi sesuatu yang bermanfaat.

KEEMPAT BELAS.

Dugaan kaum Naturalis dan Sanggahannya.

(Al-Mufadhdhal berkata:) Aku katakan, "Wahai tuanku, ada suatu kaum


yang mengira bahwa ini terjadi secara alami."

Beliau a.s. menjawab: Tanyakan pada mereka mengenai kejadian alami ini,
apakah ia merupakan sesuatu yang memiliki ilmu dan kekuasaan terhadap
kejadian-kejadian seperti ini atau tidak? Jika mereka menjawab bahwa ia
memiliki ilmu dan kekuasaan, maka apa yang menghalangi mereka untuk
menegaskan adanya Pencipta, karena ini adalah ciptaanNya. Kalau mereka
menduga bahwa semua proses ini terjadi tanpa ilmu dan kesengajaan,
sementara kejadian-kejadiannya yang engkau lihat mendatangkan manfaat
dan hikmah, maka ketahuilah bahwa ini adalah ciptaan Pencipta Yang
Mahabijaksana. Maka yang mereka namakan alami itu adalah sunnahNya
pada ciptaanNya yang berjalan di atas apa yang telah Dia tentukan.

KELIMA BELAS.

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai sampainya makanan ke dalam


tubuh dan pengaturan di dalamnya. Makanan masukke dalam perut, lalu
dicerna. Sari-sarinya disalurkan ke hati melalui pembuluh-pembuluh yang
halus yang terbentang di antara keduanya. Pembuluh-pembuluh itu juga
berfungsi sebagai penyaring sari makanan agar sesuatu yang keras tidak
masuk ke hati, karena akan melukainya. Hati tidak dapat menerima benda
yang keras. Kemudian, hati menerima sari makanan itu, lalu dengan
pengaturan yang sangat baik diubah menjadi darah dan disalurkan ke seluruh
badan melalui saluran-saluran itu menyerupai selokan-selokan untuk
mengalirkan air ke seluruh permukaan bumi dan menghanyutkan kotoran
dan ampas.(waste, dregs). Kotoran dari jenis yang pahit berwarna kuning
dialirkan ke kantung empedu (gall, bile), yang berwarna hitam disalurkan ke
limpa (spleen), dan yang berbentuk cairan disalurkan ke kandung kemih.

Amatilah keteraturan di dalam susunan tubuh. Anggota -anggota tubuh ini


ditempatkan sesuai tempatnya. Dan disediakan kantung-kantung untuk
menampung ampas agar tidak tersebar ke seluruh tubuh sehingga
menimbulkan penyakit dan mematikan. Maka Mahasuci Yang telah
mengatur dengan sebaik-baik keteraturan. BagiNya pujian sebagaimana Dia
adalah Yang berhak menerimanya.

KEENAM BELAS.

Awal Pertumbuhan Badan: Pembentukan Janin di dalam Rahim.

(Al-Mufadhdhal berkata:) Aku katakan, "Jelaskanlah mengenai pertumbuhan


badan yang terjadi secara bertahap hingga menjadi sempurna."
Beliau a.s. menjawab: Awalnya adalah pembentukan janin di dalam rahim
yang tidak terlihat mata dan tidak tersentuh tangan, diurus hingga keluar
dalam keadaan normal dan tidak cacat seluruh anggota tubuhnya hingga
bagian-bagian penyusunannya seperti tulang, daging, lemak, urat saraf (nerve),
sumsum (marrow),otot (musle, tendon), dan tulang rawan (rib, soft bone). Ketika keluar
ke dunia, engkau perhatikan bagaimana ia tumbuh dengan seluruh anggota
tubuhnya. Ia tegak di atas rupa dan bentuk yang tidak ada penambahan dan
tidak ada pengurangan hingga sempurna umurnya. Tidaklah ini terjadi selain
dengan pengaturan yang baik.

KETUJUH BELAS.

Kelebihan Manusia: Dapat Berdiri Dan Duduk.

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah apa yang dikhususkan bagi manusia


dalam penciptaannya sebagai kemuliaan dan keutamaan atas binatang. Ia
diciptakan dengan kemampuan berdiri dan duduk untuk dapat mengambil
sesuatu dengan kedua tangannya dan anggota tubuh lainnya. Sehingga hal
itu memungkinkannya melakukan pekerjaan. Kalau ia hanya dapat
merangkak seperti binatang berkaki empat, niscaya ia tidak akan mampu
mengerjakan pekerjaan apa pun.

KEDELAPAN BELAS.

Pengkhususan Manusia dengan Pancaindera.

Kini, perhatikanlah, wahai Mufadhdhal, pancaindera yang khusus diberikan


kepada manusia dalam penciptaannya. Dengan pancaindera itu manusia
menjadi lebih mulia daripada makhluk lainnya. Bagaimana dijadikan dua
mata pada kepala seperti lampu-lampu di atas menara? Hal itu agar manusia
dapat melihat segala sesuatu. Mata itu tidak dijadikan pada anggota-anggota
tubuh di bawah kepala seperti tangan dan kaki, sehingga tercegah dari
kerusakan yang akan menimpanya ketika bekerja dan bergerak. Tidak pula
mata itu di letakkan pada anggota-anggota tubuh yang berada di bagian
tengah badan seperti perut dan punggung sehingga sulit berbalik dan melihat
segala sesuatu.
KESEMBILAN BELAS.

Pancaindera: Fungsi dan Rahasianya.

Setiap pancaindera memiliki tempatnya tersendiri. Kepala merupakan


tempat yang paling cocok bagi pancaindera, seperti tempat pertapaan
baginya. Dijadikan indera yang lima menangkap yang lima agatr tidak ada
satu objek luput dari penangkapannya. Maka diciptakan penglihatan untuk
menangkan warna. Kalau ada warna, tetapi penglihatan tidak dapat
menangkapnya, maka mata tidak ada manfaatnya. Diciptakan pendengaran
untuk menangkap suara. Kalau ada suara, tetapi pendengaran tidak dapat
menangkapnya, maka pendengaran tidak ada manfaatnya. Demikian pula
indera-indera lainnya. Kemudian, hal itu terjadi secara timbal balik. Kalau
ada penglihatan, tetapi tidak ada warna, maka penglihatan tidak ada artinya.
Dan kalau ada pendengaran, tetapi tidak ada suara, maka pendengaran tidak
memiliki fungsi apa pun.

KEDUA PULUH.

Penentuan Pancaindera: Sebagiannya Berkaitan dengan Sebagian yang


Lain.

Perhatikanlah, bagaimana ditentukan sebagiannya berkaitan dengan sebaigan


yang lain. Maka dijadikan bagi tiap indera ada objek yang diinderai, dan tiap
objek ada indera yang menangkapnya. Bersamaan dengan itu, dijadikan
benda-benda yang menjadi perantara antara indera dan objek. Indera tidak
akan berfungsi kecuali dengan perantaraannya, seperti cahaya dan udara.
Karena, kalau tidak ada cahaya yang menampakkan warna pada penglihatan,
maka penglihatan tidak akan dapat menangkap warna. Kalau tidak ada udara
yang menghantarkan suara pada pendengaran, maka pendengaran tidak
dapat menangkap suara. Maka apakah hal itu luput dari orang yang
menggunakan nalar dan pikirannya, bahwa hal seperti yang aku jelaskan ini
berupa tersedianya indera dan objek di mana sebagiannya berkaitan dengan
sebagian yang lain, dan tersedianya benda-benda lain yang memfungsikan
indera, tidak terjadi selain dengan pengaturan dan ketentuan dari yang
Mahalembut dan Maha Mengetahui.
KEDUA PULUH SATU.

Orang yang tidak Memiliki Penglihatan, Pendengaran dan Akal, serta


Pelajaran dalam hal itu.

Pikirkan, wahai Mufadhdhal, tentang orang yang tidak memiliki penglihatan


dan cacat yang dideritannya. Ia tidak mengetahui letak kedua kakinya dan
tidak dapat melihat apa yang ada di hadapannya. Ia tidak dapat membedakan
antara warna-warna dan antara pemandangan baik dan pemandangan jelek.
Ia tidak dapat melihat lubang yang menyebabkannya terperosok ke
dalamnya, tidak pula melihat musuh yang akan menebasnya dengan pedang.
Ia pun tidak dapat melakukan perbuatan-perbuatan seperti menulis,
berdagang dan menggambar. Sehingga kalau saja otaknya tidak berfungsi,
maka ia akan seperti batu yang dilemparkan.

Demikian pula orang yang tidak memiliki pendengaran, mendapat cacat


dalam banyak hal. Ia tidak memperoleh nikmatnya pembicaraan dan
perbincangan, dan kehilangan kelezatan suara dan lagu-lagu yang sendu dan
yang merdu. Orang-orang harus mengeluarkan banyak energi dalam
berbicara dengannya hingga mereka menjadi bosan. Ia tidak mendengar
perkataan dan pembicaraan orang lain. Sehingga ia seperti orang yang tidak
hadir padahal hadir, seperti mayit padahal hidup.

Adapun orang yang tidak memiliki akal, maka ia mendekati posisi binatang.
Bahkan ia tidak mengetahui hal yang diketahui binatang. Tidakkah engkau
lihat, bagaimana anggota-anggota tubuh, akal dan bawaan lainnya, yang
diciptakan untuk keperluan manusia dan yang kalau kehilangan salah
satunya dapat menyebabkan banyak kekurangan, disempurnakan
penciptaannya sehingga tidak ada yang hilang sedikit pun. Mengapa trjadi
demikian? Tidak lain selain diciptakan dengan pengetahuan dan
perhitungan.

(Al-Mufadhdhal berkata:) Maka aku bertanya, "Mengapa ada sebagian orang


yang kehilangan sebagian anggota tubuhnya, sehingga memperoleh seperti
apa yang dijelaskan oleh tuanku?".

Beliau a.s. menjawab, "Hal itu adalah untuk mendidik dan memberikan
pelajaran bagi orang yang mengalaminya dan bagi orang lain melalui
dirinya, sebagaimana raja mengajari masyarakat untuk mengambil teladan
dan pelajaran. Ia tidak mencela mereka, bahkan memuji ide mereka dan
membenarkan pemikiran mereka. Kemudian, bagi orang yang ditimpa
bencana diberikan pahala setelah kematiannya--jika ia bersyukur dan
berserah diri. Mereka tidak meremehkan apa yang menimpa mereka, hingga
apabila mereka diminta untuk memilih setelah kematiannya, niscaya mereka
memilih untuk mendapat cobaan agar bertambah pahalanya.

KEDUA PULUH DUA.

Anggota-anggota Tubuh yang Tunggal dan yang Berpasangan, serta


Hikmahnya.

Pikirkan, wahai Mufadhdhal, mengenai anggota-anggota tubuh yang


diciptakan secara tunggal dan berpasangan, serta pemikiran, perhitungan dan
perencanaan yang baik di dalamnya.

Kepala termasuk di antara anggota tubuh yang tunggal. Tidak ada keabikan
bagi manusia yang memiliki kepala lebih dari satu. Tidakkah engkau
perhatikan, bahwa kalau ditambahkan satu kepala pada kepala manusia,
niscaya hal itu akan memberatkannya tanpa ada keperluan terhadapnya.
Karena, alat-alat indera yang diperlukan berkumpul pada satu kepala.
Kemudian, manusia akan terbagi ke dalam dua bagian kalau ia memiliki dua
kepala. Jika yang satu berbicara, yang lainnya diam, tidak berfungsi dan
tidak diperlukan. Jika semuanya berbicara dengan satu perkataan, maka
pendengar tidak tahu mana yang harus didengarkan.

Tangan diciptakan berpasangan. Tidak ada kebaikan bagi manusia yang


hanya memiliki satu tangan, karena hal itu akan membatasi pekerjaannya.
Tidakkah engkau lihat bahwa kalau tukang kayu dan tukang bangunan
lumpuh salah satu tangannya, ia tidak akan mampu membuat bangunan.
Kalaupun ia dapat melakukannya, maka pekerjaan itu tidak akan sempurna
dan tidak akan memperoleh jika dua tangannya bekerja bersama-sama
melakukan pekerjaan itu.

KEDUA PULUH TIGA.

Suara, Perkataan, Ketersediaan Alat-alatnya bagi Manusia dan


Fungsinya.
Teruslah pikirkan, wahai Mufadhdhal, mengenai suara, perkataan dan alat-
alatnya bagi manusia. Tenggorokan (throat) adalah seperti pipa tempat
keluarnya suara. Lidah, kedua bibir dan gigi untuk membentuk bunyi huruf
dan lagu. Tidakkah engkau lihat bahwa orang yang ompong (toothless) tidak
dapat melafalkan huruf sin, orang yang kehilangan bibirnya tidak melafalkan
huruf fa' dengan benar, dan orang yang kelu lidahnya tidak dapat melafalkan
huruf ra'. Tempat keluarnya suara (makhraj-ush-Shawt) menyerupai
terompet, paru-paru menyerupai karet alat peniup yang meniupkan udara
pada terompet itu, otot-otot yang melingkari paru-paru untuk mengeluarkan
suara adalah seperti jemari yang menekan karet penuh sehingga mengalirkan
udara pada batang terompet, bibir dan gigi yang membentuk suara sebagai
huruf dan lagu seperti jemari yang menyentuh lubang-lubang terompet
sehingga keluar berbagai irama. Jika tempat keluarnya suara meyerupai
terompet dalam hal alat-alat dan pengertiannya, maka terompet-- pada
hakikatnya--adalah perumpamaan tempat keluarnya suara.

KEDUA PULUH EMPAT.

Fungsi Lain Anggota-anggota Tubuh.

Telah saya ceritakan kepadamu mengenai anggota-anggota tubuh yang


diperlukan untuk menghasilkan perkataan dan membentuk bunyi huruf-
huruf. Di dalam hal itu terdapat fungsi lain selain yang telah saya sebutkan
kepadamu. Tenggorokan tempat mengalirkan udara ke paru-paru (lungs), maka
udara itu dihembuskan (blow off, exhale) ke hati dengan tarikan napas yang terus-
menerus. Sehingga kalau saja ada suatu benda yang tertahan di dalamnya,
maka manusia itu akan mati. Dengan lidah seseorang dapat mengecap (taste)
dan membedakan rasa, sehingga dapat diketahui setiap rasa, yang manis,
pahit, asam (sour, acid), asin dan tawar (tasteless, insipid), yang sedap dan yang
kecut (sour). Lidah pun dapat membantu menelan makanan dan minuman.
Gigi untuk mengunyah (chew, masticate) makanan hingga menjadi lembut dan
mudah ditelan. Selain itu, gig adalah sebagai sandaran (support, assistance) bibir,
yang menahan dan menopangnya (prop up, shore up) dari bagian dalam mulut.
Perhatikanlah hal itu. Maka engkau akan melihat pada orang yang
kehilangan giginya, bibirnya menjadi lunak dan bergetar (shake,vibrate,quiver).
Dengan kedua bibir minuman dapat dihisap sehingga yang sampai ke
kerongkongan terarah dan dalam kadar tertentu, tidak diteguk (swallow, gulp
down) sekaligus hingga peminumnya menjadi tersedak (choke, swallow the wrong way)
atau terjadi penyumbatan (clogging, obstruction, blockage) pada kerongkongan.
Kemudian, kedua bibir itu pun berfungsi seperti pintu yang melekat pada
mulut. Orang dapat membukanya jika ia suka dan menutupnya jika ia mau.
Setiap anggota-anggota tubuh ini memiliki fungsi dan terbagi ke dalam
beberapa aspek manfaat sebagaimana satu alat dapat digunakan dalam
pertukangan kayu, pembuatan lubang dan jenis-jenis pekerjaan lainnya.

KEDUA PULUH LIMA.

Otak dan Ketersembunyiannya dalam Tengkorak, serta Manfaatnya.

Kalau engkau lihat otak, jika terbuka, niscaya engkau melihatnya


terselubungi penutup berlapis-lapis untuk melindunginya dari gejala
penyakit dan menahannya dari goncangan. Engkau lihat otak itu disimpan di
dalam tengkorak, seperti telur, agar tetap terjaga ketika terjadi benturan
(impact) akibat pukulan yang kemungkinan mengenai kepala. Kemudian
tengkorak ditutup dengan rambut yang tumbuh pada kulit kepala untuk
melindungi kepala dari temperatur panas dan dingin yang tinggi. Maka siapa
yang dapat melindungi otak dengan perlindungan seperti ini selain yang
telah menciptakannya dan menjadikannya sumber rasa, yang patut
dilindungi dan dijaga dengan menempatkannya pada bagian tertinggi dari
tubuh, ketinggian derajatnya dan penting posisinya.

KEDUA PULUH ENAM.

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah pelupuk mata, bagaimana ia dijadikan


sebagai penutup dan pembuka mata. Bagaimana ia memasukkan mata ke
dalam kelopak dan menaunginya dengan tabir. Dan perhatikan pula bulu-
bulu yang tumbuh padanya.

KEDUA PULUH TUJUH.

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah tersembunyinya jantung di dalam rongga


dada dan terlingkap lapisan yang kokoh yang menutupinya. Dilindungi
semua sisi dan sekelilingnya dengan daging dan otot agar tidak sampai
padanya sesuatu yang akan melukainya.
KEDUA PULUH DELAPAN.

Siapa yang menjadikan di dalam leher dua saluran, yang satu untuk
mengeluarkan suara, yaitu tenggorokan yang menyambung dengan paru-
paru dan satunya lagi adalah saluran makanan, yakni kerongkongan yang
menyambung dengan lambung (an interior cavity) untuk menyalurkan makanan.
Dan menjadikan katup (valve) pada tenggorokan yang mencegah makanan
sampai ke paru-paru yang dapat menyebabkan kematian?

KEDUA PULUH SEMBILAN.

Paru-paru dan Fungsinya. Katup Saluran Kencing dan Anus.

Siapa yang menjadikan paru-paru sebagai ventilasi jantung agar temperatur


panas di sekitarnya tidak meninggi yang dapat menyebabkan kematian?
Siapa yang menjadikan katup pada saluran kencing dan kotoran yang
menahannya sehingga tidak keluar kencing dan kotoran yang menahannya
sehingga tidak keluar secara terus-menerus yang dapat merusak kehidupan
manusia. Berapa banyak manfaat yang dapat dihitung. Bahkan yang tidak
dapat dihitung dan tidak diketahui adalah lebih banyak lagi.

KETIGA PULUH.

Siapa yang menjadikan oerut berotot kuat dan kemampuannya mencerna


makanan yang keras? Siapa yang menjadikan hati yang lembut dan halus
untuk menerima sari makanan untuk dicerna, yang lebih halus dari kerja
lambung, selain Allah Yang Mahakuasa? Apakah engkau lihat
ketidaksengajaan mendatangkan hal seperti itu? Tentu tidak. Melainkan itu
adalah pengaturan dari Sang Pengatur yang Mahabijaksana dan Mahakuasa,
Yang Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum menciptakannya. Tidak ada
sesuatu pun yang dapat mengalahkannya. Dia Mahalembut dan Maha
Mengetahui.

KETIGA PULUH SATU.

Sumsum, Darah, Kuku, Telinga, Daging Pantat dan Paha.


Wahai Mufadhdhal, pikirkan mengapa sumsum yang halus terlindung di
dalam rongga tulang? Bukankah hal itu untuk menjaga dan melindunginya?
Mengapa darah hanya mengalir pada pembuluh darah, seperti air mengalir di
selokan-selokan, selain untuk mengerahkannya sehingga tidak tersebar?
Untuk apa kuku tumbuh di ujung jari kecuali untuk melindunginya dan
membantu pekerjaan? Mengapa bagian dalam telinga melingkar, seperti
rumah keong, kecuali untuk menyalurkan suara ke dalamnya sehingga
sampai ke tempat pendengaran dan untuk memecahkan gelombang udara
sehingga tidak tertahan pada pendengaran? Mengapa manusia menyimpan
daging pada bokong (buttocks) dan paha kecuali untuk menjaganya agar tidak
sakit ketika duduk. Dan orang yang kurus dan kurang dagingnya akan
merasa sakit karena tidak ada pengganjal (a prop, a support) yang melindungi
pantatnya antara tempat duduk dengan tubuhnya.

KETIGA PULUH DUA.

Manusia: Laki-laki dan Perempuan, Keturunan, Alat Kerja dan


Kebutuhannya.

Siapa yang menjadkan manusia dalam jenis kelamin laki-laki dan


perempuan selain yang menciptakannya untuk memperbanyak keturunan?
Siapa lagi yang menciptakannya untuk memperbanyak keturunan selain
yang menciptakannya sebagai mamiliki hasrat? Siapa yang memberinya alat
kerja selain yang menciptakannya untuk dapat bekerja? Siapa yang
menciptakannya sebagai yang bekerja selain yang menjadikannya memiliki
kebutuhan? Siapa yang menjadikannya memiliki kebutuhan selain yang
menjadikan baginya kebutuhan? Siapa yang menjadikan baginya kebutuhan
selain yang menyediakan pemenuhannya? Siapa yang memberinya
kelebihan dengan pemahaman selain yang memberikan padanya balasan?
Siapa yang memberikan padanya kekuatan selain yang memberikan padanya
kecerdasan? Siapa yang memberikan kepadanya kecerdasan selain yang
memberinya kemampuan? Siapa yang memberinya kemampuan selain yang
menuntut darinya hujjah? Siapa yang mencukupi apa yang tidak diperoleh
kecerdasannya selain yang tidak memberikan padanya akhir batas
syukurnya?

Pikirkan dan renungkanlah apa yang telah aku jelaskan kepadmu. Apakah
engkau mendapti ketidaksengajaan dapat mendatangkan susunan dan
keteraturan seperti ini? Mahasuci Allah Yang Mahatinggi dari apa yang
mereka sifatkan.

KETIGA PULUH TIGA.

Jantung dan Saluran yang Menyambung ke Paru-paru.

Kini aku akan menjelaskan kepadamu, wahai Mufadhdhal, mengenai


jantung. Ketahuilah bahwa pada jantung terdapat lubang yang menyambung
ke lubang yang terdapat pada paru0paru yang menghembuskan udara ke
jantung. Kalau lubang-lubang itu menyimpang dan masing-masing bekerja
sendiri-sendiri, maka udara tidak sampai ke jantung dan akibatnya manusia
itu akan mati. Apakah orang yang berakal dan berpikiran akan mengira
bahwa hal seperti ini terjadi secara kebetulan dan tidak mendapatkan bukti
dari dirinya yang mencegahnya berpendapat demikian? Kalau engkau
perhatikan pada sebelah daun pintu terdapat kayu pengait, apakah engkau
akan berpikir bahwa itu dibuat tanpa arti? Melainkan engkau tahu bahwa itu
dibuat untuk menahan sebelah daun pintu yang lain, agar penggabungan
keduanya mendatangkan manfaat. Demikian pula engkau dapati binatang
jantan sebagai pasangan bagi binatang betina. Maka keduanya berkumpul
untuk melanjutkan keturunan dan menjaga kelestariannya. Celakalah para
penganut falsafah, bagaimana hati mereka buta dari penciptaan yang
menakjubkan hingga mereka mengingkari pengaturan dan kesengajaan di
dalamnya?

KETIGA PULUH EMPAT.

Alat Kelamin Laki-laki dan Hikmahnya.

Kalau alat kelamin laki-laki itu lemas, bagaimana ia dapat sampai ke


kantung rahim untuk mencurahkan sperma? Dan kalau terus-menerus
tegang, bagaimana seseorang dapat bertelungkup di atas tempat tidur atau
berjalan di antara manusia sementara ada sesuatu yang menonjol di
depannya? Kemudian, dengan pandangan buruk, hal itu akan menggerakkan
syahwat laki-laki dan perempuan setiap saat. Maka Allah s.w.t. menentukan
agar seringkali hal itu tidak tampak dalam setiap waktu dan tidak
menimbulkan hasrat bagi orang lain. Bahkan dalam hal itu dijadikan
kekuatan untuk ereksi ketika diperlukan dan ketika memutuskan untuk
meneruskan keturunan.

KETIGA PULUH LIMA.

Anus dan Penjelasannya.

Sekarang perhatikanlah, wahai Mufadhdhal, tentang besarnya kenikmatan


bagi manusia dalam makanan dan minumannya, serta pemudahan keluarnya
kotoran. Bukankah merupakan perencanaan yang baik dalam membangun
rumah untuk menempatkan kakus di tempat yang paling tersembunyi.
Demikian pula Allah s.w.t. menjadikan lubang yang disediakan untuk
mengeluarkan kotoran manusia pada tempat yang tersembunyi dari badan
dan tertutup, dijepit oleh dua paha dan ditutup oleh daging pantat sehingga
tersembunyi. Jika manusia ingin membuang hajat dan jongkok, maka lubang
itu akan terbuka, siap untuk meneluarkan kotoran. Mahasuci Yang tampak
karuniaNya dan tidak terhitung kenikmatanNya.

KETIGA PULUH ENAM.

Gigi Manusia.

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah gig ini yang diciptakan untuk manusia.


Sebagiannya tajam untuk memotong dan mengigit makanan, dan
sebagiannya lagi tumpul untuk mengunyah dan menghaluskannya. Tidak
dapat dikurangi salah satu dari dua sifat itu, karena keduanya sama-sama
dibutuhkan.

KETIGA PULUH TUJUH.

Rambut dan Kuku, serta Faedah Memotongnya.

Perhatikan dan renungkanlah mengenai pemotongan rambut dan kuku.


Karena, keduanya memanjang dan tumbuh banyak sehingga perlu untuk
dipotong setiap saat. Keduanya dijadikan tidak berasa agar manusia tidak
merasakan sakit ketika memotongnya. Kalau pencukuran rambut dan
pemotongan kuku menyebabkan rasa sakit, maka hal itu tidak akan disukai.
Adapun jika masing-masing dibiarkan memanjang, maka itu
merepotkannya, sementara memotongnya akan menyebabkan rasa sakit.

(Al-Mufadhdhal berkata:) Aku bertanya, "Mengapa hal itu tidak dijadikan


sebagai ciptaan yang tidak bertambah, sehingga manusia memerlukannya
tetap pendek."

Beliau a.s. menjawab, "Di dalam hal itu Allah s.w.t. memberikan kepada
hamba kenikmatan yang tidak diketahuinya. Sehingga atas kenikmatan itu
ia memujiNya. Ketahuilah, bahwa penyakit tubuh keluar bersamaan dengan
keluarnya rambut dari pori-porinya dan keluarnya kuku dari hujung jarinya.
Karena itu, manusia diperintahkan untuk mencukur rambut dan memotong
kukunya setiap minggu untuk mencukur rambut dan memotong kukunya
setiap minggu untuk mempercepat pertumbuhan rambut dan kuku. Dengan
keluarnya rambut dan kuku, keluar pula segala penyakit. Jika keduanya
lambat memanjang dan sedikit keluarnya, maka penyakit tertahan di dalam
tubuh sehingga menimbulkan penyakit. Selain itu, dicegah tumbuhnya
rambut pada tempat-tempat yang membahayakan manusia. Niscaya akan
menimbulkan bahaya kalau tumbuh rambut pada mata. Bukankah mata akan
menjadi buta? Kalau tumbuh rambut di mulut, bukankah hal itu akan
menyulitkan manusia untuk makan dan minum? Kalau tumbuh rambut pada
telapak tangan, bukankah hal itu akan menghalangi sentuhan dan
mengganggu pekerjaan? Kalau rambut tumbuh pada kemaluan perempuan
dan pada penis laki-laki, bukankah hal itu akan mencegah nikmatnya
persenggamaan? Perhatikanlah, bagaimana tidak tumbuhnya rambut di
tempat-tempat tersebut. Tentu di dalam hal itu terdapat maslahat. Kemudian,
tidaklah hal ini terjadi pada manusia saja, melainkan engkau dapati pula hal
itu pada binatang melata, binatang buas dan binatang ainnya yamg dapat
berkembang biak. Engkau lihat semua binatang itu dipenuhi tubuhnya
dengan bulu, tetapi pada bagian-bagian tersebut tidak ditumbuhi bulu.
Perhatikanlah penciptaan itu, bagaimana terjaga dari kesalahan dan bahaya,
dan didatangkan kebaikan dan manfaat.

KETIGA PULUH DELAPAN.

Bulu Betis dan Bulu Ketiak.

Penganut Mananiyyah dan pengikut mereka, ketika berusaha mencela


penciptaan dan adanya kesengajaan dalam penciptaan, mereka mencela bulu
yang tumbuh pada betis dan ketiak. Mereka tidak tahu bahwa cairan keluar
pada tempat-tempat ini, sehingga tumbuhlah pada tempat tersebut bulu
sebagaimana rumput tumbuh pada tempat menggenangnya air. Tidakkah
engkau perhatikan bahwa tempat-tempat ini lebih tertutup dan lebih siap
untuk mengeluarkan ampas daripada tempat-tempat lainnya? Kemudian, ini
mendorong manusia untuk mengurus badannya sehingga mendatangkan
maslahat baginya. Yang terpenting adalah membersihkan badannya, tidak
merasa berlebihan yang menyebabkan malas bekerja, menahan marah, dan
menyibukkan diri dari pengingkaran dan kesia-siaan.

KETIGA PULUH SEMBILAN.

Air Liur dan Manfaatnya.

Perhatikan air liur dan manfaat yang dikandungnya. Air liur dijadikan selalu
mengalir ke mulut untuk membasahi kerongkongan dan anak tekak sehingga
tidak kering. Kalau tempat-tempat ini kering, maka ia dapat menyebabkan
kerusakan gigi, lalu tidak dapat menelan makanan. Jika tidak ada cairan
yang membasahi mulut, maka orang-orang yang mengkaji akan mengetahui
akibatnya. Ketahuilah bahwa cairan yang dihasilkan makanan, melalui air
liur ini, kadang-kadang mengalir ke tempat lain, yakni empedu. Maka di
dalam hal itu terdapat kemaslahatan yang sempurna bagi manusia. Kalau
empedu itu mengering, niscaya manusia itu mati.

KEEMPAT PULUH.

Bahaya Jika Perut Berbentuk seperti Jubah.

Telah mengatakan suatu kaum dari ahli kalam yang bodoh dan filosof yang
pandir kerena kurangnya ilmu, bahwa kalau perut manusia seperti jubah,
dokter dapat membukanya jika ia menghendaki dan menolong apa yang
terjadi di dalamnya. Dokter memasukkan tangannya ke dalamnya, lalu
mengobati apa yang hendak diobatinya. Tidakkah lebih baik jika keadaan
perut itu tertutup dari penglihatan dan sentuhan tangan? Tidak ada yang
mengetahui isinya kecuali dengan bukti-bukti yang samar, seperti tidak
tampaknya kotoran, urat dan sebagainya yang banyak menyebabkan
keraguan dan kesalahan. Bahkan kadang-kadang hal itu menyebabkan
kematian. Jika mereka yang bodoh mengetahui bahwa jika ini begini, maka
hal pertama yang akan terjadi adalah jika hilang dari manusia perasaan takut
dari penyakit dan kematian, merasa kekal dan selalu selamat, maka hal itu
akan menyebabkannya sombong dan melampaui batas.

Kemudian, cairan-cairan yang ada di dalam perut mengalir sehingga


merusak tempat duduk, tempat tidur, pakaian ganti dan perhiasan , bahkan
cairan itu akan merusak kehidupannya. Lalu perut, hati dan jantung hanya
menjalankan fungsinya dengan temperatur yang sangat panas yang Allah
jadikan tertahan di dalam rongga. Kalau saja di dalam perut terdapat celah
yang terbuka sehingga terlihat mata dan tersentuh tangan, niscaya udara
dingin akan masuk ke dalam rongga itu sehingga bercampur dengan udara
panas dan menghentikan kerja isi perut. Maka hal itu akan menyebabkan
kematian manusia. Tidakkah engkau perhatikan bahwa setiap hal yang
disimpulkan khayalan-- selain yang sesuai dengan penciptaan-- adalah tidak
benar.

KEEMPAT PULUH SATU.

Aktivutas Manusia : Makan, Tidur dan Berhubungan serta


Penjelasannya.

Wahai Mufadhdhal. pikirkanlah mengenai perbuatan-perbuatan yang


dilakukan manusia berupa makan, tidur dan berhubungan, serta
keteraturannya. Bagi masing-masing perbuatan itu dijadikan penggerak yang
menuntut dan mendorong yang bersifat bawaan. Lapar menuntut makan
yang memberikan kesegaran dan kekuatan pada tubuh. Rasa kantuk
menuntut tidur yang memberikan ketenangan pada tubuh. Syahwat menuntut
hubungan kelamin yang memberikan kelanjutan keturunan. Kalau manusia
makan karena mengetahui keperluan tubuh terhadapnya, teteapi tidak
menemukan dalam tabiatnya sesuatu yang memaksa untuk itu, maka itu
akan menjadikannya tidak bernafsu sehingga ia menjadi lemah dan lalu
mati. Demikian pula kalau ia hanya tidur dengan memikirkan kebutuhannya
terhadap ketenangan tubuhnya dan memulihkan kekuatannya, maka ia akan
merasa berat untuk melakukan hal itu, lalu ia menolaknya sehingga menjadi
lemah badannya. Kalau ia hanya bergerak untuk berhubungan kelamin
karena mengharap kelahiran anak, niscaya ia akan lari darinya sehingga
berkurang atau berhenti keturunannya, karena di antara manusia ada yang
tidak menyukai anak dan tidak memperhatikannya.
Perhatikanlah, bagaimana bagi masing-masing perbuatan ini, yang tersedia
bagi manusia dan untuk kepentingannya, bersumber dari dalam dirinya
sendiri. Tabiatlah yang menggerakkan dan mendorongnya.

Ketahuilah, di dalam diri manusia terdapat empat kekuatan. Yakni daya tarik
(selera) yang mengambil makanan dan menyalurkannya ke dalam perut,
kekuatan penahan yang menahan makanan sehingga dilakukan
pemrosesannya, kekuatan percernaan yang mencerna makanan dan
mengeluarkan sarinya serta menyebarkannya ke seluruh tubuh, dan kekuatan
penolak yang mengeluarkan ampas setelah pencernaan mengambil sarinya.
Maka pikirkanlah mengenai pengaturan keempat kekuatan ini yang berkerja
dan terjadi di dalam tubuh karena keperluan dn kebutuhan terhadapnya.
Perhatikan pula perencanaan dan keteraturan dalam hal itu. Kalau saja tidak
ada daya tarik (selera), bagaimana manusia tergerak untuk mencari makan
dan menguatkan tubuh? Kalau tidak ada daya penahan, bagaimana makanan
dapat tertahan di dalam lambung hingga dicerna oleh perut (usus)? Kalau
tidak ada daya pencerna, bagaimana makanan itu dicerna sehingga diperas
sarinya, yang memberi makan kepada tubuh. Kalau tidak ada daya penolak,
bagaimana ampas yang dihasilkan alat pencernaan dapat dikeluarkan sedikit
demi sedikit? TIdakkah engkau lihat bagaimana Allah s.w.t.--dengan
ciptaanNya yang bagus dan perhitunganNya yang baik-- menyediakan
kekuatan ini di dalam tubuh dan bekerja untuk kepentingannya. Mengenai
hal itu, akan aku berikan permisalannya kepadamu. Tubuh itu ibarat rumah,
di dalmnya terdapat anggota keluarga, anak-anak dan pelayan-pelayan
rumah. Ada yang bertugas mencari bahan-bahan kebutuhan mereka, ada
yang bertugas menangani dan menyiapkannya untuk diolah, ada yang
bertugas mengolah, menyajikan dan membagikannya, dan ada pula yang
bertugas membersihkan rumah dari segala kotoran. Yang diibaratkan sebagai
pemilik rumah di dalam hal ini adalah Pencpta Yang Mahabijaksana, Pemilik
alam semesta. Rumah merupakan permisahan dari tubuh, amggota keluarga
adalah anggota-anggota tubuh, dan pelayan adalah empat kekuatan ini.
Mudah-mudahan engkau memperhatikan yang kami sebutkan ini, empat
kekuatan dan peranannya masing-masing-- yang telah aku jelaskan-- sebagai
tambahan dan pelengkap saja. Empat kekuatan yang kami sebutkan ini
bukanlah yang disebutkan di dalam buku-buku kedokteran, dan pembicaraan
kami pun bukanlah seperti pembicaraan mereka. Mereka menyebutkannya
berdasarkan apa yang dibutuhkan dalam bidang kedokteran dalam hal
menyehatkan tubuh. Sedangkan yang kami sebutkan adalah berdasarkan apa
yang dibutuhkan dalam kepentingan agama dan penyembuhan jiwa dari
kesesatan seperti yang telah saya jelaskan dengan penjelasan yang pasti dan
permisalan yang akurat dari pengaturan dan perencanaanNya.

KEEMPAT PULUH DUA.

Kekuatan Jiwa dan Peranannya bagi Manusia.

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah kekuatan-kekuatan yang ada di dalam


jiwa dan peranannya bagi manusia.Yang aku maksudkan adalah pikiran,
perasaan, akal, penghapalan dan sebagainya. Tidakkah engkau perhatikan
kalau manusia kekurangan unsur-unsur ini, daya penghapalan saja, misalnya,
maka bagaimanakah keadaannya. Berapa banyak kekurangan yang
disebabkannya dalam berbagai ihwal kehidupan dan pengalamannya. Jika ia
tidak mengingat apa yang baik baginya dan yang buruk baginya, apa-apa
yang diambil, yang diberikan, yang dilihat, yang didengar, yang diucapkan
dan yang dikatakan kepadanya, serta tidak mengingat apa yang
mendatangkan kebaikan baginya dari yang mendatangkan keburukan, dan
yang bermanfaat baginya dari yang membahayakannya. Kemudian, ia tidak
ditunjukkan pada suatu jalan walau seringkali ia melaluinya. Ia tidak dapat
meyakini agama, tidak dapat mengambil pelajaran dari apa yang sudah
berlalu. Bahkan, pada dasarnya, ia menanggalkan sifat kemanusiaannya.

KEEMPAT PULUH TIGA.

Kenikmatan bagi Manusia dalam Ingat dan Lupa.

Perhatikanlah kenikmatan bagi manusia dalam hal ini, bagaimana berlaku


satu per satu, tidak semuanya sekaligus. Terdapat kenikmatan terbesar bagi
manusia dalam hal ingat dan lupa. Andaikan tidak ada lupa, niscaya
seseorang tidak akan melupakan musibah yang menimpanya, tidak henti-
hentinya ia dalam kesedihan, tidak hilang rasa dendam, tidak mengharap
lupa dari kekuasaan, tidak tenang terhadap orang yang dengki. Tidakkah
engkau perhatikan bagaimana dijadikan bagi manusia daya ingat dan lupa,
dan keduanya berbeda dan berlawanan. Dan dijadikan di dalam masing-
masing dari keduanya aspek kebaikan baginya. Tidaklah benar orang-orang
yang membagikan segala sesuatu di antara dua hal yang berbeda dan saling
bertentangan ke dalam sesuatu yang berlawanan dan bertolak belakang ini.
Kadang-kadang engkau melihatnya berkumpul dalam sesuatu yang
mengandung kebaikan dan manfaat.

KEEMPAT PULUH EMPAT.

Kekhususan Manusia dengan Rasa Malu.

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah apa yang dikhususkan bagi manusia, yang


tidak diberikan kepada makhluk lain. Yang Mahatinggi menganugerahinya
dengan kekayaan yang amat besar, yakni rasa malu. Andaikan tidak
memiliki rasa malu, niscaya manusia tidak akan mengakui kemulian dan
tidak meraih ketinggian, tidak terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya, tidak
mencari keindahan dan tidak menghindari keburukan. Sehingga kebanyakan
ihwalnya yang juga diwajibkan hanya dilakukan karena rasa malu, ia tidak
menjaga hak kedua orangtuanya, tidak menyambungkan tali silaturahmi,
tidak menunaikan amanat, tidak memaafkan orang yang bersalah, dan
sebagainya. Tidaklah engkau perhatikan, bagaimana manusia memenuhi
seluruh kebutuhan yang mengandung kebaikan dan kesempurnaan.

KEEMPAT PULUH LIMA.

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah apa yang dianugerahkan Allah-- Mahasuci


nama-namaNya-- kepada manusia berupa kemapuan berbicara untuk
mengungkapkan apa yang terpendam di dalam dadanya dan yang tersirat di
dalam hatinya, serta mengekspresikan pikirannya. Dengan kemampuannya
ini ia dapat memahami apa yang ada di dalam diri orang lain. Andaikan
manusia tidak memiliki itu semua, maka ia seperti binatang liar yang tidak
dapat mengekspresikan sesuatu apa pun dari dalam dirinya dan tidak
memahami apa yang disampaikan kepadanya. Demikian pula kemampuan
menulis yang dengannya manusia dapat mencatat kisah-kisah masa lalu
untuk orang yang hidup di masa kini, dan mencatatkan kisah-kisah orang-
orang yang hidup sekarang untuk generasi yang akan datang. Dengan
tulisan, buku-buku dapat menyimpan ilmu, adab dan sebagainya. Dengan
tulisan manusia dapat menjaga apa yang berlaku antara dirinya dan orang
lain berupa transaksi dan perhitungan. Andaikan tiada tulisan, niscaya
terputus kabar-kabar generasi terdahulu dari generasi berikutnya,
terhapuslah ilmu, hilanglah adab dan banyak hal lagi yang diperlukan
manusia dalam pergaulan mereka, yang memerlukan nalar dan pikiran dalam
urusan agama mereka, dan yang mereka ketahui. Barangkali mereka mengira
bahwa hal itu diperoleh dari kecerdikan dan kecerdasan, bukan yang
diberikan kepada manusia melalui penciptaan dan pembawaan.

Demikian pula bahasa. Semata-mata itu merupakan sesuatu yang disepakati


manusia, sehingga berlaku di antara mereka. Karena itu, bahasa menjadi
berbeda karena perbedaan bangsa. Seperti itu pula tulisan Arab, Suryani,
Ibrani, Rumi dan bentuk-bentuk tulisan lainnya yang tersebar di antara
bangsa-bangsa, semata-mata hanya diistilahkan oleh mereka, sebagaimana
mereka membuat istilah dalam pembicaraan. Dikatakan kepada orang yang
memiliki pendapat seperti itu, bahwa walaupun manusia memiliki pengaruh
dan kecerdikan, maka sesuatu yang disampaikan oleh pengaruh dan
kecerdikannya itu adalah pemberian dan hibah dari Allah s.w.t. kepadanya
dalam penciptaannya. Karena itu, kalau manusia tidak memiliki lidah yang
disediakan untuk berbicara dan pikiran yang menunjukkan pada sesuatu,
maka selamanya ia tidak akan dapat berbicara. Dan kalau ia tidak memiliki
tangan dan jemari untuk menulis, maka selamanya tidak akan dapat menulis.

Perhatikan hal itu pada binatang yang tidak dapat berbicara dan tidak pula
dapat menulis. Maka itu adalah fitrah dari Sang Pencipta Yang Mahamulia
dan Mahatinggi yang dikaruniakan kepada makhlukNya. Siapa yang
bersyukur, maka ia menjadi kokoh. Dan siapa yang kufur, maka
sesungguhnya Allah tidak butuh kepada alam semesta.

KEEMPAT PULUH ENAM.

Karunia bagi Manusia: Apa yang Mendatangkan Kebaikan bagi Agama


dan Dunianya, serta Pencegahannya dari selain Itu.

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai apa yang diberikan kepada


manusia untuk diketahui dan yang untuk tidak diketahui. Manusia diberi
ilmu yang dapat mendatangkan kebaikan bagi agama dan dunianya. Di
antara yang dapat mendatangkan kebaikan bagi agamanya adalah makrifat
kepada Pencipta Yang Mahasuci dan Mahatinggi dan dalil-dalil dan bukti-
bukti yang berlaku dalam ciptaan, dan mengetahui hal-hal yang wajib
baginya berupa sifat keadilan bagi seluruh manusia, perbuatan baik kepada
kedua orang tua, menunaikan amanat, menyayangi makhluk dan sebagainya
dari hal-hal yang didapati pengetahuannya dan pengakuannya melalui
bawaan dan fitrah dari setiap umat, yang sama dan yang berbeda. Demikian
pula manusia diberi ilmu yang dapat mendatangkan kebaikan bagi dunianya,
seperti pengetahuan tentang pengolahan tanah dan bercocok tanam,
beternak, pangairan, pengobatan, pengolahan barang tambang untuk
memperoleh perhiasan, pembuatan kapal, penyelaman di dalam laut, teknik-
teknik perburuan binatang-binatang liar, industri, perdagangan dan
sebagainya yang mengandung kebaikan bagi kepentingannya di dunia ini.
Manusia diberi ilmu yang mengandung kebaikan bagi agama dan dunianya,
dan pencegahannya dari selain itu, yang tidak penting baginya dan tidak
mampu diketahuinya, seperti ilmu gaib dan bahkan yang nyata. Termasuk
yang tidak mampu diketahuinya adalah juga sebagian yang nyata seperti
pengetahuan terhadap apa yang ada di langit dan di dalam bumi, yang ada di
dasar lautan dan di penjuru dunia, yang ada di dalam hati manusia, di dalam
rahim dan sebagainya yang tertutup dari pengetahuan manusia.

Sekelompok manusia mengaku tahu terhadap masalah-masalah ini. Maka


terbantah pengakuan mereka yang ditampakkan dari kesalahan-kesalahan
mereka dengan apa yang mereka putuskan sendiri.

Perhatikanlah, bagaimana manusia diberi pengetahuan tentang semua yang


diperlukan bagi agama dan dunianya, dan tercegah dari hal selain itu agar
menyadari kekurangan dan kemampuannya. Dan di dalam kedua hal itu
terdapat kebaikan baginya.

KEEMPAT PULUH TUJUH.

Ketidaktahuan Manusia terhadap Lama Hidupnya.

Kini perhatikan, wahai Mufadhdhal, ketidaktahuan manusia terhadap lama


hidupnya. Kalau ia mengetahui kadar usianya--dan ia berumur pendek--
maka ia tidak akan merasa tenang hidupnya, karena kematian telah dekat
dan akan menjemputnya pada waktu yang telah ia ketahui. Bahkan ia seperti
orang yang telah kehilangan atau hampir lenyap hartanya. Ia merasakan
kefakiran dan merasa ketakutan akan kehilangan harta. Padahal orang yang
menghadapi kehilangan umur lebih besar ketakutannya daripada orang yang
kehilangan harta. Karena, orang yang berkurang hartanya masih dapat
berharap akan mendapatkannya kembali, sehingga ia merasa terhibur.
Sedangkan orang yang yakin akan kehilangan umur, ia akan ditimpa
keputusasaan. Kalau seseorang itu berumur panjang dan ia mengetahuinya,
maka ia akan merasa tenang sehingga menghambur-hamburkan (throw away,
waste) sisa usianya dalam kelezatan duniawi, kemaksiatan dan mengumbar
(free something, let loose) hawa nafsunya. Kemudian ia bertobat di usianya. Ini
merupakan jalan hidup yang tidak diridhai Allah s.w.t. dari hamba-
hambaNya. Dan Dia tidak akan menerima tobatnya. Tidakkah engkau
perhatikan bahwa kalau seorang budakmu melakukan hal yang tidak engkau
senangi selama satu hari atau satu bulan, maka engkau tidak akan menerima
hal itu. Engkau tidak akan menganggapnya sebagai hamba yang saleh ketika
ia tidak menampakkan ketaatan kepadamu dan mengikuti nasihatmu dalam
setiap pekerjaannya. Dalam setiap waktu seseorang melakukan kemaksiatan,
lalu bertobat, maka apakah diterima tobatnya? Jawab kami adalah: Jika hal
itu disebabkan kekuatan syahwatnya, tanpa dapat menguasai dirinya, maka
Allah akan berpaling kepadanya dan memberikan ampunanNya. Tetapi jika
ia melakukan kemaksiatan atas kehendaknya, kemudian setelah ia bertobat,
maka ia hanya mencoba mengelabui (deceive) Zat yang tidak dapat dikelabui.
Ia bersenang-senang dahulu, lalu bersungguh-sungguh dan mengikhlaskan
dirinya untuk bertobat kemudian. Padahal kesungguhannya dalam bertobat
tidak mengimbangi (equal) kemaksiatannya. Kecenderungan pada kesenangan
dan kelezatan, lalu ketabahan (firmness, determination) dalam bertobat, terutama
ketika sudah lanjut usia dan badan menjadi lemah, bukanlah hal yang
mudah. Tidak ada jaminan bagi manusia, dengan menolak tobat dalam
menyongsong (welcome, carry out) kematian sehingga ia keluar dari dunia ini
dalam keadaan tidak bertobat. Ibarat orang yang berutang hingga batas
waktu tertentu, ketika ia mampu untuk membayarnya tetapi tidak
melunasinya dan menangguhkan utangnya sampai melewati batas waktu
yang ditentukannya. Hal yang paling baik bagi manusia adalah tidak
mengetahui batas umurnya. Sehingga sekalipun orang itu memiliki usia
yang panjang, ia selalu menantikan kematian. Ia meninggalkan kemaksiatan
dan memperbanyak amal saleh.

Manusia tidak mengetahui lama hidupnya, sehingga ia selalu mengingat


mati setiap kali mendekati perbuatan keji dan melakukan perbuatan haram.
Hikmah dari pengaturan ini adalah jika ketidaktahuan terhadap lamanya
hidup ini tetap tidak menjadikannya menyesal dan berpaling dari keburukan,
maka itu merupakan kesombongan dan kekerasan hatinya, bukan kesalahan
dalam pengaturan. Ibarat dokter yang menuliskan resep untuk orang sakit
dengan apa yang bermanfaat baginya. Tetapi jika si sakit itu menyimpang
dari apa yang dikatakan dokter, tidak melakukan apa yang diperintahkan
kepadanya, tidak berhenti dari apa yang dilarangnya, tidak mengambil
manfaat dari resep yang diberikan kepadanya, maka kesalahan bukanlah dari
dokter, melainkan dari si sakit yang tidak mengindahkannya. Kalau orang
yang mengira akan datangnya kematian setiap saat tidak menghindarkan diri
dari kemaksiatan, maka apalagi orang yang meyakini bahwa usianya masih
panjang, sehingga ia akan melakukan dosa-dosa besar dan keji.

Menghadapi kematian dalam segala keadaan adalah lebih baik baginya


daripada menyakini panjangnya usia kemudian kematian itu menjemputnya.
Sebagian orang melupakannya dan tidak mengambil pelajaran darinya.
Tetapi ada sebagian lagi yang mengambil pelajaran darinya, berhenti dari
kemaksiatan, memperbanyak amal saleh, mendermakan harta dan
kekayaannya yang bagus kepada para fakir miskin. Tidaklah merupakan
keadilan jika ia tidak memperoleh keuntungan dari perangainya ini.

KEEMPAT PULUH DELAPAN.

Bercampurnya Impian antara yang Benar dan yang Bohong.

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah mengenai mimpi, bagaimana


pengaturannya. Di dalam mimpi tercampur antara yang benar dan yang
bohong. Karena, kalau semua mimpi itu benar, maka semua manusia adalah
nabi. Dan kalau semua mimpi itu bohong, maka tidaklah ada manfaatnya,
melainkan semata-mata kesia-siaan yang tidak bermanfaat. Maka
dijadikanlah mimpi itu kadang-kadang benar sehingga manusia dapat
mengambil manfaat bagi kemaslahatan dengan mengambil petunjuk darinya
dan bahaya yang diwaspadainya. Dan kebanyakannya adalah bohong agar ia
tidak selalu bersandar padanya.

KEEMPAT PULUH SEMBILAN.

Segala Sesuatu Diciptakan untuk Keperluan Manusia.

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai segala sesuatu yang engkau lihat


ada, tersedia di alam ini bagi keperluan manusia. Tanah untuk membuat
bangunan, besi untuk industri, kayu untuk membuat kapal dan sebagainya,
batu untuk alat penggilingan dan sebagainya, biji-bijian, buah-buahan dan
daging untuk makanan, bumbu untuk kelezatan, obat untuk kesehatan,
binatang tunggangan untuk pengangkutan, kayu bakar untuk pembakaran,
arang untuk pemanasan, pasir untuk lantai, dan banyak lagi yang tidak
terhitung jumlahnya. Tidakkah engkau perhatikan, kalau seseorang
memasuki rumah, lalu membuka lemari yang dipenuhi segala sesuatu yang
diperlukannya dan melihat semua itu dikumpulkan dan disediakan untuk
kehidupannya. Apakah mungkin hal ini terjadi dengan sendirinya dan tanpa
kesengajaan? Maka bagaimana seseorang dapat mengatakan bahwa alam ini
dan segala sesuatu tersedia di dalamnya terjadi secara alami.

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah segala sesuatu yang diciptakan bagi


keperluan manusia dan keteraturan di dalamnya. Untuknya diciptakan biji-
bijian untuk makanannya dan diberinya kemampuan untuk menggiling,
menjadikan tepung dan mengolahnya menjadi roti. Diciptakan untuknya
kapas untuk pakaiannya dan diberinya pula kemampuan untuk memetik,
memintal dan menenunnya. Diciptakan baginya pohon dan diberi
kemampuan untuk menanamnya, mengairinya dan mengolahnya. Diciptakan
untuknya obat-obatan untuk kesehatannya, maka diperintahkan untuk
mengumpulkannya, mencampurnya dan mengolahnya. Demikian pula
engkau dapati benda-benda lain yang seperti itu.

Perhatikanlah, bagaimana dicukupkan penciptaan ini yang tidak ada padanya


tipuan. Tiap-tiap sesuatu dibiarkan untuk dicari dan diolah menjadi sesuatu
yang mendatangkan manfaat. Karena, kalau dicukupkan semuanya hingga
tidak ada sesuatu yang harus dikerjakan dan diolah, maka bumi ini akan
dipenuhi dengan keburukan. Dan hal itu akan menyebabkan ia mengambil
segala hal yang dapat merusak dirinya. Kalau dicukupkan bagi manusia
selurh yang mereka butuhkan, niscaya mereka tidak akan menikmati
kehidupan dan tidak mendapatkan kelezatan.

Tidakkah engkau perhatikan bahwa kalau seseorang datang pada suatu


kaum, lalu segera disajikan seluruh apa yang ia perlukan berupa makanan,
minuman dan pelayanan, maka ia akan merasa bosan dan dirinya akan
mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Maka bagaimana kalau sepanjang
umurnya dicukupi segala kebutuhannya? Di antara keindahan pengaturan
dalam segala hal yang diciptakan untuk manusia: dijadikan baginya
dorongan untuk bekerja agar tidak merasa bosan, dan supaya tidak
mengambil apa yang tidak layak diambil dan tidak baik untuk diambil.

KELIMA PULUH.

Roti dan Air, Pokok Kehidupan Manusia.


Wahai Mufadhdhal, ketahuilah bahwa pokok kehidupan manusia adalah roti
(makaan pokok) dan air. Perhatikanlah, bagaimana diatur ihwal dalam kedua
benda itu. Keperluan manusia pada air lebih besar daripada kebutuhannya
terhadap roti (makanan). Hal itu disebabkan kesabarannya terhadap rasa
lapar lebih besar daripada kesabarannya terhadap rasa haus. Yang
menyebabkan keperluannya pada air lebih besar daripada keperluannya
terhadap roti (makanan) adalah karena ia memerlukan air untuk minum,
berwudhu, mandi, mencuci pakaian, memberi minum binatang ternak, dan
mengairi pertanian. Maka dijadikanlah air itu melimpah, tidak perlu
membelinya, untuk memudahkan manusia mencari dan memperolehnya.
Sedangkan roti (makanan) dijadikan sulit didapat kecuali dengan kecerdikan
dan usaha agar manusia bekerja untuk mencegah kesenang-senangan dan
kesia-siaan.

Tidakkah engkau perhatikan bahwa anak dibawa kepada pendidik. Ia adalah


anak yang belum sempurna dirinya untuk menerima pengajaran. Hal itu
dilakukan untuk mencegahnya dari permainan dan menyia-nyiakan hidup
yang kadang-kadang tidak berguna dan sangat tidak disukai keluarganya
sehingga akan membahayakan bagi dirinya dan bagi orang-orang yang dekat
dengannya. Perhatikanlah orang yang bergelimang dalam kesenangan hidup
dan kemewahan, serta apa akibat yang diterimanya.

KELIMA PULUH SATU.

Berbedanya Rupa Manusia dan Keserupaan Binatang.

Perhatikanlah, mengapa manusia tidak serupa yang satu dengan yang


lainnya seperti serupanya binatang liar, burung dan sebagainya. Engkau lihat
kesamaran pada kijang dan burung, misalnya. Masing-masing jenis binatang
itu sama sehingga tidak bisa dibedakan antara yang satu dengan yang
lainnya. Tetapi engkau lihat manusia memiliki rupa yang berbeda sehingga
hampir tidak ada manusia yang memiliki sifat yang sama. Sebabnya adalah
karena manusia perlu saling mengenal diri mereka ketika melakukan
pergaulan di antara mereka, suatu hal yang tidak terjadi di antara binatang.
Maka manusia perlu saling mengenal satu sama lainnya. Tidakkah engkau
perhatikan bahwa keserupaan pada burung dan binatang liar tidak
menimbulkan masalah sedikit pun. Tidak demikian halnya pada manusia.
Kadang-kadang dua orang yang lahir kembar sangat serupa sehingga
menyulitkan bagi manusia dalam melakukan muamalah dengan mereka, dan
akibatnya sering menimbulkan kekeliruan. Hal ini pun dapat terjadi pada
benda-benda lain yang serupa, terutama dalam kesamaan rupa. Maka siapa
yang menganugerahi kedalaman ini kepada hamba-hambaNya, sebagai
sesuatu yang hampir tidak mendapat perhatian, hingga mendatangkan
manfaat, selain Zat Yang rahmatNya meliputi segala sesuatu. Kalau engkau
melihat gambar manusia tergantung pada dinding, lalu seseorang
mengatakan, "Ini muncul dari sini dengan sendirinya tanpa ada yang
membuatnya," akankah engkau menerima hal itu? Bahkan engkau akan
mencemoohkannya. Maka mengapa engkau mengingkari ini pada gambar,
tetapi tidak mengingkari manusia yang hidup dan berpikir?

KELIMA PULUH DUA.

Batas Pertumbuhan Tubuh Hewan dan Sebabnya.

Mengapa tubuh hewan--yang selalu makan --tidak tumbuh terus-menerus,


melainkan terhenti pada tingkat pertumbuhan tertentu, kemudian berhenti
dan tidak melebihinya. Maka pengaturan dari yang Mahabijaksana dalam hal
itu adalah bahwa tubuh setiap jenis binatang ditetapkan pada batas tertentu,
tidak berbeda dalam binatang yang bertubuh kecil maupun yang bertubuh
besar. Tubuhnya tumbuh hingga mencapai batas tertentu, kemudian berhenti
dan tidak bertambah, padahal ia terus makan. Kalaulah ia tumbuh terus-
menerus, maka tubuhnya akan menjadi besar dan tidak diketahui batasan
ukurannya.

KELIMA PULUH TIGA.

Gerakan Fisik Manusia Jika Tidak Terkena penyakit.

Mengapa fisik manusia, secara khusus, sulit untuk bergerak dan menghindar
dari berbuat baik kecuali untuk memperbanyak keperluan yang
dibutuhkannya seperti pakaian, tempat tidur, selimut dan sebagainya. Kalau
manusia tidak ditimpa sakit, maka dengan apa lagi ia tercegah dari perbuatan
jahat, menjadi tunduk kepada Allah dan mengasihi orang lain. Engkau
perhatikan jika manusia ditimpa penyakit, ia menjadi tunduk, patuh,
memohon kesembuhan dengan sungguh-sungguh kepada Tuhannya, dan
mengulurkan tangannya untuk bersedekah. Kalau tidak merasakan sakit dari
pukulan, maka dengan apa raja menghukum orang jahat dan menhinakan
orang yang durhaka, dengan apa anak-anak memperlajari ilmu dan
keterampilan, dengan apa budak merendahkan diri kepada tuannya dan
tunduk untuk menaatinya. Bukankah ini teguran kepada Ibnu Abil-'Awja'
dan para pengikutnya yang mengingkari adanya pengaturan, dan kaum AL-
MANANIYYAH yang mengingkari adanya sakit dan penyakit.

KELIMA PULUH EMPAT.

Terjadi Kepunahan Jika Hewan Tidak Lahir Sebagai Jantan dan


Brtina.

Kalau hewan melahirkan anaknya yang jantan saja atau yang betina saja,
tidakkah keturunannya akan terputus dan terjadi kepunahan? Karena itu,
sebagian anak hewan adalah jantan dan sebagiannya lagi lahir sebagai betina
agar terus-menerus menghasilkan keturunan dan tidak terputus.

KELIMA PULUH LIMA

Tumbuhnya Bulu Kemaluan Ketika Dewasa dan Jenggot bagi Laki-laki.

Mengapa jika laki-laki dan perempuan mencapai dewasa tumbuh pada


mereka bulu kemaluan. Kemudian tumbuh jenggot bagi laki-laki yang
membedakannya dari perempuan. Kalaulah tidak ada pengaturan dalam hal
itu, maka Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi tidak menjadikan laki-laki
lebih tinggi derajatnya dan menjadi pelindung bagi perempuan. Dan Allah
menjadikan perempuan sebagai istri bagi laki-laki. Allah memberikan
jenggot pada laki-laki agar memiliki keperkasaan dan kegagahan, dan Dia
tidak memberikannya kepada perempuan agar tetap memiliki keindahan
wajah dan kecantikan dalam segala hal. Hal itu diberikan dan dicegah
berdasarkan keperluan dan kemaslahatan dengan pengaturan Yang
Mahabijaksana.

Mufadhdhal berkata: Kemudian tiba waktu tengah hari. Maka tuanku berdiri
untuk menunaikan salat. Beliau berkata, "Datanglah besok pagi-pagi, Insya
Allah." Maka aku pulang dengan sangat bahagia dengan apa yang telah aku
ketahui, senang dengan apa yang telah diberikan kepadaku. Aku memuji
Allah s.w.t. atas apa yang Dia karuniakan kepadaku, bersyukur karena
nikamatNya atas apa yang telah Dia berikan kepadaku, yang diajarkan
tuanku kepadaku. Maka malam itu aku tidur dengan sukacita karena apa
yang diberikan dan diajarkannya kepadaku.

PERTEMUAN KEDUA.

PERTAMA.

(Al-Mufadhdhal berkata:) Pada hari kedua, pagi-pagi sekali aku datang


kepada tuanku. Aku masuk setelah beliau mengizinkanku. Beliau
menyuruhku duduk, lalu aku pun duduk. Maka beliau berkata:

Segala puji bagi Allah Yang Mengatur perputaran, Yang Memperbarui waktu
demi waktu dan kurun demi kurun. Dia Yang Maha Mengetahui dari segala
yang mengetahui, Yang memberikan balasan kepada orang yang berbuat
jahat dengan apa yang telah mereka kerjakan dan membalas orang-orang
yang berbuat baik dengan kebaikan, sebanding dengan perbuatannya. Dia
Yang Mahasuci ASMA'Nya dan Mahabesar nikmatNya. Dia tidak
menganiaya manusia sedikit pun. Namun manusia menganiaya dirinya
sendiri. Hal itu dipersaksikan dengan firmanNya s.w.t. di dalam kitabNya:
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat atom pun, niscaya melihat
(balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat atom
pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (99:7,8). dalam
kesetaraannya. Di dalam kitabNya terdapat penjelasan (TIBYAN) tentang
segala sesuatu dan tidak mengandung yang batil di hadapan dan di
belakangnya. Diturunkan dari Yang Mahabijaksana dan Maha Terpuji.
Karena itu, Sayyidina Muhammad s.a.w. bersabda: "Hanyalah amal
perbuatanmu yang dikembalikan kepadamu."

Kemudian Imam a.s. diam sejenak, lalu berkata: Wahai Mufadhdhal,


makhluk itu ragu dalam kesesatan mereka dan mengikuti setan dan
THAGHUT mereka. Mereka buta, tidak dapat melihat. Mereka bisu, tidak
dapat berkata. Mereka tuli, tidak dapat mendengar. Mereka menyukai
kehinaan. Mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. Mereka
berpaling dari keutamaan. Mereka hidup mewah dalam ladang dosa dan
najis, seakan mereka terhindar dari kematian dan jauh dari hukuman.
Celakalah mereka dengan kesengsaraan, lamanya penderitaan dan kerasnya
siksaan mereka. Yaitu suatu hari yang seorang karib tidak dapat memberi
manfaat kepada karibnyasedikit pun, dan mereka tidak akan mendapat
pertolongan kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah." (44:41,42).

(Al-Mufadhdhal berkata:) Ketika mendengar itu, aku menangis. Maka beliau


berkata, "Janganlah engkau menangi. Engkau bebas dari itu jika engkau
menerima, dan selamat jika engkau mengetahui."

KEDUA.

Bentuk Tubuh Hewan dan Penjelasannya.

Kemudian beliau berkata: Aku akan memulai dengan menjelaskan ihwal


hewan agar menjadi jelas bagimu. Pikirkanlah mengenai susunan tubuh
hewan dan anggota-anggota yang dimilikinya, yang tidak kaku seperti batu.
Jika tubuhnya kaku seperti batu, maka ia tidak akan dapat bergerak dan
melakukan pekerjaan. Tidak juga tubuhnya sangat lentur dan lunak sehingga
tidak dapat memikul beban dan bahkan memikul dirinya. Maka dijadikanlah
daging itu lunak dan lentur, lalu ditopang dengan tulang yang keras yang
dapat menahannya, dan diikat dengan sebagian lainnya. Di atasnya dibalut
dengan kulit yang membungkus seluruh tubuh. Ibarat boneka yang terbuat
dari pohon kurma, dibalut dengan kain, dijahit dengan benang, lalu dicat
dengan getah. Di dalam hal ini pohon kurma sebagai tulang, kain sebagai
daging, benang sebagai otot dan urat syaraf dan cat sebagai kulit. Jika hewan
yang dapat bergerak itu terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang
mencitakan, maka ia akan menjadi benda mati seperti boneka. Jika ini tidak
berlaku pada boneka, maka sepantasnya pula tidak berlaku pada binatang.

KETIGA.

Tubuh Hewan: Apa yang Diberikan dan Apa yang Tidak Diberikan
serta Sebabnya.

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah--setelah ini--mengenai tubuh hewan ternak.


Hewan itu diciptakan menyerupai tubuh manusia, memiliki daging, tulang
dan urat syaraf. Diberi pula pendengaran dan penglihatan agar manusia
dapat memenuhi kebutuhannya. Karena, jika hewan itu buta dan tuli,
manusia tidak akan dapat mengambil manfaat dari hewan tersebut dan tidak
dapat menggunakan untuk keperluannya. Tetapi hewan itu tidak diberi akal
dan pikiran agar tidak menghinakan manusia, sehingga tidak menolak jika
disuruh bekerja keras dan dibebani dengan beban yang berat. Jika ada orang
yang mengatakan bahwa kadang-kadang ada manusia yang memiliki budak
dari golongan manusia, mereka terhina dan menanggung beban yang berat,
bersamaan dengan itu mereka seperti orang yang tidak memiliki akal dan
pikiran, maka sebagai jawabnya adalah bahwa kelompok manusia seperti ini
hanyalah sedikit. Adapun kebanyakan manusia tidak menanggung apa yang
dipikul oleh binatang seperti memikul beban, menarik bajak dan sebagainya,
tidak melakukan untuk sesuatu yang dibutuhkannya.

Kemudian, kalau manusia melakukan pekerjaan-pekerjaan ini dengan


badannya sendiri, maka mereka akan meninggalkan pekerjaan-pekerjaan
yang lain. Karena, pekerjaan seekaor unta atau seekor keledai memerlukan
tenaga beberapa orang. Maka pekerjaan ini akan melibatkan banyak orang
sehingga tidak ada orang yang melakukan pekerjaan lainnya. Selain itu, hal
tersebut akan menimbulkan keletihan pada badan mereka dan kesusahan
dalam kehidupan mereka.

KEEMPAT.

Penciptaan Tiga Kelompok Binatang.

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah tiga kelompok binatang dan bentuk masing-


masing sebagaimana adanya yang kesemuanya mengandung hikmah.
Manusia ditakdirkan memiliki pikiran, kecerdasan dan kemampuan
melakukan pekerjaan seperti mendirikan bangunan, melekukan
perdagangan, menjahit dan sebagainya. Diciptakan bagi mereka telapak
tangan yang besar yang memiliki jari-jemari yang keras agar dapat
menggenggam sesuatu dan melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut dengan
baik.

KELIMA.

Binatang Pemakan Daging dan Pengaturan dalam Penciptaannya.


Binatang pemakan daging ditakdirkan penghidupannya dari perburuan.
Maka diciptakan bagi binatang tersebut telapak tangan yang kecil yang
kokoh yang memiliki pangkal kuku dan cakar yang baik untuk menangkap
buruan, tetapi tidak baik untuk melakukan pekerjaan. Binatang pemakan
tmbuhan ditakdirkan tidak dapat melakukan pekerjaan dan tidak pula
memiliki kemampuan berburu. Bagi sebagiannya diciptakan kuku yang
dapat menjaga kakinya dari pijakan yang kasar ketika mencari tempat
merumput. Bagi sebagiannya lagi diciptakan jemari yang menyatu dan
memiliki lekukan seperti lekukan telapak kaki untuk pijakan pada tanah
ketika ditunggangi dn memikul beban.

Perhatikan keteraturan dalam bentuk binatang pemakan daging, ketika


diciptakan memiliki gigi-gigi yang tajam, cakar yang keras dan mulut yang
lebar. Binatang tersebut diciptakan seperti itu karena makanannya daging,
dan diberi senjata dan alat untuk berburu. Demikian pula engkau dapati
burung-burung buas yang memiliki paruh dan cakar untuk memburu
mangsanya. Kalau saja binatang liar memiliki paruh, maka itu merupakan
pemberian yang tidak diperlukan, karena binatang tersebut tidak berburu dan
tidak pula memakan daging. Dan andaikan binatang buas memiliki kaki
seperti sapi, maka hal itu akan merintanginya dari apa yang diperlukannya,
yakni senjata yang digunakan untuk berburu dan menangkap mangsa.

Tidakkah engkau perhatikan bagaimana masing-masing kelompok binatang


diberi sesuatu yang disesuaikan dengan keperluannya? Bahkan diberi
sesuatu untuk kelanggengan dan kebaikannya.

KEENAM.

Binatang Berkaki Empat dan Kemandirian Anak-anaknya.

Kini lihatlah binatang berkaki empat, bagaimana engkau lihat binatang


tersebut mengikuti induknya dengan sendirinya tanpa perlu digendong dan
diasuh seperti yang diperlukan anak-anak manusia. Karena itu, induk
binatang itu tidak memiliki apa yang dimiliki induk manusia berupa
kelemahlembutan, pengetahuan untuk mengasuh, kekuatan untuk merangkul
dan jari-jemari untuk melakukan itu. Binatang tersebut diberi kemampuan
untuk bangkit sendiri dan kebebasan diri. Demikian pula engkau lihat
kebanyakan unggas seperti ayam dan burung puyuh, berjalan dan mematuki
sendiri makanannya setelah menetas dari telur. Adapun anak binatang yang
lemah, yang tidak mampu bangun sendiri seperti anak burung merpati,
dijadikan pada induknya kelebihan rasa kasih padanya. Sehingga induknya
mengeluarkan makanan dari mulutnya setelah mengumpulkannya di dalam
temboloknya. Demikianlah seterusnya hingga anak-anaknya dapat mencari
makanan sendiri. Karena itu, burung merpati tidak diberi anak yang banyak
sebagaimana halnya yang diberikan pada ayam. Hal itu dimaksudkan agar
induknya mampu mengurus anak-anaknya, sehingga tidak menelantarkan
dan membinasakannya. Hal itu diberikan karena keadilan pengaturan Yang
Maha bijaksana, Maha lembut dan maha Mengetahui.

KETUJUH

Kaki Binatang dan Cara Bergeraknya

Perhatikanlah kaki-kaki binatang, bagaimana hal itu ada secara berpasangan,


yang disediakan untuk berjalan. Kalau saja hanya diberi satu kaki, maka hal
itu tidak ada manfaat baginya. Karena, ketika berjalan, ia menggerakkan
sebagian kakinya dan bertumpu pada sebagian kaki lainnya. Binatang yang
berkaki dua, menggerakkan satu kakinya dan bertumpu pada satu kaki
lainnya. Sedangkan binatang berkaki empat, menggerakkan dua kakinya dan
bertumpu pada dua kaki lainnya secara bergantian. Karena, binatang berkaki
empat kalau menggerakkan dua kakinya dari kedua sisinya, bertumpu pada
kedua kaki dari dua sisi yang lain, tidak bertumpu pada tanah seperti tempat
tidur dan sebagainya. Binatang itu menggerakkan kaki depannya yang kanan
dan kaki belakang yang kiri dan bertumpu pada kedua kaki lainnya.
Begitulah terjadi secara bergantian, sehingga tetap teguh berdiri di atas tanah
dan tidak jatuh ketika berjalan.

KEDELAPAN

Ketundukan Binatang pada Manusia dan Sebabnya.

Tidaklah engkau perhatikan keledai, bagaimana binatang itu tunduk untuk


menarik alat penumbuk tepung dan memikul beban? Bagaimana unta, yang
tidak dapat ditahan oleh beberapa orang kalau membangkang, dapat tunduk
kepada anak kecil? Bagaimana sapi jantan patuh pada pemiliknya sehingga
diletakkan bajak pada pundaknya? Bagaimana kuda patuh untuk
menyenangkan penunggangnya? Sekawanan kambing sehingga hanya
digembalakan oleh satu orang? Walaupun kambing-kambing itu tersebar dan
masing-masing menempati suatu tempat, maka ia tidak perlu mengikutinya.
Demikian pula kelompok-kelompok binatang lainnya yang ditundukkan
pada manusia, seperti itu keadaannya. Padahal binatang-binatang itu tidak
memiliki akal dan pikiran. Karena, kalau binatang-binatang itu mampu
berpikir dalam berbagai hal, niscaya diciptakan untuk mengacaukan manusia
dalam banyak keperluannya sehingga unta menghindar dari penuntunnya
dan kuda lari dari pemiliknya, kawanan kambing meninggalkan
penggembalaannya, dan sebagainya.

KESEMBILAN

Binatang Buas tidak Memiliki Akal dan Pikiran, dan Hikmatnya.

Demikian pula kalau binatang buas memiliki akal dan pikiran sehingga
berkumpul dengan manusia, maka akan membinasakan mereka. Maka siapa
yang akan menghadapi singa, serigala, harimau dan beruang, kalau binatang-
binatang saling tolong dan saling bantu melawan manusia? Tidakkah engkau
perhatikan, bagaimana hal itu tercegah pada binatang-binatang tersebut dan
ditakuti kedatangannya? Binatang-binatang itu pun takut pada tempat-
tempat tinggal manusia dan menjauhinya. Kemudian, binatang itu tidak
tampak dan tidak berkeliaran untuk mencari makan kecuali di malam hari.
Kendati binatang-binatang itu memiliki kemampuan menerkam, tetapi takut
kepada manusia, bahkan terpaksa tunduk dan terhindar dari mereka. Kalau
tidak demikian keadaannya, niscaya binatang-binatang itu akan menyerang
rumah-rumah manusia dan mengurung mereka.

KESEPULUH

Kasih Sayang dan Perlindungan Anjing kepada Manusia.

Kemudian, dijadikan di antara binatang-binatang buas itu yang mengasihi,


melindungi dan menjaga pemiliknya. Anjing biasanya pergi ke samping atau
halaman rumah dalam kegelapan malam untuk menjaga rumah dan
menghilangkan ketakutan pemiliknya. Hal itu dilakukannya sebagai
kecintaannya kepada pemiliknya hingga merelakan dirinya mati dalam
menjaga jiwa dan harta pemiliknya. Anjing mencintai pemiliknya
sedemikian rupa hingga mampu bersabar dari rasa lapar dan berlaku kasar.
Mengapa anjing diciptakan dengan kasih sayang dan kecintaan seperti ini?
Tiada lain karena anjing menjadi penjaga bagi manusia. Ia memiliki tubuh
yang kekar dengan taring, cakar dan gonggongan yang menakutkan untuk
mempertakuti pencuri dan menjauhkannya dari tempat-tempat yang
dilindungi dan dijaganya.

KESEBELAS

Rupa, Mulut dan Ekor Binatang Ternak.

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah rupa binatang ternak, bagaimana


keadaannya? Engkau akan lihat dua mata yang menatap ke depan untuk
melihat apa yang ada di hadapannya agar tidak menabrak dinding atau
terperosok ke dalam lubang. Engkau lihat mulutnya terbelah di bagian
bawah moncongnya. Kalaulah mulutnya terbelah seperti tempat mulut
manusia pada bagian atas dagu, maka tidak akan dapat meraih sesuatu dari
atas tanah. Tidakkah engkau perhatikan bahwa manusia memasukkan
makanan ke dalam mulutnya. Namun manusia memasukkan makanan ke
mulutnya dengan tangannya sebagai kemuliaan atas binatang. Karena
binatang tidak memiliki tangan untuk mengambil makanan, maka ada yang
diberi belalai di bagian di bagian bawah kepalanya untuk meraih makanan
kemudian melembutkannya. Dan ada pula yang diberi bibir untuk
mengambil makanan yang dekat dan yang jauh.

Perhatikanlah ekornya dan manfaat yang dihasilkannya. Ekor itu sebagai


penutup dubur dan alat kelaminnya. Dan di antara manfaatnya adalah jika
tampak dubur dan terbuka bagian dalamnya yang kotor, maka lalt dan
nyamuk akan berkumpul di tempat itu. Maka ekor itu berfungsi untuk
mengusir lalat dari tempat tersebut. Dan manfaat lainnya adalah bahwa
binatang ternak beristirahat dengan menggerak-gerakkan ekornya ke kanan
dan ke kiri. Karena, binatang ternak berdiri di atas keempat kikinya, dan
kedua kaki depannya digunakan untuk menahan tubuhnya agar tidak terbalik
dan terjatuh. Maka menggerak-gerakkan ekor memberikan ketenangan
baginya. Di dalam hal itu pun terdapat berbagai hikmah yang tidak
dijangkau pikiran. Diketahui fungsinya ketika diperlukan. Selain itu,
binatang ternak suka berkubang di dalam lumpur. Maka tidak ada yang dapat
membangkitkannya selain dengan memegang ekornya. Pada bulu ekor pun
terdapat banyak manfaat bagi manusia yang dapat dipergunakan untuk
keperluan mereka.
Kemudian, punggungnya dijadikan berbentuk bidang yang bertumpu di atas
empat kaki agar dapat ditunggangi. Dijadikan pula kelamin tampak di
bagian belakang agar jantannya dapat dengan mudah mengawininya. Kalau
saja kelaminnya terletak di bawah perutnya seperti manusia, maka tidak
mungkin jantannya dapat mengawininya. Tidakkah engkau perhatikan
bahwa si jantan tidak dapat mengawininya secara berhadap-hadapan
sebagaimana yang dilakukan manusia.

KEDUA BELAS.

Gajah dan Belalainya.

Perhatikanlah belalai gajah dan keindahan susunannya. Belalai itu berfungsi


sebagai tangan untuk mengambil makanan dan air, lalu memasukkannya ke
mulutnya. Kalau saja tidak ada berlalai, maka gajah tidak akan dapat
mengambil apa pun dari tanah, karena ia tidak memiliki leher yang menjulur
seperti yang dimiliki binatang-binatang lainnya. Ketiadaan leher diganti
dengan bibir yang panjang. Dengan belalai itu gajah dapat mengambil apa
saja yang dibutuhkannya. Maka siapa lagi yang mengganti tempat anggota
tubuh yang hilang selain Yang Maha Pengasih kepada makhlukNya?
Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi secara kebetulan – sebagaimana
yang dikatakan orang-orang yang sesat? Jika seseorang mengatakan:
Mengapa gajah tidak diciptakan seperti binatang-binatang lain yang
memiliki leher yang menjulur? Jawabnya adalah bahwa gajah memiliki
kepala dan dua telinga yang besar. Kalaulah ia memiliki leher yang
menjulur, maka hal itu akan melelahkannya. Maka dijadikanlah kepalanya
menempel pada badannya agar tidak terjadi apa yang kami sebutkan. Dan
sebagai ganti leher, diciptakanlah untuknya belalai untuk meraih
makanannya. Ketiadaan leher diganti dengan sesuatu yang lain yang dapat
memenuhi kebutuhannya.

KETIGA BELAS.

Kelamin Gajah Betina.

Kini perhatikanlah, bagaimana kelamin gajah betina berada di bawah


perutnya? Jika gajah itu terangsang untuk kawin, maka kelaminnya muncul
sehingga memungkinkan si jantan mengawininya. Kajilah, bagaimana
dijadikan kelamin gajah betina berbeda dari kelamin binatang ternak.
Kemudian, dijadikan tabiat ini untuk melanjutkan keturunan dan
kelestariannya.

KEEMPAT BELAS.

Jerapah dan Bentuknya.

Pikirkanlah rupa jerapah, keragaman anggota-anggota tubuhnya dan


kesamaannya dengan anggota tubuh binatang lain. Kepalanya seperti kepala
kuda, lehernya seperti leher unta, kukunya Seperti kuku sapi dan kulitnya
seperti kulit harimau.

Karena ketidaktahuannya kepada Allah SWT, ada manusia yang mengira


bahwa itu terjadi akibat perkawinan silang dengan beberapa jantan. Mereka
mengatakan bahwa hal itu disebabkan beberapa jenis binatang darat ketika
hendak mengeluarkan spermanya , menjantani binatang ternak. Dan hasilnya
adalah binatang ini yang merupakan gabungan dari berbagai jenis binatang
lain. Ini merupakan kebodohan orang yang mengatakannya, dan sedikit
pengetahuan terhadap Pencipta Yang Maha Suci. Tidaklah satu jenis
binatang dapat menjantani jenis binatang lain dari kelas yang berbeda,
seperti kuda tidak bisa menjantani unta, dan sebaliknya unta pun tidak dapat
menjantani sapi. Satu jenis binatang hanya dapat menjantani binatang lain
dalam satu kelas. Misalnya, kuda dapat menjantani keledai, maka anaknya
menjadi baghal (keledai hasil kawin silang), serigala dapat menjantani
anjing hutan, maka anaknya menjadi sim (anjing hutan hasil kawin silang).
Namun binatang yang dilahirkan dari induk yang berbeda spesies, anggota-
anggota tubuhnya tidak merupakan gabungan dari anggota-anggota tubuh
kedua induknya, sebagaimana yang ada pada jerapah anggota-anggota
tubuhnya merupakan gabungan dari anggota-anggota tubuh kuda, unta dan
sapi. Anggota-anggota tubuh binatang hasil kawin silang merupakan
campuran antara anggota-anggota tubuh induknya, seperti yang engkau lihat
pada bagal. Engkau perhatikan kepala, daun telinga, bokong, ekor dan
kukunya merupakan pertengahan antara anggota-anggota tubuh kuda dan
keledai. Suaranya, misalnya, merupakan campuran antara ringkikan kuda
dan ringkikan keledai. Ini merupakan bukti bahwa jerapah bukanlah
dijantani oleh beberapa jenis binatang, sebagaimana dugaan orang-orang
bodoh itu. Melainkan itu adalah suatu makhluk yang menakjubkan di antara
makhluk-makhluk Allah lainnya sebagai bukti atas kekuasaan-Nya yang
tidak ada sesuatu pun dapat mengunggulinya, dan agar diketahui bahwa Dia
adalah Pencipta seluruh jenis binatang. Dia menggabungkan anggota-
anggota tubuh pada satu jenis binatang yang dikehendaki-Nya, dan
memisahkannya pada jenis binatang yang dikehendaki-Nya pula. Dia
menambahkan anggota tubuh pada penciptaan yang dikehendaki-Nya dan
mengurangi dari apa yang dikehendaki-Nya.

Adapun leher jerapah yang panjang dan manfaat yang ditimbulkannya


adalah karena makanannya berada di ujung pohon-pohon yang tinggi. Ia
memerlukan leher yang panjang agar dapat menggapai pucuk-pucuk pohon
itu sehingga dapat mengambil buahnya.

KELIMA BELAS

Monyet dan Bentuknya, serta Perbedaannya dengan Manusia

Perhatikanlah rupa monyet dan kemiripannya dengan manusia dalam banyak


anggota tubuhnya, seperti kepala, wajah, bahu, dan dada. Demikian pula isi
perutnya dengan isi perut manusia. Selain itu, monyet diberi kelebihan dari
binatang lainnya dengan memiliki pikiran dan kecerdasan agar dapat
memahami isyarat dari pemeliharanya, dan meniru perbuatan manusia yang
dilihatnya, sehingga monyet menyerupai manusia dalam bentuk dan
tabiatnya. Hal itu menjadi pelajaran bagi manusia atas dirinya, sehingga ia
menyadari bahwa wataknya sama dengan watak binatang, sebagaimana
kemiripan dalam bentuknya. Andaikan tidak ada kelebi8han yang dimiliki
manusia berupa pikiran, akal dan kemampuan berbicara, maka ia sama saja
dengan binatang. Selain itu, pada monyet ada hal yang membedakannya
dengan manusia, seperti moncong, ekor dan bulu yang menutupi seluruh
tubuhnya. Tetapi hal ini tidak menjadi halangan bagi monyet untuk
menyamai manusia kalau saja ia diberi pikiran, akal dan kemampuan
berbicara seperti manusia. Semata-mata hal yang membedakannya dari
manusia – pada hakikatnya – adalah kekurangan akal, pikiran dan
kemampuannya berbicara.

KEENAM BELAS

Tubuh Binatang Dipenuhi Bulu


Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah karunia Allah pada binatang. Bagaimana
tubuhnya ditutupi bulu untuk menjaganya dari hawa dingin, dan kuku serta
kulit yang tebal untuk melindungi ujung bawah kakinya, karena binatang
tidak memiliki tangan dan jari-jemari yang dapat memintal dan menenun.
Maka dalam penciptaanya, dijadikan baginya pelindung tubuh yang dapat
bertahan lama, yang tidak perlu diganti dan diperbaharui.

Adapun manusia, ia memiliki kecerdasan dan tangan untuk dapat bekerja, ia


dapat memintal dan menenun serta membuat baju untuk dirinya, dan dapat
menggantinya setiap saat. Hal itu memilik hikmah dalam tinjauan berbagai
aspek. Di antaranya, ia dapat mengisi waktunya dengan kesibukan
pembuatan pakaian dan apa-apa yang dihasilkan dari kemampuannya. Selain
itu, ia dapat memakai dan menanggalkan pakaiannya kapan saja ia mau. Ia
pun dapat membuat berbagai bentuk pakaian untuk dirinya yang memiliki
keindahan sehingga ia dapat merasa senang dengan pakaiannya itu dan
mengganti-gantinya. Demikian pula ia dapat membuat bermacam sepatu dan
sandal yang dapat melindungi kedua kakinya. Di dalam hal itu pun terdapat
sumber penghidupan bagi orang yang bekerja di bidang itu dan
menjadikannya sebagai usaha dan mata pencaharian sehingga dapat
menghidupi diri dan keluarganya.

Jadi, bulu berfungsi sebagai pakaian bagi binatang, sedangkan kuku


berfungsi sebagai sepatu.

KETUJUH BELAS

Bersembunyi Binatang Ketika Hendak Mati

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai penciptaan yang menakjubkan


pada binatang. Binatang-binatang mengasingkan diri ketika hendak mati,
sebagaimana manusia menguburkan orang yang sudah menunggal. Jika
tidak, maka di manakah bangkai-bangkai binatang buas dan binatang liar?
Tidak ditemukan sedikit pun. Tidaklah binatang-binatang itu sedikit
jumlahnya sehingga habis dengan dibunuh. Bahkan ada orang yang
mengatakan bahwa jumlah binatang lebih banyak daripada jumlah manusia.

Perhatikanlah yang engkau lihat di Padang rumput dan gunung-gunung,


kawasan rusa, banteng, keledai, binatang liar, kambing hutan, menjangan
serta berbagai binatang buas seperti singa, anjing hutan, serigala, harimau
dan sebagainya. Demikian pula kawanan burung seperti gagak, elang,
bangau, pipit dan burung0burung lainnya. Semuanya tidak ditemukan
bangkainya kecuali satu dua yang dibunuh pemburu atau yang diterkam
binatang buas. Jadi, binatang-binatang itu mengasingkan diri ketika
merasakan hendak mati di tempat-tempat yang tersembunyi, lalu mati di
tempat itu. Jika tidak demikian, maka padang rumput akan dipenuhi dengan
bangkai-bangkai binatang sehingga menyebabkan polusi udara karena
baunya dan menimbulkan berbagai penyakit.

Perhatikanlah hal ini dengan apa yang sampai kepada manusia. Mereka
melakukan tamtsil pertama yang dipermisalkan kepada mereka, bagaimana
hal itu dijadikan pelajaran dan pengingat terhadap binatang dan sebagainya.
Sehingga manusia selamat dari keburukan yang mungkin menimpa mereka
berupa penyakit dan kerusakan.

KEDELAPAN BELAS

Kecerdasan Binatang: Rusa, Rubah dan Ikan Lumba-Lumba

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah mengenai kecerdasan yang diberikan


kepada binatang untuk kebaikannya, dalam bawaan dan penciptaan, sebagai
karunia dari Allah SWT. Hal itu dimaksudkan agar tidak dihilangkan
kenikmatan Allah SWT dari makhluk-Nya, tidak dengan akal dan pikiran.
Rusa yang memakan ular akan merasa sangat kehausan, tetapi ia
menghindari untuk minum air karena takut racun menjalar ke seluruh
tubuhnya sehingga membuatnya mati. Kalau ia minum, maka ia mati pada
saat itu juga.

Perhatikanlah, tabiat ini diberikan kepada binatang tersebut yang dapat


menahan rasa haus yang mencekik karena takut bahaya kalau ia minum. Hal
itu hampir tidak dapat diketahui oleh manusia yang berakal sekalipun.

Ketika serigala kesulitan mendapatkan makan, maka ia berpura-pura mati


dan menggembungkan perutnya, sehingga burung mengiranya bangkai, lalu
mendekatinya. Ketika burung itu mendekat, maka segera serigala itu
menerkamnya dan merenggutnya. Maka siapa yang menolong serigala yang
tidak punya pikiran untuk melakukan tipuan ini selain Yang telah
memberikan rezeki kepadanya dengan cara ini dan sebagainya. Ketika
serigala itu menjadi lemah dibanding kebanyakan binatang buas yang kuat
dalam menyerang buruan, maka ia ditolong dengan diberi kecerdikan,
kecerdasan dan tipu daya untuk kelangsungan hidupnya.

Adapun ikan lumba-lumba mencari burung sebagai buruannya.


Kecerdasannya dalam hal ini adalah dengan menangkap ikan dan
mematikannya, lalu dijadikan umpan dengan membiarkannya terapung di
atas permukaan air. Lumba-lumba itu sendiri bersembunyi di bawahnya
sambil mengaduk air di sekitarnya supaya dirinya tidak tampak. Ketika
datang burung yang hendak memangsa ikan yang sedang mengambang di
permukaan air itu, maka lumba-lumba itu menerkamnya dan memangsanya.

Perhatikanlah kecerdasan ini, bagaimana dijadikan sebagai bawaan pada


binatang ini untuk kebaikannya.

KESEMBILAN BELAS

Ular Besar dan Awan

(Al-Mufadhdhal berkata:) Aku berkata, ”Wahai Tuanku, jelaskan kepadaku


mengenai ular besar dan awan.”

Beliau a.s menjawab:

Awan seolah-olah sebagai pelindung. Tetapi kemudian awan itu menyambar


ketika ular itu menemuinya, sebagaimana magnet menyambar besi. Ular itu
tidak menampakkan kepalanya ke permukaan tanah karena takut terhadap
awan, dan tidak mengeluarkannya kecuali ketika hari sangat panas, ketika
langit sangat cerah sehingga tidak ada padanya setitik awan pun. Maka
mengapa awan tunduk pada ular besar itu yang mengintipnya dan
menyambar ketika mendapatinya?

Beliau mengatakan, “Itu adalah untuk melindungi manusia dari


keburukannya.”

KEDUA PULUH

Rayap, Semut, Lalat dan Laba-laba serta Tabiat Masing-masing


(Al- Mufadhdhal berkata:) Aku berkata, “Wahai tuanku, engkau telah
menjelaskan kepadaku mengenai ihwal binatang yang mengandung
pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran. Maka kini jelaskanlah
kepadaku mengenai semut, rayap dan burung.”

Beliau a.s menjawab:

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah rupa rayap yang kecil, papakah engkau


mendapati padanya kekurangan dari kebaikannya. Maka dari manakah
ketentuan dan kebaikan dalam penciptaan rayap? Selain dari pengaturan
yang berlaku pada makhluk yang kecil maupun yang besar.

Perhatikanlah semut dan kumpulannya dalam mengumpulkan dan


menyiapkan makanan. Engkau lihat sekumpulan semut ketika memindahkan
biji ke sarangnya seperti sekumpulan manusia yang memindahkan makanan
atau benda lainnya. Bahkan di dalam itu semut memiliki kesungguhan dan
kecepatan yang tidak dimiliki oleh manusia. Engkau melihat semut-semut
itu saling membantu untuk memindahkan makanan sebagaimana saling
membantu dalam pekerjaan, kemudian mengerubungi biji itu dan
membaginya menjadi beberapa bagian agar biji itu tidak tumbuh sehingga
merugikannya. Jika makanan itu terkena embun, maka mereka
mengeluarkan dari sarangnya dan membentangkannya hingga kering. Semut
tidak akan membuat lubang kecuali pada tempat yang lebih tinggi dari tanah
agar tidak teraliri air hingga menenggelamkannya. Ini dilakukan tanpa
menggunakan akal, tidak pula menggunakan pikiran. Melainkan
demikianlah ia diciptakan sebagai kebaikan dari Allah SWT.

Perhatikanlah pula apa yang disebut lalat singa (suatu jenis laba) dan apa
yang diberikan padanya berupa kecerdikan dan kehalusan dalam hidupnya.
Engkau lihat, ketika merasakan ada lalat mendekat, ia meninggalkannya
dalam waktu yang lama sehingga seakan-akan ia mati tanpa bergerak. Ketika
melihat lalat itu tenang dana lalai, maka ia merayap dengan perlahan hingga
mendekati dan menerkamnya, lalu merenggutnya. Ketika merenggutnya, ia
mendekapnya dengan seluruh tubuhnya karena takut akan terlepas. Ia terus-
menerus mendekapnya hingga dirasakan mangsanya itu sudah melemah.
Kemudian melepaskannya dan memangsanya. Ia hidup dengan cara itu.

Adapun laba-laba, ia menganyam sarangnya. Maka ia menjadikannya


sebagai jaring perangkap lalat. Kemudian ia bersembunyi di bagian
tengahnya. Apabila ada lalat hinggap, ia menerkamnya dan menggigitnya
berkali-kali. Dengan cara itulah ia hidup.

Kalau lalat singa meniru perburuan anjing dan harimau, maka laba-laba
menggunakan jaring dan tali untuk berburu.

Perhatikanlah binatang yang kecil dan lemah ini, bagaimana dijadikan pada
tabiatnya apa yang tidak dapat dilakukan manusia kecuali dengan kecerdikan
dan penggunaan alat-alat yang dimilikinya. Maka janganlah engkau
memandang hina terhadap sesuatu, karena padanya terdapat pelajaran yang
jelas, seperti rayap, semut dan sebagainya. Makna yang indah dimisalkan
dengan sesuatu yang hina. Maka tidaklah hal itu berkurang keindahannya
sebagaimana tidak berkurangnya nilai dinar, yakni dari emas, yang
ditimbang dengan sejumlah besi.

KEDUA PULUH SATU

Tubuh Burung dan Bentuknya

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah tubuh burung dan bentuknya. Karena


burung ditakdirkan untuk dapat terbang di udara, tubuhnya menjadi ringan
dan mengerut. Dicukupkannya dengan hanya mempunyai dua kaki, empat
jari. Saluran kencing dan anusnya menjadi satu. Kemudian burung itu
diciptakan dengan memiliki dada yang lancip untuk memudahkan membelah
udara seperti bentuk kapal laut untuk membelah air dan mengalirkannya.
Dijadikan pada kedua sayap dan ekornya bulu-bulu yang panjang dan kuat
untuk dibentangkan ketika terbang. Seluruh tubuhnya dipenuhi dengan bulu
agar udara masuk dan mengangkatnya.

Ditakdirkan pula makanannya berupa biji-bijian dan daging yang ditelannya


tanpa dikunyah. Ini adalah kekurangan dibanding penciptaan manusia.
Diciptakan baginya paruh yang keras untuk meraih makanannya, yang tidak
akan patah dengan memakan biji dan tidak pecah dengan memakan daging.

Karena tidak memiliki gigi, untuk dapat menelan biji dan daging dengan
baik, maka burung diberi kelebihan panas pada perutnya yang dapat
melumatkan makanan sehingga tidak perlu mengunyahnya. Perhatikanlah
bahwa biji anggur dan sebagainya keluar dari perut manusia dalam
bentuknya semula. Tetapi di dalam perut burung, biji itu dilumatkan
sehingga tidak tampak bekasnya.

Kemudian, burung dijadikan sebagai binatang petelur, tidak melahirkan


anak. Hal itu agar tidak memberatkannya ketika terbang. Karena kalau
mengandung anaknya dalam perutnya maka burung itu tidak akan dapat
terbang sebelum pulih kembali kekuatan tubuhnya, karena berat untuk dapat
bangkit dan terbang. Maka segala sesuatu dijadikan dalam bentuk yang
ditakdirkannya. Kemudian, burung yang terbang di udara mengerami hingga
menetas telurnya dalam jangka waktu satu minggu, dua minggu dan ada
yang sampai tiga minggu sehingga keluar anaknya dari dalam telur itu.
Kemudian ia menungguinya. Lalu meniupkan udara pada perut anaknya agar
temboloknya mengembang untuk makanan. Kemudian induknya
membesarkan dan memberinya makan sehingga dapat terus hidup. Maka
siapa yang mengharuskannya mengambil makanan dan biji-bijian, dan
mengeluarkannya setelah memperolehnya, lalu memberikan makan itu
kepada anak-anaknya? Apa makna yang dikandung dalam kepayahan ini?
Padahal ia tidak memiliki akal dan pikiran, dan tidak mengharapkan dari
anaknya seperti yang diharapkan manusia berupa penghormatan dan balasan.
Hal itu dilakukan burung karena semata-mata kasih sayangnya kepada anak-
anaknya, kadang-kadang tidak ada yang mengetahui dan memikirkannya.
Hal itu untuk kelanjutan keturunan dan kelanggengan karunia dari Allah
s.w.t.

KEDUA PULUH DUA

Ayam Betina, Kegembiraannya untuk Mengerami Telur dan Penetasan.

Perhatikanlah ayam betina, bagaimana ia timbul gairahnya untuk mengerami


telur dan menetaskannya. Ia tidak bertelur sekaligus dan tidak memiliki
sarang tempat pijakan. Melainkan ia bertelur di mana saja, mengembangkan
bulu-bulunya, berkotek dan tidak makan. Sehingga ia mengumpulkan
telurnya, lalu mengerami dan menetaskannya. Tidaklah hal itu dilakukan
melainkan untuk meneruskan keturunannya. Siapa yang menjadikannya
meneruskan keturunan, padahal ia tidak memiliki akal dan pikiran, kalau
tidak diciptakan demikian?

KEDUA PULUH TIGA


Bentuk Telur dan Keteraturannya

Perhatikanlah bentuk telur dan isinya berupa kuning telur yang kental dan
cairan yang halus. Sebagiannya menjadi anak dan sebagian lainnya menjadi
makanannya hingga telur itu menetas. Perhatikanlah keteraturan di
dalamnya, di mana ketika anak itu terbentuk di dalam kulit telur yang
terjaga, diberikan bersamanya di dalam rongga telur itu makanan yang
cukup hingga waktu keluar darinya. Seperti orang yang tertahan di dalam
penjara yang tidak ada orang yang menemuinya, maka diberikan untuknya
makanan yang cukup hingga waktu ia keluar darinya.

KEDUA PULUH EMPAT

Tembolok Burung

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai tembolok burung dan ukurannya.


Padanya terdapat saluran makanan menuju usus yang kecil, sehingga tidak
tersalur makanan ke dalamnya kecuali sedikit demi sedikit. Kalau burung itu
tidak memakan biji yang kedua sebelum biji yang pertama sampai pada
usus, maka lama baginya dan kapan ia mendapatkan makanannya? Ia hanya
dapat mengambilnya dengan sangat hati-hati. Karena itu, diberikan baginya
tembolok sebagai tempat penyimpanan makanan untuk menyimpan dengan
segera makanan yang diperolehnya. Kemudian, makanan ini disalurkan ke
usus dengan perlahan. Di dalam tembolok juga terdapat lubang yang lain.
Karena burung harus memberi makan anak-anaknya, maka makanan itu
dikeluarkan lagi dengan cara yang sangat mudah

KEDUA PULUH LIMA

Keanekaragaman Warna Burung dan Sebabnya

(Al-Mufadhdhal berkata: ) Aku berkata: “Kaum atheis mengira bahwa


perbedaan warna dan bentuk burung hanyalah disebabkan perkawinan
campuran. Sedangkan perbedaan ukurannya terjadi secara kebetulan.

Beliau a.s. berkata: “ Wahai Mufadhdhal, perhiasan yang engkau lihat pada
burung-burung merak, masing-masing jenis memiliki warna dan rupa yang
sama, seperti digambar dengan pensil warna. Bagaimana percampuran yang
terjadi secara kebetulan dapat membuat bentuk yang sama. Kalau itu terjadi
secara kebetulan, maka tidak akan ada kesamaan antara satu dengan
lainnya.”

KEDUA PULUH ENAM

Bulu Burung dan Penjelasannya

Perhatikanlah bulu burung, dan bagaimanakah keadaannya? Engkau akan


melihatnya terjalin seperti tenunan baju dari benang-benang yang halus.
Sebagiannya tersusun pada sebagian lainnya seperti jalinan benang pada
benang yang lain dan rambut pada rambut yang lain. Kemudian engkau lihat
jalinan itu, jika engkau bentangkan, terbuka sedikit demi sedikit dan tidak
kusut untuk memasukkan udara ke sela-selanya. Jika terbang, burung itu
menjadi ramping. Engkau lihat di tengah-tengah bulu terdapat batang yang
keras dan kuat. Batang itu menjadi pangkal jalinan bulu. Barang itu berupa
pipa yang berada di tengah bulu-bulu, dan di dalamnya terdapat rongga agar
burung itu menjadi ringan ketika terbang.

KEDUA PULUH TUJUH

Burung Berkaki Panjang dan Keteraturannya

Wahai Mufadhdhal, apakah engkau pernah melihat burung yang memiliki


kaki yang panjang? Tahukah engkau apa manfaat ia memiliki kaki yang
panjang? Hal itu disebabkan kebanyakan burung tersebut hidup dari
genangan air. Engkau lihat burung itu dengan kedua kakinya yang panjang
seperti pengintai di atas menara pengawas. Ia memperhatikan apa yang
berenang di dalam air. Apabila ia melihat sesuatu yang dapat dimakan, ia
melangkah dengan perlahan, lalu menangkapnya. Kalau saja ia memiliki
kaki yang pendek, ketika ia melangkah seperti pemburu untuk
menangkapnya, maka perutnya akan menyentuh air sehingga menimbulkan
riak dan membuat sesuatu itu ketakutan, lalu menjauh darinya. Maka
diciptakan baginya dua kaki yang panjang untuk memenuhi keperluannya
dan tidak membuat takut mangsanya.
Perhatikanlah aspek-aspek keteraturan dalam penciptaan burung. Maka
engkau dapati setiap burung yang memiliki kaki yang panjang, juga
memiliki leher yang panjang. Hal itu adalah agar ia dapat mengambil
makanannya dari atas tanah. Kalau ia memiliki kaki yang panjang sementara
lehernya pendek, maka ia tidak akan dapat mengambil apa pun yang ada si
atas tanah. Kadang-kadang selain diberi leher yang panjang, juga diberi
paruh yang panjang. Hal tersebut adalah untuk menambah kemudahan
baginya. Tidakkah engkau perhatikan bahwa engkau tidak pernah
mengamati sesuatu pun dari penciptaan kecuali engkau mendapatinya berada
pada tujuan kebaikan dan keteraturan.

KEDUA PULUH DELAPAN

Burung-burung Kecil dan Caranya Mencari Makan

Perhatikanlah burung-burung kecil. Bagaimana burung-burung itu mencari


makan di siang hari. Burung-burung itu tidak mendapatkan makanannya
yang telah tersedia, melainkan memperolehnya dengan usaha dan pencarian.
Demikian pula makhluk lainnya. Maka Mahasuci Allah yang memberikan
kadar rezeki dan cara pembagiannya. Tidak dijadikan rezeki yang tidak ada
kadarnya, sehingga makhluk yang dijadikan berhajat padanya tidak dengan
mudah. Sehingga tidak ada kebaikan dalam hal itu. Karena kalau
makanannya sudah tersedia, maka binatang-binatang itu mendatanginya dan
terus-menerus memakannya hingga rusaklah pencernaannya, lalu mati.
Manusia pun tidak terus-menerus makan, karena hal itu akan menyebabkan
bahaya, hingga akan banyak menimbulkan kerusakan dan kekejian.

KEDUA PULUH SEMBILAN

Kehidupan Burung Hantu dan Kelelawar

Apakah engkau tahu, apa makanan burung jenis ini yang hanya keluar di
malam hari, seperti burung hantu dan kelelawar?
Aku menjawab: “Tidak, wahai tuanku.”
Beliau a.s. berkata: Makanannya adalah binatang-binatang yang bertebaran
di udara seperti nyamuk, kupu-kupu, belalang dan lebah. Binatang-binatang
itu bertebaran di udara, tanpa memiliki tempat tertentu. Perhatikanlah hal itu,
jika engkau meletakkan lampu di atap atau halaman rumah, maka binatang-
binatang tersebut berkumpul mengerubunginya. Dari mana binatang-
binatang itu datang selain dari tempat yang dekat? Jika seseorang
mengatakan bahwa binatang-binatang itu datang dari padang pasir, maka
jawabnya adalah bagaimana binatang-binatang itu datang pada saat itu juga
dari tempat yang jauh, dan bagaimana dari tempat yang jauh itu dapat
melihat cahaya lampu di rumah dan mendatangnya. Padahal binatang-
binatang itu berdesak-desakan di dekat lampu. Hal itu menunjukkan bahwa
binatang itu bertebaran di udara di mana-mana. Ketiga jenis burung malam
di atas mencarinya ketika keluar dan memangsanya.

Perhatikanlah, bagaimana disediakan rezeki bagi burung-burung ini yang


tidak keluar kecuali pada malam hari berupa binatang-binatang kecil yang
bertebaran di udara. Kajilah makna yang dikandung di dalam penciptaan
binatang-binatang kecil ini yang bertebaran, yang disangka oleh orang-orang
yang ragu bahwa itu hanya kesia-siaan.

KETIGA PULUH

Bentuk Kelelawar

Kelelawar diciptakan dalam bentuk yang menakjubkan di antara bentuk-


bentuk burung dan binatang berkaki empat. Bentuk kelelawar mendekati
bentuk binatang berkaki empat. Ia memiliki dua daun telinga, gigi dan bulu.
Kelelawar dapat melahirkan anak, menyusui dan bisa kencing. Ia dapat
berjalan dengan empat kaki. Sifat-sifat ini tidak terdapat pada burung.
Kemudian, ia juga keluar pada malam hari dan memangsa binatang yang
bertebaran di udara berupa kupu-kupu dan sebagainya. Ada orang yang
mengatakan bahwa kelelawar tidak makan selain keringat. Pendapat itu
terbantah dari dua aspek. Pertama: Keluarnya kotoran ada air kencing yang
tidak akan terjadi selain dari makanan. Kedua: Binatang itu memiliki gigi,
kalau tidak memakan sesuatu apa pun, maka gigi itu tidak akan ada artinya.
Padahal tidak ada penciptaan yang tidak memiliki makna. Kebutuhannya
adalah jelas, hingga kotorannya mendatangkan manfaat. Besarnya kebutuhan
pada bentuknya yang menakjubkan menunjukkan kekuasaan Pencipta s.w.t.;
Yang membagikannya kepada yang Dia kehendaki untuk kebaikannya.

KETIGA PULUH SATU


Kecerdikan Burung Abu Numrah Menggunakan Duri

Burung kecil yang disebut Abu Numrah pada musim tertentu membuat
sarang di atas pohon. Ketika ia melihat seekor ular besar mendatangi
sarangnya dengan mulut terbuka hendak menelannya, maka dalam keadaan
bingung ia mencari akal sehingga menemukan duri, lalu diambilnya duri itu
dan dimasukkan ke dalam mulut ular. Maka ular melingkar dan mengelepar-
gelepar hingga mati.

Tidakkah engkau perhatikan, kalau aku tidak mengabarkan hal itu


kepadamu, maka engkau atau orang lain tidak akan ingat bahwa duri
memiliki manfaat, atau burung yang kecil atau yang besar memiliki
kecerdikan. Amatilah hal ini dan banyak hal lainnya yang mengandung
manfaat yang tidak engkau ketahui melalui orang yang menyampaikan atau
kabar yang engkau dengar.

KETIGA PULUH DUA

Lebah, Madu dan Sarangnya

Perhatikanlah lebah dan kumpulannya dalam membuat madu, tersedianya


rumah yang berbentuk persegi enam dan yang engkau lihat dalam hal itu
berupa kecerdasan. Jika engkau mengamati pekerjaannya, engkau akan
melihat setakjuban. Jika engkau lihat yang dikerjakannya, engkau temukan
keagungan dan kemuliaan perannya bagi manusia. Jika engkau kembali pada
yang lainnya, maka di dalam hal ini terdapat bukti yang amat jelas bahwa
kebaikan dan keteraturan dalam penciptaan ini bukanlah pada lebah itu
sendiri, melainkan pada yang menciptakannya dan menundukkannya bagi
manusia.

KETIGA PULUH TIGA

Belalang dan Kerendahannya

Perhatikanlah belalang, apa yang melemahkan dan yang menguatkannya.


Jika engkau perhatikan penciptaanya, engkau melihatnya sebagai sesuatu
yang paling lemah. Padahal jika kawanannya menyerang suatu negeri, maka
tidak ada seorang pun yang dapat melindungi dirinya dari serangannya.
Ketahuilah, bahwa raja dari raja-raja di bumi, kalau mengumpulkan bala
tentaranya untuk melindungi negerinya dari serangan belalang, maka mereka
tidak akan mampu melakukan itu. Bukankah ini termasuk bukti kekuasaan
Pencipta yang membangkitkan makhluk yang paling lemah penciptaannya
menjadi makhluk yang paling kuat sehingga tidak ada orang yang dapat
mencegahnya.

KETIGA PULUH EMPAT

Banyaknya Belalang

Perhatikanlah belalang itu, bagaimana disebarkan ke permukaan bumi


seperti aliran sungai. Kawanan belalang itu menutupi lembah, bukit, padang
sahara dan padang rumput, sehingga karena banyaknya menghalangi cahaya
matahari. Kalau saja hal ini dilakukan dengan tangan, maka kapan dapat
mengumpulkan dalam jumlahnya yang banyak ini? Dan dalam berapa tahun
hal itu dapat diselesaikan? Maka ini menunjukkan pada kemampuan yang
tidak ada sesuatu pun yang dapat melakukannya.

KETIGA PULUH LIMA

Ikan

Amatilah penciptaan ikan dan bentuk yang ditakdirkan padanya. Ikan


diciptakan tanpa kaki karena tidak perlu berjalan dan tempat tinggalnya di
dalam air. Ikan pun tidak memiliki paru-paru karena tidak dapat bernapas
dan tenggelam di dalam air. Sebagai ganti kaki, diciptakan baginya sirip
yang keras pada kedua sisinya, sebagaimana ujung dayung diletakkan di
kedua sisi perahu. Tubuhnya ditutupi dengan sisik yang kuat yang terjalin
seperti baju besi untuk menjaganya dari bahaya. Ikan juga diberi kelebihan
pada indera penciuman karena penglihatannya lemah dan air menutupinya.
Ikan dapat mencium makanan dari jarak yang jauh, lalu mencari dan
mengikutinya. Jika tidak, maka bagaimana ikan itu dapat mengetahui. Jika
tidak, maka bagaimana ikan itu dapat mengetahui tempat makanannya?
Ketahuilah bahwa di dalam mulutnya terdapat saluran ke lubang telinganya
(insang). Ikan menyedot air dengan mulutnya dan menyalurkannya ke kedua
telinganya sehingga mengisap oksigen darinya, sebagaimana hewan lainnya
yang mengisapnya dari udara.
KETIGA PULUH ENAM

Banyaknya Anak Ikan dan Sebabnya

Kini pikirkanlah mengenai banyaknya anak ikan dan pengkhususannya


dengan hal itu. Engkau lihat di dalam perut seekor ikan terdapat telur yang
banyaknya tidak terhingga. Sebabnya adalah ikan disediakan untuk makanan
hewan lain, karena kebanyakan hewan memakan ikan hingga binatang buas
yang hidup di pohon-pohon yang menyelam ke air untuk memburunya. Jika
mendapati ikan, maka binatang pemangsa ikan menerkamnya. Binatang buas
memangsa ikan, burung memangsa ikan, manusia memakan ikan, dan ikan
pun memangsa ikan. Di dalam hal itu terdapat keteraturan sehingga ikan
diciptakan dalam jumlah yang banyak.

KETIGA PULUH TUJUH

Keluasan Perencanaan Pencipta dan Keterbatasan Pengetahuan


Makhluk

Jika engkau ingin tahu keluasan perencanaan Pencipta dan keterbatasan


pengetahuan makhluk, perhatikanlah apa yang ada di laut berupa berbagai
jenis ikan, binatang-binatang air dan kerang-kerang yang jumlahnya tidak
terhingga. Selain itu tidak diketahui pula manfaatnya kecuali sedikit saja
yang diperoleh manusia seperti celupan merah yang tidak diketahui manusia
campurannya. Anjing laut berkeliling di tepi pantai sehingga mendapatkan
siput, lalu memakannya sehingga darahnya melumuri moncongnya. Maka
manusia melihat keindahannya, lalu mengambilnya sebagai celupan. Dan
hal-hal lainnya yang ditemukan manusia dari generasi demi generasi dan
zaman demi zaman.

(Al-Mufadhdhal berkata: ) Tibalah waktu tengah hari. Maka tuanku a.s.


berdiri untuk menunaikan salat. Beliau berkata kepadaku: “Datanglah besok
pagi-pagi sekali insya Allah.” Maka aku pun kembali. Berlimpahlah
kebahagiaanku dengan apa yang telah beliau ajarkan kepadaku dan senang
dengan apa yang berikan kepadaku.. Tak henti-hentinya aku memuji Allah
atas apa yang diberikan kepadaku. Maka pada malam harinya aku tidur
dengan gembira dan sukacita.
PERTEMUAN KETIGA

PERTAMA

Ketika tiba hari ketiga, pagi-pagi sekali aku pergi menemui tuanku. Setelah
diberi izin, aku masuk. Beliau mengizinkan aku untuk duduk, maka aku pun
duduk. Beliau a.s. berkata:
Segala puji bagi Yang telah memilih kami dan tidak memberi kejelekan
kepada kami. Dia memilih kami dengan ilmu-Nya. Yang telah menguatkan
kami dengan karunia-Nya. Siapa yang menelantarkan kami, maka tempatnya
adalah neraka. Siapa yang berlindung di bawah naungan kami, maka
surgalah tempatnya.
Telah aku jelaskan kepadamu, wahai Mufadhdhal, mengenai penciptaan
manusia, keteraturan padanya, perubahan ihwalnya dan pelajaran yang dapat
dipetik darinya. Telah aku jelaskan pula kepadamu mengenai ihwal binatang.
Kini aku akan memulai dengan menjelaskan ihwal langit, matahari, bulan,
bintang-gemintang, tata surya, malam, siang, panas, dingin, angin, empat
substansi yaitu tanah, air, udara dan api; hujan, padang sahara, gunung, tanah
liat, batu, pohon kurma, dan pohon-pohonan, serta bukti dan pelajaran dari
semua itu.

KEDUA

Warna Langit dan Keteraturannya

Pikirkanlah mengenai warna langit dan keteraturannya. Warna ini adalah


warna yang paling jelas, yang baik dan penguat bagi penglihatan. Bahkan
nasihat para dokter kepada orang yang menderita sakit mata adalah agar
membiasakan melihat warna langit dan yang mendekati warna hitam. Dan
para pakar memberikan nasihat kepada orang yang rabun penglihatannya
untuk membiasakan melihat bejana berwarna biru yang diisi penuh dengan
air. Kajilah, bagaimana Allah menjadikan permukaan langit dengan warna
biru kehitam-hitaman untuk menahan penglihatan ke arah itu. Melihatnya
langsung dalam jangka waktu yang lama tidaklah membahayakan. Maka hal
ini yang dicapai manusia dengan pikiran dan percobaan, didapati bukti yang
tak dapat dibantah dalam penciptaan berupa keteraturan untuk dijadikan
pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan agar
dipikirkan oleh orang-orang penganut paham atheis. Allah memerangi
mereka di mana saja mereka berdusta.

KETIGA

Terbit dan Terbenamnya Matahari, serta Manfaatnya

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah mengenai terbit dan terbenamnya


matahari untuk menjalankan pergantian siang dan malam. Kalaulah matahari
itu tidak terbit, niscaya rusaklah seluruh perkara alam. Tidak ada manusia
yang bekerja untuk kehidupan mereka dan menjalankan urusan mereka.
Dunia menjadi gelap bagi mereka. Mereka tidak tenang hidup karena
kehilangan kelezatan cahaya. Keperluan terhadap terbitnya matahari adalah
tidak perlu lagi dijelaskan. Bahkan amatilah manfaat dalam terbenamnya.
Kalaulah matahari itu tidak pernah terbenam, maka manusia tidak akan
merasa terang, karena besarnya kebutuhan mereka terhadap ketenangan
untuk kesegaran tubuh mereka, mengistirahatkan indera mereka, dan
memulihkan kekuatan pencernaan makanan untuk mencerna makanan serta
menyalurkan sari makanan ke seluruh anggota tubuh. Kemudian, ketamakan
membuat mereka bekerja terus-menerus dan kesombongan terhadap
kebesaran kekuatan tubuh mereka, padahal kalau tidak ada kegelapan
malam, maka kebanyakan manusia tidak akan merasa tenang karena
ketamakan terhadap usaha, pengumpulan dan penimbunan harta.
Kelangsungan cahaya matahari memanaskan bumi dan menghangatkan
setiap yang ada di atasnya berupa hewan dan tumbuh-tumbuhan. Maka Allah
memberinya keteraturan, matahari terbit pada waktunya dan terbenam pun
pada waktunya, seperti lampu yang menerangi penghuni rumah sehingga
mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka. Kemudian, seperti itu pula
cahaya matahari hilang untuk memberikan ketenangan dan ketenteraman.
Maka ada terang dari ada gelap. Perlawanan keduanya memberikan
kebaikan bagi alam dan penghuninya.

KEEMPAT
Keteraturan dan Manfaat dalam Pembagian Musim

Setelah itu, pikirkanlah mengenai naik dan turunnya matahari untuk


mempergilirkan empat musim dalam datu tahun dan keteraturan dalam hal
itu. Dalam musim dingin, panas memberikan manfaat pada pohon-pohon
dan tumbuhan, maka dihasilkanlah dari keduanya buah-buahan, udara
menjadi pekat sehingga dihasilkan darinya awan dan hujan, dan tubuh
binatang menjadi kuat. Pada musim semi, benda-benda yang dihasilkan pada
musim bergerak dan muncul, maka jadilah tumbuhan, pohon-pohon
berbunga dan binatang-binatang bangkit untuk kawin. Pada musim panas
udara menjadi panas sehingga membuat buah-buahan menjadi matang,
kotoran badan keluar, dan permukaan bumi mengering sehingga baik untuk
bangunan dan usaha. Pada musim gugur udara menjadi bersih, hilang segala
penyakit, badan menjadi sehat, malam menjadi panjang sehingga
memungkinkan melakukan sebagian pekerjaan dan udara menjadi segar. Dan
masih banyak lagi hikmah yang kalau engkau meminta untuk dijelaskan,
niscaya menjadi pembahasan yang panjang.

KELIMA

Mengetahui Waktu dan Musim melalui Gerakan Matahari

Kini pikirkanlah mengenai pergeseran matahari dalam sua belas rasi bintang
untuk menjalankan perputaran tahun dan pengaturan dalam hal itu. Itu
merupakan perputaran yang menyebabkan terjadinya empat musim dalam
satu tahun, yaitu musim dingin, musim semi, musim panas dan musim
gugur. Dalam kadar peredaran matahari ini menyebabkan biji-bijian dan
buah-buahan menjadi matang hingga dipetik, kemudian ditanam kembali,
tumbuh dan seterusnya.

Tidakkah engkau perhatikan bahwa satu tahun adalah satu putaran matahari
dari bintang aries hingga kembali ke bintang aries. Dengan tahun dan ukuran
waktu lainnya, waktu diukur berdasarkan penciptaan alam semesta hingga
waktu dan masa sampai hari-hari yang berlalu. Dengan waktu manusia
menghitung umur, batas lamanya utang, transaksi, dan perkara-perkara
lainnya. Dengan peredaran matahari, sempurnalah hitungan tahun dan
dilakukan perhitungan waktu dengan benar.
Perhatikanlah terbitnya matahari atas alam, bagaimana keteraturannya?
Karena kalau matahari terbit di suatu tempat di langit, lalu berhenti, tidak
mencapai tempat yang biasa dijangkau cahaya dan tidak dapat menyebarkan
manfaatnya ke berbagai arah disebabkan terhalang gunung dan dinding.
Maka dijadikanlah matahari itu terbit pada awal siang di timur sehingga
berjalan ke arah barat. Kemudian, terus-menerus berputar dan menutupi arah
demi arah hingga berakhir di barat, lalu terbit di bagian lain yang
sebelumnya terhalangi pada awal siang. Tidak ada suatu tempat yang
dilaluinya selain memperoleh bagiannya dan mengambil manfaat darinya
serta keperluan yang telah ditetapkan kadarnya. Kalau berkurang kadar
waktu dalam satu tahun atau beberapa tahun, maka bagaimana keadaan
mereka? Bahkan, bagaimana yang akan terjadi pada mereka dengan tetap
terjadinya hal itu? Tidakkah engkau lihat bagaimana hal ini terjadi pada
manusia yang tidak mungkin mereka dapat memikirkannya. Maka matahari
itu beredar pada tempat peredarannya, tidak berpindah dan tidak berubah
ukuran waktunya. Hal itu semata-mata untuk kebaikan alam semesta dan
segala isinya.

KEENAM

Mengetahui Waktu dari Peredaran Bulan

Bulan dapat dijadikan sebagai petunjuk yang digunakan masyarakat dalam


menentukan hitungan waktu dalam setiap bulan, karena peredarannya tidak
menjalankan empat musim dan tidak menentukan musim buah-buahan.
Karena itu, hitungan waktu tiap bulan dan tahun yang dihitung berdasarkan
peredaran matahari. Sehingga hitungan waktu yang dihitung berdasarkan
peredaran bulan berubah-ubah, kadang-kadang berlalu pada musim dingin
dan kadang-kadang pula berlalu pada musim panas.

KETUJUH

Cahaya Bulan dan Manfaatnya

Pikirkanlah mengenai cahaya bulan dalam kegelapan malam dan


keperluannya terhadap hal itu bersamaan dengan adanya kebutuhan terhadap
kegelapan untuk ketenangan binatang dan dinginnya udara bagi tumbuh-
tumbuhan. Tidaklah ada kebaikan dalam hal malam yang gelap gulita, tanpa
ada cahaya. Tidak mungkin ketika itu dilakukan suatu pekerjaan, karena
kadang-kadang manusia perlu kerja di malam hari disebabkan sempitnya
waktu bagi mereka dan sangat panasnya udara untuk mengerjakannya di
siang hari. Maka di bawah cahaya bulan, memungkinkan orang melakukan
berbagai pekerjaan seperti membajak sawah, memerah susu, memotong
kayu bakar dan sebagainya. Maka cahaya bulan dapat membantu manusia
untuk memperoleh penghidupan mereka jika diperlukan dan mencurahkan
kasih sayang pada yang lainnya. Dan dijadikan bulan terbit pada sebagian
malam dan tidak pada malam lainnya. Cahaya bulan adalah lemah dibanding
cahaya matahari agar manusia tidak melakukan pekerjaan di malam hari
seperti yang dilakukan pada siang hari serta tercegah dari ketenangan dan
ketenteraman yang dapat menimbulkan bahaya bagi mereka. Dan dalam
pengaturan bulan, khususnya dalam kemunculan, penyusutan, penambahan,
pengurangan dan gerhananya merupakan peringatan terhadap kekuasaan
Allah s.w.t. yang mengatur tempat keluarnya bagi kebaikan alam semesta.
Hal itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

KEDELAPAN

Bintang-bintang, Perbedaan Garis Edarnya, Sebab Sebagiannya Tetap


dan Sebagian Lainnya Bergerak

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai bintang-gemintang dan perbedaan


garis edarnya. Sebagiannya tidak keluar dari pusat tata surya dan selalu
berkumpul. Sedangkan sebagian lainnya berpindah-pindah dalam rasinya
dan berbeda garis edarnya. Masing-masing berputar dengan dua putaran
yang berbeda, berputar mengelilingi orbitnya (revolusi) menuju barat dan
berputar pada porosnya (rotasi) ke arah timur seperti semut yang mengitari
batu bulat. Batu itu sendiri berputar ke arah kanan dan semut berputar ke
arah kiri. Maka dalam hal itu semut bergerak dalam dua gerakan, bergerak
sendiri ke arah depan dan berputar bersama batu tempat menempelnya ke
arah belakang. Tanyalah orang-orang yang menduga-duga bahwa bintang-
bintang terjadi seperti itu secara kebetulan, tanpa kesengajaan dan tanpa
Pencipta yang mencegah semuanya diam atau semuanya berpindah-pindah.
Ketidaksengajaan adalah satu makna. Maka bagaimana bintang-bintang itu
memiliki dua gerakan yang berbeda dalam ukuran dan pengaturan yang
sama? Di dalam hal ini terdapat suatu penjelasan bahwa gerakannya pada
garis edar adalah dengan kesengajaan dan pengaturan, bukan secara
kebetulan sebagaimana dugaan kaum atheis.
Jika ada orang yang mengatakan: “Mengapa sebagian bintang itu diam,
sementara lainnya bergerak?” Jawaban kami adalah bahwa kalau semua
bintang itu diam, maka batallah petunjuk-petunjuk yang diambil dari
perpindahan dan peredarannya pada setiap orbit, sebagaimana dijadikan
petunjuk terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam melalui perpindahan
letak matahari dan bintang-bintang dalam orbitnya. Andaikan semuanya
berpindah-pindah, maka tidak akan diketahui tempat peredarannya dan tidak
ada tanda yang menjadi sandaran. Karena sandarannya adalah
perpindahannya dari orbit-orbitnya yang tetap, sebagaimana dijadikan
sebagai petunjuk peredaran bintang lainnya bagi penghuni bumi melalui
tempat-tempat yang dilaluinya. Atau, kalau perpindahannya sama, niscaya
akan bercampur susunannya dan batallah keperluan terhadapnya. Sehingga
tidak benar orang mengatakan bahwa keberadaannya atas satu hal
disebabkan oleh ketidaksengajaan dari aspek yang telah kami jelaskan.
Perbedaan peredarannya dan perubahannya, serta keperluan dan manfaat
yang dikandungnya merupakan bukti yang sangat jelas terhadap adanya
kesengajaan dan pengaturan di dalamnya.

KESEMBILAN

Manfaat Sebagian Bintang

Pikirkanlah bintang-bintang yang tampak pada sebagian tahun dan tertutup


pada sebagian tahun yang lain, seperti bintang-bintang kartika (tsrayya),
gemini, sirius dan procyon, serta canopus. Karena, kalau bintang-bintang itu
seluruhnya tampak dalam satu waktu, maka tidak ada satu pun yang dapat
dijadikan petunjuk bagi manusia sebagaimana pengetahuan mereka kini
terhadap terbitnya taurus dan gemini dan ketidaktampakannya ketika
tertutup. Maka muncul dan tenggelamnya masing-masing rasi dalam waktu
yang bertahan adalah agar manusia dapat mengambil manfaat dengan
mengambilnya sebagai petunjuk dalam batasannya. Juga pada bintang
kartika yang kadang-kadang muncul dan kadang-kadang tenggelam terdapat
aspek manfaat. Dalam semua itu terdapat pertanda yang dapat dijadikan
petunjuk bagi manusia di barat dan lautan kepada jalan-jalan yang tidak
diketahui. Demikian pula bintang-bintang itu tidak tenggelam dan tidak
tertutup, mereka melihatnya ketika mereka menghendaki sebagai petunjuk
bagi apa yang mereka ingini. Maka dua hal yang berbeda menghasilkan
manfaat. Dan pada keduanya terdapat waktu usaha seperti berladang,
bersawah, dan bepergian di darat dan di laut, serta hal-hal lainnya yang
berkenaan dengan musim seperti hujan, air, panas dan dingin. Yang lain
menjadikannya sebagai petunjuk di kegelapan malam untuk melewati sahara
dan mengarungi lautan ketika ragu menentukan arah. Bintang-bintang itu
berjalan dengan cepat. Tidakkah engkau perhatikan kalau matahari, bulan
dan bintang-bintang itu dekat dengan kita hingga dengan jelas kita dapat
melihat perjalanannya yang cepat itu. Bukankah mata tidak akan terlindung
dari sirnanya, seperti yang kadang-kadang terjadi berupa kilat jika tersebar
di dunia? Demikian pula kalau manusia berada di suatu tempat yang
dikelilingi lampu-lampu yang berputar, niscaya menyilaukan penglihatan
sehingga mereka harus menundukkan wajah.

Perhatikanlah, bagaimana diciptakan tempat peredarannya berada di tempat


yang jauh agar tidak membahayakan penglihatan dan merusakkannya. Dan
diciptakan gerakannya yang sangat cepat agar tidak menyimpang dari kadar
kebutuhan dalam peredarannya. Dijadikan padanya bagian yang memiliki
sinar yang lemah untuk menempati tempat keluarnya cahaya jika bukan
berupa bulan dan memungkinkan padanya gerakan jika terpaksa.
Sebagaimana yang kadang-kadang terjadi pada seseorang yang hendak
berjalan pada malam hari. Maka jika tidak ada sedikit pun cahaya yang
meneranginya, maka ia tidak akan dapat bergerak dari tempatnya.

Amatilah keindahan pada keteraturan ini ketika dijadikan pada kegelapan


suatu yang dipergilirkan dan dibutuhkan, dan dijadikan pula cahaya untuk
keperluan yang telah kami jelaskan.

KESEPULUH

Matahari, Bulan, Bintang-bintang dan Rasi yang Menunjukkan Adanya


Pencipta

Pikirkanlah mengenai orbit ini dengan matahari, bulan, bintang-bintang dan


rasinya yang mengitari alam dengan perputaran yang terus-menerus.
Pengaturan dan timbangan perputaran malam dan siang serta pergantian
empat musim merupakan pemberitahuan bahwa bumi dan segala isinya dari
berbagai jenis hewan dan tumbuhan memiliki aspek manfaat. Seperti yang
telah aku jelaskan kepadamu belum lama ini. Apakah tidak terpikirkan oleh
orang yang memiliki akal bahwa pengaturan ini datang dari pengatur Yang
Maha Bijaksana?
Jika ada orang mengatakan: “ Jika ini merupakan suatu hal yang terjadi
dengan sendirinya, apakah akan terjadi seperti ini?” Maka apa yang
menghalanginya untuk mengatakan perkataan seperti itu dalam perputaran
kincir yang engkau lihat berputar dan mengairi ladang sehingga tumbuh
pohon dan tumbuh-tumbuhan. Maka engkau lihat setiap bagian dari kincir
itu ditentukan bagian terhadap bagian lainnya sehingga menghasilkan
manfaat bagi ladang dan yang tumbuh di atasnya. Mengapa perkataan ini
dapat diterima jika ada yang mengatakannya? Apa yang manusia katakan
kepadanya jika mereka mendengar perkataan itu? Apakah ia akan
mengingkari untuk mengatakan, dalam hal kincir yang terbuat dari kayu
dengan pemikiran yang sederhana untuk mendatangkan manfaat bagi tanah,
bahwa itu tanpa ada yang menciptakan dan mengaturnya? Ia dapat
mengatakan mengenai kincir yang sangat besar ini, yang diciptakan dengan
hikmah yang tidak dijangkau oleh pemikiran manusia bagi kepentingan
bumi dan segenap penghuninya, bahwa itu terjadi dengan sendirinya, tanpa
ada pencipta dan pengatur, jika tata surya ini rusak sebagaimana rusaknya
alat-alat yang digunakan dalam industri dan sebagainya. Yaitu sesuatu yang
ada pada manusia pemikiran untuk mendapatkan manfaatnya.

KESEBELAS

Kadar Malam dan Siang

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai kadar malam dan siang.


Bagaimana penciptaan itu menghasilkan manfaat. Maka batas dari masing-
masing – jika terbentang – hingga lima belas jam, tidak melebihinya.
Tidakkah engkau perhatikan, apa yang akan terjadi jika lamanya siang
adalah seratus jam atau dua ratus jam? Bukankah hal itu akan menimbulkan
kerusakan bagi segala sesuatu yang ada di bumi berupa binatang dan
tumbuhan? Binatang tidak akan merasakan ketenangan dan ketenteraman
selama masa ini. Hewan ternak akan terus-menerus merumput kalau cahaya
siang terus menerangi. Manusia tidak akan berhenti bekerja dan bergerak.
Hal itu akan melelahkan mereka semua sehingga dapat menyebabkan
kebinasaan. Adapun tumbuh-tumbuhan, dengan terus-menerus mendapatkan
panas siang hari, dan cahaya matahari akan menyebabkannya kering dan
terbakar. Demikian pula kalau malam terbentang melampaui kadarnya,
niscaya menghalangi beberapa jenis binatang dari merumput dan mencari
penghidupan sehingga mati kelaparan. Tumbuh-tumbuhan pun tidak
mendapatkan panas yang alami hingga akhirnya membusuk dan rusak,
seperti yang engkau lihat terjadi pada tumbuhan yang berada di tempat yang
tidak mendapat sinar matahari.

KEDUA BELAS

Panas dan Dingin, serta Faedahnya

Kajilah panas dan dingin, bagaimana keduanya bergantian menyelimuti alam


dalam kadar yang lebih, yang kurang dan yang sedang untuk
mempergilirkan empat musim dalam satu tahun. Pada keduanya terdapat
manfaat. Di dalam menyelimuti tubuh, keduanya mendatangkan manfaat.
Kalau saja tidak ada panas dan dingin yang menyelimuti tubuh, maka
rusaklah tubuh itu.

Perhatikanlah pergiliran di antara keduanya yang terjadi secara bertahap dan


perlahan-perlahan. Engkau perhatikan salah satunya berkurang sedikit demi
sedikit, dan yang lainnya bertambah seperti itu pula hingga salah satunya
mencapai batasnya dalam kadar yang lebih dan kurang. Kalau pergantian
salah satu terhadap yang lainnya terjadi secara tiba-tiba, maka hal itu akan
membahayakan tubuh dan menimbulkan penyakit. Sebagaimana salah
seorang di antara kamu sekalian, kalau keluar dari tempat yang panas ke
suatu tempat yang sangat dingin, maka akan membahayakannya dan
menimbulkan penyakit pada tubuhnya. Maka Allah s.w.t. tidak menjadikan
pergantian panas dan dingin secara perlahan-lahan melainkan untuk
mencegah dari bahaya yang ditimbulkan jika terjadi secara tiba-tiba.
Mengapa hal itu terjadi dengan menghindarkan bahaya yang akan
ditimbulkan jika terjadi secara tiba-tiba kalau tidak ada pengaturan dalam
hal ini?

Jika ada orang yang menduga bahwa pergantian panas dan dingin yang
terjadi secara perlahan-lahan semata-mata disebabkan oleh lambatnya
pergerakan matahari dalam hal naik dan turunnya, maka tanyakanlah
mengenai sebab lambatnya pergerakan matahari ketika naik dan turunnya.
Jika hal itu disebabkan oleh jauhnya antara timur dan barat, maka
tanyakanlah mengenai sebabnya. Senantiasa pertanyaan ini mengiringi
pendapatnya hingga akhirnya ia menyimpulkan bahwa hal itu terjadi dengan
adanya kesengajaan dan pengaturan. Kalaulah tidak ada panas, niscaya
buah-buahan yang keras dan pahit tidak akan menjadi matang, lunak dan
tawar hingga terada lezatnya, baik yang berair maupun yang kering.
Andaikan tidak ada dingin, niscaya ladang tidak akan menumbuhkan tunas
dan menghasilkan biji-bijian yang banyak untuk makanan dan benih.

Tidakkah engkau perhatikan apa yang dikandung di dalam panas dan dingin
berupa keperluan dan manfaat yang besar. Keduanya, kendati diperlukan dan
mengandung manfaat, dapat menyebabkan penyakit bagi tubuh. Di dalam
hal itu terdapat pelajaran bagi orang yang berpikir dan menjadi bukti bahwa
hal itu terjadi dengan pengaturan dari Yang Maha Bijaksana dalam
memberikan manfaat terhadap alam dan seisinya.

KETIGA BELAS

Angin dan Manfaatnya

Wahai Mufadhdhal, aku ingatkan engkau mengenai angin dan apa yang
dikandungnya. Tidakkah engkau lihat diamnya. Jika angin itu diam,
bagaimana terjadi kesusahan yang hampir-hampir menimpa setiap orang,
membuat sakit orang yang sehat, membuat parah orang yang sakit, merusak
buah-buahan, membusukkan sayuran, menimbulkan penyakit pada tubuh
dan kerusakan pada biji-bijian. Di dalam hal ini terdapat bukti bahwa
hembusan angin adalah merupakan pengaturan dari Yang Maha Bijaksana
dan memberikan manfaat kepada makhluk-Nya.

KEEMPAT BELAS

Udara dan Suara

Aku ingatkan kepadamu mengenai udara dengan kebutuhan yang lain. Suara
dihasilkan oleh getaran suatu benda di udara. Udara menghantarkannya pada
telinga. Manusia berbicara dalam keperluan dan pergaulan mereka sepanjang
siang dan pada sebagian malam. Kalau saja pembicaraan ini tertahan di
udara seperti tulisan yang tetap pada kertas, niscaya alam akan dipenuhi
dengannya sehingga menimbulkan kesusahan dan menyulitkan mereka.
Mereka perlu untuk memperbarui dan mengganti kertas, karena perkataan
yang diucapkan lebih banyak daripada yang dituliskan. Maka Pencipta Yang
Maha Bijaksana menjadikan udara ini sebagai kertas yang tidak tampak
yang menampung pembicaraan seluruh keperluan mereka di alam ini.
Kemudian “kertas” itu dihapus sehingga kembali menjadi baru dan bersih,
dan menampung pembicaraan itu tanpa henti-hentinya.

Cukuplah bagimu bahwa pada makhluk yang bernama udara ini terdapat
pelajaran, dan di dalamnya terdapat manfaat. Udara merupakan kehidupan
bagi badan ini, dan ada penarik dari bagian dalam (tubuh) yang
menghirupnya dari luar sehingga memberikan ruhnya. Dan manfaat lainnya
adalah untuk mengantarkan suara sehingga mencapai jarak yang jauh. Udara
membawa ruh dan memindahkannya dari suatu tempat ke tempat lain.

Tidakkah engkau perhatikan, bagaimana datang padamu angin melalui


hembusan udara. Demikian pula suara yang dipengaruhi cuaca panas dan
dingin yang datang silih berganti menyelimuti alam dengan mendatangkan
manfaat. Di antaranya adalah angin yang berhembus. Maka angin menepis
tubuh dan menggiring awan dari suatu tempat ke tempat lain untuk
menyebarkan manfaatnya. Kemudian awan itu menjadi menebal, lalu
menurunkan hujan yang berlimpah dan yang kurang. Hingga angin itu
menyebarkan dan menyerbukkan pohon-pohon, menjalankan perahu,
melembekkan makanan, mendinginkan air, mengobarkan api dan
mengeringkan segala sesuatu yang lembab. Pendek kata, angin itu
menghidupkan segala sesuatu yang ada di bumi. Andai tidak ada angin,
niscaya tumbuhan menjadi layu, binatang menjadi mati, serta merusakkan
segala sesuatu.

KELIMA BELAS

Bentuk Bumi

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai apa yang Allah s.w.t. ciptakan


berupa empat substansi untuk memperbesar apa yang dibutuhkan darinya. Di
antaranya adalah keluasan dan bentangan bumi ini. Jika tidak begitu, maka
bagaimana bumi itu dapat dijadikan tempat tinggal manusia, lahan pertanian,
padang gembalaan, hutan tempat tumbuh kayu, kayu bakar, obat-obatan dan
bahan material yang sangat diperlukan. Barangkali ada orang yang
mengingkari adanya padang sahara yang luas dan padang rumput yang liar.
Ia mengatakan: “ Apa manfaatnya?” Itu merupakan tempat tinggal dan
tempat mencari makan binatang-binatang liar. Kemudian, di situ terdapat
aspek kehidupan, dan tempat untuk manusia ketika mereka memerlukan
tempat tinggal. Maka berapa banyak gurun dan sahara berubah menjadi
istana-istana dan taman-taman dengan perpindahan manusia ke tempat itu
dan menempatinya. Kalau saja bumi ini tidak luas, maka manusia seperti
orang yang berada di dalam pengepungan yang sempit, tidak mendapatkan
keluasan tempat tinggalnya. Jika suatu hal membuatnya bersedih, maka hal
itu akan mendorongnya untuk berpindah dari tempat itu.

Kemudian, pikirkanlah mengenai penciptaan bumi dalam keadaan seperti ini


ketika diciptakan dalam keadaan diam dan tetap. Sehingga menjadi tempat
yang menenteramkan bagi segala sesuatu. Maka manusia dapat berusaha
dalam memenuhi keperluannya, dapat duduk untuk istirahatnya, dapat tidur
untuk ketenangannya dan dapat menyelesaikan pekerjaannya. Kalau saja
bumi itu bergoyang dan miring, maka manusia tidak akan dapat membuat
bangunan, melakukan pertukangan, mendirikan industri dan sebagainya.
Bahkan mereka tidak hidup tenang jika di bawahnya buni berguncang.
Kajilah apa yang menimpa manusia ketika terjadi gempa bumi – yang
walaupun terjadi hanya sebentar – mereka berlarian meninggalkan rumah.

Jika ada orang yang mengatakan: “Mengapa di bumi ini harus ada gempa
bumi” Jawabnya adalah bahwa gempa bumi dan sebagainya merupakan
peringatan bagi manusia agar mereka sadar dan meninggalkan kemaksiatan.
Demikian pula musibah yang menimpa badan dan harta mereka berjalan
berdasarkan pengaturan yang mendatangkan hikmah dan kelurusan
(istiqamah) mereka, dan disimpan kebaikan bagi mereka berupa pahala dan
pengganti di akhirat yang tidak ada sesuatu apa pun dari benda-benda dunia
yang dapat menandinginya. Kadang-kadang hal itu ditangguhkan di dunia
jika ia berbuat baik bagi orang banyak maupun bagi orang tertentu.

Kemudian tanah dalam tabiatnya yang diciptakan Allah menjadi dingin dan
kering. Demikian pula batu. Perbedaan di antara keduanya adalah batu
memiliki kadar kekeringan yang lebih tinggi. Tidakkah engkau perhatikan,
kalau tanah menjadi kering melebihi kadarnya hingga menjadi bata yang
keras, apakah dapat tumbuh tumbuh-tumbuhan yang menjadi sumber
kehidupan binatang, dan mungkinkah dapat diolah dan dijadikan untuk
membuat bangunan? Tidakkah engkau perhatikan, bagaimana tingkat
kekeringannya lebih rendah daripada batu dan dijadikan seperti keadaannya
kini, lunak dan lembek agar dapat digunakan.

KEENAM BELAS
Faedah Air dan Sebab Berlimpahnya

Di antara pengaturan Yang Maha Bijaksana dalam penciptaan bumi adalah


bahwa belahan utara lebih tinggi daripada belahan selatan. Tidaklah Allah
s.w.t. menjadikan demikian melainkan agar air mengalir di permukaan bumi
sehingga mengairinya. Kemudian, pada akhirnya menuju ke laut dengan
melimpah. Sebagaimana orang meninggikan satu sisi atap dan merendahkan
bagian lainnya adalah air turun dan tidak menggenang. Untuk itu pula
dijadikan belahan utara lebih tinggi daripada belahan selatan. Jika tidak
demikian, maka air akan tetap tergenang pada permukaan bumi sehingga
menghalangi manusia untuk melakukan pekerjaan mereka, dan jalan-jalan
menjadi terputus.

Kalaulah air tidak diciptakan dalam jumlah berlimpah dan diciptakan


melalui mata air, telaga dan sungai, niscaya tidak cukup memenuhi
kebutuhan manusia, untuk minum mereka, minuman hewan ternak, dan
pengairan lahan pertanian. Juga air menjadi minuman binatang liar, burung-
burung dan binatang buas, dan tempat berenang ular dan binatang air. Di
dalam air terdapat manfaat lain yang engkau ketahui, tetapi masih banyak
lagi yang tidak engkau ketahui. Selain sangat diperlukan untuk menghidupi
segala yang ada di bumi berupa hewan dan tumbuhan, air digunakan juga
sebagai campuran minuman sehingga menjadi lezat dan segar bagi
peminumnya. Dengan air manusia dapat membersihkan badan dan peralatan
dari kotoran yang menutupinya. Dengan air manusia dapat membasahi tanah
sehingga menjadi mudah diolah. Dengan air manusia dapat mencegah
kobaran api menyala dan memadamkannya ketika tidak diingini. Dengan api
manusia dapat menghangatkan tubuh yang kelelahan sehingga mendapatkan
ketenangan kembali, dan keperluan-keperluan lainnya yang sangat besar.
Jika engkau ragu terhadap manfaat air yang banyak ini, yang berlimpah di
lautan, dan engkau katakan: “Apa perlunya hal ini?” Maka ketahuilah bahwa
air itu merupakan tempat tersimpannya berbagai benda yang tidak terbilang
berupa berbagai jenis ikan, binatang-binatang laut, dan barang tambang
seperti mutiara, yaqut (jenis batu mulia), ikan paus dan beraneka jenis
barang tambang yang dihasilkan dari laut. Tepinya merupakan tempat
tumbuh pohon bakau dan berbagai jenis bahan wewangian dan obat-obatan.
Kemudian, air merupakan tempat berlayar bagi manusia dan membawa
barang-barang dagangan yang didatangkan dari negeri yang jauh, seperti
yang dibawa dari Cina ke Irak dan dari Irak ke Cina. Kalau saja barang-
barang dagangan ini tidak ada yang membawa selain di atas punggung,
maka akan tetap berada di negerinya dan di tangan pemiliknya, karena biaya
pengangkutannya melebihi harganya. Selain itu, tidak akan ada orang yang
mau memikulnya. Maka di dalam hal ini terhimpun dua konsekuensi:
Pertama: kehilangan berbagai benda yang sangat diperlukan. Kedua:
terputusnya mata pencaharian orang yang memikulnya dan yang mencari
nafkah darinya.

KETUJUH BELAS

Faedah Udara dan Sebab Berlimpahnya

Demikian pula udara. Jika udara itu tidak berlimpah, maka manusia akan
tercekik oleh asap dan uap yang bercampur dengannya, dan tidak dapat
berubah menjadi awan dan kabut. Telah dibentangkan penjelasan yang
cukup mengenai hal ini.

KEDELAPAN BELAS

Manfaat Api dan Dijadikannya sebagai Simpanan di dalam Benda

Api juga demikian. Kalau saja api itu tersebar seperti udara dan air, maka ia
akan membakar alam dan seisinya. Karena itu, mestilah kemunculannya
pada waktu-waktu tertentu saja, untuk kecukupan dalam banyak manfaat.
Api dijadikan tersimpan di dalam benda, yang dapat diambil pada saat
diperlukan. Api membakar benda dan kayu bakar yang diperlukan untuk
tetap menyala sehingga tidak padam. Tidaklah api itu tertahan di dalam
benda dan kayu bakar sehingga besarlah timbunannya. Tidaklah ia tampak
tersebar sehingga membakar segala yang dilaluinya. Melainkan api itu
dijadikan sebagai persediaan dan ditentukan kadarnya, sehingga tergabung
padanya kesenang-senangan menggunakannya dan terhindar dari bahayanya.

Kemudian, di dalam api terdapat manfaat yang lain. Yaitu api termasuk yang
dikhususkan pada manusia, tidak diberikan pada binatang, karena di dalam
hal itu terdapat maslahat. Karena, kalau tidak ada pai, maka ia akan
mendapatkan bahaya yang besar dalam hidupnya. Sedangkan binatang tidak
memerlukan pai dan tidak menggunakannya.

Ketika Allah s.w.t menetapkan bahwa ini demikian, maka dasi memberikan
kepada manusia tangan beserta jari-jemari yang disiapkan untuk
mengeluarkan api dan menggunakannya. Tidak diberikan hal itu pada
binatang. Namun binatang diberikan kesabaran terhadap kekasaran dan
ketidakteraturan dalam hidupnya agar tidak terpengaruh oleh ketiadaan api
seperti yang dapat berpengaruh pada manusia.

Aku ingatkan kepadamu mengenai manfaat diciptakannya api dalam


penciptaan yang kecil tetapi besar keperluan terhadapnya, di antaranya
adalah untuk menyalakan lampu yang digunakan manusia. Dengan pai,
manusia memenuhi kebutuhan yang mereka ingini di malam hari. Andaikan
tidak ada manfaat ini, niscaya manusia menjalani kehidupan mereka seperti
orang yang berada di dalam kubur. Maka, siapa yang dapat menulis atau
menghafal, atau menenun dalam kegelapan malam? Dan bagaimana orang
yang ditimpa sakit di waktu malam? Ia memerlukan pengobatan,
memerlukan kain pembalut atau serbuk obat, atau benda lain untuk
pengobatannya.

Adapun manfaat lainnya adalah untuk memasak makanan, menghangatkan


tubuh, mengeringkan sesuatu, mencairkan benda dan sebagainya. Manfaat
api lebih banyak daripada yang dapat dihitung dan sangat jelas.

KESEMBILAN BELAS

Cuaca Cerah dan Hujan , Akibatnya terhadap Alam dan Faedahnya

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai cuaca cerah dan hujan, bagaimana


keduanya datang silih berganti menyelimuti alam dengan mendatangkan
manfaat. Kalau salah satu saja berlangsung terus menerus, maka hal itu
menimbulkan kerusakan. Tidakkah engkau perhatikan bahwa jika hujan
terus-menerus, maka akan membusukkan sayuran, melemahkan badan
binatang dan membatasi udara, sehingga hal itu menimbulkan berbagai jenis
penyakit dan merusakkan jalan. Jika cuaca cerah terus-menerus, maka bumi
akan kering, tumbuh-tumbuhan terbakar, mata air dan telaga menjadi kering.
Maka hal itu membahayakan manusia. Udara menjadi kering sehingga
menimbulkan berbagai macam penyakit lain.

Jika keduanya datang silih berganti menyelimuti alam, maka pergantian ini
dapat menyumbangkan suhu udara. Masing-masing dari keduanya
mendorong kenormalan yang lain, sehingga segala sesuatu berjalan dengan
baik. Jika ada orang mengatakan,”Mengapa di dalam hal itu tidak akan
menjadi sesuatu yang membahayakan?” Jawabannya karena hal itu akan
menimbulkan penyakit pada manusia sehingga ia menahan diri dari berbuat
maksiat. Sebagaimana kalau manusia menderita sakit badannya, ia
memerlukan obat-obatan yang pahit dan bau untuk menyembuhkan luka
atau memulihkan kesehatannya. Demikian pula jika ia melampaui batas, ia
memerlukan sesuatu yang menyakitkannya agar terhindar dari berbuat
kejahatan dan mengokohkannya di atas sesuatu yang dapat membimbingnya.
Andaikan seorang raja membagikan hartanya berupa emas dan perak kepada
rakyatnya, tidakkah ia diagungkan oleh rakyatnya? Maka apalagi hujan yang
cukup tercurah ke pelosok negeri dan menumbuhkan biji-bijian yang lebih
banyak daripada pemberian emas dan perak di setiap daerah di bumi.
Tidakkah engkau perhatikan bahwa satu tetes air hujan lebih besar kadarnya
dan lebih besar kenikmatannya bagi manusia? Mereka semua mendapat
bagian. Kadang-kadang di antara mereka ada yang berpaling dari kebutuhan
yang tidak asa batasnya. Maka ia menyesal karena mengutamakan
kerendahan yang dinobatkannya pada sesuatu yang besar manfaatnya, yang
memiliki kesudahan yang baik dan terpuji, yang sedikit diketahui besarnya
keperluan terhadapnya dan manfaat yang dihasilkannya.

KEDUA PULUH

Manfaat Turunnya Hujan dan Pengaturannya

Perhatikanlah turunnya hujan yang tercurah ke bumi dan pengaturan dalam


hal itu. Hujan dijadikan turun ke bumi dari tempat yang tinggi untuk
menggenangi tempat yang keras lalu mengalir dari situ sehingga mengairi
bagian bumi lainnya. Kalau saja air hanya datang dari beberapa bagian bumi
saja, maka tidak akan sampai ke tempat-tempat yang lebih tinggi, sedikit
tanah yang diolah untuk lahan pertanian.

Tidakkah engkau perhatikan bahwa lahan pertanian yang diairi dengan


sumber mata air dan air sungai adalah lebih sedikit jumlahnya? Maka awan
hujan menaungi bumi sehingga dapat diolah berupa tanah daratan yang luas
dan kaki bukit, lalu hujan itu tercurah, sehingga membutuhkan banyak biji-
bijian.

Di banyak negeri,ada manusia terbunuh karena memindahkan aliran air dari


suatu tempat ke tempat lain, dan terjadi pertengkaran di antara mereka
sehingga orang yang kuat memonopoli pemilikan air dan melarang orang-
orang lemah mengambilnya. Kemudian, ketika air hujan itu diturunkan ke
bumi, maka dicurahkannya dalam tetesan-tetesan yang menyerupai percikan
agar meresap ke dalam tanah sehingga mengairinya. Tetapi kalau dicurahkan
dalam sekali tumpahan, maka air hujan itu turun ke permukaan bumi namun
tidak meresap ke dalamnya. Kemudian, kalau air hujan itu tertumpah
sekaligus, itu akan menghancurkan lahan-lahan pertanian. Maka air hujan itu
turun dalam bentuk yang halus sehingga menumbuhkan biji yang ditanam
serta menghidupkan bumi dan lahan pertanian.

Pada turunnya hujan terdapat manfaat lain. Di antaranya adalah


melembutkan badan dan menghilangkan debu di udara sehingga hilanglah
wabah penyakit. Air hujan tang jatuh pada pepohonan dan ladang pertanian
dapat menghilangkan penyakit tumbuhan, dan banyak lagi manfaat lainnya.

Jika ada orang mengatakan, bahwa bukankah separuh zaman air hujan dapat
menyebabkan bahaya yang besar karena curahnya yang tinggi atau hujan es
yang dapat menimbulkan kerusakan pada tumbuh-tumbuhan dan kabut
menyelimuti udara. Maka hal itu menimbulkan berbagai penyakit yang
berbahaya bagi tubuh manusia dan tumbuh-tumbuhan.

Jawabnya, memang kadang-kadang hal itu terjadi. Tetapi dalam nal itu
terdapat maslahat bagi manusia. Itu dapat mencegah dan menghentikan
manusia dari berbuat kemaksiatan. Manfaatnya itu adalah dari aspek
agamanya, yang lebih besar daripada musibah yang menimpa hartanya.

KEDUA PULUH SATU

Manfaat Gunung

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah gunung yang terbentuk dari tanah liat dan
bebatuan, yang dikira oleh orang-orang bodoh sebagai sesuatu yang tidak
diperlukan. Gunung itu memiliki manfaat yang banyak. Di antaranya adalah
menjadi tempat turunnya salju. Salju itu menyelimuti puncak gunung, lalu
meleleh sedikit demi sedikit. Maka dari gunung itu terbentuk saluran air
yang deras yang kemudian berkumpul di sungai. Kemudian di tempat itu
tumbuh berbagai jenis tanaman dan obat-obatan yang tidak tumbuh di
lembah. Terbentuk pula di tempat itu gua-gua tempat berlindung binatang-
binatang liar. Gunung-gunung dapat dijadikan tempat berlindung dan
benteng pertahanan dari serangan musuh. Selain itu, gunung-gunung
menjadi sumber bebatuan untuk bangunan dan batu penggiling. Ditemukan
berbagai bahan tambang di gunung-gunung. Dan banyak lagi manfaat
gunung yang tidak diketahui.

KEDUA PULUH DUA

Barang Tambang dan Penggunaannya oleh Manusia.

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai barang tambang dan berbagai


unsur yang dihasilkannya seperti kapur, gips, belerang, monoksida, seng, air
raksa, tembaga, timah, perak, emas, zamrud, yaqut, dan berbagai jenis batu
mulia lainnya. Demikian pula unsur-unsur yang dikeluarkannya berupa ter,
belerang dan sebagainya yang diperlukan manusia dalam memenuhi
kebutuhannya. Apakah tidak terpikirkan oleh orang-orang yang berakal
bahwa ini semua merupakan simpanan bagi manusia di bumi ini, agar
mereka mengeluarkannya dan menggunakannya ketika diperlukan?
Kemudian, kecerdasan manusia terbatas untuk mendapatkannya. Karena
kalau mereka memperoleh apa yang dicarinya dari alam ini. Sehingga emas
dan perak menjadi banyak dan berada di tangan manusia, maka kedua benda
itu tidak lagi memiliki nilai dan hilanglah pemanfaatannya dalam jual-beli
dan transaksi. Raja tidak lagi mengumpulkan harta dan seseorang tidak
menimbun emas dan perak untuk anak-cucunya. Bersamaan dengan itu,
manusia diberi kemampuan untuk membuat kuningan dari tembaga, kaca
dari pasir, perak dari timah, emas dari perak dan sebagainya yang tidak
mendatangkan bahaya.

Perhatikanlah, bagaimana mereka diberi keinginan pada hal yang tidak


mendatangkan bahaya dan menghindari hal yang akan mendatangkan bahwa
kalau mereka mendapatkannya. Siapa yang menggali barang tambang
hingga menjadi telaga yang luas, yang keluar bercampur dengan air yang
banyak, tidak diketahui dalamnya dan tidak ada cara untuk melewatinya.
Dan pada akhirnya membentuk gundukan perak.

Kini, renungkanlah mengenai hal ini. Pengaturan dari Pencipta Yang Maha
Bijaksana. Dia hendak menampakkan kepada hamba-hamba-Nya dan
keluasan khazanah-Nya agar mereka mengetahui bahwa kalau Dia
menghendaki untuk memberikan kepada mereka segunung perak, maka itu
dapat Dia lakukan. Namun, di dalam hal itu tidak ada manfaatnya bagi
mereka. Karena, kalau hal itu terjadi _sebagaimana yang kami sebutkan_
maka jatuhlah nilai unsur-unsur ini di mata manusia dan menjadi sedikit
pengambilan manfaat darinya. Kajilah hal itu, bahwa kadang-kadang tampak
sesuatu yang indah dari apa yang diciptakan manusia berupa bejana dan
perhiasan selama benda itu sedikit jumlahnya, sebagai benda yang indah dan
memiliki nilai yang tinggi. Jika benda itu berlimpah di tangan manusia,
maka nilainya menjadi rendah.

KEDUA PULUH TIGA

Tumbuhan dan Berbagai Manfaatnya

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai tumbuh-tumbuhan dan berbagai


manfaatnya. Buah untuk dimakan, jerami untuk makanan ternak, kayu bakar
untuk perapian, kayu untuk berbagai jenis perdagangan dan lain-lain. Kulit
pohon, daun, batang dan getah adalah untuk berbagai keperluan. Tidakkah
engkau perhatikan, kalau buah-buahan yang kita makan terkumpul di
permukaan bumi, tidak tumbuh pada ranting pohon, berapa banyak
ketidakteraturan yang terjadi dalam kehidupan kita bagaimana. Tetapi jika
makanan itu harus dibuat, maka pemanfaatan kayu, kayu bakar, jerami dan
lain-lain yang telah kami sebutkan menjadi besar jumlahnya, tinggi nilainya.
Ini terjadi bersamaan dengan merasakan kelezatan dalam pemandangannya
yang indah dan keelokannya yang tidak ada bandingannya di dunia ini.

KEDUA PULUH EMPAT

Bertambahnya Tumbuh-tumbuhan dan Sebabnya

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai penambahan yang terjadi pada


tumbuh-tumbuhan. Satu biji dapat menghasilkan seratus biji, kurang dan
lebih. Biji dapat mendatangkan yang semisalnya. Tidakkah penambahan ini
terjadi melainkan agar jumlah biji-bijian itu menjadi banyak, untuk ditanam
di atas tanah sebagai benih dan untuk dimakan selama menunggu hasil
pertaniannya kemudian. Tidakkah engkau perhatikan bahwa kalau raja
hendak memakmurkan negerinya, caranya adalah dengan memberikan biji-
bijian kepada rakyatnya agar ditanam di tanah mereka sebagai benih dan
sebagiannya untuk dimakan selama menunggu hasil pertaniannya.
Perhatikanlah, bagaimana permisalan ini sesuai dengan pengaturan Yang
Mahabijaksana. Penanaman mendatangkan penambahan benih untuk
memenuhi kebutuhan manusia, untuk dimakan dan untuk ditanam kembali.
Demikian pula pepohonan, tumbuh-tumbuhan dan kurma menghasilkan
buah yang banyak. Engkau lihat sebuah pohon yang ada di sekitarmu
tumbuh dari tunasnya. Itu merupakan hal yang luar biasa. Tidaklah hal itu
terjadi melainkan untuk dipotong oleh manusia dan digunakan untuk
keperluannya, serta diambil bijinya untuk ditanam. Kalau saja pohon itu
tidak bertunas dan menghasilkan biji, maka manusia tidak dapat
menebangnya untuk keperluannya dan untuk ditanam. Kemudian, jika pohon
diserang hama dan rusak, maka tidak ada lagi gantinya.

KEDUA PULUH LIMA

Tumbuh-tumbuhan dan Bagaimana Dipelihara

Perhatikanlah tumbuh-tumbuhan biji berupa kacang-kacangan. Tunas biji itu


keluar dari bungkus bijinya berbentuk kerucut agar terlindung dan tertutup
dari kerusakan hingga menjadi besar dan sempurna seperti plasenta yang
melindungi janin. Adapun gandum dan sejenisnya keluar sedikit demi sedikit
dengan kulit yang keras pada ujungnya seperti mata tombak agar tidak
dimakan burung dan dapat dipetik oleh petani.

Jika ada orang yang mengatakan, “Bukankah kadang-kadang burung


memakan gandum dan biji-bijian lainnya?” Jawabnya, betul bahwa
diciptakan demikian, karena burung adalah salah satu dari makhluk Allah.
Allah s.w.t memberinya karunia berupa sesuatu yang keluar dari dalam
tanah. Namun biji-bijian terlindung dengan tutup seperti ini agar burung
tidak memakan setiap yang tumbuh sehingga menjadi rusak dan sia-sia.
Kalau burung menemukan biji yang tunasnya baru muncul dan tidak ada
yang menutupinya, maka ia akan membantingnya hingga rusak. Burung itu
akan berpaling darinya, karena jika menelannya, maka biji itu akan merusak
pencernaannya sehingga mati. Tanaman tumbuh dari bijinya dengan warna
kuning. Maka diberikan padanya alat-alat pelindung ini untuk
melindunginya. Burung memakannya sedikit dan menyisakan sebagian
besarnya untuk manusia. Manusia lebih berhak mendapatkannya, karena ia
telah bekerja keras dan bersusah-payah, serta keperluan terhadapnya lebih
besar daripada yang dibutuhkan burung.
KEDUA PULUH ENAM

Pengaturan dalam Penciptaan Pohon dan Jenis-jenis Tumbuhan

Perhatikanlah keteraturan dalam penciptaan pohon dan jenis-jenis tumbuhan.


Semua itu senantiasa memerlukan makanan seperti binatang, tetapi
mulutnya tidak seperti mulut binatang dan tidak perlu bergerak untuk
mendapatkan makanan. Dijadikan akar-akarnya menghujam ke dalam tanah
dan menyerap makanan, lalu disalurkan ke dahan, daun dan buah. Maka
tanah menjadi seperti ibu yang membesarkannya. Dan akar-akarnya yang
menancap ke dalam tanah untuk menyerap makanan adalah seperti induk
hewan yang menyusui anak-anaknya.

Tidakkah engkau perhatikan tiang tenda, bagaimana tiang itu diikat dengan
tali dari setiap sisinya agar menjadi kokoh berdiri tegak, tidak jatuh dan
tidak miring. Demikianlah engkau dapati tumbuh-tumbuhan semuanya
memiliki urat-urat yang tersebar di dalam tanah dan membentang ke
berbagai arah untuk menahan dan mengokohkannya. Jika tidak demikian,
bagaimana pohon kurma dan buah-buahan besar dapat kokoh menahan
terpaan angin ?

Perhatikanlah pengaturan Pencipta, bagaimana penciptaannya mendahului,


sehingga menjadi cara yang ditiru manusia dalam mengokohkan tenda,
didahului dengan penciptaan pohon. Karena penciptaan pohon terjadi
sebelum penciptaan tenda. Tidakkah engkau perhatikan tiang-tiang dan
talinya terbuat dari batang pohon. Maka pembuatan meniru penciptaan.

KEDUA PULUH TUJUH

Penciptaan Daun

Wahai Mufadhdhal, perhatikanlah penciptaan daun. Engkau lihat di


dalamnya ada yang menyerupai urat-urat yang menyebar, di antaranya ada
yang keras membentang memanjang dan melintang, dan ada pula urat halus
yang menembus urat yang keras yang terjalin secara tak jelas. Kalaulah itu
dibuat dengan tangan seperti buatan manusia, maka daun-daun sebuah
pohon saja tidak akan diselesaikan dalam satu tahun dan harus diperlukan
alat-alat, tenaga dan perencanaan. Padahal daun-daun terbentuk hanya
beberapa hari saja di musim semi, yang menutupi gunung, lembah dan
seluruh bagian bumi lainnya tanpa tenaga dan tanpa perencanaan selain
dengan kehendak yang pasti berjalan dalam segala hal dan perintah yang
ditaati. Dengan sebab itu, pelajarilah urat-urat yang halus. Urat-urat itu
dijadikan tersebar ke seluruh bagian daun untuk menyalurkan air seperti urat
yang tersebar di dalam tubuh untuk menyalurkan sari makanan ke seluruh
bagian-bagiannya. Di dalam serat yang keras terdapat manfaat yang lain.
Serat itu menahan daun dengan bentuknya yang keras dan kuat agar daun itu
tidak rusak dan sobek. Maka engkau lihat daun menyerupai daun buatan
yang terbuat dari potongan kain diberi benang-benang yang membentang
memanjang dan melebar untuk saling menahan sehingga tidak rusak.
Pembuatan meniru penciptaan walaupun tidak menyerupainya sama sekali.

KEDUA PULUH DELAPAN

Biji dan Sebab Penciptaannya

Pikirkanlah mengenai biji dan sebabnya demikian. Biji kurma dijadikan


berada dalam rongga buah yang menyerupai lendir yang keluar dari rahim
bersama bayi, hanya saja ada perintang yang menghalanginya seperti
menjaga sesuatu yang berharga yang sangat diperlukan pada tempat-tempat
yang lain. Sehingga kalau rusak di sebagian tempat, ia ditemukan di tempat
lain. Kemudian ada bagian yang keras yang melindungi bagian yang lembut
dan lembek. Kalaulah tidak demikian, niscaya pecah dan terbelah, serta
mudah menyebabkan rusak. Sebagian dimakan dan diambil minyaknya,
sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Telah jelas bagimu
mengenai manfaat biji.

Kini pikirkanlah hal ini yang engkau dapati di atas biji kurma dan biji
gandum. Apa sebab demikian? Mengapa keluar dalam bentuk ini? Mungkin
pula ada buah biji yang tidak dapat dimakan seperti pada pohon bidara,
pohon beringin dan sebagainya. Tidakkah di atasnya keluar makanan yang
lezat selain agar dinikmati oleh manusia?

KEDUA PULUH SEMBILAN

Kematian Pohon, Tumbuhnya yang Baru dan Pengaturan dalam Hal itu
Pikirkanlah berbagai aspek keteraturan pada pohon. Engkau akan melihatnya
mati setiap tahun. Batang pohon dapat menahan pohon secara alami dan
menghasilkan buah. Kemudian menyebar dan tumbuh sehingga
mendatangkan bagimu buah yang banyak, sebagaimana disajikan kepadamu
jenis makan yang dikerjakan dengan tangan satu persatu. Maka engkau lihat
ranting-ranting pohon memberikan buahnya kepadamu seakan
menyodorkannya dengan tangan. Dan engkau lihat tumbuh-tumbuhan yang
berbau harum melambai-lambaikan dahan-dahannya kepadamu seakan
mendatangimu dengan dirinya. Maka siapa lagi yang memiliki keteraturan
ini selain Pencipta yang Mahabijaksana. Dan tidak ada penyebab demikian
selain untuk memberikan buah kepada manusia? Karena kesombongannya,
manusia mengganti syukur nikmat dengan pengingkaran terhadap Pemberi
nikmat.

KETIGA PULUH

Pohon Delima dan Pengaruh Kesengajaan dalam Penciptaanya

Kajilah mengenai penciptaan pohon delima dan yang engkau lihat padanya
berupa adanya pengaruh kesengajaan dan pengaturan dalam penciptaannya.
Engkau lihat buah delima itu menyerupai bukit-bukit karena dagingnya
menumpuk pada beberapa bagian. Bijinya yang tersusun berbaris seperti
yang disusun dengan tangan. Engkau lihat bijinya terbagi ke dalam beberapa
bagian. Tiap bagian terselubungi dengan tutup yang terjalin indah, lalu
terbungkus dengan kulit.

Merupakan keteraturan dalam penciptaan ini, bahwa isinya tidak hanya satu
biji. Hal itu disebabkan karena biji tidak akan saling menguatkan. Maka
dijadikan daging itu di antara agar menjadi zat makanan. Tidakkah engkau
perhatikan bahwa pangkal biji menancap pada lemak tersebut. Kemudian di
selubungi untuk menahannya sehingga tidak rusak. Dan bagian atasnya
ditutupi dengan kulit yang kuat untuk melindunginya dari hama. Ini hanya
sedikit saja dari sifat-sifat buah delima. Buah delima memiliki sifat yang
lebih banyak dari ini bagi yang ingin mengetahui lebih dalam. Namun, apa
yang telah aku jelaskan kepadamu cukuplah sebagai bukti dan pembelajaran.

KETIGA PULUH SATU


Buah Labu dan Keteraturan di dalamnya.

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai tanaman labu yang lemah dan


tanaman lain yang memiliki buah yang berat seperti mentimun, semangka
dan sebagainya, dan keteraturan di dalamnya. Ketika tanaman itu diciptakan
dengan memiliki buah seperti itu, dijadikan tumbuhnya merambat di atas
tanah. Kalau saja tumbuh tegak seperti pepohonan, maka tidak akan dapat
menahan buahnya yang berat, dan pasti jatuh sebelum matang.

Perhatikanlah, bagaimana tanaman itu merambat pada permukaan tanah


untuk menahan buahnya. Engkau lihat akar labu dan semangka menyebar di
bawah permukaan tanah dan buahnya tersebar di atasnya dan di sekitarnya
seperti kucing yang sedang terlentang dan anak-anaknya berkerumun untuk
menyusu darinya.

KETIGA PULUH DUA

Kehadiran Bermacam-macam Tumbuhan pada Saat Kesulitan

Perhatikanlah, bagaimana bermacam-macam tumbuhan datang pada saat


kesulitan. Ketika dahsyatnya musim panas dan panas terik, maka manusia
mendambakannya dan akan mendapatkannya dengan mudah. Kalau saja
tumbuhan itu datang pada musim dingin, manusia tidak akan menyukainya,
selain juga berbahaya bagi tubuh. Tidakkah engkau perhatikan bahwa
kadang-kadang ada sedikit mentimun pada musim dingin. Tetapi manusia
menghindari dari memakannya, kecuali orang yang rakus yang tidak
menghindari dari memakan apa yang berbahaya baginya dan menimbulkan
sakit perutnya.

KETIGA PULUH TIGA

Pohon Kurma: Batang, Kayu dan Faedahnya

Wahai Mufadhdhal, pikirkanlah mengenai pohon kurma. Pada pohon kurma


terdapat putik yang berkelamin betina yang memerlukan penyerbukan. Maka
dijadikan tepung sari, yang tidak ditanam. Maka tepung sari pada kurma
menyerupai jantan pada binatang yang mengawini betina agar hamil,
sementara jantannya sendiri tidak mengandung.
Amatilah bentuk batangnya, bagaimana keadaannya? Maka engkau akan
mendapati seperti anyaman dari benang yang membentang seperti
selendang, sedangkan yang lainnya melintang seperti sarung yang di tenun
dengan tangan. Hal itu untuk mengeraskan dan supaya tidak pecah untuk
menopang pelepah yang berat dan menahan guncangan akibat terpaan angin.
Sehingga pohon kurma dapat dibuat atap, jembatan dan sebagainya yang
terbuat dari batang kurma.

Demikian pula, engkau lihat kayu seperti tenunan. Engkau lihat sebagiannya
terjalin pada bagian yang lain, memanjang dan melintang, seperti jalinan
serat-serat daging. Selain itu, di dalamnya terdapat manfaat kepada orang
yang menjadikannya perkakas. Kalau kayu itu keras seperti batu, maka dapat
dibuat atap dan benda-benda lainnya yang terbuat dari kayu seperti pintu
rumah, dan sebagainya. Di antara manfaat kayu yang besar adalah karena
kayu itu terapung di air. Setiap orang mengetahui hal ini, tetapi tidak semua
mengenai besar manfaat yang dikandungnya. Kalaulah tidak demikian,
bagaimana perahu dan kapal dapat mengangkat beban yang berat di mana
manusia memperoleh kemudahan dalam memindahkan barang-barang
perdagangan dari suatu negeri ke negeri lain. Karena besarnya pengiriman
barang-barang tersebut hingga banyak barang yang dibutuhkan di beberapa
negeri sulit didapatkan.

KETIGA PULUH EMPAT

Obat-obatan dan Khasiatnya Masing-Masing

Pikirkanlah mengenai obat-obatan dan khasiatnya masing-masing. Ada yang


meresap persendian sehingga mengeluarkan kotoran, seperti asy-syaytharaj.
Ada yang mengeluarkan darah kotor seperti al-aftiymun. Ada yang
menghilangkan angin seperti as-sakbinaj. Ada yang bisa menghilangkan
bengkak dan sebagainya. Siapa yang menjadikan kekuatan ini pada obat-
obatan tersebut selain yang telah menciptakannya untuk di ambil darinya?
Siapa yang mengajarkan hal itu kepada manusia selain yang telah
menjadikannya? Kapan ia menggantungkan hal ini pada kejadian yang
secara kebetulan, sebagaimana yang dikatakan orang-orang atheis? Dia
memberikan pengetahuan terhadap ini ke dalam akal, pikiran dan
pengalaman manusia. Bagaimana binatang diberi pengetahuan terhadap hal
ini sehingga sebagian binatang buas mengobati lukanya dengan obat-obatan
itu hingga sembuh? Sebagian burung berobat dengan meminum air laut
ketika sakit perut hingga sembuh, dan banyak lagi. Mungkin engkau
meragukan tumbuhan yang tumbuh di padang sahara sehingga tidak
mempedulikannya. Engkau mengira itu hanya kesia-siaan tidak berguna.
Tetapi bukanlah demikian. Melainkan itu adalah makanan bagi binatang liar,
bijinya menjadi makanan burung, serta dahan dan rantingnya menjadi kayu
bakar yang digunakan oleh manusia. Padanya terdapat manfaat yang lain,
yaitu untuk mengobati tubuh. Selain itu adalah untuk menyamak kulit,
mencelup perhiasan dan manfaat-manfaat lainnya.

Tidakkah engkau ketahui bahwa tumbuhan yang paling tak berarti dan
paling hina adalah pohon papyrus dan sebangsanya. Di dalamnya
terkandung berbagi manfaat. Kadang-kadang papyrus dibuat kertas yang
diperlukan para raja dan orang awam. Papyrus juga dapat dibuat tikar yang
digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat, dibuat sampul untuk menutupi
bejana, dibuat sisipan di antara perkakas dan keranjang agar perkakas itu
tidak rusak dan pecah, dan sebagainya.

Kajilah yang engkau lihat berupa berbagai manfaat di dalam segala ciptaan
yang besar dan kecil, yang bernilai dan tidak bernilai. Dan yang paling hina
dan paling rendah adalah sampah dan kotoran yang terkumpul padanya
barang-barang yang tak berguna dan najis. Tetapi manfaatnya bagi tanaman
dan sayuran adalah tidak ada bandingannya. Hingga sayuran tidak akan
tumbuh baik dan subur kecuali diberi pupuk dari sampah yang dibuang oleh
manusia.

Ketahuilah bahwa kedudukan sesuatu berdasarkan nilainya. Bahkan ada dua


nilai yang berbeda pada dua bidang usaha, tetapi berharga dalam bidang
keilmuan. Janganlah menganggap kecil manfaat suatu benda karena rendah
nilainya. Kalau para peneliti kimia memahami wayang dikandung di dalam
kotoran, niscaya mereka membelinya walau dengan harga yang mahal.

(Al-Mufadhdhal berkata:) Maka tibalah waktu tengah hari. Tuanku berdiri


untuk menunaikan salat. Beliau berkata,”Datanglah kepadaku besok pagi-
pagi sekali, insya Allah.” Maka aku pun pulang. Berlipatgandalah
kebahagiaanku dengan apa yang telah beliau ajarkan kepadaku, senang
dengan apa yang telah beliau berikan kepadaku, dan aku memuji Allah atas
segala yang dikaruniakan-Nya kepadaku. Maka malamnya aku tidur dengan
penuh sukacita.
PERTEMUAN KEEMPAT

PERTAMA

(Al-Mufadhdhal berkata): ketika memasuki hari keempat, pagi-pagi sekali


aku menemui tuanku. Setelah meminta izin, beliau mempersilakan aku
duduk. Maka aku pun duduk. Beliau a.s berkata, “Kami panjatkan pujian
tasbih, takzim dan penyucian bagi Nama Yang paling awal, Cahaya teragun,
Pencipta manusia, Pelenyap alam dan masa, Pemilik rahasia yang
terselubung, Kegaiban yang bertabir, Nama yang tersimpan, dan Ilmu yang
tersembunyi. Semoga shalawat dan berkah-Nya dilimpahkan kepada
penyampai wahyu-Nya dan penyuci risalah-Nya, yang diutus sebagai
pembawa berita gembira dan peringatan, penyeru kepada Allah dengan izin-
Nya, pelita yang menerangi, untuk membinasakan orang yang
membinasakan hujjah dan menghidupkan orang yang menghidupkan hujjah.
Baginya dan keluarganya salam, rahmat dan berkah orang-orang yang
terdahulu dan telah berlalu, abadi selamanya. Merekalah pemiliknya dan
yang berhak menerimanya.

KEDUA

Kematian, Fana, Keyakinan Orang yang Bodoh dan Jawabannya

Wahai Mufadhdhal, telah aku jelaskan padamu dalil-dalil atas penciptaan


dan bukti-bukti atas pengaturan dan adanya kesengajaan pada diri manusia,
binatang, tumbuhan dan sebagainya. Juga pelajaran yang terkandung di
dalamnya bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran. Kini aku akan
menjelaskan kepadamu bencana-bencana yang terjadi pada sebagian masa
yang menimpa manusia yang bodoh, sebagai akibat pengingkaran terhadap
penciptaan, Pencipta kesengajaan dan pengaturan. Apa yang diingkari orang-
orang atheis dan Al-Mananiyyah dari malapetaka dan bencana, kematian dan
kefanaan, apa yang dikatakan kaum naturalis, dan orang yang mengira
bahwa segala sesuatu terjadi dengan kebetulan dan tanpa kesengajaan,
niscaya akibat perkataan itu akan kembali kepada mereka. Allah memerangi
mereka di mana saja mereka berdusta.

KETIGA

Bencana, Pandangan Orang yang Bodoh atasnya, dan Jawabannya.

Manusia bodoh menjadikan bencana yang terjadi pada sebagian masa seperti
penyakit sampar, hama tumbuhan, hujan es, dan serangan belalang sebagai
alasan pengingkaran terhadap adanya Pencipta, serta terhadap pengaturan
dan penciptaan-Nya. Sebagai jawaban hal itu dikatakan: Jika tidak ada
Pencipta dan Pengatur, maka tidak ada yang lebih besar dan lebih jelek
daripada ini? Di antaranya adalah langit akan jatuh ke bumi dan rusaklah
bumi sehingga hilang secara tak berarti. Terbitnya matahari menyimpang
dari yang semula. Sungai-sungai dan mata air mengering sehingga tidak ada
air untuk minum. Angin tidak berhembus sehingga segala sesuatu menjadi
busuk dan rusak. Air laut menguap hingga menenggelamkan bumi.
Kemudian bencana-bencana ini, yang telah kami sebutkan berupa penyakit
sampar, serangan belalang dan sebagainya, tidak terjadi terus-menerus
sehingga memusnahkan semua yang ada di alam. Melainkan bencana-
bencana itu terjadi sewaktu-waktu saja, kemudian berhenti.

Tidakkah engkau perhatikan bahwa alam terjaga dan terlindungi dari


peristiwa-peristiwa besar tersebut. Kalau salah satu bencana itu terjadi, hal
itu dapat menyebabkan kerusakan. Tetapi kadang-kadang alam ditimpa
dengan bencana-bencana yang kecil untuk mendidik dan meneguhkan
manusia. Kemudian bencana-bencana itu tidak terjadi secara terus menerus,
dan menyingkapkan rahmat pada mereka.

Al-Mananiyyah mengingkari bencana-bencana menimpa manusia. Mereka


mengatakan,“Jika alam ini memiliki pencipta yang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang, maka bencana-bencana ini tidak akan terjadi.” Orang yang
mengatakan demikian berpendapat bahwa hendaknya kehidupan manusia di
dunia ini terhindar dari setiap bencana. Kalaulah demikian, maka manusia
terhindar dari kekufuran dan kebinasaan menuju pada sesuatu yang tidak
mendatangkan kebaikan dalam urusan agama, dan tidak juga dalam urusan
dunia. Seperti tang engkau lihat pada kebanyakan orang yang bergelimang
dalam kemewahan dan orang yang dididik dalam kemewahan dan
kesenangan. Mereka melampaui batas hingga salah seorang dari mereka lupa
bahwa dirinya manusia; bahwa dirinya memiliki Tuhan atau bahwa bahaya
menyentuhnya, atau bencana sedang turun padanya. Atau bahaya ia harus
mengasihi orang yang lemah, membantu orang yang fakir, menolong yang
terkena bencana, menyayangi orang yang lemah atau mengasihi orang yang
kesusahan. Ketika bencana menimpanya, dan merasakan kepedihannya, ia
mengambil pelajaran dan menyadari banyak hal yang tidak diketahui dan
dilalaikannya. Dan ia kembali pada banyak hal yang diwajibkan kepadanya.

Orang-orang yang mengingkari hal-hal yang menyakitkan ini adalah seperti


anak kecil yang membenci obat pahit dan bau. Ia tidak suka dicegah dari
makanan yang berbahaya, membenci kedisiplinan dan pekerjaan, suka untuk
bermain dan berleha-leha, serta makan dan minum, tanpa menyadari Bahwa
permainan dapat menyebabkan kebiasaan yang buruk dan makanan yang
lezat yang berbahaya dapat menyebabkan penyakit. Ia tidak mengetahui
bahwa dalam kedisiplinan terkandung kebaikan dan dalam obat-obatan
terdapat manfaat, walaupun bercampur dengan hal-hal yang tidak disukai.

Jika mereka mengatakan,”Mengapa manusia tidak terpelihara dari


keburukan sehingga tidak perlu bencana-bencana ini menyakitkannya.”

Jawabnya adalah: “Kalau begitu, ia tidak dipuji atas kebaikan yang


dilakukannya dan tidak mendapat pahala atas perbuatan baiknya.”

Jika mereka mengatakan,”Apa bahayanya jika ia tidak dipuji atas


kebaikannya dan berhak juga atas pahala setelah ia memperoleh kenikmatan
dan kelezatan?”

Jawabnya: “Perhatikanlah orang yang sehat badan dan akalnya. Ketika ia


duduk ia bersenang-senang dan dicukupi semua yang dibutuhkannya tanpa
usaha, perhatikanlah, apakah dirinya menerima perlakuan demikian?
Melainkan mereka akan memakan sesuatu yang diperoleh dengan usahanya
sendiri walaupun sedikit. Hal itu lebih membahagiakannya daripada
mendapat sesuatu yang banyak tanpa berhak terhadap apa pun. Demikian
pula kenikmatan akhirat, diberikan sepenuhnya kepada yang berhak
mendapatkannya. Mereka memperolehnya dengan usaha. Sehingga dalam
hal ini kenikmatan bagi manusia adalah berlipat ganda. Disediakan baginya
pahala yang banyak atas usahanya di dunia ini dan diberikan baginya jalan
untuk memperolehnya.”
Jika mereka mengatakan, “Bukankah kadang-kadang di antara manusia yang
cenderung untuk memperoleh kebaikan walaupun ia tak berhak atasnya.
Maka apa alasan dalam mencegah orang yang rela mendapat kenikmatan
akhirat atas ini?”

Jawabnya: “Hal ini kalau berlaku bagi manusia, niscaya mereka akan seperti
anjing yang menjilati barang yang kotor dan melanggar yang haram.
Barangsiapa yang menahan dirinya dari yang keji atau menanggung
penderitaan dalam kebaikan, maka ia yakin bahwa dirinya berjalan menuju
kenikmatan. Atau orang yang mengasuransikan diri, keluarga dan hartanya
kepada orang lain kalau tidak takut terhadap penghisaban dan siksaan, maka
dalam hal ini bahayalah yang akan didapat manusia di dunia ini sebelum
akhirat. Maka di dalam hal itu terdapat pengingkaran akan adanya keadilan
dan kebijakan sekaligus, dan merupakan celaan atas pengaturan yang
bertentangan dengan prinsip kebaikan dan menempatkan suatu tidak pada
tempatnya.”

KEEMPAT

Sebab Bencana Menimpa Seluruh Manusia dan Alasannya

Kadang-kadang bencana menimpa seluruh manusia , menimpa orang-orang


yang baik dan durhaka. Atau bencana itu ditimpakan kepada orang yang
baik, tapi orang yang durhaka terhindar darinya.

Mereka mengatakan:” Bagaimana hal ini dapat terjadi dalam pengaturan


Yang Maha Bijaksana dan apa hujjahnya ?”

Jawabnya: Bencana itu ditimpakan kepada orang yang saleh dan yang
durhaka seluruhnya. Karena Allah Swt menjadikan hal itu sebagai kebaikan
bagi keduanya. Bagi orang-orang yang saleh bencana yang menimpa mereka
menambah kenikmatan Tuhan mereka yang telah lalu sehingga mendorong
mereka untuk bersyukur dan bersabar. Adapun bagi orang-orang yang
durhaka bencana menimpa mereka dapat menghapuskan kejahatan mereka
serta mencegah mereka dari kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan keji.
Demikian pula bagi orang-orang yang terhindar dari bencana itu terdapat
hikmah. Orang-orang yang baik merasakan kebahagiaan dengan kebaikan
yang diperolehnya dan bertambah kecintaan dan pengenalan terhadap-Nya.
Adapun orang durhaka menjadi mengetahui kasih sayang Tuhan mereka
yang menganugerahinya kesejahteraan tanpa memintanya. Sehingga hal itu
mendorong mereka untuk mengasihi manusia dan memaafkan orang yang
berbuat jahat kepadanya.

Kadang-kadang ada yang mengatakan,”Ini adalah bencana yang menimpa


harta manusia. Maka apa pendapatmu terhadap bencana yang menimpa
badan mereka sehingga mereka membinasakan mereka, seperti kebakaran,
tenggelam, hanyut dan cacat?”

Jawabnya: Di dalam hal ini pun Allah memberikan maslahat kepada seluruh
golongan. Orang-orang yang berbuat baik meninggalkan dunia ini dalam
keadaan terhindar dari beban dan selamat dari bencananya. Adapun bagi
orang-orang yang durhaka dalam hal itu ada pembersihan diri dari dosa-dosa
mereka dan mencegah penambahannya. Pendek kata, Pencipta SWT
menyebutnya dengan kebijakan-Nya dan kekuasaan-Nya, kadang-kadang
menjalankan ini semua menuju kebaikan dan manfaat. Sebagaimana jika
angin menumbangkan pepohonan, Pencipta menjadikannya mendatangkan
berbagai manfaat. Demikian pula Sang Pengatur Yang Mahabijaksana
menimpakan bencana pada manusia , pada badan dan harta mereka,
sehingga membawanya pada kebaikan dan manfaat.

Jika ada yang mengatakan, “Mengapa hal itu terjadi pada manusia?”

Jawabnya: agar keselamatan tidak membuat mereka cenderung pada


kemaksiatan. Keselamatan membuat orang durhaka terus-menerus
melakukan kemaksiatan dan menjadikan orang saleh berpaling dari
kesungguhan dalam berbuat baik. Karena itu, kedua hal ini terjadi pada
manusia yang berada dalam kemewahan hidup dan kesenangan. Bencana-
bencana ini menimpa mereka untuk menyadarkan dan mengingatkan mereka
terhadap sesuatu yang mengandung bimbingan bagi mereka. Kalau mereka
terhindar dari bencana-bencana ini, niscaya mereka melampaui batas dalam
kesewenang-wenangan dan kemaksiatan, sebagaimana manusia melampaui
batas pada awal zaman sehingga ditimpakan pada mereka kebinasaan
dengan hembusan topan dan membersihkan bumi dari mereka.

KELIMA

Kematian, Kefanaan, Kritik Orang yang Bodoh dan Jawabannya


Di antara yang dikritik oleh orang-orang yang mengingkari adanya
kesengajaan dan pengaturan (dalam penciptaan) adalah kematian dan
kefanaan. Mereka berpendapat bahwa hendaknya manusia hidup kekal di
dunia ini dengan terhindar dari bencana. Hendaknya hal ini didudukkan pada
tempatnya, maka lihatlah apa hasilnya.

Apakah engkau perhatikan bahwa kalau setiap orang yang lahir ke dunia ini
hidup kekal, tidak ada yang mati seorang pun, tidakkah bumi ini akan
menjadi sempit? Sehingga manusia kesulitan mendapat tempat tinggal,
tempa bercocok tanam dan mata pencaharian. Maka mereka _ kematian
mengurangi mereka sedikit demi sedikit _ berlomba mencari tempat tinggal
dan lahan pertanian sehingga terjadilah peperangan di antara mereka dan
darah tertumpah dari mereka. Bagaimana keadaan mereka jika mereka lahir
tetapi tidak mati. Mereka dikuasai ketamakan, kerakusan dan kekerasan hati.
Kalau mereka meyakini bahwa manusia tidak akan mati, maka masing-
masing di antara mereka tidak akan puas dengan apa yang diperolehnya,
tidak melapangkan apa yang dimintanya, dan tidak menyenangi sesuatu
yang terjadi padanya. Kemudian mereka merasa bosan terhadap kehidupan
dan segala urusan dunia sebagaimana kadang-kadang ia merasa bosan
dengan usianya yang panjang. Sehingga ia mengharapkan kematian dan
terlepas dari dunia.

Jika mereka mengatakan: “Hendaknya mereka terpelihara dari bencana dan


malapetaka sehingga mereka mengharapkan kematian dan merindukannya.”

Telah kami jelaskan apa yang membawa mereka pada hal itu tersebut, yakni
keangkuhan dan kesombongan yang membawa mereka pada apa yang
menimbulkan kerusakan dunia dan agama.

Jika mereka mengatakan: “Hendaknya mereka tidak melahirkan agar tidak


sulit mendapatkan tempat tinggal dan mata pencaharian.”

Jawabnya: Jika yang lain dari makhluk ini tidak di perbolehkan masuk ke
dunia dan menikmati karunia Allah kedua alam, jika tidak memasuki alam
ini kecuali hanya satu generasi saja, mereka tidak melahirkan dan tidak
melanjutkan keturunan....

Jika mereka mengatakan: “Hendaknya dalam hal itu diciptakan satu generasi
saja dari manusia sebagai makhluk yang diciptakan hingga berakhirnya
dunia.” Jawabnya: kembalikan permasalahan pada apa yang telah kami
jelaskan mengenai sempitnya lahan untuk tempat tinggal dan mata
pencaharian. Kemudian, kalau mereka tidak melahirkan dan tidak
berketurunan, maka hilanglah aspek kasih sayang dalam kekerabatan dan
saling menolong dalam kesusahan, dan aspek pendidikan anak serta
bersenang-senang dengan mereka. Di dalam hal ini terdapat dalil bahwa
setiap kali akal berpendapat demikian _ kecuali yang berlaku dalam
pengaturan _ adalah kesalahan dan kerancuan pikiran dan perkataan.

KEENAM

Kecaman Terhadap Pengaturan dari Sisi Lain dan Jawabannya

Kadang-kadang ada orang yang mengkritik pengaturan dari sisi lain. Ia


mengatakan, bagaimana terjadinya pengaturan itu? Kami melihat manusia
terhormat di dunia ini. Yang kuat aniaya yang lemah, yang lemah
menganiaya yang kekurangan, yang saleh menjadi fakir dan ditimpa
bencana, yang fasik dilindungi dan dilapangkan, dan yang memperbuat
kejahatan dan melanggar yang haram tidak segera diazab. Kalau di alam ini
ada pengaturan, maka berbagai hal akan berjalan menurut ukuran yang
berlaku. Orang saleh diberi rezeki, orang durhaka ditelantarkan, orang kuat
dicegah dari menzalimi yang lemah, dan yang melanggar yang haram segera
diazab.

Jawabnya: Kalau terjadi demikian, maka hilanglah aspek kebaikan yang


akan menyebabkan manusia lebih utama dari makhluk lainnya, membawa
diri pada kebaikan dan amal saleh dengan mengharapkan pahala, dan
keyakinan terhadap janji Allah SWT. Hal tersebut akan menjadikan manusia
dalam kedudukan binatang yang dilatih dengan tongkat dan makanan, dan
sedikit demi sedikit diarahkan sehingga terbiasa melakukannya. Selain itu,
tidak ada orang yang berbuat atas keyakinan adanya pahala dan siksa
sehingga hal itu mengeluarkan mereka dari batas kemanusiaan menjadi
binatang. Kemudian, ia tidak dapat mengetahui apa yang tidak tampak, dan
tidak beramal kecuali untuk mendapatkan kenikmatan dunia. Hal ini pun
terjadi jika orang saleh hanya beramal untuk memperoleh rezeki di dunia ini.
Ia menghindarkan diri dari kezaliman dan kejahatan semata-mata untuk
menghindarkan akibatnya yang datang pada masa hidupnya. Sehingga
perbuatan-perbuatan manusia semuanya dilakukan untuk masa kini saja,
tidak disertai keyakinan terhadap apa yang ada di sisi Allah. Dan mereka pun
tidak mengharapkan pahala akhirat dan kenikmatan yang kekal di dalamnya.
Selain itu, hal-hal yang disebutkan oleh orang yang mengecam berupa
kecukupan, kekafiran, keselamatan dan musibah tidaklah berjalan
menyimpang dari ukurannya, melainkan kadang-kadang saja terjadi pada hal
tersebut dan permasalahannya adalah jelas.

Kadang-kadang engkau lihat kebanyakan orang yang saleh di karuniai harta


sebagai aspek pengaturan dan agar tidak tersirat dalam hati manusia bahwa
orang-orang kafirlah yang diberi rezeki, sementara orang-orang baik adalah
orang-orang miskin, sehingga mereka mengutamakan kefasikan di atas
kebaikan. Engkau lihat kebanyakan orang-orang fasik segera mendapat azab
jika menyombongkan kelalaian mereka, dan besarnya bahaya manusia dan
bagi diri mereka sendiri, seperti disegerakannya azab kepada Fir’aun dengan
penenggelaman, Nezar dengan kebinasaan dan Bilbis dengan pembunuhan.
Sebagian kejahatan ditangguhkan azabnya dan kebaikan diakhirkan
pahalanya hingga di kampung akhirat dengan sebab yang tidak diketahui
hamba. Tidaklah ini membatalkan pengaturan. Hal seperti ini kadang-kadang
dilakukan oleh raja-raja di bumi dan tidak membatalkan pengaturan mereka.
Melainkan mereka mengakhirkannya apa yang mereka inginkan dan
menyegerakan apa yang mereka inginkan di dalam pemikiran dan
pengaturan yang baik jika ada bukti-bukti yang menunjukkan hal itu.
Pengaturan mereka menunjukkan bahwa bagi segala sesuatu ada Pencipta
yang bijaksana dan kuasa sehingga tidak ada sesuatu pun yang mencegah-
Nya untuk mengatur makhluk-Nya. Karena, tidak baik dalam aturan mereka
adanya Pencipta yang menangguhkan penciptaan-Nya kecuali karena satu
dari tiga hal, apakah ia lemah, bodoh atau jahat. Semua ini mustahil dalam
penciptaan Allah SWT. Orang lemah tidak akan mampu mendatangkan
ciptaan-ciptaan yang menakjubkan ini, yang bodoh tidak mengetahui apa
yang mengandung kebaikan. Dan yang jahat tidak akan dapat
menciptakannya. Jika keadaannya demikian, mestilah ada Pencipta
makhluk-makhluk yang mengaturnya, tidak bisa tidak. Dan jika ia mencapai
hakikat pengaturan tersebut dan sumbernya, maka kebanyakan pengaturan
raja-raja tidak dipahami orang-orang awam dan tidak diketahui sebabnya,
karena tidak diketahui hakikat perintah raja-raja itu dan rahasianya. Jika
diketahui sebabnya, maka didapatinya tegak di atas prinsip kebaikan dan
bukti yang teruji. Jika engkau ragu terhadap obat dan makanan, maka
jelaslah bagimu dari dua atau tiga sisi, panas atau dingin. Tidakkah engkau
memutuskan hal itu (dalam salah satunya) dan menghilangkan keraguan
dari dirimu? Maka bagaimana orang-orang yang bodoh tidak memutuskan
alam dengan adanya penciptaan dan pengaturan, padahal bukti-bukti
terhadap hal itu amatlah banyak dan lebih banyak lagi yang tidak terhitung,
kendati separuh alam dan seisinya sulit dipahami prinsip kebaikannya.
Tidaklah ada pemikiran yang teguh dan jalan etika untuk memutuskan
penciptaan alam dengan ketidaksengajaan karena separuh alam lainnya
beserta isinya menunjukkan adanya prinsip kebaikan dan keteguhan yang
mencegah pikiran untuk tergesa-gesa memutuskan masalah ini. Maka
bagaimana semua yang ada di dalamnya, jika dikaji, maka didapati berjalan
atas prinsip kebaikan, sehingga tidak mengingatkan sesuatu selain didapati
penciptaanya dalam prinsip kebenaran dan kebaikan.

KETUJUH

Nama Alam ini dalam Bahasa Yunani

Wahai Mufadhdhal, ketahuilah bahwa nama alam ini yang termasyhur dalam
bahasa Yunani adalah “kosmos”. Dan artinya adalah “perhiasan”. Demikian
para filosof dan ahli hikmah menamainya dengan nama ini selain karena
mereka melihat di dalamnya ada pengaturan dan ketersusunan. Mereka
senang untuk menamakannya pengaturan dan ketersusunan, hingga
menamainya perhiasan, untuk mengabarkan adanya kebaikan dan
kesempurnaan dengan maksud keindahan.

KEDELAPAN

Kebutaan Penguji terhadap Dalil-dalil Hikmah dan Pengakuannya


Mengetahui Rahasia-rahasia.

Wahai Mufadhdhal, aku heran kepada suatu kaum yang menuduh industri
kedokteran sebagai kesalahan. Mereka melihat dokter melakukan kesalahan,
dan memutuskan penciptaan alam dengan ketidaksengajaan. Padahal mereka
lihat tidak ada sesuatu yang bersifat kebetulan. Bahkan aku heran kepada
akhlak ahli hikmah sehingga mereka tidak mengetahui posisinya di antara
makhluk. Lalu mereka melontarkan celaan kepada Pencipta ‘azza wa jalla.

Bahkan kesombongan dukun adalah mengaku mengetahui segala rahasia.


Padahal ia buta dari hikmah dalam penciptaan hingga menisbatkannya pada
kesalahan, dan menisbatkan penciptanya pada kebodohan. Mahasuci Zat
Yang Mahabijaksana dan Mahamulia.
KESEMBILAN

Tidak Dicapai oleh Rasa Apa yang tidak Dicapai Akal

Yang paling sombong di antara mereka semua adalah kaum atheis. Mereka
membantah pernyataan bahwa apa yang tidak dicapai oleh akal dapat dicapai
dengan rasa. Ketika hal itu menyulitkan mereka, mereka beralih pada
pengingkaran dan kedustaan. Mereka mengatakan: “Mengapa tidak dapat
dicapai dengan akal?” Jawabnya: “Karena hal itu berada di atas jangkauan
akal, seperti penglihatan tidak dapat mencapai apa yang ada di luar
jangkauannya. Jika engkau melihat sebuah batu dilemparkan ke udara, maka
engkau tahu bahwa ada orang yang melemparkannya. Bukanlah alam itu dari
aspek penglihatan, melainkan dari aspek akal, karena akallah yang dapat
mengidentifikasikannya. Maka diketahui bahwa batu itu tidak terlempar
dengan sendirinya. Tidakkah engkau perhatikan, bagaimana penglihatan itu
hanya mencapai batas jangkauannya, tidak melebihinya. Demikian pula akal
hanya sampai pada batas jangkauannya dalam mengenali Pencipta, dan tidak
melewatinya. Namun dengan akal diputuskan bahwa terdapat satu wujud
yang tidak dapat diselidiki dan tidak dapat dicapai dengan indra.

KESEPULUH

Pengenalan Akal terhadap Pencipta Adalah Pengenalan Bersifat Global,


Tidak Komprehensif

Atas dasar ini pula kami katakan bahwa: “Akal mengenali Pencipta dari
aspek global, tidak mengetahui-Nya secara detail sifat-sifat-Nya.” Jika
mereka mengatakan: “Bagaimana hamba yang lemah dibebani untuk
mengetahui-Nya dengan akal dan tidak mengetahui-Nya secara detail?”

Jawabnya: Hamba-hamba itu hanya dibebani berdasarkan kemampuannya


untuk menunaikannya, yaitu mereka menetapi perintah dan larangan-Nya,
tidak dibebani untuk mengetahui secara rinci sifat-sifat-Nya. Seperti raja
yang menugaskan para pengawalnya untuk melakukan yang lebih panjang
atau yang lebih pendek, putih atau cokelat. Ia hanya diperintahkan untuk
tunduk kepada rajanya dan melaksanakan perintahnya. Tidakkah engkau
lihat kalau seseorang datang pada istana pintu raja, lalu berkata,
“Palingkanlah dirimu kepadaku agar aku dapat lebih dalam mengenalimu.
Jika tidak, aku tidak akan mendengar perintahmu,” maka ia patut mendapat
hukuman?

Demikian pula orang yang tidak mengakui Allah s.w.t. sebagai Pencipta
sebelum mengetahui secara mendalam hakikat-Nya untuk menghindari
murka-Nya.

Jika mereka mengatakan: “Tidakkah kami telah menjelaskannya?”

Jawab kami adalah: Bukankah Dia adalah yang Mahatinggi, Mahabijaksana,


Mahamurah dan Mahamulia? Semua ini merupakan penjelasan yang bersifat
global, bukan penjelasan yang detail. Kami ketahui bahwa Dia
Mahabijaksana, tetapi kami tidak mengetahui hakikat-Nya. Demikian pula,
Dia adalah Yang Mahakuasa, Mahamurah, dan sifat-sifat yang lainnya.
Seperti kadang-kadang kita melihat ke langit, kita tidak tahu apa
substansinya. Kita melihat laut, tetapi tidak tahu di mana batasnya. Dan
contoh-contoh lain yang tidak ada batasnya, namun akan menuntun untuk
mengetahuinya. Jika mereka mengatakan: “Mengapa terdapat perbedaan
dalam hal tersebut?”

Jawabnya: Karena keterbatasan pemahaman mereka terhadap kekuasaan


keagungan-Nya dan pelampauan batas dalam usaha mengenali-Nya, karena
ingin mengetahui-Nya secara mendalam sementara ia lemah untuk
mengenal-Nya dan mengetahui apa yang ada di sisi-Nya.

KESEBELAS

Matahari, Ikhtilaf Para Ilmuwan Mengenai Letak, Bentuk dan


Ukurannya.

Termasuk bahasan di atas adalah matahari yang engkau lihat terbit ke dunia
dan tidak diketahui hakikatnya. Karena itu, banyak pendapat yang berkenaan
dengannya.
Sebagian mereka mengatakan bahwa matahari adalah planet yang berongga
yang dipenuhi api, memiliki mulut yang menyemburkan nyala api dan
cahaya.
Pendapat kedua mengatakan: “Matahari adalah berupa gumpalan awan.”
Pendapat ketiga mengatakan: “Matahari berupa bola kaca yang menangkap
cahaya dari bumi dan membiaskannya lagi ke bumi.”
Pendapat keempat mengatakan: “Matahari adalah benda bening seperti air
laut yang membeku.”
Pendapat kelima mengatakan: “Matahari adalah bagian-bagian api yang
terhimpun menjadi satu.”
Pendapat keenam mengatakan: “Substansi kelima selain empat substansi
lainnya.”

Mereka pun berbeda pendapat dalam menentukan bentuknya.

Pendapat pertama mengatakan: “Matahari terbentuk bidang datar.


Pendapat kedua mengatakan: “Matahari terbentuk bulat seperti bola dan
berputar.”

Mereka juga berbeda pendapat dalam menentukan ukurannya.

Pendapat pertama mengatakan: “Besarnya matahari sama dengan besarnya


bumi.”
Pendapat kedua mengatakan: “Ukuran matahari lebih kecil dari bumi.”
Pendapat ketiga mengatakan: “Ukuran matahari lebih besar dari pulau yang
besar.”
Ahli astronomi mengatakan: “Besarnya matahari adalah 170 kali besar
bumi.”

Perbedaan pendapat mereka mengenai matahari ini menunjukkan bahwa


mereka tidak mengetahui hakikatnya.

Kalau matahari ini saja yang dapat dijangkau penglihatan, dicapai indra,
tidak dapat dipahami hakikatnya oleh akal, maka apalagi sesuatu yang tidak
dapat dicapai indra dan tidak dapat dipikirkan.

Jika mereka mengatakan: “Mengapa tidak dapat diketahui?”


Jawabnya: Bukankah kecerdasan yang dapat menjangkaunya tertabir seperti
seorang yang tertabir dari orang lain dengan pintu atau tirai. Tertabir yang
kami maksudkan adalah karena halusnya objek yang dijangkau pikiran
seperti halusnya napas. Ia adalah makhluk-Nya, tetapi tidak dicapai oleh
penglihatan.

Jika mereka mengatakan: “Mengapa Dia s.w.t. membuatnya halus?”


Itu adalah pertanyaan yang salah, karena tidaklah pantas bagi yang mencipta
segala sesuatu selain berlainan dengan yang diciptakannya dan paling tinggi
dari segala sesuatu.

KEDUABELAS

Empat Aspek Makrifat al-Haq dan Perinciannya.

Jika mereka mengatakan: “Bagaimana dapat dipahami bahwa Dia berbeda


dan paling tinggi dari segala sesuatu?”

Jawabnya: Al-Haq yang dicari makrifat-Nya dari segala sesuatu ada empat
aspek:
Pertama: perhatikan apakah Dia ada (maujud) atau tidak ada.
Kedua: kenalilah apa zat dan substansi-Nya.
Ketiga: perlu diketahui bagaimana Dia dan bagaimana sifat-sifat-Nya.
Keempat: harus diketahui mengapa Dia dan karena sebab apa.

Selain wujud ini, tidak mungkin ada sesuatu bagi makhluk untuk
mengetahui-Nya dari Pencipta dengan sebenar-benarnya, selain bahwa Dia
adalah maujud.

Jika kami katakan: “Bagaimana dan apakah Dia?” Maka tercegah dari
mengetahui hakikat-Nya dan mengetahui-Nya secara sempurna. Adapun
pertanyaan: “Mengapa Dia?” Maka itu jatuh pada sifat Pencipta, karena Dia
adalah sebab dari segala sesuatu, tetapi tidak ada sesuatu yang menjadi
sebab bagi-Nya. Kemudian, manusia tidak mengetahui melainkan hendaklah
ia mengetahui apa dan bagaimana Dia. Sebagaimana ia mengetahui adanya
napas, tetapi tidak harus tahu apa dan bagaimana napas itu. Demikian pula
hal-hal yang bersifat spiritual lainnya.

Jika mereka mengatakan: “Kini kalian menyifati-Nya dengan keterbatasan


ilmu sehingga seakan-akan Dia tidak diketahui.”

Jawabnya: Demikianlah keadaannya dalam satu sisi, akal ingin mengetahui


hakikat-Nya dan perinciannya. Di sisi lain, Dia adalah lebih dekat dari setiap
yang dekat ketika ditunjukkan dengan dalil-dalil yang pasti. Dari satu sisi,
Dia seperti jelas, tidak luput bagi siapa pun. Tetapi di sisi lain. Dia seperti
samar yang tidak ada seorang pun mengenali-Nya. Demikian halnya akal
yang tampak dalil-dalilnya, tetapi tersembunyi esensinya.

KETIGA BELAS

Kaum Naturalis dan Sanggahan atas Pendapat-pendapatnya.

Kaum naturalis mengatakan: “Alam tidak menjalankan sesuatu yang tidak


bermakna dan tidak dari apa yang mengandung kesempurnaan dalam
tabiatnya.” Mereka mengira bahwa keteraturanlah yang membuktikannya.

Jawabnya: Siapa yang memberikan keteraturan ini pada alam dan


ketergantungan atas segala sesuatu tanpa melebihinya? Hal ini tidak
dijangkau akal setelah dilakukan berbagai eksperimen sekali pun. Jika
mengharuskan adanya keteraturan bagi alam dan kemampuan atas kejadian
seperti ini, maka mereka telah menetapkan apa yang mereka ingkari, karena
ini merupakan sifat Pencipta. Mereka mengingkari ini bagi alam, padahal ini
merupakan aspek penciptaan yang menunjukkan bahwa perbuatan itu adalah
milik Pencipta Yang Mahabijaksana. Dia antara orang-orang terdahulu ada
kelompok yang mengingkari adanya kesengajaan dan pengaturan dalam
segala sesuatu. Mereka mengira bahwa keberadaannya adalah dengan
sendirinya. Dan di antara yang mereka jadikan argumen adalah bukti-bukti
ini yang tidak berada pada tempat yang biasa, seperti tempat yang biasa,
seperti manusia yang kekurangan atau kelebihan jari, atau anak yang
dilahirkan dalam keadaan cacat. Mereka menjadikan ini sebagai bukti bahwa
penciptaan segala sesuatu tidak dengan kesengajaan dan pengaturan,
melainkan terjadi dengan sendirinya.

Bagaimana sesuatu dapat terjadi dengan ketidaksengajaan? Aristoteles


memberikan jawaban kepada mereka. Ia mengatakan bahwa yang terjadi
secara sendirinya itu hanyalah sesuatu yang terjadi di luar batas karena
rintangan-rintangan yang terjadi pada proses alami sehingga
menyimpangkannya dari jalannya. Bukanlah sebagai proses alami yang
terjadi atas satu bentuk kejadian yang berjalan secara terus-menerus.

Engkau, wahai Mufadhdhal, melihat macam-macam binatang. Kebanyakan


hal itu berlangsung dalam bentuk dan cara yang sama, seperti manusia yang
lahir, ia memiliki dua tangan, dua kaki, dan lima jari. Begitulah kebanyakan
manusia. Adapun yang lahir dalam keadaan yang menyimpang dari hal
tersebut, itu disebabkan penyakit yang terjadi di dalam rahim atau pada
unsur-unsur yang membentuk janin. Seperti juga terjadi di pabrik, ketika
pembuat bermaksud membuat barang yang baik, tetapi kemudian ada
gangguan pada peralatannya atau pada bahan pembuatnya. Kadang-kadang
terjadi hal seperti itu pada anak-anak binatang karena berbagai sebab yang
telah kami jelaskan sehingga lahirlah anaknya dengan kelebihan, kekurangan
atau cacat. Tetapi sebagian besar lahir dalam keadaan normal, tidak
berpenyakit. Sebagaimana yang terjadi pada sebagian faktor bawaan karena
adanya penyakit. Tetapi hal itu tidak menyebabkan keseluruhannya terjadi
secara kebetulan dan ketiadaan Pencipta. Demikian pula yang terjadi pada
sebagian proses alami karena adanya gangguan yang merintanginya. Hal itu
tidak menyebabkan seluruhnya terjadi dengan sendirinya. Seseorang
mengatakan mengenai sesuatu bahwa kejadiannya dengan sendirinya. Ia
berdalil dengan adanya sesuatu yang terjadi menyimpang dari proses alami.
Padahal hal itu disebabkan adanya rintangan yang menyebabkan terjadinya
penyimpangan.

Jika mereka mengatakan: “Mengapa hal seperti ini terjadi pada sesuatu?”

Jawabnya: Hal itu untuk memberitahukan bahwa penciptaan segala sesuatu


tidak melalui proses alami, dan tidak mungkin menjadi sesuatu yang lain –
sebagaimana yang dikatakan banyak orang. Melainkan dengan perhitungan
dan kesengajaan dari Pencipta Yang Mahabijaksana. Sehingga menjadikan
hal itu sebagai proses alami, sebagian besarnya berlangsung pada bentuk dab
cara yang sudah dikenal, tetapi kadang-kadang terjadi penyimpangan dari
hal tersebut karena ada faktor yang merintangnya. Hal itu menunjukkan
bahwa pergantian yang teratur memerlukan permulaan dan kekuasaan
Pencipta dalam mencapai tujuannya dan penyempurnaan prosesnya.
Mahasuci Allah, sebaik-baiknya Pencipta.

Wahai Mufadhdhal, ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan jagalah.
Jadilah orang yang bersyukur kepada Tuhanmu, yang memuji nikmat-Nya,
dan yang taat kepada para wali-Nya. Aku telah menjelaskan kepadamu dalil-
dalil penciptaan, bukti-bukti adanya pengaturan dan kesengajaan, yang
sedikit dari yang banyak, dan sebagian dari keseluruhan. Maka kajilah dan
pikirkanlah.

Maka aku jawab: “Dengan pertolonganmu, wahai tuanku, aku


mengambilnya dan meraihnya, insya’ Allah.
Maka beliau meletakkan tangannya pada dadaku, dan berkata: “Ingatlah
dengan kehendak Allah dan janganlah engkau lupa, insya’ Allah.” Maka aku
jatuh tak sadarkan diri. Ketika aku siuman, beliau berkata: “Bagaimana
keadaanmu wahai Mufadhdhal?” Aku jawab: “Aku merasa cukup dengan
pertolongan tuanku.”

Beliau memberikan penegasannya terhadap buku yang aku tulis yang ada
padaku ada dapat memuaskan orang yang membacanya. Maka untuk
Mawla-ku pujian dan rasa syukur. Sebagaimana Dia adalah Pemilik dan
Yang berhak menerimanya.

Beliau berkata: Wahai Mufadhdhal, bersihkan hatimu. Himpunlah pada


dirimu pikiran dan ketenanganmu sehingga aku dapat menyampaikan
kepadamu ilmu kerajaan langit dan bumi dan apa-apa yang Allah ciptakan di
antara keduanya beserta isinya berupa keajaiban-keajaiban penciptaan-Nya,
kelompok-kelompok malaikat; barisan, kedudukan dan tingkatan mereka
hingga ke sidarat-ul-muntaha, dan makhluk-makhluk lainnya dari golongan
jin dan manusia hingga bumi ketujuh yang paling bawah, dan apa-apa yang
ada di bawah tanah, hingga yang engkau perhatikan bagian demi bagian.
Kembalilah jika engkau mau menjadi teman yang terlindung. Engkau
termasuk di antara kami di tempat yang tinggi. Kedudukanmu pada hati
kaum Mukminin adalah seperti air janjikan kepadamu sehingga aku sendiri
yang akan menyampaikannya kepadamu.

Al-Mufadhdhal berkata: Maka aku kembali dari tuanku dalam keadaan yang
tidak pernah orang kembali seperti itu.