Anda di halaman 1dari 11

EKSTRAKSI ALGINAT

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Iriyana Rachmadhani : B1J009116 : II :2 : Anasia Kinanti

LAPORAN PRAKTIKUM FIKOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Alginat merupakan polimer murni dari asam uronat yang tersususn dalam bentuk rantai linier panjang. Bentuk alginat yang paling dijumpai adalah natrium alginat yaitu suatu garam alginat yang larut dalam air. Jenis alginat lain yang larut dalam air ialah kalium dan ammonium alginat, alginat yang tidak larut dalam air ialah kalsium alginat. Alginat dapat diekstrak dari Alginophyt, yaitu keluarga Phaeophyceae yang menghasilkan alginat antara lain dari Macrocystis, Ecklonia, Fucus, Lessinia, dan Sargassum. Alginat di dapat dalam bentuk alginik yaitu turunan dari selulosa dan asam pektik. Alginat berfungsi dalam industri sebagai pengental, pengatur keseimbangan, pengemulsi dan pembentuk lapisan tipis yang tahan terhadap minyak. Selain itu alginat digunakan dalam industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, keramik, fotografi, dan lain-lain. Sargassum termasuk kelompok alga cokelat (Phaeophya) yang tumbuh di perairan terlindung maupun berombak besar pada habitat berbatu. Talus berwarna coklat berbentuk silindris menyerupai pedang, bergerigi, melebar dengan percabangan monopodial serta mempunyai ukuran diameter 0,3-5 cm dan panjang 3-7 m (Dawes, 1981). Sargassum termasuk dalam kelompok alginophyt karena mampu menghasilkan alginat. Alginat merupakan polisakarida yang berstruktur linier sama yakni mempunyai gula kopolimer tidak lebih dari dua, tingkat kekentalan tinggi, tidak stabil di dalam larutan dan sukar larut pada suhu rendah (Glicksman, 1969) Alginat dalam dunia perdagangan biasanya berbentuk bubuk kasar, berwarna krem sampai coklat terang dan tidak berbau. Alginat banyak digunakan dalam berbagai bidang industri, seperti : industri tekstil, kertas, makanan, minuman dan farmasi. Dalam industri farmasi, alginat digunakan sebagai zat pensuspensi, penstabil emulsi dan pengikat tablet (Anggadiredja et al., 2006). Menurut Sugiarto et al. (1978), kadar alginat Sargassum sangat dipengaruhi oleh jenis dan kondisi lingkungan seperti suhu, intensitas cahaya, salinitas, pH, arus, gelombang dan kandungan bahan organik.

B. Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui proses ekstraksi alginat dan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi dari tiap tahapan ekstraksi. C. Tinjauan Pustaka Salah satu sumber daya hayati yang cukup potensial dari perairan laut Indonesia adalah rumput laut dengan berbagai macam jenisnya. Rumput laut merupakan bagian dari tanaman perairan, yang termasuk pada kelas makro alga. Rumput laut dimanfaatkan selain sebagai sayuran juga dipakai sebagai pupuk, komponen makanan ternak, dan makanan ikan (Atmadja et al., 1996). Alga juga dapat menghasilkan metabolit sekunder dengan cakupan luas aktivitas biologi termasuk anti-jamur, antibakteri, antibiotik, antifouling (AF), dan perlindungan radiasi UV (Thabard, 2011).Saat ini Indonesia masih merupakan eksportir penting di Asia. Sayangnya rumput laut masih banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah yaitu berupa rumput laut kering, sedangkan hasil olahan rumput laut seperti agar-agar, karaginan dan alginat masih banyak diimpor dengan nilai yang cukup besar (Andriani, 2006). Ekspor rumput laut tahun 2000 yaitu sebesar 23.073.441 kg, tahun 2001 adalah 27.874.058 kg, tahun 2002 adalah 28.559.855 kg dan 2003 adalah 40.162.137 kg dengan rata-rata ekspor rumput laut dalam negeri sekitar 28.950.755 kg/th (Anggadiredja et al., 2008). Namun, seiring dengan perkembangan teknologi rumput laut telah ditingkatkan pemanfaatannya sehingga memberikan nilai yang lebih tinggi misalnya sebagai bahan baku pembuatan alginat. Rumput laut coklat yang potensial untuk digunakan sebagai sumber penghasil alginat diantaranya adalah jenis Macrocystis, Turbinaria, Padina dan Sargassum sp. Kandungan alginat pada rumput laut coklat tergantung musim, tempat tumbuh, umur panen dan jenis rumput laut (Winarno, 1996). Alginat merupakan suatu kopolimer linear yang terdiri dari dua unit monomerik, yaitu asam D-mannuronat dan asam L-guloronat. Alginat terdapat dalam semua jenis algae coklat (Phaeophyta) yang merupakan salah satu komponen utama penyusun dinding sel. Alginat yang ditemukan dalam dinding sel algae coklat tersebut terdiri atas garam-garam kalsium, magnesium, natrium, dan kalium alginat (Kirk dan

Othmer, 1994). Sifat-sifat fisikokimia seperti viskositas dan rasio monomer penting artinya dalam pemanfaatan alginat pada berbagai industri misalnya industri makanan, minuman, kosmetik, cat, tekstil dan pemanfaatan lainnya. Viskositas dan gel strength merupakan dua karakteristik kunci dalam kualitas alginat. Rasio monomer yang menyusun alginat juga penting dalam pemanfaatan terutama dalam kaitan sifat bioaktifnya maupun sifat struktur dari gelnya. Viskositas maupun rasio monomer alginat juga dipengaruhi oleh spesies, asal dan proses ekstraksi dari alginatnya. Rasio monomer penyusun alginat berbeda-beda ditentukan oleh spesies alginofit yang menghasilkannya, dan tempat tumbuh alginofitnya (Rasyid, 2009). Sifat-sifat alginat sebagian besar tergantung pada tingkat polimerisasi dan perbandingan komposisi guluronat dan mannuronat dalam molekul. Asam alginat tidak larut dalam air dan mengendap pada pH < 3,5 sedangkan garam alginat dapat larut dalam air dingin atau air panas dan mampu membentuk larutan yang stabil. Natrium Alginat tidak dapat larut dalam pelarut organik tetapi dapat mengendap dengan alkohol. Alginat sangat stabil pada pH 5 10, sedangkan pada pH yang lebih tinggi viskositasnya sangat kecil akibat adanya degradasi - eliminatif. Ikatan glikosidik antara asam mannuronat dan guluronat kurang stabil terhadap hidrolisis asam dibandingkan ikatan dua asam mannuronat atau dua asam guluronat. Kemampuan alginat membentuk gel terutama berkaitan dengan proporsi L-guluronat (Rasyid, 2009).

III. MATERI DAN METODE A. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain : termometer, pH meter, timbangan, gelas piala, gelas ukur, ember, nampan, hot plate, piper, pipet ukur, pengaduk dan kain kasa. B. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu rumput laut Sargassum polycystum, akuades, NaOH 0,5%, HCL 0,5%, Na2CO3 5%, H2O2 6%, HCL 5%, NaOH 10% dan alkohol 95%. C. Cara Kerja Rumput laut Sargassum ditimbang sebanyak 20 gram Direndam dalam larutan NaOH 0,5% selama 30 menit dengan perbandingan 10 : 1 Direndam dalam larutan HCL 0,5% selama 30 menit dengan perbandingan 10 : 1 Ekstraksi ditambah larutan Na2CO3 7% dan dipanaskan dengan suhu 50C selama 3 jam Disaring menggunakan kassa Diatur pH dengan HCL 5% diamkan selama 5 jam Dipucatkan dengan H2O2 6% selama 1 jam dengan perbandingan 1 : 1 Ditambah NaOH 10% selama 5 jam Dimurnikan dengan menambahkan alkohol 95% dengan perbandingan 1 : 1 Pengeringan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Tabel hasil pengamatan ekstraksi Sargassum Perlakuan Tujuan Sargassum dipotong 3 cm, Mempermudah pelunakan, ditimbang 25 gr proses ekstraksi dan Direndam NaOH 0,5% 30 menghilangkan kotoran (10:1), dicuci, ditiriskan Direndam HCL 0,5% 30 (10:1), dicuci, ditiriskan Ekstraksi Na2CO3 Untuk 5% 2 jam (10;1), mengeluarkan alginat dari dinding sel dan o selulosa suhu 50 C Agar tidak terjadi degradasi sambil diaduk Supaya cepat hancur Disaring dengan kain blacu Memisahkan alginat dari selulosa Pengasaman HCl 5% (pH 2,8-3,2) 5 jam Pemucatan H2O2 6%, 1 jam (1:1) Pengendapan NaOH 10% (pH 8,5-9) 5 jam Pemurnian isopropanol 95%, Alkohol 95% Pengeringan suhu 25-30 oC Memperoleh asam alginat Mendegradasi warna supaya lebih cerah, sebagai oksidator Untuk memisahkan natrium alginat dengan asam alginat, agar alginat yang terbentuk stabil Terbentuk gumpalan alginat, menguatkn tekstur untuk memurnikan algin Untuk mengendapkan alginat berbentuk tepung Pengamatan/Hasil Kering, warna coklat Coklat keruh Coklat keruh, lebih lunak Warna coklat kehitaman, larutan agak kental

Alginat berbentuk cairan kental, warna coklat kehitaman 86 ml HCl, Muncul busa, warna coklat kehitaman Warna cokelat jernih Coklat jernih tanpa endapan Warna putih berbentuk gumpalan Warna kuning

Rendemen alginat =

Berat senyawaa lg inat X 100% Berat rumput laut ker ing

Berat awal alginat = 30 gram

Berat akhir/kering alginat = 29 gram Rendemen alginat = 29 gram 100% = 96,66% 30 gram

B. Pembahasan Dari data tersebut dapat terlihat bahwa selama berlangsungnya proses ekstraksi alginat terjadi perubahan-perubahan pada rendemen alginat. Tahap awal dilakukan proses pemotongan Sargassum sepanjang 10 cm agar memudahkan pelunakkan dan proses ekstraksi juga untuk menghilangkan kotoran. Kemudian direndam NaOH 0,5% selama 30 menit lalu cuci dan ditiriskan. Proses tersebut diulangi lagi dengan menggunakan perendaman HCl 0,5% dengan perbandingan 10:1. Pada proses ini Sargassum yang sebelumnya kering berwarna coklat menjadi lunak dan berwarna coklat keruh. Sesuai dengan pernyataan Dawson (1956) bahwa semakin tinggi konsentrasi bahan oksidator yang diberikan maka proses pemucatan akan berjalan semakin sempurna dan semakin lama waktu perendaman akan memungkinkan sejumlah pigmen santofil serta klorofil a dan c terlarut. Tahap selanjutnya dilakukan proses ekstraksi dengan Na2CO3 5% selama 2 jam dengan perbandingan 10:1 pada suhu 50oC agar tidak terjadi degradasi. Ekstraksi akan lebih mudah jika talus pada rumput laut direndam dan dipanaskan karena talus menjadi lebih lunak. Soegiarto et al. (1978) menyatakan optimalisasi proses ekstraksi sangat penting karena apabila ekstraksi dilakukan pda suasana asam dan suhu terlalu tinggi menyebabkan alginat mudah terhidrolisis sehingga akan menurunkan rendemen dan mutu tepung alginat yang didapatkan. Proses ini dilakukan terus-menerus diaduk agar rumput alut mudah hancur. Setelah itu untuk memisahkan alginat dari selulosanya, larutan tersebut disaring dengan menggunakan kain blacu. Proses ini menghasilkan alginat yang berbentuk cairan kental dan warna coklat kehitaman. Asam alginat diperoleh dari pengasaman HCL 5% selama 5 jam pada pH 2,83,2. guna perendaman HCl ini adalah untuk memecah dinding sel rumput laut. Hal ini didukukng dengan pernyataan Winarno (1990) bahwa penggunaan HCl pada alginat

akan memecah dinding sel sehingga memudahkan ekstraksi, karena HCl merupakan asam kuat dan akan terionisasi sempurna. Proses selanjutnya yaitu pemucatan dengan H2O2 6% selama 1 jam. Proses ini berguna untuk mendegradasi warna menjadi lebih cerah. Proses selanjutnya adalah pengendapan dengan NaOH 10% selama 5 jam untuk memisahkan natrium alginat dengan asam alginat dan juga agar membentuk alginat yang stabil. Terbentuk gumpalan pada saat pemberian isopropanol 95%, gumpalan ini dikenal dengan gumpalan alginat, yang selanjutnya dikuatkan teksturnya dan dimurnikan kandungan alginnya dengan penambahan alkohol 95%. Tahap akhir dari ekstraksi alginat adalah pengeringan pada suhu 25-30oC untuk mendapatkan alginat berbentuk tepung. Produk alginat yang dihasilkan pada praktikum ini berwarna kuning dengan berat akhir 60 gr. Produk alginat tersebut memenuhi standar warna alginat dalam dunia perdagangan yang berwarna kuning pucat hingga putih. Menurut Winarno (1990) alginat yang memiliki food grade, harus bebas dari selulosa dan warnanya sudah dipucatkan (bleached) sehingga terang atau putih. Rendemen hasil praktikum adalah 96,66%. Menurut Taylor (1979) semakin lama ekstraksi semakin tinggi pula rendemen yang didapat. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama waktu perendaman talus dengan HCl, nilai rendemen alginat dari ekstraksi alginat meningkat karena HCl akan memecah dinding sel rumput laut. Kandungan alginat dari rumput laut coklat tergantung dari umur, spesies dan habitat. Standar mutu secara umum dari alginat menurut Indriani dan Sumiarsih (1999) adalah pH 3,5-10, viskositas 10-5000 cps per 1% larutan air, kadar air 5-20%, logam berbahaya, arsen negatif. Ada pula penilaian lain bahwa mutunya tergantung penggunaan. Algin yang akan digunakan untuk campuran makanan harus bebas dari selulosa, berwarna putih terang. Algin dalam proses farmasi juga harus bebas dari selulosa dan berwarna putih bersih. Dalam industri lain, algin dapat mengandung sedikit selulosa dan berwarna coklat sampai jernih. Menurut Bold and Wynne (1985), alginat dimanfaatkan secara luas dalam berbagai tujuan komersial karena sifat emulsi atau kestabilannya. Polisakarida sulfat

dari ekstrak alga coklat yang larut dalam air disebut fukoidan. Komponen utama dari fukoidan adalah L-Fukosa (2-deoksi-L-mannosa), tetapi hidrolisis dari fukoidan juga menghasilkan D-xilosa, D-galaktosa, dan asam uronik. Salah satu kegunaan algin adalah sebagai bahan pembuat es krim dan para produsen es krim komersial menambahkan algin sebelum membekukan produk mereka. Hal ini dilakukan untuk mencegah es krim menjadi kristal es yang keras sehingga akan menghasilkan produk es yang lembut (Smith, 1955). Rendemen alginat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya seperti spesies, iklim, metode ekstraksi, waktu pemanenan, dan lokasi budidaya (Sukri, 2006). Winarno (1990) Rasyid (2010), menyatakan bahwa kandungan asam alginat dari batang alga pada tanaman yang lebih tua relatif lebih stabil dibandingkan dengan yang masih muda. Kemungkinan perbedaan usia panen (waktu pengambilan) juga berpengaruh terhadap kadar natrium alginat Sargassum sp. Faktor lainnya adalah perbedaan kondisi perairan pada waktu pengambilan sampel dilakukan. Seperti yang dikemukakan oleh Mchugh (2003) dalam Rasyid (2010), bahwa alginat terdapat pada dinding sel alga coklat yang berperan memberikan sifat fleksibilitas (kelenturan) terhadap alga itu sendiri. Itulah sebabnya, alga coklat yang tumbuh di perairan yang turbulen biasanya memiliki kandungan alginat yang lebih tinggi dibanding yang tumbuh di perairan yang relatif tenang.

V. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkn sebagai berikut : 1. Hasil rendemen yang diperoleh sebesar 96,66% dan berwarna kuning

2. Metode ekstraksi meliputi beberapa tahap yaitu demineralisasi, pencucian, ekstraksi, penarikan asam alginat menggunakan larutan HCl, pencucian, pertukaran ion H+ dengan ion Na dari larutan NaOH kemudian penarikan natrium alginat menggunakan alkohol dan pengeringan.

DAFTAR REFERENSI Andriani D. 2006. Pengolahan rumput laut (Eucheuma cottonii) menjadi tepung ATC (Alkali Treated Cottonii) dengan jenis dan konsentrasi larutan alkali yang

berbeda [skripsi]. Makassar : Fakultas Pertanian dan Kehutanan, Universitas Hasanudddin. Anggadiredja, Jana T., Achmad Zatnika, Heri Purwoto dan Sri Istini. 2006. Rumput Laut.Penebar Swadaya, Jakarta Aslan, M. Laode. 2006. Budidaya Rumput Laut Edisi Revisi. Kanisius, yogyakarta Atmadja, W. S. , A. Kadi, Sulistijo, dan Rachmaniar. 1996. Pengenalan Jenis-jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi, LIPI, Jakarta. Bold, H. C. and Wynne, M. J. 1985. Introduction to The Algae. Prentice-Hall Inc., New Jersey. Dawes, C. J. 1981. Marine Botany. John Wiley and Sons, New York. Glicksman, M. 1969. Gum Technology in the Food Industry. Academic Press, New York. Kirk dan Othmer. 1994. Encyclopedia of chemical technology. Fourth Edition. Volume 12. John Wiley dan Sons, New York. 1091 pp. Insan, A.I dan D.S. Widyartini. 2001. Makroalga. Fakultas Biologi UNSOED, S Rasyid A. 2009. Beberapa catatan tentang alginate. Buletin Ilmiah.vol XXX: 9-14. Smith, G. M. 1955. Cryptogamic Botany Volume I : Algae and Fungi. McGraw-Hill Book Company, Inc., New York. Soegiarto, A. Sulistijo., Atmadja dan H. Mubarak. 1978. Rumput Laut (Algae). Manfaat, Potensi dan Usaha Budidaya. Taylor, W.R. 1979. Marine Algae of The Eastern Tropical and Subtropical Coasts of the American. The University of Michigan Press, Amerika. Thabard. M. 2011. Sargassum polyceratium (Phaeophyceae, Fucaceae) surface molecule activity towards fouling organisms and embryonic development of benthic species. Botanica Marina 54 (2011): 147157 _ 2011 by Walter de Gruyter Berlin New York. DOI 10.1515/BOT.2011.014. Waryat dan T. Kurniasih. 2002. Rumput Laut : Aspek Gizi dan Pemanfaatannya dalam Industri Pangan. Warta Penelitian Perikanan Indonesia, 8:16-18. Winarno, F.G. 1986. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia, Jakarta. Winarno FG. 1996. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

Anda mungkin juga menyukai