Anda di halaman 1dari 19

nis diduga merupakan predisposisi timbulnya tukak lambung akut karsinoma.

Insiden kanker lambung khususnya tinggi pada anemia pernisiosa. Gejala gastritis kronis umumnya bervariasi dan tidak jelas antara lain perasaan perut penuh, anoreksia, dan distress epigastrik yang tidak nyata.
1. Factor Pemicu Timbulnya Gastritis

1) Factor makanan Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan model bahan makanan yang dikonsumsi tiap hari. (Persagi, 1999). Pada kasus gastritis ini diawali pola makan yang tidak teratur sehingga asam lambung meningkat, produksi HCl yang berlebihan dapat menyebabkan gesekan pada dinding lambung dan usus halus, sehingga timbul nyeri epigastrium. Pada akhirnya menimbulkan perdarahan. Pola makan dan konsumsi makan yang tidak sehat dapat menyebabkan gastritis, misalnya frekuensi makan yang kurang, dan jenis makanan yang dapat meningkatkan produksi HCl. (Uripi, 2002) 2) Faktor obat-obatan Setelah 45 tahun dipakainya asam salisilat di klinik pertama kalinya oleh Dreser (1893), dilaporkan timbulnya perdarahan karena aspirin. Lintott (1963), melakukan pemeriksaan gastrokopi secara berturut-turut pada 16 penderita yang minum tabel aspirin, asam salisilat atau kalsium asetil salisilat yang dihancurkan. 13 dari 16 penderita yang minum 15 gram aspirin, terlihat mukosa yang sudah hiperemik sampai perdarahan submukosa. Pada salah seorang dari 5 penderita yang diberi kalsium asetil salisilat, terlihat reaksi lokal pada daerah mukosa yang terdapat serbuk salisilat. Ternyata bahwa aspirin yang tidak larut (insolugle aspirin) dapat menyebabkan timbulnya iritasi lambung secara langsung (Hadi, 2000). Pada tahun 1985 Henning, melakukan observasi pasien decompensasi cordis yang mendapat terapi digitalis, ternyata timbul gastritis akut. Tahun 1954 Palmer, melaporkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan gastroskopi pada pasien yang minum aureomisin, terlihat gastritis akut yang ringan dengan erosi (Hadi, 2000). Obat-obatan yang mengandung salisilat misalnya aspirin (sering digunakan sebagai obat pereda nyeri) dalam tingkat konsumsi yang berlebihan dapat menimbulkan gastritis (Uripi, 2002). Efek salisilat terhadap saluran cerna adalah perdarahan lambung yang berat dapat terjadi pada pemakaian dalam dosis besar. Aspirin merupakan agen-agen yang sering (Prince, 2001). Penyebab paling umum dari gastritis erosive akut adalah pemakaian aspirin. 3) Faktor psikologis Stres baik primer maupun sekunder dapat menyebabkan peningkatan produksi asam lambung dan gerakan peristaltik lambung. Stres juga akan mendorong gesekan antar makanan dan dinding lambung menjadi bertambah kuat (Coleman,1995). Hal ini dapat menyebabkan terjadinya luka dalam lambung. Penyakit maag (gastritis) dapat ditimbulkan oleh berbagai keadaan yang pelik

sehingga mengaktifkan rangsangan/iritasi mukosa lambung semakin meningkat pengeluarannya, terutama pada saat keadaan emosi, ketegangan pikiran dan tidak teraturnya jam makan 4) Infeksi bakteri gastritis akibat infeksi dari luar tubuh jarang terjadi, sebab bakteri tersebut akan terbunuh oleh asam lambung. Kuman penyakit/infeksi bakteri gastritis umumnya berasal dari dalam tubuh penderita yang bersangkutan. Keadaan ini sebagai wujud komplikasi penyakit yang telah diderita sebelumnya (Uripi, 2002) 5) Patofisiologi Proses terjadinya gastritis akut bermula dari pemakaian aspirin, alcohol, garam empedu dan zat zat yang lain yang terlalu berlebihan sehingga merusak mukosa lambung dan mengubahpermabilitas sawar epitel, memungkinkan difusi balik asam HCl dengan akibat kerusakan jaringan khususnya pembuluh darah. Histamine dikeluarkan, merangsang sekresi asam dan pepsin lebih lanjut dan meningkatkan permeabilitas kapiler terhadap mukosa. Mukosa menjadi edema dan sebagian besar protein plasma dapat hilang. Mukosa dapat hilang mengakibatkan haemoragik interstitial dan perdarahan sehigga menjadi tukak. Membran mukosa lambung mejadi edema dan hiperemik dan mengalami erosi superfesial, bagian ini mengekskresi sejumlah getah lambung, yang mengandung sangat sedikit asam tetapi banyak mucus.Ulserasi superfesial dapat terjadi dan dapat menimbulkan hemorogi, pasien dapat mengalami ketidaknyamanan, sakit kepala, mual, muntah dan anoreksia. Beberapa pasien asitomatik.(Brunner & Suddarth, 2002: 1062). 6) Komplikasi Perdarahan saluran cerna bagian atas berupa hematomesis dan melena, dapat berakhir dengan schok haemoragik, ulkus, perforasi dan anemia karena gangguan absorbsi vitamin B12 juga merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita gastritis. (Arief Mansjoer, 2000; 493) 7) Diet Pada Gastritis Penyembuhan gastritis membutuhkan pengaturan makanan selain upaya untuk memperbaiki kondisi pencernaan. Menurut Uripi (2002), pemberian diet untuk penderita gastritis antara lain bertujuan untuk : a) Memberikan makanan yang adekuat dan tidak mengiritasi lambung b) Menghilangkan gejala penyakit c) Menetralisir asam lambung dan mengurangi produksi asam lambung d) Mempertimbangkan dan mempertahankan keseimbangan cairan

e) Mengurangi gerakan peristaltic lambung f) Memperbaiki kebiasaan makan pasien Adapun petunjuk umum untuk diet pada penderita gastritis antara lain: a) Syarat diet penyakit gastritis Makanan yang disajikan harus mudah dicerna dan tidak merangsang, tetapi dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi, jumlah energi pun harus sesuai dengan kebutuhan pasien. (Hembing, 2004) Porsi yang diberika kecil tapi sering, hindari makanan yang berlebihan. Biasanya pasien diberikan vitamin dan mineral dalam bentuk obat. (Uripi, 2002) b) Kebutuhan zat gizi Jumlah energi yang dikonsumsi harus disesuaikan dengan berat badan, umur, jenis kelamin, aktivitas dan jenis penyakit. Kebutuhan energi bagi pasien gangguan saluran pencernaan berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada table dibawah ini: Table 1.2 Kebutuhan Zat Gizi No Golongan umur (Thn) 1 Anak 2 <1 1-3 4-6 7-9 Remaja dan dewasa Pria 10-12 13-15 16-19 20-39 Kebutuhan Energi 1,090 kal 1,360 kal 1,830 kal 2,190 kal 2,600 kal 0,97 M X A 1,02 M X A 1,00 M X A 0,95 M X A 0,90 M X A 0,80 M X A

40-49 50-59 60-69 70 Wanita 10-12 13-15 16-19 20-39 40-49 50-59 60-69 70

0,70 M X A 2,350 kal 1,13 F X A 1,10 F X A 1,00 F X A 0.95 F X A 0,90 F X A 0,80 F X A 0,70 F X A

Sumber : persagi, penuntun diet ( Jakarta, gramedia, 1999 ). Keterangan : M : Berat badan X 46 kal = kebutuhan energi pria dewasa pada berat badan tertentu. F : Berat badan X 40 kal = kebutuhan energi wanita dewasa pada berat badan tertentu. A : Indeks aktivitas, ringan : 0,09, sedang : 1,00, aktif : 1,17. c) Jenis dan bentuk makanan Jenis makan yang diperbolehkan dan dilarang untuk konsumsi pada penderita gastritis dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 1.3 jenis dan bentuk makanan

Golongan bahan makanan Sumber hidrat arang

Makanan yang boleh diberikan Beras dibubur ,atau ditim , kentang, roti panggang, biscuit, tepung-tepungaan Sumber protein dibubur, atau untuk pudding. hewani Sumber protein Daging sapi empuk, hati, ikan, ayam digiling atau nabati dicincang,telur direbus, susu. lemak Sayuran Buah-buahan Margarine dan mentega Minuman bumbu Tahu, tempe direbus, kacang hijau direbus.

Makanan yang tidak boleh diberikan Beras ketan, mie, bihun, jagung, ubiubian, cake, dodol,kue-kue yang terlalu manis. Daging, ikan, dan ayam yang diawetkan, digoreng,telur digoreng. Tempe, tahu digoreng, kacang tanah, kacang merah.

Macam-macam lemak Sayuran yang tidak banyak hewan dan lemak santan. serat dan tidak menimbulkan gas, bayam, labu siam, wortel, tomat Sayuran mentah direbus, dan ditumis. Buah yang banyak Papaya, pisang, jeruk, sari serat dan buah, pir, dan peach dalam menimbulkan gas, kaleng. misalnya: nanas, kendndong,durian , nangka. Sirup dan teh Garam, gula, vestin, bawang dalam jumlah terbatas, kencur, jahe, kunyit, trasi, laos dan salam. Minuman yang mengandung alkohol, kopi atau kafein dan soda. Cabe, merica, cuka dan bumbu yang merangsang.

Sumber : persagi, penuntun diet (Jakarta, gramedia, 1999). 8) Penatalaksanaan Diet Meurut persagi (1999), dikenal empat jenis diet untuk penderita gastritis. Diet ini disesuaikan dengan berat ringan penyakit.

a) Diet Lambung 1 diberikan pada penderita gastritis berat disertai perdarahan, jenis makanan yang diberikan meliputi susu dan bubur susu yang dierikan tiga jam sekali Tabel 1.4 makanan yang diberikan sehari. Bahan makanan Susu Maizena Gula pasir Berat (gram) 1800 60 90 URT 9 gelas 12 sdm 9 sdm

Sumber : persagi, penuntun diet (Jakarta, gramedia, 1999). Tabel 1.5 Nilai gizi Gizi Energi Protein Lemak Hidrat arang Kalsium Besi vitamin A thiamin vitamin C Berat 1630 kal 59 gram 63 gram 213 gram 2,6 gram 2,0 gram 2340 SI 0,5 mg 18 mg

Sumber : persagi, penuntun diet (Jakarta, gramedia, 1999). Tabel 1.6 pemberian makan sehari. Jam pemberian Pukul 07.00 Jenis makanan Bubur susu Jumlah 200 ml = 1 gelas

Pukul 10.00 Pukul 13.00 Pukul 15.00 Pukul 18.00 Pukul 20.00

Susu Susu Bubur susu Susu Susu Bubur susu Susu Susu

200 ml = 1 gelas 200 ml = 1 gelas 200 ml = 1 gelas 200 ml = 1 gelas 200 ml = 1 gelas 200 ml = 1 gelas 200 ml = 1 gelas 200 ml = 1 gelas

Sumber : persagi, penuntun diet (Jakarta, gramedia, 1999) b. Diet Lambung 2. Untuk penderita gastritis yang sudah dalam perawatan, makanan yang diberikan berup makanan saring atau cincang, pemberian tiap tiga jam. Tabel 1.7 bahan makanan yang diberikan sehari. Bahan makanan Beras Maizena Biskuit Daging Telur Susu segar Papaya Sayuran Margarine Gula pasir Berat (gram) 60 60 90 100 150 900 200 100 20 70 URT 9 gelas bubur saring 10 sdm 2 buah 1/3 gelas saring 3 butir 4,5 gelas 1 gelas saring 1 gelas 2 sdm 7 sdm

Sumber : persagi, penuntun diet (Jakarta, gramedia, 1999). Tabel 1.8 nilai gizi Gizi Energi Protein Lemak Hidrat arang Kalsium Besi vitamin A thiamin vitamin C Jam pemberian Pagi Pukul 10.00 Siang dan sore Pukul 16.00 Pukul 20.00 Berat 1990 kal 73 gram 84 gram 236 gram I,2 gram 128 mg 10103 SI 0,9 mg 174 mg Jumlah 15 gram = 3 sdm 300 gram = 1,5 gelas 50 gram = 1 butir 20 gram = 2 sdm 15 gram = 3 sdm 300 gram = 1,5 gelas 20 gram = 2 sdm 30 gram = 1 gelas bubur 50 gram = 1 gelas bubur saring 50 gram = 1 butir Sayuran 50 gram = 0,5 gelas Sumber : persagi, penuntun diet (Jakarta, gramedia, 1999). Tabel 1.9 pemberian makan sehari.

Jenis makanan Maezena Susu Telur Gula pasir Maezena Susu Gula pasir Beras Daging Telur

Papaya Margarine Maezena

bubur saring 100 gram = gelas buur saring 10 gram = 1 sdm

Susu 15 gram = 3 sdm Gula pasir 100 ml = 0,5 gelas Susu 10 gram = 1 sdm biskuit 200 ml = 1 gelas 20 gram = 2 buah Sumber : persagi, penuntun diet (Jakarta, gramedia, 1999). c. Diet Lambung 3 menu untuk penderita gastritis yang tidak begitu berat atau ringan, bentuk makanan harus lunak dan diberikan enam kali sehari. Tabel 1.10 bahan makanan yang diberikan sehari. Bahan makanan Beras Roti Maezena Daging Telur Susu Sayuran Buah (pepaya) Margarine Gula pasir Berat (gram) 90 40 30 100 100 600 200 200 35 70 URT 2 gelas bubur 2 potong 6 sdm 2 potong sedang 2 butir 3 gelas 2 gelas 2 potong sedang 3 sdm 7 sdm

Sumber : persagi, penuntun diet (Jakarta, gramedia, 1999). Tabel 1.11 nilai gizi Gizi Energi Protein Lemak Hidrat arang Kalsium Besi vitamin A thiamin vitamin C Berat 1921 kal 61 gram 74 gram 257 gram 0,8 gram 17,8 mg 10469 SI 0,9 mg 134 mg

Sumber : persagi, penuntun diet (Jakarta, gramedia, 1999). Tabel 1.12 pemberian makan sehari Jam pemberian Pagi Pukul 10.00 Siang Sore Pukul 16.00 Pukul 20.00 Jenis makanan jumlah Beras 30 gram = 1 gelas bubur Telur 50 gram = 1 butir Sayuran 50 gram = gelas Margarine 50 gram = sdm Gula pasir 10 gram = 1 sdm Maezena 15 gram = 3 sdm Susu 300 gram = 1 gelas Gula pasir 25 gram = 2 sdm 30 gram = 1 gelas

Beras Daging Sayuran

bubur 50 gram = 1 potong sedang 75 gram =3/4 gelas

Papaya 100 gram = 1 potong Margine 10 gram = 1 sdm Beras Daging Sayuran Papaya 75 gram = gelas margarine 100 gram = 1 potong Maezena 1o gram = 1 sdm Susu 15 gram = 3 sdm Gula pasir 300 ml = 1 gelas Roti 25 gram = 2 sm Margarine 400 gram = 2 potong Telur 10 gram = 1 sdm Gula pasir 50 gram = 1 buah 10 gram = 1sdm Sumber : persagi, penuntun diet (Jakarta, gramedia, 1999). d. Diet lambung 4 Menu diet ini diberikan pada penderita gastritis ringan, makanan dapat berbentuk makanan lunak atau biasa ( tergantung toleransi penderita ). Tabel 1. 13 bahan makanan yang diberikan sehari 30 gram = 1 gelas bubur 50 gram = 1 potong sedang

Bahan makanan Beras Maezena Biscuit Daging Telur Susu Tempe Sayuran Buah ( papaya ) Minyak Gula pasir

Berat( gram ) 200 15 20 100 50 400 100 200 200 25 40

URT 4 gelas tim 3 sdm 2 buah 2 potong sedang 1 butir 2 gelas 4 potong sedang 2 gelas 2 potong sedang 2 sdm 4 sdm

Sumber : persagi, penuntun diet (Jakarta, gramedia, 1999). Tabel 1. 14 nilai gizi Gizi Energi Protein Lemak Hidrat arang Kalsium Besi vitamin A thiamin vitamin C Berat 2080 kal 74 gram 65 gram 303 gram 0,8 gram 21,3 mg 9055 SI 0,9 mg 132 mg

Sumber : persagi, penuntun diet (Jakarta, gramedia, 1999). Tabel 1.15 pemberian makanan sehari. Jam pemberian Pagi Pukul 10.00 Siang dan sore Pukul 16.00 Jenis makanan Beras Telur Sayuran Gula pasir Minyak Maezena Susu Gula pasir Beras Daging Tempe Sayuran Papaya Minyak Biscuit 10 gram = 1 sdm Susu 20 gram = 2 biji Gula pasir 200 gram = 1 gelas 10 gram = 1 sdm Sumber : persagi, penuntun diet (Jakarta, gramedia, 1999). Hubungan antara pola makan dengan peningkatan kekambuhan gastritis. 50 gram = 1 potong sedang 75 gram = gelas 100 gram = 1 potong sedang Jumlah 50 gram = 1 gelas tim 50 gram = 1 butir 50 gram = gelas 10 gram = 1 sdm 5 gram =1/2 sdm 15 gram = 3 sdm 200 gram = 1 gelas 20 gram = 2 sdm 75 gram = 1 gelas 50 gram = 1 potong sedang

Gastritis biasanya diawali oleh pola makan yang tidak teratur sehingga lambung menjadi sensitive bila asam lambung meningkat. Pola makan yang teratur dan baik merupakan salah satu penatalaksanaan gastritis dan merupakan tindakan preventive untuk mencegah kekambuhan gastritis. ( uripi, 2002 )
1. B.

Pola Makanan

2. Kerangka Teori

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

1. A. Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitaian ini adalah metode korelasional dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Penelitian Cross Sectional adalah penelitian analitik yang menyangkut bagaimana variabel sebab atau faktor resiko dan variabel akibat atau kasus yang terjadi dikumpulkan secara simultan, sesaat atau satu kali saja dalam satu kali waktu (dalam waktu yang bersamaan), yaitu penelitian mencari hubungan antara pola makan dengan frekuensi kekambuhan gastritis (Notoadmojo, 1993).
1. B. Kerangka Konsep

Keterangan : Gastritis Gambar 3.1. Kerangka konsep hubungan antara pola makan

dengan frekuensi kekambuhan gastritis


1. C. Hipotesa

Ha : Ada hubungan antara pola makan dengan frekuensi kekambuhan gastritis Ho : Tidak Ada hubungan antara pola makan dengan frekuensi kekambuhan gastritis

1. D. Variabel Penelitian

1.Variabel independen 2.Variabel dependen

: pola makan : frekuensi kekambuhan gastritis

1. E. Definisi operasional

Definisi Operasional Variabel pola makan independent yaitu cara klien makan Pola makan berkaitan dengan Variabel dependen frekuensi jumlah Frekuensi danjenis kekambuhan makanan yang gastritis dikonsumsi yang relatif tetap Variabel Terjadinya kembali serangan gastritis dalam 1 bulan terakhir

Parameter
1. frekuensi makan 2. jenis makanan 3. jumlah makanan

Alat Ukur skore Kuisioner dengan skore : Kuisioner 17-24 : pola makan baik 9-16 : pola makan kurang baik 0-8 : pola makan buruk Jawaban : a=1 b=0 dengan skor 0-2 : frekuensi kekambuhan ringan 3-4 : frekuensi kekambuhan sedang 5-6 : frekuensi kekambuhan berat

skala Ordinal Ordinal

Kekambuhan lebih dari 2 kali sama dengan jumlah diagnosa pasti gastritis dari kunjungan pertama sampai dengan kunjungan berikutnya

1. F. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Explanatory Survy (Penelitian penjelas) yaitu penelitian yang menyoroti hubungan antara variabel yang telah ditetapkan dan menguji hipotesis yang telah dirumuskan . Peneliti ini menggunakan pendekatan cross sectional diman subyek yang diteliti satu kali pada satu saat.

G. Polulasi dan Sampel


1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang akan diteliti (Arikunto, 2002). Pada penelitian ini populasinya adalah semua penderita gastritis yang berkunjung ke rumah sakit wismarini pringsewu dalam 1 bulan terakhir. Besarnya populasi adalah 450 orang.
1. Sampel 1. Besar Sampel

Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah Synestetik random sampling. Besarnya sampel yang diambil dengan rumus yang di formulasikan oleh Vincent Gaspersz Keterangan n : Sampel

N : Jumlah populasi P Z : Proporsi : Tingkat kepercayaan

G : Galat penduga
1. Teknik pengambilan sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah semua pasien gastritis yang terpilih untuk diteliti berdasarkan hasil pengambilan sampel secara Synesmatik sampling. Pengambilan sampel, dimana hanya unsur pertama saja dari sampel dipilih secara kebetulan, sedangkan unsur-unsur lainya dipilih secara sisitimatis menurut suatu pola tertentu. Hal ini bertujuan agar diperoleh sampel yang merata semua penderita gastritis di Ruma Sakit. Rumus untuk mengambil sampel adalah sebagai berikut : Keterangan : K : Interval N : Jumlah Populasi n : Jumlah Sampel
1. H. Pengumpulan Data

Berdasarkan sumber data, maka pada penelitian ini dapat digolongkan menjadi dua yaitu :

1. Data Primer

Yaitu data yang diperoleh dari jawaban responden terhadap pertanyaan dalam kuisioner , meliputi data : pola makan terhadap frekuensi kekeambuhan gastritis
1. Data sekunder

Yaitu data yang mendukung kelengkapan data primer yang di kumpulkan secara tidak langsung dari sumber-sumber yang telah ada meliputi data dari Rumah sakit Wisma Rini
1. I. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan lebih baik hasilnya, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2002). Instrumen yang digunakan adalah kuisioner untuk variabel independen yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya (Arikunto, 2002). Dan untuk variabel dependen juga menggunakan kuisoner yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang akan menjadi dasar penjelasan tentang keadaan klien.
1. J. Pengolahan Data

Dari data yang telah dikumpulakan perlu dipilah-pilah dalam beberapa kelompok, diadakan kategorisasi sehingga data tersebut punya makna untuk menjawab permasalahan dan bermanfaat untuk menguji hipotesis.
1. Editing

Setelah data dikumpulkan maka dilakukan edit untuk meneliti setiap kuisioner yang sudah dikembalikan, apakah sudah lengkap terisi atau belum.
1. Koding

Data yang diklarisifikasikan dari responden kemudian pengkodean dilakukan oleh peneliti untuk memudahkan dalam mengelola data.
1. Entri Data

Memasukkan data yang diperoleh kedalam program komputer.


1. Tabulasi

Menyajian data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan tabel silang antara dua variabel

K. Analisa Data Analisa data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah hasil dari editing, koding, entri data, tabulasi. Kemudian data tersebut dianalisis dengan program SPSS Versi 10 for Window. Analisis data dibuat dalam bentuk Analisis yang terbagi menjadi dua bagian :
1. Analisis Univariat

Untuk menggambarkan distribusi frekuensi mengenai prosentase adanya pola makan dengan gastritis.
1. Analisis Bivariat 1. Bivariat Deskriptiv

Yaitu untuk menganalisis hubungan antara variabel bebas (pola makan ) dengan variabel terikat (gastritis)
1. Bivariat analitik

Untuk menganalisis ada tidaknya hubungan variabel bebas (pola makan) dengan variabel terikat (gastritis) dengan menggunakan uji statistik Chi Square (X2) 1) Tujuan uji Statistik

Untuk menganalisis hubungan pola makan dengan frekuensi kekambuhan gastritis. 2) Rumus

Adapun rumus yang digunakan X2 = ( O-E)2

Share this:

Twitter Facebook1

Like this: Like Be the first to like this post. Tags