Anda di halaman 1dari 2

LAPORAN KASUS

Dermatofitosis e.c Tinea corporis


Rianyta
Dokter PTT di Puskesmas Kelapa Kampit, Belitung Timur, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia

Pendahuluan Penyakit infeksi jamur, masih memiliki prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia, mengingat negara kita beriklim tropis yang mempunyai kelembapan tinggi.1 Jamur bisa hidup dan tumbuh di mana saja, baik di udara, tanah, air, pakaian, bahkan di tubuh manusia. Jamur bisa menyebabkan penyakit yang cukup parah bagi manusia. Penyakit tersebut antara lain mikosis yang menyerang langsung pada kulit, mikotoksitosis akibat mengonsumsi toksin jamur yang ada dalam produk makanan, dan misetismus yang disebabkan oleh konsumsi jamur beracun. 2 Laporan kasus ini membahas Tinea Corporis, salah satu contoh dermatofitosis. Dermatofitosis merupakan infeksi jamur superfisial genus dermatofita, pada lapisan epitel yang berkeratinisasi (lapisan tanduk), jarang menginfeksi lebih dalam, ditandai dengan lesi inflamasi maupun non inflamasi pada daerah kulit berambut halus (glabrous skin) dan tidak dapat hidup pada membran mukosa (vagina, mulut).1, 3, 4, 5 Kadangkadang lesinya menyerupai penyakit kulit lain, sehingga sangat diperlukan ketepatan mendiagnosis. Laporan kasus Seorang perempuan, suku Melayu, sudah menikah berusia 30 tahun, datang ke poli rawat jalan puskesmas dengan keluhan gatal di perut dan tangan sejak 1 tahun yang lalu. Awalnya muncul gelembung kecil, berwarna putih bening seperti jerawat di bagian perut, gatal (+), oleh pasien digaruk, kemudian pecah dan meluas sampai seluruh perut dan tangan. Pasien berobat sendiri, diberi bedak Herocyn (bals.peruv 2%, zinc.oxide 3,5%, precip sulph 1,42%, salicylic acid 0,8%, camphor 0,3%, menthol 0,47%, deodorant q.s, preservative q.s, talc ad 100%), sehari tiga kali, namun gatal tidak juga berkurang. Rasa gatal akan bertambah bila terkena keringat. Kemudian oleh pasien didiamkan saja, sehingga lama kelamaan bertambah luas dan berwarna merah. Pasien bekerja di perusahaan kelapa sawit, di bagian pemupukan (memakai pupuk Urea dan KCl). Sakit seperti ini sebelumnya (-), riwayat alergi (-), riwayat kencing manis di keluarga (-), pemakaian sarung tangan dan sepatu bot (+) sewaktu bekerja.
CDK 183/Vol.38 no.2/Maret - April 2011

Pemeriksaan fisik (6 Agustus 2009) : Keadaan umum tampak sakit ringan, compos mentis, tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi napas 20 kali/menit, suhu 36 C, nadi 80 kali/ menit, berat badan 47 kg, tinggi badan 149 cm, IMT 21,17 kg/m2 (BB normal) Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik, pupil isokor +/+, pembesaran kelenjar getah bening leher (-). Paru-paru dalam batas normal, jantung dalam batas normal. Status Lokalis : Abdomen : Inspeksi : makula eritema, anular, tersebar difus, berbatas tegas, pinggir lesi polisiklik dan agak meninggi, dengan papul dan vesikel di tepi. Daerah tengah relatif lebih tenang, skuama (+), likenifikasi (+). Palpasi : hepar dan lien tidak teraba, massa intraabdomen (-) Perkusi : timpani Auskultasi : bising usus (+) normal Akral hangat, edema (-) Pemeriksaan tambahan : tidak diperiksa kerokan kulit, mengingat reagen periksa tidak tersedia. Penatalaksanaan Pasien diberi Khlorpheniramin maleat 4 mg (3x1 tablet), ketokonazole 200 mg (1x1 tablet), ketokonazol salep (2x per hari). 10 Agustus 2009 Keluhan saat kontol : rasa gatal (-) Obat dilanjutkan, ditambah vitamin C 50 mg (3x1 tablet), vitamin B komplek (3x1 tablet). (Foto 1) Foto 1. Saat kontrol 10 Agustus 2009

19 Agustus 2009 Keluhan saat kontrol : gatal (-) Obat dilanjutkan (Foto 2). Foto 2. Saat kontrol 19 Agustus 2009

5 September 2009 Keluhan saat kontrol : (-) Obat dilanjutkan. kontrol kembali tanggal 28 September 2009 Foto 3. Saat kontrol 5 September 2009

28 September 2009 Keluhan : (-) Obat dilanjutkan, sampai bagian pinggir lesi sembuh. Pasien diberi informasi, walaupun sudah sembuh, obat tetap dilanjutkan sampai 2 minggu, mengingat penyakit ini mudah berulang. Pasien tidak perlu kontrol kembali.

115

LAPORAN KASUS
Foto 4. Saat kontrol 28 September 2009: tepi tampak vesikel-vesikel kecil dengan skuama halus dan aktif. Dijumpai daerah penyembuhan sentral. Biasanya rasa gatal bertambah jika berkeringat.1, 3, 6 Pemeriksaan penunjang menggunakan sediaan dari bahan kerokan (kulit, rambut dan kuku) dengan larutan KOH 10-30%. Dengan pemeriksaan mikroskopis akan terlihat elemen jamur dalam bentuk hifa panjang, spora dan artospora (spora berderet). Dengan pembiakan, bertujuan untuk mengetahui spesies jamur penyebab; bahan sediaan kerokan ditanam dalam agar Sabouroud Dekstrose, untuk mencegah pertumbuhan bakteri dapat ditambahkan antibiotika (contoh; khloramfenicol) ke dalam media tersebut. Perbenihan pada suhu 2430C. Pembacaan diakukan dalam waktu 1-3 minggu. Koloni yang tumbuh diperhatikan mengenai warna, bentuk, permukaan dan ada atau tidaknya hifa.1 Pada pasien dengan lesi dermatofitosis yang luas, perlu dipikirkan kemungkinan infeksi HIV, riwayat atopik, serta pengobatan jangka panjang dengan steroid.4 Pada kasus ini, terlihat lesi dermatofitosis yang cukup luas di badan, namun keadaan gizi baik, pemeriksaan fisik dalam batas normal, tidak ada riwayat alergi, tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka waktu lama. Pada status lokalis didapatkan gambaran pertumbuhan jamur, ditambah faktor pekerjaan dan lingkungan yang berisiko terinfeksi jamur. Pasien diterapi secara topikal dan sistemik dengan antifungi golongan Azol (ketokonazol) selama kurang lebih satu bulan, dan menunjukkan perubahan yang cukup berarti. Simpulan Seorang perempuan, pekerja perkebunan kelapa sawit, usia 30 tahun,menderita infeksi Tinea Corporis yang cukup luas di bagian perut; mendapatkan pengobatan antifungi topikal dan sistemik golongan Azol (ketokonazol) selama kurang lebih satu bulan. Kombinasi ini menghasilkan resolusi yang cukup berarti, pengobatan dilanjutkan selama 2 minggu, mengingat penyakit ini sering residif.

Pembahasan Tinea Corporis mengacu pada infeksi jamur superfisial pada daerah kulit halus tanpa rambut, kecuali telapak tangan, telapak kaki. Dinamakan Tinea Corporis karena berdasarkan bagian tubuh yang terkena, yaitu di badan dan anggota badan; disebabkan oleh golongan jamur Epidermophyton, Trichophyton, dan Microsporum.4 Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa dan cabang- cabangnya di dalam jaringan keratin yang mati, hifa melepaskan keratinase serta enzim lainnya guna menginvasi lebih dalam stratum korneum dan menimbulkan peradangan, walaupun umumnya, infeksi terbatas pada epidermis, karena adanya mekanisme pertahanan tubuh non spesifik, seperti komplemen, PMN, aktivasi faktor penghambat serum (serum inhibitory factor) namun kadang-kadang dapat bertambah/meluas. Masa inkubasinya sekitar 1-3 minggu. Tinea Corporis merupakan infeksi yang umum terjadi pada daerah dengan iklim hangat, lembab; sekitar 47% disebabkan oleh Trichophyton Rubrum. Infeksi dermatofitosis jarang menimbulkan kematian, akan tetapi dapat memberikan efek yang besar terhadap kualitas hidup.3 Diagnosis dermatofitosis memerlukan gabungan data klinis, gambaran status lokalis dan pemeriksaan penunjang. Manifestasi klinis berupa pertumbuhan jamur dengan pola radial di dalam stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit sirsinar dengan batas jelas dan meninggi yang disebut ringworm, tepi polisiklik, daerah

DAFTAR PUSTAKA
1. Nasution MA, Muis Kamaliah, Juwono, dkk. Diagnosis dan penatalaksanaan dermatofitosis. Cermin Dunia Kedokteran, edisi khusus 1992, 80:116-118 2. Wed. Jangan anggap remeh jamur kulit. 25 Mei, 2004. sumber : http://gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1085454401,65023. 3. Lesher Jr JL. Tinea corporis. December 2, 2005. Available from URL: www.medscape.com 4. Baligni K, Vardi VL, Barzegar MR et al. Extensive tinea corporis with photosensivity.: case report. Indian J. Dermatol 2009,54:57-59. 5. Stoppler MC. Ringworm (tinea) causes, symptoms, diagnosis and treatment. Available from URL: www.medicinenet.com 6. Fauci L. Miscellaneous mycoses and algal infections. In: Fauci, Braunwald, Kasper, et al. Harrisons principles of internal medicine. 17th ed. USA: McGraw-Hill Co. Inc. 2008; 1263-65

116

CDK 183/Vol.38 no.2/Maret - April 2011