Anda di halaman 1dari 5

Sumargo setyo aji A0920024 PENGUJIAN ANTIDIARE 1.

Defenisi Diare adalah defekasi yang sering dalam sehari dengan feses yang lembek atau cair, terjadi karena chymus yang melewati usus kecil dengan cepat pula sehingga tidak cukup waktu untuk absorbs, hal ini menyebabkan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. (Adnyana, 2004) Diare akut timbul secara mendadak dan berhenti cepat, umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau kuman, dan berlangsung dalam waktu kurang dari dua minggu, sedangkan diare kronik atau diare berulang adalah diare yang timbul perlahan dapat berlangsung berminggu-minggu, dapat berupa gejala fungsional atau akibat penyakit berat (Tan dan Rahadja, 2002).

2. Klasifikasi diare Mellinkoff membagi klasifikasi diare berdasarkan gangguan faal yaitu : 1) Dorongan di dalam usus normal yang terlalu cepat disebabkan oleh : a. Rangsangan saraf yang abnormal terdapat pada Psychoganic diarhea atau keracunan Mecolyl. b. Pengaruh zat kimia terhadap motililas yang abnormal, misalnya pada sindroma karsinoid, penyakit Addsoris thirotoksikosis. c. Iritasi pada intestine, misalnya pada pemakaian Oleum ricini, Kolitis ulserativa, perikolil abses, Amebiasis, Uremik kolitas dll. d. Hilangnya simpanan dikolon misalnya, pada dekstruksi spchincterani, ileostomi dan lain-lain.

2) Gangguan pencernaan makanan, karena : a. Hilangnya fungsi reservoir dari lambung misalnya pada postgastrektomi timbul sindroma dumping. b. Penyakit pancreas. c. Insufisiensi sepanjang intestine.

d. Kemungkinan adanya sekresi abnormal dari HCl, misalnya pada sindroma Zollinger Ellison.

3) Absorpsi abnormal pada pencernaan makanan misalnya, a. Penyakit hati. b. Penyakit pada intensin c. Obstruksi mesenterik misalnya karsinomatosis atau pada TBC. Moses membagi berdasarkan penyebabnya : 1) Infeksi A. Parasit seperti : Amebiasis, Balantidiasis, Helmintiasis B. Bakterial seperti : Escheria Coli, Basiler disentri, Para cholera El Tor, Salmonellosis, tuberculous enterokolitis, Enteropathogenic, Staphylococcus enterokolitis C. Enteroviral : virus gastroenteritis, keracunan makanan, karena toksin bakteri, misalnya : Botulisme, Staphylococcus, atau toksin yang dikeluarkan oleh makanan sendiri. 2) Diare akibat obat-obatan, seperti antibiotic, quinidin, colchicin, digitalis, reserpin, laksatif dan obat-obatan yang lain. 3) Diare yang etiologinya tidak past, misalnya : Pseudomembranus enterocolitus. 4) Diare Psichogenic. Diare terjadi akibat gangguan mekanisme tubuh,yaitu: 1. Kurangnya absorbsi zat osmotic dari lumen usus, disebut diare osmotic. 2. Sekresi cairan dan eletrolit yang meningkat, disebut diare sekretorit 3. Absorbsi elektrolit berkurang, diare jenis ini yang sering terjadi pada sindrom kolon (irritatif) dan hypertiroid. Sindrom karsinoid sebagian juga disebabkan juga pada peningkatan pristaltik akibat pengaruh serotonin 4. Motilitas usus yang meningkat / hyperistaltik atau waktu transit yang pendek 5. Sekresi eksudat, disebut diare eksudatif. Diare ini terjadi pada koilitis ulserosa da pada penyakit crohn.selain itu diare pada amebiasis dan infeksi mengenai mukosa menimbulkan peradangan dan eksudasi cairan serta mukos.

3. Pembagian obat diare (Tan dan Rahardja, 2002) Golongan-golongan obat yang sering digunakan pada diare adalah : a. Kemoterapeutika, untuk terapi kausal b. Obstipansia, untuk terapi simptomatik c. Spasmolitik, yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang sering mengakibatkan nyeri perut pada diare.

TUJUAN PERCOBAAN Dapat mengetahui sejauh mana aktifitas obat antidiare dapat menghambat diare yang di sebabkan oleh oleum ricini . PRINSIP PERCOBAAN Berdasarkan Metode transit intestinal . Metode transit intestinal dapat digunakan untuk mengevaluasi aktivitas obat antidiare, laksansia, antispasmodik, berdasarkan pengaruhnya pada rasio jarak usus yang ditempuh oleh suatu marker dalam waktu tertentu terhadap panjang usus keseluruhan pada hewan percobaan mencit atau tikus. Obat diare akan memperkecil rasio, sedangkan obat laksansia dan obat antispasmodik akan memperbesar rasio ini dibandingkan rasio pada hewan tanpa perlakuan.

Alat yang digunakan : Alat pemotong sampel, batang pengaduk, corong, rotapavor, gelas kimia 100 ml, dan 250 ml (pirex), gelas ukur 100 ml (pyrex), kandang mencit, kompor listrik, labu ukur 100 ml (pyrex), pipet volume, seperangkat alat maserasi, spoit oral, Oven listrik, timbangan analitik, timbangan O'hauss, alat pengukur (mistar), meja bedah

Bahan yang digunakan : Larutan NaCl fisiologis 0,9%, suspensi gom arab 20% diwarnai hitam dengan norit 5% sebagai marker, Air suling, etanol, daun salam (S. polyanthum [wight.] Walp.), Loperamid-HCl, kertas saring, Natrium karboksimetilselulosa (Na-CMC).

Prosedur percobaan 1. Penyiapan dan determinasi Sampel Uji Sampel berupa daun salam (S. polyanthum [wight.] Walp.) diambil di Desa Manyampa Kecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba, dengan cara dipetik/dipotong secara manual dan dideterminasi di laboratorium FarmakognosiFitokimia Fakultas Farmasi UMI. Setelah dideterminasi sampel dicuci bersih, dipotong-potong kecil dengan diameter 5 mm, dan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan dan tidak terkena sinar matahari langsung,atau dikeringkan dalam oven pada suhu kurang dari 40oC.

2. Pembuatan bahan penelitian a) Ekstraksi ([Ditjen POM] 1986, Tobo 2001, Amin 2008) Simplisia ditimbang sebanyak 500 gram, dimasukkan dalam bejana maserasi, lalu ditambahkan etanol hingga seluruh simplisia terendam, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari dan sesering mungkin diaduk, kemudian disaring ke dalam wadah penampung. Pengerjaan ini diulangi sebanyak 3 kali dan ekstrak cair yang diperoleh dikumpulkan kemudian diuapkan dengan rotavapor (Rotary Vacuum Epavorator) hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak kental ditimbang sebanyak 1 gram dan disuspensikan dengan Na.CMC 100 ml, hingga diperoleh konsentrasi 1% hal yang sama dilakukan untuk membuat konsentrasi 2% dan 3%.

b) Pembuatan Suspensi Loperamid-HCl (Amin 2008) Suspensi Loperamid-HCl dibuat dengan cara menimbang 20 tablet lodia kemudian dihitung bobot rata-ratanya tiap tablet, lalu semua tablet digerus halus. Ditimbang serbuk tablet lodia sebanyak 66,5 mg yang setara dengan 0,5 mg loperamidHCl (dosis 2 mg/kgBB). Kemudian dimasukkan dalam lumpang. Ditambah larutan koloidal NaCMC 1% b/v sedikit demi sedikit sambil digerus hingga homogen. Dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml dan volumenya ducukupkan dengan larutan koloidal NaCMC 1% b/V hingga 100 ml.

3. Penyiapan dan Pengelompokan Hewan Uji ([KKIPM] 1993) Hewan uji yang yang digunakan sebanyak 25 ekor dipuasakan makan selama lebih kurang 18 jam, minum tetap diberikan. Setelah ditimbang, hewan dikelompokkan secara rawu yang dibagi dalam 5 kelompok, tiap kelompok terdiri dari

5 ekor, kelompok I sebagai kontrol, kelompok II sebagai pembanding dan kelompok III, IV dan V sebagai kelompok uji.

4. Pengujian Sampel terhadap Hewan Uji Mencit ([KKIPM] 1993) Pada waktu t=0, semua kelompok diberi perlakuan secara oral. Kelompok kontrol (I) diberi larutan fisiologis 1 ml/100 g BB. Kelompok pembanding (II) diberi obat suspense Loperamid-HCl 0,0008% dengan volume pemberian 1 ml/100 g BB dan kelompok III, IV, dan V masing-masing diberi ekstrak etanol daun salam (S. polyanthum [wight.] Walp.) dengan konsentrasi 1%, 2% dan 3%, dengan volume masing-masing sebanyak 1 ml / 100 g BB. Setelah t=45 menit semua hewan diberi suspense norit secara oral 0,1 ml/10 g BB. Pada t=65 menit semua hewan dikorbankan secara dislokasi tulang leher. Usus dikeluarkan secara hati-hati, sampai teregang. Panjang usus yang dilalui marker norit mulai dari pylorus sampai ujung akhir (berwarna hitam) diukur. Demikian pula panjang seluruh usus dari pylorus sampai rectum dari masing-masing hewan. Kemudian dari masing-masing hewan dihitung rasio normal jarak yang ditempuh marker terhadap panjang usus seluruhnya.