Anda di halaman 1dari 23

1

LEARNING OBJECTIVE I PROPRIETARY AND ENTITY THEORY

Terdapat dua teori untuk membantu memahami akuntansi, kedua teori tersebut adalah Teori Kepemilikan (Proprietary Theory) dan Teori Entitas (Entity Theory). Teori Kepemilikan (Proprietary Theory) dibuat berdasarkan gagasan bahwa proprietor (atau pemilik) adalah centre of attention (pusat dari perhatian). Pada pandangan ini, semua konsep, prosedur dan aturan akuntansi diformulasikan dengan kepentingan pemilik. Sementara, Teori Entitas menerangkan bahwa bisnis adalah entitas yang terpisah dan akuntansi mencatat transaksi dari entitas.

Proprietary Theory Proprietorship merepresentasikan kekayaan bersih (net worth) pemilik, dan dapat direpresentasikan dengan persamaan akuntansi sebagai berikut: Aktiva Kewajiban = Ekuitas Pemilik, atau P = A - L

Di mana P mewakili kekayaan bersih (net worth) pemilik dari suatu bisnis. Seperti yang Sprague tekankan: Neraca dari Proprietorship merupakan penjumlahan semua elemen pada waktu tertentu yang membentuk kekayaan dari beberapa orang atau kumpulan orang... Maksud secara keseluruhan dari usaha bisnis adalah meningkatkan kekayaan, yang juga mengarah pada peningkatan Proprietorship.

Di sini aset dimiliki oleh Proprietor dan liabilities menjadi kewajiban dari Proprietor. Konsep dari pendapatan meningkatkan kekayaan bersih, yang mana

merupakan return untuk entrepreneurship. Ketika pemilik atau perwakilan dari pemilik melakukan keputusan dan aksi, maka perusahaan akan memperoleh pendapatan, dan di sisi lain, beban pun akan timbul akibat keputusan tersebut. Pendapatan dan beban ini merupakan cabang dari akun P, yang secara sementara terpisah untuk maksud menentukan profit dari pemilik. Pendapatan meningkat di Proprietorship; beban berkurang di Proprietorship. Vatter menjelaskan: Teori dari double entry didasarkan dari ide bahwa akun expense and revenue memiliki karakteristik secara aljabar yang sama sebagai kekayaan bersih, misalnya akun-akun yang condong untuk meningkatkan kekayaan bersih meningkat di sisi kredit, akun-akun yang condong menurunkan kekayaan bersih berada di sisi yang berbeda.

Perubahan pada net worth berasal dari pendapatan-aktivitas produksi seperti perubahan pada nilai aset. Misalnya, nilai intrinsik pada headline koran akan meningkatkan nilai dan dapat menarik perhatian pembaca ketika koran tersebut dijual. Pada kasus ini,argumennya adalah peningkatan pada kekayaan bersih dari proprietor harus diakui, meskipun perubahan pada kekayaan merupakan pendapat saja sampai saatnya koran benar-benar terjual kepada pihak ketiga. Permasalahan akuntansi di sini adalah mengukur pendapat perubahan pada nilai.

Pada jangkauan yang besar, praktik akuntansi saat ini berdasarkan Teori Kepemilikan. Dividen dipertimbangkan sebagai distribusi dari profit daripada beban karena mereka merupakan pembayaran kepada pemilik. Di sisi lain, bunga pinjaman dan pajak penghasilan dipertimbangkan sebagai beban karena mereka mengurangi kekayaan pemilik. Untuk persero dan persero komanditer, gaji yang dibayar kepada pemilik yang bekerja dalam bisnis tidak dipertimbangkan sebagai beban, karena pemilik dan perusahaan adalah entitas yang sama, sehingga tidak dapat diperhitungkan sebagai beban. Metode ekuitas untuk investasi jangka panjang mengakui kepemilikan atau kepentingan kepemilikan dari perusahaan investor. Itu juga mengotorisasi perusahaan investor untuk mencatat sebagai profit

setiap persentase kepemilikan dari profit investee. Pada laporan keuangan konsolidasi, perusahaan induk menggunakan teori kepemilikan, dimana perusahaan induk dilihat sebagai pemilik dari perusahaan cabang, sedangkan para minority interest merepresentasikan kelompok outsiders. Jangkauan dari minority interest dianggap sebagai pengurangan dalam kepemilikan.

Dalam pandangan proprietary, tidak ada perbedaan antara aset milik proprietor dan aset milik entitas. Jadi semua profit entitas didistribusikan kepada pemilik perusahaan. Pandangan proprietary mengenai akuntansi berkembang ketika bisnis masih kecil dan sebagian besar proprietorship dan partnership. Ketika perusahaan berkembang lebih besar, teori ini terbukti tidak cukup menjelaskan akuntansi perusahaan, karena: Perusahaan terpisah dari pemiliknya Perusahaan merupakan entitas hukum dalam menjalankan haknya Sharehoders bergantung pada manajer untuk mendapatkan informasi No longer so relevant

Entity Theory Teori Entitas diformulasikan pada cela pandangan proprietary dengan mempertimbangkan pemisahan status legal dari perusahaan. Teori Entitas memandang entitas sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda dari mereka yang menyediakan modal bagi entitas tersebut. Teori ini dimulai dengan fakta bahwa perusahaan adalah entitas yang terpisah dengan indentitas kepemilikan. Martin merangkum dua asumsi terkait yang terkandung dalam pendapat dari accounting entity: 1. Separation (pemisahan) Untuk maksud akuntansi, perusahaan dipisah dari pemiliknya.

2.

Viewpoint Prosedur akuntansi dijalankan dari viewpoint perusahaan. Meskipun teori entitas ini lebh cocok untuk corporate accounting, para pendukung percaya bahwa itu dapat diterapkan di proprietorship, partnership dan bahkan perusahaan nirlaba, yang menyediakan: Akun dan transaksi yang diklasifikasikan dan dianalisis dari point of view entitas sebagai operating unit, dan Prinsip dan prosedur akuntansi tidak diformulasikan dalam single interest seperti proprietorship.

Memang benar bahwa entitas bukan merupakan orang dan tidak dapat bertindak atas kesepakatannya sendiri. Entitas merupakan sebuah institusi, walaupun begitu entitas merupakan benda yang sangat nyata, argumen dari Paton. Untuk perusahaan, ketika share capital diterbitkan, hidup dari perusahaan tidak tergantung dari hdup shareholder-nya. Dapat dikatakan bahwa, dari perspektif akuntansi, sebuah entitas dapat didefinisikan sebagai area manapun dari kepentingan ekonomi yang memiliki keberadaan yang terpisah dari pemiliknya.

Ketika perspektif entitas diambil, tujuan akuntansi dapat menjadi stewardship atau accountability. Versi tradisional dari teori entitas adalah bahwa perusahaan bisnis beroperasi untuk kebaikan atau memberikan manfaat bagi equityholders, mereka yang menyediakan dana untuk entitas. Entitas harus melaporkan kepada equityholders mengenai status dan konsekuensi dari investasi mereka. Pada interpretasi yang lebih baru, memandang bahwa entitas sebagai bisnis untuk dirinya sendiri dan tertarik dengan kelangsungan hidupnya sendiri. Karena hal ini berkaitan dengan kelangsungan hidupnya sendiri, entitas bisnis melaporkan kepada equityholders agar memenuhi persyaratan hukum dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan mereka ketika banyak dana dibutuhkan di masa yang akan datang.

Meskipun kedua pandangan berfokus pada entitas sebagai unit yang independen, pandangan tradisional melihat equityholders sebagai mitra dalam bisnis, sedangkan pandangan yang sekarang melihat mereka sebagai outsiders. Dalam teori entitas ini, fokus persamaan akuntansi adalah aset dan kewajiban. Kekayaan bersih dari proprietor bukanlah konsep yang tidak berguna, karena entitas merupakan pusat dari perhatian. Pemilik dan creditors dipandang sebagai equityholders, penyedia dana. Persamaan akuntansi adalah sebagai berikut: Assets = Equities atau Aset = Ekuitas

Aset milik perusahaan dan liabilities merupakan kewajiban perusahaan, bukan pemilik. Hal ini memang diperdebatkan karena dana yang diinvestasikan oleh equityholders harus dihitung, tujuan ini secara logis akan mengarahkan pada penggunaan historical cost untuk non-monetary assets, karena total di sisi kanan dari posisi laporan keuangan harus sama dengan sisi kiri laporan keuangan. Setelah menerima dana yang disediakan oleh equityholders, perusahaan menginvestasikan dana tersebut ke dalam aset. Untuk non-monetary assets, ini merupakan harga beli original. Current value mendukung teori entitas mengasumsikan investor tidak cukup dekat terlibat dalam bisnis untuk membuat penyesuaian nilai mereka sendiri. Oleh karena itu, akuntabilitas harus menyiratkan penyesuaian ini, atau perubahan dalam nilai, harus dilaporkan. Hal ini juga dapat diperdebatkan bahwa entitas perlu untuk tahu current value dari asetnya ntuk membuat keputusan yang benar.

Dalam pandangan entitas, pendapatan didefinisikan sebagai arus masuk dari aset karena transaksi yang dilakukan oleh perusahaan dan beban yang berkaitan dengan biaya dari aset dan jasa lain yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan pendapatan pada periode tersebut. Konsep proprietor memfokuskan pada P dari persamaan akuntansi. Konsep entitas memfokuskan pada sisi lain dari persamaan, aset.

Karakteristik dasar dari pendapatan adalah menghasilkan lebih banyak aset padahal beban pada akhirnya memperkecil aset: Teori akuntansi, oleh karena itu, harus menjelaskan konsep dari penerimaan (pendapatan) dan beban dimana aset perusahaan berubah daripada peningkatan atau pengurangan dalam ekuitas shareholders atau proprietors.

Kesimpulannya, kita dapat mengatakan bahwa baik teori proprietary dan entity berpengaruh secara praktek. Teori akuntansi tradisional/konvensional berdasarkan konsep entitas, dan laporan keuangan merefleksikan pandangan entitas, dengan fokus pada dividen dan EPS. Perusahaan trade dalam saham mereka, yang menganjurkan pasar menerima bahwa mereka merupakan entitas terpisah. Bagaimanapun, teori proprietary berpengaruh. Sebagai contoh, berdasarkan konsep proprietary, perubahan suku bunga dianggap sebagai beban dan dividen sebagai distribusi keuntungan.

LEARNING OBJECTIVE II LIABILITIES DEFINED

Utang

merupakan

elemen

kunci

dalam

akuntansi.

Akuntan

wajib

mempertimbangkan bagaimana mendefinisikan utang, kapan mereka seharusnya diakui dan bagaimana mengukur mereka. mendefinisikan liabilitas sebagai: Kewajiban saat ini dari entitas yang muncul dari kejadian masa lampau, yang mana penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan pada IASB Framework paragraph 49(b)

pengeluaran sumber daya perusahaan yang membentuk keuntungan ekonomi.

Dari definisi tersebut, dapat memperoleh dua komponen utama, yaitu: Keberadaan kewajiban saat ini, mengharuskan penyelesaian di masa depan Hasil dari transaksi atau kejadian di masa lalu

Present Obligation Definisi Framework menyatakan bahwa liabilitas diharapkan untuk memberikan peningkatan pengeluaran dari keuntungan ekonomi. Definisi ini, mirip dengan aset, berfokus pada kejadian di masa mendatang. Karena itu, pengorbanan aktual sudah dilakukan. Pertimbangan yang mendasarinya adalah bahwa kewajiban sudah muncul dalam hubungannya dengan pengorbanan di masa mendatang.

Framework, paragraph 62, mengakui bahwa penyelesaian kewajiban dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti pembayaran kas, memberikan aset lain, ketentuan jasa, penggantian kewajiban dengan kewajiban lain, perubahan

kewajiban menjadi modal, atau kreditur melepaskan kewajiban. Dari metodemetode penyelesaian kewajiban ini, hanya dua metode pertama yang meliputi pengeluran aset yang diakui oleh entitas.

Past Transaction Persyaratan bahwa kewajiban seharusnya merupakan hasil dari kejadian di masa lampau, memastikan bahwa liabillitas di masa sekarang yang dicatat dan bukan yang pada masa mendatang. Namun, kondisi di masa lalu seperti apakah yang dapat diterima? Persyaratan ini merupakan hal yang paling penting dalam menentukan ada atau tidaknya kewajiban.

Kontrak yang sudah dilakukan secara keseluruhan merupakan hal menarik untuk menginterpretasikan kejadian masa lalu. Pertanyaannya adalah apakah menandatangani kontrak menciptakan kewajiban? Sebagai contoh, apakah kewajiban membeli yang tidak bersyarat merupakan kewajiban? Pertimbangkan situasi di mana pembeli setuju untuk membayar sejumlah uang tertentu secara berkala untuk memperoleh barang atau jasa, dan pembayaran ini dilakukan tanpa memperhatikan apakah pembeli sudah menerima barang atau jasa tersebut. Pembeli diwajibkan membuat pembayaran secara berkala, bahkan jika jasa tersebut gagal memuat kuantitas minimum. Pada tahap ini, ada persetujuan di antara dua pihak, yang mana belum dilakukan oleh keduanya. Dengan mengasumsikan bahwa pembeli harus melakukan pembayaran tanpa

memperhatikan produk atau jasa diterima, keharusan untuk mengorbankan keuntungan ekonomi di masa mendatang (dengan membayar uang) kepada entitas lain muncul sejak penandatanganan kontrak. Oleh karena itu, kewajiban pembelian tidak bersyarat merupakan liabilitas, yang mana muncul dari peristiwa di masa lalu, yaitu penandatanganan kontrak. Kewajiban muncul meskipun belum dilakukan.

Liability Recognition Pada saat definisi dari liabilitas ditemukan, akuntan membutuhkan aturan untuk menentukan bagaimana hal ini harus diakui. Jenis aturan yang digunakan sebelumnya mirip dengan yang digunakan dalam pengakuan aset, meliputi: Bergantung pada hukum Jika ada tuntutan hukum yang memaksa secara legal, maka sedikit keraguan bahwa liabilitas tersebut ada. Meskipun kewajiban yang adil atau konstruktif tercakup dalam definisi liabilitas, kebanyakan liabilitas

ditentukan berdasarkan ada atau tidaknya tuntutan legal terhadap entitas yang harus dipenuhi. Penentuan substansi ekonomi dari peristiwa Apakah kewajiban nyata yang muncul? Seberapa penting bagi pengguna pencatatan dan penyajian liabilitas pada neraca? Perusahaan James Hardie menemukan bahwa beberapa karyawanny dan keluarga mereka menderita penyakit karena konsekuensi pertambangan dan tinggal di anatara asbes di Wittenoom di Australia Barat. Perusahaan mengakui hal ini memiliki kewajiban nyata untuk menyediakan kompensasi untuk penderita penyakit yang berhubungan dengan asbes ini. Selain itu, juga diketahui bahwa pemegang saham, investor, dan karyawan (pengguna informasi keuangan) akan sangat memperhatikan jumlah yang ditunjukkan dalam neraca untuk liabilitas (yaitu perkiraan kewajiban perusahaan). Pemegang saham dan investor memperhatikan jumlah yang pengeluaran keuntungan ekonomi yang berhubungan dengan penyelesaian tuntutan kompensasi, sementara itu karyawan dan keluarga mereka memperhatikan seberapa banyak yang sudah disediakan perusahaan untuk memenuhi tuntutan sekarang dan yang potensial di masa mendatang. Beberapa tahun belakangan ini, banyak pemangku kepentingan (seperti pemegang saham, kreditur, karyawan, dan kelompok komunitas) yang lebih memperhatikan kewajiban perusahaan yang berhubungan dengan pengaruhnya pada lingkungan.

10

Kemampuan untuk mengukur nilai dari liabilitas Kriteria ini berhubungan dengan menentukan nilai liabilitas. Untuk beberapa liabilitas, nilai diwakilkan dengan nilai kontrak, seperti jumlah uang yang dibayarkan untuk barang dan jasa yang diterima. Dalam hal pesangon, jumlah nominal dari liabilitas mewakili jumlah yang harus dibayar untuk menyelesaikan liabilitas. Namun, liabilitas yng meliputi periode lebih dari 12 bulan, kita harus memperhitungkan nilai waktu dari uang. Oleh karena itu, perhitungan nilai liabilitas akan berdasarkan pada nilai sekarangg dari aliran kas yang diharapkan pada masa mendatang, dan bukan nilai nominal.

Penggunaan prinsip konservatif Sejak dulu, akuntan sudah mengambil pendekatan konservatif untuk mengakui asset dan liabilitas. Secara umum, mereka mencatat liabilitas lebih awal daripada asset karena lebih aman untuk kurang catat asset daripada liabilitas. Tetapi, ada permasalahan utama dengan keputusan perusahaan untuk mengadopsi pendekatan konservatif untuk pengukuran. Pada titik mana perusahaan terlalu konservatif, sehingga bias terjadi dalam pengukuran? Pembuat keputusan mencari informasi netral (tidak bias) untuk membuat keputusan. Jika informasi bias, karena perusahaan menginginkan menampilkan gambaran tertentu melalui informasi keuangannyam pembuat keputusan memiliki informasi yang berisik untuk mendasari keputusannya. Pada kenyataanya, mereka bahkan membuat keputusan yang berbeda jika informasi yng tidak bias yang ditampilkan.

IASB Framework IASB Framework menyediakan panduan dalam hal mengakui elemen-elemen dalam neraca dan laporan laba rugi. Paragraf 82 menyatakan bahwa jenis yang memenuhi definisi dari elemen harus diakui jika:

11

(a) item ini memungkinkan (probable) keuntungan ekonomi di masa mendatang yang berhubungan dengan jenis yang akan mengalir menuju atau dari entitas; dan (b) item ini memiliki biaya atau nilai yang dapat diukur dengan andal.

Paragraf 91 memberikan panduan spesifik tambahan, menyatakan bahwa liabilitas diakui dalam neraca ketika hal ini memungkinkan (probable) pengeluaran sumber daya yang pembentuk keuntungan ekonomi yang mana merupakan penyelesaian dari kewajiban masa sekarang dan jumlah penyelesaian dapat diukur secara andal. Dalam praktiknya, sangat sulit untuk menerapkan criteria ini. Misalnya, apa yang dimaksud dengan mungkin (probable)? Hal ini dapat diartikan lebih mungkin daripada kurang mungkin (more likely than less likely). Namun, perbedaan perkiraan kemungkinan dari sebuah kejadian oleh individu dapat bervariasi

sehingga menyebabkan ketidakkonsistenan dalam pengukuran.

Apakah yang dimaksud dengan pengukuran yang andal? Frameworks menyatakan bahwa pengukuran yang andal merupakan pengukuran yang bebas dari kesalahan dan bias yang material; lebih jauh, bahwa jenis tersebut diukur sehingga faithfully represents apa yang menjadi pokok untuk diwakilkan (paragraf 31). Framework menyatakan secara spesifik bahwa liabilitas tidak dapat dimasukkan jika mereka tidak dapat diukur secara andal (para. 86). Satu contoh adalah tindakan hukum. Jika kerugian yang dibayar tidak dapat diestimasikan secara andal, maka jenis tersebut tidak dapat diakui sebagai liabilitas. Contoh tindakan hukum mengilustrasikan pilihan yang dibuat antara relevance dan reliability. Pengeluaran keuntungan ekonomi di masa mendatang yang mungkin yang mana berhubungan dengan perkara hukum merupakan informasi yang relevan, tetapi untuk mengakui jumlah yang tidak tepat dapat menyesatkan pengguna informasi keuangan.

12

Beberapa orang memandang pengukuran yang andal berarti pengukuran yang dapat dibuktikan, yaitu pengukuran dari liabilitas dapat dihubungkan dengan bukti yang objektif seperti jumlah kontrak atau nilai pasar. Tetapi, dalam banyak kasus akuntan harus menggunakan penilaian untuk membuat perkiraan terbaik mereka untuk liabilitas. Misalnya kewajiban untuk penuntutan garansi. Akuntan menggunakan data masa lalu yang relevan (seperti tingkat penuntutan sebelumnya) dan informasi yang diprediksi (seperti tingkat penjualan) untuk memperkirakan liabilitas. Jika perkiraan cukup andal (yang mana hanya dapat diketahui di masa mendatang) maka informasi ini dapat juga relevan bagi pengguna informasi keuangan. Bukti bahwa ada perbedaan pandangan mengenai bagaimana mendefinisikan dan kapan bag mengakui liabilitas muncul sebagai bagian dari proyek IASB/FASB pada conceptual framework.

13

LEARNING OBJECTIVE III LIABILITY MEASUREMENT

Kerangka (framework) yang ada menyediakan sedikit petunjuk mengenai cara untuk mengukur liability yang dapat memenuhi kriteria definisi dan recognition. Berdasarkan IFRS, metode yang banyak dipakai untuk mengukur liability adalah biaya historis (historical cost). Sedangkan pengukuran dengan fair value digunakan dalam pengukuran awal transaksi liability yang berhubungan dengan lease (ISA 17), Recognition and measurement of financial instrument (IAS 39), share based payment (IFRS 2) dan business combination (IFRS 3).

Dalam IAS 17 paragraf 4, konsep fair value dijelaskan sebagai jumlah pertukaran aset atau liability yang ditetapkan oleh pihak-pihak dalam transaksi. Sehingga, pengukuran liability yang timbul dari finance lease diakui berdasarkan fair value dari lease (harga pasar dari property lease) atau nilai sekarang dari pembayaran minimum lease apabila jumlahnya lebih kecil (IAS 17 paragraf 20). Pada tahuntahun berikutnya, pengukuran liability didasarkan pada metode biaya amortisasi, di mana biaya liability awal disesuaikan dengan dasar tahunan untuk mencerminkan estimasi current value. Saldo beredar dari liability didasarkan pada metode effective interest rate dari amortisasi (paragraf 25). Pada kasus lainnya, pengukuran liability dengan fair value menimbulkan beberapa penolakan. Bagaimana cara mengestimasi fair value dari liability yang tidak memiliki nilai pasar? Banyak liability yang ditetapkan (settled), bukan diperjualbelikan.

Tabel di bawah menunjukkan jenis-jenis metode pengukuran liability dalam IFRS. Metode yang paling banyak digunakan adalah metode amortised cost yang merupakan modifikasi dari metode historical cost. Dua contoh di mana pengukuran fair value digunakan adalah pada post employment obligation seperti pensiun (IAS 19/AASB 119 employee benefit) dan provision jangka panjang (IAS 37/AASB 137 Provisions, Contingent liabilities and contingent assets). Keduanya kasus tersebut merupakan liabilitas jangka panjang dan dipengaruhi oleh time

14

value of money. Semakin lama waktu jatuh temponya, maka present value dari liabilitas akan lebih rendah. Hal ini dikarenakan perusahaan memperoleh keuntungan dari kemampuan untuk mendapatkan bunga dari dana yang saat ini tidak digunakan untuk membayar liabilitas.

Subsequent measurement of liabilities in IFRS consolidated financia lstatement Usual measurement basis allowed by IFRS and adopted in practice Non Current Liabilities Long term borrowing Finance lease obligation Defined benefit post employment obligation Deferred tax Long term provisions Current Liabilities Trade payable Derivative Short term borrowing Ourrent portion of long term borrowing Other financial liabilities Current tax payable Short-term provision amortised cost amortised cost present value of expected payment less fair value of plan assets expected payment present value of expected payment amortised cost fair value amortised cost amortised cost amortised cost expected payments expected payments Fair Value Option No No No No No No No No Yes No No

Employee Benefits- Pension (Superannuation) Plans Di banyak negara, perencanaan pensiun ditetapkan oleh pemberi kerja untuk menyediakan manfaat retirement bagi pekerja. Pemberi kerja melakukan pembayaran kepada dana pensiun untuk membiayaan pembayaran ketika pekerja pensiun. Perencanaan pensiun dapat contributory (pekerja dan pemberi kerja berkontribusi terhadap dana) maupun non contributory (hanya pemberi kerja). Dana pensiun dapat fully funded, partially funded atau unfunded. Perencanaan fully funded memiliki kas atau investasi yang cukup untuk memenuhi kewajiban pendanaan kepada anggota. Sebaliknya, perencanaan unfunded tidak memiliki kas atau investasi untuk menutupi kemungkinan pengeluaran dalam perencanaan. Sampai tingkat mana jumlah yang dipegang dan dibayarkan kepada dana pensiun

15

tidak cukup memenuhi kewajiban yang seharusnya sesuai dengan perencanaan, maka dana pensiun dikatakan underfunded.

Karena dana pensiun merupakan entitas legal dan terpisah dari perusahaan, maka ada anggapan bahwa perencanaan dengan komitmen unfunded bukan merupakan liabilitas perusahaan pemberi kerja untuk membayarkan dana. Tetapi, ada pendapat bahwa perusahaan memiliki kewajiban yang pantas untuk memenuhi komitmen unfunded tersebut, sehingga memiliki liabilitas. Whittred, Zimmer dan Taylor memberikan contoh dari sebuah perusahaan yang membiarkan dana pensiun gagal, kemudian konsekuensinya perusahaan kehilangan reputasi di mata buruh dan pasar. Berdasarkan framework dan IAS 37/AASB 137, sulit untuk memperlihatkan bahwa komitmen unfunded bukanlah liabilitas.

Perencanaan pensiun dapat dipandang sebagai sebuah perjanjian dari entitas untuk menyediakan uang pensiun kepada pekerja sebagai pengembalian dari jasa pekerja sekarang dan masa lalu. Manfaat pensiun menjadi kompensasi yang diberikan oleh perusahaan, di mana pekerja menerima kompensasi lebih rendah saat ini untuk pengembalian pensiun di masa mendatang.

Provisions and Contingencies Provisions dan contingencies muncul ketika batasan antara obligasi present dan future menjadi kabur. IAS 37/AASB 137 Provision, Contingent Liabilities and Contingent Asset, menyatakan bahwa semua provision menjadi contingent karena memiliki waktu atau jumlah yang tidak pasti. Mencoba untuk membedakan antara kewajiban present, future dan potential (contingent) tidak mudah, dipengaruhi oleh tingkat sifat dasar (nature) dari past event.

IAS 37 / AASB 137 paragraf 10 mendefinisikan contingent liability sebagai: a. Kewajiban yang mungkin timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaanya diperjelas oleh kejadian peristiwa masa depan yang tidak pasti, bukan dari pengendalian perusahaan.

16

b. Kewajiban saat ini yang timbul dari peristiwa masa lalu tetapi tidak diakui karena: Tidak mungkin bahwa outflow dari manfaat ekonomis penambahan sumber daya akan dibutuhkan untuk menyelesaikan kewajiban Jumlah kewajiban tidak dapat diukur dengan cukup andal.

Pada IAS 37/AASB 137 paragraf 14, kriteria pengakuan provision konsisten dengan kriteria framework untuk pengakuan liabilitas. Misalnya liabilitas dan provision dapat diakui ketika terdapat present obligation, mungkin bahwa outflow dari manfaat ekonomis penambahan sumber daya digunakan untuk menyelesaikan kewajiban dan jumlah kewajiban dapat diukur dengan andal. Sedangkan contingent liability tidak memenuhi kriteria tersebut. Paragraf 27 menyatakan kategori bahwa contingent liabilities tidak diakui dalam laporan keuangan. IAS 37 sekarang berada dibawah tinjauan IASB pada bagian projek liabilitas. Salah satu proposal adalah untuk mengeliminasi istilah provision dan contingent liability menjadi non financial liability.

IAS 37 berdampak membatasi kegunaan provision. Berdasarkan IAS 37, liabilitas tidak dapat diakui sampai dengan kejadian dari suatu peristiwa mengharuskan sacrifice of assets melalui laporan entitas. Pada paragraf 86, dinyatakan bahwa dalam beberapa keadaan, catatan akun diharuskan karena pengetahuan liabilitas tersebut relevan bagi pengguna laporan keuangan dalam mengambil dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya yang langka. Sehingga, future settlement mungkin diharuskan, tetapi estimasi kemungkinannya tidah cukup besar untuk menjamin pengakuan secara formal. Tes probabilitas subjektif menyediakan peluang bagi perusahaan untuk meniadakan liabilitas dari laporan keuangan. Tetapi, liabilitas harus tetap diungkapkan ketika informasi

mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pengguna. Owners Equity Modal merupakan konsep fundamental terakhir yang terangkum dalam persamaan akuntansi, yang mana mewakili nilai net assets (assets dikurangi liabilities).

17

Modal merepresentasikan kepemilikan dalam sebuah perusahaan. Modal juga merupakan klaim atau hak sang pemilik atas aset bersih perusahaan. Modal bukanlah kewajiban untuk menyerahkan aset kepada perusahaan, melainkan sebuah klaim. Sebagai akibat dari nature-nya, jumlah yang tertera di balance sheet tergantung pada tidak hanya bagaimana aset dan kewajiban diakui, akan tetapi juga bagaimana mereka diukur. Pertanyaan yang paling sering terlintas ketika menyajikan nilai equity adalah apakah item tersebut merepresentasikan kewajiban ataukah modal perusahaan bersangkutan. Terdapat 2 buah petunjuk yang dapat membantu dalam menentukan apakah mengarah pada kewajiban ataukah modal perusahaan, yakni: 1. Rights of the parties Hak untuk pihak-pihak yang terlibat dapat berasal dari hukum ataupun kebijakan perusahaan sehubungan dengan hak terhadap entitasnya. Hak kreditor dan pemilik berkaitan dengan penggunaan aset atau operasi bisnis perusahaan. Kreditor tidak memiliki hak untuk menggunakan aset yang dimiliki perusahaan, selain yang tertulis dalam kontrak. Kreditor juga tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan strategis yang berkaitan dengan bisnis. Namun, terkadang dalam kontrak disebutkan bahwa kreditor dapat terlibat dalam penentuan retained earnings dan aset mana saja yang bisa dijual berdasarkan persetujuan mereka. Di sisi lain, pemilik modal memiliki hak untuk menjalankan otoritasnya terkait bisnis perusahaan. 2. Economic substance Baik kewajiban dan modal perusahaan mengandung klaim terhadap entitas. Yang membedakan hanyalah seberapa besar risiko yang ditanggung. Umumnya kreditor menanggung risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan pemilik modal. Pada beberapa perusahaan, derajat risiko untuk kreditor dan pemilik modal bergantung pada hak yang dimiliki. Kreditor memiliki hak untuk ikut serta dalam settlement (penyelesaian). Sementara, pemilik modal memiliki hak untuk berpartisipasi dalam operasi bisnis. Kreditor menanggung less risk, dan mendapatkan imbal hasil yang tetap (fixed return). Di sisi lain, pemilik modal menanggung risiko yang lebih besar namun menghasilkan imbal hasil yang bervariari (kadangkala tinggi).

18

Berikut merupakan hubungan antara economic substance dan rights:

RIGHTS

ECONOMIC SUBSTANCE

Interest & settlement; Participation in profits

Risk and return

Use of assets

Control

Pemilik modal memiliki kontrol dalam akuisisi, komposisi, penggunaan dan disposisi dari aset perusahaan. Mereka juga memiliki kontrol atas operasi bisnis dan bertanggungjawab atas berjalannya kegiatan usaha untuk tetap bertahan dalam pasar dan meraih profitabilitas.

Concept of Capital Perlakuan akuntansi untuk shareholders equity dipengaruhi oleh hukum dan legal. Modal dapat dikonseptualisasikan sebagai invested money atau sebagai invested financial capital atau sebagai physical capital perusahaan. Lebih lanjut, modal dapat diukur dengan nominal mata uang atau skala purchasing power.

Classifications within owners equity Retained earnings mungkin cocok untuk tujuan tertentu, namun yang perlu digaris bawahi adalah retained earnings bukanlah aset. American Accounting Association menjelaskan bahwa terdapat 3 tipe apropriasi retained earnings: Didesain untuk menjelaskan kebijakan manajerial dalam reinvestasi Diharapkan membatasi dividen sesuai hukum atau kontrak Disediakan untuk mengantisipasi kerugian

19

LEARNING OBJECTIVE IV CHALLENGES FOR STANDARD SETTERS

Debt vs Equity Distinction Berdasarkan definisi serta kriteria pengakuannya, saham yang diisukan kepada investor merupakan ekuitas sedangkan pinjaman dari kreditor merupakan liabilitas. Namun seringkali muncul perdebatan pada kasus hybrid instruments. Hybrid instrument adalah instrumen keuangan yang memiliki karakter utang dan ekuitas sekaligus. Contohnya adalah convertible bonds dan preference shares. Preference shares atau saham preferen diakui sebagai bagian dari ekuitas namun juga memiliki karakteristik sebagai liabilitas seperti adanya prioritas atas saham biasa dalam pembagian return atau imbal hasil, kreditur memiliki klaim tetap, tidak memiliki hak voting, dan tidak berpartisipasi atas dividen selain yang sudah ditetapkan.

IAS 32/AASB 132 menyatakan bahwa saham preferen yang menyediakan mandatory redemption (perintah penebusan) dari pihak yang mengisukan saham tersebut untuk sejumlah nominal uang yang telah ditentukan pada tanggal di masa depan yang juga telah ditentukan, maka harus diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan. Begitu juga dengan instrumen keuangan yang memberikan hak bagi pemegangnya untuk mengembalikan instrumen kepada pihak yang mengisukan untuk sejumlah uang atau aset juga diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan. Klasifikasi instrumen keuangan sebagai liabilitas atau ekuitas memberi dampak pada neraca karena klasifikasi tersebut menentukan apakah bunga, dividen, kerugian mapun keuntungan terkait instrumen tersebut diakui sebagai pendapatan atau beban, atau apakah mereka diperlakukan sebagai distribusi keuntungan.

Pengklasifikasian instrumen keuangan lebih berdasar pada substansi ekonominya dibandingkan dengan bentuk hukumnya. Tujuan dari pembedaan antara liabilitas

20

dan ekuitas pemilik adalah untuk meningkatkan kegunaan informasi dalam pembuatan keputusan. Namun, banyak pihak yang mengkritik standar tersebut karena kesulitan dalam pengaplikasiannya dan malah bisa menyebabkan salah mengklasifikasikan instrumen keuangan.

Extinguishing Debt IAS 32/AASB 132 menyatakan penghapusan utang, di mana pihak peminjam (debtor) dapat menghapus utang dari neracanya dan melaporkan net financial asset or liability hanya jika entitas tersebut memiliki hak secara hukum untuk menghapus (set-off) jumlah yang diakui dan bermaksud untuk (a)

menyelesaikannya secara net basis atau (b) mengakui aset dan menyelesaikan liabilitas secara simultan.

Selain penghapusan utang secara normal, dikenal juga in-substance defeasance yakni suatu proses di mana utang entitas disingkirkan dari neraca namun tidak sesungguhnya dihapus atau telah diselesaikan. Substansi ekonomi yang terlibat dalam transaksi untuk menempatkan risk-free assets atau kas untuk pembayaran utang adalah serupa dengan penghapusan utang. Lalu kapan liabilitas berhenti diakui? Liabilitas berhenti diakui ketika aset atau jasa telah ditransfer kepada entitas lain. Jika pihak trustee ternyata tidak dapat diandalkan dan aset yang ditransfer tersebut hilang atau disalahgunakan maka pihak peminjam (debtor) harus memunculkan kembali liabilitasnya. Keuntungan bagi perusahaan debtor adalah: (1) utang tersebut dapat disingkirkan dari neraca sehingga debt to equity ratio meningkat, (2) profit untuk tahun berjalan meningkat karena adanya gain, (3) memungkinkan perusahaan mengelola sisi liabilitas di neracanya.

Perusahaan umumnya mempunyai insentif untuk menyingkirkan beberapa item dari neracanya atau memastikan bahwa item-item tertentu tidak muncul di neraca perusahaan. Hal semacam itu dapat menjadi kendala bagi pengguna laporan

21

keuangan dalam menaksir risiko perusahaan. Sehingga IASB mengusulkan adanya single concept of control serta pengungkapan yang lebih luas, maka pengguna laporan keuangan dapat lebih memahami hubungan antara aset yang ditransfer dengan liabilitas yang terkait.

Saham Pegawai (Share-based payment) Akuntan memperdebatkan apakah pembayaran berdasarkan-saham akan

meningkatkan beban. Aspek isu yang lain yaitu apakah remunerasi yang diberikan kepada pegawai dengan opsi saham (opsi untuk membeli saham) meningkatkan kewajiban atau ekuitas. Rencana pembayaran berdasarkan saham biasanya mencakup beberapa tahun. Ketika saham atau opsi telah ditawarkan pada sebuah rencana, namun sebelum isu saham, apakah perusahaan memiliki kewajiban? Apakah manfaat ekonomi yang dikorbankan di masa depan? Ketika saham dikeluarkan dalam rencana, apakah ekuitas meningkat, atau hanya direstribusi?

Mereka yang berpendapat bahwa isu saham membuat beban dan kewajiban berpendapat pegawai memperoleh suatu nilai, oleh sebab itu, ada biaya yang ditanggung perusahaan. Biaya ini adalah beban, dan bersamaan dengan itu kewajiban ada sampai itu diselesaikan dengan saham, ketika ekuitas meningkat karenanya. Mereka yang berpendapat bahwa isu saham untuk rencana pembayaran berdasarkan-saham bukan merupakan pembayaran atas beban pemeliharaan yang mana perspektif entitas menganggap bahwa suatu entitas tidak dapat mengorbankan manfaat ekonomi masa depan melalui isu ekuitasnya sendiri ketika ia tidak memberikan sesuatu. Mereka berpendapat bahwa perusahaan tidak menjadi lebih buruk dengan mengeluarkan tambahan saham. Sebaliknya, shareholders yang merupakan individu pemegang saham dapat mengalami penurunan nilai.

22

IASB memutuskan memperlakukan remunerasi berdasarkan-saham sebagai beban. IFRS 2/AASB 2 pembayaran berdasarkan-saham dibedakan antara pembayaran berdasarkan-saham yang cash-settled dan yang equity-settled. Ketika barang dan jasa diberikan atau diperoleh berdasarkan transaksi pembayaran berdasarkan-saham, entitas mencatat kejadian ketika memperoleh barang atau jasa diterima. Jika barang atau jasa diterima berdasarkan transaksi pembayaran berdasarkan-saham equity-settled, entri sisi kredit merupakan owners equity. Sebaliknya, jika barang atau jasa diterima dalam transaksi yang dilakukan dengan kas, entri kredit-nya adalah kewajiban (liability).

Pendekatan saat ini di IFRS 2/AASB 2 menyebabkan perlakuan yang berbeda untuk perubahan fair value terkait dengan equity-settled dibandingkan dengan rencana cash-settled. Fair value atas transaksi di rencana equity-settled ditentukan pada tanggal diberikan dan perubahan selanjutnya diabaikan. Namun, transaksi yang diklasifikasikan sebagai kewajiban (liability) atas rencana cash-settled disesuaikan dengan fair value setiap balance date, dengan keuntungan dan kerugian dimasukkan ke pendapatan (income). Perbedaan perlakuan menimbulkan pertanyaan apakah item dengan substansi yang sama (pembayaran berdasarkansaham) seharusnya dipertanggungjawabkan dengan cara yang berbeda.

Isu Bagi Auditor Kelengkapan pengakuan kewajiban (liability) pada neraca dan catatan pengungkapan mengenai kemungkinan dan kewajiban yang lain merupakan isu utama untuk auditor. Mereka membutuhkan menggabungkan bukti-bukti atas hutang dagang, accruals, dan kewajiban yang lain yang termasuk kewajiban bagi entitas kepada pihak lain. Auditor butuh mempertimbangkan kemungkinan waktu yang tidak beraturan, di mana kewajiban masuk pada akhir periode akuntansi sebelumnya yang tidak dicatat oleh entitas sampai periode akuntansi yang baru. Tes cut-off dirancang untuk mengumpulkan bukti bahwa transaksi dicatat pada

23

periode yang seharusnya. Lalu, auditor butuh menguji apakah kewajiban dicatat pada nilai yang sebenarnya.

Penyembunyian oleh manajer atas kewajiban entitas contohnya seperti tambahan kewajiban, garansi pinjaman, atau komitmen dengan berbagai kesepakatan kontraktual, understates kewajiban, dan membuat solvabilitas yang lebih besar untuk perusahaan. Pada kasus yang ekstrim, penyembunyian berarti sesuatu yang tidak tepat atas laporan keuangan yang disiapkan untuk basis going concern, dan auditor akan gagal untuk qualify opini audit. Standar audit ASA 570 membutuhkan auditor untuk mempertimbangkan secara spesifik apakah manajemen penggunaan basis going concern dengan tepat dan, jika ada yang meragukan, apakah keadaan yang relevan telah diungkapkan dengan benar. Jika auditor menyimpulkan bahwa entitas tidak dapat melanjutkan going concern, auditor akan menyatakan opini adverse jika laporan keuangan yang telah disiapkan pada basis going concern (ASA 570 para.63).

Meskipun kewajiban yang understatement merupakan perhatian bagi auditor, khusunya jika menimbulkan keraguan tentang solvabilitas perusahaan,

overstatement juga menimbulkan isu bagi auditor. Umumnya dinamakan cadangan cookie-jar, ketentuan untuk pengeluaran masa depan, seperti pemeliharaan, memperbolehkan perusahaan untuk menyimpan earning yang kelebihan untuk rainy day. Seperti yang telah didiskusikan sebelumnya, penggunaan teknik ini yang berlebihan sekarang telah dibatasi oleh IAS 37/ AASB 137, namun auditor masih dapat melakukan tes kelayakan atas ketentuan tersebut.