Anda di halaman 1dari 9

GIZI DAN PRODUKTIVITAS KERJA

DEFISIENSI ZAT BESI DAN PRODUKTIVITAS KERJA Zat besi besar peranannya dalam kegiatan oksidasi menghasilkan energi dan transportasi oksigen, maka tidak diragukan lagi apabila kekurangan zat besi akan terjadi perubahan tingkah laku dan penurunan kemampuan bekerja. Yang berperan dalam proses oksidasi antara lain Cytochrome, flavoprotein, dan senyawa-senyawa mitochondria yang mengandung zat besi lainnya. pada keadaan defisiensi besi, terjadi penurunan konsentrasi sitokrom c pada mukosa usus lebih awal daripada penurunan konsentrasi haemoglobin. Diduga akibat regenerasi sel lining mukosa usus lebih cepat daripada regenerasi sel darah merah, sehingga menurunnya pasokan besi mempengaruhi sel-sel tersebut secara cepat. DEFISIENSI ENERGI DAN PRODUKTIVITAS KERJA Tanpa ada gizi, energi tidak bisa dihasilkan oleh tubuh, dikarenakan sel-sel kita tidak memperoleh makanan. Dan tentu saja, seseorang akan loyo dan merasa malas bekerja. Sekalipun seseorang memiliki kebiasaan malas, namun kurangnya gizi merupakan penyebab utama (Ari Agung, 2002). Kurangnya dalam tubuh akan karbohidrat, protein dan zat lemak dapat menyebabkan pembakaran ketiga unsur tersebut kurang menghasilkan energi, akibatnya tubuh menjadi lesu, kurang bergairah untuk melakukan berbagai kegiatan dan kondisi tubuh yang demikian tentunya akan banyak menimbulkan kerugian (peka akan macam-macam penyakit, kemalasan untuk mencari nafkah, produktivitas kerja sangat lemah, dan lain-lain) (Marsetyo dan Kartasapoetra, 1991). DEFISIENSI VITAMIN B1 DAN PRODUKTIVITAS KERJA Vitamin B1 dikenal sebagai Vitamin Semangat , karena bila terjadi kekurangan akan menimbulkan penurunan kegiatan syaraf. Penelitian pada manusia yang diberi makanan kurang vitamin B1 menunjukkan dalam waktu singkat orang-orang tersebut tidak

bersemangat, mudah tersinggung, sulit konsentrasi. Dalam tiga hingga tujuh minggu timbul gejala kelelahan, nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, konstipasi, kejang otot dan berbagai rasa nyeri syaraf. Keluhan ini dapat dihilangkan dan

pulih setelah mengkonsumsi vitamin B1 secukupnya (Ari Agung, 2002). KERACUNAN Enam Langkah Mencegah Keracunan Makanan Keracunan makanan adalah gejala klinis atau gangguan kesehatan akibat mengonsumsi makanan yang terkontaminasi racun. Bisa berasal dari bahan kimia, racun alami makanan, atau mikroorganisme. Bahan kimia di antaranya sianida, pestisida yang digunakan berlebihan pada produk pertanian, dan bahan kimia rumah tangga. Makanan yang dari asalnya sudah menyimpan racun juga bisa menimbulkan keracunan. Contoh, singkong dan daunnya mengandung zat amidalin. Sewaktu-waktu asam sianidanya dapat terlepas dari ikatannya sehingga bisa menimbulkan keracunan sianida. Mikroorganisme yang mencemari makanan berulah dengan cara mengeluarkan racun (bacterial food poisoning) atau menginfeksi saluran pencernaan (bacterial food infection). Clostridium botulinum adalah contoh mikroorganisme yang meracuni dengan cara mengeluarkan racun. Bakteri ini sering terdapat pada makanan kaleng yang sudah rusak, umpamanya kaleng kembung, berkarat, bocor, segel rusak, isinya menggelembung, berbau, atau berwarna tak normal. Pseudomonas cocovenans yang menghasilkan racun pada tempe bongkrek, dan Staphylococcus aureus yang mengeluarkan toksin pada makanan berprotein tinggi (daging, telur, susu, ikan) dan makanan yang disiapkan dalam jumlah besar. Ada enam langkah mencegah keracunan seperti dimasyarakatkan Departemen Kesehatan RI. Langkah itu dimulai dari pemilihan bahan makanan, penyimpanan makanan mentah, pengolahan bahan makanan, penyimpanan makanan jadi, pengangkutan, dan penyajian. Pemilihan bahan akan lebih efektif bila dibeli dalam jumlah terbatas. Khusus untuk makanan mudah rusak, proses seleksi lebih baik dilakukan saat pengolahan. Lalu seleksi makanan yang tidak mudah rusak dilakukan saat penyimpanan. Menyimpan bahan makanan yang tidak mudah rusak dan yang mudah rusak juga perlu dibedakan. Yang gampang rusak disimpan di lemari es atau gudang berpendingin. Yang awet cukup ditaruh di gudang biasa atau lemari bahan makanan. Yang penting, tempatnya bebas tikus, menerapkan prinsip FIFO (first in first out), mudah dibersihkan, dan penempatan-nya dipisahkan dari bahan kimia. Pengolahan bahan makanan menjadi makanan siap santap, yang merupakan salah satu titik rawan terjadinya keracunan. Banyak kasus keracunan terjadi karena tenaga pengolahnya tidak memperhatikan aspek higiene dan sanitasi. Jangan pernah menyimpannya secara

sembarangan hanya karena berpikiran akan dimasak lagi. Bisa jadi suhu untuk memanaskan makanan menjadi setengah matang tidak cukup untuk membunuh kuman GIZI DAN KETAHANAN FISIK Masalah Gizi dalam Kaitannya dengan Ketahanan Fisik dan Produktivitas Kerja. Banyak masalah-masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat tidak adanya keseimbangan gizi yang lebih dikenal sebagai akibat gizi salah. Gizi salah yang diderita pada masa janin (dalam kandungan) dan masa anak-anak dapat menghambat antara lain kecerdasan, motivasi, kesanggupan belajar. Selain itu, ada dugaan bahwa gizi salah yang diderita pada masa janin dapat menimbulkan kelainan kromosoma yang bisa berakibatkan pada perilaku abnormal ataupun kelainan-kelainan yang akan bertahan selama hidup. Masalah lain yang dapat diakibatkan oleh gizi salah ini adalah gangguan perkembangan Fisik. Suatu studi yang dilakukan di India menunjukkan bahwa 90 % dari 3000 anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah mempunyai ukuran tubuh lebih kecil dari ukuran normal. Keadaan seperti ini merupakan gambaran umum dari masyarakat di negara-negara yang secara ekonomi tergolong kurang berkembang. Masih berkaitan dengan berat Badan lahir yang rendah, pada suatu penelitian yang dilakukan di Hertfordshire (lnggris) ditemukan bahwa bayi bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2,5 kg mempunyai resiko yang besar untuk menderita penyakit jantung koroner. Namun yang cukup menarik dari penelitian tersebut bahwa resiko itu menjadi menurun bila kekurangan tersebut dapat dikejar sehingga mencapai berat badan yang normal (Barker,1992). Jadi jelas sekali bahwa perawatan yang tentunya termasuk gizi dalam hal ini cukup menentukan kondisi seseorang selanjutnya dan ini tentunya sedikit banyaknya akan berkaitan dengan produktifitas kerja dan kualitas hidupnya di kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA Ari Agung, I Gusti Ayu. Pengaruh Perbaikan Gizi Kesehatan dan Produktivitas Kerja. UHI. Gsianturi, 2004. Enam Langkah Mencegah Keracunan Makanan. (Online).

(http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1100141359,99491, diakses tanggal 16 April 2010). Maas T, Linda. Masalah Gizi dalam Kaitannya dengan Ketahanan Fisik dan Produktivitas Kerja. USU.

Gizi dan Produktivitas Kerja Gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja seseorang. Keadaan gizi yang baik merupakan pemicu peningkatan produktivitas kerja. Keadaan gizi yang baik tidak hanya dapat meningkatkan ketahanan fisik, namun juga meningkatkan derajat kesehatan sehingga dapat mengurangi angka kesakitan dan ketidakhadiran bekerja (Riyadi 2006). Suhardjo (2005) menyebutkan bahwa perbaikan gizi pekerja akan menurunkan tingkat absen pekerja sehingga meningkatkan kemampuan produktivitas kerja. Menurut Oxenburgh et al. (2004) yang diacu dalam Mahardikawati (2008) penyebab turunnya produktivitas tenaga kerja salah satunya adalah faktor kesakitan sehingga menyebabkan tingginya absensi kerja. Masalah kecukupan pangan dan gizi mutlak apabila diharapkan prestasi dari seorang tenaga kerja. Tanpa gizi yang baik, maka kebutuhan akan energi untuk bekerja akan diambil dari cadangan energi yang terdapat dalam tubuh. Kekurangan makanan yang terus menerus akan menyebabkan susunan fisiologis tubuh terganggu. Bila hal ini terjadi, maka tenaga kerja tidak dapat melakukan pekerjaannya secara baik dan produktivitas kerjanya akan menurun bahkan dapat mencapai target rendah. Kebutuhan akan tenaga bagi seorang tenaga kerja akan meningkat sesuai dengan lebih beratnya pekerjaan. Bagi pekerjaan fisik yang berat, gizi dengan energi yang memadai menjadi syarat utama yang menentukan tingkat produktivitas kerja. Kesehatan dan produktivitas terdapat hubungan yang sangat nyata, seorang pekerja yang sakit biasaya produktivitasnya menjadi rendah. Keadaan sakit yang menahun menjadi sebab rendahnya produktivitas untuk waktu yang relatif sangat panjang. Kesehatan tenaga kerja dan produktivitas erat kaitannya dengan gizi. Seorang tenaga kerja dengan gizi yang baik akan memiliki kapasitas dan ketahanan tubuh yang lebih baik yang menunjang produktivitas kerjanya. Analisa secara makro tentang tingkat konsumsi energi dan derajat produktivitas suatu bangsa memberikan hasil bahwa produktivitas yang tinggi sesuai dengan makin tingginya konsumsi kalori per kapita. Dampak khusus terhadap kesehatan dan kualitas kerja adalah sebagai berikut: 1. Gizi yang baik menghasilkan daya tahan tubuh yang baik, akibatnya penyakit infeksi berkurang atau menurun yang mengakibatkan absensi menjadi berkurang. Absensi yang berulang kali pada gilirannya akan mempengaruhi ekonomi perusahaan di mana pekerja bekerja dan dengan sendirinya mengurangi produktivitas kerja. 2. Zat besi dan zat gizi lainnya dalam metabolisme tubuh berperan pada proses penalaran serta daya konsentrasinya sangat vital terhadap kesehatan dan keselamatan kerja.

3. Anemia gizi (30-50%) pada tenaga kerja wanita mengakibatkan keletihan pada otot dan produktivitas kerja yang menurun (Ravianto 1985a). Gizi merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan tingkat produktivitas kerja. Konsep produktivitas kerja merupakan rasio antara input dan output, sehingga aktivitas yang efisien persatuan waktu menjadi penyebab tinggi rendahnya produktivitas kerja tersebut. Secara teoritis, aktivitas fisik sangat tergantung dari asupan gizi tenaga kerja. Derajat kesehatan kerja di lingkungan kerja dapat dijamin melalui penyediaan makanan yang disediakan perusahaan yang memenuhi gizi. Jaminan makanan bergizi bagi tenaga kerja dapat menjamin daya tahan kerja terhadap penyakit dan kemalasan sebagai salah satu gejala akibat kurang gizi. Laporan Bank Dunia tahun 1980 menunjukkan adanya kaitan yang erat antara pendapatan, gizi, derajat kesehatan dan tingginya angka kelahiran dan kematian. Pendapatan yang rendah berakibat rendahnya tingkat pendidikan, kesehatan, gizi, tingginya angka kelahiran dan kematian serta rendahnya produktivitas. Penelitian mengenai kaitan gizi dengan produktivitas kerja di antaranya dilakukan oleh Karyadi pada pekerja perkebunan sawit, coklat, karet, tembakau dan teh di Jawa, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Hasil penelitian membuktikan bahwa pekerja yang mengalami anemia (Hb < 11 g/dL) memiliki produktivitas kerja dan ketahanan fisik yang lebih rendah dibandingkan dengan pekerja yang tidak anemia (Ravianto 1985b). Kemampuan seseorang dan lamanya waktu yang digunakan menentukan tinggi rendahnya produktivitas tenaga kerja. Jika hasil aktivitas per satuan waktu menjadi penyebab tinggi rendahnya produktivitas kerja, secara teoritis sangat tergantung dari kesehatan dan gizi yang diperoleh dari makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh tenaga kerja yang bersangkutan, sehingga tenaga kerja hanya dapat bekerja baik selama memiliki tenaga yang diperoleh dari makanan. Gizi yang cukup dan badan yang sehat merupakan syarat bagi produktivitas kerja yang tinggi. Makin berat suatu pekerjaan fisik, makin banyak kalori yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan (Ravianto 1990). Kerja berat disebut juga kerja kasar, dapat dirumuskan sebagai kegiatan yang memerlukan uupaya fisik yang kuat selama periode kerja. Konsumsi energi dari keryawan dalam kerja berat merupakan faktor utama yang membatasi prestasi hariannya. Pada waktu bekerja, pengeluaran energi meningkat. Makin besar gerakan otot, makin tinggi pula pengeluaran energi kerjanya. Kenaikan konsumsi energi yang nampak dalam kerja fisik dinyatakan dalam kalori kerja. Pekerja kasar membutuhkan makanan sumber karbohidrat, protein, lemak serta vitamin B1 untuk menyuplai kebutuhan ototnya (Sastrowinoto 1985).

Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pangan Elizabeth dan Sanjur (1981) dalam Suhardjo (1989) menyatakan bahwa ada tiga faktor utama yang mempengaruhi konsumsi pangan, yaitu 1) karakter individu seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, pengetahuan gizi dan kesehatan; 2) karakter makanan atau pangan seperti rasa, rupa, tekstur, harga, tipe makanan, bentuk dan kombinasi makanan; 3) karakter lingkungan seperti musim, pekerjaan, mobilitas dan tingkat sosial masyarakat. Menurut Riyadi (2006), konsumsi pangan seseorang atau sekelompok orang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Ada empat faktor utama yang mempengaruhi konsumsi pangan sehari-hari, yaitu produksi pangan untuk keperluan rumah tangga, pengeluaran uang untuk pangan rumah tangga, pengetahuan gizi dan ketersediaan pangan. Sumarwan (2002) menyatakan bahwa memahami usia konsumen adalah penting karena konsumen yang berbeda usia akan mengkonsumsi produk dan jasa yang berbeda pula. Perbedaan usia juga akan mengakibatkan perbedaan selera dan kesukaan terhadap merek. Faktor yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang dalam menerima informasi baru. Seorang yang berumur relatif muda akan relatif lebih cepat dalam menerima sesuatu yang baru. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi tingkat konsumsi pangan seseorang dalam memilih bahan pangan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang yang memiliki pendidikan tinggi cenderung memilih bahan pangan yang lebih baik dalam kuantitas maupun kualitas dibanding dengan orang yang berpendidikan rendah (Hardinsyah 1985 diacu dalam Permana 2006). Tingkat pendidikan yang tinggi terutama yang berkaitan dengan pengetahuan gizi yang tinggi tentang informasi gizi dan kesehatan akan mendorong perilaku makan yang baik (Sediaoetama 1991). Walaupun tingkat pendidikannya cukup tinggi tetapi tidak disertai dengan pengetahuan gizi, maka tidak akan berpengaruh terhadap pemilihan pangan. Pekerjaan yang berhubungan dengan pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas makanan. Terdapat hubungan yang erat antara pendapatan dan gizi yang didorong oleh pengaruh yang menguntungkan dari pendapatan yang meningkat bagi perbaikan kesehatan dan masalah keluarga lainnya yang berkaitan dengan keadaan gizi. Apabila penghasilan keluarga meningkat, penyediaan lauk pauk pada umumnya juga meningkat mutunya (Suhardjo 1989). Menurut Harper et al. (1996) diacu dalam Permana (2006) pada umumnya jika pendapatan naik, maka jumlah dan jenis pangan akan membaik. Pendapatan merupakan sumberdaya

material bagi seseorang untuk membiayai kegiatan konsumsinya. Jumlah pendapatan yang diperoleh akan menggambarkan besarnya daya beli. Meningkatnya pendapatan perorangan juga dapat menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam susunan makanan. Akan tetapi, pengeluaran uang yang lebih banyak untuk pangan tidak menjamin lebih beragamnya konsumsi pangan. Kadang perubahan utama yang terjadi dalam kebiasaan makan adalah pangan yang dikonsumsi lebih mahal. Menurut Suhardjo (1989), keluarga yang berpenghasilan rendah menggunakan sebagian besar dari keuangannya untuk pangan dan keluarga yang berpenghasilan tinggi akan menurunkan pengeluaran untuk pangan. Keluarga yang berpenghasilan rendah akan rendah pula jumlah uang yang dibelanjakan untuk pangan. Jika penghasilan menjadi semakin baik, jumlah uang yang dipakai untuk membeli makanan dan bahan makanan juga akan meningkat sampai tingkat tertentu dimana uang tidak dapat bertambah secara berarti. Besar keluarga akan mempengaruhi pendapatan perkapita dan pengeluaran untuk konsumsi pangan. Keluarga dengan banyak anak dan jarak kelahiran antar anak yang amat dekat akan menimbulkan lebih banyak masalah. Pangan yang tersedia untuk satu keluarga, mungkin tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga tersebut tetapi hanya mencukupi sebagian dari anggota keluarga itu (Martianto dan Ariani 2004 diacu dalam ( Widyaningsih 2008 ).

DAFTAR PUSTAKA
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/27250/BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka_ %20I10aro.pdf?sequence=6 diakses:minggu,13 mei 2012 16:03