Anda di halaman 1dari 11

PERILAKU AGRESI PADA REMAJA YANG DIASUH DENGAN POLA DIABAIKAN (PERMISSIVE-INDIFFERENT)

MAKALAH Untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia Keilmuan yang dibina oleh Ibu Dewi Pusposari

Oleh: Elyana Dwi Ratnasari 100112400063

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN BIMBINGAN KONSELING & PSIKOLOGI PRODI PSIKOLOGI Mei 2011

PERILAKU AGRESI PADA REMAJA YANG DIASUH DENGAN POLA DIABAIKAN (PERMISSIVE-INDIFFERENT) Oleh : Elyana Dwi Ratnasari

1. Pendahuluan
Remaja merupakan masa transisi dalam perkembangan hidup, perubahan dari periode kanak-kanak menuju periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa yang sangat penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian individu. Masa remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu karena mereka dakam masa peralihan. Kecenderungan perilaku agresi dapat disebabkan karena masa remaja merupakan periode yang sering dikatakan sebagai periode Badai dan Tekanan yaitu sebagai suatu periode dimana terjadi ketegangan emosi yang tinggi diakibatkan adanya perubahan fisik dan kelenjar dalam tubuh remaja. Makin maraknya kenakalan remaja yang terjadi saat ini merupakan salah satu bentuk konkret dari perilaku agresi. Agresi dapat bersifat verbal maupun non verbal. Perilaku agresi pada remaja juga dapat ditemui pada kehidupan sehari-hari dalam skala yang lebih kecil seperti pengerusakan terhadap sarana-sarana publik oleh perorangan, pelecehan rasial dan lain-lain. Perilaku agresi pada remaja seperti ini jelas sangat mengganggu kehidupan sosial dan hubungannya dengan orang di sekitarnya. Jika dilihat dari kacamata psikologi, perilaku agresi seperti yang dilakukan remaja tidak sekedar kenakalan remaja yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, tapi mungkin juga disebabkan oleh pengalaman psikologis yang dialami remaja tersebut. Tindakan agresi merupakan salah satu masalah utama dalam masyarakat kita. BaruBeberapa waktu yang lalu masyarakat dihebohkan oleh beberapa kasus perkelahian pelajar yang terekam dengan kamera handphone. Dalam tahun 2009 tercatat lebih dari 4 kasus kekerasan yang dilakukan oleh pelajar remaja. Selain itu, berdasarkan data dari POLRI Metro Jaya berbagai kenakalan remaja sebagai bentuk dari tindakan agresi dari tahun 2003-2008 yang tercatat adalah

perkelahian antar pelajar (175 kasus) menewaskan 38 pelajar, 2 anggota masyarakat dan 2 anggota POLRI(Wijaya, dalam Tempo Interaktif Online, 2009). Agresi menurut Murray(dalam Hall & Lindsay, 1993:231) didefinisikan sebagai suatu cara untuk melawan dengan sangat kuat, berkelahi, melukai, menyerang, membunuh atau menghukum orang lain. Agresi juga berarti tanggapan yang mampu memberikan stimulus merugikan atau merusak terhadap organisme lain. Bagaimana perilaku remaja ke lingkungan sosial diluar keluarga tergantung pada perlakuan yang diterima seorang remaja didalam keluarganya. Keluarga diharapkan mengajarkan ketrampilan sosial pada para remaja. Ketraampilan sosial disini adalah bagaimana kita membina hubungan dengan orang lain, sebagai makhluk sosial, individu dituntut , menyelesaikan masalah dan mampu menampilkan diri, sesuai aturan yang berlaku. Keberadaan remaja sebagai individu berkaitan erat dengan sistem pergaulan dalam keluarga, masing-masing anggota keluarga memiliki tempat khusus dalam kehidupan dan lingkungannya, yaitu keluarga mampu membina hubungan yang harmonis dengan anggota keluarga lainnya. ketika remaja tidak memiliki kedekatan dengan keluarga, maka remaja tidak akan mampu mengembangkan ketrampilan sosial yang mengakibatkan remaja menjadi rendah diri, merasa dikucilkan, cenderung berperilaku normatif bahkan menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kiriminal, perilaku agresi dan lain sebagainya. Menurut Latipun (2005:64), baik buruknya struktur keluarga memberikan dampak bagi perkembangan jiwa dan jasmani anak. Situasi yang tidak harmonis memunculkan iklim yang tidak manusiawi. Ketika seorang remaja mempunyai persepsi yang negatif mengenai keharmonisan keluarga maka remaja mempunyai persepsi yang negatif dan mengalami konflik batin serta frustasi. Pada akhirnya mereka akan memberontak, mempunyai kecenderungan perilaku agresi dan mengadakan serangan-serangan kemarahan kedunia sekelilingnya. Makalah ini dimaksudkan untuk membahas bagaimana pola asuh yang diterapkan dalam rumah tangga pada anak-anak akan berpengaruh dalam pembentukan kepribadian dan perilaku anak tersebut. Penulis mengangkat pola asuh Permissive Indifferent sebagai salah satu

contoh pola asuh yang mempengaruhi kepribadian dan perilaku antisosial yang mengarah pada tindakan agresi. Dalam makalah ini akan dibahas tentang pola asuh Permissive Indifferent dan penerapannya dalam keluarga serta dampak yang ditimbulkan dari pola asuh ini pada anak-anak dalam membentuk kepribadian dan perilaku.

2. Pembahasan 2.1
Pola Pengasuhan Permissive-Indifferent Orang tua ingin anak-anaknya bertumbuh menjadi individu-individu yang

dewasa secara sosial. Kepribadian anak sebagai salah satu faktor untuk mengembangkan ketrampilan sosial ini ternyata dipengaruhi oleh pola kanak. Karena melalui hal tersebut dalam bersosialisasi. tiga tipe Baumrind anak pengasuhan orang tua semasa kanak-

akan mampu mengembangkan kecakapannya

(dalam Santrock, 2002:257) menekankan bahwa ada

pengasuhan

yang dikaitkan dengan aspek-aspek yang berbeda dalam

perilaku sosial anak :

a. Otoriter (Authoritarian parenting) b. Otoritatif (Authoritative parenting), dan c. Permisif (Permissive parenting)
Para pakar perkembangan baru-baru ini berpendapat bahwa pola pengasuhan permisif terjadi dalam dua bentuk, yaitu permissive-indulgent dan permissiveindifferent. Permissive-indulgent merupakan suatu gaya pengasuhan dimana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak mereka tetapi menetapkan sedikit batas atau kendali terhadap diri anak atau dengan kata lain pola asuh ini memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan apa saja yang mereka kehendaki tanpa pengawasan yang cukup dari orang tua. Orang tua cenderung membiarkan dan tidak menegur ketika anak dalam bahaya, sangat sedikit bimbingan yang diberikan orang tua. Hal ini dipersepsikan oleh orang tua sebagai bentuk kasih sayang yang besar.

Pola asuh permissive-indifferent adalah suatu gaya pengasuhan orang tua yang tidak terlibat dalam kehidupan anak; tipe pengasuhan ini diasosiasikan dengan inkompetensi sosial anak, khususnya kurangnya kendali diri. Pola asuh ini akan dipersepsi anak sebagai suatu perlakuan orangtua yang membiarkan anak berbuat semaunya, tidak memperdulikan atau memperhatikan anak, akibatnya anak menjadi nakal. Pada kedua pola asuh permisif ini orang tua sama-sama tidak memberikan batasan, pengawasan yang longgar, atau mengabaikan aturan-aturan dan membiarkan diri mereka tidak memiliki kendali anak, namun yang membedakan ialah pada pola permissive-indulgent orang tua melakukannya atas dasar kasih sayang yang berlebihan. Sebagian besar orang awam menyebutnya sebagai pola pengasuhan yang dimanja. Sedangkan pada pola asuh permissive-indifferent hal ini dilakukan oleh karena ketidakpedulian orang tua terhadap anak. Dua anggapan yang paling sering dijumpai atas ketidakpedulian orangtua terhadap anaknya adalah karena orangtua yang bekerja sehingga mengabaikan anak (neglected) dan alasan yang kedua adalah karena orangtua menolak secara psikoogis kehadiran anak sehingga menyebabkan adanya penolakan secara fisik (rejected). Anak-anak yang diabaikan adalah anak-anak yang tidak mendapatkan pemenuhan kebutuhan psikisnya karena orang tua yang terlalu sibuk bekerja diluar rumah. Sedangkan anak-anak yang ditolak adalah anak-anak yang mendapat penolakan dari orangtua mereka secara psikis dan fisik oleh karena beberapa hal yang pernah dialami oleh orangtua (contoh : Ibu Si Anak adalah korban pemerkosaan, karena trauma yang dialami maka si Ibu tidak menginginkan kehadiran si Anak sehingga anak dibiarkan begitu saja). Pada pola asuh Permissive Indifferent ini, anak akan mengembangkan perasaan bahwa aspek-aspek lain kehidupan orang tua lebh penting daripada kebutuhan kasih sayang anak. Anak yang diasuh orangtuanya dengan metode semacam ini

nantinya akan berkembang menjadi anak yang kurang perhatian, merasa tidak berarti, rendah diri, nakal, memiliki kemampuan sosialisasi yang buruk, kontrol diri buruk, salah bergaul, kurang menghargai orang lain, dan lain sebagainya baik ketika kecil maupun sudah dewasa.

2.2

Perilaku Agresi pada Remaja

Remaja didefinisikan sebagai suatu periode perkembangan dari transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa, yang diikuti oleh perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional. Hurlock menyatakan(1990:98) bahwa, remaja memiliki tugas perkembangan, yaitu :

a. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya b. Mencapai peran sosial c. Menerima keadaan fisiknya d. Mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab e. Mempersiapkan karier ekonomi f. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk
berperilaku sesuai ideologi Periode remaja menurut Irwanto(2002:47) adalah masa transisi dalam periode anak-anak ke periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa yang sangat penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian individu. Kecenderungan perilaku agresi dapat disebabkan karena masa remaja merupakan periode yang sering dikatakan sebagai periode badai dan tekanan yaitu sebagai suatu masa terjadi ketegangan emoosi yang tinggi diakibatkan adanya perubahan fisik dan kelenjar. Masa remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu karena mereka dakam masa peralihan. Gejolak ini dapat ditimbulkan oloeh perubahan fisik, perkembangan inteegensi, perubahan emosi, serta fungsi sosial remaja dalam

mempersiapkan diri menuju kedewasaan (mencari identitas diri dan posisi dalam masyarakat). Strickland (dalam Hanurawan 2001:52) mengemukakan bahwa perilaku agresi adalah setiap tindakan yang diniatkan untuk melukai, menyebabkan penderitaan, dan merusak orang lain. Myers (dalam Hanurawan 2001:53) menjelaskan bahwa agresi adalah periaku verbal maupun non-verbal yang diniatkan untuk melukai obyek yang menjadi sasaran agresi. Secara umum, agresi adalah tanggapan yang mampu memberikan stimulus merugikan atau merusak terhadap organisme lain. Hanurawan (2001:54) mengatakan bawha kecenderungan agresi yang dikembangkan oleh para remaja merupakan hasil dorongan untuk mengakhiri keadaan frustasi mereka karena remaja mengalami banyak perubahan dalam diri mereka utamanya dalam hal ini mencakup perubahan sosioemosional. Frustasi disini adalah kendala-kendala eksternal yang menghambat tujuan perilaku remaja. Pengalaman frustasi dapat menyebabkan timbulnya keinginan untuk bertindak agresi mengarah pada sumber-sumber eksternal yang menjadi sebab frustasi. Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan perilaku remaja. Pengertian remaja akan: Siapakah aku yang dipengaruhi oleh pandangan-pandangan dan pengalaman-pengalaman pribadinya akan menentukan pola perilakunya dimasa dewasa. Dalam masa badai dan tekanan remaja semestinya lebih berhati-hati dalam bersikap merespon stimulus yang diterimanya dalam lingkunagan sosial sekitar mereka.

2.3 Hubungan Antara Pola Asuh dengan Kecenderungan Perilaku Agresi Keluarga merupakan lembaga yang pertama-tama dan terutama bagi anak tempat sosialisasi dirinya, disinilah anak mengenal arti hidup, cinta kasih, dan simpati, mendapatkan bimbingan dan pendidikan, dan merasakan suasana yang aman. Seluruh

keluarga diikat oleh suatu perasaan sentimen yang mendalam oleh rasa kasih-sayang, loyalitas dan solidaritas yang murni. Kualitas hubungan antara anak dan orang tua menentukan sikap dan perilaku anak, terutama remaja yang sudah memiliki kepekaan emosional yang tinggi. Faktor penghargaan dari orang tua terhadap anak merupakan kebutuhan tersendiri bagi remaja. Penerimaan dan pengakuan orang lain terhadap keberadaan remaja sangat penting karena ini merupakan salah satu kebutuhan manusia yang berada dalam deret kebutuhan psikis. Apabila hubungan atau komunikasi antar pribadi yang terbangun dengan orang lain, termasuk orangtua berada pada kualitas yang rendah, maka akan berpenggaruh pada perilaku remaja. Ketika remaja mempersepsikan keluarganya sebagai keluarga yang tidak harmonis dan hal itu menggangu remaja tersebut, maka remaja tersebut akan mengalami konflik-konflik dalam kognitif mereka. Konflik-konfllik ini dapat menimbulkan frustasi. Dalam keadaan frustasi tersebut remaja akan memiliki kecenderungan untuk melepaskan energi negatifnya melalui tidnakan agresi. Bagaimana persepsi remaja mengenai perlakuan yang diterima dari orangorang disekelilingnya akan tercermin dalam bentuk respon kepada dunia luarnya, terutama terhadap objek sikap dan perilaku yang berhubungan dengan perlakuan lingkungan kepada diri mereka. Remaja yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis akan melakukan kecenderungan perilaku agresi sebagai luapan frustasi dan tekana jiwa yang dialaminya. Meskipun agresi sering dihubungkan dengan hal-hal yang bersifat fisik, namun sebenarnya perilaku agresi yang ditujukan untuk memberikan kerugian secara psikologis dapat pula disebut sebagai perilaku agresi (Strickland dalam Hanurawan, 2001:54). Contoh dari perilaku agresi yang bersifat psikologis adalah perilaku mengabaikan stimulus komunikasi yang diberikan oleh orang lain dengan maksud memberikan akibat

psikologis negatif terhadap orang lain tersebut. Akibat psikologis negatif itu antara lain adalah rasa kecewa, cemas, atau merasa diabaikan.

3. Penutup
3.1 Kesimpulan Masa remaja adalah periode yang amat penting dalam sepanjang kehidupan manusia. Remaja dituntut untuk mengembangkan kemampuan sosialnya untuk mempersiapkan periode dewasa. Apa yang dialami remaja pada masa kanak-kanak akan mempengaruhi hubungan sosial mereka dengan lingkungannya. Keluarga merupakan lembaga sosial pertama dan utama yang menjadi sumber pembelajaran bagi anak. Dalam keluarga, anak akan mengenal kasih sayang, kehangatan & keintiman anggota keluarga, serta bibit harapan, untuk pengembangan kepribadian dan ketrampilan sosial anak dimasa mendatang. Pola asuh orang tua semasa kanak-kanak ternyata mengambil peran penting dalam pembentukan tersebut. Anak dan orang tua memiliki ikatan batin yang tidak bisa dihilangkan. Ketika orang tua mengabaikan kebutuhan anak, tidak hanya kebutuhan jasmani namun juga kebutuhan psikologis terutama mengabaikan perasaan anak, anak akan terluka secara emosionalnya. Perasaan yang terluka seperti ini akan terus dikembangkan oleh diri anak hingga pada masa perkembangan selanjutnya. Orang tua dengan pengasuhan permissive-indifferent ini secara tak sadar sebenarnya telah melakukan tindakan agresi terhadap anak mereka dengan mengabaikan stimulus komunikasi terhadap anak yang menyebabkan kerugian secara psikologis. Secara tak sadar pula, sikap seperti ini diimitasi oleh anak pada masa perkembangnnya yang kemudian membentuk pola pikir, perilaku dan kepribadiannya. Remaja merefleksikan sikap agresi yang mereka alami pada masa lalunya. Mereka menjadi maladjustment dalam kehidupan sosial. Menjadi kurang mampu mengekspresikan atau kuranya kemampuan dalam berkomunikasi dengan orang lain,

memilik gaya bicara yang kaku, dan tidak sensitif terhadap simbol-simbol emosional orang lain. Remaja seperti ini telihat dingin dan acuh terhadap dunia sekitarnya.

3.2

Saran

Peran kasih sayang orang-orang sekitar dalam lingkungan anak-anak yang menghadapi persoalan seperti akan menjadi penting untuk menggantikan peran orangta mereka yang hilang. Anak-anak dianjurkan untuk diarahkan dalam kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan sosial mereka. Kegiatan-kegiatan yang menjadi kesenangan atau hobi dari anak-anak dapat juga menjadi salah satu media untuk mengembangkan potensi diri anak-anak remaja seperti ini. Ketika anak-anak remaja ini menyadari bahwa mereka memiliki potensi, ini akan meningkatkan self concept dan self pride pada diri remaja. Dengan self pride yang dimiliki diharapkan anak akan mampu mengatasi perasaan inferiornya. Untuk mengurangi perilaku agresi yang dilakukan anak remaja adalah dengan tidak memberikan penguatan (reinforcement) terhadap setiap perilaku agresi yang dilakukan. Dan begitu juga sebaliknya, setiap perilaku positif yang dilakukan diberikan pengutan positif sehingga perilaku itu dapat berulang dan relative permanen. Selain itu, karena dalam perkembangan remaja, remaja mengalami proses imitasi terhadap apa yang diamatinya, maka kegiatan mengamati tindakan agresi secara langsung maupun tidak langsung harus diminimalisirkan.

Bagi orang-orang yang sedang menghadapi atau menangani persoalan remaja seperti yang telah dibahas, diharapkan lebih memupuk sifat ketulusan dalam membimbing anakanak remaja ini. Dibutuhkan pemahaman akan latar belakang dan tipe-tipe tiap-tiap remaja karena dengan pemahaman yang mendalam akan keinginan-keinginan anak-anak remaja tersebut akan lebih mudah menemukan pendekatan-pendekatan yang dapat diterapkan dalam pengarahan tersebut.

Daftar Rujukan Hall, C. & Lindsay, G.1993. Teori-teori psikodinamik (klinis). Yogyakarta: Kanisius Hanurawan, F. 2004. Pengantar Psikologi Sosial. Malang: Triumvirat Independent Edition Hurlock, Elizabeth B. 1990. Psikologi Perkembangan suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Terjemahan oleh Isti Hidayanti dan Soedjarwo. Erlangga Irwanto.2002. Psikologi umum : Buku Panduan Mahasiwa. Jakarta : PT. Prenhallindo Kartono, Kartini. 2000. Hygiene Mental. Bandung : CV. Mandar maju Latipun. & Notosoedirjo, M.2005. Kesehatan mental: Konsep dan Penerapannya. Malang : UMM press Santrock, John.W.2002. Life Span Development: Edisi kelima. Terjemahan oleh Achamad Khusairi. Jakarta : Erlangga Universitas Negeri Malang. 2007. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah : Skripsi, Disertasi, Artikel, Makalah, Laporan Penelitian. ketiga. Malang : Biro Administrasi Informasi bekerja sama Akademik, dengan Penerbit Edisi Keempat cetakan Perencanaan, Universitas dan Sistem Negeri Malang. Tesis, Jakarta:

Wijaya, R.S.2009. Perilaku agresi,(online), (http://www.tempointeraktif.com, diakses tanggal 31 april 2011)

Beri Nilai