Anda di halaman 1dari 2

VII.

PEMBAHASAN Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui adanya pewarna Rhodamin B dalam sediaan kosmetik khususnya bedak dan mengetahui cara menganalisis pewarna Rhodamin B dalam sediaan kosmetik khususnya bedak. Hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan sampel sehingga siap dianalisis. Persiapan ini bertujuan agar sampel dapat dianalisis secara optimal dan hasil yang diperolah akurat. Sampel yang berupa bedak dikeluarkan dari kemasannya lalu digerus agar senyawa yang akan dianalisis mudah melarut dalam pelarut yang digunakan. Setelah digerus hingga homogen, dilakukan pemeriksaan awal untuk mengidentifikasi keberadaan senyawa Rhodamin B dalam sampel. Identifikasi awal dilakukan dengan melarutkan 0,5 gram dengan metanol di plat tetes lalu dilihat ada tidaknya fluoresensi di bawah sinar matahari. Setelah dilihat dibawah sinar matahari terlihat ada fluoresensi berwarna kekuningan. Hal ini menunjukkan adanya senyawa rhodamin B dalam sampel bedak. Rhodamin B merupakan senyawa fluorofor sehingga jika kristal rhodamin mendapat rangsangan berupa cahaya akan langsung memancarkan cahayanya sendiri dan berhenti memancar jika rangsangan itu dihilangkan. Sebelum dilakukan analisis-analisis selanjutnya, dilakukan ekstraksi senyawa rhodamin B dari sampel untuk memudahkan proses analisis. Pemisahan dilakukan dengan melarutkan 4,7 gr sampel dalam 250 ml pelarut metanol : air (7 : 18). Setelah itu disaring menggunakan kertas saring. Filtrat ditampung ke dalam labu ukur 250 ml. Setelah itu, sampel siap dianalisis. Berdasarkan sifat kelarutannya, rhodamin B sangat mudah larut dalam air dan akan menghasilkan larutan warna merah kebiruan. Dalam proses ekstraksi ini dipilih pelarut metanol : air (7 : 18) karena ada kemungkinan terdapat bahan berpori kecil pada matriks sampel yang dapat menjerap atau mengikat senyawa rhodamin. Penambahan metanol ke dalam air bertujuan untuk menurunkan kepolaran air sehingga dapat melepaskan senyawa rodamin dari ikatan atau jerapan di dalam matriks dan melarutkan rodhamin untuk membawanya keluar dari matriks.

Selanjutnya dilakukan analisis kualitatif lebih lanjut untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan awal dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis. Pengembang yang digunakan adalah larutan etil asetat-metanol-[amonia 25% - air (3:7)] (15:3:3). Sedangkan fase diam yang digunakan adalah silika gel 60 F 254. Pemilihan pengembang berdasarkan kepolaran rhodamin. Pertama-tama, membuat larutan pengembang sesuai dengan komposisinya, lalu dijenuhkan. Lalu ditotolkan masing-masing larutan sampel (A), campuran larutan baku-sampel (B), dan larutan baku (C) ke fase diam spot-spot yang telah dibuat dengan jumlah yang sama. Setelah pengembang telah jenuh, masukkan plat silika ke dalam chamber berisi pengembang jenuh. Biarkan pengembang bergerak keatas hingga mencapai batas atas. Setelah pengembang mencapai batas atas, plat silika diangkat lalu diangin-anginkan hingga kering. Lalu diukur jarak masing-masing bercak ke titik awal penotolan untuk menentukan nilai Rf. Rhodamin bersifat polar. Pengembang yang digunakan bersifat semipolar, dan fase diam yang digunakan bersifat polar. Hal inilah yang menyebabkan bercak yang terbentuk memiliki nilai yang besar, rata-rata diatas 8. Pengembang yang bersifat semipolar akan menyebabkan silika tidak mampu menahan rhodamin lebih lama dan membawa rhodamin bergerak lebih jauh. Dari hasil KLT, dapat dilihat bahwa Rf baku dan Rf sampel sedikit berbeda. Jika dibandingkan dengan campuran sampel dan baku, Rf yang terbentuk juga berbeda. Sehingga dapat disimpulkan senyawa Rhodamin sampel telah terpengaruh oleh matriks. Prosedur selanjutnya adalah menentukan kadar rhodamin dengan metode spektrofotometer UV-Vis. Perhitungan kadarnya menggunakan metode adisi standar. Menggunakan metode adisi standar digunakan karena sampel yang akan dianalisis berada dalam matriks kompleks yang mempengaruhi hasil pembacaan nilai absorbansi. Sedangkan pemilihan metode spektrofotometer Uv-Vis dipilih karena rhodamin merupakan senyawa berwarna. Langkah pertama adalah

membuat 6 larutan uji. Setelah itu seluruh larutan uji diukur absorbansinya lalu, dilakukan pengolahan data. Setelah dihitung diperoleh kadar rhodamin dalam sampel sebesar 0,0076%. Kadar yang diperoleh sangat kecil. Hal ini dikarenakan...