Anda di halaman 1dari 28

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 1

BAB I PENDAHULUAN

Tonsil terletak di orofaring karena perkembangan yang berlebih tonsil dapat meluas kearah nasofaring. Tonsil palatina dan adenoid (tonsil faringeal) merupakan bagian terpenting dari cincin waldeyer. Tonsil hanya mempunyai pembuluh getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada. Struktur histologi tonsil sesuai dengan fungsinya sebagai organ imunologi Pada umumnya penderita sering mengeluh oleh karena adanya rasa sakit (nyeri) yang terusmenerus pada tenggorokan (odinofagi), nyeri waktu menelan atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan bila menelan, terasa kering dan pernafasan berbau. Anamnesa ini merupakan hal yang sangat penting karena hampir 50% diagnosa dapat ditegakkan dari anamnesa saja. Penderita sering datang dengan keluhan rasa sakit pada tenggorok yang terus menerus, sakit waktu menelan, nafas bau busuk, malaise, sakit pada sendi, kadang-kadang ada demam dan nyeri pada leher. Insiden tonsilitis kronik di RS Dr. Kariadi Semarang 23,36% dan 47% di antaranya pada usia 6-15 Tahun. Sedangkan di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada periode April 1997 sampai dengan Maret 1998 ditemukan 1024 pasien tonsilitis kronik atau 6,75% dari seluruh jumlah kunjungan

BAB II
Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 2

TINJAUAN PUSTAKA

I.

ANATOMI DAN FISIOLOGI TONSIL

Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi oleh epitel respiratori. Cincin Waldeyer merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di faring yang terdiri dari tonsil palatina, tonsil faringeal (adenoid), tonsil lingual, dan tonsil tubal (Ruiz JW, 2009).

Gambar 1. Tonsil a. Tonsil Palatina Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring. Dibatasi oleh: Lateral m. konstriktor faring superior

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 3

Anterior m. palatoglosus Posterior m. palatofaringeus Superior palatum mole Inferior tonsil lingual Secara mikroskopik tonsil terdiri atas 3 komponen yaitu jaringan ikat, folikel germinativum

(merupakan sel limfoid) dan jaringan interfolikel (terdiri dari jaringan linfoid) Fosa Tonsil Fosa tonsil atau sinus tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah otot palatoglosus, batas lateral atau dinding luarnya adalah otot konstriktor faring superior. Pilar anterior mempunyai bentuk seperti kipas pada rongga mulut, mulai dari palatum mole dan berakhir di sisi lateral lidah. Pilar posterior adalah otot vertikal yang ke atas mencapai palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak dan ke arah bawah meluas hingga dinding lateral esofagus, sehingga pada tonsilektomi harus hati-hati agar pilar posterior tidak terluka. Pilar anterior dan pilar posterior bersatu di bagian atas pada palatum mole, ke arah bawah terpisah dan masuk ke jaringan di pangkal lidah dan dinding lateral faring. Kapsul Tonsil Bagian permukaan lateral tonsil ditutupi oleh suatu membran jaringan ikat, yang disebut kapsul. Walaupun para pakar anatomi menyangkal adanya kapsul ini, tetapi para klinisi menyatakan bahwa kapsul adalah jaringan ikat putih yang menutupi 4/5 bagian tonsil. Plika Triangularis Diantara pangkal lidah dan bagian anterior kutub bawah tonsil terdapat plika triangularis yang merupakan suatu struktur normal yang telah ada sejak masa embrio. Serabut ini dapat menjadi penyebab kesukaran saat pengangkatan tonsil dengan jerat. Komplikasi yang sering terjadi adalah terdapatnya sisa tonsil atau terpotongnya pangkal lidah. Pendarahan Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang A. karotis eksterna, yaitu 1) A. maksilaris eksterna (A. fasialis) dengan cabangnya A. tonsilaris dan A. palatina asenden; 2) A. maksilaris interna dengan cabangnya A. palatina desenden; 3) A. lingualis dengan cabangnya A. lingualis dorsal;
Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 4

4) A. faringeal asenden. Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh A. lingualis dorsal dan bagian posterior oleh A. palatina asenden, diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh A. tonsilaris. Kutub atas tonsil diperdarahi oleh A. faringeal asenden dan A. palatina desenden. Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring. Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil, vena lidah dan pleksus faringeal. Aliran getah bening Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah bening servikal profunda (deep jugular node) bagian superior di bawah M. Sternokleidomastoideus, selanjutnya ke kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus torasikus. Tonsil hanya mempunyai pembuluh getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada. Persarafan Tonsil bagian atas mendapat sensasi dari serabut saraf ke V melalui ganglion sfenopalatina dan bagian bawah dari saraf glosofaringeus. Imunologi Tonsil Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1-0,2% dari keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. Proporsi limfosit B dan T pada tonsil adalah 50%:50%, sedangkan di darah 55-75%:15-30%. Pada tonsil terdapat sistim imun kompleks yang terdiri atas sel M (sel membran), makrofag, sel dendrit dan APCs (antigen presenting cells) yang berperan dalam proses transportasi antigen ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis imunoglobulin spesifik. Juga terdapat sel limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel pembawa IgG. Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu 1) menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif; 2) sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik. b. Tonsil Faringeal (Adenoid)

Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti suatu segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau kantong diantaranya. Lobus ini tersusun

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 5

mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah, dikenal sebagai bursa faringeus.

Gambar 2. Adenoid Adenoid tidak mempunyai kriptus. Adenoid terletak di dinding belakang nasofaring. Jaringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan posterior, walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius. Ukuran adenoid bervariasi pada masingmasing anak. Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian akan mengalami regresi. c. Tonsil Lingual Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum glosoepiglotika. Di garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekum pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papilla sirkumvalata (Kartosoediro S, 2007).

II.

MIKROANATOMI
Tonsil palatina dilindungi oleh selaput lendir rongga mulut 1 (epitel skuamosa berlapislapis nonkeratinizing). Amandel menunjukkan sekitar 15-20 dalam, sering bercabang kriptus 2 (fossulae tonsillares). Kriptus memperpanjang jauh ke dalam jaringan lymphoreticular tonsil. Sebuah dinding lymphoreticular jaringan dengan folikel sekunder mengelilingi ruang bawah tanah masing-masing. Sebuah kapsul jaringan ikat memisahkan

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 6

tonsil palatina dari sekitarnya dan otot Killian. Dalam gambar 3 (335), di, kanan dan kiri otot-otot lengkungan palatopharyngeal 3 dipotong : 1 Epitel dari rongga mulut 2 Tonsillar kriptus 3 Killian otot, otot-otot dari lengkungan palatopharyngeal 4 kapsul jaringan ikat Stain: azan; perbesaran: 10

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 7

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 8

Bagian longitudinal dari sebuah ruang bawah dari tonsil palatina dengan berdekatan lapisan jaringan lymphoreticular, yang merupakan bagian dari lamina propria dari mukosa membran. Para nonkeratinizing berlapis-lapis epitel skuamosa di mulut ruang bawah tonsil dan permukaan tonsil menunjukkan hampir tidak ada limfosit. Hanya di kedalaman ruang bawah tanah adalah epitel skuamosa disusupi oleh limfosit. Akibatnya, epitel ada lebih longgar diselenggarakan dan integritas struktural dari epitel berkurang (bdk. gambar 337). Pusat-pusat germinal menampilkan lapisan yang tidak lengkap yang terlihat seperti tutup dengan bagian atas diarahkan ke ruang bawah tonsil. Lapisan ini terdiri dari limfosit kecil (B-limfosit). Wilayah sel-T terletak di interfollicular dalam 5 zona. 1 berlapis-lapis epitel skuamosa nonkeratinizing dari membran mukosa mulut 2 Crypt pusat 3 Germinal 4 folikel tutup (B-limfosit topi) 5 daerah Interfollicular Stain: tawas hematoxylin-eosin; perbesaran: 12

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 9

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 10

Tonsil Lingual ( Gambar 338) Akar lidah antara sulkus terminalis dan epiglotis fitur tonsil kriptus. Ini adalah gua-gua sempit pendek (pelagica). Ttonsil kriptus dapat terus di dalam saluran yang keluar dari kelenjar lendir 2 atau memiliki buta akhir. Kriptus dilapisi oleh skuamosa berlapis-lapis nonkeratinizing epitel dan dikelilingi oleh jaringan limfatik. Angka ini menunjukkan epitel skuamosa berlapis-lapis yang meliputi akar lidah dan kriptus nya (pelagica, gua-gua). Lymphoreticular ini jaringan (biru tua bernoda) di bawah epitel merupakan bagian dari lamina propria. Daerah yang lebih ringan diwarnai banyak ditemukan di lymphoreticular yang jaringan. Ini adalah folikel sekunder. Jaringan lymphoreticular dipisahkan dari jaringan sekitarnya dengan ikat lebih atau kurang lengkap jaringan kapsul . 1 Tonsillar kriptus 2 mukosa kelenjar akar lidah, glandulae linguales posteriores 3 Epitel dari membran mukosa bahasa 4 Lymphoreticular jaringan dengan pusat-pusat germinal 5 kapsul jaringan ikat Stain: tawas hematoxylin-eosin; perbesaran: 14 (Gambar 339) Bagian vertikal melalui akar lidah menunjukkan folikel lingual. Bagian atas gambar mengungkapkan nonkeratinizing berlapis-lapis epitel skuamosa akar lidah mendasari lymphoreticular jaringan 1. Lurik otot serat-serat otot lingual terlihat di bagian bawah gambar. Sel-sel otot yang diselingi dengan lobulus kelenjar posterior mukosa jaringan ikat yang diwarnai biru. 1 Lymphoreticular jaringan 2 Epitel dari akar lidah 3 Crypt 4 Lidah otot 5 mukosa kelenjar Stain: azan; perbesaran: 12

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 11

Tonsil Faringeal (Gambar 340) Berbeda dengan amandel palatine dan lingual, tonsil pharyngeal memiliki epitel bersilia berlapis-lapis 1. Kepulauan dari berlapis-lapisepitel skuamosa dapat mengganggu itu. Ini epitel nonciliated mungkin berisi limfositl. Bentuk selaput lendir lipatan sagital, yaitu, permukaan diperbesar bukan dengan pelagica dan tonsil lubang, tapi dengan pembentukan microfolds. Seperti pada tonsil palatina, ada lapisan jaringan lymphoreticular dengan pusat-pusat germinal langsung di bawah epitelium. Jaringan ikat yang diwarnai biru. 1 epitel bersilia berlapis-lapis berlapis dengan sel goblet 2 Lymphoreticular jaringan 3 Crypt antara dua microfolds dari membran mukosa Stain: azan; perbesaran: 25

III.

DEFINISI TONSILITIS
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer.

Tonsilitis Kronis adalah peradangan kronis Tonsil setelah serangan akut yang terjadi berulangulang atau infeksi subklinis. Tonsilitis berulang terutama terjadi pada anak-anak dan diantara serangan tidak jarang tonsil tampak sehat. Tetapi tidak jarang keadaan tonsil diluar serangan terlihat membesar disertai dengan hiperemi ringan yang mengenai pilar anterior dan apabila tonsil ditekan keluar detritus. 10

Gambar 8. Tonsilitis

IV.

MIKROANATOMI TONSILITIS KRONIS

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 12

Bagian longitudinal bagian dari ruang bawah tanah tonsil. Di tengah-tengah gambar, struktur nonkeratinizing epitel skuamosa berlapis-lapis dari membran mukosa oral benar-benar tidak ada limfosit, namun memiliki struktur spons. Epitel skuamosa berlapislapis untuk kanan dan kiri sebagian besar utuh. Epitel yang berdekatan kripta dinding (atas gambar) muncul tidak berubah. Peradangan (tonsilitis) dapat menyebabkan peningkatan sel-sel epitel. Hal ini, dan meningkat kehadiran leukosit dan mikroorganisme rongga mulut, dapat menyebabkan tonsil busi (busi detritus, tonsil abses). Kadang- kadang, ini akan fibrotisasi dan bentuk batu tonsil (gambar .336). 1 Tonsillar crypt 2 epitel skuamosa berlapis-lapis nonkeratinizing 3 Limfosit imigrasi dan diapedesis leukocytic 4 Lymphoreticular jaringan Stain: azan; perbesaran: 200

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 13

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 14

Pada tonsillitis kronis didapatkan kripta yang melebar, detritus (+), hiperemis (+), bengkak (+), dan sudah terjadi fibrotisasi.

V.

EPIDEMIOLOGI
Insiden tonsilitis kronik di RS Dr. Kariadi Semarang 23,36% dan 47% di antaranya pada usia 6-15 Tahun. Sedangkan di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada periode April 1997 sampai dengan Maret 1998 ditemukan 1024 pasien tonsilitis kronik atau 6,75% dari seluruh jumlah kunjungan.

VI.

ETIOLOGI
Etiologi berdasarkan Morrison yang mengutip hasil penyelidikan dari Commission on Acute Respiration Disease bekerja sama dengan Surgeon General of the Army America dimana dari 169 kasus didapatkan data sebagai berikut :

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 15

25%

disebabkan

oleh

Streptokokus

hemolitikus

yang

pada

masa penyembuhan tampak adanya kenaikan titer Streptokokus antibodi dalam serum penderita.

25%

disebabkan

oleh

Streptokokus

golongan

lain

yang

tidak

menunjukkan kenaikan titer Streptokokus antibodi dalam serum penderita.

Sisanya adalah Pneumokokus, Stafilokokus, Hemofilus influenza.

VII.

FAKTOR PREDISPOSISI

Beberapa faktor predisposisi timbulnya kejadian Tonsilitis Kronis, yaitu :


Rangsangan kronis (rokok, makanan) Higiene mulut yang buruk Pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang berubah- ubah) Alergi (iritasi kronis dari allergen) Keadaan umum (kurang gizi, kelelahan fisik) Pengobatan Tonsilitis Akut yang tidak adekuat.

VIII.

DERAJAT TONSILITIS
Pada umumnya penderita sering mengeluh oleh karena serangan tonsilitis akut yang berulang ulang, adanya rasa sakit (nyeri) yang terus-menerus pada tenggorokan (odinofagi), nyeri waktu menelan atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan bila menelan, terasa kering dan pernafasan berbau. Pada pemeriksaan, terdapat dua macam gambaran tonsil dari Tonsilitis Kronis yang mungkin tampak, yakni :

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 16 1. Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan ke

jaringan sekitar,

kripta yang melebar, tonsil ditutupi oleh eksudat yang

purulen atau seperti keju.


2. Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil, mengeriput, kadang-kadang

seperti terpendam di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis, kripta yang melebar dan ditutupi eksudat yang purulen Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi : 10 T0 : Tonsil masuk di dalam fossa T1 : <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T4 : >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 17

IX.

PATOFISIOLOGI
Tonsil dibungkus oleh suatu kapsul yang sebagian besar berada pada fosa tonsil yang terfiksasi oleh jaringan ikat longgar. Tonsil terdiri dari banyak jaringan limfoid yang disebut folikel. Setiap folikel memiliki kanal (saluran) yang ujungnya bermuara pada permukaan tonsil. Muara tersebut tampak berupa lubang yang disebut kripta. Saat folikel mengalami peradangan tonsil akan membengkak dan membentuk eksudat yang akan mengalir dalam saluran lalu keluar dan mengisi kripta yang terlibat sebagai kotoran putih atau bercak kuning. Karena proses radang berulang, maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid akan diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga kripta akan melebar. Secara klinis kripta ini akan tampak diisi oleh detritus. Detritus sendiri terdiri atas kumpulan leukosit, PMN. Proses peradangan dimulai pada satu atau lebih kripta tonsil. Karena proses radang berulang, maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 18

penyembuhan jaringan limfoid akan diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga kripta akan melebar.
Bakteri Secara klinis kripta ini akan tampak diisi oleh Detritus (akumulasi epitel yang mati, (dalam udara & sel leukosit yang mati dan bakteri yang menutupi kripta berupa eksudat berwarna kekuning Virus kuningan). Proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan makanan)

dengan jaringan sekitar fossa tonsilaris. Pada anak-anak, udara & akan disertai dengan (dalam proses ini pembesaran kelenjar submandibula. 10 (dalam udar(dalam
udara & makanan) Peradangan tonsil a & makanan) Tonsillitis makanan) Prod. Secret berlebih

Bersihan jln nafas tidak efektif Peningkatan suhu tubuh Dipros es Kekurangan vol. cairan

Pembesaran tonsil Benda asing di jln nafas Obst. Jln nafas

Obs. mekanik Gangguan rasa nyaman (nyeri) Bersihan jln nafas tdk efektif Tonsilektomi anoreksia Kurang pemahaman Resiko perdarahan Resiko kerusakan menelan

Kurang Darah di sal. nafas pengetahuan Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Resiko perub. Nutrisi kurang dari kebutuhan

Bersihan jln nafas tidak efektif

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 19

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 20

X.

DIAGNOSIS

Adapun tahapan menuju diagnosis tonsilitis kronis adalah sebagai berikut 1. Anamnesa Anamnesa ini merupakan hal yang sangat penting karena hampir 50% diagnosa dapat ditegakkan dari anamnesa saja. Penderita sering datang dengan keluhan rasa sakit pada tenggorok yang terus menerus, sakit waktu menelan, nafas bau busuk, malaise, sakit pada sendi, kadang-kadang ada demam dan nyeri pada leher. 2. Pemeriksaan Fisik Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut. Sebagian kripta mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan dari kripta-kripta tersebut. Pada beberapa kasus, kripta membesar, dan suatu bahan seperti keju atau dempul amat banyak terlihat pada kripta. Gambaran klinis yang lain yang sering adalah dari tonsil yang kecil, biasanya membuat lekukan, tepinya hiperemis dan sejumlah kecil sekret purulen yang tipis terlihat pada kripta.

Perbedaan Tonsilitis akut, tonsillitis kronis eksaserbasi akut dan tonsillitis kronis AKUT Tonsil hiperemis KRONIS AKUT + EKSASERBASI KRONIS

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 21

Tonsil edema Kriptus melebar Destruitus Perlengketan

+/-

+/-

+ + +

+ + +

3. Pemeriksaan Penunjang Dapat dilakukan kultur dan uji resistensi (sensitifitas) kuman dari sediaan apus tonsil. Biakan swab sering menghasilkan beberapa macam kuman dengan derajat keganasan yang rendah, seperti Streptokokus hemolitikus, Streptokokus viridans, Stafilokokus, atau Pneumokokus. 10

XI.

PENATALAKSANAAN
Medikamentosa yaitu dengan pemberian antibiotika sesuai kultur. Pemberian antibiotika yang bermanfaat pada penderita Tonsilitis Kronis Cephaleksin ditambah metronidazole, klindamisin ( terutama jika disebabkan mononukleosis atau abses), amoksisilin dengan asam klavulanat ( jika bukan disebabkan mononukleosis) (Adam, 1997; Lee, 2008). Operatif Dengan tindakan tonsilektomi (Adam, 1997; Lee, 2008). Pada penelitian Khasanov et al mengenai prevalensi dan pencegahan keluarga dengan Tonsilitis Kronis didapatkan data bahwa sebanyak 84 ibu-ibu usia reproduktif yang dengan diagnosa Tonsilitis Kronis, sebanyak 36 dari penderita mendapatkan penatalaksanaan tonsilektomi (Khasanov et al, 2006). Indikasi Tonsilektomi

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 22

Indikasi tonsilektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat perbedaan prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini. Dulu tonsilektomi di indikasikan untuk terapi tonsilitis kronik dan berulang. Saat ini indikasi utama adalah obstruksi saluran napas dan hipertrofi tonsil. Berdasarkan the American Academy of Otolaryngology- Head and Neck Surgery ( AAO-HNS) tahun 1995 indikasi tonsilektomi terbagi menjadi : 1. Indikasi absolut a) Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan napas atas,disfagia berat,gangguan tidur, atau terdapat komplikasi kardiopulmonal b) abses peritonsiler yang tidak respon terhadap pengobatan medik dan drainase, kecuali jika dilakukan fase akut. c) Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam d) Tonsil yang akan dilakukan biopsi untuk pemeriksaan patologi 2. Indikasi relatif a) Terjadi 3 kali atau lebih infeksi tonsil pertahun, meskipun tidak diberikan pengobatan medik yang adekuat b) Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak ada respon terhadap pengobatan medik c) Tonsilitis kronik atau berulang pada pembawa streptokokus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik kuman resisten terhadap -laktamase. .Kontraindikasi Tonsilektomi Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan sebagai kontraindikasi, namun bila sebelumnya dapat diatasi, operasi dapat dilaksanakan dengan tetap memperhitungkan imbang manfaat dan risiko. Keadaan tersebut adalah: 1. 2. 3. 4. Gangguan perdarahan Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat Anemia Infeksi akut yang berat

Komplikasi Tonsilektomi
Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 23

1. Komplikasi anestesi Komplikasi anestesi ini terkait dengan keadaan status kesehatan pasien. Komplikasi yang dapat ditemukan berupa : Laringosspasme Gelisah pasca operasi Mual muntah Kematian saat induksi pada pasien dengan hipovolemi Induksi intravena dengan pentotal bisa menyebabkan hipotensi dan henti jantung Hipersensitif terhadap obat anestesi. 2. Komplikasi Bedah a) Perdarahan Merupakan komplikasi tersering (0,1-8,1 % dari jumlah kasus). Perdarahan dapat terjadi selama operasi,segera sesudah operasi atau dirumah. Kematian akibat perdarahan terjadi pada 1:35. 000 pasien. sebanyak 1 dari 100 pasien kembali karena perdarahan dan dalam jumlah yang sama membutuhkan transfusi darah. b) Nyeri Nyeri pasca operasi muncul karena kerusakan mukosa dan serabut saraf glosofaringeus atau vagal, inflamasi dan spasme otot faringeus yang menyebabkan iskemia dan siklus nyeri berlanjut sampai otot diliputi kembali oleh mukosa, biasanya 14-21 hari setelah operasi c) Komplikasi lain Dehidrasi,demam, kesulitan bernapas,gangguan terhadap suara (1:10. 000), aspirasi, otalgia, pembengkakan uvula, insufisiensi velopharingeal, stenosis faring, lesi dibibir, lidah, gigi dan pneumonia

XII.

KOMPLIKASI
Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke daerah sekitar

atau secara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari tonsil. Adapun berbagai komplikasi yang kerap ditemui adalah sebagai berikut : 10
Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 24

1. Komplikasi sekitar tonsila Peritonsilitis

Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus dan abses. Abses Peritonsilar (Quinsy)

Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber infeksi berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil dan penjalaran dari infeksi gigi. Abses Parafaringeal

Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah bening atau pembuluh darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus paranasal, adenoid, kelenjar limfe faringeal, os mastoid dan os petrosus. Abses Retrofaring

Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya terjadi pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfe. Kista Tonsil

Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan fibrosa dan ini menimbulkan kista berupa tonjolan pada tonsil berwarna putih dan berupa cekungan, biasanya kecil dan multipel. Tonsilolith (Kalkulus dari tonsil)

Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat dalam jaringan tonsil yang membentuk bahan keras seperti kapur. 2. Komplikasi Organ jauh

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 25

Demam rematik dan penyakit jantung rematik Glomerulonefritis Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis Psoriasiseritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura Artritis dan fibrositis.

XIII.

PROGNOSIS

Prognosis ditentukan oleh penegakkan diagnosis yang cermat dan tindakan yang tepat bila pemberian antibiotik dan tindakan insisi yang tepat dan adekuat, maka prognosis umumnya baik, tetapi bila keadaan dimana terdapat komplikasi berupa pneumonia aspirasi, abses paru ataupun mediastinitis maka prognosis akan menjadi kurang baik apalagi bila kuman penyebabnya fulminans.

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 26

BAB III PENUTUP


Tonsilitis Kronis adalah peradangan kronis Tonsil setelah serangan akut yang terjadi berulang-ulang atau infeksi subklinis. Tonsilitis berulang terutama terjadi pada anak-anak dan diantara serangan tidak jarang tonsil tampak sehat. Tetapi tidak jarang keadaan tonsil diluar serangan terlihat membesar disertai dengan hiperemi ringan yang mengenai pilar anterior dan apabila tonsil ditekan keluar detritus. Secara klinis pada tonsilitis kronik didapatkan gejala berupa nyeri tenggorok atau nyeri telan ringan, mulut berbau, badan lesu, sering mengantuk, nafsu makan menurun, nyeri kepala dan badan terasa meriang. Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan tonsil (Adenotonsilektomi). Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus dimana penatalaksanaan medis atau terapi konservatif yang gagal untuk meringankan gejala-gejala. Indikasi tonsilektomi pada

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 27

tonsilitis kronik adalah jika sebagai fokus infeksi, kualitas hidup menurun dan menimbulkan rasa tidak nyaman.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Notosiswoyo M, Martomijoyo R, Supardi S, Riyadina W. Pengetahuan dan Perilaku Ibu / Anak Balita serta persepsi masyarakat dalam kaitannya dengan penyakit ISPA dan pnemonia. Bul. Penelit. Kes. 2003; 31:60-71.

2.

Vetri RW, Sprinkle PM., Ballenger JJ. Etiologi Peradangan Saluran Nafas Bagian Atas Dalam : Ballenger JJ. Ed. Penyakit telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. Edisi 13. Bahasa Indonesia, jilid I. Jakarta: Binarupa Aksara; 1994 : 194-224.

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang

Mikroanatomi Tonsilitis Kronis 28

3.

Suwento R. Epidemiologi Penyakit THT di 7 Propinsi. Kumpulan makalah dan pedoman kesehatan telinga. Lokakarya THT Komunitas. PIT PERHATI-KL, Palembang, 2001: 8-12.

4.

Aritomoyo D. Insiden tonsilitis akuta dan kronika pada klinik THT RSUP Dr. Kariadi Semarang, Kumpulan naskah ilmiah KONAS VI PERHATI, Medan, 1980: 249-55.

5.

Udaya R, Sabini TB. Pola kuman aerob dan uji kepekaannya pada apus tonsil dan jaringan tonsil pada tonsilitis kronis yang mengalami tonsilektomi. Kumpulan naskah ilmiah KONAS XII PERHATI, Semarang:BP Undip;1999: 193-205.

6.

Jackson C, Jackson CL. Disease of the Nose, Throat and Ear, 2 Nd ed.. Philadelphia: WB Saunders Co; 1959: 239-57.

7.

Lipton AJ. Obstructive sleep apnea syndrome :http://www.emedicine.com/ped/topic 1630.htm.2002.

8.

Franco RA, Rosenfeld RM. Quality of life for children with obstructive sleep apnea. Otolaryngol. Head and Neck Surgery. 2000; 123:9-16

9.

Adams LG, Boies RL, Higler AP, BOIES Fundamentals of Otolaryngology. 6th Ed. Edisi Bahasa Indonesia, EGC, Jakarta, 2001; 263-368

10.

Soepardi AE.dr, Iskandar N.Dr.Prof, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher, FKUI, Jakarta, 2001; 180-3

11.

Byron JB, Jonas JT, Head and Neck Surgery Otolaryngology. 4th Ed. Vol. One. Lippincott Williams & Wilkins. Newlands. 2006 ; pg 1184-98

Ilmu Penyakit THT RSUD Kota Semarang